- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
uang500ratus dan 92 lainnya memberi reputasi
83
186.2K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#219
Hari Besar_Part 2
Sudah hampir pukul 08.30, gue keluar dari kamar. Rencananya, jam 09.00 gue sudah berangkat dari rumah gue. “Aku udah konfirmasi ke Om Dani, katanya beliau udah siap juga dari Tangerang sana. Nanti Om Dani dan Tante yang akan ikut, sama anak keduanya aja.” Kata gue.
Mama masih saja sibuk mondar mandir entah mempersiapkan apa lagi. Masa dari jam 06.00 hingga pukul 09.00 masih juga belum selesai? Rumah kami itu bukan gedung empat lantai yang bentuknya asimetris, makanya jadi banyak yang diurus.
“Iya, nanti tinggal ketemu aja di sana kan?” Mama balik bertanya tanpa melihat gue.
“Ketemu di sana gimana? Kan kita mau janjian di Exit Tol.” Sesuai kata gue semalam ke Mama dan juga Om Dani. Tetapi sepertinya Mama tidak sepenuhnya menyimak perkataan gue semalam.
“Lah bukannya langsung ke rumah Emi?”
“Gimana ceritanya ke rumah Emi langsung kalo Om Dani aja belum pernah ke rumahnya, dan nggak tau sama sekali daerahnya kayak gimana….”
“Oh, Mama pikir langsung.”
“Kan semalem udah diomongin, Ma. Kita janjian jam 10 kurang di deket Exit Tol. Habis itu barulah kita jalan konvoi aja dua mobil. Rumah Emi cuma 5 menit dari Exit Tol situ…”
“………” Mama terdiam, seakan tidak mengingat setiap kata yang gue ucapkan semalam.
Gue udah nggak mau debat lagi. Mama memang tidak menyimak sama sekali karena disibukkan oleh Dian sepanjang waktu. Kemana kedua orang tuanya sampai-sampai orang tua gue satu-satunya malah sibuk tidak karuan mengurus Dian?
Orang tuanya sibuk ribut. Utamanya Dania terus mencecar suaminya dengan segala macam hal. Gue sendiri sampai kasihan melihat Adit, tapi gue nggak mau membela siapapun disini karena gue udah nggak peduli urusan mereka.
Setiap Adit datang ke rumah ini selalu saja ada ributnya. Untung Adit adalah orang yang sangat sabar. Jika sifatnya seperti gue yang temperamental, gue ragu pernikahan ini akan langgeng minimal sampai satu dekade.
--
Pukul 09.00, kami berangkat dengan menggunakan mobil gue. Mobil gue dan Emi sih lebih tepatnya. Hari itu, mobil sedang dibawa oleh gue. Mobil warisan Papa AC-nya sedang rusak dan memang sudah umurnya juga untuk segera di istirahatkan. Bensinnya pun sangat boros untuk ukuran harga bensin saat ini. Maklum di pertengahan 90’an harga bensin seliternya masih bisa menyentuh sekitar Rp500,- sedangkan sekarang dengan pergerakan inflasi serta nilai tukar dan segala macam pengaruh lainnya, tidak akan ada lagi harga bahan bakar minyak segitu.
Gue menyetir menuju ke rumah Emi. Perjalanan normal gue tanpa melewati tol memerlukan waktu sekitar 45 menit. Sedangkan sekarang gue memutuskan untuk jalan lewat tol, karena acara akan di mulai jam 10.00 dan perjalanan lewat tol hanya akan memakan waktu sekitar 20 menitan. Prediksi gue, sekitar 09.30 gue sudah tiba di Exit Tol yang kami tentukan dan tinggal menunggu Om Dani sekeluarga saja.
Benar saja. Jam 09.25 kami sudah keluar tol dan gue meminggirkan mobil di SPBU dekat pintu tol. Untungnya ada minimarket di dalam SPBU tersebut, sehingga gue bisa membeli beberapa cemilan yang sebenarnya sudah dibeli oleh adik gue sehari sebelumnya, tetapi karena ribut-ribut yang akhirnya malah membuat keadaan menjadi ribet semuanya malah jadi ketinggalan. Tidak terbawa satupun cemilan yang sudah dibeli lumayan banyak itu. Mubazir cuma gara-gara riweuh (sok sibuk). Gue nggak peduli lagi. Pikiran gue hanya fokus ke acara yang akan gue jalani sekitar setengah jam lagi.
Gue pun membeli beberapa cemilan dari minimarket tersebut. Sempat ada momen ketika Dian pup dan harus diganti popoknya. Perkara ini saja orang tua Dian sibuk dan berujung malah ribut-ribut lagi. Jeleknya, Mama malah ikut campur. Padahal gue sudah bilang ke Mama untuk tidak ikut campur urusan mereka, apalagi ketika sudah ada Adit di sana. Itu urusan keluarga kecil mereka sendiri. Tetapi Mama sepertinya gregetan dengan anaknya sendiri dan juga suaminya yang tidak gercep (gerak cepat) dalam bertindak atau memutuskan sesuatu, jadinya Mama yang mengarahkan mereka berdua apa saja yang segera mesti dilakukan.
Adit, Dania, dan Dian pun pergi ke kamar mandi SPBU. Gue ditinggal berdua dengan Mama yang juga masih sibuk mengurus perlengkapan Dian yang lain. “Ma, udahlah. Biarin aja mereka mengurus urusan keluarganya sendiri. Jangan diintervensi melulu. Terus mereka kapan bisanya kalau apa-apa semuanya didikte sama Mama?” ujar gue.
“Ya kasianlah Dian, Kak. Dia itu mesti cepet digantiin popoknya, soalnya nanti malah bisa ruam nggak karuan. Adanya nanti kalau udah begitu, gatal-gatal malah bikin dia nangis. Terus ujung-ujungnya malah bikin rese acara kamu.”
“Ngerti. Tapi mereka itu orang tuanya. Biarin mereka solving problem dengan cara mereka sendiri. Kalo terus-terusan di suapin sama Mama, kapan bisanya si Dania? Selama ini dia kan kerja anaknya di titipin sama Mama. Biarinlah sesekali kalo weekend dia yang handle anaknya sendiri. Aku mau tau juga tektok dia sama suaminya kayak gimana. Kok selama habis punya anak ini mereka jadi nggak akur terus. Setiap ketemu bawaanya ribut mulu. Urusan sepele aja jadi perkara terus. Bingung aku.”
“Makanya itu. Itu si Adit juga planga plongo aja sih. Lambat gitu loh kalo ada perintah, atau dimintain tolong apa gitu. Lama banget mikirnya. Bingung Mama.”
“Ya mestinya nggak bingung. Itulah fungsi istri bukan? Setau aku sih kalo orang udah nikah itu ya teamwork yang bisa memperbaiki keadaan, dan membuatnya jadi lebih baik. Tapi kalo gini aku nggak liat ada kerja sama antara suami dan istri. Aku juga nggak bisa ngebela Dania karena di mata aku, dia nggak selalu benar kok. Dan dia cukup kasar sama Adit dalam artian perkataannya ya. Itu nggak baik loh Ma. Nggak sehat.”
“Kamu itu kan belum tau dilema atau masalah pernikahan kak, menjalani aja kamu belum. Ini baru mau mulai. Kamu ngerti apa soal urusan kayak gitu emangnya?”
“Aku emang belum pernah menjalani biduk rumah tangga sama siapapun. Tapi bukan berarti aku nggak ngerti sama sekali. Sekarang teknologi udah canggih, teman-teman aku juga udah banyak yang nikah, dan aku liat sendiri di rumah kayak gimana Dania dan Adit menjalani kehidupan rumah tangganya. Jadi aku rasa aku udah cukup tau rasanya ngurus rumah tangga itu kayak gimana, Ma.”
“……………” Mama diam saja, dan sejurus kemudian Dania, Adit dan Dian kembali dari toilet.
Gue mulai gusar karena belum ada kabar sama sekali dari Om Dani. Sudah sampai dimana beliau. Lebih nggak enak lagi perasaan gue karena ini sudah jelang jam 10.00 pagi, yang mana disepakati sebagai jam dimulainya acara di rumah Emi. Gue sudah siap. Gue yakin juga Emi dan keluarganya sudah siap, tetapi masa iya acara ini ada cacat yang bukan karena kesalahan gue dan Emi sebagai aktor utama?
Mungkin saja berbagai macam alasan dapat diterima keluarga Emi ketika nanti gue dan keluarga sudah sampai disana. Alasan klasik seperti terjebak kemacetan dijalan dapat dijadikan alasan. Tetapi efek dari kepercayaan keluarga Emi ke gue pribadi dan keluarga gue mungkin tidak akan menjadi sempurna.
Penghargaan terhadap waktu adalah sesuatu yang selalu ditekankan oleh Papa ke keluarga kecilnya. Sekarang, gue dan keluarga kecil gue sudah tepat waktu, malah keluarga Om Dani yang membuat semuanya jadi berbeda.
“Ya..ya..ya udah, segera aja. Nanti biar tak suruh Ija untuk share location kita…” Mama menyahut telpon, sepertinya dari Om Dani.
“Kenapa Om Dani, Ma?” tanya gue.
“Kayaknya Om Kamu kesasar, Kak.” Jawab Mama dengan nada sedikit panik.
Gue tidak bisa berkata-kata lagi. Hanya helaan nafas saja yang bisa terdengar dari gue. Apa yang gue takutkan akhirnya kejadian. Cacatnya keluarga gue di mata keluarga Emi disebabkan bukan karena gue, tetapi Om Dani. Tetapi disatu sisi gue nggak bisa menyalahkan 100%, karena memang beliau juga belum pernah ke daerah ini sebelumnya, dan beliau adalah orang yang paling mendukung acara besar gue ini, lebih dari keluarga inti gue sendiri.
“Sekarang ada dimana Om Dani-nya emang, Ma?” tanya Dania.
“Baru mau masuk tol.” Jawab Mama.
Waktu berlalu. Jam 10 sudah lewat satu jam yang lalu. Mood gue sudah cukup buruk hari ini. Emi sudah beberapa kali menanyakan sudah sampai dimana gue, dan selalu gue jawab masih di exit tol karena menunggu Om Dani sampai, baru gue melanjutkan perjalanan. Emi sempat menyarankan untuk gue datang terlebih dulu saja, biar Om Dani yang menyusul. Tetapi itu hal yang tidak mungkin dilakukan mengingat perwakilan keluarga gue untuk sambutan dan berbicara dengan keluarga Emi adalah Om Dani.
Awalnya chat gue dengan Emi biasa saja, tetapi setelah satu jam lewat belum juga ada kabar dari Om Dani, gaya chat Emi sudah mulai berubah menjadi tidak enak sama sekali. Seperti layaknya Emi kalau lagi ribut dengan gue. Ini sudah tidak baik.
Pada akhirnya, sekitar 11.45 barulah gue beserta keluarga lengkap bisa melanjutkan perjalanan kerumah Emi. Om Dani sudah tidak mau membuang waktu lagi dan menyarankan untuk langsung lanjut saja mengikuti mobil gue. Mungkin beliau juga sudah tidak enak hati dengan gue karena keterlambatannya. Membuat rencana acara yang sudah disusun menjadi berantakan dan tidak sesuai rencana.
Sehabis adzan zuhur berkumandang, barulah rombongan keluarga gue sampai dirumah Emi. Gue sangat deg-degan. Deg-degan karena urusan perkenalan keluarga sekaligus karena keterlambatan keluarga gue yang menyebabkan acara menjadi ngaret sampai hampir dua jam. Sebuah keterlambatan yang amat sangat besar dan jika di konversi menjadi uang seperti orang-orang kapitalis yang selalu punya pakem ‘time is money’, maka ini adalah sebuah kerugian besar.
“Alhamdulillah...” Terdengar sayup-sayup bisikan keluarga Emi menyambut kedatangan gue.
Papa Emi menyambut kami didepan rumahnya dengan senyum ramah. Tidak ada sama sekali terlihat raut wajah yang menunjukkan kekecewaan atau ketidaksukaan. Semua seperti normal saja. Seperti layaknya bapak-bapak kebanyakan, basa basi adalah hal yang wajib dilakukan untuk mencairkan suasana.
Om Dani yang memulai duluan dengan meminta maaf sebesar-besarnya atas keterlambatan dikarenakan kejadian kesasar tadi. Untungnya Papanya Emi mau menerima, setidaknya itu yang gue lihat.
Keluarga Emi sudah menunggu didalam rumah. Papanya mempersilakan kami untuk masuk dan menaiki tangga depan rumahnya. Rumahnya yang bertipe double decker ini memang mengharuskan orang untuk menaiki beberapa anak tangga terlebih dahulu sebelum masuk ke ruang tamu karena posisi lantai satu rumah ini yang lebih tinggi dari jalan lingkungan sekitar.
Senyum ramah menyambut keluarga gue di dalam. Gue yang sudah bertemu dengan keluarga Emi di rumah kakek Emi tempo hari terlihat sudah sangat familiar dengan gue. Mama, Dania, Om Dani dan Istrinya bersalaman dengan keluarga besar Emi yang tidak semuanya datang. Suasana hangat sedikit mengobati ketegangan gue. Setidaknya mereka tidak memasang muka tidak enak ketika menyambut kedatangan gue.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…” Om Dani membuka acara ini dan kemudian diiringi beberapa bas abasi untuk mencairkan suasana yang kemudian diikuti oleh tawa template saudara-saudara Emi serta keluarga gue.
“Jadi seperti itu. Saya selaku pamannya, mewakili Firzy, bermaksud untuk memperkenalkan diri kami sekeluarga kepada keluarga besar dari Ananda Emi. Mohon kiranya kami diberikan ruang seluas-luasnya untuk lebih mengenal dekat dengan calon keluarga kami.” Ujar Om Dani yang duduk bersila tepat di sisi kanan gue. Mama berada di sisi kiri gue.
Gue mengedarkan pandangan dan semua orang yang ada disana terfokus kepada Om Dani, dan sesekali melirik ke gue, lalu ke Emi yang duduk bersebrangan dengan gue. Emi di apit oleh Papa dan Mamanya. Mamanya duduk di kursi roda, persis di sisi kiri Emi, dan Papanya ada di sisi kanannya.
Emi terlihat cantik siang itu. Dandanannya yang sederhana begitu memikat hati dan menaklukkan mata siapapun yang melihatnya. Dibelakangnya terlihat Om dan Tante Emi serta sepupunya yang tinggal di jabodetabek. Sementara ada beberapa saja yang datang dari kampung halaman Emi, tidak termasuk Om Asep. Beliau sedang tugas piket, katanya.
Tangan gue mulai dingin ketika Om Dani menyampaikan maksud perkenalan ini. ketegangan dalam diri gue mulai datang lagi. Bisa ditebak apa yang akan terjadi? Ya, gue jadi kebelet buang air kecil karena ini.
“…untuk meminang Ananda Emi, kami berencana berdiskusi dengan pihak keluarga Emi mengenai rencana pelaksanaan lamaran dan mungkin sampai ke hari H pernikahannya. Soalnya saya dengar dari Ija sendiri, dia menginginkan awal tahun depan menjadi acara lamaran dan pernikahannya. Jadi lebih baik di obrolin aja sekalian biar semuanya clear.” Kata Om Dani, dengan logat jawa yang kuat.
Keluarga gue dan keluarga Emi sepakat untuk mengadakan lamaran tahun depan. Tetapi untuk hari H pernikahannya masih akan didiskusikan kembali, mengingat adat di keluarga gue dan Emi hampir sama, yakni ada cara-cara tertentu untuk memutuskan tanggal atau hari baik mengadakan akad nikah. Ini sebenarnya dalam agama gue tidak berlaku, tetapi karena gue menghormati tradisi, jadi gue mencoba untuk mengikuti saja caranya dulu.
Emi tidak banyak berbicara. Hanya lebih banyak tersenyum saja. Melihat Emi yang tenang dan nggak banyak bicara seperti melihat orang lain saja. Ini bukan Emi banget. Tetapi tidak apa-apa lah sehari saja jadi orang yang kalem kan tidak akan jadi masalah juga bagi dia. Setidaknya orang-orang jadi semakin samar dengan sifat asli Emi. Tidak apa-apa, toh dengan gaya seperti ini pun sebenarnya juga tidak kalah baik.
Setelah berdiskusi agak panjang dan saling mengusulkan tanggal untuk lamaran, dicapailah kata sepakat kalau lamaran akan dilaksanakan tahun depan. Mengingat keadaan masing-masing keluarga, hari H pernikahannya akan ditentukan kemudian. Gue pribadi inginnya tidak terlalu jauh dari lamaran. Sementara Emi sepertinya juga sependapat dengan gue mengenai rencana hari H pernikahan yang tidak ingin jauh dari tanggal lamaran.
“Setelah semua yang sudah di diskusikan, akhirnya dicapai kesepakatan ya, bapak ibu sekalian. Kalau lamaran akan dilaksanakan bulan Maret tahun depan. Sementara untuk waktu hari H pernikahannya sendiri akan didiskusikan kembali ke keluarga besar, baik itu pihak Emi maupun Ija...” Tutup Om Dani.
Semua rangkaian acara telah dilalui. Hanya saja yang masih jadi ganjalan dalam diri gue adalah, kenapa harus banyak pertimbangan lagi dalam menentukan ‘hari baik’? Gue dan Emi berpikiran kalau setiap hari adalah hari baik sebenarnya, apalagi jika kita mengacu kepada ajaran agama. Namun sepertinya proses Tarik ulur ini menjadi semakin panjang karena meunurut Papanya Emi, harus tetap ada yang namanya perhitungan hari baik ini sendiri.
Beberapa dari keluarga gue maupun keluarga Emi, setelah beberapa kali kami sharing cerita, melaksanakan pernikahannya di hari baik yang dimaksudkan keluarga. Tetapi ada yang tidak happy ending dari cerita pernikahan mereka. Yang ada adalah sebuah perceraian.
Dari situ pula gue berkeyakinan kalau tidak selamanya hari baik akan berakhir pada kebaikan dalam pernikahan. Logikanya lagi, kalau di kota kenapa bisa melaksanakan akad nikah sekaligus dengan resepsi di hari yang sama, yang mana sebagian besar pelaksanaannya berada di akhir pekan sesuai dengan ketersediaan Gedung atau tempat pelaksanaan resepsi? Harusnya kalau benar-benar menentukan hari baik, ya pasti nggak selalu harus tepat di akhir pekan atau tepat dengan waktu penyewaan tempat perhelatan resepsi, betul?
Berangkat dari pemikiran ini lah gue dan Emi jadinya berpikir kalau semua hari adalah hari yang baik. Sekarang tinggal kitanya saja yang mau menjalaninya, siap atau tidak.
Baik atau buruknya sebuah pernikahan seharusnya tidak ditentukan dengan waktu yang dipilih untuk pelaksanaan pernikahan, tetapi bagaimana kerja sama tim yang dibangun antara suami dan istri untuk Bersama-sama mengendarai kapal besar yang bernama ‘keluarga’ ini, bukan?
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 dan semua rangkaian acara terlaksana dengan baik, tentunya dengan catatan keterlambatan dari keluarga gue yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Keadaan ini tentunya membuat gue secara personal tidak enak dengan keluarga Emi. Bukan apa-apa, gue jadi takut nanti disangkanya keluarga gue tidak serius untuk melanjutkan hubungan ini ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Untuk datang tepat waktu saja keluarga gue tidak bisa menepatinya, apalagi nanti kalau ada acara yang melibatkan orang yang lebih banyak lagi?
Nyatanya, Papanya Emi mewakili keluarga besarnya mau untuk menerima kedatangan keluarga gue. Tetap disambut dengan hangat. Entah ini benar-benar tulus atau di belakang nanti akan ada omongan gue nggak tau, yang jelas dari raut wajah Papanya Emi tidak terlihat adanya kekecewaan sama sekali. Mungkin juga Papanya Emi pintar menyembunyikan ekspresi. Entahlah. Yang jelas acara hari ini berjalan lancar.
“Pak Dedi, kalau di daerah sini, tempat wisata yang bagus itu dimana aja ya? Dan misalnya ada yang jual souvenir-suvenir khas daerah sini, gitu?” Mama tiba-tiba membuka obrolan santai.
“Oh ada Bu, mungkin jaraknya sekitar 3 kilometer dari rumah ini. Pirji juga udah tau kok daerah situ. Untuk oleh-oleh biasanya ada di dekat pasar yang murah dan enak.” Papanya Emi menyahut.
“Rencananya saya habis ini kan mau coba jalan-jalan dulu, soalnya udah jauh-jauh kesini sayang kan kalau nggak jalan-jalan. Hehehe.” Ujar Mama dengan nada penuh basa basi.
“Iya bu. Kesana aja bisa kok. Paling Pirji tuh nanti yang tau jalannya. Ya kan, Ji?”
“Hehe. Iya Om. Saya tau jalannya.” Kata gue, sembari curiga jangan-jangan sudah mau pamit aja ini.
“Kalau begitu, kami mau ijin pamit dulu ya, Pak Dedi. Nanti takut kesorean. Mantu saya kasian harus balik ke Bandung, takut kemalaman, nanti bisnya nggak ada.”
What?! Mau cabut sekarang? Gila kali. Tadi saja sudah datang terlambat dan sekarang mau buru-buru pergi lagi? Mana perginya itu untuk keperluan sekunder alias jalan-jalan dan beli oleh-oleh? Are you kidding me?
“Dan, emang mau cabut sekarang?” gue berbisik di sebelah Dania.
“Iya, abis mau ngapain lagi? Kan udah selesai juga acara lo. Gue sama Mama kemarin ini udah ngomongin mau kemana. Makanya tadi sekalian ditanyain sama Papanya Emi, kalau daerah wisata itu dimana. Untung tau. Lo juga tau tuh katanya.” Kata Dania, juga berbisik.
“Gila kali. Kita itu tadi terlambat loh. Masa sekarang udah mau cabut lagi aja? Nggak enak dong sama keluarganya Emi. Mana udah disiapin banyak makanan. Katanya kemaren saudara-saudara Papa mau pada ikutan dateng, sekarang malah nggak ada yang dateng dan cuma Om Dani doang.” Gue mulai menggerutu.
“Ya nggak tau, kak, kan gue mah tinggal ngikut aja. Nah lo kemaren yang ngehubungin saudara-saudara gimana?”
“Mereka bilang bisa dateng, makanya gue konfirmasi ke Emi karena mau disiapin makanannya. Itu diluar juga udah ada tenda, jadinya malah nggak kepake.”
“Gue juga nggak tau kak…”
Gue memegang kepala gue yang tidak pusing. Gue sangat malu dengan keadaan ini. sudah terlambat, sekarang sudah mau pulang lagi dengan alasan yang terang-terangan untuk jalan-jalan daripada tetap stay di rumah ini untuk banyak bercengkrama dengan keluarga Emi yang mana momen kumpul ini sangatlah langka, kemudian juga ditambah dengan batalnya saudara-saudara Papa yang datang. Kalau sampai acara ini sampai batal ke jenjang lamaran dan pernikahan, gue ngamuk-ngamuk tidak karuan pastinya.
Benar saja, Mama bersalaman dan berpamitan dengan keluarga besar Emi. Sebelumnya kami berfoto Bersama dulu. Kemudian satu persatu dari keluarga gue keluar dari rumah Emi menuju ke tempat mobil kami di parkir. Gue hanya bisa pasrah saja. Gue sudah coba untuk cegah, tapi karena alasannya Adit yang mau pulang ke Bandung, gue nggak punya senjata lagi untuk menahan mereka beranjak dari rumah Emi.
Kacau.
Mama masih saja sibuk mondar mandir entah mempersiapkan apa lagi. Masa dari jam 06.00 hingga pukul 09.00 masih juga belum selesai? Rumah kami itu bukan gedung empat lantai yang bentuknya asimetris, makanya jadi banyak yang diurus.
“Iya, nanti tinggal ketemu aja di sana kan?” Mama balik bertanya tanpa melihat gue.
“Ketemu di sana gimana? Kan kita mau janjian di Exit Tol.” Sesuai kata gue semalam ke Mama dan juga Om Dani. Tetapi sepertinya Mama tidak sepenuhnya menyimak perkataan gue semalam.
“Lah bukannya langsung ke rumah Emi?”
“Gimana ceritanya ke rumah Emi langsung kalo Om Dani aja belum pernah ke rumahnya, dan nggak tau sama sekali daerahnya kayak gimana….”
“Oh, Mama pikir langsung.”
“Kan semalem udah diomongin, Ma. Kita janjian jam 10 kurang di deket Exit Tol. Habis itu barulah kita jalan konvoi aja dua mobil. Rumah Emi cuma 5 menit dari Exit Tol situ…”
“………” Mama terdiam, seakan tidak mengingat setiap kata yang gue ucapkan semalam.
Gue udah nggak mau debat lagi. Mama memang tidak menyimak sama sekali karena disibukkan oleh Dian sepanjang waktu. Kemana kedua orang tuanya sampai-sampai orang tua gue satu-satunya malah sibuk tidak karuan mengurus Dian?
Orang tuanya sibuk ribut. Utamanya Dania terus mencecar suaminya dengan segala macam hal. Gue sendiri sampai kasihan melihat Adit, tapi gue nggak mau membela siapapun disini karena gue udah nggak peduli urusan mereka.
Setiap Adit datang ke rumah ini selalu saja ada ributnya. Untung Adit adalah orang yang sangat sabar. Jika sifatnya seperti gue yang temperamental, gue ragu pernikahan ini akan langgeng minimal sampai satu dekade.
--
Pukul 09.00, kami berangkat dengan menggunakan mobil gue. Mobil gue dan Emi sih lebih tepatnya. Hari itu, mobil sedang dibawa oleh gue. Mobil warisan Papa AC-nya sedang rusak dan memang sudah umurnya juga untuk segera di istirahatkan. Bensinnya pun sangat boros untuk ukuran harga bensin saat ini. Maklum di pertengahan 90’an harga bensin seliternya masih bisa menyentuh sekitar Rp500,- sedangkan sekarang dengan pergerakan inflasi serta nilai tukar dan segala macam pengaruh lainnya, tidak akan ada lagi harga bahan bakar minyak segitu.
Gue menyetir menuju ke rumah Emi. Perjalanan normal gue tanpa melewati tol memerlukan waktu sekitar 45 menit. Sedangkan sekarang gue memutuskan untuk jalan lewat tol, karena acara akan di mulai jam 10.00 dan perjalanan lewat tol hanya akan memakan waktu sekitar 20 menitan. Prediksi gue, sekitar 09.30 gue sudah tiba di Exit Tol yang kami tentukan dan tinggal menunggu Om Dani sekeluarga saja.
Benar saja. Jam 09.25 kami sudah keluar tol dan gue meminggirkan mobil di SPBU dekat pintu tol. Untungnya ada minimarket di dalam SPBU tersebut, sehingga gue bisa membeli beberapa cemilan yang sebenarnya sudah dibeli oleh adik gue sehari sebelumnya, tetapi karena ribut-ribut yang akhirnya malah membuat keadaan menjadi ribet semuanya malah jadi ketinggalan. Tidak terbawa satupun cemilan yang sudah dibeli lumayan banyak itu. Mubazir cuma gara-gara riweuh (sok sibuk). Gue nggak peduli lagi. Pikiran gue hanya fokus ke acara yang akan gue jalani sekitar setengah jam lagi.
Gue pun membeli beberapa cemilan dari minimarket tersebut. Sempat ada momen ketika Dian pup dan harus diganti popoknya. Perkara ini saja orang tua Dian sibuk dan berujung malah ribut-ribut lagi. Jeleknya, Mama malah ikut campur. Padahal gue sudah bilang ke Mama untuk tidak ikut campur urusan mereka, apalagi ketika sudah ada Adit di sana. Itu urusan keluarga kecil mereka sendiri. Tetapi Mama sepertinya gregetan dengan anaknya sendiri dan juga suaminya yang tidak gercep (gerak cepat) dalam bertindak atau memutuskan sesuatu, jadinya Mama yang mengarahkan mereka berdua apa saja yang segera mesti dilakukan.
Adit, Dania, dan Dian pun pergi ke kamar mandi SPBU. Gue ditinggal berdua dengan Mama yang juga masih sibuk mengurus perlengkapan Dian yang lain. “Ma, udahlah. Biarin aja mereka mengurus urusan keluarganya sendiri. Jangan diintervensi melulu. Terus mereka kapan bisanya kalau apa-apa semuanya didikte sama Mama?” ujar gue.
“Ya kasianlah Dian, Kak. Dia itu mesti cepet digantiin popoknya, soalnya nanti malah bisa ruam nggak karuan. Adanya nanti kalau udah begitu, gatal-gatal malah bikin dia nangis. Terus ujung-ujungnya malah bikin rese acara kamu.”
“Ngerti. Tapi mereka itu orang tuanya. Biarin mereka solving problem dengan cara mereka sendiri. Kalo terus-terusan di suapin sama Mama, kapan bisanya si Dania? Selama ini dia kan kerja anaknya di titipin sama Mama. Biarinlah sesekali kalo weekend dia yang handle anaknya sendiri. Aku mau tau juga tektok dia sama suaminya kayak gimana. Kok selama habis punya anak ini mereka jadi nggak akur terus. Setiap ketemu bawaanya ribut mulu. Urusan sepele aja jadi perkara terus. Bingung aku.”
“Makanya itu. Itu si Adit juga planga plongo aja sih. Lambat gitu loh kalo ada perintah, atau dimintain tolong apa gitu. Lama banget mikirnya. Bingung Mama.”
“Ya mestinya nggak bingung. Itulah fungsi istri bukan? Setau aku sih kalo orang udah nikah itu ya teamwork yang bisa memperbaiki keadaan, dan membuatnya jadi lebih baik. Tapi kalo gini aku nggak liat ada kerja sama antara suami dan istri. Aku juga nggak bisa ngebela Dania karena di mata aku, dia nggak selalu benar kok. Dan dia cukup kasar sama Adit dalam artian perkataannya ya. Itu nggak baik loh Ma. Nggak sehat.”
“Kamu itu kan belum tau dilema atau masalah pernikahan kak, menjalani aja kamu belum. Ini baru mau mulai. Kamu ngerti apa soal urusan kayak gitu emangnya?”
“Aku emang belum pernah menjalani biduk rumah tangga sama siapapun. Tapi bukan berarti aku nggak ngerti sama sekali. Sekarang teknologi udah canggih, teman-teman aku juga udah banyak yang nikah, dan aku liat sendiri di rumah kayak gimana Dania dan Adit menjalani kehidupan rumah tangganya. Jadi aku rasa aku udah cukup tau rasanya ngurus rumah tangga itu kayak gimana, Ma.”
“……………” Mama diam saja, dan sejurus kemudian Dania, Adit dan Dian kembali dari toilet.
Gue mulai gusar karena belum ada kabar sama sekali dari Om Dani. Sudah sampai dimana beliau. Lebih nggak enak lagi perasaan gue karena ini sudah jelang jam 10.00 pagi, yang mana disepakati sebagai jam dimulainya acara di rumah Emi. Gue sudah siap. Gue yakin juga Emi dan keluarganya sudah siap, tetapi masa iya acara ini ada cacat yang bukan karena kesalahan gue dan Emi sebagai aktor utama?
Mungkin saja berbagai macam alasan dapat diterima keluarga Emi ketika nanti gue dan keluarga sudah sampai disana. Alasan klasik seperti terjebak kemacetan dijalan dapat dijadikan alasan. Tetapi efek dari kepercayaan keluarga Emi ke gue pribadi dan keluarga gue mungkin tidak akan menjadi sempurna.
Penghargaan terhadap waktu adalah sesuatu yang selalu ditekankan oleh Papa ke keluarga kecilnya. Sekarang, gue dan keluarga kecil gue sudah tepat waktu, malah keluarga Om Dani yang membuat semuanya jadi berbeda.
“Ya..ya..ya udah, segera aja. Nanti biar tak suruh Ija untuk share location kita…” Mama menyahut telpon, sepertinya dari Om Dani.
“Kenapa Om Dani, Ma?” tanya gue.
“Kayaknya Om Kamu kesasar, Kak.” Jawab Mama dengan nada sedikit panik.
Gue tidak bisa berkata-kata lagi. Hanya helaan nafas saja yang bisa terdengar dari gue. Apa yang gue takutkan akhirnya kejadian. Cacatnya keluarga gue di mata keluarga Emi disebabkan bukan karena gue, tetapi Om Dani. Tetapi disatu sisi gue nggak bisa menyalahkan 100%, karena memang beliau juga belum pernah ke daerah ini sebelumnya, dan beliau adalah orang yang paling mendukung acara besar gue ini, lebih dari keluarga inti gue sendiri.
“Sekarang ada dimana Om Dani-nya emang, Ma?” tanya Dania.
“Baru mau masuk tol.” Jawab Mama.
Waktu berlalu. Jam 10 sudah lewat satu jam yang lalu. Mood gue sudah cukup buruk hari ini. Emi sudah beberapa kali menanyakan sudah sampai dimana gue, dan selalu gue jawab masih di exit tol karena menunggu Om Dani sampai, baru gue melanjutkan perjalanan. Emi sempat menyarankan untuk gue datang terlebih dulu saja, biar Om Dani yang menyusul. Tetapi itu hal yang tidak mungkin dilakukan mengingat perwakilan keluarga gue untuk sambutan dan berbicara dengan keluarga Emi adalah Om Dani.
Awalnya chat gue dengan Emi biasa saja, tetapi setelah satu jam lewat belum juga ada kabar dari Om Dani, gaya chat Emi sudah mulai berubah menjadi tidak enak sama sekali. Seperti layaknya Emi kalau lagi ribut dengan gue. Ini sudah tidak baik.
Pada akhirnya, sekitar 11.45 barulah gue beserta keluarga lengkap bisa melanjutkan perjalanan kerumah Emi. Om Dani sudah tidak mau membuang waktu lagi dan menyarankan untuk langsung lanjut saja mengikuti mobil gue. Mungkin beliau juga sudah tidak enak hati dengan gue karena keterlambatannya. Membuat rencana acara yang sudah disusun menjadi berantakan dan tidak sesuai rencana.
Sehabis adzan zuhur berkumandang, barulah rombongan keluarga gue sampai dirumah Emi. Gue sangat deg-degan. Deg-degan karena urusan perkenalan keluarga sekaligus karena keterlambatan keluarga gue yang menyebabkan acara menjadi ngaret sampai hampir dua jam. Sebuah keterlambatan yang amat sangat besar dan jika di konversi menjadi uang seperti orang-orang kapitalis yang selalu punya pakem ‘time is money’, maka ini adalah sebuah kerugian besar.
“Alhamdulillah...” Terdengar sayup-sayup bisikan keluarga Emi menyambut kedatangan gue.
Papa Emi menyambut kami didepan rumahnya dengan senyum ramah. Tidak ada sama sekali terlihat raut wajah yang menunjukkan kekecewaan atau ketidaksukaan. Semua seperti normal saja. Seperti layaknya bapak-bapak kebanyakan, basa basi adalah hal yang wajib dilakukan untuk mencairkan suasana.
Om Dani yang memulai duluan dengan meminta maaf sebesar-besarnya atas keterlambatan dikarenakan kejadian kesasar tadi. Untungnya Papanya Emi mau menerima, setidaknya itu yang gue lihat.
Keluarga Emi sudah menunggu didalam rumah. Papanya mempersilakan kami untuk masuk dan menaiki tangga depan rumahnya. Rumahnya yang bertipe double decker ini memang mengharuskan orang untuk menaiki beberapa anak tangga terlebih dahulu sebelum masuk ke ruang tamu karena posisi lantai satu rumah ini yang lebih tinggi dari jalan lingkungan sekitar.
Senyum ramah menyambut keluarga gue di dalam. Gue yang sudah bertemu dengan keluarga Emi di rumah kakek Emi tempo hari terlihat sudah sangat familiar dengan gue. Mama, Dania, Om Dani dan Istrinya bersalaman dengan keluarga besar Emi yang tidak semuanya datang. Suasana hangat sedikit mengobati ketegangan gue. Setidaknya mereka tidak memasang muka tidak enak ketika menyambut kedatangan gue.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…” Om Dani membuka acara ini dan kemudian diiringi beberapa bas abasi untuk mencairkan suasana yang kemudian diikuti oleh tawa template saudara-saudara Emi serta keluarga gue.
“Jadi seperti itu. Saya selaku pamannya, mewakili Firzy, bermaksud untuk memperkenalkan diri kami sekeluarga kepada keluarga besar dari Ananda Emi. Mohon kiranya kami diberikan ruang seluas-luasnya untuk lebih mengenal dekat dengan calon keluarga kami.” Ujar Om Dani yang duduk bersila tepat di sisi kanan gue. Mama berada di sisi kiri gue.
Gue mengedarkan pandangan dan semua orang yang ada disana terfokus kepada Om Dani, dan sesekali melirik ke gue, lalu ke Emi yang duduk bersebrangan dengan gue. Emi di apit oleh Papa dan Mamanya. Mamanya duduk di kursi roda, persis di sisi kiri Emi, dan Papanya ada di sisi kanannya.
Emi terlihat cantik siang itu. Dandanannya yang sederhana begitu memikat hati dan menaklukkan mata siapapun yang melihatnya. Dibelakangnya terlihat Om dan Tante Emi serta sepupunya yang tinggal di jabodetabek. Sementara ada beberapa saja yang datang dari kampung halaman Emi, tidak termasuk Om Asep. Beliau sedang tugas piket, katanya.
Tangan gue mulai dingin ketika Om Dani menyampaikan maksud perkenalan ini. ketegangan dalam diri gue mulai datang lagi. Bisa ditebak apa yang akan terjadi? Ya, gue jadi kebelet buang air kecil karena ini.
“…untuk meminang Ananda Emi, kami berencana berdiskusi dengan pihak keluarga Emi mengenai rencana pelaksanaan lamaran dan mungkin sampai ke hari H pernikahannya. Soalnya saya dengar dari Ija sendiri, dia menginginkan awal tahun depan menjadi acara lamaran dan pernikahannya. Jadi lebih baik di obrolin aja sekalian biar semuanya clear.” Kata Om Dani, dengan logat jawa yang kuat.
Keluarga gue dan keluarga Emi sepakat untuk mengadakan lamaran tahun depan. Tetapi untuk hari H pernikahannya masih akan didiskusikan kembali, mengingat adat di keluarga gue dan Emi hampir sama, yakni ada cara-cara tertentu untuk memutuskan tanggal atau hari baik mengadakan akad nikah. Ini sebenarnya dalam agama gue tidak berlaku, tetapi karena gue menghormati tradisi, jadi gue mencoba untuk mengikuti saja caranya dulu.
Emi tidak banyak berbicara. Hanya lebih banyak tersenyum saja. Melihat Emi yang tenang dan nggak banyak bicara seperti melihat orang lain saja. Ini bukan Emi banget. Tetapi tidak apa-apa lah sehari saja jadi orang yang kalem kan tidak akan jadi masalah juga bagi dia. Setidaknya orang-orang jadi semakin samar dengan sifat asli Emi. Tidak apa-apa, toh dengan gaya seperti ini pun sebenarnya juga tidak kalah baik.
Setelah berdiskusi agak panjang dan saling mengusulkan tanggal untuk lamaran, dicapailah kata sepakat kalau lamaran akan dilaksanakan tahun depan. Mengingat keadaan masing-masing keluarga, hari H pernikahannya akan ditentukan kemudian. Gue pribadi inginnya tidak terlalu jauh dari lamaran. Sementara Emi sepertinya juga sependapat dengan gue mengenai rencana hari H pernikahan yang tidak ingin jauh dari tanggal lamaran.
“Setelah semua yang sudah di diskusikan, akhirnya dicapai kesepakatan ya, bapak ibu sekalian. Kalau lamaran akan dilaksanakan bulan Maret tahun depan. Sementara untuk waktu hari H pernikahannya sendiri akan didiskusikan kembali ke keluarga besar, baik itu pihak Emi maupun Ija...” Tutup Om Dani.
Semua rangkaian acara telah dilalui. Hanya saja yang masih jadi ganjalan dalam diri gue adalah, kenapa harus banyak pertimbangan lagi dalam menentukan ‘hari baik’? Gue dan Emi berpikiran kalau setiap hari adalah hari baik sebenarnya, apalagi jika kita mengacu kepada ajaran agama. Namun sepertinya proses Tarik ulur ini menjadi semakin panjang karena meunurut Papanya Emi, harus tetap ada yang namanya perhitungan hari baik ini sendiri.
Beberapa dari keluarga gue maupun keluarga Emi, setelah beberapa kali kami sharing cerita, melaksanakan pernikahannya di hari baik yang dimaksudkan keluarga. Tetapi ada yang tidak happy ending dari cerita pernikahan mereka. Yang ada adalah sebuah perceraian.
Dari situ pula gue berkeyakinan kalau tidak selamanya hari baik akan berakhir pada kebaikan dalam pernikahan. Logikanya lagi, kalau di kota kenapa bisa melaksanakan akad nikah sekaligus dengan resepsi di hari yang sama, yang mana sebagian besar pelaksanaannya berada di akhir pekan sesuai dengan ketersediaan Gedung atau tempat pelaksanaan resepsi? Harusnya kalau benar-benar menentukan hari baik, ya pasti nggak selalu harus tepat di akhir pekan atau tepat dengan waktu penyewaan tempat perhelatan resepsi, betul?
Berangkat dari pemikiran ini lah gue dan Emi jadinya berpikir kalau semua hari adalah hari yang baik. Sekarang tinggal kitanya saja yang mau menjalaninya, siap atau tidak.
Baik atau buruknya sebuah pernikahan seharusnya tidak ditentukan dengan waktu yang dipilih untuk pelaksanaan pernikahan, tetapi bagaimana kerja sama tim yang dibangun antara suami dan istri untuk Bersama-sama mengendarai kapal besar yang bernama ‘keluarga’ ini, bukan?
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 dan semua rangkaian acara terlaksana dengan baik, tentunya dengan catatan keterlambatan dari keluarga gue yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Keadaan ini tentunya membuat gue secara personal tidak enak dengan keluarga Emi. Bukan apa-apa, gue jadi takut nanti disangkanya keluarga gue tidak serius untuk melanjutkan hubungan ini ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Untuk datang tepat waktu saja keluarga gue tidak bisa menepatinya, apalagi nanti kalau ada acara yang melibatkan orang yang lebih banyak lagi?
Nyatanya, Papanya Emi mewakili keluarga besarnya mau untuk menerima kedatangan keluarga gue. Tetap disambut dengan hangat. Entah ini benar-benar tulus atau di belakang nanti akan ada omongan gue nggak tau, yang jelas dari raut wajah Papanya Emi tidak terlihat adanya kekecewaan sama sekali. Mungkin juga Papanya Emi pintar menyembunyikan ekspresi. Entahlah. Yang jelas acara hari ini berjalan lancar.
“Pak Dedi, kalau di daerah sini, tempat wisata yang bagus itu dimana aja ya? Dan misalnya ada yang jual souvenir-suvenir khas daerah sini, gitu?” Mama tiba-tiba membuka obrolan santai.
“Oh ada Bu, mungkin jaraknya sekitar 3 kilometer dari rumah ini. Pirji juga udah tau kok daerah situ. Untuk oleh-oleh biasanya ada di dekat pasar yang murah dan enak.” Papanya Emi menyahut.
“Rencananya saya habis ini kan mau coba jalan-jalan dulu, soalnya udah jauh-jauh kesini sayang kan kalau nggak jalan-jalan. Hehehe.” Ujar Mama dengan nada penuh basa basi.
“Iya bu. Kesana aja bisa kok. Paling Pirji tuh nanti yang tau jalannya. Ya kan, Ji?”
“Hehe. Iya Om. Saya tau jalannya.” Kata gue, sembari curiga jangan-jangan sudah mau pamit aja ini.
“Kalau begitu, kami mau ijin pamit dulu ya, Pak Dedi. Nanti takut kesorean. Mantu saya kasian harus balik ke Bandung, takut kemalaman, nanti bisnya nggak ada.”
What?! Mau cabut sekarang? Gila kali. Tadi saja sudah datang terlambat dan sekarang mau buru-buru pergi lagi? Mana perginya itu untuk keperluan sekunder alias jalan-jalan dan beli oleh-oleh? Are you kidding me?
“Dan, emang mau cabut sekarang?” gue berbisik di sebelah Dania.
“Iya, abis mau ngapain lagi? Kan udah selesai juga acara lo. Gue sama Mama kemarin ini udah ngomongin mau kemana. Makanya tadi sekalian ditanyain sama Papanya Emi, kalau daerah wisata itu dimana. Untung tau. Lo juga tau tuh katanya.” Kata Dania, juga berbisik.
“Gila kali. Kita itu tadi terlambat loh. Masa sekarang udah mau cabut lagi aja? Nggak enak dong sama keluarganya Emi. Mana udah disiapin banyak makanan. Katanya kemaren saudara-saudara Papa mau pada ikutan dateng, sekarang malah nggak ada yang dateng dan cuma Om Dani doang.” Gue mulai menggerutu.
“Ya nggak tau, kak, kan gue mah tinggal ngikut aja. Nah lo kemaren yang ngehubungin saudara-saudara gimana?”
“Mereka bilang bisa dateng, makanya gue konfirmasi ke Emi karena mau disiapin makanannya. Itu diluar juga udah ada tenda, jadinya malah nggak kepake.”
“Gue juga nggak tau kak…”
Gue memegang kepala gue yang tidak pusing. Gue sangat malu dengan keadaan ini. sudah terlambat, sekarang sudah mau pulang lagi dengan alasan yang terang-terangan untuk jalan-jalan daripada tetap stay di rumah ini untuk banyak bercengkrama dengan keluarga Emi yang mana momen kumpul ini sangatlah langka, kemudian juga ditambah dengan batalnya saudara-saudara Papa yang datang. Kalau sampai acara ini sampai batal ke jenjang lamaran dan pernikahan, gue ngamuk-ngamuk tidak karuan pastinya.
Benar saja, Mama bersalaman dan berpamitan dengan keluarga besar Emi. Sebelumnya kami berfoto Bersama dulu. Kemudian satu persatu dari keluarga gue keluar dari rumah Emi menuju ke tempat mobil kami di parkir. Gue hanya bisa pasrah saja. Gue sudah coba untuk cegah, tapi karena alasannya Adit yang mau pulang ke Bandung, gue nggak punya senjata lagi untuk menahan mereka beranjak dari rumah Emi.
Kacau.
itkgid dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Tutup
dan bintang 5 
