Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
teguhjepang9932Avatar border
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
189.3K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#207
Seperti Call Center_Part 1
Momen yang cukup berat ketika berbicara di depan keluarga besar calon istri ternyata dapat gue lalui dengan baik. Semuanya terbilang lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Hal ini membuat gue sangat percaya diri kalau gue mampu untuk menjadi orang yang bertanggungjawab. Ya apalah arti seorang laki-laki di dalam sebuah pernikahan tanpa adanya sebuah tanggung jawab bukan?

Satu hal yang masih mengganjal di hati gue, apakah mungkin gue benar-benar sudah siap mental untuk melanjutkan hal sakral seperti pernikahan ini?

Gue benar-benar menikmati seluruh rangkaian acara keluarga di sini. Mulai dari perkenalan gue dan penyampaian niat gue untuk menikahi Emi, kemudian dilanjut ke acara pengocokan arisan keluarga mereka. Tanpa terasa, waktu sudah sore hari. Sebentar lagi mungkin Adzan Magrib sudah berkumandang. Satu per satu sepupu Emi yang sudah mengisi perut mereka dengan segala-macam-hidangan-yang-tidak-ada-habisnya-dan-nikmat-banget-ini pun meninggalkan ruang keluarga. Gue perhatikan ada yang lanjut pergi berboncengan naik motor atau mobil, ada juga yang kembali ke kamar masing-masing.

“Aku duluan ya…” bisik gue pada Emi. Emi hanya menganggukan kepalanya tanda setuju dan mengambil piring yang kami gunakan tadi untuk ia cuci. Gue dan Emi berpisah di ruang makan. Gue naik ke lantai atas, sedangkan Emi bergegas ke dapur yang di dalamnya ada Bibinya.

Tidak hanya di ruang tamu, tapi di ruang makan yang gue lewati ini Om dan Tantenya yang merokok pun tidak kunjung berhenti untuk menghisap gulungan tembakau tersebut. Cuaca dingin karena baru saja berhenti hujan, menjadikan alasan mereka untuk merokok terus menerus. Memang sih mereka tidak menghembuskan asap rokok mereka secara langsung ke gue. Tetapi 5 jam terkurung kepulan asap yang terus menyeruak di dalam ruangan, sudah cukup buat gue. Sesekali, gue sudah mulai batuk-batuk dan itu tandanya gue harus segera menyudahi basa-basi dengan keluarga Emi di lantai bawah.

Gue tidak boleh sampai batuk terus menerus. Gue bisa berakhir sesak napas nantinya, dan itu bisa membahayakan gue. Nggak hanya gue, tapi kami, gue dan Emi. Kami harus pulang besok, sedangkan gue tidak punya pengganti untuk menyetir kembali ke rumah. Sedangkan kami tidak mungkin menunda waktu kepulangan kami karena kami sama-sama harus bekerja keesokan harinya.

Itulah sebabnya, gue nggak pernah lelah untuk mendorong Emi agar segera belajar menyetir, baik mobil maupun motor. Emi ini sudah sangat lancar bermain sepeda. Dia bahkan bisa mengendarai sepeda bergigi dengan sangat baik. Dia sudah paham logika mengganti gigi di sepeda. Kecelakaan di motor semasa kecilnya membuat orang tuanya melarang dia untuk mengendarai motor. Begitupun dengan mobil. Jadi, di keluarga kecil Emi, tidak ada yang bisa menyetir.

Dulu Papanya Emi pernah mengendarai mobil, tapi sudah puluhan tahun lamanya dia tidak pernah membiasakan diri memegang setir lagi. Beberapa kali gue dimintai tolong untuk menyetir oleh keluarga kecil Emi. Tidak masalah memang. Tetapi terkadang gue menolak kalau suatu waktu terbentur oleh waktu kerja gue.

Gue mulai menaiki tangga yang curam dan cukup sempit. Rumah kakek Emi ini adalah rumah yang plafonnya cukup rendah. Gue sempat agak bingung juga ketika dulu pertama kali datang ke rumah ini, kenapa membuat desain rumah yang berplafon rendah seperti ini. Ternyata setelah kumpul semua seperti ini, gue baru tahu kalau keluarga besar Emi memang bukan orang-orang yang punya tinggi badan di atas rata-rata. Memang ada sepupu Emi yang dulu sempat gue lihat agak tinggi, yaitu Septiana dan kakaknya. Selebihnya, tidak ada yang benar-benar tinggi-tinggi.

Tepat di depan kamar gue ada sepupu dia yang sedang tidur-tiduran sembari memainkan HP dia. Sepertinya dia tidak menghirauan kehadiran gue. Untuk menghindari kecanggungan kami, gue tidak masuk ke dalam kamar yang Emi pakai. Gue segera melangkahkan kaki gue ke ruang keluarga dimana Emi duduk sebelum turun ke lantai bawah. Di sana kosong. Gue merebahkan badan gue di sofa terpanjang di ruang keluarga mereka tersebut.

Sembari meluruskan kaki gue dan menikmati udara segar yang semilir masuk melalui jendela, gue memperhatikan sekitar gue. Rumah ini begitu rapi di tata. Om Asep sudah merapihkan barang-barang dari Almarhum Kakek dan Nenek Emi sehingga barang-barang yang ada di rumah ini pun terlihat lebih minimalis dan rapih. Ya, minimal hal ini dilakukan oleh Om Asep ketika akan ada rencana untuk kumpul keluarga di sini. Menghargai para tamu, walaupun mereka adalah keluarganya sendiri dan paham bagaimana keadaan rumah ini sebelumnya ketika ditinggalkan Kakek dan Nenek Emi.

Om Asep ini adalah salah seorang yang cukup dekat dengan gue di keluarga besar Emi. Beliau juga selalu menyambut baik kedatangan gue setiap main ke kampung halaman Emi. Beliau adalah seorang ASN (Aparatur Sipil Negara) atau yang kita kenal dengan PNS, di lingkungan sebuah Rumah Sakit milik Pemerintah Daerah. Beliau juga merupakan orang yang cukup di kenal di kampung halamannya ini, sehingga kalau ada urusan apa-apa bisa menjadi lebih mudah.

Sepertinya Om Asep ini bisa saja membantu memudahkan jalan gue untuk mengurus pernikahan. Kita tahu kalau di negeri ini birokrasi selalu saja dibuat rumit dan berbelit-belit. Jadi dengan posisi Om Asep yang banyak koneksi dan kenalannya di daerah kecil ini, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mempermudah pengurusan izin dan segala macamnya disini. Bukan apa-apa, gue dan Emi bekerja di ibukota dan utamanya adalah, kantor Emi terkenal sangat sulit untuk mengurus cuti, sehingga waktu yang sempit harus bisa diatur sedemikian rupa untuk mengurus segala macam keperluan menikah.

Derap Langkah melalui anak tangga gue dengar dengan jelas. Sepertinya ini adalah langkah Emi. Emi ini adalah cewek yang berjalan tegap seperti layaknya cowok. Apalagi kalau dia sedang bad mood sembari menggunakan kaos metal dia, she’s so damn cool!

“Kamu nggak ganti baju dulu?” tanya dia sembari membuka pentul mengaitkan jilbab yang dia pakai. Sepertinya dia pun merasa gerah dengan kondisi di lantai bawah yang penuh asap. Seperti tidak ada udara segar yang bisa masuk ke dalam rumah. Hawa pun menjadi terasa sangat panas.

“Aku nunggu kamu beres dulu di bawah…”

“Zy… Kita kayaknya mesti patungan nih buat nyiapin semuanya.” Ujar Emi yang langsung duduk di samping gue, tanpa ekspresi.

“Semuanya? Semua dalam arti semua biaya untuk Perkenalan Keluarga aja atau semua dalam arti sampe seluruh rangkaian pernikahan kita selesai?” Gue hanya memastikan tidak ada miskomunikasi antara kami. Emi hates it.

“Semua sampai seluruh rangkaian pernikahan kita selesai. Kayaknya.”

“What the… Hmm. Kamu emang ada tabungan?”

“Kamu jadi ragu ya mau ngelanjutin pernikahan kita?”

“Bukan begitu. Ya kalau emang ternyata begitu ya nggak usah aneh-aneh nanti acaranya. Seluruh acara kita nggak usah terlalu banyak ornamen. Nggak usah ada Resepsi Pernikahan. Nggak usah bawa hantaran mahal-mahal. Undang yang penting-penting aja… nggak usah banyak cincong juga ini itu.”

“Kamu marah?”

Jujur, gue nggak marah. Gue emang udah niat di dalam hati kalau pernikahan kami ini hanya akad nikah dan acara syukuran aja, makan-makan biasa kayak pengajian. Nanti di acara syukurannya juga hanya mengundang 30-50 orang paling. Sederhana.

Tapi yang jadi bahan pemikiran gue, masa iya satu keluarga ini nggak ada yang mau membantu acara keluarga Emi? Mereka nggak melihat kondisi Papa dan Mama Emi? Mereka nggak melihat Emi yang belum lama kerja? Mereka pikir Emi gudang duit apa, makanya bisa bikin acara tanpa bantuan mereka dan hanya bantuan tenaga doang? Masa bantu sedikit pun minimal buat acara Lamaran gitu? Masa nggak mau?

Oke gue nyaman di keluarga ini. Tapi memang gue nggak paham bagaimana mereka menangani keuangan di keluarga besar mereka sendiri. Gue rasa juga tidak perlu untuk mengetahuinya, bukan ranah gue. Hanya saja bagi gue, menyumbang untuk saudara yang sedang membutuhkan itu baik adanya. Dan ketika kita ada di posisi keluarga dari mempelai wanita, kebiasaannya akan mendapatkan porsi biaya lebih besar bukan? Walaupun gue memang tidak memaksa demikian. Kita kembali ke skema awal, semuanya dari kita. Semoga saja tidak menjadi beban pikiran bagi Emi.

“Aku nggak marah. Cuman ya mikir aja, masa mereka bisa gitu terang-terangan nggak mau ngebantu keluarganya yang lagi butuh biaya?”

“Papa aku nggak bilang butuh biaya ke keluarga. Kita butuh bantuan TENAGA dan kehadiran dari keluarga di rumah aku.”

“Keluarga kamu itu orang pinter. Mereka paham pasti, nikah itu selain butuh bantuan TENAGA, juga butuh BIAYA. Harusnya nggak perlu dijabarin, mereka paham. Tapi mereka langsung bilang kalau mereka nggak bisa banyak bantu urusan biaya kan? Kenapa sih emangnya? Lagi ada bentrok kebutuhan lain juga di keluarga besar kamu?”

“Hmm. Nggak tau juga aku…” Emi terlihat bingung. Sangat bingung, I can tell.

“Yaudah nggak usah dipikirin. Kita fokus aja sama step-by-step nya satu per satu. Kita siapin aja semuanya berdua secukupnya pakai uang yang ada. Nggak usah berlebihan. Mudah-mudahan nanti kedepannya ada rejeki lebih lagi. Oke?” Balas gue santai.

Gue juga nggak mengharap banyak bantuan dari keluarga besar ayah gue soalnya. Mengingat baru saja tahun kemarin mereka banyak membantu biaya pernikahan adik gue, masa iya tahun setelahnya giliran gue yang minta bantuan mereka? Gue juga tahu diri. Miskin nggak usah kebanyakan gaya! Hahaha.

Makanya nabung dulu sebelum nikah, Ja!

Gue udah punya tabungan kok. Banyak! Tenang aja! Gue punya mobil sendiri. Motor sendiri. Barang-barang branded yang gue dan Emi beli selama kami pacaran pun udah jadi modal kami. Dan modal kami yang paling tidak bisa diukur dengan uang adalah pengalaman hidup. Nikah itu nggak butuh biaya besar. Nggak butuh puluhan atau ratusan juga kok. Paham sampai di situ?

“Nanti baiknya ada bawa-bawaan deh dari keluarga kamu, Zy. Besok deh di kantor aku coba itung-itungan keuangan kita. Kamu kirim screenshot saldo kamu ya, kita bahas di grup Keuangan nanti.” Yap. Kami sudah punya grup di Whatsapp, khusus membahas segala keuangan kami berdua, per harinya. “Oke emang aslinya nggak usah repot bawa bawaan begitu, wong cuma Perkenalan Keluarga ya kan? Tapi masa iya kamu dateng dengan tangan kosong? Bukan aku maksa, tapi percaya deh. Pasti Mama kamu nanti ngomelin kamu dikira kamu nggak paham urusan beginian.”

“Iya aku paham maksud kamu. Ibu aku aja nggak tau bisa bantuin persiapan apa aja. Minta dikomandoin sama aku. Kalau aku ternyata nggak nyiapin apapun. Bisa nyerocos panjang entar. Tapi Om Dani udah bilang kok mau bantu nyiapin dan ngobrollin ini sama Mama. Biar itu entar urusan aku. Nanti kira-kira berapa biayanya, kita bahas di grup aja kayak kata kamu tadi. Hmm. Paling nanti ada sepupu sama Tante aku ada yang ikutan dateng… Soalnya komplek perumahannya nggak jauh dari rumah kamu.”

“Tante? Sepupu? Oh iya ya? Kok kamu nggak pernah cerita?”

“Nggak pernah cerita? Aku udah pernah cerita. Itu ibunya Bang Ozy sepupu aku. Yang kerjanya sama bidangnya kayak aku.”

“Masa sih? Kok aku sama sekali nggak inget ya?”

“Yaelah, terserah kamu lah. Yang jelas aku udah pernah ceritain ke kamu.”

“Mungkin kamu udah pernah cerita tapi BUKAN CERITA SAMA AKU kali. Mungkin sama yang lain?”

“Halah! Apaan sih?”

Mulai lagi. Ini adalah salah satu penyakit Emi. Suka lupa kalau pernah diceritakan suatu hal. Setelahnya biasanya berujung ribut-ribut hanya karena lupanya dia ini. Sekarang saja hampir terjadi lagi. Gue memilih diam dan mencoba mencari kesibukan di HP gue.

“Ayo ganti baju dulu.” katanya ketus.

Dia jalan terlebih dahulu menuju kamar yang akan dia pakai. Gue harus segera berganti pakaian dan kembali ke sofa tersebut sebelum ada yang menempati terlebih dahulu. Soalnya sepertinya sepupu Emi akan menempati sofa yang ada di depan kamar Emi ini.
kaduruk
caporangtua259
itkgid
itkgid dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.