Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
teguhjepang9932Avatar border
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
189.3K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#197
Perjalanan menegangkan_Part 2
“Nggak mau lagi sep**g-sep**g di mobil! Bikin keselek aja!” kata Emi, ngomel-ngomel sambil ngelapin mulutnya. Siapa sangka, masih pagi buta dan ngantuk sudah mulai menerjang, dapet serangan fajar dari calon bini? Haha.

Gue ngakak nggak ketulungan. Cuma Emi yang bisa ngomong kata ‘sep**g’ seenaknya seolah itu adalah kata-kata yang biasa aja kalau didenger sama orang.

Contohnya ya kayak Emi kasih nama tempat bakso langganan dia sebagai ‘bakso sep**g’ cuma karena suatu waktu pas kami akan membeli bakso di langganan dia itu, ternyata abangnya lagi nggak jualan. Kebetulan, ada sepasang muda mudi lagi ‘bercengkerama sambil merosotin celana si cowok’ di kegelapan malam. Biar gue nggak lupa, dia sebut nama bakso langganan dia tersebut dengan sebutan ‘bakso sep**g’.

“Yakin nih nggak mau sep**g-sep**g lagi? Kasian amat rocky nggak disayang sama ibu sendiri?”

“Aku mah sayang rocky, aku nggak sayang sama yang punya rocky-nya! Sakit tau keselek tit*t begitu! Emang nggak keliatan apa polisi tidur segede gitu di jalan sampe bablas aja?”

“Liat sih. Tapi nanggung mau keluar sayang…”

“BANGS*T! Hahaha!” Dia jadi ikutan ketawa sama gue.

“Mestinya ditambahin lagi tuh aturan di jalanan, dilarang berkendara dalam keadaan mabuk, menggunakan ponsel, dan mengeluarkan kelamin tanpa sepengetahuan pemilik, Hahaha.”

“Bangs*t!”

“Sumpah gue seger sekarang! Ayolah lanjut ke rumah Mbah gue di Jatim juga kuat kalau tiap kali ngantuk dikasih ‘serangan fajar’ terooos! Isep terooos!”

“Sumpah bangs*t banget lo jadi orang! Anj*ng... Hahaha.”

Nggak pernah gue bermimpi bisa seakrab ini sama calon istri, bahkan untuk urusan selangkangan sekalipun. Calon istri loh, bukan cuma sekedar pacar lagi. “Kamu udah nanya ke ibu sama om kamu?” Mendadak dia merubah topik perlendiran kami. Anjlok banget suasana saat itu.

“Nanya apaan? Mereka pernah liat kita sep**g apa nggak?” Gue masih berusaha memperbaiki mood yang ada.

“Gobl*k! Hahaha. Bukan. Jadinya mereka kapan ada waktu buat kenalan keluarga kita?”

Gue terdiam. “Gue belum ngomong apapun ke mereka tentang semua rencana kita.”

Entah kenapa, gue ngerasa kedepannya seluruh persiapan pernikahan gue bakalan HANYA diurus oleh gue dan Emi. Tanpa campur tangan keluarga gue sekalipun. Kecuali urusan perijinan ya, mereka tetap jadi wali untuk pernikahan gue nanti.

Mengapa gue bisa berpikir demikian? Karena ketika gue sudah membicarakan rencana gue, mereka sama sekali nggak ada inisiatif untuk menanyakan progres apapun. Mereka sibuk dengan dunia mereka tanpa memikirkan bagaimana kabar gue dan rencana gue. Apakah mereka bersikap demikian karena mereka masih juga menganggap gue orang yang gagal?

“Kita jadi apa nggak kenalan keluarga?” tanya dia kembali, menegaskan pertanyaan dia.

“Ya jadi lah! Kenapa emangnya?” Mood gue udah terlanjur rusak dibuatnya.

“Tujuan kita ke acara keluarga hari ini tuh buat ngomongin ini loh. Masa kamu masih belum siap apapun? Aku kira tadi pagi main HP tuh buat ngabarin sama nanyain mereka. Ternyata yang lain toh?”

“Yang lain gimana maksud kamu?” Gue nggak tau, dia nanya begitu karena dia udah curiga sama salah satu cewek itu atau gimana. Gue nggak pernah tau, kapan Emi pura-pura bodoh atau dia benar-benar innocent.

“Ya abis tadi pas mau berangkat kayaknya lagi chat sama orang…”

“Gue lagi chat sama nyokap sama adik gue lah. Emang lo pikir gue mau chat sama siapa lagi?” Setiap kalimat kebohongan yang gue lakukan rasanya penuh dosa setiap kali terucap di bibir ini. Hal itu membuat gue penuh emosi setiap kali Emi melontarkan sindiran demi sindiran ke gue.

“Ya kali aja ngabarin yang lain lagi, kayak biasanya. Ya udah, jangan buru-buru sampe kalo gitu. Entar bingung mau kasih tanggal berapa ke keluarga aku. Pasti deh keluarga aku ngasih pertanyaan yang sama ke kamu… ‘Keluarga kamu bisanya tanggal berapa, Ji?’ Percaya deh.”

Gue ambil HP gue yang sedari berangkat sudah gue airplane mode. Dalam rangka menghemat baterai dan antisipasi anarkisme cewek-cewek itu. “Gue hubungin sekarang dah…”

“Masih pagi begini emang udah pada bangun? Ini hari Sabtu loh…”

“Mereka pasti lagi olahraga pagi, udah bangun pasti. Lagipula yang dihubungin kan cuma Om sama nyokap. Saudara yang lain mah nanti aja pas mau lamaran. Nggak usah banyak-banyak ngundangnya kalau buat kenalan doangan mah…”

“Atur aja…” jawab dia sambil nengok ke jendela yang ada di samping dia. Kemudian kami sama-sama terdiam selama beberapa menit sambil menikmati udara pagi di pesisir pantai utara Jawa. “Isi bensin dulu aja di depan. Sambil nelpon Om sama nyokap.” kata dia kemudian.

Kurang lebih 200 meter di depan kami ada SPBU yang sudah mulai terlihat ramai. Namun antrian yang ada hanya terfokus di antrian pengisian dengan bahan bakar Premium, bukan Pertamax. Hampir seluruh kendaraan yang mampir ke SPBU ini mengisi kendaraan mereka dengan bahan bakar Premium. Hal tersebut membuat kami segera dilayani dan cepat selesai mengisi bahan bakar mobil kami di antrian Pertamax.

“Aku nunggu di deket pompa Nitrogen depan sana…” kata dia sambil melenggang jalan dengan sendal jepitnya.

Biasanya cewek males diajak ribet, padahal aslinya mereka yang bikin ribet. Contohnya ketika di Drop off mall. Kenapa mereka minta diturunkan atau dijemput di sana oleh cowoknya ketika mereka bisa sama-sama naik mobil ke parkiran dan bisa langsung keluar mall? Emi nggak pernah begitu. Sejauh apapun parkiran, atau bahkan ketika kami harus parkir satu kilometer pun dari lokasi yang kami tuju, dia nggak pernah mengeluh untuk jalan kaki bareng gue.

((ARASTI CHAT))
Quote:


((ANA CHAT))
Quote:


((MAMA CHAT))
Quote:


((EDNA CHAT))
Quote:


((HANA CHAT))
Quote:


Untung HP gue nggak dipegang Emi sama sekali. Kalau dia baca semua chat ini, bisa pulang sendiri naik bus entar dia. Satu per satu gue balas chat mereka semua. Pada intinya gue menjawab sama, gue sedang di perjalanan ke luar kota dan nggak bisa diganggu. Untuk menghindari mereka membombardir gue dengan pertanyaan lain ataupun ingin ditemani mengobrol. Maaf, untuk saat ini gue nggak bisa kompromi untuk ini.

Gue menghentikan mobil gue tepat di depan abang pengisi Nitrogen. Gue minta semua bannya untuk diisi angin sembari gue mencoba menghubungi nyokap gue. Nggak usah tanya, Emi ada dimana. Dia udah nongkrong di samping abang baslok yang jualan di depan SPBU sini.

“Halo, Ma?”

“Mama lagi mandi, Kak. Ini gue… Kenapa?” Adik gue yang mengangkat telepon gue. Gue lupa, tadi ibu gue emang bilang mau pergi kondangan. Kayaknya beliau lagi siap-siap.

“Dan, minggu depan Mama ada acara nggak hari Sabtu atau Minggu?”

“Mana gue tau, Kak. Hahaha. Emangnya kenapa? Entar gue tanyain dulu.”

“Tanyain buru gih. Ketok aja kamar mandinya. Urgent nih.”

“Yakali, Kak… Gue lagi dandan nih. Mumpung Dian belom bangun…” Dian, keponakan gue.

“Siapa itu?” Gue mendengar suara ibu gue sekilas. Kayaknya ibu gue udah beres mandi.

“Si Kakak, Ma…”

“Dia udah sampe? Tumben nelepon.”

“Bukan, katanya Mama hari Sabtu atau Minggu depan ada acara nggak?”

“Minggu depan ya? Paling kosong hari Minggu… Sabtu Mama ada acara sama ibu-ibu PKK soalnya. Kenapa emangnya?”

“Minggu katanya bisa, Kak… Noh ngomong sendiri dah sama si Mama.” Dania kasih HP-nya ke ibu gue.

“Kenapa, Kak?” Ibu gue ngomong mulai dari sini.

“Aku mau ngajak Mama sama Om Dani ke rumah Emi, Ma.”

“Buat apaan, Kak?”

“Buat perkenalan keluarga.”

“Hah? Kenalan? Ya nggak bisa dadakan gitu lah, Kak. Gimana sih kamu? Emang kita kesana nggak mesti nyiapin apa-apa gitu? Kamu kok asal banget bikin keputusan sih.”

“Kok dadakan? Masih minggu depan, Ma. Dan ini tuh KENALAN KELUARGA. Mesti apa lagi yang disiapin?”

“Ya kan nggak mungkin kita kesana tangan kosong. Mesti bawa-bawaan lah. Kamu itu suka ngegampangin banget sih orangnya?”

“KENALAN KELUARGA, MA! BUKAN LAMARAN. Ngapain repot-repot banget sih? Ya udah kalau mau bawa, ya bawa apa kek. Nggak usah ribet-ribet. Yang penting Mama sama Om Dani bisa dateng. Itu yang penting.”

“Tetep aja, mesti disiapin dari jauh-jauh hari. Mama itu Sabtunya mau ada acara… Masa Minggunya langsung ke rumah calon besan? Nyiapinnya kapan?”

“Kan dibantu Dania bisa.”

“Dania lagi. Dia sibuk ngurus Dian lah.”

“Kan nanti ada suaminya. Masa masih juga sibuk ngurus Dian? Ntar juga aku bantuin siapin ini itunya. Kalau nggak Mama terima beres aja lah. Entar aku yang siapin semuanya. Yang penting Mama bisa kan hari Minggu?”

“Ya nggak bisa asal kasih kepastian gitu lah, Kak. Emangnya Mama nggak perlu persiapan ini itu? Kalau ternyata acara Mama diperpanjang sampe Minggu gimana?” Gue terdiam. Gue kaget. Persiapan pernikahan anak sulungnya bisa kalah hanya karena acara PKK?

Gue tarik napas dalam-dalam. “Ma… Ija nggak minta banyak buat pernikahan Ija. Ija cuma minta Mama dan Om hadir di setiap momennya. Untuk uang atau persiapan ini itu kalau dirasa nyusahin Mama, biar Ija urus semuanya sendiri. Mama bolehlah sibuk sama urusan Mama sendiri, NGGAK USAH MIKIRIN IJA. Tapi tolong, Mama bisa kan luangin waktu Mama sedikit aja buat Ija? Anak sulung Mama sendiri?”

“………” Mama terdiam. Entah karena nggak bisa kasih jawaban, atau karena Mama masih mikir mau mengontra gue dengan apa lagi.

“Ija nggak akan bisa ngelakuin setiap tahapan pernikahan ini tanpa kehadiran Mama dan Om… Andai masih ada Papa, mungkin Ija bakal minta waktu Papa aja tanpa harus ngerepotin Mama lagi…”

“Kamu jangan bilang gitu, Kak… Hmm. Kalau 3 minggu lagi deh gimana? Mama kayaknya kosong tuh Sabtu atau Minggunya.”

“3 minggu? Mama nggak bisa ngeluangin beberapa jam doang di Minggu depan? Mama maunya Ija nunggu waktu Mama 3 minggu lagi? 3 minggu itu bukan waktu yang sebentar, Ma…”

“Mama nggak bisa janji, Kak… Sejauh ini kosong, tapi Mama mesti nanya dulu ke ibu-ibu yang lain.”

“Masih ya, Ma? Gimana pun Ija ngomong, hati Mama tetep nggak goyah dan sedikit aja mikirin Ija?”

“Jangan gitu dong, Kak…”

“Udah. Ija ngerti kok. Aku mau nelepon Om Dani dulu. Semua keputusan ada di Om Dani. Assalamualaikum.” Gue langsung menutup telepon gue. Gue nggak menunggu ibu gue untuk menjawab salam gue dulu.

Gue sudah terlanjur kecewa.

“Zy… Kenapa?” tanya Emi. Gue membalikkan badan gue dan kini menghadap ke Emi. Gue lihat, dia sudah memegang dompet dia. Sepertinya dia sudah menyelesaikan pembayaran pengisian Nitrogen untuk ban mobil kami.

“Nggak apa-apa… Kita pinggirin dulu mobilnya. Aku mau telepon Om Dani dulu…”

“Aku tau, kamu kenapa-napa…” kata dia lagi sembari masuk ke dalam mobil.

“Aku mau telepon Om Dani dulu buat mastiin.”

“Oke. Atur aja…”

Setelah mobil sudah terparkir sempurna di pinggir, gue keluar kembali dan duduk di depan kap mobil. Gue membuka handphone gue dan mengabaikan segala notifikasi yang gue lihat. Gue hanya bisa berharap, Om Dani bisa memberi pencerahan. “Halo, Assalamualaikum Om Dani…”

“Eh Ja? Waalaikumsalam… Tumben kamu nelepon pagi-pagi, Ja? Kenapa kenapa?”

“Iya nih, Om… Kebetulan ada hal penting mau diomongin sama Om Dani. Om lagi sibuk?”

“Hmm. Nggak kok ini, Ja. Cuma lagi santai ngopi aja. Barusan abis sepedahan keliling komplek. Kenapa, Ja?”

“Ija langsung to the point aja ya, Om? Biar nggak ganggu waktu Om Dani…”

“Monggo. Hahaha. Om ndak keganggu toh, Ja. Santai wae, Le…”

Sedikit tawa dari Om Dani cukup melepas ketegangan, dan kekecewaan di diri gue. “Ija mau nikahin Emi, Om…”

“Wah alhamdulillah, Ja! Ya ampun. Sebentar, Om panggil Tantemu dulu ya, Le…” Ada sedikit jeda di telepon. Yang terdengar hanya suara burung peliharaan Om Dani. “Halo, Le? Ini Om loudspeaker ya? Biar Tantemu denger juga…”

“Iya, Om. Assalamualaikum, Tante…”

“Waalaikumsalam, Ija… Kapan rencananya kamu mau nikah? Ya ampun Tante seneng banget dengernya…”

“Sesegera mungkin, Tante…”

“Hmm.” Cuma itu respon yang gue dengar saat itu. Kayaknya Tante dan Om gue bingung dengan jawaban ‘sesegera mungkin’. “Maksudnya, Ja?”

“Jadi gini. Sebenernya, Ija sama Emi udah nentuin waktunya di awal tahun depan. Ija udah nyampein ke keluarganya Emi semalam. Tapi ternyata, keluarganya Emi maunya ada perkenalan keluarga dulu. Nggak mau mendadak baru ketemu sama Om dan Mama pas Lamaran nanti.”

“Oh… Mau ada acara perkenalan keluarga? Ndak apa-apa toh, Ja… Bagus malah. Om jadi bisa lebih kenal keluarganya Emi. Kapan rencananya, Le?”

“Om kapan ada waktu kosong?”

“Ndak mungkin besok toh, Ja?”

“Nggak kok, Om. Hahaha. Wong ini Ija juga lagi di kampungnya Emi, mau ngabarin keluarga besarnya Emi juga.”

“Oalaaah… Hahaha. Kamu udah grecep banget sendirian Le…” kata Tante gue. “Kamu kayak Om kamu persis, grecep pas urusan istri. Hahaha.” kata Tante dengan logat Jawa Tengah yang cukup kental.

Gue tersenyum. Seenggaknya ada yang menilai gue bukan orang yang gagal di luar sana. “Alhamdulillah, Tante. Hehehe.”

“Hmm. Om sih kosong kalau weekend ini. Rencananya hari Sabtu atau Minggu, Le?”

“Kalau hari Minggu depan kosong, Om?” Gue terus berdoa di dalam hati gue demi jawaban terbaik Om gue. Semoga bisa, semoga bisa, semoga bisa, semoga bisa, semoga bisa.

“Kayaknya bisa sih, Ja…” ALHAMDULILLAH! DOA GUE TERKABUL!

“Eh sebentar, Yah. Bukannya mau ada acara outing kantor ya?” tanya Tante gue mendadak.

“Hah? Outing?”

“Iku loh. Sing pergi ke Puncak… Mosok sampeyan lali?”

Rusak udah. Rusak semuanya! Gue mengepalkan jemari tangan kiri gue. “Anj*ng!” teriak gue di dalam hati.

“Itu hari Senin, Bun… Bukan hari Minggu. Makanya kantor protes. Kenapa ndak hari Minggu aja? Malah outing hari Senin… Hahaha.”

“Hmm. Jadi kira-kira bisa nggak Om?”

“Insya Allah bisa, Ja…” jawab Om gue tegas. “Apa yang ndak buat ponakan Om ini? Apalagi buat niat baik begini. Harus diusahakan untuk bisa…”

“Alhamdulillah! Makasih banyak, Om. Aku mau kabarin Mama juga…”

“Yo wis kamu kabari dulu Le… Nanti Tante juga mau ngobrol sama Mama kamu. Biar nyiap-nyiapin semua kebutuhannya.”

“Ini cuma kenalan loh Tante, jangan berlebihan dulu. Nanti aja pas lamaran.”

“Gampang. Kamu terima beres aja.”

“Hmm. Ija nggak mau ngerepotin Mama sama Tante. Biar kalau ada yang perlu Ija siapin, Ija bantu siapin. Biar Mama sama Tante nggak perlu ribet ngurusin urusan Ija.”

“Ja? Kamu kenapa? Kok ngomong begitu?”

“………”

“Mama kamu kenapa?” tante Om gue.

“Ja? Kamu udah ijin sama Mama dulu kan urusan pernikahan ini?”

“Udah ijin kok, Tante. Ija nggak kenapa-napa Om. Ija tau kok, Mama udah ribet sama Dian dan Dania. Ija nggak mau, Mama makin pusing cuma karena ngurusin Ija. Jadi biar kalo ada apa-apa nanti, Ija yang ngurus sendiri. Atau Ija ngurus bareng Emi aja berdua. Ya, Om Tante? Om sama Tante bisa ngeluangin waktunya sedikit buat dateng ke acara perkenalan keluarga Ija aja udah seneng banget, Ija… Udah bersyukur banget. Jadi Ija nggak mau berharap atau mohon lebih lagi.”

“Kita itu keluarga, Le... Nggak boleh begitu bilangnya.”

“Iya Ija paham. Tapi Ija mau lebih mandiri aja.”

“………” Mereka terdiam ketika mendengar jawaban gue.

“Le… Kalau ada apa-apa, kamu ngomong aja ya sama Om dan Tante?”

“Iya, Om.”

“Yaudah, Tante nanti nelepon Mama kamu kok. Udah kamu nggak usah mikir begitu. Nanti Tante kabarin lagi gimana persiapannya nanti ya… Pokoke fix hari Minggu depan acara perkenalan keluarga kamu. Oke?”

“Iya, Tante. Makasih banyak, Tante. Ija lanjut perjalanan lagi kalau begitu.”

“Hati-hati di jalan, Le. Salam buat keluarga Emi.”

“Iya, Om… Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam, Le…”

Satu pelajaran penting, jangan pernah suudzon sama rencana Tuhan.
jiyanq
caporangtua259
itkgid
itkgid dan 19 lainnya memberi reputasi
20
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.