- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
uang500ratus dan 92 lainnya memberi reputasi
83
186.8K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#166
Perjalanan Pulang_Part 1
Sepanjang perjalanan menuju rumah Emi, gue mendengarkan dan menyanyikan lagu-lagu yang ada di playlist HP gue. Playlist itu sengaja gue setting ‘Play Random’ biar nggak bosan untuk didengarkan sepanjang jalan. Perjalanan gue nggak sebentar soalnya. Bisa menghabiskan 1 hingga 2 jam perjalanan dengan kuda besi gue. Berbeda kalau ada Emi di kursi penumpang gue. Perjalanan nggak akan terasa membosankan karena Emi selalu mengajak ngobrol gue dan kami nggak pernah kehabisan bahan obrolan.
Di HP gue kurang lebih ada sekitar 600 buah lagu, belum lagi ditambah dengan adanya Spotify untuk update lagu-lagu terkini yang selalu gue beli premiumnya demi mendukung dan menghargai karya para musisi, karena gue tau banget sulitnya membuat sebuah musik, apalagi musik-musik yang hits. Banyak tekanan sana sini. Dari mulai produser, music director dan lainnya yang kadangkala menyumbat ide-ide brilian tapi idealis sang musisi.
Entah kenapa, lagu-lagu yang terputar di playlist gue tersebut mendadak mengingatkan gue kembali ke jaman SMA dan kuliah. Apalagi beberapa musik yang gue dengar adalah hasil karya teman-teman tongkrongan dulu. Ya, gue memang bukan anak tongkrongan. Tongkrongan di sini maksudnya, teman-teman yang pernah bermain dan berbincang pasca manggung bersama di komunitas. Dan gue bersyukur melihat keberhasilan mereka saat ini dengan nama besar mereka. Sebut saja misal Thirteen, Killing Me Inside, Juliette, NOXA, D’Cinnamons sampai sekelas Barasuara dan masih banyak band lainnya.
NOXA - Tanah Air Beta
Thirteen - Jakarta Story
Killing Me Inside - The Tormented (Demo Ver.)
D'Cinnamons - Selamanya Cinta
Minimal dari salah satu personil atau kru band-band tadi, dan banyak band lainnya yang punya nama baik di jalur indie maupun major label yang pernah berada di lingkaran pertemanan gue. Beberapa dari mereka saat ini ada yang masih aktif ngeband dengan band lama atau bergabung dengan band baru, ada yang jadi Youtuber dengan subsciber yang sangat banyak juga channelnya, dan ada pula yang memutuskan menjadi seorang PNS. Ada yang masih berteman sampai detik ini, ada yang sudah hilang kontak sama sekali. Mungkin kalau gue berkecimpung terus di dunia musik, lingkaran pertemanan gue akan lebih banyak lagi.
Sebelum berjayanya internet di negeri ini, TV adalah salah satu pemulus jalan para musisi untuk unjuk gigi dengan karya-karya orisinil mereka. Tetapi disini juga banyak sekali tantangan dan kalau nggak mau dibilang hambatan, yaitu persyaratan dari pihak TV nya itu sendiri. Seperti contohnya membuat lirik yang mudah di mengerti, ringan, tidak banyak. Lalu ada pula durasi lagu yang nggak boleh lebih dari 4 menit. Kemudian ada juga lirik yang sebaiknya 95% berbahasa Indonesia dan bahkan nama bandnya pun kalau bisa yang mudah diingat dan Indonesia banget.
Jangan heran jika band-band besar di tanah air kalau di perhatikan banyak yang bernama lokal. Semakin kesini pun lirik lagu dan mungkin bagi beberapa orang, kualitas musik yang dibuat oleh band-band yang muncul setelah era keemasan DEWA 19, PADI, Sheila On 7 dan Slank berlalu mengalami degradasi. Tapi menurut gue, bukan degradasi kualitas musiknya, melainkan memang pasarnya menuntut seperti itu. Makanya band-band yang berjaya seiring dengan tingginya rating acara musik pagi-pagi di jam sekolah pun seperti mewakili keresahan penikmat musik yang mungkin melabeli telinga mereka dengan ‘penikmat musik berkelas’ sebagai kemunduran industri musik tanah air.
Dengan kemunculan band-band ‘super easy listening’ ini, sebenarnya memicu arus kemajuan musik indie. Label-label musik lokal seperti banyak yang berlomba untuk meningkatkan kualitas produksi mereka dengan menawarkan kualitas rekaman kelas satu dengan kualitas band yang menghasilkan musik lebih baik serta idealis menurut penikmat musik ‘beneran’.
Anak-anak band pun sebenarnya terjebak dalam sebuah dilema. Lo ngeband buat cari duit apa buat menyalurkan hasrat idealis lo? Kalo lo mau cari duit, masuk industri major, turutin kata label, turutin kemauan TV, duit lo banyak deh dijamin karena sisi komersial adalah yang utama, namanya juga industri. Sebaliknya, kalo mau dijalur independen, bisa tetap cari uang, tapi ya nggak akan ‘sekaya’ band-band major yang musiknya terdengar mudah untuk dikombinasyikan dan diperkuat oleh lirik lirik ‘cringe’ yang lebih disukai banyak telinga penikmat musik tanah air.
Itulah sebabnya, menurut gue, banyak musisi yang akhirnya konsisten di jalur indie demi mempertahankan idealisme mereka. Banyak musisi yang bermusik untuk menghasilkan sebuah seni, alih-alih menghasilkan uang miliaran semata. Tapi kembali lagi, setiap orang punya selera dan cara menikmati karya seni masing-masing. Menurut gue lagi, nggak ada takaran musik bagus atau nggak karena selera orang beda-beda. Lo nggak bisa bilang Kangen Band jelek karena musik mereka sederhana, karena diluar sana banyak orang yang kemampuan memahami musiknya pun sesederhana musik Kangen band yang sebenarnya jika dikulik lebih dalam punya tingkat kesulitannya sendiri. Lo juga nggak bisa bandingkan Kangen Band dengan Burgerkill atau DEWA 19, kelasnya berbeda dan nggak apple to apple.
Ingat, indie bukanlah genre musik! Kalau ada orang yang ngomong 'wah ini sih alirannya indie', mending saranin aja banyak-banyak ngopi di Ujung Berung Bandung dulu sambil ngobrol-ngobrol sama orang-orang disana. Haha.
Siapa sangka mereka yang dulu seru-seruan berteman sesama musisi kecil yang kalo manggung dibayar sama nasi kotak dan air minum dalam kemasan, manggung dari gigs ke gigs biar lebih dekat dengan penonton serta lebih banyak kenal musisi-musisi baru lainnya, atau festival ke festival, sekarang sudah menjadi sangat besar namanya, baik secara band, maupun secara individu. Benar-benar sangat tak terduga. Gue dan teman-teman lama ini memang besar dan berangkat dari gigs, pensi sekolah atau universitas, sampai ke festival-festival besar di dalam maupun luar negeri.
Sempat ada kegalauan hati gue, Arko, Ito dan Drian ketika kami akan lulus kuliah dulu. Apakah meneruskan menjadi musisi dan membesarkan nama band kami mengingat circle antar anak band, koneksi ke label hasil menjuarai beberapa ajang kompetisi serta cukup sering jadi guest star di acara komunitas, kenalan-kenalan dengan musisi besar macam Seringai sampai God Bless saat itu sangat memungkinkan untuk memuluskan jalan kami menjadi musisi besar di tanah air, atau malah bekerja sesuai dengan bidang keahlian yang kami dapat dari masing-masing jurusan yang kami ambil semasa kuliah dulu?
Jawabannya pun pada akhirnya disepakati bahwa band ini hanya untuk having fun aja. Nggak akan pernah diseriusin. Apalagi sampai terlibat lebih dalam ke industrinya yang terkenal sangat kejam dan rumit itu. Padahal, gue yakin banget dulu ketika pernah jadi finalis sebuah ajang kompetisi band tingkat nasional yang saat itu bersaing dengan Monkey to Millionaire misalnya, dan ajang-ajang kompetisi lainnya, masa depan untuk menjadi seorang ‘anak band’ berpengaruh di negeri ini terbuka dengan sangat-sangat lebar.
Takdir bilang “nggak begitu jalan lo pada”. Arko pun pernah bilang, kalo kuliah kami itu sangat susah dan sayang banget kalo dilepas gitu aja lalu nggak memberikan manfaat buat orang banyak dari sisi lain. Menjadi musisi banyak yang bisa lakukan bahkan lebih baik dari kami, tapi keahlian dibidang-bidang yang kami ambil saat kuliah itu nggak semua orang bisa lakukan. Untuk itulah kami mundur teratur dan bersama-sama mengubur impian besar kami untuk menjadi anak band, menjadi artis terkenal. Setidaknya gue bersyukur masih bisa ngeband sampai sekarang dan pernah mengenal orang-orang di masa lalu yang kelak di masa sekarang jadi musisi-musisi hebat, artis atau istilah masa kininya mungkin influencer.
Mungkin saja gue masih bisa berteman dekat dengan mereka kalo level tongkrongan gue dinaikkan sedikit. Sementara gue memilih untuk tidak terlalu dekat dengan tongkrongan kelas SCBD atau Senoparty (mungkin bisa di googling istilah apa ini), karena nggak sesuai dengan jalan kehidupan yang gue pilih sejak jaman dulu. Tapi nggak semua anak-anak band itu nongkrongnya disana sih, banyak juga yang santai di pergaulan grass root. Mungkin kalo sepupu gue Emir, masih bisa ngikutin kehidupan kayak gini, mengingat beberapa circle anak-anak band khususnya dari ibukota dulu awalnya adalah circle pertemanan kelas atas Emir.
Sebenarnya salah satu motivasi gue untuk menjadi seorang anak band dulu ketika jaman-jaman sekolah menengah adalah karena nggak mau kalah dengan Emir yang sudah lebih dulu punya band. Walaupun terbilang telat ngebandnya—waktu SMA gue baru mulai ngeband, tapi setidaknya gue bisa membuktikan ke keluarga besar gue, kalo gue bisa ngeband jauh lebih baik daripada Emir. Terbukti, sampai detik ini pun gue masih punya band, sementara Emir sejak kelas dua SMA bandnya sudah bubar dan nggak pernah ngeband lagi. Panggilan dari timnas sepakbola U-17 pun semakin membuatnya meninggalkan dunia band-bandan ini.
Nah, meski dia sudah meninggalkan urusan band ini, tapi dia tetap berjasa untuk mengenalkan banyak teman-temannya yang akhirnya juga menjadi circle gue. Salah satu personil RAN adalah salah satu teman dekat Emir dari SMA, begitu juga dengan salah satu personil Maliq n D’Essential serta Raisa yang merupakan adik kelas Emir ketika kuliah. Musisi besar semua itu. Masih banyak lagi teman Emir dari kalangan selebritas non musisi.
Dengan lingkar pertemanan seperti ini, sebenarnya sangat memudahkan gue untuk menawarkan materi-materi lagu yang band gue buat. Tetapi ya itu tadi, gue nggak bisa terus menerus berada di circle pertemanan jetset kayak gini walaupun gue cukup sering bertemu mereka diluar pekerjaan mereka sebagai artis, apalagi beberapa orang terkenal ini orangtuanya pun adalah rekan bisnis Papa dan Om Reza. Kadang gue berpikir kalau menjadi artis, baik itu musisi atau aktor atau apapun yang berkaitan dengan seni, kudu dari kalangan orang kaya dulu ya? Jawaban yang gue dapat adalah, nggak selalu. Tapi yang berjuang dari bawah alias dari nol banget untuk jaman sekarang itu paling hanya 2-5% aja yang bisa sukses di dunia hiburan tanah air. Sisanya? Ya privilege lah.
Dulu jaman sekolah gue mikir kenapa anak SMA 70, SMA 6, SMA 82, Labschool, Don Bosco dan sebagainya di ibukota (sekolah-sekolah ini suka muncul di kolom artikel majalah HAI! biasanya tuh, yang siswa siswinya suka di wawancarain, pokoknya Anak Gaul Jakarta banget dah) banyak banget ngehasilin artis ya? Terjawab setelah banyak pengalaman yang gue lewati, kembali lagi ke privilege anak-anak orang tajir, turunan bule (biasanya tajir otomatis kalo separo bule nih, kecuali Keket kayaknya haha), punya koneksi sana sini, serta memang talent scout-nya nyarinya ke sekolah-sekolah seperti itu, bukan sekolah medioker macam sekolah gue dulu yang ‘cuma ngumpulin anak-anak pintar’ se-kota gue aja.
Jika dilihat dari fisik (buat jadi aktor atau aktris), karena mereka anak orang kaya, ya biasanya cakep dan terawat dooongs. Ye kan? Hehehe. Kalo anak band, ya koneksi ke label dan TV lah yang paling gampang contoh privilege-nya karena mungkin salah satu personilnya ada yang anak orang kaya dan orang tuanya punya pengaruh, minimal kenceng duitnya.
Pertemanan ini pula kadang yang membuat gue susah sendiri. Apa sebabnya? Ya karena Ara yang saat itu adalah manajer band gue ‘menjual’ gue untuk bisa mendapatkan banyak koneksi serta kenalan baru untuk bisa memoles band gue dan memberikan banyak sekali panggungan dimana-mana. Nggak semuanya berhasil, band gue juga cukup sering mendapatkan penolakan, baik lagu-lagu yang kami buat, maupun panggungan-panggungan lainnya.
Meski kesannya kehidupannya mewah, ber-privilege, dan asyik-asyikan terus, tapi dari mereka pula pengalaman menjadi seorang yang profesional, menghargai waktu dan kepentingan orang lain, fokus dalam pekerjaan, dan sangat idealis gue dapatkan. Nggak semua privilege itu pasti berefek negatif. Banyak kok yang berhasil memanfaatkan privilege yang ada menjadi sesuatu yang positif dan besar. Contohnya ya musisi-musisi sukses tanah air. Itu pula yang gue coba bawa untuk membesarkan band ini di komunitas, membesarkan organisasi di kampus, dan membawa gue berada pada posisi sekarang di kantor. Selain tentunya didikan di dalam keluarga gue yang paling utama. Pengalaman bertemu dan berteman dengan mereka-mereka ini lah yang bisa membawa gue ke sisi lain sebuah kehidupan sosial.
Memang kadang gue rindu untuk kumpul-kumpul lagi dengan mereka-mereka itu. Apalagi musisi-musisi atau artis itu pada dasarnya punya pemikiran yang lain daripada yang lain, dan kebanyakan open minded. Walaupun banyak juga yang open minded-nya kebablasan, setidaknya mereka asyik diajak berteman. Tapi, sepertinya seiring waktu berjalan, kumpul-kumpul adalah hal yang nggak populer bagi kami. Banyak pula dari circle pertemanan anak-anak band ini yang sudah berkeluarga, jadi semakin susah waktu untuk kumpul-kumpul bareng seperti dulu.
Sungguh sebuah perjalanan kehidupan yang seru ketika mengingat masa lalu.
Di HP gue kurang lebih ada sekitar 600 buah lagu, belum lagi ditambah dengan adanya Spotify untuk update lagu-lagu terkini yang selalu gue beli premiumnya demi mendukung dan menghargai karya para musisi, karena gue tau banget sulitnya membuat sebuah musik, apalagi musik-musik yang hits. Banyak tekanan sana sini. Dari mulai produser, music director dan lainnya yang kadangkala menyumbat ide-ide brilian tapi idealis sang musisi.
Entah kenapa, lagu-lagu yang terputar di playlist gue tersebut mendadak mengingatkan gue kembali ke jaman SMA dan kuliah. Apalagi beberapa musik yang gue dengar adalah hasil karya teman-teman tongkrongan dulu. Ya, gue memang bukan anak tongkrongan. Tongkrongan di sini maksudnya, teman-teman yang pernah bermain dan berbincang pasca manggung bersama di komunitas. Dan gue bersyukur melihat keberhasilan mereka saat ini dengan nama besar mereka. Sebut saja misal Thirteen, Killing Me Inside, Juliette, NOXA, D’Cinnamons sampai sekelas Barasuara dan masih banyak band lainnya.
Minimal dari salah satu personil atau kru band-band tadi, dan banyak band lainnya yang punya nama baik di jalur indie maupun major label yang pernah berada di lingkaran pertemanan gue. Beberapa dari mereka saat ini ada yang masih aktif ngeband dengan band lama atau bergabung dengan band baru, ada yang jadi Youtuber dengan subsciber yang sangat banyak juga channelnya, dan ada pula yang memutuskan menjadi seorang PNS. Ada yang masih berteman sampai detik ini, ada yang sudah hilang kontak sama sekali. Mungkin kalau gue berkecimpung terus di dunia musik, lingkaran pertemanan gue akan lebih banyak lagi.
Sebelum berjayanya internet di negeri ini, TV adalah salah satu pemulus jalan para musisi untuk unjuk gigi dengan karya-karya orisinil mereka. Tetapi disini juga banyak sekali tantangan dan kalau nggak mau dibilang hambatan, yaitu persyaratan dari pihak TV nya itu sendiri. Seperti contohnya membuat lirik yang mudah di mengerti, ringan, tidak banyak. Lalu ada pula durasi lagu yang nggak boleh lebih dari 4 menit. Kemudian ada juga lirik yang sebaiknya 95% berbahasa Indonesia dan bahkan nama bandnya pun kalau bisa yang mudah diingat dan Indonesia banget.
Jangan heran jika band-band besar di tanah air kalau di perhatikan banyak yang bernama lokal. Semakin kesini pun lirik lagu dan mungkin bagi beberapa orang, kualitas musik yang dibuat oleh band-band yang muncul setelah era keemasan DEWA 19, PADI, Sheila On 7 dan Slank berlalu mengalami degradasi. Tapi menurut gue, bukan degradasi kualitas musiknya, melainkan memang pasarnya menuntut seperti itu. Makanya band-band yang berjaya seiring dengan tingginya rating acara musik pagi-pagi di jam sekolah pun seperti mewakili keresahan penikmat musik yang mungkin melabeli telinga mereka dengan ‘penikmat musik berkelas’ sebagai kemunduran industri musik tanah air.
Dengan kemunculan band-band ‘super easy listening’ ini, sebenarnya memicu arus kemajuan musik indie. Label-label musik lokal seperti banyak yang berlomba untuk meningkatkan kualitas produksi mereka dengan menawarkan kualitas rekaman kelas satu dengan kualitas band yang menghasilkan musik lebih baik serta idealis menurut penikmat musik ‘beneran’.
Anak-anak band pun sebenarnya terjebak dalam sebuah dilema. Lo ngeband buat cari duit apa buat menyalurkan hasrat idealis lo? Kalo lo mau cari duit, masuk industri major, turutin kata label, turutin kemauan TV, duit lo banyak deh dijamin karena sisi komersial adalah yang utama, namanya juga industri. Sebaliknya, kalo mau dijalur independen, bisa tetap cari uang, tapi ya nggak akan ‘sekaya’ band-band major yang musiknya terdengar mudah untuk dikombinasyikan dan diperkuat oleh lirik lirik ‘cringe’ yang lebih disukai banyak telinga penikmat musik tanah air.
Itulah sebabnya, menurut gue, banyak musisi yang akhirnya konsisten di jalur indie demi mempertahankan idealisme mereka. Banyak musisi yang bermusik untuk menghasilkan sebuah seni, alih-alih menghasilkan uang miliaran semata. Tapi kembali lagi, setiap orang punya selera dan cara menikmati karya seni masing-masing. Menurut gue lagi, nggak ada takaran musik bagus atau nggak karena selera orang beda-beda. Lo nggak bisa bilang Kangen Band jelek karena musik mereka sederhana, karena diluar sana banyak orang yang kemampuan memahami musiknya pun sesederhana musik Kangen band yang sebenarnya jika dikulik lebih dalam punya tingkat kesulitannya sendiri. Lo juga nggak bisa bandingkan Kangen Band dengan Burgerkill atau DEWA 19, kelasnya berbeda dan nggak apple to apple.
Ingat, indie bukanlah genre musik! Kalau ada orang yang ngomong 'wah ini sih alirannya indie', mending saranin aja banyak-banyak ngopi di Ujung Berung Bandung dulu sambil ngobrol-ngobrol sama orang-orang disana. Haha.
Siapa sangka mereka yang dulu seru-seruan berteman sesama musisi kecil yang kalo manggung dibayar sama nasi kotak dan air minum dalam kemasan, manggung dari gigs ke gigs biar lebih dekat dengan penonton serta lebih banyak kenal musisi-musisi baru lainnya, atau festival ke festival, sekarang sudah menjadi sangat besar namanya, baik secara band, maupun secara individu. Benar-benar sangat tak terduga. Gue dan teman-teman lama ini memang besar dan berangkat dari gigs, pensi sekolah atau universitas, sampai ke festival-festival besar di dalam maupun luar negeri.
Sempat ada kegalauan hati gue, Arko, Ito dan Drian ketika kami akan lulus kuliah dulu. Apakah meneruskan menjadi musisi dan membesarkan nama band kami mengingat circle antar anak band, koneksi ke label hasil menjuarai beberapa ajang kompetisi serta cukup sering jadi guest star di acara komunitas, kenalan-kenalan dengan musisi besar macam Seringai sampai God Bless saat itu sangat memungkinkan untuk memuluskan jalan kami menjadi musisi besar di tanah air, atau malah bekerja sesuai dengan bidang keahlian yang kami dapat dari masing-masing jurusan yang kami ambil semasa kuliah dulu?
Jawabannya pun pada akhirnya disepakati bahwa band ini hanya untuk having fun aja. Nggak akan pernah diseriusin. Apalagi sampai terlibat lebih dalam ke industrinya yang terkenal sangat kejam dan rumit itu. Padahal, gue yakin banget dulu ketika pernah jadi finalis sebuah ajang kompetisi band tingkat nasional yang saat itu bersaing dengan Monkey to Millionaire misalnya, dan ajang-ajang kompetisi lainnya, masa depan untuk menjadi seorang ‘anak band’ berpengaruh di negeri ini terbuka dengan sangat-sangat lebar.
Takdir bilang “nggak begitu jalan lo pada”. Arko pun pernah bilang, kalo kuliah kami itu sangat susah dan sayang banget kalo dilepas gitu aja lalu nggak memberikan manfaat buat orang banyak dari sisi lain. Menjadi musisi banyak yang bisa lakukan bahkan lebih baik dari kami, tapi keahlian dibidang-bidang yang kami ambil saat kuliah itu nggak semua orang bisa lakukan. Untuk itulah kami mundur teratur dan bersama-sama mengubur impian besar kami untuk menjadi anak band, menjadi artis terkenal. Setidaknya gue bersyukur masih bisa ngeband sampai sekarang dan pernah mengenal orang-orang di masa lalu yang kelak di masa sekarang jadi musisi-musisi hebat, artis atau istilah masa kininya mungkin influencer.
Mungkin saja gue masih bisa berteman dekat dengan mereka kalo level tongkrongan gue dinaikkan sedikit. Sementara gue memilih untuk tidak terlalu dekat dengan tongkrongan kelas SCBD atau Senoparty (mungkin bisa di googling istilah apa ini), karena nggak sesuai dengan jalan kehidupan yang gue pilih sejak jaman dulu. Tapi nggak semua anak-anak band itu nongkrongnya disana sih, banyak juga yang santai di pergaulan grass root. Mungkin kalo sepupu gue Emir, masih bisa ngikutin kehidupan kayak gini, mengingat beberapa circle anak-anak band khususnya dari ibukota dulu awalnya adalah circle pertemanan kelas atas Emir.
Sebenarnya salah satu motivasi gue untuk menjadi seorang anak band dulu ketika jaman-jaman sekolah menengah adalah karena nggak mau kalah dengan Emir yang sudah lebih dulu punya band. Walaupun terbilang telat ngebandnya—waktu SMA gue baru mulai ngeband, tapi setidaknya gue bisa membuktikan ke keluarga besar gue, kalo gue bisa ngeband jauh lebih baik daripada Emir. Terbukti, sampai detik ini pun gue masih punya band, sementara Emir sejak kelas dua SMA bandnya sudah bubar dan nggak pernah ngeband lagi. Panggilan dari timnas sepakbola U-17 pun semakin membuatnya meninggalkan dunia band-bandan ini.
Nah, meski dia sudah meninggalkan urusan band ini, tapi dia tetap berjasa untuk mengenalkan banyak teman-temannya yang akhirnya juga menjadi circle gue. Salah satu personil RAN adalah salah satu teman dekat Emir dari SMA, begitu juga dengan salah satu personil Maliq n D’Essential serta Raisa yang merupakan adik kelas Emir ketika kuliah. Musisi besar semua itu. Masih banyak lagi teman Emir dari kalangan selebritas non musisi.
Dengan lingkar pertemanan seperti ini, sebenarnya sangat memudahkan gue untuk menawarkan materi-materi lagu yang band gue buat. Tetapi ya itu tadi, gue nggak bisa terus menerus berada di circle pertemanan jetset kayak gini walaupun gue cukup sering bertemu mereka diluar pekerjaan mereka sebagai artis, apalagi beberapa orang terkenal ini orangtuanya pun adalah rekan bisnis Papa dan Om Reza. Kadang gue berpikir kalau menjadi artis, baik itu musisi atau aktor atau apapun yang berkaitan dengan seni, kudu dari kalangan orang kaya dulu ya? Jawaban yang gue dapat adalah, nggak selalu. Tapi yang berjuang dari bawah alias dari nol banget untuk jaman sekarang itu paling hanya 2-5% aja yang bisa sukses di dunia hiburan tanah air. Sisanya? Ya privilege lah.
Dulu jaman sekolah gue mikir kenapa anak SMA 70, SMA 6, SMA 82, Labschool, Don Bosco dan sebagainya di ibukota (sekolah-sekolah ini suka muncul di kolom artikel majalah HAI! biasanya tuh, yang siswa siswinya suka di wawancarain, pokoknya Anak Gaul Jakarta banget dah) banyak banget ngehasilin artis ya? Terjawab setelah banyak pengalaman yang gue lewati, kembali lagi ke privilege anak-anak orang tajir, turunan bule (biasanya tajir otomatis kalo separo bule nih, kecuali Keket kayaknya haha), punya koneksi sana sini, serta memang talent scout-nya nyarinya ke sekolah-sekolah seperti itu, bukan sekolah medioker macam sekolah gue dulu yang ‘cuma ngumpulin anak-anak pintar’ se-kota gue aja.
Jika dilihat dari fisik (buat jadi aktor atau aktris), karena mereka anak orang kaya, ya biasanya cakep dan terawat dooongs. Ye kan? Hehehe. Kalo anak band, ya koneksi ke label dan TV lah yang paling gampang contoh privilege-nya karena mungkin salah satu personilnya ada yang anak orang kaya dan orang tuanya punya pengaruh, minimal kenceng duitnya.
Pertemanan ini pula kadang yang membuat gue susah sendiri. Apa sebabnya? Ya karena Ara yang saat itu adalah manajer band gue ‘menjual’ gue untuk bisa mendapatkan banyak koneksi serta kenalan baru untuk bisa memoles band gue dan memberikan banyak sekali panggungan dimana-mana. Nggak semuanya berhasil, band gue juga cukup sering mendapatkan penolakan, baik lagu-lagu yang kami buat, maupun panggungan-panggungan lainnya.
Meski kesannya kehidupannya mewah, ber-privilege, dan asyik-asyikan terus, tapi dari mereka pula pengalaman menjadi seorang yang profesional, menghargai waktu dan kepentingan orang lain, fokus dalam pekerjaan, dan sangat idealis gue dapatkan. Nggak semua privilege itu pasti berefek negatif. Banyak kok yang berhasil memanfaatkan privilege yang ada menjadi sesuatu yang positif dan besar. Contohnya ya musisi-musisi sukses tanah air. Itu pula yang gue coba bawa untuk membesarkan band ini di komunitas, membesarkan organisasi di kampus, dan membawa gue berada pada posisi sekarang di kantor. Selain tentunya didikan di dalam keluarga gue yang paling utama. Pengalaman bertemu dan berteman dengan mereka-mereka ini lah yang bisa membawa gue ke sisi lain sebuah kehidupan sosial.
Memang kadang gue rindu untuk kumpul-kumpul lagi dengan mereka-mereka itu. Apalagi musisi-musisi atau artis itu pada dasarnya punya pemikiran yang lain daripada yang lain, dan kebanyakan open minded. Walaupun banyak juga yang open minded-nya kebablasan, setidaknya mereka asyik diajak berteman. Tapi, sepertinya seiring waktu berjalan, kumpul-kumpul adalah hal yang nggak populer bagi kami. Banyak pula dari circle pertemanan anak-anak band ini yang sudah berkeluarga, jadi semakin susah waktu untuk kumpul-kumpul bareng seperti dulu.
Sungguh sebuah perjalanan kehidupan yang seru ketika mengingat masa lalu.
Diubah oleh yanagi92055 17-11-2020 00:22
itkgid dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Tutup
dan bintang 5 
