Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
teguhjepang9932Avatar border
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
189.3K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#160
Pengenalan
“Kalo petty cash itu biasanya gimana alurnya, Mas?” Tanya Ana ketika gue sedang coba ngecek chat gue dengan Emi yang mendadak ngilang hari itu, nggak ada kabar. Saking fokusnya berusaha menghubungi Emi, gue mengabaikan pertanyaan Ana itu.

Gue heran. Situasi ini mirip dengan pengalaman sebelumnya. Setiap kali Emi sedang nggak ada di sisi gue, pasti ada saja celah untuk mereka berusaha masuk. Ketika Emi sedang tidak ada kabar dan tidak menjawab chat gue seperti sekarang ini, chat dari Arasti, Hana, dan Edna pun memenuhi notifikasi HP gue.

Mereka mengajak gue chat untuk sekedar melanjutkan curhatan mereka atau ya sekedar ingin dikasih kabar sama gue, kayak si Arasti ini. Jadi, bukannya gue sibuk menghubungi calon istri gue, gue malah (masih aja) sibuk meladeni cewek-cewek ini. Iya gue tau kok, gue salah banget masih juga meladeni mereka. Toh mereka juga nggak maksa untuk harus ditanggapi oleh gue. Tapi insting gue yang nggak mau dibilang sombong pun pada akhirnya tetap menanggapi satu per satu chat mereka.

Contohnya ya gue ke Arasti kemarin, gue nggak mengakui adanya hubungan gue dengan Emi.

Iya, gue jahat banget ke Emi.

Gue sangat amat serius ketika gue mengatakan kalo gue nggak mau kehilangan Emi. Gue nggak pernah bohong dan jangan pernah meragukan perkataan gue itu. Tapi di sisi lain gue nggak bisa pungkiri kalo di saat gue jenuh dan hectic begini, ngobrol sama mereka yang ternyata merupakan lawan bicara asyik pun sedikit gue butuhkan. Gue tau ini terdengar tidak baik, tapi biarkan gue sampaikan secara kasarnya begini “Gue nggak berniat selingkuh lagi dari Emi, nggak berusaha mendapatkan mereka juga. Hanya untuk menunjukkan kemampuan gue seperti dulu aja. TETAPI, kalo ternyata mereka berujung suka sama gue, itu De-Em (Derita Mereka). Bukan salah gue…”

Harusnya sekedar menanggapi chat mereka, nggak akan menyakiti Emi bukan? Mereka cuma mau curhat, nyampein perasaan kagum pas jaman kuliah, plus ya mungkin gue akan banyak chat sama Ana untuk urusan pekerjaan. Harusnya Emi nggak marah dong? Salah nggak sih gue berpikir begitu?

“Mas? Halo, Mas? Ada kabar buruk ya?”

Harum. Wangi parfum Ana punya aroma yang berbeda dengan wangi parfum Emi. Sebentar… Gue menggeser badan gue. Muka dan badan Ana sudah ada tepat di sisi kiri gue. Kami bahkan terlalu dekat hingga gue bisa merasakan empuknya lengan Ana yang tanpa sengaja menyentuh tangan gue yang sedang istirahat di kursi. Dari jarak dekat, ternyata Ana memiliki bentuk bemper depan yang padat merayap.

Sekedar pendapat soal masalah harum ini. Menurut gue, aroma itu bisa mempengaruhi kehidupan dan interaksi sosial seseorang. Manakala ada beberapa orang yang beraroma kurang baik, mau dia itu orang hebat dengan pemikiran brilian sekalipun, orang lain akan kurang berminat untuk lanjut berbincang atau berinteraksi dengannya. Sebaliknya, jika minimal kita berdandan sederhana aja, beraroma lebih wangi, memakai pakaian yang enak dipandang karena cocok dipakai di tubuh kita, walaupun kita memiliki banyak kekurangan dari segi intelejensi sekalipun, orang lain akan lebih berminat untuk interaksi dengan kita.

Bagaimana dengan orang-orang yang budgetnya terbatas? Soal penampilan dan wangi ini berangkat dari niat dulu. Pakaian harga minimalis serta cologne murah meriah belasan ribu di minimarket, akan jadi senjata pemanis utama penampilan seseorang jika padu padannya tepat serta cocok kadar pemakaian cologne atau wewangian lainnya itu di tubuh kita.

“Eh iya… Kenapa, Na?” Ujar gue sambil mengumpulkan konsentrasi gue kembali. Malu juga gue mendadak bengong di depan cewek begini. Wangi parfum Ana ini mengingatkan gue dengan wangi Parfum milik Keket, hanya saja berbeda edisi, tapi gue yakin pasti merknya sama. Biasanya memang karakter parfum dari merk-merk tertentu seperti punya signature sendiri.

“Lah? Kok balik nanya, Mas? Mas Ija yang kenapa? Kok mendadak bengong abis ngeliat HP begitu. Ada masalah, Mas?”

Gue melihat tangan kanan gue yang masih menggenggam HP gue. “Ah nggak apa-apa kok. Tadi cuman lagi mikir yang lain. Nggak ada urusannya sama HP gue.” Gue membenarkan posisi duduk gue. Ana pun duduk kembali ke bangku dia sebelumnya, tepat dihadapan gue.

Ana mengulang kembali pertanyaan dia sebelumnya mengenai petty cash. Ketika gue akan mencoba menjawab pertanyaan dia, mendadak notifikasi HP gue bunyi tak kunjung berhenti. Gue paling benci menjeda omongan orang hanya untuk memeriksa HP, tapi gue pengen tau siapa yang berusaha menghubungi gue. Gue yakin ini bukan Emi, karena gue sengaja membuat notifikasi khusus kalo itu adalah chat atau telepon dari Emi. Ternyata itu Arasti, dia khawatir gue nggak ada kabar dari siang tadi.

“Dibales dulu aja, Mas. Saya punya waktu sampe sore kok buat nunggu… Nanti hari Senin juga bisa dilanjut.” Gue tau ini bukan sindiran, tetapi gue memang nggak suka kehidupan pribadi gue mengganggu profesionalisme gue. Apalagi kehidupan pribadi yang bukan menjadi prioritas begini.

((ARASTI CHAT))
Quote:


Dan tepat setelah gue chat terakhir begitu, gue sadar. Ini kesalahan gue yang lain. T*i!

“Pacarnya ngambek gara-gara telat bales chat ya, Mas?” Ana kembali membuyarkan lamunan gue.

“Pacar? Hahaha. Nggak kok. Ini bukan pacar.” Gue silentHP gue dan gue simpan di sisi kiri gue.

“Oh maaf, Mas. Aku pikir itu pacarnya, Mas.” Dia kelihatan canggung dengan pernyataan dia sendiri.

Gue bingung kenapa dia bisa canggung begitu. Kemudian gue sadar kenapa dia jadi canggung begitu, dia mikir kalo dia nggak sengaja menyinggung gue kalo gue udah punya pacar padahal gue jomblo. Ketika gue mau klarifikasi status gue. “Lanjutin lagi, Mas. Tentang petty cash…”

“Oh iya sampe di situ ya tadi…”

“Belum dimulai bahkan… Hehehe.”

“Eh iya, maaf. Jadi begini…” Gue malah fokus menjelaskan petty cash dan semua pertanyaan Ana lainnya sampai akhirnya gue nggak menjelaskan sama sekali mengenai status gue tersebut.

---

Sepertinya gue malah jadi lama ngobrol sama Ana. Mungkin hampir dua jam. Gue sampai menurunkan beberapa file pekerjaan gue untuk memberi contoh kepada Ana apa saja yang harus dia hadapi kedepannya. Gue tidak hanya menjelaskan mengenai jobdesk dia. Tapi gue mau Ana juga paham mengenai apa saja yang dikerjakan oleh kantor kami, terutama divisi kami. Jadi dia nggak bingung kalo suatu saat harus membantu tim yang lain. Gue membiasakan tim gue untuk seperti ini.

Ngobrol dengan Ana asyik juga. Nggak cuma urusan kantor, tetapi kami juga membahas mengenai hal lain. Seperti bagaimana lingkungan kantor, siapa saja atasan di kantor dan masing-masing tanggungjawabnya, bagaimana karakter dari masing-masing tim kami, serta hal lain yang mungkin lebih membahas ranah pribadi. Seperti dia itu hobi apa, suka baca buku apa, suka nonton film apa, dan sebagainya. Bukan, bukan gue yang ingin mengenal dia. Tetapi semuanya mengalir begitu saja. Anak ini emang senang sekali ngobrol.

Gue lihat jam di dinding ruangan gue. Waktu sudah menunjukkan hampir jam 5 sore. Ini sudah lewat jauh dari janji gue ke Emi. Gue lihat notifikasi HP gue, masih belum ada kabar dari Emi. Sudah tidak perlu ditanya, Emi pasti sudah murka sama gue. Gue sudah berjanji sama dia akan pulang cepat hari ini tapi malah berujung gue menghabiskan satu hari full di kantor. Bahkan sampai sudah waktunya pulang kantor.

Gue menutup laptop gue dan membereskan meja kerja gue. “Ngerti ya kurang lebih, Na?”

“Alhamdulillah ngerti kok, Mas. Aku udah lumayan ada bayangan sih.” Dia juga menutup buku catatan yang ia bawa untuk mencatat seluruh penjelasan gue hari itu. “Hmm. Mas Ija… Tapi nanti kalo aku mau ada yang ditanyain lagi, aku ke Mas Ija aja ya?” Gue melihat ke arah dia. Dia menggigit bibir bawah dia.

Gue yang posisinya sedang berdiri dan dia duduk di hadapan gue sambil menggigir bibir bawahnya tersebut membuat gue canggung dan ngilu. Situasi kayak begini nggak boleh sering-sering, nggak baik. Bikin salting. Haha.

Gue paham, dia takut gue menolak untuk ditanya-tanya lagi sama dia. Dia begitu bukan karena dia mendadak sang* minta jatah sama gue kok. Haha. Gue nggak sebrengs*k itu mikirnya. Kecuali kalo dia Emi, gue udah hajar bibirnya nggak karuan. “Kenapa lo? Takut gue keberatan ya? Haha. Kan gue bilang santai aja. Feel free kalo ada yang mau lo tanyain ke gue. Tapi kalo gue lagi nggak ada atau lagi nggak bisa, lo silakan coba tanya-tanya ke Mas Yogi atau Pak Yudi juga.”

“Oke kalo tanya kerjaan ke Pak Yogi, tapi kalo ke Om Yudi aku agak canggung, Mas.”

“Na, lo nggak bisa begitu. Oke di keluarga, Pak Yudi itu emang om lo. Tapi di kantor ini, lo salah satu karyawan dia. Lo nggak bisa melihat dia sebagai sosok om lo terus. Nanti lo nggak akan bisa bersikap profesional terus sama dia.”

“Maaf, Mas. Masih belum terbiasa aja aku. Tolong ingetin aku terus ya, Mas. Pas wawancara juga, Pak Yogi udah ingetin aku kalo aku jangan sampe bersikap nggak profesional terus berujung bikin kecemburuan di kantor. Maklum kantor kan nggak begitu besar, omongan apapun gampang banget sampai di kuping.”

“Nah lo ngerti tuh. Lo udah gede dan harusnya lo udah siap menghadapi bagaimana ‘dunia nyata’ itu sebenarnya. Gue punya kok kenalan yang seumuran lo dan bisa jauh lebih dewasa dari gue. Bahkan gue banyak banget belajar dan diajarin sama dia. Gue yakin, seharusnya kalo dia bisa, orang-orang seumuran dia juga pasti biasa. Walaupun caranya berbeda dan prosesnya nggak gampang.” Tau kan siapa yang gue maksud?

“Keren banget dia. Aku aja udah mikir kalo Mas Ija itu keren banget. Eh maksud aku bukan keren ke arah ganteng gitu ya, Mas. Tapi keren aja. Masih muda udah bisa mimpin divisi dan sertifikasinya udah tinggi, ada di bawah Om Yudi. Eh maksud aku, Pak Yudi. Tapi Mas Ija masih belajar dari yang lain? Keren banget sih Mas Ija, udah hebat masih mau belajar aja.”

Sebentar! Kenapa dia malah mikir gue yang hebat? Kenapa dari penjelasan gue, dia bukannya mikir keren si Emi? Dia ini bener-bener tipikal cewek milenial akhir menjelang Gen Z yang membuat kesimpulan dari apa yang dia lihat, dengar, dan yakini saja. Tanpa berpikir lebih dalam dengan memahami pernyataan yang disampaikan. Well, Emi adalah sebuah pengecualian ya.

Karena gue males bertele-tele dan menunda kepulangan gue ke rumah Emi, gue nggak mengoreksi apresiasi dia dan menutup percakapan kami. “Eh iya ini gue sambil beres-beres ya. Lo kalo mau balik ke ruangan lo atau liat-liat lingkungan di kantor sambil kenalan sama yang lain juga nggak apa-apa, Na.” Gue melanjutkan merapihkan meja kerja gue.

“Nggak apa-apa kok, Mas. Aku disini aja dulu. Mau aku bantuin nggak, Mas?” Tawar Ana. Dia kembali berdiri di samping gue.

“Santai sih, Na. Gue juga udah bisa beresin sendiri kok.”

Dia menyenderkan badannya di pinggir meja kerja gue. “Hari gini masih aja nikmatin kesendirian, Mas? Orang-orang di luar sana malah berteriak nggak mau sendiri terus loh, Mas. Kok Mas masih aja betah sendiri.” Nah bener kan apa kata gue? Dia mikir gue masih sendiri. “Katanya tadi Mas belum 30 tahun umurnya. Emang sekarang berapa umurnya, Mas?”

Mungkin gue yang kelewat santai menjadi seorang ketua tim di kantor sampai Ana yang baru kenal beberapa jam sama gue ini sudah bisa membawa candaan mengenai status hubungan dan menanyakan umur dimana ini adalah hal yang agak sensitive untuk ditanyakan bagi sebagian orang. Tapi karena gue nggak merasa risih dan tersinggung, ya gue biasa saja. Gue senang, berarti gue sukses bikin orang pada nyaman ngobrol dan berteman dengan gue.

“Gila, baru kenal beberapa jam doang udah berani nanya-nanya umur aja lo. Kenapa emangnya kalo gue belum 30 tahun? Haha.”

“Ya nggak apa-apa sih, Mas. Kayak yang tadi aku bilang, Mas hebat banget. Masih muda tapi udah bisa mimpin divisi di kantor.”

“Alhamdulillah kalo ada lo berpikir demikian. Gue juga bersyukur bisa dikasih kepercayaan demikian sama Mas Yogi dan Pak Yudi. Jadi gue coba untuk membayar kepercayaan mereka ke gue aja. Lagian ini kan divisi internal di kantor, bukan pure divisi teknik. Kalo gue udah bisa pegang divisi teknik begitu, bisa lebih oke lagi. Hehe.”

“Kalo divisi Teknik, berarti jadi Asisten Manager di bawah Pak Yogi ya, Mas?”

“Kurang lebih sih kayak gitu, Na. Tapi gue denger-denger Mas Yogi memang lagi mengambil pendidikan lagi buat sertifikasi utama biar nanti bisa setara sama Pak Yudi. Nanti nggak tau sih siapa yang gantiin posisi dia.”

“Kenapa nggak Mas Ija aja? Hehe.” Tanya dia sambil menyentuh pundak gue. Dia ini tipe cewek yang touchy banget. Tinggal nunggu aja, kapan dia bakalan merangkul atau menggenggam tangan gue kalo sudah akrab nanti.

“Ya tergantung, gue dikasih kepercayaan apa nggak. Dulu sih waktu awal-awal kerja kan gue pernah ikutan pendidikan sampai ujian sertifikasi. Tapi gue nggak lolos, masih belum rejeki. Hehe. Lagian waktu itu gue masih 22 tahun. Belum lama lulus kuliah, jadi otak masih fresh buat mikir-mikir belajar dan ujian gitu. Hehe. Plus belum banyak pengalaman kerja di lapangan kan. Mungkin kalau di lain waktu nanti ada kesempatan lagi dan gue udah lebih siap, gue bisa coba ikutan lagi…”

“Aku yakin Mas nggak lolos bukan karena nggak bisa. Tapi karena dikasih kesempatan sama Tuhan buat belajar lebih dalem dulu. Semangat ya, Mas! Mudah-mudahan ada kesempatan ngejar sertifikasi lagi terus jadi Manager Teknik deh.”

“Lah? Kok lo malah semangat ngedoain gue, Na? Lo seneng emang kalo nanti nggak sedivisi lagi sama gue?”

“Hmm. Ya jangan ditanya begitu dong, Mas. Kan mendadak jadi ragu ngedoainnya. Hehe. Tapi kan lebih keren aja gitu nanti Mas Ija-nya. Posisi itu salah satu yang paling penting bukan di kantor ini?”

“Iya, cuma berat banget kalo pegang posisi itu. Mas Yogi aja banting tulang banget buat ngecover semuanya. Dateng pagi, pulangnya paling malem. Kalo meeting-meeting keluar buat nyelesaiin konflik antara kantor kita dengan klien misalnya, pasti dia harus ikutan. Itu baru konflik yang bersumber dari satu orang. Nah dulu pernah itu 5 orang dari tim kita bermasalah pekerjaannya, akhirnya semua harus dibantuin sama dia penyelesaiannya. Belum lagi QC final produksi laporan-laporan yang ujungnya nanti gue yang urus, semuanya harus lewat dia dulu. Gimana nggak pusing kan? Haha. Apalagi dia dulu juga pegang urusan IT sama finance sebelum dibentuk divisinya masing-masing kayak sekarang.”

“Wah lieur juga ya berarti, Mas?”

“Bukan lieur juga, lieur banget itu malahan. Hahaha.”

“Nah karena kebetulan emang belum ada kesempatan buat sertifikasi, jadi masih rejeki aku deh buat dikomandoin Mas Ija di divisi kita ini. Hehehe. Aku suka soalnya satu tim sama Mas Ija. Soalnya kayaknya Mas Ija lebih fleksibel.”

“Tau dari mana lo, Na? Baru juga kenalan tadi. hahaha.”

“Dari gaya Mas yang santai banget kayak gini sih, aku yakin aja lebih bisa nyaman nanti timnya.”

“Gitu ya? Haha. Yah semoga aja ya…”

“Amiiin…” Penutup obrolan dia. Semoga aja ini benar-benar penutup obrolan. Soalnya sekarang sudah hampir jam setengah 6 sore. Gue sudah sangat telat. Mau sampe jam berapa di rumah Emi? Gue segera menggendong tas gue, pertanda gue sudah tidak menerima obrolan lagi dengan Ana ini. “Udah beres semua, Mas? Udah coba di cek lagi? Udah nggak ada yang ketinggalan?”

“Beres kok udah semuanya. Makasih ya udah ngingetin, Na.”

“Sama-sama Mas.” Tutupnya dengan senyuman dan kemudian pamit meninggalkan ruangan gue.
jiyanq
caporangtua259
itkgid
itkgid dan 19 lainnya memberi reputasi
20
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.