Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
teguhjepang9932Avatar border
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
189.3K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#152
Tak Terduga_Part 2
Menjelang siang, gue sudah sampai di kantor. Gue sempatkan tidur 2-3 jam tadi pagi. Untungnya gue tidak harus menjaga keponakan gue pagi itu, jadi gue masih punya jeda waktu untuk mengistirahatkan badan gue sejenak. Emi sempat chat dengan gue sebelum gue mulai meeting. Dia menanyakan ke gue perihal tesis gue.

Jujur, gue udah stuck banget mengerjakan tesis gue. Selain memang bahasannya yang agak kompleks terkait pemanfaatan sumber daya alam untuk konservasi dan bisnis secara terintegrasi yang butuh banyak sekali referensi ilmiah serta akademik karena menggabungkan dua hal yang sebenarnya sangat kontradiktif, gue juga sudah mendapatkan teguran lisan kalau tesis gue harus segera diselesaikan karena ada denda menanti di hadapan gue. Denda yang nominalnya tidak sedikit. Dan kalau gue harus bayar denda sebesar itu, kayaknya sangat buang-buang uang. Jadi, gue yang harus mempersiapkan pernikahan, merasa denda ini memang mempersulit gue. Siapa yang tidak merasa dipersulit dengan adanya denda model begini?

“Kenapa nggak ditunda aja sih pernikahannya?”

NO! Gue sendiri yang menolak untuk memilih opsi tersebut! Emi pribadi memang nggak memaksa gue untuk segera menikah dan pada akhirnya mengabaikan tesis gue. Tetapi Emi meminta gue sebaliknya, menunda pernikahan dan melanjutkan tesis. Gue yang menolak ide itu.

Bukan apa, entah kenapa gue merasa kalau ini hanya tipu daya Emi untuk membatalkan rencana pernikahan kami. Apalagi kalau ditunda lebih lama lagi, bisa-bisa Emi direbut orang. Kalau gue harus kehilangan Emi lagi, gue nggak kebayang bakalan nikah sama siapa. Jadi, paling benar ya gue mencoba menjalani keduanya semampu gue.

Gue pribadi ragu dengan kemampuan gue. Sorry. Mungkin Emi mampu, tapi gue nggak tau apa gue mampu melakukan itu.

Sepanjang pagi pun, chat dari Arasti dan Hana tak hentinya masuk ke handphone gue. Gue yang punya rasa “nggak enak kalau didiemin entar dianggap sombong” pun tak hentinya juga membalas chat mereka satu per satu.

Gue begitu bukan karena gue kepikiran ingin tebar pesona sama mereka tapi gue memang suka ngobrol sama orang lain. Apalagi kalau lawan bicara gue memang asyik untuk diajak ngobrol. Walaupun gue sedikit agak kurang nyaman dengan Arasti yang keliatan agresif dan dia kayaknya tipe cewek posesif.

Sedikit cerita tentang Arasti ini, dia nggak cuma ingin chat dengan gue, tapi dia juga sampai meminta berteman dengan semua akun media sosial gue. Gue harus agak hati-hati dengan dia. Gue takut nantinya dia yang sedang begitu excited-nya dengan pertemuan online kami malah membuat Emi salah sangka dan merusak semua rencana besar gue dengan Emi. Jadi gue meladeni semua keinginan dia dan meminta dia tidak terlalu mengekspose hubungan kami ini di luar sana.

Gue mau nikah woy!

--

Meeting di kantor kali ini membahas mengenai pengenalan lingkup pekerjaan yang baru untuk tim gue dan juga pengenalan staf baru. Gue dan tim gue harus menangani filing seluruh berkas laporan yang ada di kantor dan melakukan inventarisasi aset. Berkas laporan tidak hanya difiling, tapi dilengkapi ulang isinya, didigitalisasi untuk dimasukkan ke dalam server kantor gue, diberi penomoran manual di masing-masing berkasnya agar mempermudah pencarian ketika audit, dan terakhir diurutkan satu per satu di gudang arsip.

Selama ini, filing berkas tidak dilakukan dengan akurat dan serius. Untuk itulah tim gue dibentuk. Gue yang tadinya hanya memeriksa berkas yang akan diarsipkan, kini harus memeriksa setiap langkahnya dan memastikan tidak ada yang terlewat oleh tim gue.

Atasan gue berharap, nanti setelah ada di bawah kendali gue semuanya akan lebih baik. Untuk itu, beliau pun menambah tim gue satu orang Admin Finance untuk memeriksa berkas-berkas keuangan di masing-masing laporan, pengiriman laporan, serta merangkap sebagai pengendali alur petty cash kantor.

Mas Yogi memperkenalkan anggota tim baru untuk tim gue tersebut. Ternyata dia adalah seorang cewek muda yang kemungkinan umurnya sepantaran dengan Emi.

“Demikian ya kawan-kawan untuk jobdesk barunya kurang lebih seperti itu. Dan tim ini juga akan diperkuat oleh personil baru untuk tim lo, Ja. Perkenalkan ini Riana Elvira.” Kata Mas Yogi sembari mempersilakan Riana untuk memperkenalkan diri.

Cewek yang bernama Riana itu berdiri. “Perkenalkan, nama saya Riana. Biasa dipanggil Ana. Senang bergabung dengan teman-teman semua di sini. Mohon bantuan dan bimbingannya.” Riana memperkenalkan dirinya sendiri. Sepertinya anak ini ramah. Senyumnya manis dan kulitnya putih ala-ala wanita Sunda pada umumnya.

“Ana, ini Firzy yang akan memimpin tim ini kedepannya ya.” Mas Yogi menghampiri gue dan memperkenalkan gue pada Ana. Gue mengulurkan tangan gue untuk berjabat tangan dengan dia. Tangannya halus dan dingin, pertanda dia agak tegang diperkenalkan didepan banyak orang. Dan ketahuan juga nih kalau dia jarang sekali melakukan pekerjaan rumah sendiri. “Semoga kamu bisa bantuin kerjaan dia. Biar jadi tim yang solid juga ya. Nanti tim ini anggotanya jadi ada 8. Sesuai penjelasan saya tadi, nanti pekerjaan kamu lebih ke administrasi. Seperti pengurusan pengiriman laporan dan petty cash. Oke?”

“Halo! Saya Firzy. Panggil aja Ija ya. Biar lebih akrab aja. Hehe. Nice to meet you! Semoga kita jadi tim solid ya! Mohon kerjasamanya!” Sapa gue sambil menjulurkan tangan dan juga berusaha tersenyum ramah.

“Halo juga, Pak. Mohon arahannya ya biar saya cepat beradaptasi.” Katanya membalas jabat tangan gue dan mengulas senyum. Bahasanya kaku bener kayak kanebo kering kelamaan nggak dipake.

“Pak? Emang muka gue udah kayak bapak-bapak? Haha. Gue masih muda kali. Panggil nama aja ke gue mah. Nggak usah manggil ‘Pak’. Ya nggak, Mas Yogi?” Gue mengirimkan kode ke Mas Yogi untuk memperbolehkan tim gue memanggil gue dengan nama. Mas Yogi hanya membalas dengan senyum.

“Bebas Ja, suka-suka lo aja. Haha. Asal jangan diapa-apain juga anak orang. Hati-hati sama dia ya, Na! Haha.” Mas Yogi tergelak. Perutnya yang buncit ikut bergetar.

Suasana hangat menyambut kedatangan Ana diantara personil kantor gue. Maklum, di kantor gue memang minim banget karyawan cewek. Sekalipun ada, minimal banget umurnya ya 3 tahun di atas gue. Sebelumnya, posisi Ana diisi oleh cewek juga. Tetapi karena satu dan lain hal, dia memilih resign. Katanya sih karena dia mau fokus jadi Ibu Rumah Tangga, tapi gue ragu kalau hanya itu alasannya. Hanya saja karena gue adalah orang yang cuek kalau di kantor, jadi gue agak nggak peduli sama urusan non profesional kayak gitu.

Jadinya, keberadaan Ana memang memberi suasana fresh di kantor gue yang sangat gersang ini. Haha. Dan alangkah beruntungnya gue karena Ana jadi bagian dari tim gue. Walaupun gue sangat tidak yakin dengan kemampuan anak ini, tapi ya secara fisik bolehlah buat cuci mata kalau lagi butek sama kerjaan.

Dari jauh, gue memperhatikan Ana. Dia memiliki tinggi kurang lebih 155 cm. Kulitnya putih bersih seperti layaknya cewek-cewek asli sunda. Tapi faktanya adalah dia blasteran etnis Sunda dan Minahasa. Sebuah perpaduan yang bagus untuk menghasilkan rupa terbaik sebagai representasi cewek Indonesia. Bentukan dada montoknya pun sepertinya oke punya, karena dibalik atasan yang memakai blazer pun masih tetap ada yang berusaha menyembul dari sisi dalam. Bibirnya tipis, hidungnya seperti jambu, tidak mancung, dan dia memakai kerudung seperti Emi, hanya saja gaya kerudungnya ini sederhana khas cewek dari luar Jabodetabek yang lebih trendi. Mungkin dalam beberapa bulan akan berubah gaya berpakaiannya. We’ll see. Cewek ini mirip sama pesinetron populer Nuri Maulida yang dipress sana sini jadi bentuk yang lebih padat dan mini.

kaskus-image
Mulustrasi Riana 99,2% Mirip Nuri Maulida Sumber


Sambil menunggu Mas Yogi menjelaskan tim lainnya, gue mencoba mencari informasi tentang Riana di Google. Ya, hitung-hitung biar ada bahasan agar lebih akrab di tim. Gue begini diajarin siapa lagi kalau bukan Emi? Haha.

Punya calon istri yang sambilannya jadi seorang FBI itu nggak melulu dirugikan, tapi banyak untungnya juga. Ya kayak begini, diajarin untuk cari tau tentang seseorang. Gue nggak memanfaatkan ilmu yang Emi ajarin untuk nyari pengganti Emi (lagi) kok. Gue cuma penasaran aja sama Ana ini. Lagipula, gue udah nggak akan pernah mau menggantikan Emi di hidup gue. Gue nggak mau melakukan kesalahan yang sama, kehilangan dia.

Riana ini lulusan salah satu universitas swasta di daerah asalnya sana, Tasikmalaya. Dia merupakan sarjana Teknik Informatika yang bekerja di kantor gue sebagai Admin Finance. “Seriously?” Gue melirik Pak Yudi yang sedari tadi sibuk dengan gadget-nya. Maklum, Pak Yudi ini memang lebih banyak mengurus deal di luar. Sebagian besar urusan internal kantor diurus oleh Mas Yogi.

“Ana ini diterima di sini karena titipan atau memang dia bisa ngurusin Finance sih?” Tanya gue dalam hati. “Bakal jadi PR nih buat gue. Karena dia belum lama lulus kuliah dan pengalaman kerjanya masih minim, apalagi di urusan finance yang sama sekali jauh dari bidang keahliannya.”

Meeting sudah selesai. Semua orang membubarkan diri dari ruangan. Gue bersiap untuk merapikan barang-barang gue dan ijin pamit lebih dulu untuk pulang ke rumah Emi. Tetapi Ana mendadak menghampiri gue.

“Saya harus mengerjakan apa sekarang, Pak?” Ditegur demikian, gue juga bingung. Masalahnya gue memang belum ada list pekerjaan yang harus dikerjakan Ana. Gue aja baru tau tadi di meeting bagian pekerjaan Ana. Lagipula, gue juga mau pamit pulang lebih cepat hari ini. Tapi, untuk urusan inisiatif bolehlah Ana ini.

“Sori, Na. Gue juga belum susun list pekerjaan buat lo. Nanti ya gue coba rancang dulu ya.” Gue pikir setelah gue jawab demikian, dia bakal cabut. Tapi dia malah menunggu gue dengan duduk di samping bangku yang gue pakai di ruang meeting ini.

Satu per satu orang keluar dari ruangan hingga tersisa kami berdua. Maklum, setiap meeting gue memang selalu mempersiapkan notulensi meeting. Jadi, gue selalu keluar yang paling terakhir dari ruang meeting.

Untuk menghindari awkward moment antara kami, gue mencoba mencairkan suasana. “Lo sebelumnya kerja dimana, Na?”

“Terakhir sih bantu-bantu di lab kampus, Pak. Jadi belum ada pengalaman apa-apa lagi.” Jawabnya dengan sedikit menunduk.

“Buset santai aja, Na. Gue nggak lagi interogasi ini. Justru gue mau tau lo bisanya apa. Biar nanti gue bisa ngarahinnya lebih gampang dan harus mulai dari mananya gue tau. Nggak usah panggil gue pake ‘Pak’ lah, tuir bener kesannya. Gue 30 taun aja belum kali. Haha. Panggil nama aja. Kayak yang gue bilang tadi.” Kata gue sambil berjalan ke arah ruangan gue. “Silakan duduk dulu, Na.” Ujar gue sambil mempersilakan Ana duduk didepan meja kerja gue ketika sampai di ruangan.

“Waduh, jangan panggil nama aja, Pak. Sayanya nggak enak. Hehe.”

“Yaudah pake imbuhan aja terserah lo. Yang penting jangan panggil gue pake ‘Pak’ ya.”

“Iya. Hmm saya panggil dengan ‘Mas’ aja deh, gimana?”

“No prob, sih. Yaudah gitu aja. Biar lebih enak aja tektoknya dan nggak kaku. Gue nggak mau dengan panggilan tertentu malah jadi ada gap yang sebenernya nggak penting. Nanti malah bikin pekerjaan jadi kaku. Gue nggak mau tim gue kaku.” Jelas gue. Gue selalu memperlakukan tim sebagai tim, bukan sebagai atasan dan bawahan. Kita setara, tidak ada hirarki. Hanya saja gue memang memegang tanggung jawab lebih besar.

“Di sini ada grup WA khusus tim support, Pak, eh Mas?”

“Nggak ada, adanya grup WA satu kantor. Kalau grp itu, Adminnya Om kamu sendiri. Jadi kamu minta ke Om kamu buat masukin kamu ke grup ya.”

“Yaudah kalau gitu, saya boleh minta nomor WA, Mas Ija?”

“Buat?” Bukan apa-apa. Minta nomor WA menjadi isu sensitif di hubungan gue dan Emi kalau Emi sama sekali nggak tau menahu tentang Ana ini.

“Kalau ada apa-apa, saya bisa langsung aja nanya ke Mas. Nggak perlu ke Mas Yogi atau Om dulu.”

“Oh boleh deh kalau begitu. Sini coba handphone kamu.” Gue masukin nomor handphone gue di handphone dia. Kemudian gue missed call handphone gue dari handphone dia. “Itu ya nomor gue, ada nomor WA-nya. Silahkan kamu save ya.”

“Siap, Mas…”

Ting.

Ketika gue mau memasukkan nama Ana di handphone gue, mendadak muncul chat dari aplikasi Messenger gue.

((EDNA CHAT))
Quote:


“Apa-apaan sih ini?” Gumam gue perlahan sambil mengerenyitkan dahi gue.

“Kenapa, Mas?”

“Ah gapapa, Na.” Nggak mungkin dong gue langsung cerita ke Ana tentang Edna?

“Mas, aku mau tanya-tanya tentang kantor boleh?”

“Boleh-boleh aja…”

“Kalau nanya-nanya ke Mas pas udah jam pulang kantor, boleh juga nggak, Mas?”

Gue terdiam. Nggak Arasti, nggak Hana, nggak Edna, eh sekarang Ana pun kepingin ngajak chat sama gue. Gue bingung, giliran kemaren gue lagi sama Ara, kenapa yang kayak begini nggak ada sih? Kenapa giliran gue balik sama Emi, semuanya malah datang di waktu yang hampir bersamaan.

KENAPA? KENAPA BEGINI TUHAN??? Kenapa cobaan menuju pernikahan bisa sesulit ini?
Diubah oleh yanagi92055 11-11-2020 22:44
jiyanq
caporangtua259
itkgid
itkgid dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.