- Beranda
- Stories from the Heart
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
...
TS
agityunita
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
Kumpulan Cerpen Sebelumnya
Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia. Apa yang akan kau lakukan. Apakah kau akan merasa takut?
Mungkin saja kau akan meninggalkan kehidupan ini dengan tenang. Jika semua hal yang ingin kau lakukan telah terlaksana. Namun bagaimana jika masih ada ingin yang tertinggal. Apa kau akan pergi dengan perasaan lega?
***
Chia masih termenung memandang potret dirinya dengan Chania saudara kembarnya. Sejak chania pergi untuk selamanya beberapa bulan yang lalu. Ia seperti merasa, Chania belum benar-benar pergi.
Setiap malam, saat matahari mulai terbenam. Chia selalu merasakan kehadiran Chania di dekatnya. Dimulai dengan semerbak harum mewangi parfumnya. Lalu benar-benar terasa ada sosok Chania tak jauh dari dirinya.
***
Dan perasaan itu. Terus saja berlanjut. Sesekali Chia berani bertanya, “Chania, apa itu kamu?” namun tak ada jawaban. Angin bertiup lembut di telinga Chia. Dia merasa Jadi merinding. Dan bergegas keluar dari kamar.
Hingga suatu minggu, Chia berniat untuk merapikan kamar Chania. Dia akan menyortir barang milik Chania yang mana yang masih bisa dipakai.
Setiap sudut kamar Chania diperhatikan. Kamar ini akan dikosongkan. Chia akan menjadikan bekas kamar Chania ini sebagai perpustakaan mini.
Sampailah Chia membereskan lemari pakaian Chania. Di lemari itu Chia menemukan sebuah kotak kardus. Entah apa isinya. Chia pun penasaran dan mengambil kotak itu. Membawanya ke kamarnya sendiri.
Chia langsung membuka kotak kardus itu. Seperti membuka kotak harta karun. Ia mendapati banyak barang-barang pribadi Chania. Salah satunya….
***
Siang ini, chia bolos kuliah. Ia akan menuju kampus Chania. Meskipun kembar, Chia dan Chania jelas memiliki kepribadian yang berbeda. Chia lebih feminim dibandingkan Chania yang sedikit tomboy.
Chania senang otomotif, maka dari itu ia kuliah di fakultas yang berhubungan dengan hobinya itu. Sedangkan Chia, dia lebih memilih masuk di universitas khusus seni.
Ini pertama kalinya chia mendatangi kampus kembarannya. Mereka tidak kembar identik. Maka dari itu kehadiran Chia tidak mengejutkan siapa pun. Dia merasa beruntung.
Apalagi kedatangannya ke kampus Chania ini, memiliki misi yang tak mudah. Namun sebelum itu, dia harus menemukan seseorang yang bernama Chikal. Siapa dia? Sedikit banyaknya Chia sudah mengetahui. Chia membaca buku harian Chania.
Iya, di kotak kardus itu. Ia menemukan banyak hal yang berhubungan dengan Chikal. Chia jadi berpikir. Apakah perasaannya tentang kehadiran Chania, ada hubungannya dengan sosok Chikal. Karena di akhir-akhir halaman diary Chania. Di sana tertulis jika Chania menyukai Chikal. Namun dia tidak tahu apakah chikal juga masih memiliki perasaan yang sama atau tidak.
Dengan berbekal selembar foto sosok Chikal. Chia pun menemukan lelaki itu. Ia sedang duduk sendiri di sudut taman kampus. Dengan penuh keberanian, chia pun melangkah mendekati Chikal.
“Hey, apa benar kamu Chikal!”
Yang dipanggil namanya langsung menoleh dan mengerutkan dahi. Dia pasti tidak mengenal siapa Chia.
“Iya, aku chikal, kamu siapa ya?”
“Kenalin, aku Chia, saudara kembar Chania!”
Wajah Chikal tiba-tiba berubah. Ada kesedihan di sana.
“Chania, dia yang menyuruhmu datang menemuiku?”
Giliran Chia yang mengerutkan dahi. Apakah Chikal tidak tahu kalau Chania sudah meninggal.
Chia duduk di dekat Chikal. Ia mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua. Tetapi sebagai saudara kembar Chania, Chia merasa, ada yang ingin diketahui oleh Chania dari Chikal. Soal perasaan. Tapi kenapa dari pertanyaan Chikal tadi, meski terdengar sedih namun ada kemarahan di sana.
“Aku hanya ingin membantunya!” ucap Chia akhirnya. Dia mengurungkan untuk memberitahukan yang sebenarnya. Dia ingin memahami dulu apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Dia perempuan paling aneh yang pernah aku kenal! “
“Aneh, apanya?”
“Ya aneh aja, tapi karena itulah kita jadi dekat!”
“Seberapa dekat kalian berdua?”
Tiba-tiba saja, Chikal tertawa.
“Lebih tepatnya sich, aku yang sering ngikutin dia, dianya sich kayaknya risih.” jelas chikal setelah tawanya reda.
“Kok kamu bisa mikir gitu?”
“Ya, dia selalu cuek sama aku, terakhir kali aku ketemu sama dia, dia belum memberiku jawaban apa-apa! “
“Memang nya kamu bertanya apa sama Chania?”
“Aku melamarnya!”
Chia terkejut. Kenapa soal seserius ini Chania tidak pernah cerita padanya. Chania hanya selalu bilang, ia dengan penyakitnya merasa tidak pantas menerima cinta yang tulus dari siapapun. Ya ampun, ternyata itu adalah petunjuk tentang Chikal sebenarnya. Hanya saja Chia tidak memahami nya.
***
Pertemuan pertama chia dengan Chikal tidak berakhir dimana pun. Chia masih memikirkan apa yang sebenarnya ingin Chania lakukan.
Malam itu, kedatangan Chania dirasakan lagi oleh chia. Sambil membaca-baca buku harian milik Chania. Chia mencoba berbicara pada Chania, jika dia benar-benar ada di sekitarnya.
“Chan, apa chikal itu orang yang kamu cintai, kalau kamu emang ada di sini, tolong beri aku jawaban, biar aku bisa bantu kamu. Aku ingin kamu pergi dengan tenang!”
Seketika angin berhembus lembut. Padahal jendela kamar tertutup rapat. Membuat chia sedikit merinding. Tapi ini Chania, saudara nya sendiri. Dia harus membantu Chania, agar dapat beristirahat dengan tenang untuk selamanya.
“Chikal ternyata belum tahu jika kamu sudah pergi, tapi aku akan memberitahunya nanti, apakah kamu ingin aku memberikan buku harianmu ini padanya?”
Angin lembut pun kembali berembus.
“Aku anggap itu jawaban iya darimu Chan, aku sangat menyayangimu dan aku ingin urusanmu di dunia ini selesai!”
***
Dan Chia pun mengajak Chikal untuk bertemu lagi. Tapi kali ini tidak di kampus. Chia mengajak Chikal bertemu di cafe. Cafe yang menjadi tempat pertemuan terakhir antara chikal dan Chania.
Awalnya, Chikal menolak. Tapi Chia memaksanya.
“Ada apa sih?” pertanyaan pembuka Chikal saat Chia datang di cafe agak terlambat.
“Maaf-maaf, udah nunggu lama ya?”
“Langsung saja, sebenarnya ada apa, aku pikir saudara kembarmu juga akan ikut?!”
Ah chikal, andai kamu tahu…
“Aku cuma mau ngasihin ini ke kamu!” sambil chia memberikan buku harian milik Chania.
“Ini kan buku harian Chania?”
“Oh, kamu tahu?”
“Kemana-mana dia selalu membawanya, dia bilang, setiap hari itu harus diabadikan. Salah satunya dengan cara menulisnya di buku harian ini. Lalu kenapa diberikan padaku? Ia itu paling tidak suka aku memegangnya!”
“Justru sekarang, dia sangat ingin kamu menyimpannya!”
Chikal memegang buku itu, mengusapnya perlahan.
“Dimana dia sebenarnya Chia, aku merindukannya!” pengakuan itu pun akhirnya meluncur juga dari mulut Chikal.
“Aku akan nganterin kamu ke tempatnya. Tapi sebelum itu, kamu baca dulu tiga halaman terakhir buku itu ya!”
Dengan wajah heran, Chikal pun membuka buku harian itu dan langsung menuju ke tiga halaman terakhirnya.
Cukup lama, dengan khusyuk Chikal membaca tulisan Chania itu. Hingga selesai, Chikal mengangkat kepalanya. Terpancar, ada senang di sana.
“Aku harus bertemu dengan Chania, Chia!”
“Iya, aku anterin kamu, tapi sebelumnya, kamu harus janji sama aku. Setelah itu kamu jangan membenci Chania!”
“Aku selalu mencintainya Chia!”
***
Dan Chia telah membantu Chania memburu waktu terakhirnya. Sebelum ia benar-benar pergi. Menyampaikan pesan pada orang yang Chania cinta.
Sekotak kardus berisi kisah Chania dan Chikal akhirnya sudah berada di tangan yang tepat. Hari itu, Chania membawa Chikal menuju rumahnya. Masuk ke kamar Chania. Dan memberitahukan yang sebenarnya.
Air mata itu jatuh di sana. Seraya memeluk segala kenangan itu. Chikal meyakinkan pada dirinya sendiri jika Chania pun memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
“Chania, beristirahatlah kau dengan tenang. Aku akan menyimpan baik-baik semua kenangan kita berdua!” sambil Chikal mencium foto Chania. Itu adalah foto dirinya dan Chania. Foto yang diambil selalu dengan cara memaksa. Tetapi di sana selalu ada senyum tulus dari Chania, yang kadang tidak Chikal sadari.
Cerita Ketujuh Belas
Cerita Kedelapan Belas
Cerita Kesembilan Belas
Cerita Kedua Puluh
Cerita Kedua Puluh Satu
Cerita Kedua Puluh Dua
Cerita Kedua Puluh Tiga
Cerita Kedua Puluh Empat
Cerita Kedua Puluh Lima
Cerita Kedua Puluh Enam
Cerita Kedua Puluh Tujuh
Cerita Kedua Puluh Delapan
Cerita Kedua Puluh Sembilan
Cerita Ketiga Puluh [Selesai]
@agityunita
Memburu Waktu
Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia. Apa yang akan kau lakukan. Apakah kau akan merasa takut?
Mungkin saja kau akan meninggalkan kehidupan ini dengan tenang. Jika semua hal yang ingin kau lakukan telah terlaksana. Namun bagaimana jika masih ada ingin yang tertinggal. Apa kau akan pergi dengan perasaan lega?
***
Chia masih termenung memandang potret dirinya dengan Chania saudara kembarnya. Sejak chania pergi untuk selamanya beberapa bulan yang lalu. Ia seperti merasa, Chania belum benar-benar pergi.
Setiap malam, saat matahari mulai terbenam. Chia selalu merasakan kehadiran Chania di dekatnya. Dimulai dengan semerbak harum mewangi parfumnya. Lalu benar-benar terasa ada sosok Chania tak jauh dari dirinya.
***
Dan perasaan itu. Terus saja berlanjut. Sesekali Chia berani bertanya, “Chania, apa itu kamu?” namun tak ada jawaban. Angin bertiup lembut di telinga Chia. Dia merasa Jadi merinding. Dan bergegas keluar dari kamar.
Hingga suatu minggu, Chia berniat untuk merapikan kamar Chania. Dia akan menyortir barang milik Chania yang mana yang masih bisa dipakai.
Setiap sudut kamar Chania diperhatikan. Kamar ini akan dikosongkan. Chia akan menjadikan bekas kamar Chania ini sebagai perpustakaan mini.
Sampailah Chia membereskan lemari pakaian Chania. Di lemari itu Chia menemukan sebuah kotak kardus. Entah apa isinya. Chia pun penasaran dan mengambil kotak itu. Membawanya ke kamarnya sendiri.
Chia langsung membuka kotak kardus itu. Seperti membuka kotak harta karun. Ia mendapati banyak barang-barang pribadi Chania. Salah satunya….
***
Siang ini, chia bolos kuliah. Ia akan menuju kampus Chania. Meskipun kembar, Chia dan Chania jelas memiliki kepribadian yang berbeda. Chia lebih feminim dibandingkan Chania yang sedikit tomboy.
Chania senang otomotif, maka dari itu ia kuliah di fakultas yang berhubungan dengan hobinya itu. Sedangkan Chia, dia lebih memilih masuk di universitas khusus seni.
Ini pertama kalinya chia mendatangi kampus kembarannya. Mereka tidak kembar identik. Maka dari itu kehadiran Chia tidak mengejutkan siapa pun. Dia merasa beruntung.
Apalagi kedatangannya ke kampus Chania ini, memiliki misi yang tak mudah. Namun sebelum itu, dia harus menemukan seseorang yang bernama Chikal. Siapa dia? Sedikit banyaknya Chia sudah mengetahui. Chia membaca buku harian Chania.
Iya, di kotak kardus itu. Ia menemukan banyak hal yang berhubungan dengan Chikal. Chia jadi berpikir. Apakah perasaannya tentang kehadiran Chania, ada hubungannya dengan sosok Chikal. Karena di akhir-akhir halaman diary Chania. Di sana tertulis jika Chania menyukai Chikal. Namun dia tidak tahu apakah chikal juga masih memiliki perasaan yang sama atau tidak.
Dengan berbekal selembar foto sosok Chikal. Chia pun menemukan lelaki itu. Ia sedang duduk sendiri di sudut taman kampus. Dengan penuh keberanian, chia pun melangkah mendekati Chikal.
“Hey, apa benar kamu Chikal!”
Yang dipanggil namanya langsung menoleh dan mengerutkan dahi. Dia pasti tidak mengenal siapa Chia.
“Iya, aku chikal, kamu siapa ya?”
“Kenalin, aku Chia, saudara kembar Chania!”
Wajah Chikal tiba-tiba berubah. Ada kesedihan di sana.
“Chania, dia yang menyuruhmu datang menemuiku?”
Giliran Chia yang mengerutkan dahi. Apakah Chikal tidak tahu kalau Chania sudah meninggal.
Chia duduk di dekat Chikal. Ia mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua. Tetapi sebagai saudara kembar Chania, Chia merasa, ada yang ingin diketahui oleh Chania dari Chikal. Soal perasaan. Tapi kenapa dari pertanyaan Chikal tadi, meski terdengar sedih namun ada kemarahan di sana.
“Aku hanya ingin membantunya!” ucap Chia akhirnya. Dia mengurungkan untuk memberitahukan yang sebenarnya. Dia ingin memahami dulu apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Dia perempuan paling aneh yang pernah aku kenal! “
“Aneh, apanya?”
“Ya aneh aja, tapi karena itulah kita jadi dekat!”
“Seberapa dekat kalian berdua?”
Tiba-tiba saja, Chikal tertawa.
“Lebih tepatnya sich, aku yang sering ngikutin dia, dianya sich kayaknya risih.” jelas chikal setelah tawanya reda.
“Kok kamu bisa mikir gitu?”
“Ya, dia selalu cuek sama aku, terakhir kali aku ketemu sama dia, dia belum memberiku jawaban apa-apa! “
“Memang nya kamu bertanya apa sama Chania?”
“Aku melamarnya!”
Chia terkejut. Kenapa soal seserius ini Chania tidak pernah cerita padanya. Chania hanya selalu bilang, ia dengan penyakitnya merasa tidak pantas menerima cinta yang tulus dari siapapun. Ya ampun, ternyata itu adalah petunjuk tentang Chikal sebenarnya. Hanya saja Chia tidak memahami nya.
***
Pertemuan pertama chia dengan Chikal tidak berakhir dimana pun. Chia masih memikirkan apa yang sebenarnya ingin Chania lakukan.
Malam itu, kedatangan Chania dirasakan lagi oleh chia. Sambil membaca-baca buku harian milik Chania. Chia mencoba berbicara pada Chania, jika dia benar-benar ada di sekitarnya.
“Chan, apa chikal itu orang yang kamu cintai, kalau kamu emang ada di sini, tolong beri aku jawaban, biar aku bisa bantu kamu. Aku ingin kamu pergi dengan tenang!”
Seketika angin berhembus lembut. Padahal jendela kamar tertutup rapat. Membuat chia sedikit merinding. Tapi ini Chania, saudara nya sendiri. Dia harus membantu Chania, agar dapat beristirahat dengan tenang untuk selamanya.
“Chikal ternyata belum tahu jika kamu sudah pergi, tapi aku akan memberitahunya nanti, apakah kamu ingin aku memberikan buku harianmu ini padanya?”
Angin lembut pun kembali berembus.
“Aku anggap itu jawaban iya darimu Chan, aku sangat menyayangimu dan aku ingin urusanmu di dunia ini selesai!”
***
Dan Chia pun mengajak Chikal untuk bertemu lagi. Tapi kali ini tidak di kampus. Chia mengajak Chikal bertemu di cafe. Cafe yang menjadi tempat pertemuan terakhir antara chikal dan Chania.
Awalnya, Chikal menolak. Tapi Chia memaksanya.
“Ada apa sih?” pertanyaan pembuka Chikal saat Chia datang di cafe agak terlambat.
“Maaf-maaf, udah nunggu lama ya?”
“Langsung saja, sebenarnya ada apa, aku pikir saudara kembarmu juga akan ikut?!”
Ah chikal, andai kamu tahu…
“Aku cuma mau ngasihin ini ke kamu!” sambil chia memberikan buku harian milik Chania.
“Ini kan buku harian Chania?”
“Oh, kamu tahu?”
“Kemana-mana dia selalu membawanya, dia bilang, setiap hari itu harus diabadikan. Salah satunya dengan cara menulisnya di buku harian ini. Lalu kenapa diberikan padaku? Ia itu paling tidak suka aku memegangnya!”
“Justru sekarang, dia sangat ingin kamu menyimpannya!”
Chikal memegang buku itu, mengusapnya perlahan.
“Dimana dia sebenarnya Chia, aku merindukannya!” pengakuan itu pun akhirnya meluncur juga dari mulut Chikal.
“Aku akan nganterin kamu ke tempatnya. Tapi sebelum itu, kamu baca dulu tiga halaman terakhir buku itu ya!”
Dengan wajah heran, Chikal pun membuka buku harian itu dan langsung menuju ke tiga halaman terakhirnya.
Cukup lama, dengan khusyuk Chikal membaca tulisan Chania itu. Hingga selesai, Chikal mengangkat kepalanya. Terpancar, ada senang di sana.
“Aku harus bertemu dengan Chania, Chia!”
“Iya, aku anterin kamu, tapi sebelumnya, kamu harus janji sama aku. Setelah itu kamu jangan membenci Chania!”
“Aku selalu mencintainya Chia!”
***
Dan Chia telah membantu Chania memburu waktu terakhirnya. Sebelum ia benar-benar pergi. Menyampaikan pesan pada orang yang Chania cinta.
Sekotak kardus berisi kisah Chania dan Chikal akhirnya sudah berada di tangan yang tepat. Hari itu, Chania membawa Chikal menuju rumahnya. Masuk ke kamar Chania. Dan memberitahukan yang sebenarnya.
Air mata itu jatuh di sana. Seraya memeluk segala kenangan itu. Chikal meyakinkan pada dirinya sendiri jika Chania pun memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
“Chania, beristirahatlah kau dengan tenang. Aku akan menyimpan baik-baik semua kenangan kita berdua!” sambil Chikal mencium foto Chania. Itu adalah foto dirinya dan Chania. Foto yang diambil selalu dengan cara memaksa. Tetapi di sana selalu ada senyum tulus dari Chania, yang kadang tidak Chikal sadari.
Selesai
Cerita Ketujuh Belas
Cerita Kedelapan Belas
Cerita Kesembilan Belas
Cerita Kedua Puluh
Cerita Kedua Puluh Satu
Cerita Kedua Puluh Dua
Cerita Kedua Puluh Tiga
Cerita Kedua Puluh Empat
Cerita Kedua Puluh Lima
Cerita Kedua Puluh Enam
Cerita Kedua Puluh Tujuh
Cerita Kedua Puluh Delapan
Cerita Kedua Puluh Sembilan
Cerita Ketiga Puluh [Selesai]
@agityunita
Diubah oleh agityunita 15-03-2020 08:05
nona212 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
2.5K
19
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
agityunita
#18
Drama Romantika
Dan inilah hidup. Dengan berbagai drama yang ada di dalamnya. Romantika yang tersaji terkadang menguras seluruh energi. Entah apakah kita sebagai pelaku atau hanya sekedar sebagai penonton setia.
Inilah drama romantika yang berisi sebuah perjalanan. Diwakili oleh nama-nama yang pernah merasakan. Memerankan sebuah karakter yang terkadang berbeda dengan pribadi kita.
***
Romantika seorang Havika …
Diawali oleh sebuah cinta pertama. Cinta monyet yang menjadi cerita sepanjang hidupnya.
Cinta yang abadi dalam diam dan rahasia. Havika pandai menyembunyikan perasaannya sendiri. Dia sudah terlatih untuk menahan perih. Dan menutupinya dengan senyuman yang termanis.
Maka romantika cinta pertamanya hanya berakhir pada sajak-sajak usang. Tak ada yang tahu. Bahkan si dia yang dicintai.
Mereka pernah saling beradu pandang. Tetapi hanya sampai di situ. Tanpa kata. Mereka pernah saling melempar senyum. Tetapi Hanya itu. Namun mampu membuat sepanjang hari Havika bagai berbunga-bunga.
Dan ini adalah bagian drama yang akan selalu berada di kotaknya. Tak akan pernah terganti.
***
Setelah cerita cinta pertama terpaksa harus diselesaikan. Perjalanan cinta yang baru telah menyambut Havika. Sebuah cinta di masa SMA yang penuh dengan drama.
Sebuah perkenalan yang singkat. Membawa hatinya pada penantian yang tak pernah berujung. Jikalau pun menemukan ujungnya, cinta itu telah melenakan Havika.
Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Namun kisah ini pun akhirnya menemukan kata usai. Cinta yang dikira akan menggantikan posisi si cinta pertama, ternyata harus kandas sebelum ia benar-benar merasakan indahnya.
***
Untuk kemudian, Havika terjebak di masa-masa mencari.
Dia memang bukan wanita yang ingin sendiri. Pergi satu, ia selalu ingin cepat menemukan penggantinya.
Hingga akhirnya, dia kehilangan makna dari cinta itu sendiri. Segala nya terasa hambar. Tertutup oleh sebuah nafsu ingin selalu ditemani.
Sekali waktu, cinta itu dirasa begitu perih. Kisah tentangnya tak ingin ia ingat lagi. Padahal awalnya ia begitu memuja cinta itu. Seakan terhipnotis dan lupa diri.
Cinta itu berakhir dengan kebencian. Dia yang yang dulu dicintai pun menghilang bagaikan ditelan bumi. Meninggalkan segala kedukaan.
Dan sejak hari menyedihkan itu, Havika jadi tak percaya lagi. Apa cinta sejati itu benar adanya. Dia berpikir segalanya hanyalah tipu daya. Tak ada yang benar-benar tulus.
***
Romantika kehidupan Havika pun tak berakhir sampai di situ. Masih soal cinta. Masih soal rasa yang rumit.
Kembali dia merasakan cinta dalam diam. Sungguh pelik jika sudah memendam rasa.
Lelaki yang membuat Havika jatuh hati itu, Eros namanya.
Mereka sudah kenal cukup lama. Namun perasaan itu baru saja tumbuh. Sadar yang terlambat.
Eros sudah dimiliki orang lain. Tetapi bukankah ada pepatah yang mengatakan, sebelum janur kuning melengkung dia belum jadi milik siapa pun.
Maka Havika ingin mengatakan, soal hatinya pada Eros. Hanya sekedar agar ia tahu. Karena Havika tak ingin merasakan penyesalan yang sama. Saat perasaan tersembunyi nya tak pernah terkatakan.
***
Eros adalah romantika yang berbeda bagi havika. Bersama Eros dia merasa bisa menjadi dirinya sendiri. Eros memberikan rasa bahagia yang tulus. Eros bisa menjadi siapa saja yang dibutuhkan oleh havika.
Eros adalah teman yang baik. Eros adalah sahabat yang setia. Sekali waktu Eros juga bisa menjadi sosok ayah yang bijak bagi Havika. Dan kini Havika ingin Eros menjadi kekasih hatinya.
Eros selalu membela Havika. Selalu menyayangi Havika sepenuh hati. Jika pada akhirnya yang bernama cinta itu tumbuh. Semoga bukan Havika yang salah atau terlalu percaya diri.
Karena ternyata, hati Eros malah terpaut pada yang lain. Havika merasa sedih. Terasa seperti dikhianati. Namun tak ada hak dia merasa seperti itu. Karena nyatanya perasaan Eros padanya memang tak sebesar yang ia punya.
***
“Kamu kemana saja?” tanya Eros saat secara sengaja menjemput Havika di kampusnya.
“Aku? Ada aja!” jawab havika sekenanya.
“Kamu seperti sedang menghindariku?”
Havika mengerutkan dahi, rasanya pertanyaan itu seharusnya dia yang mengucapkan.
“Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Eros lagi.
“Gak kenapa-kenapa kok, aku cuma heran sama kamu, kamu bisa bilang kayak gitu, padahal yang ngilang itu kamu!”
Eros tertawa,
“Aku gak kemana-mana kok, aku selalu perhatiin kamu, dan selama aku gak g ada, kamu terlihat baik-baik saja!”
“Hatiku yang gak baik-baik saja, kalau kamu tiba-tiba gak ada!” jawab Havika akhirnya.
Giliran Eros yang mengerutkan dahi. Ada apa dengan Havika-nya.
“Aku sayang sama kamu Ros, sayang yang lebih dari sekedar teman atau sahabat!”
Eros mencoba mendengarkan dengan seksama. Belum saatnya untuk berkomentar. Wanita di depannya ini seperti akan mengeluarkan banyak hal yang telah lama ia pendam.
“Kamu menceritakan kamu sudah jadian, ingin aku marah, kenapa kamu melakukan itu padaku, ah ternyata aku hanya mencintaimu seorang diri!”
Eros masih memperhatikan. Dia membiarkan segala beban Havika luruh.
“Tapi gak apa-apa, aku senang jika kamu bahagia!”
Isak Havika pun pecah.
Ia merasa sudah terlalu banyak bicara. Dia malu pada dirinya sendiri.
“Aku pulang sendiri saja!”
Dengan masih menangis, Havika pun pamit untuk pergi saja. Tapi Eros menghalangi langkahnya.
“Eros, aku mau pulang!”
“Aku yang antar, aku ke sini kan karena memang mau jemput kamu!”
“Aku pulang sendiri saja!”
“Vika, apa kamu tidak mau mendengar jawabanku?”
“Jawaban apa? Aku tidak bertanya apa-apa kan padamu?”
“Iya aku tahu, tapi paling tidak, apa kamu tidak ingin tahu, bagaimana perasaanku?”
“Kamu sudah memiliki kekasih, apa penting nya aku tahu bagaimana perasaanmu!”
***
Terkadang, ada banyak romantika yang tak kita pahami akan kemana alurnya. Havika memilih untuk tidak mengetahui apapun tentang perasaan Eros. Padahal Eros ingin sekali mengatakan perasaan dan kenyataan yang sebenarnya. Bahwa, ia pun sangat menyayangi dan mencintai Havika. Bahwa pengakuannya telah memiliki kekasih hanyalah caranya agar ia mengetahui apa ada di dalam hati Havika.
Dan rencana Eros pun berhasil. Namun ia tidak menyangka, jika havika malah menjadi jauh darinya. Sejak hari itu, ia tak lagi bisa menghubungi Havika.
***
Apa rencana Tuhan sebenarnya? Setelah Havika memiliki keberanian untuk mengungkapkan segala perkara soal hati. Tapi kenapa tak ada sedikit kesabaran dalam hatinya. Padahal jika ia sedikit saja mau menunggu, kebahagiaanlah yang akan ia raih kini.
Bahwa ternyata, terkadang meskipun telah melewati berbagai romantika hidup. Selalu ada yang tersisa, seperti sebuah rasa takut dan tidak percaya diri.
Apa yang manusia rencanakan tak selalu terwujud. Karena segalanya telah diatur oleh Tuhan.
Begitupun soal kisah cinta seorang Havika dan Eros. Jika hari kemarin mereka tak bersatu karena kesalahpahaman, maka harus ada yang berani membenahi. Keyakinan dalam hati Eros lah yang mengantarkan kebahagiaan itu di pangkuan Havika.
Eros datang melamar Havika. Dan mereka pun mengakhiri segala romantika yang begitu pelik di atas pelaminan. Menempuh kehidupan yang baru. Tanpa drama yang tak berarti.
Selesai
0