Kaskus

Story

agungwahyudi25Avatar border
TS
agungwahyudi25
Sadness And Sorrow Full Stories
Gue selalu percaya dan yakin bahwa disetiap kehidupan ini nantinya akan ada sesuatu hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya, entah itu musibah atau anugerah semua tersimpan rapi dalam rahasia Tuhan. Roda kehidupan pasti akan selalu berputar, terkadang kita berada diatas, dan terkadang lagi kita berada dibawah.

Setiap orang pastinya memiliki peranan masing-masing dalam kehidupan yang sedang kita jalani ini. Ada yang datang sebentar kemudian pergi hilang entah kemana, ada juga yang selalu hadir untuk menguatkan ujian dalam hidup ini, menopang semangat untuk meraih mimpi-mimpi kita. Semua orang memiliki kriterianya sendiri, yang jelas gue ucapkan banyak terimakasih untuk semua yang pernah hadir dalam kehidupan gue, ataupun yang akan datang dalam kehidupan gue nantinya.

Cerita ini berawal dari tahun 2013, dimana gue adalah orang yang masih awam belum mengerti tentang arti kehidupan yang sebenarnya, masih berfikir secara labil dalam menghadapi suatu masalah. Wajar hari ini gue baru lulus dari SMK, rencananya setelah ijasah keluar, gue memutuskan untuk pergi merantau mencari pekerjaan di Jakarta ikut sahabat gue.

Setelah menunggu sekian lama, ijasah gue keluar juga, gue menyibukkan diri untuk mempersiapkan semuanya. Dari membeli tiket, melegalisir ijasah, nulis lamaran dan sembarang tetek mbengeknya.

Singkat cerita sore ini gue sudah dalam perjalanan ke Stasiun untuk berangkat ke Jakarta. Semua persiapan sudah beres, akhirnya gue melangkah masuk ke gerbong untuk mencari kursi yang tertulis sesuai nomor yang tertera dalam tiket.

Diperlajanan ini gue selalu membayangkan sesuatu, tentang kehidupan baru yang akan gue mulai dari sekarang, gue selalu berharap dan berdoa agar nantinya akan ada sesuatu yang menyenangkan, yang menghiasi kehidupan baru gue.

Setelah melakukan perjalanan yang sangat lama, dan akhirnya malam ini baru sampai di Stasiun Senen, dengan wajah yang kusam, capek, semrawut, amburadul gue duduk disebuah kursi ditepi jalan sambil menyalakan satu batang rokok. Gue sengaja istirahat sebentar untuk melepas lelah sambil menatap keindahan malam Kota Jakarta. Wajar jika gue terheran-heran atau bahkan kaget dengan kota ini, soalnya baru pertama kali ini gue kesini.

Setelah istirahat beberapa menit gue mencari angkutan umum, yang nantinya akan membawa gue ke sebuah kost-kostan yang terletak di Jakarta Selatan tepatnya di Kebayoran lama. Disana sudah ada sahabat gue yang menunggu, berbekal sebuah alamat akhirnya gue putuskan memesan sebuah taxi malam ini,  karena kata sahabat gue dari Stasiun Senen ke Kebayoran Lama naik turun angkutan umum, gue disuruh naik taxi  malam ini.  Soalnya gue baru pertama kali takut kalau nyasar.

Suasana yang masih begitu ramai, kendaraan lalu-lalang berhamburan disetiap jalan mata memandang. Setelah cukup lama akhirnya gue sampai juga disebuah gang dengan alamat yang diberikan sahabat gue Andi lewat sebuah pesan.

"Beep Beep Beep Beep" Hp gue bergetar...

Ternyata Andi sedang menelpon, langsung gue angkat.

"Eh lo udah sampai mana bro?" Tanyanya lewat telepon.

"Baru aja nyampek, nih di gang depan kost lo, kesini kek jemput gue." Balas gue pelan.

"Wah umur panjang lo, oke tunggu sebentar, gue jalan kesana bro."

"Oke siyap gue tunggu."

Andi langsung mematikan telepon secara sepihak.

Dan tidak lama kemudian Andi datang berjalan menuju gang pembatas tepat dimana gue berdiri. Terlihat dari jauh Andi berjalan menuju kesini.

Andi menepuk bahu gue. "Wah akhirnya sahabat gue datang juga. Apa kabar lo bro?" Tanyanya dengan wajah gembira.

Gue tersenyum. "Alhamdulilah gue sehat bro. Iya nih perjalanannya lama, ngeselin, capek, udah lama banget gue nahan lapar ini bro." Gue mengusap perut gue sendiri.

"Lo mau gak yang enak dimata kenyang diperut?" Andi menawarkan sesuatu ke gue.

Gue mengangguk pelan. "Ya maulah, tapi lo yang bayarin ya?" Sambil senyum ala-ala melas gue kedipin mata ke arah Andi.

"Okelah untuk malam ini nggak papa, karena lo baru nyampek jadi puasin aja makannya." Katanya dengan santai.

Akhirnya gue diajak kesebuah Restoran ditepijalan entah apa namanya gue lupa, kelihatan ramai pengunjung malam ini. Setelah mencari meja kita duduk sambil memilih menu makanan yang kelihatannya cocok untuk selera makan malam ini. Sumpah gue udah gak tahan, cacing di perut gue udah menari-nari ala samba dari tadi.

Tiba-tiba ada seorang mbak-mbak waiters cantik berpostur gitar somalia dengan rambut sebahu, berkulit putih yang datang menghampiri meja kami.

"ANDIIII...!" panggilnya dengan nada keras.

"Eh Sari, Kebetulan nih ada lo,  makan ada yang bayarin malam ini."

"Enak aja lo Ndi, emangnya ini punya bapak gue?" Tuturnya sewot sambil nonjok lengan kiri Andi.

Andi hanya tertawa. "Ah lo ini gak kenal gue aja, gue cuma bercanda kali Sar, jangan ngegass napa sih." Andi menghela nafas.

"Iya-iya Ndi gue paham, buruan mau pesen apa? Keburu habis entar nangis." Mbaknya ketawa pelan.

Ketika ada kesempatan gue langsung nyaut pembicaraan mereka berdua. Padahal kenal juga enggak main saut aja kaya kompresor. Gue keburu lapar soalnya.

"Gue pesen nasi goreng ayam,  minumnya es teh manis, gak pakek lama ya mbak." Sambil mengangkat jari keatas dengan muka semrawut dengan senyum yang agak kecut.

Andi menatap gue heran. "Eh ni anak kenal aja belum main nyaut aja kaya TV." Andi ketawa pelan sambil ngedipin mata ke arah gue.

Gue menghela nafas panjang. "Kenalan kan bisa nanti bro, yang penting kita makan dulu, udah lapar banget bro." Tutur gue lemas.

Mbaknya ikut tertawa. "Tu bener dengerin temen lo itu." Sambil mukul kepala andi dengan bolpoin miliknya.

"Kalian kroyokan sih, kalah lagi kan gue, yaudah samain aja Sar pesenan gue, ingat ya GPL." 

"Oke ditunggu ya." Sambil menulis di selembar kertas dan bersiap-siap beranjak pergi.

Dan akhirnya waiters cantik tadi pergi meninggalkan kami berdua.

"Eh bro gue mau tanya, lo kenal dengan mbak yang tadi itu?" Tanya gue penasaran.

"Kenal lah bro, itu mbaknya ngekos di sebelah kamar gue, cantik ya orangnya?" Tanyanya dengan ekspresi mesum.

"Yang bener bro? Pantesan lo betah di Jakarta ini alasannya, lumayan cantik sih diatas standart rata-rata." Jawab gue dengan ketawa nakal.

"Bener lah ngapain juga bohong, lo lihat aja nanti kalau perlu lo tungguin depan kamarnya."

"Ogah lah ngapain juga? Mending tidur udah capek."

Andi mendekatkan kepalanya ke arah gue. "Awas ya kalau nanti gue keluar ngobrol sama Sari lo jangan ikut." Sambil ketawa jahat ngedipin mata genitnya dua kali ke arah gue lagi.

Gue melambaikan tangan. "Ya tidak bisa, gue harus ikut biar tau perkembangan dan keamanan kost kita nanti." Jawab gue dengan nada tinggi.

Andi melototin gue. "Mau jadi hansip lo?" Tanyanya ngegass.

Gue jitak jidatnya Andi. "Hansip gundolmu."

Setelah setengah jam kita menunggu, tidak lama ditengah-tengah pembicaraan kita berdua yang tidak berpaedah ini, mbak waiters tadi datang mengantarkan pesanan kami.

"Pesanan sampai mas, pesanan sampai." Sambil ketawa nggak jelas Sari menaruh piring dan gelas di meja kami satu persatu.

Andi menggelengkan kepalanya. "Buset lama banget ya, masak di Kairo ya?" Tanya Andi dengan nada enteng.

"Iya nih mbak lama amat." Gue juga ikut ngomporin biar semakin panas.

"Maaf ya tadi rame, orderan numpuk, nih buruan dimakan jangan bawel kaya ibu kost, gue balik dulu disana masih ada kerjaan, sampai jumpa di kost nanti ya." Sari melambaikan tangan dan pergi meninggalkan kita berdua.

Dan kamipun menjawab "Iya" secara spontan, dan setelah itu kita makan seperti orang yang kelaparan. Wajar gue udah nahan lapar hampir beberapa jam, dan ini saatnya melampiaskannya. Rasa masakannya juga lumayan enak, suasana malam yang tenang dan damai, ditambah pemandangan dengan waiters yang kebanyakan perempuan semua. Ini mungkin yang dimaksut Andi yang enak dimata kenyang diperut. Batin gue.

Setelah selesai makan kita berjalan lagi menuju kost yang nantinya jadi tempat tinggal gue disini. Jaraknya tidak begitu jauh, tinggal nyebrang jalan besar,  masuk gang sempit, belok kiri sedikit, lurus kedepan, sampai deh di gerbang kost.

Kalau gue lihat kost disini campur, dilantai bawah kira-kira ada sepuluh kamar, dua dapur dan dua kamar mandi. Dan di lantai dua ada tiga kamar satu dapur dan satu kamar mandi. Kata Andi rata-rata penghuninya adalah anak kuliahan dan sebagian ada yang sudah berumah tangga. Tapi katanya Andi juga disini banyak ayam kampusnya, yang rata-rata berkedok sebagai Lady companion, Tau nggak apa itu ayam kampus? Ayam yang berpendidikan tinggi kebelet mengejar gelar sarjana. Garing banget ya? Yaudah kembali ke cerita.

Setibanya di depan kamar, Andi menunjukkan sesuatu ke gue.

Andi membuka pintu berdiri didepan gue. "Oke anak baru ini kamar kita, jangan lupa dijaga kebersihannya, setelah selesai merokok jangan buang sembarangan, masukkan ke dalam asbak yang sudah disediakan, gantung handuk basah selesai mandi disini, bangun tidur jangan lupa lipat selimut, dibersihkan dan dirapikan." Sambil bergaya ala dosen killer Andi melototin gue sambil nyengir kaya kesurupan siluman kuda nil.

Gue mengangguk pelan. "Mengerti pak dosen, ada lagi?" Gue pura-pura bertanya.

"Udah cukup itu aja bro, jangan bersih-bersih amat lah, yang penting nyaman." Tuturnya ngeselin.

Gue sudah tau sifat dan perilaku sahabat gue yang satu ini, memang dia kalau bicara suka ngasal, asal nyolot sana nyolot sini, tapi dibalik itu semua dia adalah lelaki yang pintar, rajin menjaga kebersihan dimanapun dan kapanpun. Dan yang gue suka dari Andi adalah  sifat humorisnya yang bikin suasan jadi lucu. Meski terkadang agak nyebelin tapi dia tetap menjadi sahabat gue yang selalu ada buat gue.

Malam ini terasa sangat melelahkan, setelah selesai berkemas barang bawaan, gue mau pergi mandi untuk hilangkan bau badan gue. Badan udah lengket kaya perangko gerah pokoknya amburadul.

Setelah selesai mandi gue sebenarnya udah capek mau cepat tidur, tapi gue masih penasaran dengan Sari yang katanya kamarnya ada disebelah gue ini. Dan tiba-tiba Andi menawarkan sesuatu ke gue.

Sambil membuka sebuah toples warna cokelat dia mendekati gue. "Bro gue bikinin coklat panas ya?lo mau kan?" Tawarnya ke gue.

"Gak usah repot-repot bro, satu gelas coklat panas kurang manis ya?" Gue naikin alis ke arah andi sambil mringis gak jelas kaya orang gila.

Andi menghela nafas. "KAMPRET.!" Katanya dengan keras.

"Cepetan buatin bro. Tunggu apa lagi?" Perintah gue sambil ngegass.

"Your jump is jumping down." katanya sambil melototin gue.

Gue hanya tertawa sambil tiduran dikasur. "Ikhlas gak ni? Bawel amat kaya wartawan lo bro."

Dia berdiri dan mulai melangkah pergi. "Iya iya iya ini lagi mau jalan, dasar biawak mesir." Sambil jalan keluar kamar dia ngatain gue sekali lagi.

Jadi di kost ini, kalau mau buat mie  instan atau kopi panas setidaknya kita perlu memasak air didapur terlebih dahulu. Namanya juga anak kost, hidup serba adanya memang sudah biasa.

Sambil menunggu Andi membuat coklat panas, gue duduk di balkon sambil menghisap sebatang rokok favorit gue. Menikmanti suasana malam pertama yang sepi damai dan tenang, rasa ngantuk seakan mulai hilang perlahan. Hembusan angin malam ini yang nikmat hadir dikala gelap dibawah sinar rembulan yang bercahaya.

Andi berjalan keluar dari dapur membawa sebuah loyang berukuran sedang. "Nih coklat lo bro, hati-hati masih panas." Sambil nyodorin gelas ke arah gue.

Gelas yang diberikan tadi gue letak di atas lantai. "Terimakasih Mas Andi, masnya memang baik deh." Gue terkejut masih ada dua gelas lagi diatas loyang. "Lo kok bikin tiga? coklatnya satunya buat siapa?" Gue penasaran.

Andi menggelengkan kepalanya. "Baru tau ya kalau gue orang baik? Kemana aja si bang? Ya buat siapa lagi kalau bukan Sari bro." Andi menjawab dengan nada datar.

"Udah tau dari jaman dulu kali bro, perhatian amat lo sama Sari, jangan-jangan Sari pacar lo ya?" Goda gue pelan.

"Heh bangau darat, kalau ngomong yang bener dong, sebelum ada lo disini, kita bertiga sering beginian tau, bikin cokelat, ngrumpi bareng sampai tengah malam, ngomongin orang, ngebahas perkembangan korupsi di indonesia, udah kaya ibu-ibu PKK aja bro."  Andi ketawa keras sambil menarik hidungnya sendiri.

Gue terdiam sejenak. "Bertiga ? Satunya lagi siapa bro?" Gue bertanya terheran-heran.

"Satunya namanya Dinda, dia bulan ini  balik kampung ke Bandung, itu tu kamarnya." Sambil menunjuk ke kamar yang ada didepannya Sari.

"Jadi selama ini lo hidup bertiga dong sama Sari dan Dinda?" Tanya gue penasaran.

"Iya mau gimana lagi, kita udah temenan akrab bro, sama-sama merantau, sama-sama bersahabat, saling tolong menolong." 

"Enak banget hidup lo ya bro." Kata gue.

"Namanya juga rezeki anak sholeh bro." Sambil meminum segelas coklat Andi nyengir ke gue.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari anak tangga dari arah bawah, sepertinya ada seseorang yang akan naik. Dan ternyata benar Sari sudah pulang ke kost.

Dengan baju berseragam waiters dan sebuah tas kecil yang dia gantung di lengan kanannya Sari berjalan menghampiri kita berdua. "Halo semuanya mas mas ganteng." Tanpa dosa dia melambaikan tangan ke arah gue dan Andi.

Andi melempar tisu ke arah sari. "Eh baru aja diomongin udah nongol, kaya hantu aja lo Sar."

Sari meletakkan tas kecilnya di kursi dan duduk disamping gue. "Kalian habis ngomongin gue ya? Ngomongin apa sih?" Sari menatap kami dengan pose wajah yang manyun seakan ingin tau tentang obrolan kami barusan.

"PD amat sih lo Sar, siapa juga yang ngomongin lo." Jawab Andi dengan nada datar.

Kepala Andi celingukan ke arah gue dan kearah Sari. "Eh kalian diem aja kaya patung pancoran,  kenalan kek, apa kek, kan pada belum kenal? Masak gue yang ngenalin." Andi seakan memberi kode lewat alis yang dia mainkan naik turun dan sikutan pelan ke badan gue.

Dengan spontan gue langsung ngulurin tangan ke arah Sari yang ada disamping gue.

"Nama gue Wahyu, sahabatnya Andi mbak salam kenal ya." Gue sambil tersenyum

Dan Sari membalas dan menjabat tangan gue. "Gue Sari mas, temen kostnya Andi juga, salam kenal juga ya." Dia tersenyum lembut kearah gue.

Dan Andi mulai berulah lagi, candaannya yang receh membuat kami bertiga tertawa terpingkal-pingkal.

Andi berdiri sebentar. "Dan gue Andi temennya Sari dan Wahyu anak kost sini juga." Dia memperkenalkan diri dengan gaya banci dangdut dorong dengan nada yang khas.

Gue menarik tangan Andi untuk duduk lagi. "Gue belum selesai bro kenalannya." Sahut gue.

Dan tanpa gue sadari Sari kembali bertanya lagi ke gue.

"Mas Wahyu baru sampai ya? Rumahnya mana?" Tanyanya ke gue.

Gue tersenyum sebentar. "Iya mbak tadi baru sampai, terus mampir restoran tadi ketemu mbaknya. Saya asli surabaya mbak tetanggaan juga sama Andi. La mbaknya asli mana?" Gue balik bertanya.

Sari mengangguk pelan. "Ohhh iya mas yang tadi kan, saya asli Jogjakarta mas."

Andi langsung nyaut obrolan gue lagi, memang kampret ni anak satu.

"Gak usah mas mbak an kaliiii, lebay lo pada." Lagi-lagi kita tertawa bersama terpancing candaannya Andi yang receh lagi.

"Iya iya bro jangan bawel." Dengan nada lemas gue mencoba turuti Andi.

"Baik pak guru." Dan Sari langsung ikut-ikutan menganggukkan kepalanya dua kali ke arah Andi.

Sambil menunjuk ke satu gelas."Eh itu coklat panas lo Sar, buruan minum gih keburu dingin." Suruhnya Andi.

Sari lalu mengambil gelas tersebut. "Terimakasih Ndi lo emang temen baik gue." Sari mencoba memujinya.

"Kemana aja sih lo selama ini Sar? Tidur lo?" Lagi-lagi dia ketawa jahat didepan Sari, spontan kita bertiga ikut tertawa bersama-sama.

"Iya iya iya bossss, eh gue mandi dulu ya, kalian jangan tidur dulu, nanti gue gabung lagi." Sari berdiri dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.

Tidak lama lagi dia keluar membawa pakaian ganti dan handuk yang digantung di pundaknya, berjalan santai masuk menuju kamar mandi melewati kita berdua.

"Jangan lama-lama mandinya Sar." Teriak Andi.

"Bawel lo." Sari menjulurkan lidah ke arah Andi."

Secara tidak langsung gue tertawa melihat tingkah konyol mereka berdua. Kalau gue perhatiin mereka kaya kucing dan tikus atau lebih tepatnya Tom and Jerry yang gak bisa akur. Tapi disisi lain mereka terlihat sangat dekat seperti saudara kandung sendiri. Gue disini masih baru dan belum mengenal Sari sepenuhnya. Tapi gue yakin lambat laun nanti kita akan menjadi teman yang sangat dekat, bahkan begitu dekat.

Andi merogoh saku celananya. "Gue mau turun beli kacang buat camilan, lo nitip gak?" Tanyanya ke gue.

"Rokok Malb...... satu bungkus bro, yang warna merah ya, ni gue tambahin buat beli camilan yang lain." Gue mengulurkan uang ke tangan andi.

"Oke tunggu sebentar bro, lo jangan kemana-mana nanti Sari kesini nyariin lo awas kalau gak ada." Perintahnya sewot.

Gue hanya bisa menggeleng kepala. "Wartawan amat sih lo bro, buruan pergi lah." Gerutku padanya.

Andi berjalan menuruni tangga untuk pergi kesebuah minimarket yang letaknya tidak jauh dari kost ini. Paling jalan sekitar 10 menit juga sudah sampai.

Dan gilanya sudah hampir setengah jam Andi belum juga kembali, gue coba telpon hp nya tapi gak dibawa, ternyata di cas didalam kamar. Kampret batin gue.

Lalu terdengar orang yang sedang membuka pintu.

Krekk.........

"Yu Wahyu, Andi mana?" Dengan gulungan handuk dikepalannya Sari berjalan menuju kamarnya.

"Pergi ke Alf........  katanya cari kacang buat ngemil Sar, hampir setengah jam lo, padahal Alf.... cuma depan gang sana tidak jauh kan?" Tanya gue ke Sari.

"Andi memang perginya suka lama Yu, gue pernah nitip nasi sama Andi, sampai gue ketiduran sangking lamanya nunggu dia pulang. Gue masuk kamar bentar ya Yu."

"Iya siap Sar." Jawabku padanya.

Beberapa menit kemudian Sari sudah siap ganti baju, dan duduk lagi disamping gue. Sungguh terlihat sangat cantik Sari malam ini. Tubuh yang agak kecil dengan rambut sebahu yang diurai berterbangan ditiup angin malam ini. Aroma yang khas dari bau parfumnya begitu segar dan wangi.

"Kira-kira kemana ni bocah ya Sar?" Tanyaku lagi.

"Mana gue tau Yu, emang Andi lagi sama gue apa?" Sari berbalik tanya ke gue.

"Bener juga ya." Gue menepok jidat gue sendiri.

Seketika itu kita terdiam sebentar sambil mencari obrolan yang berbobot nilai tinggi, mencari topik pembahasan yang enak buat dirundingkan malam ini. Kita mungkin agak malu karena baru aja kenal, gue hanya memilih pertanyaan yang sewajarnya saja. Yang bersifat terbuka tidak yang aneh-aneh. Agar untuk kedepannya kita bisa menjadi teman akrab bahkan sahabat dekat yang selalu ada kapanpun dan dimanapun.

0
964
11
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
agungwahyudi25Avatar border
TS
agungwahyudi25
#6
Part 6
"Yu boleh gue minta satu hal untuk hari ini?" Tanyanya dengan sedikit tenang.

"Apapun Sar." Kata gue sambil mengelus rambutnya.

"Temenin gue tidur ya bisa?"

Gue sempet kaget sebenernya, tapi demi Sari buat gue nggak masalah.

"Bisa Sar." Kata gue pelan sambil mengusap air mata gue sendiri.

"Nanti bangunin gue jam enam sore ya Yu." Katanya sambil melepaskan pelukan gue dan mulai berbaring di atas kasurnya.

"Iya Sar, nanti gue bangunin."

"Lo kok masih duduk, ayo sini temenin gue tidur."

"Tap..ta...tapiiii..." Gue mendadak gagap.

"Gue percaya sama lo Yu, lo bakal jaga gue kan." Katanya sambil tersenyum manis.

Tanpa berlama-lama gue langsung ikut berbaring disampingnya Sari, Sari tidur menghadap tembok membelakangi gue, dan gue berada tepat disampingnya dengan posisi terlentar menatap sudut-sudut dinding diatas gue.

Gue tau pasti ada penyebab yang membuat  Sari menangis seperti itu, pastinya itu adalah sesuatu rahasia yang dipendam oleh Sari sendiri, gue nggak akan menanyakannya, tugas gue hanya selalu ada buat Sari, bukan ikut campur dalam urusan sari.

Setegar-tegarnya wanita, sekuat-kuatnya dia bertahan, sehebat-hebatnya dia dalam berbagai hal pasti akan ada masa dimana dia jatuh terpuruk dalam kesedihan yang diiringi air matanya sendiri, fase terlemah yang mereka jalani yang belum pernah terlihat dengan jelas dan penuh tanda tanya, dengan menangis mereka mampu mengutarakan rasa yang dia rasakan.

Gue langsung menyalakan alarm pukul lima sore biar nanti nggak lupa buat bangunin Sari. Setelah itu gue juga ikut tidur, itung-itung sebelum kerja puas-puasin aja ngebonya siapa tau barokah.

Baru satu jam gue terlelap hp gue berbunyi, gue menatapnya sekilas ada nama yang tidak asing bagi gue yaitu Andi.

Gue langsung bangun dan bergegas pergi ke balkon.

"Halo dengan Kantor Pajak, ada yang bisa saya bantu?"

"KANTOR PAJAK MATA LO GONDRONG." Balasnya Andi dengan tertawa.

Gue hanya tertawa. "Cari siapa ya Mas?"

"Sarinya ada Pak ?" Tanyanya dengan sedikit jengkel.

"Lo cari Sari kenapa telpon ke gue sih dodol."

"Loh bukannya dia selalu sama lo setiap hari."

"Tau aja kaya dukun lama-lama lo Bro." Balas gue dengan sedikit tertawa.

"Gue terawang dari sini kelihatan Bro."

"Eh masak iya sih?" Gue agak heran.

"Ya nggak lah kampret, lo lagi sakit cinta ya kelihatan amat bodohnya." Andi mulai mengejek gue.

"YOUR MOUTH LIKE A FIREkrackER." Balas gue dengan cepat.

"WAHAHAHAHAHAHA...!" Andi tertawa dengan kerasnya.

"Udah-udah, ada perlu apa sore-sore gini nelpon gue?"

"Ya nggak papa sih Bro, pengen tau kabar lo aja."

"Owh, kabar gue Alhamdulilah baik, la lo sendiri gimana? Kerjanya lancar kan?"

"Kabar gue masih seperti yang dulu, tetep baik dan selalu ganteng, Alhamdulilah lancar Bro."

"Model lo kaya panci kost-kostsan bilang ganteng." Kata gue halus dengan tertawa.

"Lah dari pada lo, model kaya taplak tukang bubur dorong yang mangkal ditepi terminal."

"Ngomong apa sih lo Bro, doyan banget ngebuly gue."

"Ya maaf gue kilaf, Langsung ke topiknya aja ya Bro."

"Iya apaan.?

"Sebentar lagi Dinda balik ke kost, lo harus jemput dia."

Gue langsung kaget. "Kenapa meski gue sih?"

"Lah kan lo yang di Jakarta, masak gue yang di Bekasi harus jemput orang yang turun di Jakarta." Katanya sambil ngomel nggak jelas.

Gue bengong sebentar mencerna perkataan Andi barusan. "Bener juga ya kata lo Bro." Gue tertawa lagi.

"Lo kenapa sih Bro? Lemot amat nggak kaya biasanya, Ada apa lo disana? Baru gue tinggal dua hari udah aneh kaya orang kesambet."

"Nggak papa kok, gue disini aman tentram dan terkendali." Kata gue dengan nada semangat.

"Sampai kapan lo mau bohong sama gue Bro? Gue itu sahabat lo yang paling mengerti tentang lo, sifat-sifat lo, masa lalu lo, mantan-mantan lo, bahkan kasus yang menimpa lo waktu SMK yang celana lo digantung di tiang bendera sama guru penjaskes gue juga tau." Katanya sambil tertawa ngakak.

"Yang terakhir nggak usah disebutin kali Bro." Gumam gue kesel.

"Eh keceplosan guenya Bro." Andi tertawa riang.

"Gimana tadi soal Dinda?"

"Ya lo yang jemput lah, masak gue."

"Emangnya Dinda turun dimana sih?"

"Stasiun Gambir." Balasnya dengan singkat.

"Itu dimana tempatnya?"

"Ya di Gambir lah DODOL, masak di Dolly." Balasnya lagi dengan ketawa pelan.

Gue hanya menggeleng kepala. "Iya gue tau Stasiun Gambir itu di Gambir ONENG, maksut gue dibagian mana Jakartanya dasar ONCOM...!"

Lagi-lagi Andi tertawa. "Jakarta Pusat disebelah timur Monas Bro."

"Nah tinggal jawab gitu aja ribet."

"Iya iya iya." Andi menghela nafas. "Gue udah kabarin Dinda kalau lo yang nantinya njemput dia, gue juga udah ngasih nomor hp lo ke Dinda."

"Lo lo lo lo kapan emang lo ngabarin Dinda?" Tanya gue kaget.

"Tadi sebelum gue telpon lo Bro."

"DASAR KODOK ANGGORA." Kata gue dengan keras.

Andi tertawa lagi dengan penuh kemenangan. "Tolong ya Bro, demi gue lo ini." Katanya sambil merendah.

"Nasi udah terlanjur jadi bubur, mau nggak mau ya harus mau." Balas gue dengan melas.

"Nahhh anak pinter."

Gue tidak membalasnya malah mau bertanya sesuatu ke Andi.

"Bro gue mau tanya."

"Tanya apa Bro?"

"Lo tau cewek yang kamarnya di sebelah parkiran?"

Ada hening ketika gue bilang kamar sebelah parkiran.

"Woii Bro?" Teriak gue pelan.

"Iya gue denger, kenapa lo tanya soal cewek itu?" Tanyanya dengan sedikit curiga.

"Nggak papa cuma tanya aja." Kata gue sambil tertawa.

"Gue saranin lo buat jauhin dia aja Bro, nggak usah ikut campur masalah dia, nggak usah ngedeketin dia, pokoknya usahain deh jauh-jauh pokoknya."

"Loh kenapa emangnya?" Tanya gue kebingungan.

"Sari nggak cerita sama lo ya?"

"Malah Sari yang nyuruh gue cari tau seluk beluk tu cewek."

"KAMPRETT ...! Sari gimana sih, hadeh." Hardiknya dengan pelan.

"Udah jangan ribut, gue akan dengerin apa kata lo Bro." Daripada semakin panjang urusannya gue aja yang mengalah.

"Oke Bro gue pegang janji lo itu." Katanya degan tegas.

"Bro gue mau nanya lagi boleh?"

"Eh Bangkee kebanyakan tanya kaya kuis aja, pulsa gue mepet woi."

"Udah satu aja, lo tau nggak cewek yang ngekost disini wajahnya mirip Ariel Tatum rambutnya panjang, warnanya pirang kaya genteng kelurahan?"

"Serly maksut lo?"

"Namanya ternyata Serly ya, nama yang indah kaya orangnya."

"Woiiii kampret, nggak usah mimpi dapetin dia, dia itu selefel Gadun."

Dan tiba-tiba panggilan kami terputus. Gue udah tau Andi kehabisan pulsa saat nelpon gue barusan. Gue cuma bisa tertawa pelan.

Gue kepikiran soal Serly yang katanya dia selevel dengan Gadun, buat kalian yang baru denger istilah ini mungkin agak sedikit aneh. Gadun ini bisa ditelisik dari beragam persepsi, baik itu masuk ke segi positif, juga bisa masuk ke segi negatif. Gadun bisa diartikan sebagai pria matang, pria dewasa alias om om berbadan boneng yang tajir dan oke punya.


Secara positif perempuan kebanyakan menyukai Gadun, karena pria tipikal ini memiliki kematangan baik secara psikis ataupun finansial. Dan secara negatif kebanyakan mereka adalah sekumpulan orang yang penuh dengan hawa nafsu syahwat yang sukanya boking ayam kampus, biasanya mulai dari ayam pinggiran, ayam kost-kost san, ayam perumahan sampai yang lebih tinggi ayam kantoran. Udah kaya KFC aja gue ngebahas ayam.

Setelah ini gue balik lagi ke kamar Sari dan tiduran disebelahnya lagi. Kali ini posisinya nggak menghadap ke tembok tapi menghadap ke arah gue. Sambil terus menatapi wajahnya yang pulas tertidur nyenyak gue sempat berfikir tentang Sari sejenak. Ada rahasia apa yang lo sembunyiin dari gue Sar sampai lo seperti ini. Batin gue dengan pelan.

Sore ini gue nggak bisa tidur dengan nyenyak sesekali terbangun akibat gerakan tubuh Sari yang dari tadi tidur nggak bisa tenang. Ada saat dimana Sari meluk gue dengan posisi seperti meluk sebuah guling. Ketika itu gue hanya diam dan terus memandangi wajah cantiknya dengan tatapan serius.

"Betah amat ngelihatin gue dari tadi Yu?" Katanya sambil membuka mata.

Gue langsung kaget dan serentak bangun dan merubah posisi duduk disebuah kursi.

"Sejak kapan lo bangun Sar?" Kata gue dengan setengah kaget.

Sari hanya tertawa pelan. "Sejak tadi lah Yu."

"Lo kok nggak ngasih tau gue sih?"

"Karena gue pengen tau reaksi lo ketika gue tidur disamping lo Yu."

Gue mulai bingung dengan omongan Sari barusan. "Maksut lo apaan sih Sar?"

"Ada deh gue jadi tau sesuatu tentang lo." Katanya sambil tersenyum manis.

Gue masih bingung dan nggak ngerti apa maksutnya. "Gue nggak ngerti deh Sar."

"Lo nggak harus ngerti Yu, cukup gue aja yang tau."

Terpaksa gue mengiyakan perkataan Sari yang barusan. "Nggak tidur lagi masih dua jam lebih sebelum lo berangkat kerja lo Sar." Kata gue pelan

Sari menggelengkan kepalanya. "Gue mau tanya serius ni Yu, boleh?" Tanyanya dengan wajah serius.

"Mau tanya apa Sar?"

"Kenapa lo suka sama gue Yu?" Tanyanya dengan tatapan mata yang tajam.

Muka gue langsung mendadak pucat. "Dari mana lo bisa tau kalau gue suka sama lo Sar?"

"Gue bisa ngerasain itu dari diri lo Yu."

Gue hanya terdiam sambil melirik ke arah pintu jendela dengan tatapan yang kacau.

"Eh malah ngelamun, jawab gue Yu." Katanya sambil nyubit paha gue.

"Gue nggak bisa memastikan perasaan gue ke elo untuk saat ini Sar, yang jelas gue selalu nyaman waktu sama lo, gue selalu bahagia saat bersama lo." Jawab gue dengan sedikit senyum yang gue paksakan.

Sari hanya mengangguk pelan memahami perkataan gue barusan.

"Maaf ya Sar, gue kenal sama lo baru beberapa hari, gue juga belum kenal siapa lo sebenarnya bahkan sebaliknya, lo juga belum kenal gue sepenuhnya. Hubungam kita nggak lebih dari sekedar teman biasa."

"Gue ngerti Yu, tapi gue belum bisa untuk saat ini." Katanya degan nada yang ragu.

"Gue tau Sar, gue rela bahkan sangat rela kalau gue hanya lo anggap sebagai teman saja, tapi boleh gue minta satu permintaan ke elo Sar, satu aja bagi gue udah cukup." Kata gue sambil menatap wajahnya dengan serius.

"Apaan Yu?"

"Kalau bisa jangan jauh-jauh dari gue ya Sar, gue akan selalu berusaha buat njaga lo disamping gue."

Sari tersenyum manis ke arah gue. "Itu yang gue harapin dari lo Yu." Katanya sambil berjalan ke arah gue dan tiba-tiba

Cuupp...!!
Sari mencium dahi gue untuk pertama kalinya.

"Terimakasih ya Yu." Katanya sambil memeluk gue lagi dari depan.

Dan gue balas pelukan Sari seerat mungkin, kita berdua terdiam tanpa ada kata yang berbicara, gue merasakan pelukan hangat dari seorang Natasya Febriana. Dan untuk pertama kalinya suasana kost sore ini terasa lebih hangat, jauh lebih indah dari hari-hari kemarin.

Setelah Sari melepas pelukannya, dia pamit sebentar untuk cuci muka ke kamar mandi. Gue masih duduk terpaku di sebuah kursi berwarna kuning keemasan yang menjadi saksi sebuah peristiwa yang indah dalam hidup gue ini.

Ketika Sari udah balik lagi kekamarnya gue menawarkan sesuatu.

"Sar mau es krim nggak?" Tawar gue dengan senyum yang lembut.

"Mau banget Yu." Balasnya dengan wajah senang.

"Tunggu sebentar, gue turun dulu beli di minimarket depan gang ya."

"Gue ikut boleh?"

"Boleh Sar."

Lalu sari berjalan mendekati kaca yang dia gantung di dinding sambil membawa sisir.

"Nggak usah dandan lah Sar, kan deket cuma depan gang doang."

"Gue cuma mau ikat rambut saja Yu."

"Lo nggak usah dandan udah cantik kok Sar, gue lebih suka lihat lo yang natural kayak gini, lebih seger kaya es kelapa." Kata gue sambil tertawa.

"Kan mulai lagi." Katanya sambil mengikat pangkal rambutnya.

"Bercanda kok Sar." Kata gue pelan. "Tapi yang cantik natural tadi beneran gue nggak bercanda."

Sari tersenyum sambil memandang gue dari depan kacanya.

"Gue udah siap ayo jalan." Katanya sambil ngedorong gue dari belakang keluar dari pintu kamar.

Akhirnya setelah mengunci pintu kamar kita berdua turun menuju Minimarket tersebut.

Sambil berjalan gue perhatikan Sari terlihat nggak kaya biasanya, dia berjalan sambil nyanyi-nyanyi sendiri dengan senangnya. Dikarenakan jarak minimarket tidak begitu jauh gue dan Sari hanya membutuhkan waktu sebentar untuk kesana.

Gue mengambil empat buah es krim, dan dua kaleng minuman dingin tidak lupa membeli sedikit camilan untuk di kost nanti.

"Jangan banyak-banyak lah Yu nggak ada yang makan nanti." Kata Sari sambil geleng-geleng kepala.

"Kan bisa di simpan di kulkas dapur." Kata gue sambil masih sibuk memilih.

"Yaudah terserah lo aja deh Yu."

Setelah semua siap gue dan Sari menuju kasir untuk membayarnya.

"Mbak Rokok Malb...... merah satu." Kata gue sambil menunjuk rokok yang tertata rapi di belakang kasir."

Sari langsung memotong. "Rokoknya nggak usah deh Mbak, ganti ini aja." Katanya sambil mengambil sebatang permen mentos yang ada di depan kasir.

"Lo kok nggak usah sih Sar?" Tanya gue kebingungan.

"Udah diem."

Terpaksa gue mengalah dari pada perang lagi dengan Sari. Dan setelah itu kita balik lagi ke kost duduk di area balkon.

"Kalau bisa jangan merokok deh Yu, hilangin kebiasaan lo yang buruk itu."

"Gue udah terlanjur kecanduan lo Sar."

"Kalau lo niat untuk berhenti pasti bisa kok, demi kesehatan lo juga Yu."

"Tapii...."

"Nggak tapi-tapian pokoknya demi diri lo sendiri udah titik."

Gue mendengus kesal.

"Ni sebagai ganti rokok lo." Katanya sambil mengambil permen yang dia pilih tadi.

"Lo kok permen emangnya gue anak TK dikasih permen."

"Bukan dodol, ini itu buat nahan rasa candu lo ketika mulut lo itu pengen hisap rokok."

"Gue nggak yakin Sar."

"Udah pelan-pelan aja pasti bisa."

"Iya deh gue coba nanti."

"Rokok lo masih ada nggak?"

"Ada tu di kamar, masih lima batang kayaknya."

Tiba-tiba sari masuk ke kamar gue dan mengambil rokok gue yang gue letak di atas meja.

"Lho mau di apain rokok gue itu Sar."

"Buang lah, kan lo janji mau berusaha untuk berhenti merokok." Dengan cepatnya dia meremas bungkus rokok gue dan membuang di tong sampah.

Dahi gue hanya mengkerut kaya dasi anak SD dengan tatapan lemas melihat kelakuan Sari.

"Udah nggak usah banyak protes, demi kesehatan lo ini, kalau lo sakit gue nanti yang repot." Katanya sambil tertawa pelan.

"Iya deh iya." Kata gue lemas.

"Eh es krimnya gue makan ya Yu." Sambil mengacak-acak isi plastik minimarket.

"Iya makan aja Sar." Kata gue sambil membuka minuman kaleng yang gue beli tadi.

"Loh kok malah minum, la ini siapa yang makan nanti."

"Ya elo lah masak gue."

"Gila aja gue suruh makan semua."

"Ya kan bisa disimpan di kulkas dapur."

"Hehehehe iya juga ya, mau Yu?" Sambil menyodorkan satu batang es krim ke muka gue.

"Gue nggak suka rasa cokelat Sar."

"Lah kenapa lo tadi milih yang ini." Tanyanya sambil memakan ujung es krimnya.

Gue langsung menarik tangan Sari yang dari tadi asyik memegang es krim rasa cokelat ke arah depan wajah gue, dan tanpa berlama-lama gue gigit ujung bekas gigitan Sari.

Sari hanya diam melihat kelakuan gue.

"Udah nggak usah protes." Kata gue sambil tersenyum.

"Katanya nggak suka rasa cokelat." Tuturnya sambil geleng kepala.

"Asal sama lo Sar gue akan hilangin hal-hal yang gue nggak suka."

"Ciyehhhh jadi baper guenya."

"Gue apalagi Sar."

"Gue beruntung bisa ketemu orang-orang baik seperti kalian, Andi , Dinda, dan elo Yu. Kalau dulu gue nggak ngekost disini entah gimana kehidupan gue yang sekarang, nggak kenal kalian nggak bisa deket sama kalian seperti yang gue rasakan saat ini." Katanya sambil menatap langit yang cerah di ujung balkon.

"Berarti lo nggak nyesel kan kenal sama gue?" Tanya gue sambil sedikit tertawa.

"Nggak kok Yu, gue malah seneng bisa kenal sama orang baik seperti lo."

"Bahkan jika lo tau tentang masa lalu gue lo masih terima gue sebagai temen lo Sar?"

Sari masih terdiam dan belum menjawab pertanyaan gue barusan. Dia malah berbalik bertanya dengan pertanyaan yang sama.

"Sebaliknya Yu, jika lo tau tentang masa lalu gue apakah lo masih mau berteman sama gue?" Tanyanya dengan wajah yang serius.

"Gue terima lo apa adanya Sar, gue nggak memandang dari segi masa lalu lo." Kata gue dengan jawaban yang serius.

"Gue nggak yakin." Katanya sedikit lemas

"Loh kok gitu sih Sar."

"Masih terlalu awal buat ini Yu, belum saatnya."

Gue hanya tersenyum pelan tanpa membalasnya.

Dan tiba-tiba gue dan Sari terkejut ada suara langkah kaki dari arah bawah.

Dan secara bersamaan gue dan Sari menatap bersamaan ke arah batas tangga.

"Eh ganggu kalian ya." Serly berdiri di ujung tangga dengan membawa peralatan mandinya.

"Nggak kok Ser." Kata Sari dengan tersenyum.

"Gue numpang mandi di atas ya Sar, dibawah penuh soalnya."

"Iya Ser pake aja kan nggak ada orang."

"Okee makasih banyak ya Sar, gue mandi dulu ya." Serly lalu berjalan masuk ke kamar mandi.

"Iya Ser." Balas Sari dengan santai.

"Siapa tadi Sar?" Tanya gue

"Kenalan sendiri lah." Balasnya dengan wajah cemberut.

"Nggak ah gue nggak minat."

"Alah gaya lo."

"Sumpah deh Sar, nggak minat sama yang model begituan."

"Kenapa emang?"

"Bedaknya mahal." Kata gue sambil tertawa.

"Jangan keras-keras nanti dia denger."

"Biarin dia tau sekalian." Kata gue sambil ngakak.

"Gue kasih tau ke Serly ya Yu."

"Jangan Sar, gue cium lo nanti."

"Emangnya berani?" Tanyanya ke gue sambil menaikan alisnya.

"Enggak." Kue ketawa jahat.

"Omong aja yang gede." Ledeknya dengan tertawa ngakak.

"Nat...!" Panggil gue dengan sedikit tertawa.

"Lo manggil siapa Yu?" Tanyanya dengan kebingungan.

Gue hanya tertawa sendiri sampai Sari bingung dengan tingkah gue hari ini.

"Gue manggil lo lah Sar."

"Gimana ...gimanaaa coba ulangin lagi?"

"NAAATT....!"

Sari tertawa dengan kerasnya. "Kok gue jadi geli ya Yu."

"Geli kenapa Sar?"

"Ya geli pokoknya, seumur umur gue nggak pernah dipanggil dengan nama itu."

"Gue panggil pakek nama itu boleh Sar?"

"ENGGAK." Jawabnya sambil geleng-geleng kepala.

"Loh kenapa Sar?"

"Sari aja gue lebih seneng pakek nama itu."

"Oke deh terserah lo aja." Kata gue sambil menghela nafas.

"Sar nanti pas kerja mau gue anter nggak?"

"Nggak usah deh Yu, orang deket kok."

"Kalau gue tetep ngotot gimana?"

Sari menghela nafas. "Yaudah deh terserah lo aja Yu."

"Tapi jalan kaki aja ya." Kata gue sambil tertawa.

"Iya iya terserah lo aja."

"Kita nikah yuk Sar."

"Iyaa iya ter...." Sari tidak melanjutkan perkataannya dan memukul lengan gue dengan kerasnya.

"Woii sakit Sar, gila lo ya."

"Lo tu yang gila Yu."

"Habisnya dari tadi terserah terus."

"La gue mesti jawab apa coba?"

"Terserah lo aja deh Sar." Kata gue dengan tawa penuh kemenangan.

Sari tak habis-habisnya mukuli lengan tangan gue dengan kerasnya.

Saat terdengar suara pintu kamar mandi terbuka kita terdiam sebentar.

"Kalian berisik banget ya, kedengeran lo dari dalam." Serly berjalan menghampiri kami sambil mengeringkan rambut pirangnya.

Sari hanya tertawa. "Maaf Ser emang di atas suka ricuh."

"Enak juga ya punya kamar diatas."

"Iya betul Ser, diatas kamarnya cuma tiga, jadi nggak terlalu berisik."

"Andi kemana Sar?" Tanyanya Serly sambil duduk disamping Sari.

"Andi keluar kota Ser, biasa masalah kerjaan."

"Loh kapan emang? Gue kok nggak dikabarin sih."

"Hari minggu kemarin Ser."

"Owh sialan tu Andi, maen pergi nggak ngabarin gue." Hardiknya Serly kesal

Sari hanya tersenyum. "Kaya lo nggak tau aja sifatnya Andi Ser."

"Hmmmm iya juga ya Sar."

Ditengah obrolan mereka gue hanya diem mirip patung pancoran yang terabaikan. Nggak diajak bicara sama sekali, udah nasib emang.
Diubah oleh agungwahyudi25 29-03-2019 20:25
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.