Kaskus

Story

agungwahyudi25Avatar border
TS
agungwahyudi25
Sadness And Sorrow Full Stories
Gue selalu percaya dan yakin bahwa disetiap kehidupan ini nantinya akan ada sesuatu hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya, entah itu musibah atau anugerah semua tersimpan rapi dalam rahasia Tuhan. Roda kehidupan pasti akan selalu berputar, terkadang kita berada diatas, dan terkadang lagi kita berada dibawah.

Setiap orang pastinya memiliki peranan masing-masing dalam kehidupan yang sedang kita jalani ini. Ada yang datang sebentar kemudian pergi hilang entah kemana, ada juga yang selalu hadir untuk menguatkan ujian dalam hidup ini, menopang semangat untuk meraih mimpi-mimpi kita. Semua orang memiliki kriterianya sendiri, yang jelas gue ucapkan banyak terimakasih untuk semua yang pernah hadir dalam kehidupan gue, ataupun yang akan datang dalam kehidupan gue nantinya.

Cerita ini berawal dari tahun 2013, dimana gue adalah orang yang masih awam belum mengerti tentang arti kehidupan yang sebenarnya, masih berfikir secara labil dalam menghadapi suatu masalah. Wajar hari ini gue baru lulus dari SMK, rencananya setelah ijasah keluar, gue memutuskan untuk pergi merantau mencari pekerjaan di Jakarta ikut sahabat gue.

Setelah menunggu sekian lama, ijasah gue keluar juga, gue menyibukkan diri untuk mempersiapkan semuanya. Dari membeli tiket, melegalisir ijasah, nulis lamaran dan sembarang tetek mbengeknya.

Singkat cerita sore ini gue sudah dalam perjalanan ke Stasiun untuk berangkat ke Jakarta. Semua persiapan sudah beres, akhirnya gue melangkah masuk ke gerbong untuk mencari kursi yang tertulis sesuai nomor yang tertera dalam tiket.

Diperlajanan ini gue selalu membayangkan sesuatu, tentang kehidupan baru yang akan gue mulai dari sekarang, gue selalu berharap dan berdoa agar nantinya akan ada sesuatu yang menyenangkan, yang menghiasi kehidupan baru gue.

Setelah melakukan perjalanan yang sangat lama, dan akhirnya malam ini baru sampai di Stasiun Senen, dengan wajah yang kusam, capek, semrawut, amburadul gue duduk disebuah kursi ditepi jalan sambil menyalakan satu batang rokok. Gue sengaja istirahat sebentar untuk melepas lelah sambil menatap keindahan malam Kota Jakarta. Wajar jika gue terheran-heran atau bahkan kaget dengan kota ini, soalnya baru pertama kali ini gue kesini.

Setelah istirahat beberapa menit gue mencari angkutan umum, yang nantinya akan membawa gue ke sebuah kost-kostan yang terletak di Jakarta Selatan tepatnya di Kebayoran lama. Disana sudah ada sahabat gue yang menunggu, berbekal sebuah alamat akhirnya gue putuskan memesan sebuah taxi malam ini,  karena kata sahabat gue dari Stasiun Senen ke Kebayoran Lama naik turun angkutan umum, gue disuruh naik taxi  malam ini.  Soalnya gue baru pertama kali takut kalau nyasar.

Suasana yang masih begitu ramai, kendaraan lalu-lalang berhamburan disetiap jalan mata memandang. Setelah cukup lama akhirnya gue sampai juga disebuah gang dengan alamat yang diberikan sahabat gue Andi lewat sebuah pesan.

"Beep Beep Beep Beep" Hp gue bergetar...

Ternyata Andi sedang menelpon, langsung gue angkat.

"Eh lo udah sampai mana bro?" Tanyanya lewat telepon.

"Baru aja nyampek, nih di gang depan kost lo, kesini kek jemput gue." Balas gue pelan.

"Wah umur panjang lo, oke tunggu sebentar, gue jalan kesana bro."

"Oke siyap gue tunggu."

Andi langsung mematikan telepon secara sepihak.

Dan tidak lama kemudian Andi datang berjalan menuju gang pembatas tepat dimana gue berdiri. Terlihat dari jauh Andi berjalan menuju kesini.

Andi menepuk bahu gue. "Wah akhirnya sahabat gue datang juga. Apa kabar lo bro?" Tanyanya dengan wajah gembira.

Gue tersenyum. "Alhamdulilah gue sehat bro. Iya nih perjalanannya lama, ngeselin, capek, udah lama banget gue nahan lapar ini bro." Gue mengusap perut gue sendiri.

"Lo mau gak yang enak dimata kenyang diperut?" Andi menawarkan sesuatu ke gue.

Gue mengangguk pelan. "Ya maulah, tapi lo yang bayarin ya?" Sambil senyum ala-ala melas gue kedipin mata ke arah Andi.

"Okelah untuk malam ini nggak papa, karena lo baru nyampek jadi puasin aja makannya." Katanya dengan santai.

Akhirnya gue diajak kesebuah Restoran ditepijalan entah apa namanya gue lupa, kelihatan ramai pengunjung malam ini. Setelah mencari meja kita duduk sambil memilih menu makanan yang kelihatannya cocok untuk selera makan malam ini. Sumpah gue udah gak tahan, cacing di perut gue udah menari-nari ala samba dari tadi.

Tiba-tiba ada seorang mbak-mbak waiters cantik berpostur gitar somalia dengan rambut sebahu, berkulit putih yang datang menghampiri meja kami.

"ANDIIII...!" panggilnya dengan nada keras.

"Eh Sari, Kebetulan nih ada lo,  makan ada yang bayarin malam ini."

"Enak aja lo Ndi, emangnya ini punya bapak gue?" Tuturnya sewot sambil nonjok lengan kiri Andi.

Andi hanya tertawa. "Ah lo ini gak kenal gue aja, gue cuma bercanda kali Sar, jangan ngegass napa sih." Andi menghela nafas.

"Iya-iya Ndi gue paham, buruan mau pesen apa? Keburu habis entar nangis." Mbaknya ketawa pelan.

Ketika ada kesempatan gue langsung nyaut pembicaraan mereka berdua. Padahal kenal juga enggak main saut aja kaya kompresor. Gue keburu lapar soalnya.

"Gue pesen nasi goreng ayam,  minumnya es teh manis, gak pakek lama ya mbak." Sambil mengangkat jari keatas dengan muka semrawut dengan senyum yang agak kecut.

Andi menatap gue heran. "Eh ni anak kenal aja belum main nyaut aja kaya TV." Andi ketawa pelan sambil ngedipin mata ke arah gue.

Gue menghela nafas panjang. "Kenalan kan bisa nanti bro, yang penting kita makan dulu, udah lapar banget bro." Tutur gue lemas.

Mbaknya ikut tertawa. "Tu bener dengerin temen lo itu." Sambil mukul kepala andi dengan bolpoin miliknya.

"Kalian kroyokan sih, kalah lagi kan gue, yaudah samain aja Sar pesenan gue, ingat ya GPL." 

"Oke ditunggu ya." Sambil menulis di selembar kertas dan bersiap-siap beranjak pergi.

Dan akhirnya waiters cantik tadi pergi meninggalkan kami berdua.

"Eh bro gue mau tanya, lo kenal dengan mbak yang tadi itu?" Tanya gue penasaran.

"Kenal lah bro, itu mbaknya ngekos di sebelah kamar gue, cantik ya orangnya?" Tanyanya dengan ekspresi mesum.

"Yang bener bro? Pantesan lo betah di Jakarta ini alasannya, lumayan cantik sih diatas standart rata-rata." Jawab gue dengan ketawa nakal.

"Bener lah ngapain juga bohong, lo lihat aja nanti kalau perlu lo tungguin depan kamarnya."

"Ogah lah ngapain juga? Mending tidur udah capek."

Andi mendekatkan kepalanya ke arah gue. "Awas ya kalau nanti gue keluar ngobrol sama Sari lo jangan ikut." Sambil ketawa jahat ngedipin mata genitnya dua kali ke arah gue lagi.

Gue melambaikan tangan. "Ya tidak bisa, gue harus ikut biar tau perkembangan dan keamanan kost kita nanti." Jawab gue dengan nada tinggi.

Andi melototin gue. "Mau jadi hansip lo?" Tanyanya ngegass.

Gue jitak jidatnya Andi. "Hansip gundolmu."

Setelah setengah jam kita menunggu, tidak lama ditengah-tengah pembicaraan kita berdua yang tidak berpaedah ini, mbak waiters tadi datang mengantarkan pesanan kami.

"Pesanan sampai mas, pesanan sampai." Sambil ketawa nggak jelas Sari menaruh piring dan gelas di meja kami satu persatu.

Andi menggelengkan kepalanya. "Buset lama banget ya, masak di Kairo ya?" Tanya Andi dengan nada enteng.

"Iya nih mbak lama amat." Gue juga ikut ngomporin biar semakin panas.

"Maaf ya tadi rame, orderan numpuk, nih buruan dimakan jangan bawel kaya ibu kost, gue balik dulu disana masih ada kerjaan, sampai jumpa di kost nanti ya." Sari melambaikan tangan dan pergi meninggalkan kita berdua.

Dan kamipun menjawab "Iya" secara spontan, dan setelah itu kita makan seperti orang yang kelaparan. Wajar gue udah nahan lapar hampir beberapa jam, dan ini saatnya melampiaskannya. Rasa masakannya juga lumayan enak, suasana malam yang tenang dan damai, ditambah pemandangan dengan waiters yang kebanyakan perempuan semua. Ini mungkin yang dimaksut Andi yang enak dimata kenyang diperut. Batin gue.

Setelah selesai makan kita berjalan lagi menuju kost yang nantinya jadi tempat tinggal gue disini. Jaraknya tidak begitu jauh, tinggal nyebrang jalan besar,  masuk gang sempit, belok kiri sedikit, lurus kedepan, sampai deh di gerbang kost.

Kalau gue lihat kost disini campur, dilantai bawah kira-kira ada sepuluh kamar, dua dapur dan dua kamar mandi. Dan di lantai dua ada tiga kamar satu dapur dan satu kamar mandi. Kata Andi rata-rata penghuninya adalah anak kuliahan dan sebagian ada yang sudah berumah tangga. Tapi katanya Andi juga disini banyak ayam kampusnya, yang rata-rata berkedok sebagai Lady companion, Tau nggak apa itu ayam kampus? Ayam yang berpendidikan tinggi kebelet mengejar gelar sarjana. Garing banget ya? Yaudah kembali ke cerita.

Setibanya di depan kamar, Andi menunjukkan sesuatu ke gue.

Andi membuka pintu berdiri didepan gue. "Oke anak baru ini kamar kita, jangan lupa dijaga kebersihannya, setelah selesai merokok jangan buang sembarangan, masukkan ke dalam asbak yang sudah disediakan, gantung handuk basah selesai mandi disini, bangun tidur jangan lupa lipat selimut, dibersihkan dan dirapikan." Sambil bergaya ala dosen killer Andi melototin gue sambil nyengir kaya kesurupan siluman kuda nil.

Gue mengangguk pelan. "Mengerti pak dosen, ada lagi?" Gue pura-pura bertanya.

"Udah cukup itu aja bro, jangan bersih-bersih amat lah, yang penting nyaman." Tuturnya ngeselin.

Gue sudah tau sifat dan perilaku sahabat gue yang satu ini, memang dia kalau bicara suka ngasal, asal nyolot sana nyolot sini, tapi dibalik itu semua dia adalah lelaki yang pintar, rajin menjaga kebersihan dimanapun dan kapanpun. Dan yang gue suka dari Andi adalah  sifat humorisnya yang bikin suasan jadi lucu. Meski terkadang agak nyebelin tapi dia tetap menjadi sahabat gue yang selalu ada buat gue.

Malam ini terasa sangat melelahkan, setelah selesai berkemas barang bawaan, gue mau pergi mandi untuk hilangkan bau badan gue. Badan udah lengket kaya perangko gerah pokoknya amburadul.

Setelah selesai mandi gue sebenarnya udah capek mau cepat tidur, tapi gue masih penasaran dengan Sari yang katanya kamarnya ada disebelah gue ini. Dan tiba-tiba Andi menawarkan sesuatu ke gue.

Sambil membuka sebuah toples warna cokelat dia mendekati gue. "Bro gue bikinin coklat panas ya?lo mau kan?" Tawarnya ke gue.

"Gak usah repot-repot bro, satu gelas coklat panas kurang manis ya?" Gue naikin alis ke arah andi sambil mringis gak jelas kaya orang gila.

Andi menghela nafas. "KAMPRET.!" Katanya dengan keras.

"Cepetan buatin bro. Tunggu apa lagi?" Perintah gue sambil ngegass.

"Your jump is jumping down." katanya sambil melototin gue.

Gue hanya tertawa sambil tiduran dikasur. "Ikhlas gak ni? Bawel amat kaya wartawan lo bro."

Dia berdiri dan mulai melangkah pergi. "Iya iya iya ini lagi mau jalan, dasar biawak mesir." Sambil jalan keluar kamar dia ngatain gue sekali lagi.

Jadi di kost ini, kalau mau buat mie  instan atau kopi panas setidaknya kita perlu memasak air didapur terlebih dahulu. Namanya juga anak kost, hidup serba adanya memang sudah biasa.

Sambil menunggu Andi membuat coklat panas, gue duduk di balkon sambil menghisap sebatang rokok favorit gue. Menikmanti suasana malam pertama yang sepi damai dan tenang, rasa ngantuk seakan mulai hilang perlahan. Hembusan angin malam ini yang nikmat hadir dikala gelap dibawah sinar rembulan yang bercahaya.

Andi berjalan keluar dari dapur membawa sebuah loyang berukuran sedang. "Nih coklat lo bro, hati-hati masih panas." Sambil nyodorin gelas ke arah gue.

Gelas yang diberikan tadi gue letak di atas lantai. "Terimakasih Mas Andi, masnya memang baik deh." Gue terkejut masih ada dua gelas lagi diatas loyang. "Lo kok bikin tiga? coklatnya satunya buat siapa?" Gue penasaran.

Andi menggelengkan kepalanya. "Baru tau ya kalau gue orang baik? Kemana aja si bang? Ya buat siapa lagi kalau bukan Sari bro." Andi menjawab dengan nada datar.

"Udah tau dari jaman dulu kali bro, perhatian amat lo sama Sari, jangan-jangan Sari pacar lo ya?" Goda gue pelan.

"Heh bangau darat, kalau ngomong yang bener dong, sebelum ada lo disini, kita bertiga sering beginian tau, bikin cokelat, ngrumpi bareng sampai tengah malam, ngomongin orang, ngebahas perkembangan korupsi di indonesia, udah kaya ibu-ibu PKK aja bro."  Andi ketawa keras sambil menarik hidungnya sendiri.

Gue terdiam sejenak. "Bertiga ? Satunya lagi siapa bro?" Gue bertanya terheran-heran.

"Satunya namanya Dinda, dia bulan ini  balik kampung ke Bandung, itu tu kamarnya." Sambil menunjuk ke kamar yang ada didepannya Sari.

"Jadi selama ini lo hidup bertiga dong sama Sari dan Dinda?" Tanya gue penasaran.

"Iya mau gimana lagi, kita udah temenan akrab bro, sama-sama merantau, sama-sama bersahabat, saling tolong menolong." 

"Enak banget hidup lo ya bro." Kata gue.

"Namanya juga rezeki anak sholeh bro." Sambil meminum segelas coklat Andi nyengir ke gue.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari anak tangga dari arah bawah, sepertinya ada seseorang yang akan naik. Dan ternyata benar Sari sudah pulang ke kost.

Dengan baju berseragam waiters dan sebuah tas kecil yang dia gantung di lengan kanannya Sari berjalan menghampiri kita berdua. "Halo semuanya mas mas ganteng." Tanpa dosa dia melambaikan tangan ke arah gue dan Andi.

Andi melempar tisu ke arah sari. "Eh baru aja diomongin udah nongol, kaya hantu aja lo Sar."

Sari meletakkan tas kecilnya di kursi dan duduk disamping gue. "Kalian habis ngomongin gue ya? Ngomongin apa sih?" Sari menatap kami dengan pose wajah yang manyun seakan ingin tau tentang obrolan kami barusan.

"PD amat sih lo Sar, siapa juga yang ngomongin lo." Jawab Andi dengan nada datar.

Kepala Andi celingukan ke arah gue dan kearah Sari. "Eh kalian diem aja kaya patung pancoran,  kenalan kek, apa kek, kan pada belum kenal? Masak gue yang ngenalin." Andi seakan memberi kode lewat alis yang dia mainkan naik turun dan sikutan pelan ke badan gue.

Dengan spontan gue langsung ngulurin tangan ke arah Sari yang ada disamping gue.

"Nama gue Wahyu, sahabatnya Andi mbak salam kenal ya." Gue sambil tersenyum

Dan Sari membalas dan menjabat tangan gue. "Gue Sari mas, temen kostnya Andi juga, salam kenal juga ya." Dia tersenyum lembut kearah gue.

Dan Andi mulai berulah lagi, candaannya yang receh membuat kami bertiga tertawa terpingkal-pingkal.

Andi berdiri sebentar. "Dan gue Andi temennya Sari dan Wahyu anak kost sini juga." Dia memperkenalkan diri dengan gaya banci dangdut dorong dengan nada yang khas.

Gue menarik tangan Andi untuk duduk lagi. "Gue belum selesai bro kenalannya." Sahut gue.

Dan tanpa gue sadari Sari kembali bertanya lagi ke gue.

"Mas Wahyu baru sampai ya? Rumahnya mana?" Tanyanya ke gue.

Gue tersenyum sebentar. "Iya mbak tadi baru sampai, terus mampir restoran tadi ketemu mbaknya. Saya asli surabaya mbak tetanggaan juga sama Andi. La mbaknya asli mana?" Gue balik bertanya.

Sari mengangguk pelan. "Ohhh iya mas yang tadi kan, saya asli Jogjakarta mas."

Andi langsung nyaut obrolan gue lagi, memang kampret ni anak satu.

"Gak usah mas mbak an kaliiii, lebay lo pada." Lagi-lagi kita tertawa bersama terpancing candaannya Andi yang receh lagi.

"Iya iya bro jangan bawel." Dengan nada lemas gue mencoba turuti Andi.

"Baik pak guru." Dan Sari langsung ikut-ikutan menganggukkan kepalanya dua kali ke arah Andi.

Sambil menunjuk ke satu gelas."Eh itu coklat panas lo Sar, buruan minum gih keburu dingin." Suruhnya Andi.

Sari lalu mengambil gelas tersebut. "Terimakasih Ndi lo emang temen baik gue." Sari mencoba memujinya.

"Kemana aja sih lo selama ini Sar? Tidur lo?" Lagi-lagi dia ketawa jahat didepan Sari, spontan kita bertiga ikut tertawa bersama-sama.

"Iya iya iya bossss, eh gue mandi dulu ya, kalian jangan tidur dulu, nanti gue gabung lagi." Sari berdiri dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.

Tidak lama lagi dia keluar membawa pakaian ganti dan handuk yang digantung di pundaknya, berjalan santai masuk menuju kamar mandi melewati kita berdua.

"Jangan lama-lama mandinya Sar." Teriak Andi.

"Bawel lo." Sari menjulurkan lidah ke arah Andi."

Secara tidak langsung gue tertawa melihat tingkah konyol mereka berdua. Kalau gue perhatiin mereka kaya kucing dan tikus atau lebih tepatnya Tom and Jerry yang gak bisa akur. Tapi disisi lain mereka terlihat sangat dekat seperti saudara kandung sendiri. Gue disini masih baru dan belum mengenal Sari sepenuhnya. Tapi gue yakin lambat laun nanti kita akan menjadi teman yang sangat dekat, bahkan begitu dekat.

Andi merogoh saku celananya. "Gue mau turun beli kacang buat camilan, lo nitip gak?" Tanyanya ke gue.

"Rokok Malb...... satu bungkus bro, yang warna merah ya, ni gue tambahin buat beli camilan yang lain." Gue mengulurkan uang ke tangan andi.

"Oke tunggu sebentar bro, lo jangan kemana-mana nanti Sari kesini nyariin lo awas kalau gak ada." Perintahnya sewot.

Gue hanya bisa menggeleng kepala. "Wartawan amat sih lo bro, buruan pergi lah." Gerutku padanya.

Andi berjalan menuruni tangga untuk pergi kesebuah minimarket yang letaknya tidak jauh dari kost ini. Paling jalan sekitar 10 menit juga sudah sampai.

Dan gilanya sudah hampir setengah jam Andi belum juga kembali, gue coba telpon hp nya tapi gak dibawa, ternyata di cas didalam kamar. Kampret batin gue.

Lalu terdengar orang yang sedang membuka pintu.

Krekk.........

"Yu Wahyu, Andi mana?" Dengan gulungan handuk dikepalannya Sari berjalan menuju kamarnya.

"Pergi ke Alf........  katanya cari kacang buat ngemil Sar, hampir setengah jam lo, padahal Alf.... cuma depan gang sana tidak jauh kan?" Tanya gue ke Sari.

"Andi memang perginya suka lama Yu, gue pernah nitip nasi sama Andi, sampai gue ketiduran sangking lamanya nunggu dia pulang. Gue masuk kamar bentar ya Yu."

"Iya siap Sar." Jawabku padanya.

Beberapa menit kemudian Sari sudah siap ganti baju, dan duduk lagi disamping gue. Sungguh terlihat sangat cantik Sari malam ini. Tubuh yang agak kecil dengan rambut sebahu yang diurai berterbangan ditiup angin malam ini. Aroma yang khas dari bau parfumnya begitu segar dan wangi.

"Kira-kira kemana ni bocah ya Sar?" Tanyaku lagi.

"Mana gue tau Yu, emang Andi lagi sama gue apa?" Sari berbalik tanya ke gue.

"Bener juga ya." Gue menepok jidat gue sendiri.

Seketika itu kita terdiam sebentar sambil mencari obrolan yang berbobot nilai tinggi, mencari topik pembahasan yang enak buat dirundingkan malam ini. Kita mungkin agak malu karena baru aja kenal, gue hanya memilih pertanyaan yang sewajarnya saja. Yang bersifat terbuka tidak yang aneh-aneh. Agar untuk kedepannya kita bisa menjadi teman akrab bahkan sahabat dekat yang selalu ada kapanpun dan dimanapun.

0
964
11
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.