- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Catatan:
1. Mengacu pada aturan main forum H2H dan SFTH
2. 95% Semua tokoh/karakter di cerita ini sudah memberikan izin
3. Sikapi dengan bijak apa yang tertuang disini
4. Jangan meminta lebih dari apa yang sudah diberikan
5. Sopanlah dalam berkomentar
6. Saling menghargai TS, penulis dan sesama kaskuser disini
1. Mengacu pada aturan main forum H2H dan SFTH
2. 95% Semua tokoh/karakter di cerita ini sudah memberikan izin
3. Sikapi dengan bijak apa yang tertuang disini
4. Jangan meminta lebih dari apa yang sudah diberikan
5. Sopanlah dalam berkomentar
6. Saling menghargai TS, penulis dan sesama kaskuser disini
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
BAB I & BAB II
BAB III & BAB IV
***
Tralala_Trilili
PROLOG
BAB V
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15- continues
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
***
SEBELUM CAHAYA
PART I
PART II
PART III - The Ghost of You
PART IV
PART V
PART VI
PART VII
PART VIII
Cooling Down
PART IX
PART X - continues
PART XI
PART XII
PART XIII
PART XIV
PART XV
PART XVI
PART XVII A
PART XVII B
PART XVIII
PART XIX - continues
PART XX
PART XXI
PART XXII
PART XXIII
PART XXIV
PART XXV
PART XXVI
PART XXVII
PART XXVIII
PART XXIX
PART XXX
PART XXXI
PART XXXII
PART XXXIII
PART XXXIV
PART XXXV
PART XXXVI - continues
PART XXXVII
PART XXXVIII
PART XXXIX
Vor dem Licht XL - Das Ende
***
BAB V
PART 21
PART 22
Tentang Rasa
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
Von Hier Wegfliegen
Teils Eins - Vorstellen
Teils Zwei - Anfang
Teils Drei - Der Erbarmer
Teils Vier - Von Hier Wegfliegen
Lembayung Senja
Bagian Satu
Bagian Dua
Bagian Tiga
Bagian Empat
Bagian Lima - continues
Bagian Enam
Bagian Tujuh
Bagian Delapan
Bagian Sembilan
Bagian Sepuluh - continues
Breaking Dawn
One Step Closer
Ascension
Throwback Stories
Life is Not Always Fair
Dusk till Dawn
Awal Semula
Untuk Masa Depan
Terimakasih
Omong Kosong
Kepingan Cerita
Menyerah
Restoe
Rasanya - Rasain
Pengorbanan
Menuju Senja
Kenyataan
Wiedersehen
Cobalah untuk Mengerti
Pengorbanan
Tentang Kita
SIDE STORY
VFA
Daily Life I
Daily Life II
Maaf NEWS
Tentang MyPI
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
Kutip
8.8K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#8256
Throwback Stories
KENYATAAN
Quote:
Quote:
Hari sabtu. Dimana ungkapan 'malam minggu kelabu'benar-benar terjadi secara harfiah.
"Sebelumnya kami ucapkan maaf kalo kedatangan kami ini membuat repot dan mungkin cukup mendadak untuk keluarga Bapak Gusti. Tapi insya Allah kami kesini berniat baik", ucap Om gua yang duduk bersebelahan dengan Bapak.
Ibu, Nenek, Tante dan Kinanti berada di sofa panjang dekat mereka. Sedangkan gua duduk pada bangku plastik dekat pintu.
Di rumah ini kami bertamu untuk meminang anak wanita dari seorang Bapak yang bernama Gusti Hermansyah. Sang anak yang sering gua panggil Mba Yu itu berada di kamarnya, ditemani Adik perempuannya yang baru saja menikah. Adik iparnya yang juga sahabat gua Rekti duduk bersebelahan dengan mertua lelakinya itu.
"Ya saya sempat kaget juga kata Gendis keluarganya Mas Agha mau datang ke rumah. Saya tanya memang ada apa ? Dia bilang dia mau dilamar. Benar begitu, Pak ?", tanya sang kepala rumah tangga itu kepada Om gua.
"Benar, Pak. Jadi memang kedatangan kami dan saya ini Om nya Agha sebagai perwakilan almarhum Bapaknya ingin mengutarakan niat untuk keponakan saya. Insya Allah Agha ingin melamar dan menikahi anak Bapak yang bernama Gendisa itu. Dan ini yang disebelah saya adalah Bapak tirinya", jawab Om gua seraya memperkenalkan Bapak gua.
Kepala keluarga itu hanya mengangguk tanpa tersenyum kepada Bapak gua. Sama seperti dari awal kedatangan kami.
"Bapak bilang tadi niatnya baik datang bertamu ke rumah saya. Yang ingin saya tanyakan pertama. Bukankah keponakan Bapak itu sudah menikah dan masih beristri ? Atau sudah cerai ?". Semakin dingin nada bicara Beliau.
"Iya, Pak. Betul Agha keponakan saya masih memiliki istri dan belum bercerai. Tapi sebelumnya kami semua, termasuk Gendisa anak Bapak sendiri sudah mendiskusikan masalah itu. Istrinya Agha mengizinkan dan Gendisa sendiri menerima tanpa dipaksa siapapun", jawab Om gua dengan nada yang tetap ramah.
Beliau menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan sedikit kasar sambil menatap gua.
"Itu artinya kamu ingin menjadikan anak saya sebagai istri kedua. Begitu, Gha ?", tanyanya kali ini kepada gua.
Gua mengangguk. "Iya, Om. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Om dan keluarga Om, saya memang ingin menikahi Gendis. Saya sudah bicarakan soal ini dengan istri saya, dan sebenarnya ini juga keinginannya sendiri. Dia sudah bicara baik-baik kepada Gendis. Dan apa yang Om saya katakan tadi benar adanya. Gendis setuju dan ma..".
"Punya modal apa kamu ?", ucapan gua dipotong oleh Beliau.
Nada bicara yang sebelumnya dingin kini jelas terdengar sinis. Suasana di ruang tamu rumahnya ini semakin tidak enak dari sebelumnya. Keluarga gua pun hanya bisa terdiam.
"Rumah mewah ? Uang banyak ? Pekerjaan yang hebat ? Lantas karena itu kamu mau poligami ? Begitu, Gha ?", lanjut Beliau.
"Bukan. Bukan karena itu semua, Om. Saya meminta maaf kalo Om sudah merasa tersinggung karena lamaran ini. Saya berni..". Lagi-lagi Beliau memotong penjelasan gua.
"Lalu karena apa kamu berani poligami ? Hm ? Apa kamu yakin bisa adil ? Apa akhlak mu baik ? Apa ibadah mu sudah sempurna ? Atau kare...".
"Maaf, Pak! Anak saya memang bukan anak yang sempurna", tersulut sudah wanita yang selalu melindungi gua selama ini. Ibu gua itulah yang memotong ucapan Papahnya Mba Yu. "Dia memang belum bisa menyempurnakan ibadahnya, atau akhlaknya mungkin juga belum baik. Tapi saya tau anak saya mampu membimbing istri-istrinya ke jalan yang diridhoi Allah! Mereka akan sama-sama belajar ketika nanti sudah berumah tangga. Malah mungkin nanti anak Bapak yang akan diajari bagaimana beribadah dengan benar oleh istirnya Agha!", lanjut Ibu menyindir keras.
"Ibu ini sadar atau tidak sebenarnya dengan apa yang Ibu katakan itu ?! Ibu kan seorang perempuan! Saya tidak terima anak saya dijadikan istri kedua! Dipoligami! Apalagi ternyata tujuan sebenarnya sampai menjadikan dia pembantu!", balas Beliau tak kalah emosi kepada Ibu.
"Apa maksud Bapak menjadikan pembantu ?!", ucap Bapak gua kali ini dengan sangat terkejut sama seperti kami semua yang sudah mendengar kalimat terakhirnya itu.
"Kita semua tau istrinya Agha itu sakit! Tidak bisa punya anak dan lumpuh! Dan anak saya yang harus merawatnya! Itu kan tujuannya ?! Ngerawat orang sakit yang gak bisa apa-apa! Ini sama aja penghinaan buat saya!", jawabnya emosi.
Praakk!!! Gua banting kursi plastik yang sebelumnya gua duduki ke pintu rumah yang berada disamping.
"JAGA MULUT ANDA!", teriak gua seraya menunjuk wajahnya dari jarak beberapa meter.
Apa yang gua lakukan itu membuat Ibu tidak jadi menampar Papahnya Mba Yu. Kemudian Rekti ikut bangun dari duduknya.
"Heh, Gha! Sopan Lu sama orangtua!", ucap sahabat gua itu tidak terima Papah mertuanya diperlakukan tidak sopan oleh gua.
Gua terkekeh lalu tersenyum sinis. "Ngomongin kesopanan si Anj*ng! Eh bangs*t! Gua sama keluarga gua datang kesini baik-baik! Dari awal gua liat muka Bokap mertua Lu udah gak enak! Sekarang Lu nyuruh gua sopan setelah tadi dia ngehina istri gua! Anj*ng Lu! Sini keluar! Sekalian sama Bokap mertua Lu itu! biar gua ajarin kalian berdua sopan santun!", balas gua dengan emosi yang sudah meledak-ledak.
...
Ini yang ditunggu-tunggu sama kalian semua ? Udah Paham ? Ngerti ?.
Segini udah gua pilih bahasa yang sedikit 'baik'untuk nyeritain kejadian tersebut. Pikir sendiri kenapa sampai gua menutupinya di Lembayung Senja bagian Sembilan.
Notes : Tolong pakai otak dan hati kalian. TIDAK PERLU MEMINTA LEBIH DARI APA YANG SUDAH GUA TERANGKAN dan JELASKAN DIATAS TERKAIT KEJADIAN TERSEBUT. Karena sesuai janji gua. Gua akan tamatkan cerita ini dengan kadar dan alur yang sudah gua dan keluarga gua setujui. Cukup Part diatas yang keluar dari batas izin yang keluarga gua tetapkan.
"Sebelumnya kami ucapkan maaf kalo kedatangan kami ini membuat repot dan mungkin cukup mendadak untuk keluarga Bapak Gusti. Tapi insya Allah kami kesini berniat baik", ucap Om gua yang duduk bersebelahan dengan Bapak.
Ibu, Nenek, Tante dan Kinanti berada di sofa panjang dekat mereka. Sedangkan gua duduk pada bangku plastik dekat pintu.
Di rumah ini kami bertamu untuk meminang anak wanita dari seorang Bapak yang bernama Gusti Hermansyah. Sang anak yang sering gua panggil Mba Yu itu berada di kamarnya, ditemani Adik perempuannya yang baru saja menikah. Adik iparnya yang juga sahabat gua Rekti duduk bersebelahan dengan mertua lelakinya itu.
"Ya saya sempat kaget juga kata Gendis keluarganya Mas Agha mau datang ke rumah. Saya tanya memang ada apa ? Dia bilang dia mau dilamar. Benar begitu, Pak ?", tanya sang kepala rumah tangga itu kepada Om gua.
"Benar, Pak. Jadi memang kedatangan kami dan saya ini Om nya Agha sebagai perwakilan almarhum Bapaknya ingin mengutarakan niat untuk keponakan saya. Insya Allah Agha ingin melamar dan menikahi anak Bapak yang bernama Gendisa itu. Dan ini yang disebelah saya adalah Bapak tirinya", jawab Om gua seraya memperkenalkan Bapak gua.
Kepala keluarga itu hanya mengangguk tanpa tersenyum kepada Bapak gua. Sama seperti dari awal kedatangan kami.
"Bapak bilang tadi niatnya baik datang bertamu ke rumah saya. Yang ingin saya tanyakan pertama. Bukankah keponakan Bapak itu sudah menikah dan masih beristri ? Atau sudah cerai ?". Semakin dingin nada bicara Beliau.
"Iya, Pak. Betul Agha keponakan saya masih memiliki istri dan belum bercerai. Tapi sebelumnya kami semua, termasuk Gendisa anak Bapak sendiri sudah mendiskusikan masalah itu. Istrinya Agha mengizinkan dan Gendisa sendiri menerima tanpa dipaksa siapapun", jawab Om gua dengan nada yang tetap ramah.
Beliau menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan sedikit kasar sambil menatap gua.
"Itu artinya kamu ingin menjadikan anak saya sebagai istri kedua. Begitu, Gha ?", tanyanya kali ini kepada gua.
Gua mengangguk. "Iya, Om. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Om dan keluarga Om, saya memang ingin menikahi Gendis. Saya sudah bicarakan soal ini dengan istri saya, dan sebenarnya ini juga keinginannya sendiri. Dia sudah bicara baik-baik kepada Gendis. Dan apa yang Om saya katakan tadi benar adanya. Gendis setuju dan ma..".
"Punya modal apa kamu ?", ucapan gua dipotong oleh Beliau.
Nada bicara yang sebelumnya dingin kini jelas terdengar sinis. Suasana di ruang tamu rumahnya ini semakin tidak enak dari sebelumnya. Keluarga gua pun hanya bisa terdiam.
"Rumah mewah ? Uang banyak ? Pekerjaan yang hebat ? Lantas karena itu kamu mau poligami ? Begitu, Gha ?", lanjut Beliau.
"Bukan. Bukan karena itu semua, Om. Saya meminta maaf kalo Om sudah merasa tersinggung karena lamaran ini. Saya berni..". Lagi-lagi Beliau memotong penjelasan gua.
"Lalu karena apa kamu berani poligami ? Hm ? Apa kamu yakin bisa adil ? Apa akhlak mu baik ? Apa ibadah mu sudah sempurna ? Atau kare...".
"Maaf, Pak! Anak saya memang bukan anak yang sempurna", tersulut sudah wanita yang selalu melindungi gua selama ini. Ibu gua itulah yang memotong ucapan Papahnya Mba Yu. "Dia memang belum bisa menyempurnakan ibadahnya, atau akhlaknya mungkin juga belum baik. Tapi saya tau anak saya mampu membimbing istri-istrinya ke jalan yang diridhoi Allah! Mereka akan sama-sama belajar ketika nanti sudah berumah tangga. Malah mungkin nanti anak Bapak yang akan diajari bagaimana beribadah dengan benar oleh istirnya Agha!", lanjut Ibu menyindir keras.
"Ibu ini sadar atau tidak sebenarnya dengan apa yang Ibu katakan itu ?! Ibu kan seorang perempuan! Saya tidak terima anak saya dijadikan istri kedua! Dipoligami! Apalagi ternyata tujuan sebenarnya sampai menjadikan dia pembantu!", balas Beliau tak kalah emosi kepada Ibu.
"Apa maksud Bapak menjadikan pembantu ?!", ucap Bapak gua kali ini dengan sangat terkejut sama seperti kami semua yang sudah mendengar kalimat terakhirnya itu.
"Kita semua tau istrinya Agha itu sakit! Tidak bisa punya anak dan lumpuh! Dan anak saya yang harus merawatnya! Itu kan tujuannya ?! Ngerawat orang sakit yang gak bisa apa-apa! Ini sama aja penghinaan buat saya!", jawabnya emosi.
Praakk!!! Gua banting kursi plastik yang sebelumnya gua duduki ke pintu rumah yang berada disamping.
"JAGA MULUT ANDA!", teriak gua seraya menunjuk wajahnya dari jarak beberapa meter.
Apa yang gua lakukan itu membuat Ibu tidak jadi menampar Papahnya Mba Yu. Kemudian Rekti ikut bangun dari duduknya.
"Heh, Gha! Sopan Lu sama orangtua!", ucap sahabat gua itu tidak terima Papah mertuanya diperlakukan tidak sopan oleh gua.
Gua terkekeh lalu tersenyum sinis. "Ngomongin kesopanan si Anj*ng! Eh bangs*t! Gua sama keluarga gua datang kesini baik-baik! Dari awal gua liat muka Bokap mertua Lu udah gak enak! Sekarang Lu nyuruh gua sopan setelah tadi dia ngehina istri gua! Anj*ng Lu! Sini keluar! Sekalian sama Bokap mertua Lu itu! biar gua ajarin kalian berdua sopan santun!", balas gua dengan emosi yang sudah meledak-ledak.
Lidah memang tak bertulang
Tapi tak perlulah menjadi pedang
Tapi tak perlulah menjadi pedang
...
Ini yang ditunggu-tunggu sama kalian semua ? Udah Paham ? Ngerti ?.
Segini udah gua pilih bahasa yang sedikit 'baik'untuk nyeritain kejadian tersebut. Pikir sendiri kenapa sampai gua menutupinya di Lembayung Senja bagian Sembilan.
Notes : Tolong pakai otak dan hati kalian. TIDAK PERLU MEMINTA LEBIH DARI APA YANG SUDAH GUA TERANGKAN dan JELASKAN DIATAS TERKAIT KEJADIAN TERSEBUT. Karena sesuai janji gua. Gua akan tamatkan cerita ini dengan kadar dan alur yang sudah gua dan keluarga gua setujui. Cukup Part diatas yang keluar dari batas izin yang keluarga gua tetapkan.
~Awal yang sebenarnya pada Lembayung senja bagian sembilan.
*
*
*
*
*
Sore harinya gua sudah berada di Sentul untuk bertemu dengan istri gua yang memang dari pagi tadi ia sudah dijemput oleh sang Mamah dan memilih untuk menunggu disana daripada ikut ke acara lamaran. Katanya biar lebih khusyuk mendo'a kan acara lamaran tersebut. Tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.
Istri gua masih memeluk paha gua, ia duduk diatas kursi rodanya. Gua yang tetap berdiri itu masih diliputi emosi yang belum juga surut selepas pulang dari rumah Mba Yu siang sebelumnya. Sang Mamah pun ikutan menangis di sofa dekat kami.
"Maafiin.. Hiks.. Hiks..", ucapnya berulang-ulang.
"Apalagi yang kamu mau sekarang ? Aku udah turutin kemauan kamu. Apa yang kita dapet dari ini semua ? Hm ?", tanya gua dingin menundukan wajah agar bisa melihat kepalanya yang terbalut hijab berwarna merah itu.
"Gha.. Sudah ikhlasin..", ucap Mamah mertua gua disela-sela isak tangisnya juga.
"Apa yang harus saya ikhlasin, Mah ? Penolakan lamaran ? Saya terima mereka menolak, ikhlas, saya sudah siap kalo memang mereka gak merestui karena mereka pun gak terima anaknya harus jadi istri kedua. Tapi bukan begitu caranyaaa..", jawab gua menahan amarah."Ini anak Mamah! Istri saya!", gua tatap wajah Mamah mertua seraya memegang kedua bahu istri gua yang masih memeluki kedua paha ini. "Dihina! Apa isi otak orangtua itu, Mah ? Dengan entengnya dia olok-olok Vena! Suami mana yang bisa terima ?! Ini udah kelewatan! Bukan lagi perkara penolakan lamaran, Mah!", lanjut gua yang kembali emosi.
"Iya iya, Papah paham dan ngerti perasaan kamu. Tapi ayo, Nak Agha. Duduk dulu, turunkan emosi mu, Nak. Kasian istri mu itu.. Ayo, Nak. Duduk sini..", ucap Papah tiri istri gua yang merangkul kedua bahu ini dengan pelan dan meminta gua duduk pada sofa di dekat istri gua itu.
Akhirnya gua pun duduk dan mulai meredam emosi dengan mengatur nafas yang sebelumnya sudah memburu saat Papah tiri Nyonya kembali berbicara dengan tenang.
"Nak Agha. Saya sebagai laki-laki pun tidak terima mendengar apa yang sudah kamu ceritakan tadi. Saya paham. Kita sebagai suami jelas tidak akan terima istri kita dihina seperti itu. Walaupun istri mu bukan anak kandung saya, tapi bagaimana pun dia tetaplah anak dan bagian keluarga saya. Saya pun marah mendengarnya. Tapi ada batasan, Nak. Semua ada batasannya. Kesabaran ada batasnya, begitu pun sebaliknya, emosi dan amarah pun ada batasnya. Sekarang lebih baik, kamu tenangkan dulu emosi mu dan lihat lah itu istri mu. Cobalah tenang sedikit demi kebaikan semuanya", ucap Beliau panjang lebar.
"Andaikan tadi Kinan tidak menahan saya. Sudah hancur kepala Rekti dan Papahnya Mba Yu itu!", ucap gua mengingat kembali kejadian tadi siang. Sebelumya gua memang sempat keluar teras rumah Mba Yu ketika keluarga gua adu mulut di ruang tamu mereka. Gua ambil pot bunga yang terbuat dari semen dengan pecahan keramik yang menjadi ornamennya untuk gua hantamkan ke kepala Rekti dan Papahnya Mba Yu.
Istri gua menyerong kearah gua, lalu merentangkan kedua tangannya. Dia meminta gua untuk dipeluk karena dirinya tertahan kursi roda yang ia gunakan. Gua majukan posisi duduk dari sofa dan memeluknya.
"Istigfar Mas istigfar. Maafin aku.. Maafin akunya yang udah egois. Aku sadar kalo aku terlalu menuntut sama kamu. Maafin aku ya sayang..", bisiknya saat kami berpelukan.
Lebih dari cukup kalimat pertama yang ia ucapkan untuk membuat gua sadar dan langsung beristigfar di dalam hati. Berulang-ulang gua mengucapkan istigfar sambil memejamkan mata dan tetap dalam pelukan sang Nyonya. Ia usap punggung gua perlahan-lahan.
Lama kami berpelukan hingga alhamdulilah hati ini kembali tenang dan pikiran pun kembali jernih. Gua lepaskan pelukan istri tercinta lalu menatap wajahnya yang cantik itu walaupun nampak kesedihan menghiasinya.
Gua tersenyum lembut. "Sebenernya aku gak marah sama kamu, sayang. Aku cuma kecewa sama kejadian tadi siang. Terlalu sakit rasanya mendengar kamu dihina seperti itu. Maafin aku yang mungkin salah dalam bersikap sama kamu selama ini. Aku minta maaf, sayang", ucap gua seraya memegangi sisi wajahnya dan memainkan pelan ibu jari ini untuk mengusap pipinya.
Nyonya tersenyum. Raut wajah yang nampak sedih itu berubah cerah walaupun sedikit. "Aku maafin kamu. Dan aku juga minta maaf ya, Mas", jawabnya menenangkan.
"Alhamdulilah. Ini yang Papah suka dari kalian berdua", ucap Papah tirinya. "Coba contoh ini adik mu. Tadi baru saja mereka bertengkar, tapi tak sampai dua jam sudah kembali baik dan saling memaafkan", lanjut Beliau kepada anak sulungnya yang juga menjadi Kakak tiri istri gua itu.
"Si Papah ma.. Emangnya aku sama suami ku sering bertengkar apa ?", jawab anak sulungnya tersebut dengan wajah cemberut yang langsung ditanggapi dengan tawa kami semua.
Sekedar mengingatkan aja. Papah tirinya Nyonya dan Kakak tirinya itu adalah orangtua dan Kakak kandungnya Gimma. Pemilik thread tak berujung nan tak jelas yang berjudul Love is You. Hahahaha

Akhirnya setelah suasana kembali tenang. Mamah mertua meminta kami untuk istirahat di kamar Beliau. Tapi gua merasa tak enak dan memilih untuk pamit pulang.
"Makasih, Mah. Tapi aku mau bawa istri ku pulang aja ya. Maaf bukan gak mau istirahat disini. Kan lebih leluasa kalo di rumah sendiri gitu", jawab gua seraya tersenyum kepada Beliau.
"Yaudah gak apa-apa, Mah. Biarin mereka pulang", timpal Papah tiri Nyonya kepada istrinya. "Tapi inget jangan emosi lagi ya, Nak Agha. Papah masih inget nih soalnya kelakuan kamu waktu dulu kelahi sama mantan suaminya Gendis. Jangan sampe pokoknya kamu bertindak gegabah kayak gitu lagi ke sahabat mu Rekti dan Papahnya Gendis, ya ?", lanjut Beliau mengingatkan kali ini kepada gua.
Gua tersenyum mendengarnya. "Iya, insya Allah, Pah. Makasih udah ngingetin aku", jawab gua.
Kemudian gua dan Nyonya menyalami Papahnya itu, lalu kepada Kakak ipar gua. Barulah ketika gua mendorong kursi roda Nyonya untuk pamit kepada sang Mamah, Beliau membuat gua menitikan airmata.
"Gha. Mamah ini yang lahirin istri kamu, Vena. Mamah tau betapa sakitnya hati kamu tadi. Tapi Mamah lah yang lebih teriris sebenarnya. Anak Mamah harus nerima ucapan Papahnya Gendis", ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Gua menelan ludah. Bangkit lagi emosi dalam hati gua. Mau tidak mau apa yang baru saja terjadi siang tadi kembali terputar dalam bayangan gua. Tapi, saat gua mengepalkan tangan. Kedua tangan Mamah mertua gua itu sudah berada pada kedua sisi pundak ini.
"Tapi, Gha. Mamah nyoba ikhlas. Mamah coba jauhin rasa marah Mamah waktu denger cerita kamu tadi. Kamu tau kenapa ? Karena Mamah yakin kamu adalah laki-laki yang bertanggungjawab. Kamu adalah suami terbaik untuk anak Mamah. Kamu inget pertama kalinya Vena ngenalin kamu ke Mamah pas waktu kita semua rayain ulangtahun dia di tempat makan ? Dari situ hati Mamah yakin kamu anak yang baik dan bertanggungjawab, Gha.". Ucapan Beliau kali ini membuat gua teringat dimana pertama kalinya gua diperkenalkan oleh istri gua kepada Mamahnya ini.
Waktu yang sudah cukup lama terlewati. Dimana saat itu Papah kandungnya belum merestui hubungan kami. Jauh sebelum kami menikah dan gua sendiri belum menikahi Almh. Echa. Saat itu kami masih sama-sama kuliah semester awal kalau tak salah.
"Intinya apa, Gha ? Mamah ma bersyukur punya menantu seperti kamu. Masih mau nerima anak Mamah yang sekarang kondisinya...", Beliau tak kuasa melanjutkan ucapannya.
Tak perlu lah gua menunggunya untuk kembali berbicara. Sudah cukup hati gua teriris dengan kejadian di rumah Mba Yu tadi. Sekarang masih harus pula gua merasakan perih mendengar pengakuan seorang Ibu yang berhati malaikat ini mengatakan betapa bersyukurnya dia kepada rumah tangga gua dan anaknya yang tidak pisah oleh karena kondisi anaknya tersebut.
Gua langsung memeluknya. Gua sandarkan kepala ini ke pundak kanannya. Airmata gua perlahan keluar dengan sendirinya. Hati gua berdegup dengan kencang. Perasaan gua terasa dicabik-cabik.
"Mah. Jangan ngomong gitu. Agha mencintai Vena tulus. Udah kewajiban suami menjaga istrinya dalam kondisi apapun. Karena Agha yakin, Vena juga akan melakukan hal yang sama kalo Agha sampai berada dikondisi dia yang sekarang, Mah", ucap gua pelan dengan airmata yang sudah mulai deras keluar.
"Makasih, Agha. Makasih Agha udah mau bertanggungjawab penuh untuk Vena ya, Gha. Mamah ma cuma bisa dukung apapun pilihan kalian berdua sekarang. Yang penting itu semua baik. Makanya Mamah juga setuju waktu Vena cerita mau izinin kamu poligami. Karena Mamah juga mikir mungkin emang itu yang terbaik untuk kalian berdua. Tapi ternyata malah begini sama Papahnya Gendis", jawab Beliau yang sudah memegang kedua sisi wajah gua dan kami saling menatap kali ini.
"Udah ya pokoknya apa yang diomongin Papahnya Vena tadi harus Agha inget baik-baik. Mamah ma gak mau denger kamu ngelakuin kekerasan kayak dulu. Mamah gak mau menantu kesayangan Mamah ini masuk penjara lagi. Nanti kalo Agha sampe kenapa-kenapa, siapa yang mau jagain Vena ? Agha mau ninggalin anak Mamah di rumah sendirian dengan kondisinya sekarang ?". Gua langsung menggelengkan kepala dengan cepat. "Nah kalo gitu Agha harus bisa jaga emosi. Harus lebih sabar lagi. Harus ditingkatin lagi keimanannya. Kalo bisa ma jangan putus wudhu nya, Gha. Buat ngejaga hati kita biar tenang dan selalu inget sama Allah", lanjutnya panjang lebar.
Gua tak kuat. Benar-benar tak kuat. Airmata gua bukannya berhenti malah semakin deras mengalir keluar. Ucapan seperti inilah yang selalu gua rindukan dari gua kecil. Seorang Ibu yang menceramahi anaknya seperti anak kecil. Mengingatkan sambil menakut-nakuti. Gua hampir tidak pernah diceramahi oleh orangtua seperti ini. Terlepas adanya Nenek dan Ibu gua yang sekarang. Tapi ini ? Mamah mertua gua. Bukan Ibu kandung gua. Alhamdulillah wa Syukyrillah gua benar-benar mengucapkan terimakasih kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala diberikan sepaket komplit. Apa itu ? Punya istri dan Mamah mertua yang kelewat baik. Nerima gua apa adanya dan tentunya rasa sayang mereka itu nyata buat gua.
Spoiler for Curhat Judul na ma:
Sedikit berbagi Gais untuk kaum Adam nih. Mertua kita udah baik dari awal nerima lamaran kita. Bersyukur mereka ikhlas ngasih anaknya yang udah mereka jaga, rawat, besarkan dengan susah payah untuk kita bawa pergi. Anak perempuan-istri kita dia ikhlasin buat kita. Sing atuh mikir! Dijaga eta pamajikan nu bener. (Mikir atuh! Dijaga itu istri yang bener).
Terus jangan lupa anggap mertua kita sebagai orangtua kita sendiri. Samakan posisinya dengan orangtua kita. Kenapa ? Ya itu tadi. Mereka ikhlas lepasin anaknya untuk kita. Berbakti juga lah kepada mertua.
Dikira gampang apa ikhlasin anak perempuan dinikahin orang. Gua bisa bilang gini karena gua juga suatu saat akan relain Orenz dibawa sama suaminya kelak.
Apalagi si Orenz. Ya Allah eta budak te budak kahayang! Budak nu ditungguan ku sarerea! Ku sakaluarga urang! Pek te geus gede dibawa ku salaki na! Matak na rada posesif ka si Orenz. Engke mun aya calon salaki na kudu siap mental we ditest ku Urang, ku Nyonya, jeung ku Indung na-Bunbun.
(Ya Allah itu si Orenz te anak kepengen. Anak yang ditunggu-tunggu sama semuanya. Sama keluarga gua. Eh udah gede ma dibawa pergi sama suaminya. Makanya rada posesif ke si Orenz. Nanti kalo udah ada calon suaminya harus siap mental tuh laki. Udah pasti bakalan di test sama gua, Nyonya dan Bunbun).
Terus jangan lupa anggap mertua kita sebagai orangtua kita sendiri. Samakan posisinya dengan orangtua kita. Kenapa ? Ya itu tadi. Mereka ikhlas lepasin anaknya untuk kita. Berbakti juga lah kepada mertua.
Dikira gampang apa ikhlasin anak perempuan dinikahin orang. Gua bisa bilang gini karena gua juga suatu saat akan relain Orenz dibawa sama suaminya kelak.
Apalagi si Orenz. Ya Allah eta budak te budak kahayang! Budak nu ditungguan ku sarerea! Ku sakaluarga urang! Pek te geus gede dibawa ku salaki na! Matak na rada posesif ka si Orenz. Engke mun aya calon salaki na kudu siap mental we ditest ku Urang, ku Nyonya, jeung ku Indung na-Bunbun.
(Ya Allah itu si Orenz te anak kepengen. Anak yang ditunggu-tunggu sama semuanya. Sama keluarga gua. Eh udah gede ma dibawa pergi sama suaminya. Makanya rada posesif ke si Orenz. Nanti kalo udah ada calon suaminya harus siap mental tuh laki. Udah pasti bakalan di test sama gua, Nyonya dan Bunbun).
Singkat cerita selesai gua mendengar rasa sayang dan cintanya Mamah mertua gua kepada menantunya ini, akhirnya gua dan Nyonya pulang.
Sampai di rumah sekitar maghrib. Tidak lama kami berdua langsung melaksanakan shalat maghrib berjama'ah. Biar hati makin tenang selepas shalat gua berdzikir sendirian di gazebo. Sedangkan istri gua berkumpul bersama Bapak, Ibu, dan Mba Intan. Istri gua memilih menggendong Nabil untuk sekedar melupakan kejadian hari ini. Malam itu tidak ada yang membahas kejadian siang tadi di depan istri gua.
Gua masih berdzikir dengan mengucapkan istigfar dan tasbih pun masih dalam tangan gua ketika sebuah dering telpon berbunyi dari blackberry yang gua letakan diatas meja gazebo. Gua lihat layarnya ternyata dari sahabat gua yang bernama Rekti. Dan setelah itu kalian mungkin masih ingat apa yang terjadi di malam ini, sama dengan di malam pada awal cerita Lembayung Senja bagian Sembilan.
...
Keesokan harinya gua kembali ke rumah, dimana ternyata Mba Yu sudah berada disini. Menangis bersimpuh dihadapan Ibu. Setelah itu gua ajak dia ke gazebo halaman belakang untuk berbicara berdua dengannya.
"Kamu gak pernah melakukan kesalahan apapun", ucap gua.
Dia menggelengkan kepalanya cepat dengan mata yang tertutup.
"Liat aku. Liat aku dulu, Mba! Buka mata kamu", ucap gua lagi dengan cepat.
Mba Yu membuka kedua matanya. Bibirnya bergetar menahan takut.
"Dengerin aku. Aku gak marah sama sekali ke kamu. Aku gak marah sama kamu", ucap gua penuh penekanan.
Mba Yu terisak. "Hiks.. Tapi.. Hiks..".
Gua potong ucapannya. "Sstt.. Dengerin dulu. Denger, Mba. Aku gak ada masalah apapun sama kamu, begitupun keluarga ku. Masalahnya Papah kamu. Tapi aku terima. Aku dan keluarga ku terima dia menolak lamaran itu. Aku ikhlas", gua tatap kedua bola matanya. "Tapi, Mba. Aku gak bisa terima ucapannya yang udah menghina itu. Sampai akhirat pun aku gak akan maafin Papah kamu, Mba", lanjut gua dengan airmata yang sudah menggenang dipelupuk mata ini.
Mba Yu langsung memeluk gua. Memohon untuk memaafkan orangtuanya itu. Dia mendekap gua dengan erat. Airmata gua sudah membasahi pipi ini. Gua menengok ke sisi kanan dimana rumah keluarga gua yang sudah tiada berada disana.
"Mba. Aku yang minta maaf. Aku udah bersumpah. Gak akan memaafkan Papah kamu dunia akhirat sebelum dia yang memohon maaf lebih dulu, Mba", ucap gua dengan airmata yang semakin mengalir deras.
~Lembayung senja bagian sembilan.
Diubah oleh glitch.7 12-11-2018 00:44
kifif dan 31 lainnya memberi reputasi
30
Kutip
Balas
Tutup

