- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Catatan:
1. Mengacu pada aturan main forum H2H dan SFTH
2. 95% Semua tokoh/karakter di cerita ini sudah memberikan izin
3. Sikapi dengan bijak apa yang tertuang disini
4. Jangan meminta lebih dari apa yang sudah diberikan
5. Sopanlah dalam berkomentar
6. Saling menghargai TS, penulis dan sesama kaskuser disini
1. Mengacu pada aturan main forum H2H dan SFTH
2. 95% Semua tokoh/karakter di cerita ini sudah memberikan izin
3. Sikapi dengan bijak apa yang tertuang disini
4. Jangan meminta lebih dari apa yang sudah diberikan
5. Sopanlah dalam berkomentar
6. Saling menghargai TS, penulis dan sesama kaskuser disini
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
BAB I & BAB II
BAB III & BAB IV
***
Tralala_Trilili
PROLOG
BAB V
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15- continues
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
***
SEBELUM CAHAYA
PART I
PART II
PART III - The Ghost of You
PART IV
PART V
PART VI
PART VII
PART VIII
Cooling Down
PART IX
PART X - continues
PART XI
PART XII
PART XIII
PART XIV
PART XV
PART XVI
PART XVII A
PART XVII B
PART XVIII
PART XIX - continues
PART XX
PART XXI
PART XXII
PART XXIII
PART XXIV
PART XXV
PART XXVI
PART XXVII
PART XXVIII
PART XXIX
PART XXX
PART XXXI
PART XXXII
PART XXXIII
PART XXXIV
PART XXXV
PART XXXVI - continues
PART XXXVII
PART XXXVIII
PART XXXIX
Vor dem Licht XL - Das Ende
***
BAB V
PART 21
PART 22
Tentang Rasa
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
Von Hier Wegfliegen
Teils Eins - Vorstellen
Teils Zwei - Anfang
Teils Drei - Der Erbarmer
Teils Vier - Von Hier Wegfliegen
Lembayung Senja
Bagian Satu
Bagian Dua
Bagian Tiga
Bagian Empat
Bagian Lima - continues
Bagian Enam
Bagian Tujuh
Bagian Delapan
Bagian Sembilan
Bagian Sepuluh - continues
Breaking Dawn
One Step Closer
Ascension
Throwback Stories
Life is Not Always Fair
Dusk till Dawn
Awal Semula
Untuk Masa Depan
Terimakasih
Omong Kosong
Kepingan Cerita
Menyerah
Restoe
Rasanya - Rasain
Pengorbanan
Menuju Senja
Kenyataan
Wiedersehen
Cobalah untuk Mengerti
Pengorbanan
Tentang Kita
SIDE STORY
VFA
Daily Life I
Daily Life II
Maaf NEWS
Tentang MyPI
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
Kutip
8.8K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#8192
Throwback Stories
Menuju Senja
Quote:
...Selesai sudah sebuah cerita dari seorang gadis muda bernama Giovanna Almira. (Bab Lembayung Senja bagian Tujuh).
Apa yang sudah terjadi sebelumnya menyisakan lebam pada bagian wajah gua. Tentu saja membuat istri dan 'calon'istri gua meradang.
"Mau jelasin apa sekarang ?".
Nada bicara yang dingin dan terdengar sinis itu dilontarkan oleh sang Nyonya.
"Sekarang malah jadi benjut-benjut itu muka mu, Mas!".
Kalo yang ini lebih keras lagi. Apalagi sudah dari sebelumnya dia emosi. Siapa lagi kalau bukan Mba Yu.
"Kok bisa sih Gha sampe berantem sama Ryo ?", tanya Ibu yang menjadi satu-satunya wanita di ruang tamu ini yang cukup bersahabat dengan gua. Nada bicaranya terdengar lembut.
"Udah diobatin, Gha ?", tanya Bapak gua kali ini.
Gua menghela nafas perlahan sebelum menjawab rentetan pertanyaan dari mereka semua.
"Pertama aku minta maaf sama kamu, Sayang. Aku gak bisa nepatin janji untuk gak ikut campur sampe sejauh ini..", ucap gua memulai penjelasan.
"Kedua, aku berantem sama Ryo karena salah paham. Dia ngerasa aku ngebiarin adeknya pergi sama cowoknya dan akhirnya jadi salah paham kayak gini...", lanjut gua yang sudah menegakan posisi duduk lalu melihat kepada Ibu. "Sekarang udah gak terlalu sakit kok, Pak. Udah diobatin sama Anna sebelum pulang", jawab gua kepada Bapak kali ini keceplosan.
Jelas saja jawaban terakhir itu membuat Nyonya dan Mba Yu semakin panas hati.
"Oh Anna yang ngobatiin.. Enak ya Mas ya dipegang-pegang sama cewek abg gitu ?! Terus abis itu ngapain ?! Hm ? Gak sekalian ikut tiduran juga sama dia ?!", ucap Mba Yu dengan emosi.
"MBA!!", sentak gua.
Teriakan gua itu membuat hening ruang tamu ini. Mereka semua terkejut dan tidak percaya gua berani menyentak wanita seksi bernama Gendisa tersebut.
"Kamu tuh kebiasan, Mba! Pikiran kamu terus aja kayak gitu. Bisa gak sih tenang sedikit ? Heran aku sama kamu! Dan satu hal lagi, Anna gak hamil!", lanjut gua.
"Serius, Mas ?", tanya Nyonya kali ini.
"Iya. Ternyata dia gak hamil, tadi udah dibawa ke dokter sama keluarganya. Hasilnya negatif...", jawab gua.
Beberapa saat kami semua terdiam. Entah apa yang ada di pikiran mereka semua. Gua sudah terlalu letih mengurus hal ini. Dari sebelumnya harus ngejar Ryo ke Bandung, mana pake acara berantem segala.
"Mas.. Istirahat dulu gih. Kamu pasti capek kan dua hari ngurusin hal ini", ucap Nyonya lagi dengan lembut dan tersenyum.
Mba Yu hanya bisa tertunduk setelah gua sentak sebelumnya. Ibu dan Bapak hanya mengangguk tersenyum kepada gua, menyetujui ucapan istri gua.
Gua bangun dari duduk dan menghampiri Mba Yu yang duduk di dekat Nyonya.
"Maaf aku terlalu keras sama kamu, Mba. Cuma aku gak suka dituduh kayak tadi", ucap gua kepada wanita seksi itu sebelum benar-benar pergi ke kamar atas untuk beristirahat.
...
Beberapa hari setelahnya semua kembali normal. Hari-hari kami berjalan seperti sebelumnya lagi. Gua kembali bekerja di Jakarta, Nyonya mengurus Nabil di rumah dan sesekali masih harus ke Singapore untuk melakukan Fisioterapi. Begitupun dengan Mba Yu yang masih sering ke rumah untuk menemani istri dan keluarga gua.
Gua yang baru selesai melaksanakan shalat berjama'ah di masjid mendengar kabar dari Pak RT kalau salah satu warga disini ada yang sedang sakit. Yang ternyata adalah Ibunda dari Luna dan Helen. Rencananya sore ini Pak RT mengajak kami semua untuk menjenguk Beliau di rumah sakit.
Setelah mendengar kabar tersebut gua langsung ke rumah Helen. Tapi ternyata disana tidak ada orang. Karena gua tahu rumah Papahnya juga berada tidak jauh dari sini akhirnya gua memutuskan untuk pergi ke rumah Papahnya tersebut.
Gua masuki halaman rumahnya dan berdiri di depan teras dengan pintu rumah yang tidak tertutup rapat itu.
"Permisi.. Assalamualaikum..", teriak gua lupa kalau pemilik rumah ini bukan seorang muslim.
"Walaikumsalam..", jawab seseorang yang terdengar sedang menuju pintu rumah dari arah dalam. "Eh! Agha ?!", ucapnya terkejut ketika melihat gua.
Gua tidak percaya kalau hari ini akan bertemu dengannya.
"Aghaaaa!! Apa kabaarrr ?", teriaknya sambil berjalan menghampiri gua yang masih terpaku dan terdiam. "Ghaaa! Iiih da lama banget gak ketemu ya ?! Kamu makin keren aja", lanjutnya yang sudah memeluk gua dan melepaskannya lagi.
"Eh ii.. Iya.. Kamu lagi ada disini, Lun ?", tanya gua balik yang sudah gagal fokus.
"Iya, Gha. Aku lagi pulang. Kamu apa kabar sih ? Tapi kayaknya agak kurusan sekarang..", jawabnya dengan senyuman yang belum juga surut.
"Ah iya kali ya.. Hehehe.. Mmm... Eh ngomong-ngomong kamu... Kamu makin cantik aja, Lun".
"Yeee.. Malah ngegombal siiihh.. Ahahaha..".
Aduh pake nyubit-nyubit pipi segala lagi nih mantan satu.
"Gak kok, beneran deh. Makin cantik, makin berisi juga kayaknya..", ucap gua lagi seraya menatap tubuhnya dari bawah keatas.
"Hahaha.. Udah ah apa siih kamu tuh. Dateng kesini cuma mau muji aku gitu ?", godanya dengan tertawa renyah. "Eh ayo masuk dulu, malah diem diluar gini.. Yu", ajaknya seraya menarik tangan kanan gua.
Gua duduk di sofa ruang tamu rumah Papahnya. Sedangkan dia-salah satu wanita tercantik yang dahulu sempat mengukir indah cerita asmara bersama gua itu duduk di depan sana, terhalang meja tamu yang memisahkan kami berdua.
"Udah lama banget ya kayaknya kita gak ketemu, Gha ?", tanyanya dengan senyuman yang tak pernah hilang menghiasi wajah cantiknya itu.
"Iya udah lama banget. Kamu sehat ya keliatannya", jawab gua.
Ini jantung gua bisa gak sih biasa aja. Tangan juga gak perlu keringetan lah. Lebay banget nih tubuh.
"Ngomong-ngomong Ve apa kabar ? Sekarang dia udah jadi ahli kecantikan dong ya ?".
Pertanyaannya itu akhirnya membuat gua sadar. Apa yang gua rasakan sebelumnya lenyap seketika.
"Ve..", ucap gua pelan. "Ve, Sakit".
"Kenapa, Gha ? Kamu ngomong pelan banget..".
"Ehm.. Istri ku.. Istri ku lagi sakit, Lun".
"Sakit ? Sakit apa, Gha ?".
Gua hela nafas dengan pelan lalu tersenyum tipis kepadanya. Gua ceritakan semua yang sudah terjadi selama ini dalam rumah tangga gua. Luna mendengarkan dengan tidak percaya saat gua memberitahukannya kalau kedua anak yang pernah di kandung Nyonya harus berpulang ke Sang Pencipta.
"Jadi, Ve udah pernah hamil dua kali, Gha ?".
"Iya. Pertama keguguran waktu di Singapore, Lun. Waktu itu kami kubur janin yang belum sempurna itu di halaman rumah Papahnya disana. Kedua baru-baru ini, dia... Dia kecelakaan, lebih tepatnya dicelakain orang. Kemaren itu usia kandungannya udah masuk bulan kedelapan. Tapi.. Huufftt.. Ya gitulah. Kami kehilangan lagi...", jawab gua yang sebenarnya enggan mengingat kejadian tersebut.
Luna bangun dan berpindah ke samping gua.
"Gha... Maaf ya. Aku gak maksud bikin kamu nginget kejadian gak enak kayak gitu..", ucapnya seraya memegang pundak kanan gua.
Gua tersenyum. Begitu hafalnya dia dengan apa yang gua alami.
"Aku tau kamu, Gha. Aku tau gimana hancurnya kamu waktu ditinggal Echa dan Jingga. Sekarang kamu sama Ve harus kehilangan buah hati kalian dua kali berturut-turut, dan aku takut kamu kayak dulu lagi".
Gua mengangguk. "Dan gak berenti sampe disitu, Lun..", ucap gua.
"Maksud kamu ?".
"Ve sekarang lumpuh... Dia gak bisa berjalan..", jawab gua menatapnya dengan nanar.
"Ya Tuhan! Kamu serius ?! Kok bisa, Gha ? Sebenernya kenapa sama istri kamu ?!".
Luna benar-benar terkejut mengetahui kondisi Nyonya yang sekarang.
Dengan berat hati gua ceritakan semuanya kepada wanita yang merupakan Kakak kandung Bunbun ini. Sampai akhirnya dia tak kuat menahan airmatanya. Luna menangis mendengar apa yang sudah terjadi kepada istri gua itu.
"Setelah dia dicelakain sama bajing*n itu dan kehilangan anak kedua kami.. Dia minta untuk bawa pulang kakaknya", ucap gua.
"Kakak ?".
"Maksud ku anak pertama aku dan Ve. Kan aku cerita tadi, anak pertama kami di kubur di Singapore. Setelah kecelakaan dan ngabarin Papahnya disana, dia minta tolong bawa janin yang dikubur itu ke sini. Jadi sekarang di halaman belakang rumah ku itu ada empat makam, Lun", jawab gua.
Luna tersenyum walau kedua matanya belum kering dari airmata. Ia usap rambut gua perlahan.
"Semoga Echa dan Jingga bertemu dengan kedua anak kamu dan Ve disana.. Mereka berdua toh adik-adiknya Jingga juga kan..", ucapnya.
"Iya. Mereka bertiga bersaudara, Lun...", jawab gua mengiyakan ucapannya.
"Terus, sekarang istri kamu itu berobat dimana, Gha ? Aku cuma berharap kamu dan Ve gak menyerah walaupun vonis dokter bilang begitu. Kita harus tetep berusaha.. Tuhan memiliki segalanya, Gha..", ucapnya lagi sambil menyeuka airmatanya sendiri.
"Ya aku percaya Tuhan pasti bantu istri ku. Alhamdulillah sekarang dia lagi ikut Fisioterapi di Singapore. Tapi gak tinggal disana, ya sebulan empat kali terapinya, jadi bolak-balik. Emang sih belom ada perkembangan apapun, tapi ini kan masih tahap awal. Aku berharap ada keajaiban untuk dia", timpal gua.
"Aamiin.. Aku bantu do'a semoga Tuhan memberikan Ve kesehatan dan kembali berjalan dengan normal lagi, Gha".
"Aamiin.. Makasih, Lun".
"Dan jangan lupa, program lagi, siapa tau Tuhan juga kasih kalian anak ketiga kan ?", ucapnya dengan tersenyum.
"Oh itu Kayaknya gak mungkin..", jawab gua pelan.
"Loch ? Ada apa lagi ?".
Gua hanya terdiam. Beberapa saat kami saling menatap.
"Jangan bilang karena kecelakaan itu, Gha!", ucapnya mengerti isi pikiran gua.
Gua hanya menganggukan kepala.
"Ya Tuhan! Karena kecelakaan harus diangkat rahimnya ? Cobaan istri kamu terlalu berat, Gha. Aku gak bisa bayangin gimana kalo itu kejadian sama aku..", ucapnya tak percaya.
"Tapi aku bersyukur diberi Tuhan kesempatan untuk menjadi suaminya. Kamu gak akan percaya betapa hebat dan sempurnanya Vena di mata ku.. Aku gak mungkin bandingin dia sama Almarhumah Echa. Tapi Ve.. Dia adalah wanita terhebat yang Tuhan kasih untuk aku", jawab gua.
Luna tersenyum sumringah. "Kamu.. Kamu gak nyesel nikahin Vena kan ?", tanyanya.
"Jelas enggak lah, Lun. Kok nanya gitu ?", tanya gua balik keheranan.
"Aku gak tau kenapa kamu bilang dia sempurna dan hebat. Tapi dari cara kamu ungkapin itu semua tadi. Aku bisa ngerasain betapa bersyukurnya kamu dapetin dia. Dan itu artinya gak salah dong waktu dulu aku minta kamu nikahin dia ?". Luna semakin tersenyum.
Kali ini gua ikut tersenyum. "Ya.. Makasih.. Makasih banyak kamu udah yakinin aku untuk nikahin wanita bernama Vena..", jawab gua.
Setelah itu kami mengobrol soal keluarganya. Tentang suaminya dan kesehariannya yang lebih memilih menjadi ibu rumah tangga demi mengurus buah hati mereka.
"Syukur kalo kamu bahagia. Aku seneng denger kamu sama Erick sekarang", ucap gua setelah mendengar cerita soal kehidupan mereka selama ini di Australia.
"Ya aku bersyukur sama Tuhan udah diberi suami yang tulus mau terima kekurangan aku yang diawal pernikahan belum bisa menerima dia sepenuhnya. Apalagi sekarang anak kami udah mulai bisa manggil Mamah. Lucu deh pokoknya", jawab Luna nampak bahagia. "Oh ya. Maaf ya Gha, aku cuma saran aja. Kenapa kamu gak ambil anak angkat sama Ve ? Ya adopsi gitu", lanjutnya.
"Ve kurang setuju. Bukan berarti dia gak mau tapi malah sekarang dia punya rumah anak yatim", jawab gua.
"Oh ya ? Wah hebat banget istri kamu, Gha. Terus alesannya kenapa gak mau adopsi anak ?".
Bukan hal yang mudah menjelaskan kenapa istri gua lebih memilih untuk membangun rumah anak yatim dan memberi gua izin untuk berpoligami kepada Luna. Nyonya memang lebih memilih gua mendapatkan anak dari darah daging gua sendiri sekalipun bukan dari rahimnya dengan cara berpoligami. Dan hal tersebut yang membuat gua tidak menceritakan hal ini dengan Luna. Bagi gua belum waktunya dia mengetahuinya sekarang.
"Eh ngomong-ngomong aku kesini karena denger kabar kalo Mamah kamu dirawat di rumah sakit, Lun", ucap gua mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya Mamah baru kemarin masuk rumah sakit. Biasa mungkin pola makannya aja yang kurang baik kok, Gha. Kamu dapet kabar dari siapa ?".
Gua ceritakan kepadanya kalau Pak RT baru saja mengabari warga soal kabar Mamahnya yang sedang sakit itu. Luna juga menceritakan saat ini Papah dan Eva-Kakak tirinya yang sedang bergantian menjaga sang Mamah di rumah sakit. Setelah mengobrol cukup lama, akhirnya Luna ikut bersama gua ke rumah.
"Assalamualaikum..", ucap gua ketika memasuki ruang tamu.
"Walaikumsalam, Mas. Kok lama banget pulangnya ?. Eh ? Loch Kak Luna ?", jawab istri gua yang sedang menggendong Nabil dan melihat gua datang bersama Luna.
"Hai Ve..", sapa Luna seraya mencium pipi kanan-kiri nya. "Eh ini anak siapa ? Lucu banget", lanjutnya ketika memperhatikan Nabil yang tertidur dalam gendongan istri gua itu.
"Ini anaknya Mba Intan. Mmm.. Ceritanya panjang, Kak. Nanti kita ngobrol-ngobrol. Sekarang kita duduk dulu yu. Mau ngobrol dimana ?", ucap istri gua dengan tersenyum sumringah.
"Di belakang aja gak apa-apa kan ? Aku pingin ketemu Echa sama Jingga dan kedua anak kamu, Ve", jawab Luna.
Nyonya melirik kepada gua.
"Iya makanya tadi agak lama karena aku ketemu Luna dulu, Yang. Kita ngobrol di belakang aja yu", ucap gua.
Di dalam gazebo itu kami kembali mengobrol setelah Luna menyapa empat makam yang terletak tidak jauh dari sana.
"Yang sabar ya sayang", ucap Luna seraya mengelus pundak kanan Nyonya setelah mendengar kembali cerita yang sudah gua ceritakan sebelumnya. "Aku yakin setelah ini semua Tuhan masih tetap menyayangi kamu".
"Iya Kak, aamiin. Makasih ya. Oh ya jam berapa nanti kita mau ke rumah sakit ?", tanya istri gua.
"Kalo warga sih abis shalat ashar katanya. Kamu ikut aja ya", jawab gua.
"Iya Mas aku emang pingin jengukin Mamahnya Kak Luna".
Sore harinya gua, Nyonya, Ibu dan Bapak pergi menjenguk Mamahnya Luna di salah satu rumah sakit. Sedangkan warga lainnya sudah lebih dulu sampai disana. Keadaan Beliau memang tampak lemah dan sedang di opname. Tapi kata Luna penyakit yang dideritanya tidak parah apalagi mengkhawatirkan. Cukup lama kami menengok sang Mamah sampai sebelum maghrib akhirnya satu persatu warga pamit pulang menggunakan mobil mereka masing-masing.
Gua sedang mengobrol bersama Bapak di depan ruangan. Sedangkan Nyonya dan Ibu masih berada di dalam yang ditemani oleh Luna dan juga Papahnya. Saat adzan berkumandang gua bersama Bapak menuju masjid di rumah sakit ini untuk shalat berjama'ah, singkat cerita selesai melaksanakan shalat kami pamit kepada keluarganya Luna.
...
Keesokan harinya setelah pulang kerja gua mengabari Nyonya kalau pulang dari Jakarta gua langsung menuju rumah Mba Yu. Karena siang sebelumnya wanita semlohay itu sempat bbm untuk meminta gua membelikan makanan di dekat resto.
Sesampainya di rumah Mba Yu gua pun menceritakan pertemuan gua kemarin hari dengan Luna. Awalnya ia menanggapi dengan dingin sampai akhirnya gua ceritakan kalau Mamahnya Luna sedang di rawat di rumah sakit. Cukup lama ia menanyakan soal keadaan Mamahnya Luna itu hingga obrolan kami sampai kepada hubungan kami berdua karena gua merasa sekaranglah waktunya yang tepat untuk membawa dirinya menjadi bagian dari keluarga gua.
Awalnya Mba Yu terlihat berbeda. Ada keraguan yang gua lihat dari caranya berbicara yang ternyata sang Papah lah yang menjadi beban pikirannya. Saat itu gua tidak peduli dengan ucapannya. Gua hanya ingin menunjukan kalau apa yang sudah kami semua pilih ini patut diperjuangkan. Gua yakinkan diri sendiri agar tetap melangkah kedepan dan mencoba mendapatkan restu dari Papahnya tersebut.
Maka Keesokan harinya gua bawa Mba Yu menemui semua keluarga gua yang sebelumnya sudah gua kabari. Hari itu gua utarakan niat gua untuk menikahi wanita bernama Gendisa Putri.
Om gua yang menjadi salah satu orang yang kurang yakin dengan rencana ini pun hendak mendebat. Tapi Nenek menahan. "Kamu gak bisa melarang keputusan Aghda dan Vena. Mereka sudah dewasa, keputusannya adalah tanggungjawab mereka bertiga", ucap Nenek.
Mba Yu sedikit menunduk. Lalu Om gua tersenyum kepada wanita seksi itu.
"Gendis, maaf ya. Om bukannya melarang atau menghalang-halangi. Tapi Om cuma mau memastikan aja keputusan kalian ini", tanya Om gua baik-baik.
"Insya Allah saya yakin. Keputusan saya murni dari hati saya, Om. Saya gak dipaksa siapapun", jawabnya.
"Dengan kondisi keluarganya Agha yang sekarang ?", tanya Tante gua kali ini.
Mba Yu mengangguk. "Iya, Tante. Dengan kondisi Mas Agha yang sekarang. Insya Allah aku terima kekurangan dan segala resikonya menjadi istri kedua", jawab Mba Yu yakin.
Om gua mengusap wajahnya. Lalu melirik istrinya itu. "Beruntung sekali si Agha, Mah", ucapnya.
Tante gua tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. "Iya. Dan Agha harus berjanji bisa bahagiain kamu Gendis. Kalo sampe Agha berlaku enggak adil, jangan takut untuk cerita ke kami ya, sayang", ucap Tante gua lagi.
Mba Yu mengangguk dan tersenyum bahagia. "Iya Tante, insya Allah. Terimakasih", jawabnya.
"Sekarang pertanyaannya kapan kamu mau nemuin orangtuanya Gendis ?", tanya Nenek kali ini kepada gua.
"Insya Allah besok, Nek. Aku minta restu kalian semua. Mohon niat ku ini direstui dan do'a kan kalo keputusan ini adalah yang terbaik", jawab gua dengan meyakinkan diri sendiri.
"Insya Allah semuanya baik-baik aja. Karena pernikahan itu termasuk ibadah yang paling lama, hampir setengah dari hidup kita. Banyak ladang pahala disana, Gha. Tapi ingat, banyak juga ladang dosanya jika kamu tidak bisa jaga iman dan ketakwa'an mu pada Allah subhanahu wa Ta'ala", ucap Bapak gua kali ini memberikan wejangannya.
"Kami cuma bisa mendukung kalian dengan do'a-do'a yang kami panjatkan kepada Allah subhanahu wa Ta'ala. Tolong jaga rumah tangga kalian ya. Jaga sebaik-baiknya. Ibu percaya kalian bisa", timpal Ibu menambahkan dengan senyuman indahnya.
"Aamiin.. Aamiin.. Aamiin ya rabbal'alamin".
Mba Yu nyaris menitikan airmatanya. Lalu Nenek memeluk Mba Yu yang memang duduk disampingnya itu.
Kemudian gua tersenyum ketika Nyonya yang duduk di samping gua sedari tadi berpelukan juga dengan Mba Yu. Saat itu dalam hati gua mengucapkan Basmalah sebagai niat awal untuk membuka lembaran baru dalam hidup ini.
Sore hari gua baru saja hendak mengantarkan Mba Yu pulang ketika blackberry gua berdering tanda panggilan masuk berbunyi dari dalam saku jaket.
"Mas, hape kamu bunyi tuh.. Angkat dulu", ucap Mba Yu.
Gua tidak jadi menyalakan mesin mobil. Gua ambil blackberry dari dalam saku jaket dan menatap layarnya dengan kening berkerut.
"Siapa ya ini ?", ucap gua.
"Siapa ?", tanya Mba Yu yang duduk di bangku samping gua.
Gua menengok kepada Mba Yu dan menggelengkan kepala, lalu menunjukkan layar blackberry yang masih menampilkan nomer asing tersebut.
Mba Yu memajukkan kepalanya untuk melihat layar blackberry tersebut dengan mengerutkan keningnya juga.
"Kok plus empat sembilan angka depannya, Mas ?", tanyanya setelah melihat sendiri nomer tersebut di layar blackberry gua.
Gua menaikkan kedua bahu. Menandakan kalau gua sama sekali tidak tahu nomer tersebut untuk kode negara mana.
"Gak usah diangkat deh. Paling salah sambung", ucap gua hendak menaruh blackberry diatas dashboard.
"Udah angkat aja dulu, siapa tau emang ada perlu sama kamu, Mas", ucap Mba Yu.
"Yaudah, bentar ya".
Mba Yu hanya mengangguk.
Gua tekan tombol bergambar gagang telpon dengan warna hijau menyala.
"Halo, dengan siapa ini ?", tanya gua tidak mempedulikan jika bisa saja orang diujung sana bukan orang Indonesia.
"Halo, apa kabar, Kak Oda ?". Jawab suara wanita yang cukup familiar diingatan gua.
"Ya. Baik alhamdulillah. Maaf ini siapa ?". Tanya gua lagi dengan menerka-nerka siapa wanita tersebut.
"Aku Ana... Anastasya, Kak. Kamu masih ingat ?".
Gua terkejut, lalu menengok kepada wanita seksi yang masih memperhatikan gua disamping. Mba Yu bertanya 'siapa ?' tanpa suara. Hanya dengan gerakan mulut dan matanya.
"Ehm.. Hai.. Apa kabar, Ay ?", tanya gua balik.
Mba Yu memicingkan matanya, wajahnya nampak bingung.
Apa yang sudah terjadi sebelumnya menyisakan lebam pada bagian wajah gua. Tentu saja membuat istri dan 'calon'istri gua meradang.
"Mau jelasin apa sekarang ?".
Nada bicara yang dingin dan terdengar sinis itu dilontarkan oleh sang Nyonya.
"Sekarang malah jadi benjut-benjut itu muka mu, Mas!".
Kalo yang ini lebih keras lagi. Apalagi sudah dari sebelumnya dia emosi. Siapa lagi kalau bukan Mba Yu.
"Kok bisa sih Gha sampe berantem sama Ryo ?", tanya Ibu yang menjadi satu-satunya wanita di ruang tamu ini yang cukup bersahabat dengan gua. Nada bicaranya terdengar lembut.
"Udah diobatin, Gha ?", tanya Bapak gua kali ini.
Gua menghela nafas perlahan sebelum menjawab rentetan pertanyaan dari mereka semua.
"Pertama aku minta maaf sama kamu, Sayang. Aku gak bisa nepatin janji untuk gak ikut campur sampe sejauh ini..", ucap gua memulai penjelasan.
"Kedua, aku berantem sama Ryo karena salah paham. Dia ngerasa aku ngebiarin adeknya pergi sama cowoknya dan akhirnya jadi salah paham kayak gini...", lanjut gua yang sudah menegakan posisi duduk lalu melihat kepada Ibu. "Sekarang udah gak terlalu sakit kok, Pak. Udah diobatin sama Anna sebelum pulang", jawab gua kepada Bapak kali ini keceplosan.
Jelas saja jawaban terakhir itu membuat Nyonya dan Mba Yu semakin panas hati.
"Oh Anna yang ngobatiin.. Enak ya Mas ya dipegang-pegang sama cewek abg gitu ?! Terus abis itu ngapain ?! Hm ? Gak sekalian ikut tiduran juga sama dia ?!", ucap Mba Yu dengan emosi.
"MBA!!", sentak gua.
Teriakan gua itu membuat hening ruang tamu ini. Mereka semua terkejut dan tidak percaya gua berani menyentak wanita seksi bernama Gendisa tersebut.
"Kamu tuh kebiasan, Mba! Pikiran kamu terus aja kayak gitu. Bisa gak sih tenang sedikit ? Heran aku sama kamu! Dan satu hal lagi, Anna gak hamil!", lanjut gua.
"Serius, Mas ?", tanya Nyonya kali ini.
"Iya. Ternyata dia gak hamil, tadi udah dibawa ke dokter sama keluarganya. Hasilnya negatif...", jawab gua.
Beberapa saat kami semua terdiam. Entah apa yang ada di pikiran mereka semua. Gua sudah terlalu letih mengurus hal ini. Dari sebelumnya harus ngejar Ryo ke Bandung, mana pake acara berantem segala.
"Mas.. Istirahat dulu gih. Kamu pasti capek kan dua hari ngurusin hal ini", ucap Nyonya lagi dengan lembut dan tersenyum.
Mba Yu hanya bisa tertunduk setelah gua sentak sebelumnya. Ibu dan Bapak hanya mengangguk tersenyum kepada gua, menyetujui ucapan istri gua.
Gua bangun dari duduk dan menghampiri Mba Yu yang duduk di dekat Nyonya.
"Maaf aku terlalu keras sama kamu, Mba. Cuma aku gak suka dituduh kayak tadi", ucap gua kepada wanita seksi itu sebelum benar-benar pergi ke kamar atas untuk beristirahat.
...
Beberapa hari setelahnya semua kembali normal. Hari-hari kami berjalan seperti sebelumnya lagi. Gua kembali bekerja di Jakarta, Nyonya mengurus Nabil di rumah dan sesekali masih harus ke Singapore untuk melakukan Fisioterapi. Begitupun dengan Mba Yu yang masih sering ke rumah untuk menemani istri dan keluarga gua.
Gua yang baru selesai melaksanakan shalat berjama'ah di masjid mendengar kabar dari Pak RT kalau salah satu warga disini ada yang sedang sakit. Yang ternyata adalah Ibunda dari Luna dan Helen. Rencananya sore ini Pak RT mengajak kami semua untuk menjenguk Beliau di rumah sakit.
Setelah mendengar kabar tersebut gua langsung ke rumah Helen. Tapi ternyata disana tidak ada orang. Karena gua tahu rumah Papahnya juga berada tidak jauh dari sini akhirnya gua memutuskan untuk pergi ke rumah Papahnya tersebut.
Gua masuki halaman rumahnya dan berdiri di depan teras dengan pintu rumah yang tidak tertutup rapat itu.
"Permisi.. Assalamualaikum..", teriak gua lupa kalau pemilik rumah ini bukan seorang muslim.
"Walaikumsalam..", jawab seseorang yang terdengar sedang menuju pintu rumah dari arah dalam. "Eh! Agha ?!", ucapnya terkejut ketika melihat gua.
Gua tidak percaya kalau hari ini akan bertemu dengannya.
"Aghaaaa!! Apa kabaarrr ?", teriaknya sambil berjalan menghampiri gua yang masih terpaku dan terdiam. "Ghaaa! Iiih da lama banget gak ketemu ya ?! Kamu makin keren aja", lanjutnya yang sudah memeluk gua dan melepaskannya lagi.
"Eh ii.. Iya.. Kamu lagi ada disini, Lun ?", tanya gua balik yang sudah gagal fokus.
"Iya, Gha. Aku lagi pulang. Kamu apa kabar sih ? Tapi kayaknya agak kurusan sekarang..", jawabnya dengan senyuman yang belum juga surut.
"Ah iya kali ya.. Hehehe.. Mmm... Eh ngomong-ngomong kamu... Kamu makin cantik aja, Lun".
"Yeee.. Malah ngegombal siiihh.. Ahahaha..".
Aduh pake nyubit-nyubit pipi segala lagi nih mantan satu.
"Gak kok, beneran deh. Makin cantik, makin berisi juga kayaknya..", ucap gua lagi seraya menatap tubuhnya dari bawah keatas.
"Hahaha.. Udah ah apa siih kamu tuh. Dateng kesini cuma mau muji aku gitu ?", godanya dengan tertawa renyah. "Eh ayo masuk dulu, malah diem diluar gini.. Yu", ajaknya seraya menarik tangan kanan gua.
Gua duduk di sofa ruang tamu rumah Papahnya. Sedangkan dia-salah satu wanita tercantik yang dahulu sempat mengukir indah cerita asmara bersama gua itu duduk di depan sana, terhalang meja tamu yang memisahkan kami berdua.
"Udah lama banget ya kayaknya kita gak ketemu, Gha ?", tanyanya dengan senyuman yang tak pernah hilang menghiasi wajah cantiknya itu.
"Iya udah lama banget. Kamu sehat ya keliatannya", jawab gua.
Ini jantung gua bisa gak sih biasa aja. Tangan juga gak perlu keringetan lah. Lebay banget nih tubuh.
"Ngomong-ngomong Ve apa kabar ? Sekarang dia udah jadi ahli kecantikan dong ya ?".
Pertanyaannya itu akhirnya membuat gua sadar. Apa yang gua rasakan sebelumnya lenyap seketika.
"Ve..", ucap gua pelan. "Ve, Sakit".
"Kenapa, Gha ? Kamu ngomong pelan banget..".
"Ehm.. Istri ku.. Istri ku lagi sakit, Lun".
"Sakit ? Sakit apa, Gha ?".
Gua hela nafas dengan pelan lalu tersenyum tipis kepadanya. Gua ceritakan semua yang sudah terjadi selama ini dalam rumah tangga gua. Luna mendengarkan dengan tidak percaya saat gua memberitahukannya kalau kedua anak yang pernah di kandung Nyonya harus berpulang ke Sang Pencipta.
"Jadi, Ve udah pernah hamil dua kali, Gha ?".
"Iya. Pertama keguguran waktu di Singapore, Lun. Waktu itu kami kubur janin yang belum sempurna itu di halaman rumah Papahnya disana. Kedua baru-baru ini, dia... Dia kecelakaan, lebih tepatnya dicelakain orang. Kemaren itu usia kandungannya udah masuk bulan kedelapan. Tapi.. Huufftt.. Ya gitulah. Kami kehilangan lagi...", jawab gua yang sebenarnya enggan mengingat kejadian tersebut.
Luna bangun dan berpindah ke samping gua.
"Gha... Maaf ya. Aku gak maksud bikin kamu nginget kejadian gak enak kayak gitu..", ucapnya seraya memegang pundak kanan gua.
Gua tersenyum. Begitu hafalnya dia dengan apa yang gua alami.
"Aku tau kamu, Gha. Aku tau gimana hancurnya kamu waktu ditinggal Echa dan Jingga. Sekarang kamu sama Ve harus kehilangan buah hati kalian dua kali berturut-turut, dan aku takut kamu kayak dulu lagi".
Gua mengangguk. "Dan gak berenti sampe disitu, Lun..", ucap gua.
"Maksud kamu ?".
"Ve sekarang lumpuh... Dia gak bisa berjalan..", jawab gua menatapnya dengan nanar.
"Ya Tuhan! Kamu serius ?! Kok bisa, Gha ? Sebenernya kenapa sama istri kamu ?!".
Luna benar-benar terkejut mengetahui kondisi Nyonya yang sekarang.
Dengan berat hati gua ceritakan semuanya kepada wanita yang merupakan Kakak kandung Bunbun ini. Sampai akhirnya dia tak kuat menahan airmatanya. Luna menangis mendengar apa yang sudah terjadi kepada istri gua itu.
"Setelah dia dicelakain sama bajing*n itu dan kehilangan anak kedua kami.. Dia minta untuk bawa pulang kakaknya", ucap gua.
"Kakak ?".
"Maksud ku anak pertama aku dan Ve. Kan aku cerita tadi, anak pertama kami di kubur di Singapore. Setelah kecelakaan dan ngabarin Papahnya disana, dia minta tolong bawa janin yang dikubur itu ke sini. Jadi sekarang di halaman belakang rumah ku itu ada empat makam, Lun", jawab gua.
Luna tersenyum walau kedua matanya belum kering dari airmata. Ia usap rambut gua perlahan.
"Semoga Echa dan Jingga bertemu dengan kedua anak kamu dan Ve disana.. Mereka berdua toh adik-adiknya Jingga juga kan..", ucapnya.
"Iya. Mereka bertiga bersaudara, Lun...", jawab gua mengiyakan ucapannya.
"Terus, sekarang istri kamu itu berobat dimana, Gha ? Aku cuma berharap kamu dan Ve gak menyerah walaupun vonis dokter bilang begitu. Kita harus tetep berusaha.. Tuhan memiliki segalanya, Gha..", ucapnya lagi sambil menyeuka airmatanya sendiri.
"Ya aku percaya Tuhan pasti bantu istri ku. Alhamdulillah sekarang dia lagi ikut Fisioterapi di Singapore. Tapi gak tinggal disana, ya sebulan empat kali terapinya, jadi bolak-balik. Emang sih belom ada perkembangan apapun, tapi ini kan masih tahap awal. Aku berharap ada keajaiban untuk dia", timpal gua.
"Aamiin.. Aku bantu do'a semoga Tuhan memberikan Ve kesehatan dan kembali berjalan dengan normal lagi, Gha".
"Aamiin.. Makasih, Lun".
"Dan jangan lupa, program lagi, siapa tau Tuhan juga kasih kalian anak ketiga kan ?", ucapnya dengan tersenyum.
"Oh itu Kayaknya gak mungkin..", jawab gua pelan.
"Loch ? Ada apa lagi ?".
Gua hanya terdiam. Beberapa saat kami saling menatap.
"Jangan bilang karena kecelakaan itu, Gha!", ucapnya mengerti isi pikiran gua.
Gua hanya menganggukan kepala.
"Ya Tuhan! Karena kecelakaan harus diangkat rahimnya ? Cobaan istri kamu terlalu berat, Gha. Aku gak bisa bayangin gimana kalo itu kejadian sama aku..", ucapnya tak percaya.
"Tapi aku bersyukur diberi Tuhan kesempatan untuk menjadi suaminya. Kamu gak akan percaya betapa hebat dan sempurnanya Vena di mata ku.. Aku gak mungkin bandingin dia sama Almarhumah Echa. Tapi Ve.. Dia adalah wanita terhebat yang Tuhan kasih untuk aku", jawab gua.
Luna tersenyum sumringah. "Kamu.. Kamu gak nyesel nikahin Vena kan ?", tanyanya.
"Jelas enggak lah, Lun. Kok nanya gitu ?", tanya gua balik keheranan.
"Aku gak tau kenapa kamu bilang dia sempurna dan hebat. Tapi dari cara kamu ungkapin itu semua tadi. Aku bisa ngerasain betapa bersyukurnya kamu dapetin dia. Dan itu artinya gak salah dong waktu dulu aku minta kamu nikahin dia ?". Luna semakin tersenyum.
Kali ini gua ikut tersenyum. "Ya.. Makasih.. Makasih banyak kamu udah yakinin aku untuk nikahin wanita bernama Vena..", jawab gua.
Setelah itu kami mengobrol soal keluarganya. Tentang suaminya dan kesehariannya yang lebih memilih menjadi ibu rumah tangga demi mengurus buah hati mereka.
"Syukur kalo kamu bahagia. Aku seneng denger kamu sama Erick sekarang", ucap gua setelah mendengar cerita soal kehidupan mereka selama ini di Australia.
"Ya aku bersyukur sama Tuhan udah diberi suami yang tulus mau terima kekurangan aku yang diawal pernikahan belum bisa menerima dia sepenuhnya. Apalagi sekarang anak kami udah mulai bisa manggil Mamah. Lucu deh pokoknya", jawab Luna nampak bahagia. "Oh ya. Maaf ya Gha, aku cuma saran aja. Kenapa kamu gak ambil anak angkat sama Ve ? Ya adopsi gitu", lanjutnya.
"Ve kurang setuju. Bukan berarti dia gak mau tapi malah sekarang dia punya rumah anak yatim", jawab gua.
"Oh ya ? Wah hebat banget istri kamu, Gha. Terus alesannya kenapa gak mau adopsi anak ?".
Bukan hal yang mudah menjelaskan kenapa istri gua lebih memilih untuk membangun rumah anak yatim dan memberi gua izin untuk berpoligami kepada Luna. Nyonya memang lebih memilih gua mendapatkan anak dari darah daging gua sendiri sekalipun bukan dari rahimnya dengan cara berpoligami. Dan hal tersebut yang membuat gua tidak menceritakan hal ini dengan Luna. Bagi gua belum waktunya dia mengetahuinya sekarang.
"Eh ngomong-ngomong aku kesini karena denger kabar kalo Mamah kamu dirawat di rumah sakit, Lun", ucap gua mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya Mamah baru kemarin masuk rumah sakit. Biasa mungkin pola makannya aja yang kurang baik kok, Gha. Kamu dapet kabar dari siapa ?".
Gua ceritakan kepadanya kalau Pak RT baru saja mengabari warga soal kabar Mamahnya yang sedang sakit itu. Luna juga menceritakan saat ini Papah dan Eva-Kakak tirinya yang sedang bergantian menjaga sang Mamah di rumah sakit. Setelah mengobrol cukup lama, akhirnya Luna ikut bersama gua ke rumah.
"Assalamualaikum..", ucap gua ketika memasuki ruang tamu.
"Walaikumsalam, Mas. Kok lama banget pulangnya ?. Eh ? Loch Kak Luna ?", jawab istri gua yang sedang menggendong Nabil dan melihat gua datang bersama Luna.
"Hai Ve..", sapa Luna seraya mencium pipi kanan-kiri nya. "Eh ini anak siapa ? Lucu banget", lanjutnya ketika memperhatikan Nabil yang tertidur dalam gendongan istri gua itu.
"Ini anaknya Mba Intan. Mmm.. Ceritanya panjang, Kak. Nanti kita ngobrol-ngobrol. Sekarang kita duduk dulu yu. Mau ngobrol dimana ?", ucap istri gua dengan tersenyum sumringah.
"Di belakang aja gak apa-apa kan ? Aku pingin ketemu Echa sama Jingga dan kedua anak kamu, Ve", jawab Luna.
Nyonya melirik kepada gua.
"Iya makanya tadi agak lama karena aku ketemu Luna dulu, Yang. Kita ngobrol di belakang aja yu", ucap gua.
Di dalam gazebo itu kami kembali mengobrol setelah Luna menyapa empat makam yang terletak tidak jauh dari sana.
"Yang sabar ya sayang", ucap Luna seraya mengelus pundak kanan Nyonya setelah mendengar kembali cerita yang sudah gua ceritakan sebelumnya. "Aku yakin setelah ini semua Tuhan masih tetap menyayangi kamu".
"Iya Kak, aamiin. Makasih ya. Oh ya jam berapa nanti kita mau ke rumah sakit ?", tanya istri gua.
"Kalo warga sih abis shalat ashar katanya. Kamu ikut aja ya", jawab gua.
"Iya Mas aku emang pingin jengukin Mamahnya Kak Luna".
Sore harinya gua, Nyonya, Ibu dan Bapak pergi menjenguk Mamahnya Luna di salah satu rumah sakit. Sedangkan warga lainnya sudah lebih dulu sampai disana. Keadaan Beliau memang tampak lemah dan sedang di opname. Tapi kata Luna penyakit yang dideritanya tidak parah apalagi mengkhawatirkan. Cukup lama kami menengok sang Mamah sampai sebelum maghrib akhirnya satu persatu warga pamit pulang menggunakan mobil mereka masing-masing.
Gua sedang mengobrol bersama Bapak di depan ruangan. Sedangkan Nyonya dan Ibu masih berada di dalam yang ditemani oleh Luna dan juga Papahnya. Saat adzan berkumandang gua bersama Bapak menuju masjid di rumah sakit ini untuk shalat berjama'ah, singkat cerita selesai melaksanakan shalat kami pamit kepada keluarganya Luna.
...
Keesokan harinya setelah pulang kerja gua mengabari Nyonya kalau pulang dari Jakarta gua langsung menuju rumah Mba Yu. Karena siang sebelumnya wanita semlohay itu sempat bbm untuk meminta gua membelikan makanan di dekat resto.
Sesampainya di rumah Mba Yu gua pun menceritakan pertemuan gua kemarin hari dengan Luna. Awalnya ia menanggapi dengan dingin sampai akhirnya gua ceritakan kalau Mamahnya Luna sedang di rawat di rumah sakit. Cukup lama ia menanyakan soal keadaan Mamahnya Luna itu hingga obrolan kami sampai kepada hubungan kami berdua karena gua merasa sekaranglah waktunya yang tepat untuk membawa dirinya menjadi bagian dari keluarga gua.
Awalnya Mba Yu terlihat berbeda. Ada keraguan yang gua lihat dari caranya berbicara yang ternyata sang Papah lah yang menjadi beban pikirannya. Saat itu gua tidak peduli dengan ucapannya. Gua hanya ingin menunjukan kalau apa yang sudah kami semua pilih ini patut diperjuangkan. Gua yakinkan diri sendiri agar tetap melangkah kedepan dan mencoba mendapatkan restu dari Papahnya tersebut.
Maka Keesokan harinya gua bawa Mba Yu menemui semua keluarga gua yang sebelumnya sudah gua kabari. Hari itu gua utarakan niat gua untuk menikahi wanita bernama Gendisa Putri.
Om gua yang menjadi salah satu orang yang kurang yakin dengan rencana ini pun hendak mendebat. Tapi Nenek menahan. "Kamu gak bisa melarang keputusan Aghda dan Vena. Mereka sudah dewasa, keputusannya adalah tanggungjawab mereka bertiga", ucap Nenek.
Mba Yu sedikit menunduk. Lalu Om gua tersenyum kepada wanita seksi itu.
"Gendis, maaf ya. Om bukannya melarang atau menghalang-halangi. Tapi Om cuma mau memastikan aja keputusan kalian ini", tanya Om gua baik-baik.
"Insya Allah saya yakin. Keputusan saya murni dari hati saya, Om. Saya gak dipaksa siapapun", jawabnya.
"Dengan kondisi keluarganya Agha yang sekarang ?", tanya Tante gua kali ini.
Mba Yu mengangguk. "Iya, Tante. Dengan kondisi Mas Agha yang sekarang. Insya Allah aku terima kekurangan dan segala resikonya menjadi istri kedua", jawab Mba Yu yakin.
Om gua mengusap wajahnya. Lalu melirik istrinya itu. "Beruntung sekali si Agha, Mah", ucapnya.
Tante gua tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. "Iya. Dan Agha harus berjanji bisa bahagiain kamu Gendis. Kalo sampe Agha berlaku enggak adil, jangan takut untuk cerita ke kami ya, sayang", ucap Tante gua lagi.
Mba Yu mengangguk dan tersenyum bahagia. "Iya Tante, insya Allah. Terimakasih", jawabnya.
"Sekarang pertanyaannya kapan kamu mau nemuin orangtuanya Gendis ?", tanya Nenek kali ini kepada gua.
"Insya Allah besok, Nek. Aku minta restu kalian semua. Mohon niat ku ini direstui dan do'a kan kalo keputusan ini adalah yang terbaik", jawab gua dengan meyakinkan diri sendiri.
"Insya Allah semuanya baik-baik aja. Karena pernikahan itu termasuk ibadah yang paling lama, hampir setengah dari hidup kita. Banyak ladang pahala disana, Gha. Tapi ingat, banyak juga ladang dosanya jika kamu tidak bisa jaga iman dan ketakwa'an mu pada Allah subhanahu wa Ta'ala", ucap Bapak gua kali ini memberikan wejangannya.
"Kami cuma bisa mendukung kalian dengan do'a-do'a yang kami panjatkan kepada Allah subhanahu wa Ta'ala. Tolong jaga rumah tangga kalian ya. Jaga sebaik-baiknya. Ibu percaya kalian bisa", timpal Ibu menambahkan dengan senyuman indahnya.
"Aamiin.. Aamiin.. Aamiin ya rabbal'alamin".
Mba Yu nyaris menitikan airmatanya. Lalu Nenek memeluk Mba Yu yang memang duduk disampingnya itu.
Kemudian gua tersenyum ketika Nyonya yang duduk di samping gua sedari tadi berpelukan juga dengan Mba Yu. Saat itu dalam hati gua mengucapkan Basmalah sebagai niat awal untuk membuka lembaran baru dalam hidup ini.
Sore hari gua baru saja hendak mengantarkan Mba Yu pulang ketika blackberry gua berdering tanda panggilan masuk berbunyi dari dalam saku jaket.
"Mas, hape kamu bunyi tuh.. Angkat dulu", ucap Mba Yu.
Gua tidak jadi menyalakan mesin mobil. Gua ambil blackberry dari dalam saku jaket dan menatap layarnya dengan kening berkerut.
"Siapa ya ini ?", ucap gua.
"Siapa ?", tanya Mba Yu yang duduk di bangku samping gua.
Gua menengok kepada Mba Yu dan menggelengkan kepala, lalu menunjukkan layar blackberry yang masih menampilkan nomer asing tersebut.
Mba Yu memajukkan kepalanya untuk melihat layar blackberry tersebut dengan mengerutkan keningnya juga.
"Kok plus empat sembilan angka depannya, Mas ?", tanyanya setelah melihat sendiri nomer tersebut di layar blackberry gua.
Gua menaikkan kedua bahu. Menandakan kalau gua sama sekali tidak tahu nomer tersebut untuk kode negara mana.
"Gak usah diangkat deh. Paling salah sambung", ucap gua hendak menaruh blackberry diatas dashboard.
"Udah angkat aja dulu, siapa tau emang ada perlu sama kamu, Mas", ucap Mba Yu.
"Yaudah, bentar ya".
Mba Yu hanya mengangguk.
Gua tekan tombol bergambar gagang telpon dengan warna hijau menyala.
~ Lembayung senja bagian delapan.
*
*
*
*
*
"Halo, dengan siapa ini ?", tanya gua tidak mempedulikan jika bisa saja orang diujung sana bukan orang Indonesia.
"Halo, apa kabar, Kak Oda ?". Jawab suara wanita yang cukup familiar diingatan gua.
"Ya. Baik alhamdulillah. Maaf ini siapa ?". Tanya gua lagi dengan menerka-nerka siapa wanita tersebut.
"Aku Ana... Anastasya, Kak. Kamu masih ingat ?".
Gua terkejut, lalu menengok kepada wanita seksi yang masih memperhatikan gua disamping. Mba Yu bertanya 'siapa ?' tanpa suara. Hanya dengan gerakan mulut dan matanya.
"Ehm.. Hai.. Apa kabar, Ay ?", tanya gua balik.
Mba Yu memicingkan matanya, wajahnya nampak bingung.
Diubah oleh glitch.7 09-11-2018 01:52
playas dan 28 lainnya memberi reputasi
29
Kutip
Balas

