- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Catatan:
1. Mengacu pada aturan main forum H2H dan SFTH
2. 95% Semua tokoh/karakter di cerita ini sudah memberikan izin
3. Sikapi dengan bijak apa yang tertuang disini
4. Jangan meminta lebih dari apa yang sudah diberikan
5. Sopanlah dalam berkomentar
6. Saling menghargai TS, penulis dan sesama kaskuser disini
1. Mengacu pada aturan main forum H2H dan SFTH
2. 95% Semua tokoh/karakter di cerita ini sudah memberikan izin
3. Sikapi dengan bijak apa yang tertuang disini
4. Jangan meminta lebih dari apa yang sudah diberikan
5. Sopanlah dalam berkomentar
6. Saling menghargai TS, penulis dan sesama kaskuser disini
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
BAB I & BAB II
BAB III & BAB IV
***
Tralala_Trilili
PROLOG
BAB V
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15- continues
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
***
SEBELUM CAHAYA
PART I
PART II
PART III - The Ghost of You
PART IV
PART V
PART VI
PART VII
PART VIII
Cooling Down
PART IX
PART X - continues
PART XI
PART XII
PART XIII
PART XIV
PART XV
PART XVI
PART XVII A
PART XVII B
PART XVIII
PART XIX - continues
PART XX
PART XXI
PART XXII
PART XXIII
PART XXIV
PART XXV
PART XXVI
PART XXVII
PART XXVIII
PART XXIX
PART XXX
PART XXXI
PART XXXII
PART XXXIII
PART XXXIV
PART XXXV
PART XXXVI - continues
PART XXXVII
PART XXXVIII
PART XXXIX
Vor dem Licht XL - Das Ende
***
BAB V
PART 21
PART 22
Tentang Rasa
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
Von Hier Wegfliegen
Teils Eins - Vorstellen
Teils Zwei - Anfang
Teils Drei - Der Erbarmer
Teils Vier - Von Hier Wegfliegen
Lembayung Senja
Bagian Satu
Bagian Dua
Bagian Tiga
Bagian Empat
Bagian Lima - continues
Bagian Enam
Bagian Tujuh
Bagian Delapan
Bagian Sembilan
Bagian Sepuluh - continues
Breaking Dawn
One Step Closer
Ascension
Throwback Stories
Life is Not Always Fair
Dusk till Dawn
Awal Semula
Untuk Masa Depan
Terimakasih
Omong Kosong
Kepingan Cerita
Menyerah
Restoe
Rasanya - Rasain
Pengorbanan
Menuju Senja
Kenyataan
Wiedersehen
Cobalah untuk Mengerti
Pengorbanan
Tentang Kita
SIDE STORY
VFA
Daily Life I
Daily Life II
Maaf NEWS
Tentang MyPI
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
Kutip
8.8K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#8097
Throwback Stories
MENYERAH
Quote:
Kehadiran keluarga Mba Intan disambut baik oleh istri gua terlebih dengan adanya Nabil. Ada rutinitas baru untuknya, apalagi kalau bukan merawat bayi yang kini sudah berusia empat bulan itu. Selain itu dia juga masih perlu pulang-pergi ke Singapore untuk menjalani Fisioterapi. Dalam satu bulan Ia harus empat kali mengunjungi rumah sakit yang berada disana. Gua pun masih sering mengantarnya.
Adanya Mba Intan, Nabil, dan Suci di rumah ini cukup membuat gua dan istri sejenak melupakan hal yang baru-baru ini sering kami debatkan berdua. Apalagi kalau bukan persoalan Mba Yu.
Tapi akhirnya gua sadar. Setelah wanita seksi itu sudah tidak bekerja, intensitasnya datang ke rumah gua semakin sering. Dan hal tersebut membuat gua kembali curiga hingga akhirnya mau tidak mau gua kembali membahasnya dengan istri gua.
Malam itu gua baru saja selesai melaksanakan shalat isya berjama'ah di masjid. Gua kembali ke rumah ketika Mba Yu yang memang sudah dari sore berada disini hendak pulang. Setelah gua mengucapkan salam dan berjalan masuk ke ruang tamu, Mba Yu sudah selesai pamitan kepada orang-orang yang berada disini. Ada Ibu, Bapak, Mba Intan, Suci dan tentu saja istri gua yang sedang menggendong Nabil.
"Mas, aku pulang dulu ya", ucapnya saat berapaspasan dengan gua seraya mengulurkan tangannya.
Gua diam beberapa saat memperhatikannya. Barulah gua menyambut uluran tangannya itu. Dan sedetik kemudian ia mencium punggung tangan kanan gua.
"Assalamualaikum", ucapnya lagi setelah mencium tangan gua.
"Walaikumsalam.. Hati-hati bawa mobilnya. Hujan, Mba", jawab gua.
"Iya, Mas. Makasih", balasnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruang tamu rumah ini.
Baru saja ia keluar. Istri gua langsung tersenyum. "Mas.. Anterin gih, kasian sendirian ujan-ujan gini mana udah malem juga", ucap istri gua itu.
Gua menghela nafas pelan sambil menggelengkan kepala. "Gak usah, gak akan apa-apa kok. Baru juga setengah delapan", jawab gua sambil berjalan menghampirinya.
"Tolong anterin, pleassee...Kasian dia Mas sendirian bawa mobil", istri gua mulai bersikeras dengan menggenggam kedua tangan gua kali ini.
"Iya, Gha. Kasian itu Gendis. Anterin ya sayang ya..", timpal Ibu kali ini ikut-ikutan mendukung istri tercinta gua. "Nanti kamu pulangnya bawa mobilnya lagi, pagi-pagi biar supir Ibu yang balikin mobilnya", lanjut Beliau.
"Ci, tolong panggilin Mba Gendis ya. Suruh tunggu gitu", ucap istri gua meminta tolong kepada Suci untuk menahan Mba Yu.
Suci langsung berlari kecil keluar rumah saat mendengar suara mobil yang sudah menyala. Sedangkan gua menggelengkan kepala lagi melihat situasi yang terasa menyudutkan ini.
"Aku belum bilang iya. Kok kalian malah ambil keputusan sendiri sih ?", tanya gua menahan kesal dengan menatap istri dan Ibu bergantian.
"Udah, Gha. Gak apa-apa, itung-itung kamu bales kebaikan Gendis yang tiap hari nemenin istri kamu di rumah", jawab Bapak kali ini dengan nada suara yang ramah.
Gua berdiri dari duduk, lalu berjalan kearah kamar. "Aku gak pernah minta dia untuk nemenin istri ku. Apalagi sampai kesini setiap hari...", timpal gua dengan terus berjalan menaiki tangga ke kamar atas.
Kini gua sudah mengendarai mobil sedan berwarna hitam yang pemiliknya sedang duduk manis tepat di samping kiri. Jalanan di jum'at malam ini ternyata cukup ramai walaupun sedang hujan. Ya mungkin karena sudah memasuki weekend banyak orang yang memilih untuk berpergian.
"Mas, kamu belum makan kan ? Kita makan dulu ya", ucap Mba Yu memecah keheningan diantara kami.
"Gak usah, Mba. Aku makan di rumah aja nanti", jawab gua dingin.
"Di rumah kamu gak ada makanan tau. Tadi masakan Ibu udah abis pas kamu shalat di mesjid".
Gua melirik kepadanya. "Gak mungkin aku gak di sisain lah".
Mba Yu tersenyum lebar. "Serius tau. Aku liat sendiri udah abis makanannya tadi. Nih istri kamu juga bbm minta aku ngajakin kamu makan dulu. Tuh baca aja sendiri kalo gak percaya", balasnya seraya menunjukkan sebuah chatt bbm antara dia dan istri gua.
Gua mendengus kasar. Lalu kembali fokus ke jalan raya di depan sana.
"Jadi mau makan apa, Mas ?", tanyanya lagi.
"Gak. Gak usah. Gak laper aku", jawab gua ketus.
"Hahahaha... Judes banget siiihh.. Hihihihi...", tawanya itu membuat gua makin keki, ditambah colekan jari lentiknya yang mendarat di dagu ini.
Akhirnya gua arahkan mobil ke sebuah restoran cepat saji sebelum sampai ke komplek perumahannya. Kami berdua memilih makan di meja bagian luar. Gua memesan paket nasi dan ayam, sedangkan Mba Yu hanya memesan kentang goreng dengan satu buah softdrink.
"Pelan-pelan makannya, Mas", ucapnya sambil tersenyum.
"Laper...", jawab gua sekenannya.
"Tadi katanya gak laper, hihihihi...", godanya.
Makin sebel gua jadinya. "Laper sebenernya ma..", ucap gua kali ini makin cemberut.
"Lucu kamu tuh kalo lagi cemberut gitu, cubit ya pipinya", tangannya mulai terulur untuk mencubit pipi kiri gua.
Gua mundurkan wajah seraya mengambil tissu untuk mengelap mulut. "Apaan sih, Mba ? Tingkah kamu jadi aneh gini", ucap gua kali ini seraya mengambil minuman setelah menepis tangannya itu.
Mba Yu hanya tersenyum tipis. Setelah itu kami hanya mengobrol santai sampai akhirnya gua sadar waktu sudah semakin malam. Gua ajak dia pulang sebelum orangtuanya menanyakan hal yang gua tidak ingin dengar.
Singkat cerita kami berdua sudah sampai di depan rumahnya. Hujan yang sebelumnya cukup deras mulai berganti dengan rintikin gerimis.
"Mau masuk dulu ?", tawarnya seraya melepaskan seat belt yang ia kenakan.
"Gak deh Mba, lain kali aja ya. Da malem banget soalnya. Oh ya, aku bawa mobil kamu dulu ya, nanti besok pagi sopir Ibu yang balikin", jawab gua.
Mba Yu tersenyum manja seolah-olah ada sesuatu yang ia inginkan dari gua.
"Mmm.. Besok pagi aku mau ke Jakarta tau..", ucapnya dengan suara yang terdengar manja.
Gua mengerenyitkan kening. "Terus ?", tanya gua bingung.
"Yaaa.. Mau ketemu temen lama gitu deh. Maen ke rumahnya, udah lama gak ketemu dari pas masih kuliah dulu, Mas", jawabnya sambil memainkan jemari tangannya sendiri.
"Terus apa hubungannya sama aku, Mba ?".
Mba Yu tersenyum lebar kali ini. "Kamu mau gak sekalian anterin aku besok pagi ? Nanti pulang kerja kamu jemput aku lagi, ya ya ya ya ? Mau ya Mas.. Hehehe", bujuknya manja banget sampai memegang lengan kiri gua.
"Aduuh.. Repotin banget sih kamu tuh. Udah sendiri aja deh. Lagian besok aku pulang malem banget, kan malem minggu pasti rame restorannya", jawab gua malas.
Raut wajahnya langsung berubah. Bibirnya manyun dengan pipi yang sedikit dikembungkan.
"Yaudah! Gak usah kalo ngerepotin!", ucapnya bete. Pintu di sampingnya ia buka dan langsung keluar dari mobil.
Ditutupnya kembali pintu tersebut dengan sedikit keras. Lalu gua turunkan kaca mobil agar bisa melihatnya yang sudah berada diluar.
"Aku pulang dulu ya", ucap gua.
"Iiiih!! Kok malah langsung pulang! Nyebelin banget sih kamu, Mas!", teriaknya.
Gua menggaruk pelipis, lalu gua tersenyum dengan berat hati. "Ya terus maunya gimana ?", tanya gua.
"Ya minta maaf kek! Rayu akunya kek! Apalah pokoknya! Bukan langsung pulang gitu! Aaah kesel aku ama kamu!".
Mba Yu langsung berjalan cepat kearah pagar rumahnya. Gua menghela nafas dengan kasar sambil mematikan mesin mobil yang masih terus menyala.
Ketika dia sudah masuk ke halaman rumahnya, gua keluar mobil dan menghampirinya.
"Tunggu, Mba...", ucap gua yang masih berjalan mendekat.
Mba Yu tidak peduli dan terus berjalan ke teras sampai akhirnya ia berada di depan pintu rumah yang sudah terbuka.
"Tunggu dulu dong..", ucap gua lagi yang sekarang sudah berada tepat dibelakangnya. Gua pegang tangan kanannya agar ia mau berbalik menghadap kearah gua.
Wajahnya benar-benar bete. Gua tersenyum tipis menatap matanya.
"Maafin aku udah buat kamu kesel, Mba. Iya besok aku jemput kamu pagi-pagi. Terus aku anter ke rumah temen kamu di Jakarta. Jangan marah lagi ya. Aku beneran minta maaf", ucap gua dengan tetap tersenyum.
"Gak ikhlas pasti..", jawabnya dengan nada yang ketus.
Gua terkekeh pelan. "Ikhlas kok ikhlas.. Beneran deh. Udah jangan cemberut terus, makin keliatan cantik nanti", goda gua.
"Preett..", sungutnya.
Gua tertawa kali ini melihat reaksinya begitu. Lalu gua betot hidungnya tepat saat sang Mamah keluar dari dalam rumah dan melihat tingkah laku gua kepada putri sulungnya tersebut.
"Eh ada Agha...", ucap Mamahnya.
"Eh, Tante.. Assalamualaikum..", ucap gua sedikit gugup karena malu ke gep sedang menggoda anaknya itu.
"Walaikumsalam.. Apa kabar, Gha ? Masuk atuh jangan diluar".
Gua cium tangannya lalu tersenyum manis. "Alhamdulilah baik, Tante. Udah gak apa-apa saya gak lama kok, mau langsung pulang lagi, udah malem juga soalnya, Tan", jawab gua.
"Gak mau namu dulu tuh Mah. Somse sekarang dia..", ledek Mba Yu.
"Ya kan besok pagi juga kesini lagi buat jemput kamu, Mba. Udah jangan bete terus ah", balas gua.
"Loch emang mau diajakin kemana si Ndu, Gha ?", tanya Mamahnya kali ini.
"Oh enggak Tante. Saya cuma mau anterin Gendis ke Jakarta, katanya mau ketemu temen kuliahnya besok pagi. Kebetulan malem ini saya mau pinjem mobilnya dulu", jawab gua.
"Oooh... Yaudah atuh masuk dulu yuk, Gha", ajak Beliau. "Ndu, bikinin kopi loch itu buat Mas Agha", lanjutnya menyuruh Mba Yu kali ini.
"Iya Mah. Yuk masuk dulu, Mas. Sebentar aja, aku buatin kopi dulu, Mamah yang minta loch, masa tetep nolak sih", ucap Mba Yu.
"Iya Tante...", jawab gua akhirnya mengalah.
...
Sekitar pukul sepuluh malam gua baru sampai di rumah. Saat itu semua orang sudah berada di kamarnya masing-masing. Gua masuki kamar atas tempat dimana gua dan istri beristirahat.
"Assalamualaikum", ucap gua ketika sudah membuka pintu kamar.
"Walaikumsalam. Baru pulang, Mas ?", jawabnya yang sedang duduk diatas ranjang sambil menonton acara televisi.
"Iya, Yang. Maaf ya kemaleman. Tadi aku mampir dan ngobrol dulu sama keluarganya Mba Yu", jawab gua yang berjalan mendekat.
"Oh ketemu keluarganya ? Pada sehat Papah sama Mamahnya ?".
"Alhamdulillah pada sehat. Mereka juga nanyain kamu. Titip salam juga buat kamu".
"Walaikumsalam. Terus ngobrol apa aja ?", tanyanya kali ini sedikit antusias.
Gua berjalan kearah kamar mandi yang berada di dalam kamar ini untuk mencuci tangan dan kaki.
"Biasalah obrolan gitu-gitu aja, Yang...", jawab gua sedikit berteriak karena sedang mencuci kaki.
Selesai bersih-bersih gua naik ke ranjang dan duduk tepat disampingnya.
"Gitu gimana, Mas ? Cerita yang jelas dong", tanyanya lagi sambil tersenyum lebar.
"Ya gitu aja. Nanyain kabar, kabar kamu, Ibu, kerjaan ku.. Ya basa-basi doang karena lama gak ketemu. Sama ngobrolin Mba Yu yang sekarang lagi gak mau kerja dulu. Heran aku juga katanya mau jadi wanita karir tapi kok sekarang malah males nyari kerjaan baru tuh cewek satu", jawab gua.
"Mau jadi istri yang terbaik katanya..", ucap istri gua tiba-tiba.
"Hah ? Apaan ? Istri yang baik ? Dia mau nikah lagi ?", tanya gua yang benar-benar terkejut kali ini.
Istri gua tersenyum. "Iya lah, emangnya dia mau ngejanda selamanya apa, Mas ? Hihihi...".
"Ya bukan gitu. Maksud aku aneh aja, kapan dia ketemu sama cowok ? Siapa calon suaminya gitu. Perasaan dia gak lagi deket sama siapa pun. Apa aku yang ketinggalan berita nih ?", gua beneran bingung.
"Ya insya Allah calon suaminya baik dan bertanggungjawab".
Gua menatap wajah istri gua dengan serius. Sambil berpikir siapa lelaki yang dimaksud.
"Kamu kenal sama calon suaminya ?", tanya gua lagi.
Istri gua hanya mengangguk dengan senyuman yang manis sekali.
"Serius ? Siapa cowoknya ?".
"Kamu".
"......".
"......".
"Mas..".
Gua memundurkan tubuh lalu berdiri.
"Aku tau kamu belum setuju. Aku tau kita udah berkali-kali bahas masalah ini. Tapi, Mas... Tolong kamu buka hati kamu untuk Mba Gen..".
"Cukup ya. Aku gak mau denger kamu bahas masalah ini. Cukup...".
Gua hendak berjalan keluar kamar.
"Dia ikhlas dan nerima semua keadaan keluarga kita. Dia satu-satunya wanita yang aku percaya untuk kamu nikahin...".
Gua buka pintu kamar.
"Mas tolong kamu pikirin baik-baik. Ini semua bukan untuk aku sendiri. Aku rela demi ngejaga rumah tangga kita", ucapnya sedikit berteriak karena gua sudah berada di ambang pintu kamar.
"Rumah tangga macem apa ?!", sentak gua.
Istri gua terkejut. Lalu dia menarik nafas perlahan sambil memejamkan matanya sebelum akhirnya kembali tersenyum tipis.
"Rumah tangga kita. Aku gak mau kamu sampe selingkuh dibelakang aku, Mas. Aku takut kamu main perempuan lain. Sebelum itu kejadian tolong kamu pikirin hal ini baik-baik", jawabnya.
Gua berjalan cepat menghampirinya dengan emosi yang sudah meluap di dalam hati dan otak ini.
"Eh! Denger baik-baik! Kamu itu egois! Kamu gak mikirin perasaan aku! Kamu gak mikirin perasaan Gendis! Kamu gak mikirin perasaan keluarganya! Dan kamu gak mikir gimana nanti kita harus denger mulut-mulut brengs*k diluar sana tentang pernikahan yang kamu mau!!!", ucap gua penuh emosi.
Nona Ukhti yang sudah menemani gua selama ini sebagai satu-satunya istri tercinta setelah kepergian Almh. Echa benar-benar terkejut dengan reaksi gua tersebut. Dia memejamkan matanya dengan nafas yang sedikit memburu.
"Astagfirullahaladzim..", ucapnya. "Mas, aku minta maaf. Tapi aku udah omongin soal ini sama Mba Gendis. Dia setuju. Dia mau. Kita semua gak ada masalah. Hanya soal perasaan kamu yang harus bisa membuka hati untuk dia, Mas. Kalo kamu takut akan omongan orang lain. Kamu gak perlu tanggepin apapun. Bukan mereka yang berhak menilai kita. Aku begini bukan karena aku gak percaya dan rela kamu memilih perempuan lain, tapi karena aku sayang sama kamu", lanjutnya dengan suara yang cukup pelan.
"Aku gak tau harus ngomong apalagi sama kamu. Aku bener-bener gak ngerti jalan pikiran kamu. Jalan pikiran Ibu. Dan kalian semua.. Aku gak tau lagi harus gimana...", ucap gua.
Gua kembali berjalan keluar kamar. Sampai di ambang pintu, kembali gua membalikan tubuh untuk menatap wanita yang masih duduk diatas ranjang itu dengan balutan hijab berwarna krem.
"Ve...".
Dia menatap gua dengan wajah yang sendu.
"Jangan paksa aku untuk menyerah", lanjut gua.
Wanita itu masih menatap gua. Sebuah tasbih yang masih ia genggam sedari tadi pun masih berada dalam genggamannya. Bibirnya kini tersenyum.
"Aku gak pernah meminta kamu untuk menyerah. Aku cuma minta kamu untuk beribadah, Mas", balasnya dengan nada yang lembut tanpa senyum yang surut.
Adanya Mba Intan, Nabil, dan Suci di rumah ini cukup membuat gua dan istri sejenak melupakan hal yang baru-baru ini sering kami debatkan berdua. Apalagi kalau bukan persoalan Mba Yu.
Tapi akhirnya gua sadar. Setelah wanita seksi itu sudah tidak bekerja, intensitasnya datang ke rumah gua semakin sering. Dan hal tersebut membuat gua kembali curiga hingga akhirnya mau tidak mau gua kembali membahasnya dengan istri gua.
Malam itu gua baru saja selesai melaksanakan shalat isya berjama'ah di masjid. Gua kembali ke rumah ketika Mba Yu yang memang sudah dari sore berada disini hendak pulang. Setelah gua mengucapkan salam dan berjalan masuk ke ruang tamu, Mba Yu sudah selesai pamitan kepada orang-orang yang berada disini. Ada Ibu, Bapak, Mba Intan, Suci dan tentu saja istri gua yang sedang menggendong Nabil.
"Mas, aku pulang dulu ya", ucapnya saat berapaspasan dengan gua seraya mengulurkan tangannya.
Gua diam beberapa saat memperhatikannya. Barulah gua menyambut uluran tangannya itu. Dan sedetik kemudian ia mencium punggung tangan kanan gua.
"Assalamualaikum", ucapnya lagi setelah mencium tangan gua.
"Walaikumsalam.. Hati-hati bawa mobilnya. Hujan, Mba", jawab gua.
"Iya, Mas. Makasih", balasnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruang tamu rumah ini.
Baru saja ia keluar. Istri gua langsung tersenyum. "Mas.. Anterin gih, kasian sendirian ujan-ujan gini mana udah malem juga", ucap istri gua itu.
Gua menghela nafas pelan sambil menggelengkan kepala. "Gak usah, gak akan apa-apa kok. Baru juga setengah delapan", jawab gua sambil berjalan menghampirinya.
"Tolong anterin, pleassee...Kasian dia Mas sendirian bawa mobil", istri gua mulai bersikeras dengan menggenggam kedua tangan gua kali ini.
"Iya, Gha. Kasian itu Gendis. Anterin ya sayang ya..", timpal Ibu kali ini ikut-ikutan mendukung istri tercinta gua. "Nanti kamu pulangnya bawa mobilnya lagi, pagi-pagi biar supir Ibu yang balikin mobilnya", lanjut Beliau.
"Ci, tolong panggilin Mba Gendis ya. Suruh tunggu gitu", ucap istri gua meminta tolong kepada Suci untuk menahan Mba Yu.
Suci langsung berlari kecil keluar rumah saat mendengar suara mobil yang sudah menyala. Sedangkan gua menggelengkan kepala lagi melihat situasi yang terasa menyudutkan ini.
"Aku belum bilang iya. Kok kalian malah ambil keputusan sendiri sih ?", tanya gua menahan kesal dengan menatap istri dan Ibu bergantian.
"Udah, Gha. Gak apa-apa, itung-itung kamu bales kebaikan Gendis yang tiap hari nemenin istri kamu di rumah", jawab Bapak kali ini dengan nada suara yang ramah.
Gua berdiri dari duduk, lalu berjalan kearah kamar. "Aku gak pernah minta dia untuk nemenin istri ku. Apalagi sampai kesini setiap hari...", timpal gua dengan terus berjalan menaiki tangga ke kamar atas.
Kini gua sudah mengendarai mobil sedan berwarna hitam yang pemiliknya sedang duduk manis tepat di samping kiri. Jalanan di jum'at malam ini ternyata cukup ramai walaupun sedang hujan. Ya mungkin karena sudah memasuki weekend banyak orang yang memilih untuk berpergian.
"Mas, kamu belum makan kan ? Kita makan dulu ya", ucap Mba Yu memecah keheningan diantara kami.
"Gak usah, Mba. Aku makan di rumah aja nanti", jawab gua dingin.
"Di rumah kamu gak ada makanan tau. Tadi masakan Ibu udah abis pas kamu shalat di mesjid".
Gua melirik kepadanya. "Gak mungkin aku gak di sisain lah".
Mba Yu tersenyum lebar. "Serius tau. Aku liat sendiri udah abis makanannya tadi. Nih istri kamu juga bbm minta aku ngajakin kamu makan dulu. Tuh baca aja sendiri kalo gak percaya", balasnya seraya menunjukkan sebuah chatt bbm antara dia dan istri gua.
Gua mendengus kasar. Lalu kembali fokus ke jalan raya di depan sana.
"Jadi mau makan apa, Mas ?", tanyanya lagi.
"Gak. Gak usah. Gak laper aku", jawab gua ketus.
"Hahahaha... Judes banget siiihh.. Hihihihi...", tawanya itu membuat gua makin keki, ditambah colekan jari lentiknya yang mendarat di dagu ini.
Akhirnya gua arahkan mobil ke sebuah restoran cepat saji sebelum sampai ke komplek perumahannya. Kami berdua memilih makan di meja bagian luar. Gua memesan paket nasi dan ayam, sedangkan Mba Yu hanya memesan kentang goreng dengan satu buah softdrink.
"Pelan-pelan makannya, Mas", ucapnya sambil tersenyum.
"Laper...", jawab gua sekenannya.
"Tadi katanya gak laper, hihihihi...", godanya.
Makin sebel gua jadinya. "Laper sebenernya ma..", ucap gua kali ini makin cemberut.
"Lucu kamu tuh kalo lagi cemberut gitu, cubit ya pipinya", tangannya mulai terulur untuk mencubit pipi kiri gua.
Gua mundurkan wajah seraya mengambil tissu untuk mengelap mulut. "Apaan sih, Mba ? Tingkah kamu jadi aneh gini", ucap gua kali ini seraya mengambil minuman setelah menepis tangannya itu.
Mba Yu hanya tersenyum tipis. Setelah itu kami hanya mengobrol santai sampai akhirnya gua sadar waktu sudah semakin malam. Gua ajak dia pulang sebelum orangtuanya menanyakan hal yang gua tidak ingin dengar.
Singkat cerita kami berdua sudah sampai di depan rumahnya. Hujan yang sebelumnya cukup deras mulai berganti dengan rintikin gerimis.
"Mau masuk dulu ?", tawarnya seraya melepaskan seat belt yang ia kenakan.
"Gak deh Mba, lain kali aja ya. Da malem banget soalnya. Oh ya, aku bawa mobil kamu dulu ya, nanti besok pagi sopir Ibu yang balikin", jawab gua.
Mba Yu tersenyum manja seolah-olah ada sesuatu yang ia inginkan dari gua.
"Mmm.. Besok pagi aku mau ke Jakarta tau..", ucapnya dengan suara yang terdengar manja.
Gua mengerenyitkan kening. "Terus ?", tanya gua bingung.
"Yaaa.. Mau ketemu temen lama gitu deh. Maen ke rumahnya, udah lama gak ketemu dari pas masih kuliah dulu, Mas", jawabnya sambil memainkan jemari tangannya sendiri.
"Terus apa hubungannya sama aku, Mba ?".
Mba Yu tersenyum lebar kali ini. "Kamu mau gak sekalian anterin aku besok pagi ? Nanti pulang kerja kamu jemput aku lagi, ya ya ya ya ? Mau ya Mas.. Hehehe", bujuknya manja banget sampai memegang lengan kiri gua.
"Aduuh.. Repotin banget sih kamu tuh. Udah sendiri aja deh. Lagian besok aku pulang malem banget, kan malem minggu pasti rame restorannya", jawab gua malas.
Raut wajahnya langsung berubah. Bibirnya manyun dengan pipi yang sedikit dikembungkan.
"Yaudah! Gak usah kalo ngerepotin!", ucapnya bete. Pintu di sampingnya ia buka dan langsung keluar dari mobil.
Ditutupnya kembali pintu tersebut dengan sedikit keras. Lalu gua turunkan kaca mobil agar bisa melihatnya yang sudah berada diluar.
"Aku pulang dulu ya", ucap gua.
"Iiiih!! Kok malah langsung pulang! Nyebelin banget sih kamu, Mas!", teriaknya.
Gua menggaruk pelipis, lalu gua tersenyum dengan berat hati. "Ya terus maunya gimana ?", tanya gua.
"Ya minta maaf kek! Rayu akunya kek! Apalah pokoknya! Bukan langsung pulang gitu! Aaah kesel aku ama kamu!".
Mba Yu langsung berjalan cepat kearah pagar rumahnya. Gua menghela nafas dengan kasar sambil mematikan mesin mobil yang masih terus menyala.
Ketika dia sudah masuk ke halaman rumahnya, gua keluar mobil dan menghampirinya.
"Tunggu, Mba...", ucap gua yang masih berjalan mendekat.
Mba Yu tidak peduli dan terus berjalan ke teras sampai akhirnya ia berada di depan pintu rumah yang sudah terbuka.
"Tunggu dulu dong..", ucap gua lagi yang sekarang sudah berada tepat dibelakangnya. Gua pegang tangan kanannya agar ia mau berbalik menghadap kearah gua.
Wajahnya benar-benar bete. Gua tersenyum tipis menatap matanya.
"Maafin aku udah buat kamu kesel, Mba. Iya besok aku jemput kamu pagi-pagi. Terus aku anter ke rumah temen kamu di Jakarta. Jangan marah lagi ya. Aku beneran minta maaf", ucap gua dengan tetap tersenyum.
"Gak ikhlas pasti..", jawabnya dengan nada yang ketus.
Gua terkekeh pelan. "Ikhlas kok ikhlas.. Beneran deh. Udah jangan cemberut terus, makin keliatan cantik nanti", goda gua.
"Preett..", sungutnya.
Gua tertawa kali ini melihat reaksinya begitu. Lalu gua betot hidungnya tepat saat sang Mamah keluar dari dalam rumah dan melihat tingkah laku gua kepada putri sulungnya tersebut.
"Eh ada Agha...", ucap Mamahnya.
"Eh, Tante.. Assalamualaikum..", ucap gua sedikit gugup karena malu ke gep sedang menggoda anaknya itu.
"Walaikumsalam.. Apa kabar, Gha ? Masuk atuh jangan diluar".
Gua cium tangannya lalu tersenyum manis. "Alhamdulilah baik, Tante. Udah gak apa-apa saya gak lama kok, mau langsung pulang lagi, udah malem juga soalnya, Tan", jawab gua.
"Gak mau namu dulu tuh Mah. Somse sekarang dia..", ledek Mba Yu.
"Ya kan besok pagi juga kesini lagi buat jemput kamu, Mba. Udah jangan bete terus ah", balas gua.
"Loch emang mau diajakin kemana si Ndu, Gha ?", tanya Mamahnya kali ini.
"Oh enggak Tante. Saya cuma mau anterin Gendis ke Jakarta, katanya mau ketemu temen kuliahnya besok pagi. Kebetulan malem ini saya mau pinjem mobilnya dulu", jawab gua.
"Oooh... Yaudah atuh masuk dulu yuk, Gha", ajak Beliau. "Ndu, bikinin kopi loch itu buat Mas Agha", lanjutnya menyuruh Mba Yu kali ini.
"Iya Mah. Yuk masuk dulu, Mas. Sebentar aja, aku buatin kopi dulu, Mamah yang minta loch, masa tetep nolak sih", ucap Mba Yu.
"Iya Tante...", jawab gua akhirnya mengalah.
...
Sekitar pukul sepuluh malam gua baru sampai di rumah. Saat itu semua orang sudah berada di kamarnya masing-masing. Gua masuki kamar atas tempat dimana gua dan istri beristirahat.
"Assalamualaikum", ucap gua ketika sudah membuka pintu kamar.
"Walaikumsalam. Baru pulang, Mas ?", jawabnya yang sedang duduk diatas ranjang sambil menonton acara televisi.
"Iya, Yang. Maaf ya kemaleman. Tadi aku mampir dan ngobrol dulu sama keluarganya Mba Yu", jawab gua yang berjalan mendekat.
"Oh ketemu keluarganya ? Pada sehat Papah sama Mamahnya ?".
"Alhamdulillah pada sehat. Mereka juga nanyain kamu. Titip salam juga buat kamu".
"Walaikumsalam. Terus ngobrol apa aja ?", tanyanya kali ini sedikit antusias.
Gua berjalan kearah kamar mandi yang berada di dalam kamar ini untuk mencuci tangan dan kaki.
"Biasalah obrolan gitu-gitu aja, Yang...", jawab gua sedikit berteriak karena sedang mencuci kaki.
Selesai bersih-bersih gua naik ke ranjang dan duduk tepat disampingnya.
"Gitu gimana, Mas ? Cerita yang jelas dong", tanyanya lagi sambil tersenyum lebar.
"Ya gitu aja. Nanyain kabar, kabar kamu, Ibu, kerjaan ku.. Ya basa-basi doang karena lama gak ketemu. Sama ngobrolin Mba Yu yang sekarang lagi gak mau kerja dulu. Heran aku juga katanya mau jadi wanita karir tapi kok sekarang malah males nyari kerjaan baru tuh cewek satu", jawab gua.
"Mau jadi istri yang terbaik katanya..", ucap istri gua tiba-tiba.
"Hah ? Apaan ? Istri yang baik ? Dia mau nikah lagi ?", tanya gua yang benar-benar terkejut kali ini.
Istri gua tersenyum. "Iya lah, emangnya dia mau ngejanda selamanya apa, Mas ? Hihihi...".
"Ya bukan gitu. Maksud aku aneh aja, kapan dia ketemu sama cowok ? Siapa calon suaminya gitu. Perasaan dia gak lagi deket sama siapa pun. Apa aku yang ketinggalan berita nih ?", gua beneran bingung.
"Ya insya Allah calon suaminya baik dan bertanggungjawab".
Gua menatap wajah istri gua dengan serius. Sambil berpikir siapa lelaki yang dimaksud.
"Kamu kenal sama calon suaminya ?", tanya gua lagi.
Istri gua hanya mengangguk dengan senyuman yang manis sekali.
"Serius ? Siapa cowoknya ?".
"Kamu".
"......".
"......".
"Mas..".
Gua memundurkan tubuh lalu berdiri.
"Aku tau kamu belum setuju. Aku tau kita udah berkali-kali bahas masalah ini. Tapi, Mas... Tolong kamu buka hati kamu untuk Mba Gen..".
"Cukup ya. Aku gak mau denger kamu bahas masalah ini. Cukup...".
Gua hendak berjalan keluar kamar.
"Dia ikhlas dan nerima semua keadaan keluarga kita. Dia satu-satunya wanita yang aku percaya untuk kamu nikahin...".
Gua buka pintu kamar.
"Mas tolong kamu pikirin baik-baik. Ini semua bukan untuk aku sendiri. Aku rela demi ngejaga rumah tangga kita", ucapnya sedikit berteriak karena gua sudah berada di ambang pintu kamar.
"Rumah tangga macem apa ?!", sentak gua.
Istri gua terkejut. Lalu dia menarik nafas perlahan sambil memejamkan matanya sebelum akhirnya kembali tersenyum tipis.
"Rumah tangga kita. Aku gak mau kamu sampe selingkuh dibelakang aku, Mas. Aku takut kamu main perempuan lain. Sebelum itu kejadian tolong kamu pikirin hal ini baik-baik", jawabnya.
Gua berjalan cepat menghampirinya dengan emosi yang sudah meluap di dalam hati dan otak ini.
"Eh! Denger baik-baik! Kamu itu egois! Kamu gak mikirin perasaan aku! Kamu gak mikirin perasaan Gendis! Kamu gak mikirin perasaan keluarganya! Dan kamu gak mikir gimana nanti kita harus denger mulut-mulut brengs*k diluar sana tentang pernikahan yang kamu mau!!!", ucap gua penuh emosi.
Nona Ukhti yang sudah menemani gua selama ini sebagai satu-satunya istri tercinta setelah kepergian Almh. Echa benar-benar terkejut dengan reaksi gua tersebut. Dia memejamkan matanya dengan nafas yang sedikit memburu.
"Astagfirullahaladzim..", ucapnya. "Mas, aku minta maaf. Tapi aku udah omongin soal ini sama Mba Gendis. Dia setuju. Dia mau. Kita semua gak ada masalah. Hanya soal perasaan kamu yang harus bisa membuka hati untuk dia, Mas. Kalo kamu takut akan omongan orang lain. Kamu gak perlu tanggepin apapun. Bukan mereka yang berhak menilai kita. Aku begini bukan karena aku gak percaya dan rela kamu memilih perempuan lain, tapi karena aku sayang sama kamu", lanjutnya dengan suara yang cukup pelan.
"Aku gak tau harus ngomong apalagi sama kamu. Aku bener-bener gak ngerti jalan pikiran kamu. Jalan pikiran Ibu. Dan kalian semua.. Aku gak tau lagi harus gimana...", ucap gua.
Gua kembali berjalan keluar kamar. Sampai di ambang pintu, kembali gua membalikan tubuh untuk menatap wanita yang masih duduk diatas ranjang itu dengan balutan hijab berwarna krem.
"Ve...".
Dia menatap gua dengan wajah yang sendu.
"Jangan paksa aku untuk menyerah", lanjut gua.
Wanita itu masih menatap gua. Sebuah tasbih yang masih ia genggam sedari tadi pun masih berada dalam genggamannya. Bibirnya kini tersenyum.
"Aku gak pernah meminta kamu untuk menyerah. Aku cuma minta kamu untuk beribadah, Mas", balasnya dengan nada yang lembut tanpa senyum yang surut.
Diubah oleh glitch.7 30-10-2018 23:34
kifif dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Kutip
Balas
Tutup

