- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Catatan:
1. Mengacu pada aturan main forum H2H dan SFTH
2. 95% Semua tokoh/karakter di cerita ini sudah memberikan izin
3. Sikapi dengan bijak apa yang tertuang disini
4. Jangan meminta lebih dari apa yang sudah diberikan
5. Sopanlah dalam berkomentar
6. Saling menghargai TS, penulis dan sesama kaskuser disini
1. Mengacu pada aturan main forum H2H dan SFTH
2. 95% Semua tokoh/karakter di cerita ini sudah memberikan izin
3. Sikapi dengan bijak apa yang tertuang disini
4. Jangan meminta lebih dari apa yang sudah diberikan
5. Sopanlah dalam berkomentar
6. Saling menghargai TS, penulis dan sesama kaskuser disini
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
BAB I & BAB II
BAB III & BAB IV
***
Tralala_Trilili
PROLOG
BAB V
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15- continues
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
***
SEBELUM CAHAYA
PART I
PART II
PART III - The Ghost of You
PART IV
PART V
PART VI
PART VII
PART VIII
Cooling Down
PART IX
PART X - continues
PART XI
PART XII
PART XIII
PART XIV
PART XV
PART XVI
PART XVII A
PART XVII B
PART XVIII
PART XIX - continues
PART XX
PART XXI
PART XXII
PART XXIII
PART XXIV
PART XXV
PART XXVI
PART XXVII
PART XXVIII
PART XXIX
PART XXX
PART XXXI
PART XXXII
PART XXXIII
PART XXXIV
PART XXXV
PART XXXVI - continues
PART XXXVII
PART XXXVIII
PART XXXIX
Vor dem Licht XL - Das Ende
***
BAB V
PART 21
PART 22
Tentang Rasa
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
Von Hier Wegfliegen
Teils Eins - Vorstellen
Teils Zwei - Anfang
Teils Drei - Der Erbarmer
Teils Vier - Von Hier Wegfliegen
Lembayung Senja
Bagian Satu
Bagian Dua
Bagian Tiga
Bagian Empat
Bagian Lima - continues
Bagian Enam
Bagian Tujuh
Bagian Delapan
Bagian Sembilan
Bagian Sepuluh - continues
Breaking Dawn
One Step Closer
Ascension
Throwback Stories
Life is Not Always Fair
Dusk till Dawn
Awal Semula
Untuk Masa Depan
Terimakasih
Omong Kosong
Kepingan Cerita
Menyerah
Restoe
Rasanya - Rasain
Pengorbanan
Menuju Senja
Kenyataan
Wiedersehen
Cobalah untuk Mengerti
Pengorbanan
Tentang Kita
SIDE STORY
VFA
Daily Life I
Daily Life II
Maaf NEWS
Tentang MyPI
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
Kutip
8.8K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#8001
Throwback Stories
OMONG KOSONG
Quote:
Quote:
Gua sudah mengenakan kaos polo berwarna hitam dengan celana denim berwarna biru langit serta sepatu sneakers, udah kayak mahasiswa aja. Pagi ini berbeda dengan apa yang gua biasa lakukan sebulan terakhir. Gua seperti akan berangkat kerja tapi nyatanya tidak. Karena semalam gua mengantar Mba Yu menggunakan mobilnya, gua pun pulang dengan memakai mobilnya lagi, dan sepagi inilah gua harus menjemput wanita seksi satu itu kerumahnya.
"Nanti anter aja sekalian ke kantornya ya. Tanggungkan..", ucap istri gua.
"Hah ? Ke Jakarta ? Enggak ah! Aku masih males kerja kok malah disuruh anter jemput orang kerja. Gimana sih".
"Iih kasian. Udah enggak apa-apa anter aja. Abis dari situ maen ke resto. Gak usah kerja. Main aja main.. Di resto. Atau jalan-jalan di Mall..", lanjutnya.
"Terus di Mall ketemu abg atau mahasiswi ya, kenalan. Aku belanjain terus check-in gitu ya... Gimana ?", tantang gua dengan menahan kesal.
"Terserah", jawabnya pelan.
"Tuh marahkan.. Aneh..", timpal gua.
"Kamu tuh kalo ngomong jangan sembarangan makanya. Ngaco aja sih kok pikirannya kenalan sama perempuan lain terus ngajak ke hotel", balas Ibu yang memang daritadi berada didalam kamar bersama kami.
"Ya abisnya nyuruh ke Mall.. Sendirian mau ngapain ? Mending dirumah aja ah. Biar Gendis bawa mobil sendiri. Udah gede ini ah..".
"Ck.. Maen ke resto dari situ, Eza! Ibu yang minta nih! Liat-liat itu kerjaan kamu gimana sih. Udah lama kamu gak kesana... Sebentar aja. Ya sayang ya ?", lanjut Ibu berusaha membujuk gua.
"Yaudah gimana nanti aja deh, aku berangkat dulu", gua menghampiri Ibu lalu mencium tangan dan keningnya.
"Ibu telpon ke Jakarta kamu harus ada disana loch, Za! Awas aja..", ucap Ibu memperingatkan gua.
Kemudian Nyonya mencium tangan gua.
"Hmm.. Gimana nanti aja. Assalamualaikum", jawab gua seraya berjalan keluar kamar.
"Awas aja kalo gak ke Jakarta! Walaikumsalam", teriak Ibu dari dalam kamar karena gua sudah berada di ruang tamu menuju teras.
"Nanti anter aja sekalian ke kantornya ya. Tanggungkan..", ucap istri gua.
"Hah ? Ke Jakarta ? Enggak ah! Aku masih males kerja kok malah disuruh anter jemput orang kerja. Gimana sih".
"Iih kasian. Udah enggak apa-apa anter aja. Abis dari situ maen ke resto. Gak usah kerja. Main aja main.. Di resto. Atau jalan-jalan di Mall..", lanjutnya.
"Terus di Mall ketemu abg atau mahasiswi ya, kenalan. Aku belanjain terus check-in gitu ya... Gimana ?", tantang gua dengan menahan kesal.
"Terserah", jawabnya pelan.
"Tuh marahkan.. Aneh..", timpal gua.
"Kamu tuh kalo ngomong jangan sembarangan makanya. Ngaco aja sih kok pikirannya kenalan sama perempuan lain terus ngajak ke hotel", balas Ibu yang memang daritadi berada didalam kamar bersama kami.
"Ya abisnya nyuruh ke Mall.. Sendirian mau ngapain ? Mending dirumah aja ah. Biar Gendis bawa mobil sendiri. Udah gede ini ah..".
"Ck.. Maen ke resto dari situ, Eza! Ibu yang minta nih! Liat-liat itu kerjaan kamu gimana sih. Udah lama kamu gak kesana... Sebentar aja. Ya sayang ya ?", lanjut Ibu berusaha membujuk gua.
"Yaudah gimana nanti aja deh, aku berangkat dulu", gua menghampiri Ibu lalu mencium tangan dan keningnya.
"Ibu telpon ke Jakarta kamu harus ada disana loch, Za! Awas aja..", ucap Ibu memperingatkan gua.
Kemudian Nyonya mencium tangan gua.
"Hmm.. Gimana nanti aja. Assalamualaikum", jawab gua seraya berjalan keluar kamar.
"Awas aja kalo gak ke Jakarta! Walaikumsalam", teriak Ibu dari dalam kamar karena gua sudah berada di ruang tamu menuju teras.
~ Lembayung senja bagian tiga
Pagi itu mau tidak mau gua akhirnya mengantar Mba Yu ke kantornya di Jakarta. Setelah mengantarnya, gua bawa mobilnya menuju restoran. Sudah lama rasanya gua tidak pernah mengunjungi tempat kerja gua itu. Sesampainya di restoran gua bertemu kepala Chef. Seputar obrolan soal kerjaan dan akhirnya sampai ke perkenalan antara gua dengan kedua anak magang, yang salah satunya adalah keponakan Pak Windu bernama Suci. Dan hari itu juga gua baru mengetahui kalau Pak Windu yang memang sudah cukup lama bekerja sebagai salah satu Chef di restoran ini mengalami sakit sampai harus dirawat karena penyakit jantung yang dideritanya.
Siang harinya gua kembali ke kantor Mba Yu dengan menggunakan motor yang gua pinjam dari seorang satpam resto untuk mengajaknya makan siang. Sambil menyantap makan siang bersama perempuan semlohay satu itu akhirnya gua terkejut dengan keputusannya yang ingin keluar dari pekerjaannya. Alasannya lingkungan kerja yang gak baik. Tapi gua yakin, selain itu pasti ada hal lain yang membuatnya memutuskan hal tersebut.
Quote:
"Ada apa sebenarnya, Mba ?", tanya gua serius.
"Ada hal yang lebih penting, Mas. Dan apa yang aku ceritain soal lingkungan kerjaku emang bener-bener begitu. Aku gak suka. Dan kebetulan hal yang ingin aku lakuin ini demi kebaikan semuanya, kok", jawabnya dengan mata yang gua tangkap seperti yakin tidak yakin.
"Mba, cerita sama aku. Hal penting apa yang mau kamu lakuin ? Terus Kebaikan untuk semua itu siapa yang kamu maksud ?".
Mba Yu hanya tertunduk dan menggigit bibirnya sendiri.
Cukup lama kami terdiam. Sampai akhirnya dia menatap gua lekat-lekat.
"Aku setuju, Mas".
Gua terkejut dan melepas genggaman tangan gua. Seketika itu pula pikiran gua langsung blank.
"Ada hal yang lebih penting, Mas. Dan apa yang aku ceritain soal lingkungan kerjaku emang bener-bener begitu. Aku gak suka. Dan kebetulan hal yang ingin aku lakuin ini demi kebaikan semuanya, kok", jawabnya dengan mata yang gua tangkap seperti yakin tidak yakin.
"Mba, cerita sama aku. Hal penting apa yang mau kamu lakuin ? Terus Kebaikan untuk semua itu siapa yang kamu maksud ?".
Mba Yu hanya tertunduk dan menggigit bibirnya sendiri.
Cukup lama kami terdiam. Sampai akhirnya dia menatap gua lekat-lekat.
"Aku setuju, Mas".
Gua terkejut dan melepas genggaman tangan gua. Seketika itu pula pikiran gua langsung blank.
~ Lembayung senja bagian tiga
Gak mungkin... Gak mungkin... Gak mungkin kan. Ah pasti gak mungkin lah. Pikiran gua udah keracunin omongan Kak Nindi kemarin kayaknya. Gak mungkin banget. Istri gua aja bilang enggak kok. Ucap gua dalam hati.
"Ehm... Maksud kamu setuju soal apa ?", tanya gua ragu.
Mba Yu mengerenyitkan keningnya. "Emang istri kamu gak cerita ?", tanyanya balik.
Gua semakin bingung. "Cerita soal apa sih ? Kamu tuh mau ngomongin apa sebenernya ?".
Dia menghela nafasnya, lalu berdiri setelah mengelap bibirnya dengan tisu.
"Aku mau balik ke kantor", pintanya dengan nada yang dingin.
Beberapa detik kami terdiam. Gua masih duduk sambil menatapnya dengan pikiran yang dipenuhi dugaan dari Kak Nindi. Sepertinya ucapan Kakak gua itu benar, apalagi setelah melihat tingkah Mba Yu sekarang-sekarang ini.
"Okey, aku anter kamu lagi", ucap gua seraya bangun dari duduk lalu mengajaknya ke parkiran.
Selama perjalanan menuju kantornya kami sama sekali tidak berbicara. Raut wajahnya cukup dingin, sedangkan gua masih memikirkan apa maksud dari ucapan kalimat 'Aku setuju, Mas'yang ia lontarkan sebelumnya.
Kali ini gua memang sengaja mengantarnya dengan menggunakan mobil miliknya, sekalian agar gua tidak pulang bareng dia nanti. Sesampainya di kantor Mba Yu, gua tahan dirinya sebelum turun dari mobil.
"Tunggu, Mba. Ini kamu bawa mobil kamu aja. Aku biar balik ke restoran pake taksi", ucap gua seraya mematikan mesin mobil.
"Kamu tuh kenapa sih ?!", sentaknya tiba-tiba.
"Aku bingung sama kamu, Mba. Kamu mau berenti kerja terus bilang ada hal lain yang lebih penting juga, demi kebaikan semuanya. Terus ngomong setuju. Apa coba maksudnya ?", tanya gua.
"Kamu tanya istri kamu aja. Biar kamu yakin dan percaya!", lalu sedetik kemudian dia membuka pintu dan berlari masuk kedalam kantornya.
Gua hanya bisa menghela nafas dengan banyaknya pertanyaan yang masih menggantung dipikiran ini.
Setelah menitipkan kunci mobil ke seorang satpam kantornya, siang itu akhirnya gua memilih untuk langsung pulang ke rumah dengan menggunakan kereta. Gua ingin buru-buru menemui istri tercinta dan menanyakan apa maksud dari ucapan Mba Yu.
Sesampainya di rumah gua langsung menemuinya di dalam kamar.
"Sayang...", ucap gua setelah membuka pintu kamar dan melihatnya berada diatas ranjang bersama Bibi yang sedang membantunya membereskan pakaian kedalam koper.
"Assalamualaikum, Mas..", ucap istri gua.
"Eh iya sorry-sorry lupa. Walaikumsalam deh", jawab gua sembari berjalan menghampiri. "Loch-loch-loch.. Ini apaan nih ? Ngapain kamu beresin pakaian ? Pake acara masukin ke koper segala ? Mau kemana emangnya ?", tanya gua yang keherenan.
"Bi, makasih udah dibantuin, biar nanti sisanya saya aja yang beresin. Bibi kebawah dulu ya, saya mau ngomong sama Mas Agha dulu", ucap istri gua kepada Bibi (art).
Bibi hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu kembali kebawah. Tinggalah kami berdua di dalam kamar ini.
"Kok udah pulang, Mas ? Gak sama Mba Gendis ?", tanyanya lembut.
Gua duduk disampingnya. Lalu menatap wajahnya. "Aku nanya duluan loch tadi. Sekarang kamu malah balik nanya", jawab gua menahan kesal.
"Eh iya..", istri gua tersenyum menahan tawanya. "Mmm.. Ck.. Gini loch, kemarin-kemarin Papah ku nelpon dan bilang mau nyoba terapi di Singapore gak. Terus beberapa hari ini aku mikirin tawarannya itu, dan kayaknya gak salah juga buat dicoba, Mas", lanjutnya menjelaskan.
"Gitu ya sekarang...".
"Eh ? Gitu kenapa, Mas ?".
"Kamu gak cerita apa-apa dari kemaren. Sekarang tiba-tiba mau ke Singapore. Kamu gak izin ke aku, gak cerita.. Aku ini suami kam..", ucapan gua dipotong.
"Maaf-maaf. Maaf bangeettt.. Hihihi.. Aku bukannya gak mau cerita, Mas. Aku kemaren masih pikir-pikir. Rencananya sekarang mau cerita kok ke kamu. Dan aku yakin kamu pasti izinin. Iyakan ? Hayooo ?".
"Hmmm.. Bisaan ya. Yaiya juga sih. Cuma maksud ku tuh kok ngedadak gini ?".
"Lusa baru mau berangkat rencananya kalo kamu izinin, Mas", jawabnya.
"Oooh..".
"Ehm. Pertanyaan aku gantian dijawab dong", ucapnya.
"Hm ? Yang mana ?".
"Kenapa udah pulang ? Gak bareng Mba Gendis emangnya ?", tanyanya.
Gua menyerongkan tubuh agar kami bisa saling menghadap satu sama lain. Lalu gua tatap kedua matanya lekat-lekat.
"Kenapa sih ? Kok mukanya gitu ?", tanyanya lagi yang bingung.
"Kamu. Sebenernya apa sih yang kamu rencanain ? Aku mau kali ini kamu jawab jujur. Aku gak mau kamu nutupin apapun soal Gendis", ucap gua serius.
"Apa yang aku tutupin ? Soal apa ? Gak ada kok, beneran", senyumnya sedikit kaku.
"Jawab yang bener. Kamu mau aku marah ?", tanya gua dengan nada yang dingin.
Seolah-olah dia baru tersadar, wajahnya berubah. Lalu menundukan kepalanya sedikit.
"Maaf..", ucapnya parau.
"Apa sih maksud kamu sebenernya ?".
"Gak, Mas. Aku... Aku cuma.. Cuma takut..".
"Takut soal apa ?".
"Aku cuma takut kamu selingkuh dibelakang aku", jawabnya dengan suara yang semakin serak.
Gua raih sisi wajahnya dengan kedua tangan lalu mengangkat wajahnya itu agar kami bertatapan.
"Dengan Gendis ?", tanya gua pelan.
Airmatanya mengalir perlahan. Kepalanya menggeleng pelan. "Siapapun, Mas.. Hiks.. Bukan dia aja, hiks.. Hiks..".
Gua menggigit bibir bagian bawah. Menahan emosi yang perlahan menggerogoti hati dan otak gua.
"Kamu... Euh! Hhsssstt... Kamu tuh kok bisa sih punya pikiran jelek kayak gitu ke aku ?", tanya gua tidak percaya.
"Maaf.. Maafin aku".
Kali ini gua yang menggelengkan kepala. "Sekarang kalo kamu takut aku selingkuh terus maksudnya apa ngebiarin aku berduaan sama dia ? Kemaren kamu yang minta aku untuk anterin dia ke butik buat nikahan adeknya, tadi pagi kamu juga yang minta aku anterin dia kerja. Kamu tuh sebenernya kenapa sih ?".
"Mas. Aku ini udah kesulitan ngurus diri sendiri. Apalagi ngurus kamu. Aku gak mau sampe kamu selingkuh, aku gak mau kamu buat dosa, dan aku juga gak mau kamu ninggalin aku, aku pikir Mba Gendis bisa urus kamu", jawabnya setelah tangisnya berhenti.
"Bentar-bentar.. Aku bingung beneran sama jalan pikiran kamu! Kamu takut aku selingkuh, tapi kamu biarin aku deket sama Gendis sekarang ini. Terus kamu juga gak mau ditinggal aku! Apa sih maksud kamu!".
Hening beberapa saat diantara kami. Sampai akhirnya gua ingat kata-kata Kakak gua.
"Jangan bilang... Jangan bilang kamu mau nyuruh aku nikahin Gendis", ucap gua memecah keheningan.
"Dia wanita yang baik, Mas. Aku yakin sama dia", ucapnya pelan.
Gua melotot mendengar ucapnya tersebut.
"Kamu lagi maen-maen sama aku ?", tanya gua tidak percaya.
Dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Hey. Kamu semalem bilang kan sama aku waktu aku tanya kamu lagi jodohin aku sama dia apa enggak, kamu bilang enggak. Jangan maen-maen deh! Gak lucu", ucap gua lagi.
"Kapan aku bilang enggak ? Aku gak bilang enggak. Aku cuma bilang kamu ada-ada aja. Aku cuma bilang emangnya Mba Yu mau sama kamu. Itu aja. Aku gak bilang enggak. Jadi menurut kamu aku sekarang lagi maen-maen apa enggak ?", tanyanya.
Gua beranjak dari ranjang. Lalu berdiri dihadapannya.
"Pikiran kamu sakit ? Aku serius", tanya gua yang kini sudah benar-benar emosi.
"Aku serius, Mas. Kamu pikir baik-baik. Keadaan aku seperti ini. Aku kesulitan untuk urus diri sendiri, aku sadar gak bisa urus semua kebutuhan kamu, Mas. Aku takut kamu selingkuh. Aku takut kamu ninggalin aku. Dan aku lebih milih ngerelain cinta aku harus terbagi dengan cara yang di ridhoi Allah!", tandasnya.
Rasanya sekujur tubuh gua lemas. Tidak percaya dengan semua ucapannya. Kenapa bisa dia berpikir kalau gua akan selingkuh dibelakangnya. Kenapa juga dia bisa memilih untuk 'memasukkan' orang lain kedalam rumah tangga kami berdua. Alasannya mungkin masuk akal tapi tidak dengan pikiran gua saat itu. Dan yang lebih membingungkan bagi gua adalah Gendis. Ya, kenapa perempuan itu setuju.
Gua memilih untuk keluar dari rumah. Saat itu gua mengendarai motor untuk menenangkan pikiran dengan berjalan mengelilingi kota. Sampai akhirnya entah kenapa gua malah menuju daerah atas dimana suhunya cukup dingin. Setelah berjalan sendirian mengelilingi kebun teh. Gua kembali mengendarai motor semakin ke atas hingga sampai ke sebuah masjid. Gua ingat saat itu belum melaksanakan shalat ashar, lalu gua mengambil wudhu setelah memarkirkan motor untuk melaksanakan kewajiban empat raka'at.
Selesai shalat, gua menyandarkan punggung kebelakang, dimana dinding masjid yang dingin menjadi penahan tubuh ini. Pikiran gua menerawang kepada ucapan istri gua sebelumnya.
Sebenarnya gua tidak yakin dengan apa yang ia ucapkan tadi. Gua tahu dia pasti ragu, takut dan apa yang ia ucapkan itu hanyalah rasa depresinya dengan kenyataan dirinya yang sedang sakit itu. Ya mungkin saja seperti itu. Dia sedang 'down'. Pikir gua.
Lalu sebelum semakin malam dan maghrib, akhirnya gua memilih untuk kembali pulang ke rumah.
Pukul setengah tujuh malam gua sampai di rumah. Dan ternyata gua mendapati istri gua sedang mengobrol bersama Bapak dan Ibu di ruang tamu. Gua mengacuhkan mereka yang entah sedang membicarakan apa. Gua memilih duduk didalam Gazebo halaman belakang untuk membakar sebatang rokok. Hingga sebatang rokok itu habis, Ibu datang menghampiri.
"Gha...", Beliau berdiri disamping gua.
"Ibu udah tau dari kapan ?", tanya gua dingin tanpa memandang kearahnya.
Beliau duduk tepat disamping. Lalu mengelus pundak kiri gua. "Istri kamu baru-baru ini cerita ke Ibu. Jangan marah, sayang. Dia gak salah", jawabnya.
Gua melirik kali ini. "Ibu dukung dia ?", tanya gua lagi.
"Gha, dengerin dulu".
Gua langsung berdiri dan berjalan kearah pintu untuk masuk kedalam rumah.
"Ghaa.. Kamu harus denger penjelasannya dulu... Aghaaa.. Istri kamu sayang banget sama kamu makanya dia begitu!", teriak Ibu yang masih berada di dalam Gazebo.
Gua berhenti. Menengok kearahnya.
"Semuanya omong kosong, Bu", jawab gua sebelum benar-benar meninggalkannya sendirian.
Diubah oleh glitch.7 23-10-2018 01:08
kifif dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Kutip
Balas

