- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Catatan:
1. Mengacu pada aturan main forum H2H dan SFTH
2. 95% Semua tokoh/karakter di cerita ini sudah memberikan izin
3. Sikapi dengan bijak apa yang tertuang disini
4. Jangan meminta lebih dari apa yang sudah diberikan
5. Sopanlah dalam berkomentar
6. Saling menghargai TS, penulis dan sesama kaskuser disini
1. Mengacu pada aturan main forum H2H dan SFTH
2. 95% Semua tokoh/karakter di cerita ini sudah memberikan izin
3. Sikapi dengan bijak apa yang tertuang disini
4. Jangan meminta lebih dari apa yang sudah diberikan
5. Sopanlah dalam berkomentar
6. Saling menghargai TS, penulis dan sesama kaskuser disini
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
BAB I & BAB II
BAB III & BAB IV
***
Tralala_Trilili
PROLOG
BAB V
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15- continues
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
***
SEBELUM CAHAYA
PART I
PART II
PART III - The Ghost of You
PART IV
PART V
PART VI
PART VII
PART VIII
Cooling Down
PART IX
PART X - continues
PART XI
PART XII
PART XIII
PART XIV
PART XV
PART XVI
PART XVII A
PART XVII B
PART XVIII
PART XIX - continues
PART XX
PART XXI
PART XXII
PART XXIII
PART XXIV
PART XXV
PART XXVI
PART XXVII
PART XXVIII
PART XXIX
PART XXX
PART XXXI
PART XXXII
PART XXXIII
PART XXXIV
PART XXXV
PART XXXVI - continues
PART XXXVII
PART XXXVIII
PART XXXIX
Vor dem Licht XL - Das Ende
***
BAB V
PART 21
PART 22
Tentang Rasa
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
Von Hier Wegfliegen
Teils Eins - Vorstellen
Teils Zwei - Anfang
Teils Drei - Der Erbarmer
Teils Vier - Von Hier Wegfliegen
Lembayung Senja
Bagian Satu
Bagian Dua
Bagian Tiga
Bagian Empat
Bagian Lima - continues
Bagian Enam
Bagian Tujuh
Bagian Delapan
Bagian Sembilan
Bagian Sepuluh - continues
Breaking Dawn
One Step Closer
Ascension
Throwback Stories
Life is Not Always Fair
Dusk till Dawn
Awal Semula
Untuk Masa Depan
Terimakasih
Omong Kosong
Kepingan Cerita
Menyerah
Restoe
Rasanya - Rasain
Pengorbanan
Menuju Senja
Kenyataan
Wiedersehen
Cobalah untuk Mengerti
Pengorbanan
Tentang Kita
SIDE STORY
VFA
Daily Life I
Daily Life II
Maaf NEWS
Tentang MyPI
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
Kutip
8.8K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#7838
Throwback Stories
R E S T O E
Quote:
Sesuai janji gua kemarin malam. Pagi ini gua mau tidak mau harus menjemput Mba Yu di kediamannya. Mengantarnya ke rumah salah satu teman kampusnya dulu di Jakarta. Sepanjang perjalanan menuju Ibu kota, gua tidak menceritakan apa yang sudah terjadi antara gua dan Nona Ukhti kepada wanita seksi satu itu. Setelah mengantarnya, gua langsung menuju restoran untuk bekerja seperti biasa.
Hari itu memang hari sabtu dimana biasanya restoran ramai pengunjung. Waktu rasanya cepat berlalu ketika pesanan demi pesanan datang tiada henti. Sampai akhirnya menjelang sore hari Mba Yu mengabari gua kalau dia sedang berada di salah satu Mall bersama teman-temannya yang lain.
Biasanya kalau malam minggu seperti ini gua bisa lembur sampai malam hari, tapi karena sudah kepalang janji kepada Mba Yu akhirnya hari ini gua memilih untuk pulang lebih awal. Gua menjemputnya di salah satu Mall sebelum waktu maghrib tiba. Setelah itu dia meminta gua untuk kembali mengantarnya ke PI, yang gua ketahui ternyata Ibu gua meminta tolong kepada Mba Yu untuk membeli sebuah tas di Mall tersebut.
Selesai membeli titipan Ibu dan gua juga yang membelikannya termasuk satu tas untuk Mba Yu. Kami sempatkan makan malam berdua. Selesai makan gua langsung mengajaknya untuk pulang ke kota kami. Tapi reaksinya langsung berubah. Dia bete. Katanya ini malam minggu, maunya diajak jalan dulu. Gua sebenarnya enggan memenuhi permintaannya, akhirnya demi membalikan moodwanita seksi yang sedang cemberut itu gua belikan es krim cone sebelum kami menuju parkiran mobil.
...
Sambil berjalan melumati es krim cone yang mulai mencair kami berjalan keluar Mall menuju mobil yang gua parkir.
Gua masuk kedalam mobil sedan berwarna hitam, duduk di bangku depan. Gua sengaja biar dia sendiri yang mengemudikan mobil pribadinya ini.
"Iih.. Makan es krim nya belepotan sih, Mas! Kayak anak kecil aja kamu tuh!".
Protes wanita seksi yang duduk di bangku kemudi itu membuat gua tersenyum lebar, kemudian dia mengambil tissu dan mengelap es krim di dekat bibir gua.
Gua menatap wajahnya yang serius, sampai akhirnya dia sadar sedang diperhatikan.
"Apa ?".
"Enggak apa-apa, seneng aja liat kamu".
"Idih tumben ngomongnya gitu".
"Mmm.. Emangnya aku gak pernah muji kamu ya ?", tanya gua sambil memegang lengan tangannya agar berhenti mengelap bibir dan pipi gua dari sisa es krim.
Matanya sedikit terkejut melihat tingkah gua. Lalu dia memundurkan tubuhnya sedikit menjauh.
"Kenapa ? Aku salah ya ?", tanya gua sambil melepaskan genggaman tangan.
Dia menoleh kearah lain lalu membetulkan juntaian rambut yang berada di sisi wajahnya.
"Aku... Aku cuma gak enak sama istri kamu, Mas. Baru berapa lama dari kejadian kemarin ?", tanyanya merasa canggung.
Gua menghela nafas. "Kamu tau ? Aku sendiri gak ada kepikiran apapun soal kejadian kemarin-kemarin itu, Mba..", jawab gua. "Maaf kalo apa yang kamu rasain dari kejadian itu ngebuat kamu gak nyaman sama hubungan kita sekarang", lanjut gua.
"Oh bukan, maksud aku tuh, mmm... Aku ngerasa terlalu cepet aja kalo kita...".
Jujur gua terkejut mendengar kalimat yang terpotong itu walaupun dia tidak menyelesaikan ucapannya tapi gua paham arahnya kemana.
"Mba ? Maksud kamu ?", tanya gua kaget.
"Aduuuh.. Gimana ya ngejelasinnya, bukan gitu, Mas.. Aku tuh ngerasa ini gak pas gitu loch, gak tepat, ya coba kasih waktu biar kita bisa terbiasa dulu gitu...", jawabnya terdengar panik.
"Cukup, nyatanya kamu mau..", ucap gua sebelum keluar dari mobil barunya itu dan berjalan meninggalkannya.
"Mas.. Mass.. Tungguu.. Hey..", teriaknya dari arah belakang sana.
Gua benci seperti ini. Gua tidak suka caranya menutup-nutupi apa yang sebenarnya sama-sama kami ketahui. Bilangnya terlalu cepat, tapi kenyataannya sudah tahu dari dulu akan begini juga.
Gua hanya mendengar derap langkah kakinya yang terburu-buru mengejar gua, sampai akhirnya dia berhasil menarik tangan gua dan membalikan tubuh gua.
"Kamu tuh egois! Gak bisa denger penjelasan aku dulu!", ucapnya dengan emosi.
"Enggak enggak.. Enggak usah berbelit-belit, maksud kamu apa ngomong kayak tadi ?", tanya gua malas.
"Selama ini aku yang selalu ditanya! Sekarang aku gak mau cuma jadi objek! Aku pingin tau jawaban kamu dulu!", sentaknya yang semakin emosi.
"Ma.. Maksud kamu ?", tanya gua sedikit gugup.
Mba Yu menghela nafasnya sambil memejamkan mata untuk sesaat.
"Apa kamu cinta sama aku ?", tanya wanita seksi bernama asli Gendisa itu.
Gua sebenarnya sadar kalau apa yang istri dan Ibu gua lakukan selama ini kepada kami berdua itu agar kami semakin dekat dari sebelum-sebelumnya. Tapi gua menutup mata akan hal itu. Selama ini kami berdua memang hanya tinggal menunggu waktu sampai kami benar-benar berada disaat yang tepat untuk membicarakan masalah ini dengan serius. Tapi bukan berarti harus diawali dengan pertengkaran seperti sekarang.
"Dari kapan kamu tau soal ini, Mba ?", tanya gua.
"Kamu gak usah ngalihin pembicaraan dulu, Mas! Jawab jujur! Kamu cinta sama aku atau enggak ?!".
"Aku sayang sama kamu! Tapi aku gak bisa mencintai kamu, Mba! Puas ?!!", jawab gua dengan nada yang cukup tinggi.
Kami berdua terdiam beberapa saat. Sampai akhirnya gua merasakan jantung ini yang tadinya berdegup dengan kencang karena tersulut emosi mulai berdetak dengan normal. Perlahan-lahan nafas gua pun kembali teratur.
Mba Yu masih diam menatap gua tanpa ekspresi yang menunjukkan perasaannya. Ya dia benar-benar seperti orang normal yang tidak terpengaruh atas apa yang sebelumnya gua ucapkan. Marah ? Senang ? Terkejut ? Enggak. Enggak sama sekali. Entah apa yang ia pikirkan saat ini.
"Makasih kamu udah jawab jujur, Mas".
Jawaban itu dia lontarkan dengan nada yang lembut, berbeda dengan sebelumnya. Bibirnya tersenyum tipis.
Kemudian tangan kanannya bergerak untuk menggapai tangan kiri gua. "Aku terima semua kekurangan kamu. Aku harap rasa sayang kamu itu lama-lama bisa menumbuhkan perasaan cinta untuk aku", lanjutnya seraya menggenggam tangan kiri gua dengan erat.
Gua menahan nafas untuk beberapa detik. Kepala gua seperti terkena hantaman keras. Rasa pusing yang gua rasakan saat itu membuat gua hanya bisa menanggapi ucapan ngawurnya dengan menggelengkan kepala pelan.
Sedetik kemudian dia maju selangkah, merapatkan tubuhnya untuk memeluk gua. Ia sandarkan kepalanya di dada gua, kedua tangannya melingkar memeluk pinggang ini. Terasa jelas oleh gua tubuhnya mulai sedikit bergetar. Lalu kemeja yang gua kenakan akhirnya basah sedikit demi sedikit pada bagian dada dimana ia sandarkan kepalanya itu.
"Aku minta maaf sama kamu, Mas.. Hiks.. Hiks.. Aku bener-bener minta maaf... Hiks.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Tolong jangan emosi lagi... Aku ngelakuin ini demi kamu dan istri kamu, Mas... Demi kita semua.. Hiks...".
Ucapannya itu membuat gua tertunduk. Menatap rambutnya yang hitam dari atas sini. Tubuhnya kian bergetar seiring tangisannya yang semakin kuat.
Entah sudah berapa lama kami berada di parkiran ini, menjadi tontonan beberapa orang yang lewat. Kami tidak peduli akan tatapan mereka, saat itu sepertinya menyingkirkan rasa malu mudah bagi gua dengan Mba Yu. Apa yang gua rasakan di dalam hati ketika mendengar ucapannya tersebut merubah sedikit... Ya sedikit keteguhan hati gua selama ini. Tapi itu sudah cukup membuat gua berfikir untuk mencoba memulainya.
Setelah gua bisa menyadari semuanya, gua balas pelukannya. Mengusap punggungnya dan menghirup aroma rambutnya yang wangi itu. Gua miringkan wajah hingga pipi gua bersandar pada rambut bagian atas kepalanya itu.
"Aku minta maaf udah buat kamu menunggu...", ucap gua pada akhirnya. "Sekarang. Biar aku coba untuk nerima kamu, Mba", ucap gua tanpa mengendurkan pelukan.
Isak tangis Mba Yu mereda, tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulutnya. Tapi pelukkannya yang semakin erat itu sudah cukup bagi gua untuk mengetahui ucapan terimakasihnya.
Malam itu kami berdua meninggalkan Ibu kota dengan perasaan yang tidak biasa seperti sebelumnya di dalam hati. Apa yang terjadi beberapa menit lalu di parkiran mobil membuat kami merasa canggung.
Sepanjang perjalanan gua tidak tahu harus memulai obrolan seperti apa dan bagaimana memulainya. Mba Yu sendiri lebih memilih 'berpura-pura'mendengarkan musik yang terlantun dari audio dalam mobil ini.
Hingga akhirnya kami hampir keluar tol, Mba Yu memilih untuk memecah keheningan diantara kami berdua.
"Mmppp.. Mas".
Gua menengok. "Ya ?".
"Ke puncak yu", ajaknya ragu.
Gua tidak langsung menjawab. Sampai mobil sudah keluar tol, gua tepikan mobil ke sisi jalan tanpa mematikan mesinnya.
"Ehm.. Aku...", gua keluarkan blackberry yang tersimpan di saku jaket bagian dalam. "Aku izin ke istri ku dulu ya, Mba", lanjut gua sambil mulai menekan nomor handphone istri tercinta.
Mba Yu hanya tersenyum sambil mengangguk.
Selesai berbicara dengan istri tercinta di telpon gua menengok kepada wanita seksi di samping kiri yang menunggu sedari tadi.
"Gimana, Mas ?", tanyanya.
Gua hanya tersenyum. Lalu menurunkan rem tangan dan memasukan perseneling agar mobil ini kembali berjalan.
Hanya butuh waktu kurang dari lima belas menit kami berdua sudah sampai di depan rumah dengan cat berwarna hijau tosca yang pintu utamanya masih terbuka.
Mba Yu turun terlebih dahulu untuk membuka pagar rumah, gua masukan mobil dan memarkirkannya. Sekarang Kami berdua sudah duduk di bangku teras rumahnya. Gua ambil sebatang rokok dan mulai membakarnya.
"Maaf ya, Mba..", ucap gua memulai obrolan setelah menghembuskan asap rokok dari dalam mulut.
"Gak apa-apa kok, Mas. Aku juga gak enak sebenernya sama istri kamu. Maaf ya, Mas", jawabnya sambil tersenyum.
Gua hanya membalasnya dengan senyuman.
"Eh iya, kamu mau ngopi ? Aku buatin dulu ya sebentar", ucap Mba Yu seraya bangun dari duduknya.
"Boleh. Makasih, Mba", jawab gua.
Mba Yu masuk kedalam rumahnya. Gua tetap menunggu di teras sambil menikmati rokok yang belum habis. Gua memang sengaja langsung mengarahkan mobil untuk pulang ke rumahnya ini setelah tadi selesai menelpon istri tercinta. Apa yang istri gua katakan di telpon sudah lebih dari cukup bagi gua mengetahui keraguannya.
Tidak lama kemudian sang Mamah keluar dari dalam. Gua matikan rokok ke asbak yang berada diatas meja teras ketika kami mulai mengobrol. Setelah sedikit membicarakan hal yang remeh dan berbasa-basi. Akhirnya apa yang gua khawatirkan terjadi juga.
"Gha. Tante perhatikan kamu sama si Ndu akhir-akhir ini makin deket ya", ucap Beliau.
Gua tersenyum tipis mendengar ucapannya. Kemudian gua sedikit menegakan posisi duduk lalu memainkan jemari tangan satu sama lain.
"Iya gitulah, Tante. Kan Gendis sering ke rumah saya ketemu istri dan keluarga saya juga disana, jadi keliatannya kita makin deket", jawab gua tidak bisa mencari jawaban yang lain.
"Bukan itu, Gha. Maksud Tante khususnya kalian berdua. Perasaan Tante kok kayak adaaaa.... Mmmm... Maaf ya, Gha. Kalian gak ngejalin hubungan yang serius kan ? Kamu pasti paham maksud Tante", lanjut Beliau.
Gua hela nafas perlahan dengan sedikit memejamkan mata. Gua tidak pandai menutupi rahasia apalagi kepada Mamahnya Mba Yu yang sudah sangat baik kepada gua selama ini. Entah bagaimana reaksinya setelah mendengar apa yang akan gua terangkan selanjutnya.
"Tante. Apa yang Tante rasa itu bener kok. Saya dan Gendis...", gua menahan ucapan ketika anak sulungnya datang dengan membawa secangkir kopi hitam kesukaan gua.
"Sorry ya Mas lama. Tadi aku masak aernya dulu. Kamu kan gak suka kopi item diseduh dari aer dispenser. Udah aku kocek juga sebanyak tiga puluh tiga kali tuh kopinya", ucap Mba Yu ketika meletakan secangkir kopi tersebut diatas meja teras.
"Iya makasih ya, Mba", balas gua.
Sang Mamah melirik kepada gua. Lalu gua balas dengan senyuman yang sedikit canggung.
"Hapal banget ya kamu, Ndu..", ucap Beliau kali ini kepada anaknya.
Mba Yu hanya tersenyum menanggapi ucapan sang Mamah.
"Kamu sama Mas Agha mu ini Mamah perhatikan makin deket loch, Ndu", lanjut Beliau.
"Maksud Mamah ? Kan kita berdua emang udah deket dari dulu, Mah", jawab Mba Yu heran.
"Ndu. Mamah tau, tapi rasanya kalian berdua sekarang tuh keliatannya beda. Kamu lebih perhatian sama Agha, sama keluarganya juga. Hampir setiap hari kamu ke rumah dia dari mulai kamu udah berenti kerja, Mamah sih gak ngelarang. Tapi ada apa sebenernya dengan kedekatan kalian berdua ini, Ndu ?".
"Ya ampun, Mah. Aku sama Mas Agha gak ada apa-apa kok. Aku emang deket sama dia dan istrinya, sama Mba Laras juga. Mamah jangan berlebihan kayak gitu dong", jawab Mba Yu yang terlihat sedikit tidak suka akan pertanyaan dari Mamahnya tersebut.
"Bukan gitu sayang. Mamah cuma takut nanti jadi salah paham antara kamu dan istrinya. Mamah gak mau tuh sampe denger hal yang enggak-enggak gara-gara kalian terlalu sering jalan berdua kayak gini. Inget Ndu. Mas Agha mu itu udah punya keluarga, dan status kamu masih janda, Ndu. Apa kata orang-orang nanti ? Mereka gak akan ngerti", ucap sang Mamah panjang lebar mengungkapkan kekhawatirannya.
"Mba, biar aku yang jelasin...", ucap gua kepada Mba Yu sebelum ia yang menjelaskan semuanya.
"Tante. Saya mau jujur... Tapi tolong denger penjelasan saya dulu", ucap gua lagi kali ini kepada Mamahnya lalu meneguk kopi yang dibuatkan Mba Yu.
"Saya pribadi gak tau kenapa bisa sampe seperti ini. Tante tau kondisi istri saya seperti apa dan sekarang, dia sendiri yang minta saya untuk deketin Gendis", lanjut gua.
"Maksudnya deket gimana ?", tanya Beliau bingung.
Gua menatap anak sulungnya itu sesaat. Lalu kembali menengok kepada sang Mamah.
"Istri saya. Vena. Minta saya nikahin anak Tante...", jawab gua.
"Kamu jangan bercanda, Gha", ucapnya cepat.
"Saya sendiri berharap dia bercanda, Tante. Tapi nyatanya makin kesini kami malah makin sering bertengkar karena maunya itu. Saya gak mau sama sekali. Dia maksa, bahkan Ibu saya ikut campur, Ibu ngedukung apa yang istri saya mau", jawab gua mengingat semua ucapan istri dan Ibu selama ini.
"Sebentar, Gha. Maksud istri kamu minta nikahin Gendis itu... Dia minta cerai atau...?".
"Bukan gitu, Mah. Vena ngerasa dia gagal jadi istri yang sempurna untuk Mas Agha. Vena udah gak mungkin memiliki anak, dia juga ngerasa gak bisa ngurus suaminya dengan baik karena kelumpuhannya. Jadi dia berpikir lebih baik kasih izin Mas Agha untuk poligami", jawab Mba Yu kali ini.
Jelas saja apa yang diucapkan anaknya itu membuat sang Mamah terkejut. Gua hanya bisa menghela nafas, lalu bangun dari duduk.
"Mba, duduk tuh. Kayak lagi upacara aja diri mulu", sela gua mencoba mencairkan suasana.
"Ealah... Hahahaha.. Kamu ini, Gha! Bisa-bisanya bercanda loch..", ucap sang Mamah yang diselingi dengan tawanya.
Gua berdiri untuk sedikit menjauh dari kedua anak dan Ibunya itu, gua membakar sebatang rokok yang kemudian gua sandarkan punggung ini ke tiang penyangga teras rumah mereka.
Mba Yu yang kini duduk di samping Mamahnya sedang tertunduk ketika kembali ia harus mendengar kekhawatiran orang tua tersebut.
"Mamah bingung. Kamu kok bisa mau sih, Ndu ?", tanya sang Mamah, kemudian Beliau melirik kepada gua. "Gimana ini, Gha ? Bisa-bisanya si Ndu setuju gitu loch..".
Gua hembuskan asap rokok sambil menggelengkan kepala. "Jujur aja Tante. Saya sendiri belom denger alasan apa yang buat Gendis mau.. Kami berdua baru tadi secara terbuka ngomongin masalah ini, Tan", jawab gua.
"Ndu! Jangan diem aja toh. Kenapa kamu mau, Ndu ?!", tanya sang Mamah lagi dengan tidak sabar bukan marah.
"Aku gak bisa kasih alesan logis, Mah. Aku cuma bisa bilang kalo...", Mba Yu melirik kepada gua dengan wajah yang sedikit ragu sebelum melanjutkan ucapannya itu.
"Kalo opo, Ndu ?! Ngomong kok setengah-setengah gitu piye toh ?!", semakin gemas saja sang Mamah melihat anaknya berbelit-belit.
"Kalo aku cuma bisa bilang... Aku bener-bener cinta dan sayang sama Mas Agha!", jawabnya lantang kali ini sambil tetap menatap gua.
"Haduuuuh... Piye Gha! Tante dikasih jawaban roman picisan koyo ngene toh..".
Roman picisan jare! Hahaha... Inget banget waktu itu Beliau emang ngomong kayak gitu. Aya-aya wae kolot te nya.
"Mamah tuh gak ngerti, gak tau perasaan aku selama ini ke Mas Agha kan ? Makanya aku bilang Aku gak bisa kasih alesan yang logis", timpal sang Anak.
"Gini ya, Ndu... Kamu paham apa yang akan kamu jalanin itu gak akan mudah ? Taruhlah semuanya setuju, kamu menikah dan jadi istrinya Agha. Tapi kamu harus sadar posisi mu, Ndu. Kamu bukan wanita pertama yang ada di hatinya", jawab sang Mamah.
"Vena juga bukan wanita pertama yang ada di hati Mas Agha", balas Mba Yu dengan cepat.
Ibu dan Anak itu menatap gua bersamaan. Gua tersenyum lebar.
"Echa adalah wanita yang dimaksud Gendis, Tan..", jawab gua.
"Oooh.. Kirain siapa...", ucap sang Mamah.
"Ehm. Tante.. Saya udah bilang ke Gendis kalo semuanya gak akan mudah. Saya sendiri gak setuju sebenernya. Tapi ternyata hati saya sendiri gak bisa bohong. Kalo selama ini nyatanya cuma dia yang selalu ada di saat saya dan istri sedang terpuruk beberapa bulan ini. Saya udah berusaha untuk membuat dinding kokoh di dalam hati saya. Dan akhirnya dinding itu lambat laun mulai runtuh... Saya sadar saya manusia yang masih jauh dari manusia yang baik dan adil. Tapi kalo Tante memberi restu. Insya Allah dengan izin Tuhan Yang Maha Esa pula saya akan berusaha membahagiakan anak sulung Tante ini. Berusaha menjadi suami yang adil walaupun itu sulit", ucap gua yang sudah berdiri tepat di hadapan Beliau.
Entah apa yang ada di dalam benak Beliau ketika reaksinya itu menutup mulutnya dengan satu tangan lalu gua melihat butiran airmata di sudut kedua matanya.
"Kamu itu, Gha.... Aduh.. Pantes si Ndu jatuh hati sama kamu sampe begini. Iya Tante setuju.. Tante restui... Aduh kamu itu kok bisa ngomong koyo gitu ke Saya..", jawabnya seraya mengusap airmatanya sendiri.
Gua dan anaknya terkejut mendengar jawaban Beliau. Kami berdua saling pandang, lalu anak wanitanya yang seksi itu menghambur kepada Beliau, memeluk sang Ibunda dengan erat seraya mengucapkan terimakasih.
Gua tersenyum melihat kejadian malam ini. Tapi akhirnya gua sadar apa yang kita harapkan belum tentu terwujud dan direstui oleh Sang Pemilik Alam Semesta.
Hari itu memang hari sabtu dimana biasanya restoran ramai pengunjung. Waktu rasanya cepat berlalu ketika pesanan demi pesanan datang tiada henti. Sampai akhirnya menjelang sore hari Mba Yu mengabari gua kalau dia sedang berada di salah satu Mall bersama teman-temannya yang lain.
Biasanya kalau malam minggu seperti ini gua bisa lembur sampai malam hari, tapi karena sudah kepalang janji kepada Mba Yu akhirnya hari ini gua memilih untuk pulang lebih awal. Gua menjemputnya di salah satu Mall sebelum waktu maghrib tiba. Setelah itu dia meminta gua untuk kembali mengantarnya ke PI, yang gua ketahui ternyata Ibu gua meminta tolong kepada Mba Yu untuk membeli sebuah tas di Mall tersebut.
Selesai membeli titipan Ibu dan gua juga yang membelikannya termasuk satu tas untuk Mba Yu. Kami sempatkan makan malam berdua. Selesai makan gua langsung mengajaknya untuk pulang ke kota kami. Tapi reaksinya langsung berubah. Dia bete. Katanya ini malam minggu, maunya diajak jalan dulu. Gua sebenarnya enggan memenuhi permintaannya, akhirnya demi membalikan moodwanita seksi yang sedang cemberut itu gua belikan es krim cone sebelum kami menuju parkiran mobil.
...
Sambil berjalan melumati es krim cone yang mulai mencair kami berjalan keluar Mall menuju mobil yang gua parkir.
Gua masuk kedalam mobil sedan berwarna hitam, duduk di bangku depan. Gua sengaja biar dia sendiri yang mengemudikan mobil pribadinya ini.
"Iih.. Makan es krim nya belepotan sih, Mas! Kayak anak kecil aja kamu tuh!".
Protes wanita seksi yang duduk di bangku kemudi itu membuat gua tersenyum lebar, kemudian dia mengambil tissu dan mengelap es krim di dekat bibir gua.
Gua menatap wajahnya yang serius, sampai akhirnya dia sadar sedang diperhatikan.
"Apa ?".
"Enggak apa-apa, seneng aja liat kamu".
"Idih tumben ngomongnya gitu".
"Mmm.. Emangnya aku gak pernah muji kamu ya ?", tanya gua sambil memegang lengan tangannya agar berhenti mengelap bibir dan pipi gua dari sisa es krim.
Matanya sedikit terkejut melihat tingkah gua. Lalu dia memundurkan tubuhnya sedikit menjauh.
"Kenapa ? Aku salah ya ?", tanya gua sambil melepaskan genggaman tangan.
Dia menoleh kearah lain lalu membetulkan juntaian rambut yang berada di sisi wajahnya.
"Aku... Aku cuma gak enak sama istri kamu, Mas. Baru berapa lama dari kejadian kemarin ?", tanyanya merasa canggung.
Gua menghela nafas. "Kamu tau ? Aku sendiri gak ada kepikiran apapun soal kejadian kemarin-kemarin itu, Mba..", jawab gua. "Maaf kalo apa yang kamu rasain dari kejadian itu ngebuat kamu gak nyaman sama hubungan kita sekarang", lanjut gua.
"Oh bukan, maksud aku tuh, mmm... Aku ngerasa terlalu cepet aja kalo kita...".
Jujur gua terkejut mendengar kalimat yang terpotong itu walaupun dia tidak menyelesaikan ucapannya tapi gua paham arahnya kemana.
"Mba ? Maksud kamu ?", tanya gua kaget.
"Aduuuh.. Gimana ya ngejelasinnya, bukan gitu, Mas.. Aku tuh ngerasa ini gak pas gitu loch, gak tepat, ya coba kasih waktu biar kita bisa terbiasa dulu gitu...", jawabnya terdengar panik.
"Cukup, nyatanya kamu mau..", ucap gua sebelum keluar dari mobil barunya itu dan berjalan meninggalkannya.
"Mas.. Mass.. Tungguu.. Hey..", teriaknya dari arah belakang sana.
Gua benci seperti ini. Gua tidak suka caranya menutup-nutupi apa yang sebenarnya sama-sama kami ketahui. Bilangnya terlalu cepat, tapi kenyataannya sudah tahu dari dulu akan begini juga.
Gua hanya mendengar derap langkah kakinya yang terburu-buru mengejar gua, sampai akhirnya dia berhasil menarik tangan gua dan membalikan tubuh gua.
"Kamu tuh egois! Gak bisa denger penjelasan aku dulu!", ucapnya dengan emosi.
"Enggak enggak.. Enggak usah berbelit-belit, maksud kamu apa ngomong kayak tadi ?", tanya gua malas.
"Selama ini aku yang selalu ditanya! Sekarang aku gak mau cuma jadi objek! Aku pingin tau jawaban kamu dulu!", sentaknya yang semakin emosi.
"Ma.. Maksud kamu ?", tanya gua sedikit gugup.
Mba Yu menghela nafasnya sambil memejamkan mata untuk sesaat.
"Apa kamu cinta sama aku ?", tanya wanita seksi bernama asli Gendisa itu.
Gua sebenarnya sadar kalau apa yang istri dan Ibu gua lakukan selama ini kepada kami berdua itu agar kami semakin dekat dari sebelum-sebelumnya. Tapi gua menutup mata akan hal itu. Selama ini kami berdua memang hanya tinggal menunggu waktu sampai kami benar-benar berada disaat yang tepat untuk membicarakan masalah ini dengan serius. Tapi bukan berarti harus diawali dengan pertengkaran seperti sekarang.
"Dari kapan kamu tau soal ini, Mba ?", tanya gua.
"Kamu gak usah ngalihin pembicaraan dulu, Mas! Jawab jujur! Kamu cinta sama aku atau enggak ?!".
"Aku sayang sama kamu! Tapi aku gak bisa mencintai kamu, Mba! Puas ?!!", jawab gua dengan nada yang cukup tinggi.
Kami berdua terdiam beberapa saat. Sampai akhirnya gua merasakan jantung ini yang tadinya berdegup dengan kencang karena tersulut emosi mulai berdetak dengan normal. Perlahan-lahan nafas gua pun kembali teratur.
Mba Yu masih diam menatap gua tanpa ekspresi yang menunjukkan perasaannya. Ya dia benar-benar seperti orang normal yang tidak terpengaruh atas apa yang sebelumnya gua ucapkan. Marah ? Senang ? Terkejut ? Enggak. Enggak sama sekali. Entah apa yang ia pikirkan saat ini.
"Makasih kamu udah jawab jujur, Mas".
Jawaban itu dia lontarkan dengan nada yang lembut, berbeda dengan sebelumnya. Bibirnya tersenyum tipis.
Kemudian tangan kanannya bergerak untuk menggapai tangan kiri gua. "Aku terima semua kekurangan kamu. Aku harap rasa sayang kamu itu lama-lama bisa menumbuhkan perasaan cinta untuk aku", lanjutnya seraya menggenggam tangan kiri gua dengan erat.
Gua menahan nafas untuk beberapa detik. Kepala gua seperti terkena hantaman keras. Rasa pusing yang gua rasakan saat itu membuat gua hanya bisa menanggapi ucapan ngawurnya dengan menggelengkan kepala pelan.
Sedetik kemudian dia maju selangkah, merapatkan tubuhnya untuk memeluk gua. Ia sandarkan kepalanya di dada gua, kedua tangannya melingkar memeluk pinggang ini. Terasa jelas oleh gua tubuhnya mulai sedikit bergetar. Lalu kemeja yang gua kenakan akhirnya basah sedikit demi sedikit pada bagian dada dimana ia sandarkan kepalanya itu.
"Aku minta maaf sama kamu, Mas.. Hiks.. Hiks.. Aku bener-bener minta maaf... Hiks.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Tolong jangan emosi lagi... Aku ngelakuin ini demi kamu dan istri kamu, Mas... Demi kita semua.. Hiks...".
Ucapannya itu membuat gua tertunduk. Menatap rambutnya yang hitam dari atas sini. Tubuhnya kian bergetar seiring tangisannya yang semakin kuat.
Entah sudah berapa lama kami berada di parkiran ini, menjadi tontonan beberapa orang yang lewat. Kami tidak peduli akan tatapan mereka, saat itu sepertinya menyingkirkan rasa malu mudah bagi gua dengan Mba Yu. Apa yang gua rasakan di dalam hati ketika mendengar ucapannya tersebut merubah sedikit... Ya sedikit keteguhan hati gua selama ini. Tapi itu sudah cukup membuat gua berfikir untuk mencoba memulainya.
Setelah gua bisa menyadari semuanya, gua balas pelukannya. Mengusap punggungnya dan menghirup aroma rambutnya yang wangi itu. Gua miringkan wajah hingga pipi gua bersandar pada rambut bagian atas kepalanya itu.
"Aku minta maaf udah buat kamu menunggu...", ucap gua pada akhirnya. "Sekarang. Biar aku coba untuk nerima kamu, Mba", ucap gua tanpa mengendurkan pelukan.
Isak tangis Mba Yu mereda, tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulutnya. Tapi pelukkannya yang semakin erat itu sudah cukup bagi gua untuk mengetahui ucapan terimakasihnya.
~ Lembayung Senja bagian lima.
Malam itu kami berdua meninggalkan Ibu kota dengan perasaan yang tidak biasa seperti sebelumnya di dalam hati. Apa yang terjadi beberapa menit lalu di parkiran mobil membuat kami merasa canggung.
Sepanjang perjalanan gua tidak tahu harus memulai obrolan seperti apa dan bagaimana memulainya. Mba Yu sendiri lebih memilih 'berpura-pura'mendengarkan musik yang terlantun dari audio dalam mobil ini.
Hingga akhirnya kami hampir keluar tol, Mba Yu memilih untuk memecah keheningan diantara kami berdua.
"Mmppp.. Mas".
Gua menengok. "Ya ?".
"Ke puncak yu", ajaknya ragu.
Gua tidak langsung menjawab. Sampai mobil sudah keluar tol, gua tepikan mobil ke sisi jalan tanpa mematikan mesinnya.
"Ehm.. Aku...", gua keluarkan blackberry yang tersimpan di saku jaket bagian dalam. "Aku izin ke istri ku dulu ya, Mba", lanjut gua sambil mulai menekan nomor handphone istri tercinta.
Mba Yu hanya tersenyum sambil mengangguk.
Quote:
Percakapan via line telpon:
Gua : Hallo, Assalamualaikum sayang...
My Wife : Walaikumsalam, Mas. Ya ?.
Gua : Mmm.. Gini. Aku masih sama Gendis. Ehm.. Terus... Mmm.. Aku.. Aku mau jalan sama dia ke puncak dulu kalo kamu izinin. Gimana, Yang ?.
My Wife : ..........
Gua : Mmm.. Kalo kamu gak izinin, aku langsung anter dia pulang ke rumahnya sekarang.
My Wife : ..........
Istri gua masih terdiam.
Gua : Yaudah aku anter dia pulang dulu ya. Abis itu aku langsung pulang kok.
My Wife : Mas... Pulangnya titip sate kambing ya. Aku pengen sate kambing.
Gua : Eh ? Maksudnya gimana ?.
My Wife : Iya maksud ku nanti pulang dari puncak tolong beliin sate kambing ya, Mas.
Gua : Kamu serius ? Ngijinin aku pergi sama Gendis berdua ke puncak ?.
My Wife : Ke puncak kan ? Gak ke tempat lain ?.
Gua : Iya. Emang maksudnya tempat lain yang mana ?.
My Wife : Gak kok. Pokoknya aku percaya kamu.
Gua : Iya. Makasih, Yang. Tapi... Ehm.. Kalo kamu keberatan mending...
Istri gua langsung memotong ucapan gua.
My Wife : Aku izinin. Jangan kemaleman ya.
Gua : Oke.
My Wife : Yaudah, salam ke Mba Gendis.
Gua : Kamu mau ngomong dulu sama dia ?.
My Wife : Enggak. Enggak apa-apa. Salamin aja ya.
Gua : Yaudah oke. Aku gak akan pulang larut kok. Makasih, Yang.
My Wife : .........
Gua : Yang ? Sayang ?.
My Wife : Mas...
Gua : Ya ? Kenapa diem ?.
My Wife : Jangan aneh-aneh ya sama Mba Gendis disana.
Gua menghela nafas dan menyunggingkan senyuman kecil. Ini yang gua tunggu daritadi.
Gua : Iya. Aku berangkat sekarang kalo gitu.
My Wife : Iya hati-hati dijalan. Wassalamualaikum, Mas.
Gua : Okey. Walaikumsalam, sayang.
Gua : Hallo, Assalamualaikum sayang...
My Wife : Walaikumsalam, Mas. Ya ?.
Gua : Mmm.. Gini. Aku masih sama Gendis. Ehm.. Terus... Mmm.. Aku.. Aku mau jalan sama dia ke puncak dulu kalo kamu izinin. Gimana, Yang ?.
My Wife : ..........
Gua : Mmm.. Kalo kamu gak izinin, aku langsung anter dia pulang ke rumahnya sekarang.
My Wife : ..........
Istri gua masih terdiam.
Gua : Yaudah aku anter dia pulang dulu ya. Abis itu aku langsung pulang kok.
My Wife : Mas... Pulangnya titip sate kambing ya. Aku pengen sate kambing.
Gua : Eh ? Maksudnya gimana ?.
My Wife : Iya maksud ku nanti pulang dari puncak tolong beliin sate kambing ya, Mas.
Gua : Kamu serius ? Ngijinin aku pergi sama Gendis berdua ke puncak ?.
My Wife : Ke puncak kan ? Gak ke tempat lain ?.
Gua : Iya. Emang maksudnya tempat lain yang mana ?.
My Wife : Gak kok. Pokoknya aku percaya kamu.
Gua : Iya. Makasih, Yang. Tapi... Ehm.. Kalo kamu keberatan mending...
Istri gua langsung memotong ucapan gua.
My Wife : Aku izinin. Jangan kemaleman ya.
Gua : Oke.
My Wife : Yaudah, salam ke Mba Gendis.
Gua : Kamu mau ngomong dulu sama dia ?.
My Wife : Enggak. Enggak apa-apa. Salamin aja ya.
Gua : Yaudah oke. Aku gak akan pulang larut kok. Makasih, Yang.
My Wife : .........
Gua : Yang ? Sayang ?.
My Wife : Mas...
Gua : Ya ? Kenapa diem ?.
My Wife : Jangan aneh-aneh ya sama Mba Gendis disana.
Gua menghela nafas dan menyunggingkan senyuman kecil. Ini yang gua tunggu daritadi.
Gua : Iya. Aku berangkat sekarang kalo gitu.
My Wife : Iya hati-hati dijalan. Wassalamualaikum, Mas.
Gua : Okey. Walaikumsalam, sayang.
Selesai berbicara dengan istri tercinta di telpon gua menengok kepada wanita seksi di samping kiri yang menunggu sedari tadi.
"Gimana, Mas ?", tanyanya.
Gua hanya tersenyum. Lalu menurunkan rem tangan dan memasukan perseneling agar mobil ini kembali berjalan.
Hanya butuh waktu kurang dari lima belas menit kami berdua sudah sampai di depan rumah dengan cat berwarna hijau tosca yang pintu utamanya masih terbuka.
Mba Yu turun terlebih dahulu untuk membuka pagar rumah, gua masukan mobil dan memarkirkannya. Sekarang Kami berdua sudah duduk di bangku teras rumahnya. Gua ambil sebatang rokok dan mulai membakarnya.
"Maaf ya, Mba..", ucap gua memulai obrolan setelah menghembuskan asap rokok dari dalam mulut.
"Gak apa-apa kok, Mas. Aku juga gak enak sebenernya sama istri kamu. Maaf ya, Mas", jawabnya sambil tersenyum.
Gua hanya membalasnya dengan senyuman.
"Eh iya, kamu mau ngopi ? Aku buatin dulu ya sebentar", ucap Mba Yu seraya bangun dari duduknya.
"Boleh. Makasih, Mba", jawab gua.
Mba Yu masuk kedalam rumahnya. Gua tetap menunggu di teras sambil menikmati rokok yang belum habis. Gua memang sengaja langsung mengarahkan mobil untuk pulang ke rumahnya ini setelah tadi selesai menelpon istri tercinta. Apa yang istri gua katakan di telpon sudah lebih dari cukup bagi gua mengetahui keraguannya.
Tidak lama kemudian sang Mamah keluar dari dalam. Gua matikan rokok ke asbak yang berada diatas meja teras ketika kami mulai mengobrol. Setelah sedikit membicarakan hal yang remeh dan berbasa-basi. Akhirnya apa yang gua khawatirkan terjadi juga.
"Gha. Tante perhatikan kamu sama si Ndu akhir-akhir ini makin deket ya", ucap Beliau.
Gua tersenyum tipis mendengar ucapannya. Kemudian gua sedikit menegakan posisi duduk lalu memainkan jemari tangan satu sama lain.
"Iya gitulah, Tante. Kan Gendis sering ke rumah saya ketemu istri dan keluarga saya juga disana, jadi keliatannya kita makin deket", jawab gua tidak bisa mencari jawaban yang lain.
"Bukan itu, Gha. Maksud Tante khususnya kalian berdua. Perasaan Tante kok kayak adaaaa.... Mmmm... Maaf ya, Gha. Kalian gak ngejalin hubungan yang serius kan ? Kamu pasti paham maksud Tante", lanjut Beliau.
Gua hela nafas perlahan dengan sedikit memejamkan mata. Gua tidak pandai menutupi rahasia apalagi kepada Mamahnya Mba Yu yang sudah sangat baik kepada gua selama ini. Entah bagaimana reaksinya setelah mendengar apa yang akan gua terangkan selanjutnya.
"Tante. Apa yang Tante rasa itu bener kok. Saya dan Gendis...", gua menahan ucapan ketika anak sulungnya datang dengan membawa secangkir kopi hitam kesukaan gua.
"Sorry ya Mas lama. Tadi aku masak aernya dulu. Kamu kan gak suka kopi item diseduh dari aer dispenser. Udah aku kocek juga sebanyak tiga puluh tiga kali tuh kopinya", ucap Mba Yu ketika meletakan secangkir kopi tersebut diatas meja teras.
"Iya makasih ya, Mba", balas gua.
Sang Mamah melirik kepada gua. Lalu gua balas dengan senyuman yang sedikit canggung.
"Hapal banget ya kamu, Ndu..", ucap Beliau kali ini kepada anaknya.
Mba Yu hanya tersenyum menanggapi ucapan sang Mamah.
"Kamu sama Mas Agha mu ini Mamah perhatikan makin deket loch, Ndu", lanjut Beliau.
"Maksud Mamah ? Kan kita berdua emang udah deket dari dulu, Mah", jawab Mba Yu heran.
"Ndu. Mamah tau, tapi rasanya kalian berdua sekarang tuh keliatannya beda. Kamu lebih perhatian sama Agha, sama keluarganya juga. Hampir setiap hari kamu ke rumah dia dari mulai kamu udah berenti kerja, Mamah sih gak ngelarang. Tapi ada apa sebenernya dengan kedekatan kalian berdua ini, Ndu ?".
"Ya ampun, Mah. Aku sama Mas Agha gak ada apa-apa kok. Aku emang deket sama dia dan istrinya, sama Mba Laras juga. Mamah jangan berlebihan kayak gitu dong", jawab Mba Yu yang terlihat sedikit tidak suka akan pertanyaan dari Mamahnya tersebut.
"Bukan gitu sayang. Mamah cuma takut nanti jadi salah paham antara kamu dan istrinya. Mamah gak mau tuh sampe denger hal yang enggak-enggak gara-gara kalian terlalu sering jalan berdua kayak gini. Inget Ndu. Mas Agha mu itu udah punya keluarga, dan status kamu masih janda, Ndu. Apa kata orang-orang nanti ? Mereka gak akan ngerti", ucap sang Mamah panjang lebar mengungkapkan kekhawatirannya.
"Mba, biar aku yang jelasin...", ucap gua kepada Mba Yu sebelum ia yang menjelaskan semuanya.
"Tante. Saya mau jujur... Tapi tolong denger penjelasan saya dulu", ucap gua lagi kali ini kepada Mamahnya lalu meneguk kopi yang dibuatkan Mba Yu.
"Saya pribadi gak tau kenapa bisa sampe seperti ini. Tante tau kondisi istri saya seperti apa dan sekarang, dia sendiri yang minta saya untuk deketin Gendis", lanjut gua.
"Maksudnya deket gimana ?", tanya Beliau bingung.
Gua menatap anak sulungnya itu sesaat. Lalu kembali menengok kepada sang Mamah.
"Istri saya. Vena. Minta saya nikahin anak Tante...", jawab gua.
"Kamu jangan bercanda, Gha", ucapnya cepat.
"Saya sendiri berharap dia bercanda, Tante. Tapi nyatanya makin kesini kami malah makin sering bertengkar karena maunya itu. Saya gak mau sama sekali. Dia maksa, bahkan Ibu saya ikut campur, Ibu ngedukung apa yang istri saya mau", jawab gua mengingat semua ucapan istri dan Ibu selama ini.
"Sebentar, Gha. Maksud istri kamu minta nikahin Gendis itu... Dia minta cerai atau...?".
"Bukan gitu, Mah. Vena ngerasa dia gagal jadi istri yang sempurna untuk Mas Agha. Vena udah gak mungkin memiliki anak, dia juga ngerasa gak bisa ngurus suaminya dengan baik karena kelumpuhannya. Jadi dia berpikir lebih baik kasih izin Mas Agha untuk poligami", jawab Mba Yu kali ini.
Jelas saja apa yang diucapkan anaknya itu membuat sang Mamah terkejut. Gua hanya bisa menghela nafas, lalu bangun dari duduk.
"Mba, duduk tuh. Kayak lagi upacara aja diri mulu", sela gua mencoba mencairkan suasana.
"Ealah... Hahahaha.. Kamu ini, Gha! Bisa-bisanya bercanda loch..", ucap sang Mamah yang diselingi dengan tawanya.
Gua berdiri untuk sedikit menjauh dari kedua anak dan Ibunya itu, gua membakar sebatang rokok yang kemudian gua sandarkan punggung ini ke tiang penyangga teras rumah mereka.
Mba Yu yang kini duduk di samping Mamahnya sedang tertunduk ketika kembali ia harus mendengar kekhawatiran orang tua tersebut.
"Mamah bingung. Kamu kok bisa mau sih, Ndu ?", tanya sang Mamah, kemudian Beliau melirik kepada gua. "Gimana ini, Gha ? Bisa-bisanya si Ndu setuju gitu loch..".
Gua hembuskan asap rokok sambil menggelengkan kepala. "Jujur aja Tante. Saya sendiri belom denger alasan apa yang buat Gendis mau.. Kami berdua baru tadi secara terbuka ngomongin masalah ini, Tan", jawab gua.
"Ndu! Jangan diem aja toh. Kenapa kamu mau, Ndu ?!", tanya sang Mamah lagi dengan tidak sabar bukan marah.
"Aku gak bisa kasih alesan logis, Mah. Aku cuma bisa bilang kalo...", Mba Yu melirik kepada gua dengan wajah yang sedikit ragu sebelum melanjutkan ucapannya itu.
"Kalo opo, Ndu ?! Ngomong kok setengah-setengah gitu piye toh ?!", semakin gemas saja sang Mamah melihat anaknya berbelit-belit.
"Kalo aku cuma bisa bilang... Aku bener-bener cinta dan sayang sama Mas Agha!", jawabnya lantang kali ini sambil tetap menatap gua.
"Haduuuuh... Piye Gha! Tante dikasih jawaban roman picisan koyo ngene toh..".
Roman picisan jare! Hahaha... Inget banget waktu itu Beliau emang ngomong kayak gitu. Aya-aya wae kolot te nya.
"Mamah tuh gak ngerti, gak tau perasaan aku selama ini ke Mas Agha kan ? Makanya aku bilang Aku gak bisa kasih alesan yang logis", timpal sang Anak.
"Gini ya, Ndu... Kamu paham apa yang akan kamu jalanin itu gak akan mudah ? Taruhlah semuanya setuju, kamu menikah dan jadi istrinya Agha. Tapi kamu harus sadar posisi mu, Ndu. Kamu bukan wanita pertama yang ada di hatinya", jawab sang Mamah.
"Vena juga bukan wanita pertama yang ada di hati Mas Agha", balas Mba Yu dengan cepat.
Ibu dan Anak itu menatap gua bersamaan. Gua tersenyum lebar.
"Echa adalah wanita yang dimaksud Gendis, Tan..", jawab gua.
"Oooh.. Kirain siapa...", ucap sang Mamah.
"Ehm. Tante.. Saya udah bilang ke Gendis kalo semuanya gak akan mudah. Saya sendiri gak setuju sebenernya. Tapi ternyata hati saya sendiri gak bisa bohong. Kalo selama ini nyatanya cuma dia yang selalu ada di saat saya dan istri sedang terpuruk beberapa bulan ini. Saya udah berusaha untuk membuat dinding kokoh di dalam hati saya. Dan akhirnya dinding itu lambat laun mulai runtuh... Saya sadar saya manusia yang masih jauh dari manusia yang baik dan adil. Tapi kalo Tante memberi restu. Insya Allah dengan izin Tuhan Yang Maha Esa pula saya akan berusaha membahagiakan anak sulung Tante ini. Berusaha menjadi suami yang adil walaupun itu sulit", ucap gua yang sudah berdiri tepat di hadapan Beliau.
Entah apa yang ada di dalam benak Beliau ketika reaksinya itu menutup mulutnya dengan satu tangan lalu gua melihat butiran airmata di sudut kedua matanya.
"Kamu itu, Gha.... Aduh.. Pantes si Ndu jatuh hati sama kamu sampe begini. Iya Tante setuju.. Tante restui... Aduh kamu itu kok bisa ngomong koyo gitu ke Saya..", jawabnya seraya mengusap airmatanya sendiri.
Gua dan anaknya terkejut mendengar jawaban Beliau. Kami berdua saling pandang, lalu anak wanitanya yang seksi itu menghambur kepada Beliau, memeluk sang Ibunda dengan erat seraya mengucapkan terimakasih.
Gua tersenyum melihat kejadian malam ini. Tapi akhirnya gua sadar apa yang kita harapkan belum tentu terwujud dan direstui oleh Sang Pemilik Alam Semesta.
Diubah oleh glitch.7 02-11-2018 20:35
kifif dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas

