- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Catatan:
1. Mengacu pada aturan main forum H2H dan SFTH
2. 95% Semua tokoh/karakter di cerita ini sudah memberikan izin
3. Sikapi dengan bijak apa yang tertuang disini
4. Jangan meminta lebih dari apa yang sudah diberikan
5. Sopanlah dalam berkomentar
6. Saling menghargai TS, penulis dan sesama kaskuser disini
1. Mengacu pada aturan main forum H2H dan SFTH
2. 95% Semua tokoh/karakter di cerita ini sudah memberikan izin
3. Sikapi dengan bijak apa yang tertuang disini
4. Jangan meminta lebih dari apa yang sudah diberikan
5. Sopanlah dalam berkomentar
6. Saling menghargai TS, penulis dan sesama kaskuser disini
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
BAB I & BAB II
BAB III & BAB IV
***
Tralala_Trilili
PROLOG
BAB V
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15- continues
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
***
SEBELUM CAHAYA
PART I
PART II
PART III - The Ghost of You
PART IV
PART V
PART VI
PART VII
PART VIII
Cooling Down
PART IX
PART X - continues
PART XI
PART XII
PART XIII
PART XIV
PART XV
PART XVI
PART XVII A
PART XVII B
PART XVIII
PART XIX - continues
PART XX
PART XXI
PART XXII
PART XXIII
PART XXIV
PART XXV
PART XXVI
PART XXVII
PART XXVIII
PART XXIX
PART XXX
PART XXXI
PART XXXII
PART XXXIII
PART XXXIV
PART XXXV
PART XXXVI - continues
PART XXXVII
PART XXXVIII
PART XXXIX
Vor dem Licht XL - Das Ende
***
BAB V
PART 21
PART 22
Tentang Rasa
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
Von Hier Wegfliegen
Teils Eins - Vorstellen
Teils Zwei - Anfang
Teils Drei - Der Erbarmer
Teils Vier - Von Hier Wegfliegen
Lembayung Senja
Bagian Satu
Bagian Dua
Bagian Tiga
Bagian Empat
Bagian Lima - continues
Bagian Enam
Bagian Tujuh
Bagian Delapan
Bagian Sembilan
Bagian Sepuluh - continues
Breaking Dawn
One Step Closer
Ascension
Throwback Stories
Life is Not Always Fair
Dusk till Dawn
Awal Semula
Untuk Masa Depan
Terimakasih
Omong Kosong
Kepingan Cerita
Menyerah
Restoe
Rasanya - Rasain
Pengorbanan
Menuju Senja
Kenyataan
Wiedersehen
Cobalah untuk Mengerti
Pengorbanan
Tentang Kita
SIDE STORY
VFA
Daily Life I
Daily Life II
Maaf NEWS
Tentang MyPI
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
chamelemon dan 125 lainnya memberi reputasi
122
1.9M
Kutip
8.8K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#7756
Throwback Stories
Awal Semula
Quote:
Jalan hidup yang harus ditempuh oleh istri gua tercinta yang bernama Vena tidaklah mudah. Gua sadar kami sama-sama tumbuh dalam keluarga broken home.Masa-masa yang 'agak' sulit itu ternyata belum juga cukup untuk kami berdua jajaki. Menginjak masa remaja, dia harus rela dan pasrah dengan apa yang sudah menimpanya. Kehilangan 'sesuatu' yang ia jaga selama ini dengan cara direnggut paksa seperti itu membuatnya nyaris mengakhiri hidupnya. Begitupun dengan gua, walaupun perkara kami berbeda tapi apa yang sudah gua alami dengan kehilangan orang-orang yang gua cintai dan sayangi benar-benar membuat gua terpuruk hingga sempat melupakan nama Tuhan. Dan sekarang, kembali dia harus merasakan 'sakit total'. Baik jiwa dan raganya kini terluka lagi.
Gua tidak pernah menemukan jawaban dari kejadian yang baru saja ia alami itu. Apa yang membuatnya harus menerima semua cobaan itu. Dan kenapa harus dia ? Seorang wanita yang baik hati. Setidaknya dimata kami, keluarga dan sahabat dekatnya tahu betul bagaimana tingkah lakunya yang membuat kami sangat menyayanginya.
Setelah semua yang kami alami, akhirnya gua percaya pada sebuah ungkapan 'malaikat tak bersayap' itu benar adanya. Dan bagi ku Ve, kamu adalah salah satu malaikat tak bersayap yang Allah Subhanahu wa Ta'ala hadirkan untuk ku bersama Azzahra, dan tentu saja almarhumah Ressa.
"Kamu mau buah ?", tanya gua di sore hari yang mulai gelap oleh awan hitam diatas sana. Tanda sebentar lagi akan turun hujan.
"Udah, Mas. Tadikan udah makan jeruk. Ngomong-ngomong, tadi Mba Gendis bbm mau mampir kesini", jawabnya sekaligus memberitahukan kalau seorang wanita yang sering gua panggil dengan sebutan Mba Yu itu akan main kerumah.
"Oh tumben sore-sore. Ada apa katanya ?", tanya gua lagi kali ini seraya pindah kehadapannya dari yang sebelumnya berdiri dibelakang kursi roda yang ia duduki itu.
"Gak tau. Ya mungkin biasa main aja kali, sekalian jengukin aku...", jawabnya lagi.
Sejak Nona Ukhti diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Mba Yu memang pernah beberapa kali main kerumah di hari libur kerja. Ya sekedar main sekaligus memberikan dukungan moril kepada istri gua tentunya.
Hujan mulai turun sore itu sampai menjelang waktu isya ketika hujan semakin deras dan gua baru saja akan berangkat ke masjid dengan menggunakan payung, gua melihat cahaya lampu kekuningan dari sebuah mobil yang berhenti diluar pagar rumah.
Seorang wanita keluar dari bangku kemudi sambil menutupi sebagian kepalanya dengan menggunakan blazer berwarna abu-abu yang ia kenakan, lalu berjalan cepat kearah pintu pagar untuk membuka pagar rumah. Gua yang melihatnya kehujanan langsung segera berlari kecil untuk menghampirinya dengan mengenakan payung sebelumnya.
"Mba, udah balik ke mobil lagi aja cepetan! Biar aku yang bukain pintunya..", ucap gua sedikit berteriak disela-sela bunyi hujan yang deras itu.
Dia hanya menganggukan kepalanya sebelum akhirnya kembali kedalam mobil. Setelah mobilnya terparkir didalam. Gua mengantarnya ke teras.
"Baru pulang kerja ?", tanya gua setelah kami berada diteras.
"Iya, Mas... Eh ini kamu mau shalat ?", tanyanya balik ketika melihat pakaian gua.
"Iya, Mba. Aku mau isya berjama'ah. Kamu masuk aja ya. Ada Ibu, Risya sama istri ku didalem kok.. Aku ke masjid dulu, Mba. Wassalamualaikum..", jawab gua seraya pamit karena adzan waktu isya sudah terdengar berkumandang.
Mba Yu tersenyum lebar sambil menganggukan kepalanya. "Walaikumsalam, Mas..". Lalu dia pun masuk kedalam ruang tamu setelah gua berjalan meninggalkan teras.
Ini adalah pertama kalinya gua melaksanakan shalat berjama'ah bersama warga lain selain di hari jum'at. Biasanya gua melaksanakan ibadah dirumah atau di tempat kerja sebelum istri gua sakit. Singkat cerita gua telah melaksanakan shalat isya berjama'ah. Gua pulang dari masjid ketika hujan sudah cukup reda, hanya gerimis kecil yang masih membasahi jalanan. Sesampainya di rumah, mobil Mba Yu masih terparkir seperti sebelumnya.
"Assalamualaikum..", ucap gua ketika memasuki ruang tamu.
"Walaikumsalam..", jawab ketiga wanita yang berada di ruang tamu secara bersamaan seraya menengok kearah gua.
"Wih yang abis shalat berjama'ah..", ucap Mba Yu kali ini sambil tersenyum lebar.
Gua hanya tersenyum. Lalu gua hampiri Ibu dan mencium tangannya, kemudian istri gua mencium tangan kanan gua. Barulah setelah itu gua duduk disebelah Nona Ukhti.
"Aku belom cium tangan nih, hihihi...", goda Mba Yu yang duduk disofa sebelah Ibu.
"Ngapain ? Gak usahlah...", jawab gua dengan tersenyum lebar.
Istri dan Ibu gua hanya terkekeh pelan mendengar ucapan Mba Yu.
Kemudian kami berempat hanya mengobrol santai sampai akhirnya Mba Yu pamit pulang ketika jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam.
Menjelang waktu tidur di kamar atas gua dan Nona Ukhti sedang menonton acara televisi. Saat itu kami duduk bersebelahan diatas ranjang.
"Mas...".
"Ya, sayang", gua menengok kepadanya yang berada disamping kiri.
"Mba Gendis lagi deket sama siapa ya ?", tanyanya tiba-tiba.
"Maksudnya deket sama siapa gimana, sayang ?", tanya gua balik.
"Ya mungkin kamu tau gitu dia lagi deket sama cowok gak sekarang ini, atau udah punya pacar gitu..", jelasnya.
Gua tersenyum. "Ya mana aku tau. Soalnya gini, selama ini dia gak pernah cerita soal hubungannya sama temen-temennya. Kalopun dia lagi deket sama orang lain, biasanya dia cerita. Tapi selama ini dia gak pernah cerita soal kayak gitu ke aku. Kan kamu juga tau, aku ketemu dia aja kalo lagi main kesini", jawab gua yang memang sepengetahuan gua Mba Yu tidak sedang dekat dengan lelaki manapun.
"Ooh..". Nona Ukhti kembali menatap layar televisi di depan sana. Tapi gua tahu ada hal lain yang ia pikirkan.
"Kamu kenapa nanya soal Gendis ? Tumben banget sampe nanyain hubungan dia, Yang ?", tanya gua kali ini.
Jujur gua hafal dengan baik karakter istri gua itu. Dia tidak pernah ingin tahu urusan orang lain apalagi sampai ikut campur.
"Hm ? Oh.. Enggak apa-apa kok. Cuma aku kepikiran aja tadi. Dia kan udah cukup lama ya sendiri setelah cerai dari suaminya itu. Ya mungkin aja dia udah buka hatinya ke cowok lain gitu. Atau mungkin lagi deket sama siapa, kan bisa aja tuh ?".
Gua mendekatinya. Menatap matanya lekat-lekat. "Beneran deh. Ada apa sebenernya sih ?", tanya gua sambil tersenyum.
"Iiih.. Hahahaha.. Mukanya gitu banget sih, Mas ? Ahahaha... Gak ada apa-apa beneran. Cuma pingin tau aja ih. Salah emang ?", dia dorong tubuh gua sedikit menjauh sambil tertawa.
"Ya enggak sih.. Cuma aneh aja tumben gitu kamu pengen tau soal dia. Tapi yaudah lah.. Tidur yuk sayang..", gua merebahkan tubuh lalu menarik selimut untuk kami berdua.
Lampu utama sudah gua matikan sebelumnya. Hanya ada sedikit cahaya dari lampu tidur yang berada diatas meja samping ranjang kami sebagai penerang di kamar ini. Gua sudah hampir tertidur ketika suara lembutnya kembali terdengar jelas.
"Mas..".
"...".
"Mas ? Udah tidur ?".
"Hm ? Kenapa, sayang ? Kamu mau kekamar mandi ?", gua menyerongkan tubuh untuk melihatnya.
Suasana didalam kamar ini benar-benar sepi. Hanya suara hembusan nafas kami berdua yang terdengar lembut. Gua tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya itu walaupun ada cahaya dari lampu tidur sebagai penerang.
"Enggak.. Aku mau tanya boleh, Mas ?".
"Ya. Ada apa ?".
Dia memiringkan wajahnya untuk menengok kepada gua yang sedang memperhatikannya. Samar-samar gua lihat senyumannya.
"Kamu masih nyimpen perasaan untuk dia gak ?".
"Maksud kamu dia siapa ?".
"Dia. Mba Gendis.. Mba Yu kamu itu...".
Gua terkekeh sebentar. "Ada apa ini ? Kok pertanyaan kamu tiba-tiba gitu ?", tanya gua dalam senyuman yang cukup lebar.
"Enggak. Cuma pengen tau aja".
"Nyalain lampu sebelah kamu, Yang..", pinta gua seraya kembali bangun dan duduk setelah menyandarkan tubuh ke bagian kepala ranjang.
Istri gua menyalakan lampu tidur yang berada disebelahnya, lalu duduk dengan posisi yang sama dengan gua. Kamar ini lebih terang dari sebelumnya. Sekarang gua bisa melihat dengan jelas wajahnya yang berseri-seri itu.
"Kapan aku keluar jalan sama dia ?", tanya gua tiba-tiba.
Dia mengerenyitkan keningnya. Lalu menggelengkan kepalanya tanda tidak ingat.
"Sering gak aku jalan sama dia akhir-akhir ini ?", tanya gua lagi.
Lagi-lagi dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Kalo gitu. Kenapa kamu nanya perasaan aku ke dia masih ada apa enggak, sayang ?", kali ini gua tersenyum.
"Gini, Mas.. Aku mau nanya dulu sama kamu. Dia mantan kamu dari SMA kan ?", dia memiringkan tubuhnya sedikit menghadap gua kali ini.
"Ya. Terus ?".
"Terus kamu pernah janji kan buat nikahin dia ? Aku masih inget loch kamu pernah cerita soal ini..".
"Ya bener. Tapi kan kamu juga tau ceritanya kayak apa. Waktu itu aku lagi ditinggal kamu karena.. Ehm.. You know what i mean bout that, right ?", tanya gua hati-hati. Nona Ukhti tersenyum sambil menganggukan kepalanya. "Nah udah gitu, dia lagi sama Feri. Aku yang lagi sakit dalam tanda kutip karena ditinggal kamu juga lagi ditemenin almarhumah Teteh. Hampir setiap hari Teteh selalu datang untuk nemenin aku. Dari situ aku nikah sama Teteh", jawab gua panjang lebar.
"Okey. Ini aku cuma nanya aja. Waktu itu, kamu ada pikiran gak buat nikahin dia setelah ditinggal Almarhumah ?", tanyanya lagi.
Gua tersenyum. "Niatan itu mulai ilang", jawab gua.
"Kenapa ?".
"Masalah ku itu jelas, sayang. Aku baru ditinggal Teteh. Gak lama setelah itu...", gua mengalihkan pandangan kearah dinding dimana televisi berada, lalu menatap bingkai foto yang berada disampingnya. "Setelah itu aku harus kehilangan Jingga juga", lanjut gua sambil menatap foto itu dalam remangnya cahaya kamar.
"Maaf.. Aku gak maksud buat kamu inget kenangan pait itu, Mas..", ucap Nona Ukhti seraya memegang tangan kiri gua.
Gua menengok lagi kepadanya lalu kembali tersenyum. "Ah, Kalopun waktu itu Jingga masih ada. Rasanya sulit buat aku ngejar Mba Yu", pikiran gua melayang kepada kenangan bersama seorang wanita lain.
"Kenapa bisa gitu ?", tanyanya.
"Gini deh, biar kamu paham. Aku emang pernah janji buat rebut dia dari siapapun. Tapi masalahnya keadaan hati aku gak pernah baik. Gak pernah normal setelah aku gagal nikahin kamu, sayang. Coba kamu inget-inget lagi deh posisi aku setiap kehilangan orang yang aku sayangin selama ini... Aku ditinggal kamu, datang Teteh. Dia yang selalu ada untuk aku. Maaf bukan berarti Mba Yu gak pernah sama sekali nemenin. Dia sempet beberapa kali jengukin aku, tapi cuma sebentar. Dan itupun posisinya dia masih pacaran sama Feri. Terus aku harus gitu ngejar dia ? Disaat aku lagi kalut ditinggal kamu ? Aneh gak sih menurut kamu ? Aku yang lagi patah hati karena ditinggal pergi sama kamu, masa aku juga yang harus kejar Mba Yu atau rebut dia dari Feri ? Sedangkan jelas-jelas ada Almarhumah yang setiap hari nemenin aku. Itu satu...", terang gua.
"Terus setelah ditinggal Teteh ?", tanyanya lagi.
"Nah yang kedua itu. Samakan ? Kondisi dan keadaan aku gak baik ? Aku ditinggal mati loch ini. Terus Jingga ikut nyusul Bundanya. Kebayang kan sama kamu ? Ditinggal dua orang yang aku cintai dalam waktu yang berdekatan. Masa iya aku masih ada niat buat mikirin ngerebut Mba Yu ?. Gak ada pikiran buat nikahin siapapun termasuk kamu, sayang. Buktinya aku pergi ke Jepang beberapa bulan buat lupain semuanya.", jelas gua lagi.
"Tapi akhirnya dia dateng... Kalian sempet deket dan pacaran. Iyakan ?", Nona Ukhti tersenyum.
"Mba Yu maksud kamu ? Ya enggaklah, dia kan udah dilamar Feri. Mana ada aku pacaran lagi sama Mba Yu setelah kehilangan semuanya", jawab gua.
"Bukan, Mas. Bukan Mba Gendis maksud aku...".
"Siapa ?".
"Psikolog paling cantik yang pernah kamu kenal ituuu...", jawabnya sambil menggoda gua.
"Nah ituuuu.. Kamu tau gak kenapa aku malah pacaran sama Luna ?", tanya gua.
"Iya tau. Cuma dia satu-satunya perempuan yang nyariin kamu bela-belain tiap hari nemenin keluarga kamu waktu kamu pergi ke Jepang. Aku ma enggak kan ya ? Biasa aja aku ma. Bisa apa aku di Singapore waktu itu ? Aku ma cuma bisa nangis sambil nyuci patung Merlion".
Kampreettt! Gua ngakak sejadi-jadinya mendengar jawabannya yang konyol itu. Astagfirullah ini bini satu ada-ada aja.
"Hahahaha... Kamu ini.. Aduh.. Hahaha.. Ya enggak gitu juga. Aku tau kok kamu nyariin aku, sedih kan aku tipu waktu itu ? Maaf deh... Hehehe", jawab gua sambil terus terkekeh.
"Aku tuh ya, udah pulang dari Singapore pas tau kamu kehilangan Teteh sama Jingga. Katanya kamu hancur, aku dateng buat jemput kamu, ngajakin kamu tinggal sama aku di Singapore. Tapi.. Kamu malah kabur duluan ke Jepang. Tega ih".
"Aku udah bilang kan waktu itu. Jujur emang sekalian mau balas dendam ke kamu. Gak enak toh rasanya ditinggalin ? Hehehe...".
"Tau ah! Sebel!".
Gua beringsut mendekatinya. Lalu memeluknya dari samping.
"Tapi sekarang gimana ? Aku ama kamu kan ? Bukan Luna ataupun Gendis..", ucap gua sedikit berbisik.
Dia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Gua kecup pipi kanannya. "I love you, sayang..", ucap gua mesra.
"Love you too, Mas..".
Akhirnya setelah obrolan itu gua mengajaknya untuk berisitirahat. Gua kembali menarik selimut untuk menutupi tubuh kami berdua. Satu lampu tidur sudah dimatikan. Gua peluk dirinya dari samping lalu memejamkan mata.
"Terkahir, Mas..".
"Apalagi ? Udah mau tidur juga masih aja...".
"Beneran, terkahir nih. Abis itu kita bobo..".
"Yaudah apa ?".
"Antara Luna sama Mba Gendis, kamu pilih siapa ?".
"....".
"Mas ?".
"....".
"Mas, ih!".
"Ngantuk aku tuh..".
"Jawab dulu..".
Sayang. Kalo aku jawab disini pertanyaan kamu yang udah sekian tahun lalu itu kamu ucapin bisa-bisa aku jadi bulan-bulanan dia.Demi keutuhan rumahtangga ku sama bidadari yang satu itu, dan kesalamatan seorang Ayah dari kedua putra-putrinya, alangkah baiknya aku menjawab... Tentu saja aku memilih Adiknya Luna.
...
...
...
*monmaap nih buat Miss. Psikolog ama Cah Ayu semlohay.
Lambat laun Mba Yu kian hari semakin sering datang kerumah gua. Menemani istri gua disaat ada waktu luang. Bahkan rasanya seingat gua waktu itu setiap hari libur dia seharian bertamu dan menemani Nona Ukhti. Jujur gua senang melihatnya. Setidaknya ada orang lain selain keluarga yang mau menemani istri gua itu. Apalagi saat itu sulit sekali mengajaknya pergi keluar untuk membunuh rasa bosannya yang sepanjang hari hanya berada didalam rumah.
"Ve. Kita jalan-jalan yu", ajak Mba Yu ketika kami bertiga sedang berada dihalaman belakang.
"Kemana, Mba ?", tanya istri gua.
"Ke puncak. Gimana ? Asyik kan", jawab Mba Yu dengan wajah yang berseri-seri.
"Iiih.. Ada-ada aja ah Mba satu ini. Gak liat apa kondisiku kayak apa ?".
"Yeee.. Bukan gitu, Ve. Kan udaranya disana bagus. Bisa refresh pikiran juga. Udah mau ya", Mba Yu terus berusaha meyakinkan Nona Ukhti.
"Enggak, Mba. Aku gak mau.. Nanti nyusahin yang ada.. Enggak ah pokoknya..".
Mba Yu menghela nafasnya. "Yaudah kalo gak mau. Kalo gitu kita ke Mall, cuci mata. Okey ? Sumpek loch Ve dirumah terus..", ucap Mba Yu memberikan saran lain.
"Kalo kamu mau. Pergi berdua sama Mas Agha aja ya. Aku gak ikut. Males kemana-mana beneran. Mending dirumah aja".
"Kok malah aku sama suami kamu sih ? Aku tuh ngajakin kamu, Ve. Dia ma gak usah diajak. Acara wanita aja. Nanti aku ajakin Mba Laras sama Risya juga. Pasti asyik deh.. Ya ya ya... Mau ya ?", bujuk Mba Yu lagi.
Istri gua melirik kearah gua. Gua tersenyum sambil mengangguk.
"Udah berapa lama kamu dirumah terus, sayang ? Pasti bosen kan ? Gak ada salahnya kok kamu pergi jalan-jalan. Ada Mba Yu sama Ibu nanti yang nemenin kamu. Dan gak mungkin mereka ngerasa dibebanin. Mau ya sayang", ucap gua.
Nona Ukhti menggelengkan kepalanya.
"Hey.. Jangan nyiksa diri kamu, Ve. Gak baik tau. Emangnya dosa ya kalo pergi jalan-jalan ? Gak kan ? Ayolah.. Ikut ya sayang..", Mba Yu kali ini berjongkok dihadapan Nona Ukhti yang duduk diatas kursi rodanya.
"Aku bukannya nyiksa diri, Mba. Tapi aku males aja pergi-pergi gitu", jawab Nona Ukhti seraya menundukkan kepalanya.
Gua beranjak dari duduk dan menghampiri mereka berdua. Lalu gua berdiri dibelakang kursi rodanya. Gua raih kedua pundaknya dan memijatnya pelan.
"Sayang. Aku tau kamu malu", ucap gua pelan.
Mba Yu yang masih berjongkok dihadapan istri gua itu menatap kearah gua.
"Tapi sampai kapan kamu mau menutup diri ? Terus-terusan didalem rumah. Aku yakin kamu bosen. Dan kamu gak perlu malu pergi keluar sana dengan keadaan kamu yang sekarang. Aku jamin.. Gak akan ada orang yang memandang kamu aneh", lanjut gua seraya terus memijat kedua pundaknya.
Mba Yu paham maksud ucapan gua. Dia tersenyum kali ini kepada istri gua. Lalu memegang kedua tangannya.
"Vena. Gak mungkin ada yang memandang rendah kamu diluar sana. Percaya deh sama ucapan suami kamu. Aku juga yakin kamu bakal seneng kok jalan-jalan. Mau ya sayang ? Kita berangkat sekarang", ucap Mba Yu.
Kemudian istri gua menengok kebelakang dan mendongakan kepalanya untuk menatap gua. Seolah bertanya dari raut wajahnya yang ragu itu.
"Iya. Beneran kok, sayang. Pasti kamu seneng diluar sana...", ucap gua sambil tersenyum untuk kembali meyakinkannya.
"Yaudah. Aku mau...", jawabnya pelan.
"Yeeeee... Jalan-jalan!", teriak Mba Yu kegirangan sampai kedua tangannya terangkat meninju langit.
Gua terkekeh melihatnya, sedangkan Nona Ukhti tersenyum.
Ibu dan Risya yang memang saat itu berada dirumah juga diajak. Jelas mereka senang mendengar istri gua mau pergi keluar setelah dibujuk oleh Mba Yu. Mereka berempat sudah siap pergi. Gua mengantar sampai halaman parkir dan membantu Mba Yu untuk menggendong istri gua kedalam mobil. Setelah semuanya sudah berada didalam mobil dan Mba Yu yang mengemudikannya, gua tersenyum bahagia melihat istri gua yang duduk di jok tengah bersama Ibu.
"Hati-hati ya sayang", ucap gua kepada Nona Ukhti.
"Kamu beneran gak ikut, Mas ?", tanyanya.
"Iya, gak apa-apa. Acara wanita sore ini", jawab gua. "Bu, kalo ada apa-apa langsung kabarin aku ya", pinta gua kepada Ibu.
"Iya. Insya Allah gak ada apa-apa, Gha", jawab Ibu lembut.
"Yaudah kita berangkat dulu ya. Assalamualaikum, Mas..", ucap Mba Yu seraya memundurkan mobil perlahan.
"Walaikumsalam. Hati-hati bawa mobilnya, Mba..", jawab gua yang hanya ditanggapi denga senyuman lebarnya.
Setelah mereka semua pergi. Tinggalah gua dirumah bersama Bibi yang sedang memasak makanan untuk makan malam nanti. Gua duduk diteras rumah sambil ditemani secangkir kopi liong dan sebatang rokok untuk menemani sore yang cukup mendung saat itu. Gua tersenyum ketika sudah menghembuskan asap rokok keatas sana. Lalu mengucap syukur atas apa yang baru saja gua lihat beberapa menit lalu. Tidak ada yang spesial mungkin dihari itu bagi orang lain. Tapi tidak buat gua dan keluarga. Hari itu adalah hari bahagia kami semua. Dimana seorang wanita yang gua cintai untuk pertama kalinya mau pergi keluar rumah setelah sekian lama ia mengurung diri semenjak divonis lumpuh oleh dokter.
Kami semua bukannya tidak berusaha untuk mengajaknya pergi selama ini. Sekedar jalan-jalan di taman komplek saja dia menolak. Dan nyatanya, Mba Yu sendiri butuh tiga kali membujuk Nona Ukhti hingga usahanya membuahkan hasil.
Semakin hari setelah hari itu, Mba Yu semakin sering datang kerumah dan menjadi sahabat istri gua. Seperti Kakak-Adik.
Gua tidak minta berlebihan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala saat itu. Permintaan gua tidak muluk-muluk. Gua hanya ingin istri gua kembali sehat seperti sediakala. Urusan rahimnya sudah gua ikhlaskan sejak lama. Masih ada cara lain untuk memiliki anak. Tapi apa yang terjadi selanjutnya diluar perkiraan gua soal masalah yang satu itu.
Kamu selalu saja membuat ku takjub dengan segala kebaikan hati kamu sayang. Dan pada akhirnya do'a 'mereka' dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Terimakasih.
Gua tidak pernah menemukan jawaban dari kejadian yang baru saja ia alami itu. Apa yang membuatnya harus menerima semua cobaan itu. Dan kenapa harus dia ? Seorang wanita yang baik hati. Setidaknya dimata kami, keluarga dan sahabat dekatnya tahu betul bagaimana tingkah lakunya yang membuat kami sangat menyayanginya.
Setelah semua yang kami alami, akhirnya gua percaya pada sebuah ungkapan 'malaikat tak bersayap' itu benar adanya. Dan bagi ku Ve, kamu adalah salah satu malaikat tak bersayap yang Allah Subhanahu wa Ta'ala hadirkan untuk ku bersama Azzahra, dan tentu saja almarhumah Ressa.
*
*
*
*
*
"Kamu mau buah ?", tanya gua di sore hari yang mulai gelap oleh awan hitam diatas sana. Tanda sebentar lagi akan turun hujan.
"Udah, Mas. Tadikan udah makan jeruk. Ngomong-ngomong, tadi Mba Gendis bbm mau mampir kesini", jawabnya sekaligus memberitahukan kalau seorang wanita yang sering gua panggil dengan sebutan Mba Yu itu akan main kerumah.
"Oh tumben sore-sore. Ada apa katanya ?", tanya gua lagi kali ini seraya pindah kehadapannya dari yang sebelumnya berdiri dibelakang kursi roda yang ia duduki itu.
"Gak tau. Ya mungkin biasa main aja kali, sekalian jengukin aku...", jawabnya lagi.
Sejak Nona Ukhti diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Mba Yu memang pernah beberapa kali main kerumah di hari libur kerja. Ya sekedar main sekaligus memberikan dukungan moril kepada istri gua tentunya.
Hujan mulai turun sore itu sampai menjelang waktu isya ketika hujan semakin deras dan gua baru saja akan berangkat ke masjid dengan menggunakan payung, gua melihat cahaya lampu kekuningan dari sebuah mobil yang berhenti diluar pagar rumah.
Seorang wanita keluar dari bangku kemudi sambil menutupi sebagian kepalanya dengan menggunakan blazer berwarna abu-abu yang ia kenakan, lalu berjalan cepat kearah pintu pagar untuk membuka pagar rumah. Gua yang melihatnya kehujanan langsung segera berlari kecil untuk menghampirinya dengan mengenakan payung sebelumnya.
"Mba, udah balik ke mobil lagi aja cepetan! Biar aku yang bukain pintunya..", ucap gua sedikit berteriak disela-sela bunyi hujan yang deras itu.
Dia hanya menganggukan kepalanya sebelum akhirnya kembali kedalam mobil. Setelah mobilnya terparkir didalam. Gua mengantarnya ke teras.
"Baru pulang kerja ?", tanya gua setelah kami berada diteras.
"Iya, Mas... Eh ini kamu mau shalat ?", tanyanya balik ketika melihat pakaian gua.
"Iya, Mba. Aku mau isya berjama'ah. Kamu masuk aja ya. Ada Ibu, Risya sama istri ku didalem kok.. Aku ke masjid dulu, Mba. Wassalamualaikum..", jawab gua seraya pamit karena adzan waktu isya sudah terdengar berkumandang.
Mba Yu tersenyum lebar sambil menganggukan kepalanya. "Walaikumsalam, Mas..". Lalu dia pun masuk kedalam ruang tamu setelah gua berjalan meninggalkan teras.
Ini adalah pertama kalinya gua melaksanakan shalat berjama'ah bersama warga lain selain di hari jum'at. Biasanya gua melaksanakan ibadah dirumah atau di tempat kerja sebelum istri gua sakit. Singkat cerita gua telah melaksanakan shalat isya berjama'ah. Gua pulang dari masjid ketika hujan sudah cukup reda, hanya gerimis kecil yang masih membasahi jalanan. Sesampainya di rumah, mobil Mba Yu masih terparkir seperti sebelumnya.
"Assalamualaikum..", ucap gua ketika memasuki ruang tamu.
"Walaikumsalam..", jawab ketiga wanita yang berada di ruang tamu secara bersamaan seraya menengok kearah gua.
"Wih yang abis shalat berjama'ah..", ucap Mba Yu kali ini sambil tersenyum lebar.
Gua hanya tersenyum. Lalu gua hampiri Ibu dan mencium tangannya, kemudian istri gua mencium tangan kanan gua. Barulah setelah itu gua duduk disebelah Nona Ukhti.
"Aku belom cium tangan nih, hihihi...", goda Mba Yu yang duduk disofa sebelah Ibu.
"Ngapain ? Gak usahlah...", jawab gua dengan tersenyum lebar.
Istri dan Ibu gua hanya terkekeh pelan mendengar ucapan Mba Yu.
Kemudian kami berempat hanya mengobrol santai sampai akhirnya Mba Yu pamit pulang ketika jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam.
Menjelang waktu tidur di kamar atas gua dan Nona Ukhti sedang menonton acara televisi. Saat itu kami duduk bersebelahan diatas ranjang.
"Mas...".
"Ya, sayang", gua menengok kepadanya yang berada disamping kiri.
"Mba Gendis lagi deket sama siapa ya ?", tanyanya tiba-tiba.
"Maksudnya deket sama siapa gimana, sayang ?", tanya gua balik.
"Ya mungkin kamu tau gitu dia lagi deket sama cowok gak sekarang ini, atau udah punya pacar gitu..", jelasnya.
Gua tersenyum. "Ya mana aku tau. Soalnya gini, selama ini dia gak pernah cerita soal hubungannya sama temen-temennya. Kalopun dia lagi deket sama orang lain, biasanya dia cerita. Tapi selama ini dia gak pernah cerita soal kayak gitu ke aku. Kan kamu juga tau, aku ketemu dia aja kalo lagi main kesini", jawab gua yang memang sepengetahuan gua Mba Yu tidak sedang dekat dengan lelaki manapun.
"Ooh..". Nona Ukhti kembali menatap layar televisi di depan sana. Tapi gua tahu ada hal lain yang ia pikirkan.
"Kamu kenapa nanya soal Gendis ? Tumben banget sampe nanyain hubungan dia, Yang ?", tanya gua kali ini.
Jujur gua hafal dengan baik karakter istri gua itu. Dia tidak pernah ingin tahu urusan orang lain apalagi sampai ikut campur.
"Hm ? Oh.. Enggak apa-apa kok. Cuma aku kepikiran aja tadi. Dia kan udah cukup lama ya sendiri setelah cerai dari suaminya itu. Ya mungkin aja dia udah buka hatinya ke cowok lain gitu. Atau mungkin lagi deket sama siapa, kan bisa aja tuh ?".
Gua mendekatinya. Menatap matanya lekat-lekat. "Beneran deh. Ada apa sebenernya sih ?", tanya gua sambil tersenyum.
"Iiih.. Hahahaha.. Mukanya gitu banget sih, Mas ? Ahahaha... Gak ada apa-apa beneran. Cuma pingin tau aja ih. Salah emang ?", dia dorong tubuh gua sedikit menjauh sambil tertawa.
"Ya enggak sih.. Cuma aneh aja tumben gitu kamu pengen tau soal dia. Tapi yaudah lah.. Tidur yuk sayang..", gua merebahkan tubuh lalu menarik selimut untuk kami berdua.
Lampu utama sudah gua matikan sebelumnya. Hanya ada sedikit cahaya dari lampu tidur yang berada diatas meja samping ranjang kami sebagai penerang di kamar ini. Gua sudah hampir tertidur ketika suara lembutnya kembali terdengar jelas.
"Mas..".
"...".
"Mas ? Udah tidur ?".
"Hm ? Kenapa, sayang ? Kamu mau kekamar mandi ?", gua menyerongkan tubuh untuk melihatnya.
Suasana didalam kamar ini benar-benar sepi. Hanya suara hembusan nafas kami berdua yang terdengar lembut. Gua tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya itu walaupun ada cahaya dari lampu tidur sebagai penerang.
"Enggak.. Aku mau tanya boleh, Mas ?".
"Ya. Ada apa ?".
Dia memiringkan wajahnya untuk menengok kepada gua yang sedang memperhatikannya. Samar-samar gua lihat senyumannya.
"Kamu masih nyimpen perasaan untuk dia gak ?".
"Maksud kamu dia siapa ?".
"Dia. Mba Gendis.. Mba Yu kamu itu...".
Gua terkekeh sebentar. "Ada apa ini ? Kok pertanyaan kamu tiba-tiba gitu ?", tanya gua dalam senyuman yang cukup lebar.
"Enggak. Cuma pengen tau aja".
"Nyalain lampu sebelah kamu, Yang..", pinta gua seraya kembali bangun dan duduk setelah menyandarkan tubuh ke bagian kepala ranjang.
Istri gua menyalakan lampu tidur yang berada disebelahnya, lalu duduk dengan posisi yang sama dengan gua. Kamar ini lebih terang dari sebelumnya. Sekarang gua bisa melihat dengan jelas wajahnya yang berseri-seri itu.
"Kapan aku keluar jalan sama dia ?", tanya gua tiba-tiba.
Dia mengerenyitkan keningnya. Lalu menggelengkan kepalanya tanda tidak ingat.
"Sering gak aku jalan sama dia akhir-akhir ini ?", tanya gua lagi.
Lagi-lagi dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Kalo gitu. Kenapa kamu nanya perasaan aku ke dia masih ada apa enggak, sayang ?", kali ini gua tersenyum.
"Gini, Mas.. Aku mau nanya dulu sama kamu. Dia mantan kamu dari SMA kan ?", dia memiringkan tubuhnya sedikit menghadap gua kali ini.
"Ya. Terus ?".
"Terus kamu pernah janji kan buat nikahin dia ? Aku masih inget loch kamu pernah cerita soal ini..".
"Ya bener. Tapi kan kamu juga tau ceritanya kayak apa. Waktu itu aku lagi ditinggal kamu karena.. Ehm.. You know what i mean bout that, right ?", tanya gua hati-hati. Nona Ukhti tersenyum sambil menganggukan kepalanya. "Nah udah gitu, dia lagi sama Feri. Aku yang lagi sakit dalam tanda kutip karena ditinggal kamu juga lagi ditemenin almarhumah Teteh. Hampir setiap hari Teteh selalu datang untuk nemenin aku. Dari situ aku nikah sama Teteh", jawab gua panjang lebar.
"Okey. Ini aku cuma nanya aja. Waktu itu, kamu ada pikiran gak buat nikahin dia setelah ditinggal Almarhumah ?", tanyanya lagi.
Gua tersenyum. "Niatan itu mulai ilang", jawab gua.
"Kenapa ?".
"Masalah ku itu jelas, sayang. Aku baru ditinggal Teteh. Gak lama setelah itu...", gua mengalihkan pandangan kearah dinding dimana televisi berada, lalu menatap bingkai foto yang berada disampingnya. "Setelah itu aku harus kehilangan Jingga juga", lanjut gua sambil menatap foto itu dalam remangnya cahaya kamar.
"Maaf.. Aku gak maksud buat kamu inget kenangan pait itu, Mas..", ucap Nona Ukhti seraya memegang tangan kiri gua.
Gua menengok lagi kepadanya lalu kembali tersenyum. "Ah, Kalopun waktu itu Jingga masih ada. Rasanya sulit buat aku ngejar Mba Yu", pikiran gua melayang kepada kenangan bersama seorang wanita lain.
"Kenapa bisa gitu ?", tanyanya.
"Gini deh, biar kamu paham. Aku emang pernah janji buat rebut dia dari siapapun. Tapi masalahnya keadaan hati aku gak pernah baik. Gak pernah normal setelah aku gagal nikahin kamu, sayang. Coba kamu inget-inget lagi deh posisi aku setiap kehilangan orang yang aku sayangin selama ini... Aku ditinggal kamu, datang Teteh. Dia yang selalu ada untuk aku. Maaf bukan berarti Mba Yu gak pernah sama sekali nemenin. Dia sempet beberapa kali jengukin aku, tapi cuma sebentar. Dan itupun posisinya dia masih pacaran sama Feri. Terus aku harus gitu ngejar dia ? Disaat aku lagi kalut ditinggal kamu ? Aneh gak sih menurut kamu ? Aku yang lagi patah hati karena ditinggal pergi sama kamu, masa aku juga yang harus kejar Mba Yu atau rebut dia dari Feri ? Sedangkan jelas-jelas ada Almarhumah yang setiap hari nemenin aku. Itu satu...", terang gua.
"Terus setelah ditinggal Teteh ?", tanyanya lagi.
"Nah yang kedua itu. Samakan ? Kondisi dan keadaan aku gak baik ? Aku ditinggal mati loch ini. Terus Jingga ikut nyusul Bundanya. Kebayang kan sama kamu ? Ditinggal dua orang yang aku cintai dalam waktu yang berdekatan. Masa iya aku masih ada niat buat mikirin ngerebut Mba Yu ?. Gak ada pikiran buat nikahin siapapun termasuk kamu, sayang. Buktinya aku pergi ke Jepang beberapa bulan buat lupain semuanya.", jelas gua lagi.
"Tapi akhirnya dia dateng... Kalian sempet deket dan pacaran. Iyakan ?", Nona Ukhti tersenyum.
"Mba Yu maksud kamu ? Ya enggaklah, dia kan udah dilamar Feri. Mana ada aku pacaran lagi sama Mba Yu setelah kehilangan semuanya", jawab gua.
"Bukan, Mas. Bukan Mba Gendis maksud aku...".
"Siapa ?".
"Psikolog paling cantik yang pernah kamu kenal ituuu...", jawabnya sambil menggoda gua.
"Nah ituuuu.. Kamu tau gak kenapa aku malah pacaran sama Luna ?", tanya gua.
"Iya tau. Cuma dia satu-satunya perempuan yang nyariin kamu bela-belain tiap hari nemenin keluarga kamu waktu kamu pergi ke Jepang. Aku ma enggak kan ya ? Biasa aja aku ma. Bisa apa aku di Singapore waktu itu ? Aku ma cuma bisa nangis sambil nyuci patung Merlion".
Kampreettt! Gua ngakak sejadi-jadinya mendengar jawabannya yang konyol itu. Astagfirullah ini bini satu ada-ada aja.
"Hahahaha... Kamu ini.. Aduh.. Hahaha.. Ya enggak gitu juga. Aku tau kok kamu nyariin aku, sedih kan aku tipu waktu itu ? Maaf deh... Hehehe", jawab gua sambil terus terkekeh.
"Aku tuh ya, udah pulang dari Singapore pas tau kamu kehilangan Teteh sama Jingga. Katanya kamu hancur, aku dateng buat jemput kamu, ngajakin kamu tinggal sama aku di Singapore. Tapi.. Kamu malah kabur duluan ke Jepang. Tega ih".
"Aku udah bilang kan waktu itu. Jujur emang sekalian mau balas dendam ke kamu. Gak enak toh rasanya ditinggalin ? Hehehe...".
"Tau ah! Sebel!".
Gua beringsut mendekatinya. Lalu memeluknya dari samping.
"Tapi sekarang gimana ? Aku ama kamu kan ? Bukan Luna ataupun Gendis..", ucap gua sedikit berbisik.
Dia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Gua kecup pipi kanannya. "I love you, sayang..", ucap gua mesra.
"Love you too, Mas..".
Akhirnya setelah obrolan itu gua mengajaknya untuk berisitirahat. Gua kembali menarik selimut untuk menutupi tubuh kami berdua. Satu lampu tidur sudah dimatikan. Gua peluk dirinya dari samping lalu memejamkan mata.
"Terkahir, Mas..".
"Apalagi ? Udah mau tidur juga masih aja...".
"Beneran, terkahir nih. Abis itu kita bobo..".
"Yaudah apa ?".
"Antara Luna sama Mba Gendis, kamu pilih siapa ?".
"....".
"Mas ?".
"....".
"Mas, ih!".
"Ngantuk aku tuh..".
"Jawab dulu..".
~
Sayang. Kalo aku jawab disini pertanyaan kamu yang udah sekian tahun lalu itu kamu ucapin bisa-bisa aku jadi bulan-bulanan dia.Demi keutuhan rumahtangga ku sama bidadari yang satu itu, dan kesalamatan seorang Ayah dari kedua putra-putrinya, alangkah baiknya aku menjawab... Tentu saja aku memilih Adiknya Luna.

...
...
...
*monmaap nih buat Miss. Psikolog ama Cah Ayu semlohay.
*
*
*
*
*
Lambat laun Mba Yu kian hari semakin sering datang kerumah gua. Menemani istri gua disaat ada waktu luang. Bahkan rasanya seingat gua waktu itu setiap hari libur dia seharian bertamu dan menemani Nona Ukhti. Jujur gua senang melihatnya. Setidaknya ada orang lain selain keluarga yang mau menemani istri gua itu. Apalagi saat itu sulit sekali mengajaknya pergi keluar untuk membunuh rasa bosannya yang sepanjang hari hanya berada didalam rumah.
"Ve. Kita jalan-jalan yu", ajak Mba Yu ketika kami bertiga sedang berada dihalaman belakang.
"Kemana, Mba ?", tanya istri gua.
"Ke puncak. Gimana ? Asyik kan", jawab Mba Yu dengan wajah yang berseri-seri.
"Iiih.. Ada-ada aja ah Mba satu ini. Gak liat apa kondisiku kayak apa ?".
"Yeee.. Bukan gitu, Ve. Kan udaranya disana bagus. Bisa refresh pikiran juga. Udah mau ya", Mba Yu terus berusaha meyakinkan Nona Ukhti.
"Enggak, Mba. Aku gak mau.. Nanti nyusahin yang ada.. Enggak ah pokoknya..".
Mba Yu menghela nafasnya. "Yaudah kalo gak mau. Kalo gitu kita ke Mall, cuci mata. Okey ? Sumpek loch Ve dirumah terus..", ucap Mba Yu memberikan saran lain.
"Kalo kamu mau. Pergi berdua sama Mas Agha aja ya. Aku gak ikut. Males kemana-mana beneran. Mending dirumah aja".
"Kok malah aku sama suami kamu sih ? Aku tuh ngajakin kamu, Ve. Dia ma gak usah diajak. Acara wanita aja. Nanti aku ajakin Mba Laras sama Risya juga. Pasti asyik deh.. Ya ya ya... Mau ya ?", bujuk Mba Yu lagi.
Istri gua melirik kearah gua. Gua tersenyum sambil mengangguk.
"Udah berapa lama kamu dirumah terus, sayang ? Pasti bosen kan ? Gak ada salahnya kok kamu pergi jalan-jalan. Ada Mba Yu sama Ibu nanti yang nemenin kamu. Dan gak mungkin mereka ngerasa dibebanin. Mau ya sayang", ucap gua.
Nona Ukhti menggelengkan kepalanya.
"Hey.. Jangan nyiksa diri kamu, Ve. Gak baik tau. Emangnya dosa ya kalo pergi jalan-jalan ? Gak kan ? Ayolah.. Ikut ya sayang..", Mba Yu kali ini berjongkok dihadapan Nona Ukhti yang duduk diatas kursi rodanya.
"Aku bukannya nyiksa diri, Mba. Tapi aku males aja pergi-pergi gitu", jawab Nona Ukhti seraya menundukkan kepalanya.
Gua beranjak dari duduk dan menghampiri mereka berdua. Lalu gua berdiri dibelakang kursi rodanya. Gua raih kedua pundaknya dan memijatnya pelan.
"Sayang. Aku tau kamu malu", ucap gua pelan.
Mba Yu yang masih berjongkok dihadapan istri gua itu menatap kearah gua.
"Tapi sampai kapan kamu mau menutup diri ? Terus-terusan didalem rumah. Aku yakin kamu bosen. Dan kamu gak perlu malu pergi keluar sana dengan keadaan kamu yang sekarang. Aku jamin.. Gak akan ada orang yang memandang kamu aneh", lanjut gua seraya terus memijat kedua pundaknya.
Mba Yu paham maksud ucapan gua. Dia tersenyum kali ini kepada istri gua. Lalu memegang kedua tangannya.
"Vena. Gak mungkin ada yang memandang rendah kamu diluar sana. Percaya deh sama ucapan suami kamu. Aku juga yakin kamu bakal seneng kok jalan-jalan. Mau ya sayang ? Kita berangkat sekarang", ucap Mba Yu.
Kemudian istri gua menengok kebelakang dan mendongakan kepalanya untuk menatap gua. Seolah bertanya dari raut wajahnya yang ragu itu.
"Iya. Beneran kok, sayang. Pasti kamu seneng diluar sana...", ucap gua sambil tersenyum untuk kembali meyakinkannya.
"Yaudah. Aku mau...", jawabnya pelan.
"Yeeeee... Jalan-jalan!", teriak Mba Yu kegirangan sampai kedua tangannya terangkat meninju langit.
Gua terkekeh melihatnya, sedangkan Nona Ukhti tersenyum.
Ibu dan Risya yang memang saat itu berada dirumah juga diajak. Jelas mereka senang mendengar istri gua mau pergi keluar setelah dibujuk oleh Mba Yu. Mereka berempat sudah siap pergi. Gua mengantar sampai halaman parkir dan membantu Mba Yu untuk menggendong istri gua kedalam mobil. Setelah semuanya sudah berada didalam mobil dan Mba Yu yang mengemudikannya, gua tersenyum bahagia melihat istri gua yang duduk di jok tengah bersama Ibu.
"Hati-hati ya sayang", ucap gua kepada Nona Ukhti.
"Kamu beneran gak ikut, Mas ?", tanyanya.
"Iya, gak apa-apa. Acara wanita sore ini", jawab gua. "Bu, kalo ada apa-apa langsung kabarin aku ya", pinta gua kepada Ibu.
"Iya. Insya Allah gak ada apa-apa, Gha", jawab Ibu lembut.
"Yaudah kita berangkat dulu ya. Assalamualaikum, Mas..", ucap Mba Yu seraya memundurkan mobil perlahan.
"Walaikumsalam. Hati-hati bawa mobilnya, Mba..", jawab gua yang hanya ditanggapi denga senyuman lebarnya.
Setelah mereka semua pergi. Tinggalah gua dirumah bersama Bibi yang sedang memasak makanan untuk makan malam nanti. Gua duduk diteras rumah sambil ditemani secangkir kopi liong dan sebatang rokok untuk menemani sore yang cukup mendung saat itu. Gua tersenyum ketika sudah menghembuskan asap rokok keatas sana. Lalu mengucap syukur atas apa yang baru saja gua lihat beberapa menit lalu. Tidak ada yang spesial mungkin dihari itu bagi orang lain. Tapi tidak buat gua dan keluarga. Hari itu adalah hari bahagia kami semua. Dimana seorang wanita yang gua cintai untuk pertama kalinya mau pergi keluar rumah setelah sekian lama ia mengurung diri semenjak divonis lumpuh oleh dokter.
Kami semua bukannya tidak berusaha untuk mengajaknya pergi selama ini. Sekedar jalan-jalan di taman komplek saja dia menolak. Dan nyatanya, Mba Yu sendiri butuh tiga kali membujuk Nona Ukhti hingga usahanya membuahkan hasil.
Semakin hari setelah hari itu, Mba Yu semakin sering datang kerumah dan menjadi sahabat istri gua. Seperti Kakak-Adik.
Gua tidak minta berlebihan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala saat itu. Permintaan gua tidak muluk-muluk. Gua hanya ingin istri gua kembali sehat seperti sediakala. Urusan rahimnya sudah gua ikhlaskan sejak lama. Masih ada cara lain untuk memiliki anak. Tapi apa yang terjadi selanjutnya diluar perkiraan gua soal masalah yang satu itu.
Kamu selalu saja membuat ku takjub dengan segala kebaikan hati kamu sayang. Dan pada akhirnya do'a 'mereka' dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Terimakasih.
Diubah oleh glitch.7 04-10-2018 18:32
kifif dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Kutip
Balas
Tutup

