Kaskus

Story

glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN




Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.


Tak Lagi Sama - Noah


Spoiler for Cover Stories:


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.


Quote:


Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

Masa yang Paling Indah
Credit thanks to Agan njum26

Love in Elegy
Credit thanks to Agan redmoon97


Sonne Mond und Stern
*mulustrasi karakter dalam cerita ini


Quote:

*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
chamelemonAvatar border
ezzasukeAvatar border
jenggalasunyiAvatar border
jenggalasunyi dan 127 lainnya memberi reputasi
124
1.9M
8.8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
#7216
Lembayung Senja
Bagian Sembilan
kaskus-image


Gua terbaring diatas rerumputan dengan nafas yang terengah-engah. Mata gua sedikit berkunang-kunang karena kepala ini terasa cukup pusing. Gua menatap langit malam yang penuh bintang diatas sana.

"Udah ?", tanya seorang sahabat gua.

Gua melirik kearah sahabat gua yang masih berdiri di sisi kiri itu. Kemudian tersenyum tipis seraya berusaha duduk.

Di hadapan kami berdua sahabat gua yang lain sedang terbatuk dengan kondisi wajah yang hampir sama dengan gua. Babak belur.

"Udah cukup lu berdua ribut", lanjut Unang yang belum beranjak dari sisi kiri gua itu.

Rekti yang berkelahi dengan gua sebelumnya dibantu berdiri oleh Dewa yang sedari tadi berada didekatnya.

Satu jam lalu kami berempat memang sudah berada di lapangan sepak bola komplek rumah Nenek. Apa yang terjadi sore hari ketika Rekti menelpon gua dengan emosi membuat gua memilih untuk menemuinya malam ini disini.

Setelah Rekti dan gua kembali berdiri. Unang berjalan kearah Rekti dan Dewa. Lalu menggelengkan kepalanya pelan sambil memegangi kedua bahu Rekti.

"Udah Ti. Lu gak perlu lagi emosi dan egois. Gak ada gunanya lu ribut-ribut sama temen lu sendiri..", ucap Unang.

"Lu gak paham, Nang. Lu gak paham..", jawab Rekti.

Unang melepas pegangannya dari pundak Rekti. Lalu tergelak. "Hahaha.. Anj*ng.. Keras kepala nih anak, Wa..", lanjut Unang sambil menengok kepada Dewa kali ini.

Dewa menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Ti, udahlah gak perlu di perpanjangan lagi. Malu sama kerjaan lu, malu sama keluarga. Mau lu kayak gua yang bikin malu semuanya waktu ribut sama Eza dulu ? Semua orang di Asrama ini tau.. Udah sekarang gak perlu ribut-ribut lagi, Ti", timpal Dewa.

"Okey! Tapi gua minta satu hal sama lu, Za!", teriak Rekti seraya menatap gua yang berdiri di depannya dengan jarak tiga meter. "Lu harus minta maaf sama Bokap mertua gua", lanjutnya dengan tatapan yang tajam.

Rasa amarah dan tidak terima ketika apa yang terjadi tadi siang di rumah mertuanya membuat Rekti membela habis-habisan Papah mertuanya itu.

Kami semua terdiam. Ketiga teman gua itu sekarang sedang menatap gua yang sedang tertunduk. Gua tersenyum dan lambat-laun senyuman itu menjadi semakin lebar hingga akhirnya gua tertawa.

"Huahahaha... Hahahaha.. Hahaha..", gua benar-benar tertawa mendengar permintaannya itu hingga kepala gua menengadah keatas menghadap langit malam dengan mata yang terpejam dan memegangi perut. 'what a joke, Ti ?'.ucap gua dalam hati dan terus tertawa.

"Haha.. Aduh.. Hhh.. Hh.. Ti.. Ti.. Hhh..", gua menggelengkan kepala dengan sisa tawa dan nafas yang terengah-engah lagi.

Kemudian gua tersenyum sambil berjalan kearahnya hingga jarak kami kurang dari satu meter.

"Denger baik-baik. Sampai kiamat pun gua gak akan pernah minta maaf sama Bokapnya Sherlin!", ucap gua tepat di depan wajahnya dengan menyeringai.

Rekti melotot, wajahnya kembali terlihat emosi. Dewa dan Unang sudah bersiap-siap untuk menahannya. Tapi gua lebih dulu mencengkram kerah baju Rekti hingga wajah kami sangat dekat.

"Denger, Ti! Bilang sama Bokap mertua lu itu, gua gak akan maafin dia dunia akherat sebelum dia minta maaf sama gua! Paham, lu ?!", ucap gua penuh penekanan dengan balas menatapnya tajam.

Rekti terdiam. Dia tidak jadi melayangkan pukulannya kepada gua.

"Udah-udah-udah!", ucap Unang menarik gua menjauh dari hadapan Rekti.

...

Pukul setengah sepuluh malam. Gua berada di depan kamar, duduk bersama Unang di sofa teras yang sudah lama tidak gua kunjungi ini. Di rumah Nenek inilah gua menghabiskan masa sekolah gua dulu.

"Kenapa lu belain gua ?", tanya gua sambil terus menekan-nekan pipi yang memar dengan es batu yang terbungkus handuk kecil.

Unang menghembuskan asap rokoknya ke udara sebelum menjawab pertanyaan gua. Lalu dia meminum kopi yang sebelumnya ia buat sendiri di dapur rumah Nenek.

"Gua tau lu dari dulu, Za. Hidup lu gak mudah. Dan gila rasanya sampe sekarang lu masih juga dicoba seberat ini...", jawabnya lalu menaruh gelas kopi yang sudah berisi setengah itu keatas meja lagi. "Kalo gua ngalamin apa yang terjadi tadi siang antara lu sama Bokapnya Sherlin pasti gua juga emosi. Gak kebayang rasanya di... Sorry.. Dihina begitu udah keterlaluan..", lanjutnya hati-hati.

Beberapa saat kami terdiam hingga akhirnya gua mengeluarkan dompet dari saku celana. Lalu membukanya. Disana terpampang dua buah foto. Satu foto berada di sisi kiri bagian dalam, sedangkan satunya berada di sisi kanan. Gua memperhatikan dua foto tersebut. Dua foto yang menampilkan sepasang suami-sitri. Hanya dua wanita yang berbeda dengan lelaki yang sama dalam kedua foto tersebut. Gua lihat satu foto di bagian kanan. Disana ada gua yang sedang memeluk Echa dari belakang. Kemudian gua melihat foto yang berada di kiri. Disana gua sedang dipeluk oleh Nona Ukhti dari belakang. Perasaan gua seperti dicabik-cabik. Hancur rasanya hati ini melihat kedua wanita yang gua cintai itu.

Tangan gua sedikit bergetar memegangi dompet yang masih terbuka tersebut. Kedua kelopak mata gua berkerut terpejam menahan tangis yang siap meledak. Gua menelan ludah dengan susah payah. Lalu airmata inipun mengalir membasahi pipi gua.

Tangan kiri Unang meremas pelan pundak kanan gua. "Sabar, Za. Sabar...", ucapnya.

Gua yang sudah menangis hanya bisa mengusap foto yang berada di sisi kiri dengan ibu jari. 'Kamu... Kenapa kamu harus nerima semua ini..'.

...

Gua terbangun di pagi hari didalam kamar yang menjadi saksi bagaimana seorang Reza kecil hingga masa sekolahnya dulu melewati hari-hari yang cukup berat, unik, dan penuh dengan pengalaman luar biasa.

Seorang wanita paruh baya yang biasa gua panggil Nenek itu sedang duduk di sisi kasur, menatap gua dengan tersenyum.

"Masih sakit, Za ?", tanyanya penuh perhatian.

Mata gua mengerjap untuk membiasakan cahaya dari lampu kamar yang cukup terang seraya beringsut bangun dan akhirnya duduk diatas ranjang lapuk ini. Lalu gua sandarkan punggung ke dinding kamar dan tersenyum kepada Nenek.

"Masih kerasa sakit", jawab gua dengan suara parau khas orang bangun tidur.

"Mau dikompres lagi pipinya ?".

Gua menggelengkan kepala pelan. "Gak usah, Nek. Biar nanti Eza aja sendiri yang ngompres".

"Yaudah. Kalo gitu sarapan dulu ya. Nenek udah masak tuh. Makanannya udah disiapin di meja makan. Bisa bangunkan ?".

Gua mengangguk kali ini. "Bisa kok.. Tenang aja, Nek", jawab gua.

Nenek berdiri dan berjalan kearah pintu kamar yang terhubung ke ruang tamu.

"Nek..", panggil gua.

Nenek berhenti melangkah dan berbalik lagi kearah gua. Dia berdiri di ambang pintu sambil memegangi kusen pintu di sisi kanan.

"Apa kemaren Nenek juga sakit hati ?", tanya gua pelan.

Nenek tersenyum. "Ikhlasin ya, Za. Lupain kejadian kemarin. Allah sudah menunjukkan apa yang kita inginkan belum tentu dikabulkan", jawabnya.

Setelah itu kami berdua sarapan di ruang makan. Sambil menikmati masakannya gua mencoba untuk mengetahui perasaan Nenek. Tapi sulit rasanya menerka apa yang ia pikirkan soal kejadian kemarin itu. Sikapnya biasa saja atau mungkin Nenek berusaha bersikap senormal mungkin untuk menutupi rasa kecewa dan sakit hatinya. Entahlah.

Menjelang siang hari gua diberitahukan Tante gua kalo Ibu menelponnya dan menanyakan kabar gua. Karena semalam gua memang menginap di rumah Nenek dan tidak mungkin rasanya langsung pulang dengan keadaan wajah yang seperti ini akibat berkelahi dengan Rekti. Apalagi lima hari yang lalu gua juga berkelahi dengan Ryo.

"Pulang ya, Za. Ibu kamu khawatir katanya. Takut kamu ngelakuin hal yang enggak-enggak", ucap Tante gua.

"Tapi kamu udah bilang Eza ada disini ?", tanya Nenek gua.

Tante gua menjawab. "Udah, Mak.. Cuma..", lalu dia melirik gua sebentar sebelum berbisik kepada Nenek.

Nenek menengok kepada Tante gua setelah dibisikkan dan mengangguk. "Yaudah, Za. Kamu pulang dulu ya, Nak. Kasian Laras khawatir tuh", ucap Nenek yang meminta gua pulang ke rumah untuk bertemu Ibu.

Gua mengangguk. "Yaudah aku pulang dulu ya, Nek, Tante...", akhirnya gua mencium kedua tangan mereka sebelum pergi dan memasuki mobil.

Jarak rumah gua dengan rumah Nenek cukup dekat. Sekitar sepuluh menit akhirnya gua sampai di depan rumah. Gua parkirkan mobil diluar karena halaman parkir sudah terisi mobil milik Ibu dan satu mobil lain yang gua hafal betul siapa pemiliknya.

Gua berjalan kearah teras dan berhenti tepat di depan pintu rumah yang sedang terbuka. Apa yang gua fikirkan sebelumnya ternyata benar. Tante gua tadi pasti memberitahu kalo wanita itu sedang berada disini ketika membisikkan Nenek.

Gua hanya berdiri di depan pintu, memandangi mereka yang berada di ruang tamu. Suara isak tangisannya cukup terdengar nyaring. Pemandangan di dalam sana membuat gua menggelengkan kepala.

Ibu yang sedang duduk di sofa dengan posisi menghadap ke pintu rumah sempat melirik kepada gua sesaat. Ada Bapak juga disana yang duduk di sofa sebrang kanannya.

Seorang wanita yang selama ini sudah gua kenal dengan segala kebaikkannya sedang bersimpuh. Dia bersimpuh membelakangi gua diatas lantai ruang tamu di dalam sana. Dia menangis sejadinya dihadapan Ibu. Memegangi kedua tangan Beliau dengan lengkingan isak tangis yang cukup membuat hati gua pilu. Tidak jauh beda dengan apa yang gua lihat dari wajah Ibu. Sama. Beliau dengan wajah yang memerah dan airmata yang berlinang membuat suasana di dalam ruang tamu rumah semakin penuh oleh suara isak tangis mereka berdua.

Gua masih terdiam berdiri di depan pintu memandangi mereka dengan kedua tangan yang gua masukkan kedalam saku celana. Ibu menyeuka airmata yang membasahi pipinya sebelum pada akhirnya kedua tangan Beliau memegangi kedua bahu wanita yang bersimpuh itu.

"Aku... Heuu.. Hiks.. minta maaf, Mba... Hiks.. Heu.. Heu.. Hiks.. Hiks..", ucap wanita tersebut susah payah karena isakan tangisnya benar-benar membuat paru-parunya cukup kesulitan menghirup udara.

Tidak jauh berbeda dengan Ibu. Beliau sesenggukkan sama seperti dirinya. Sambil mengangguk, Beliau menjawab dengan bercampur isak tangis.

"Ii..iya.. Hiks.. Iya sayang.. Hiks.. Kamu gak salah.. Hiks.. Hiks.. Kamu gak salah sayang.. Hiks.. Hiks.. Udah ya.. Hiks.. Bangun.. Hiks.. Bangun sayang.. Hiks.. Hiks..", jawab Ibu seraya memintanya bangun agar tidak perlu lagi bersimpuh kepadanya.

Wanita itu menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak.. Hiks.. Hiks.. Aku mohon maaf.. Hiks.. Hiks.. Aku.. Hiks.. Bener-bener takut, Mba.. Hiks.. Maafin aku.. Hiks.. Hiks..", balasnya yang kini membenamkan wajahnya kepada kedua paha Ibu. Kedua tangannya melingkar kepinggang Ibu, tubuhnya naik turun karena tangisannya semakin menjadi.

Ibu menyeuka lagi airmatanya, lalu menatap kearah gua yang belum beranjak masuk kedalam rumah.

"Hiks.. Eza! Hiks.. Sini! Hiks..", ucap Ibu sedikit berteriak kepada gua.

Apa yang diucapkan Ibu langsung membuat wanita yang masih bersimpuh dan memeluknya itu membalikkan tubuhnya. Sedetik kemudian dia langsung berdiri dan berlari kearah gua, hingga kaki kanannya menabrak meja kaca yang ia lewati. Tapi sepertinya luka dan rasa sakit yang ia rasakan di dalam hati membuatnya tidak perduli dengan kakinya itu. Ia terus berlari kearah gua sampai akhirnya dia menjatuhkan diri di depan gua dan langsung memeluk kaki gua.

"Masss!! Hiks.. Hiks.. Hiks.. Maafin aku! Hiks.. Hiks.. Maafin aku, Mas.. Hiks.. Hiks..". Wajahnya tertunduk, kedua tangannya memeluk erat kedua kaki gua.

Gua memandanginya dari atas. Menatap dirinya yang benar-benar hancur. Gua menghela nafas perlahan sebelum mengeluarkan kedua tangan ini dari saku celana dan merendahkan tubuh untuk membantunya berdiri.

Gua usap terlebih dahulu kepalanya sesaat sebelum kedua tangan gua memegangi kedua sisi lengannya itu.

"Ayo. Bangun dulu, Mba. Jangan kayak gini..", bisik gua tepat diatas kepalanya.

"Enggak! Enggak! Hikss.. Hikss.. Aku gak mau! Hiks.. Hiks...", dia bersikukuh memeluk kaki gua.

"Kita omongin baik-baik. Ayo kita ke halaman belakang. Jangan kayak gini", balas gua dengan mencoba mengangkat kedua lengannya itu.

Dia menengadahkan kepalanya untuk menatap gua. Jujur sebenarnya gua tidak tahan melihat wajahnya seperti itu. Hancur hati ini melihatnya yang pucat, kedua lingkar mata yang bengkak dan rambutnya yang sedikit berantakan. Airmata ? Tidak ada. Ya airmatanya sudah mengering sekalipun ia masih sesenggukkan. Kenyataan yang terjadi bahwa ungkapan habis airmata hingga mengering tak bersisa itu kini benar-benar gua lihat sendiri dihadapan gua.

Akhirnya dia mau gua ajak pergi ke gazebo halaman belakang. Gua menuntunnya berjalan kesana. Di dalam gazebo ini kami berdua duduk berhadapan. Setelah sebelumnya gua meminta Bibi untuk membuatkan minum, kini gua ambil gelas berisi minuman dingin yang diantar Bibi dan membantu wanita ini untuk minum terlebih dahulu agar tenggorokannya tidak terasa sakit karena tiada hentinya ia menangis.

"Lagi ?", tanya gua.

Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan. Lalu gua menaruh gelas diatas meja. Baru saja gelas terlepas, suara isak tangisnya kembali terdengar. Gua langsung memegangi kedua tangannya.

"Cukup... Cukup, Mba", ucap gua mencoba menenangkannya.

Tapi sepertinya ucapan gua percuma. Seolah tidak perduli, dia tetap mengeluarkan suara tangisnya itu. Gua lepas genggaman tangan gua dari tangannya. Kemudian memegangi kedua sisi wajahnya agar gua bisa menatap kedua matanya yang bengkak dan memerah.

"Kamu gak pernah melakukan kesalahan apapun..", ucap gua.

Dia menggelengkan kepalanya cepat dengan mata yang tertutup.

"Liat aku.. Liat aku dulu, Mba! Buka mata kamu", ucap gua lagi dengan cepat.

Mba Yu membuka kedua matanya. Bibirnya bergetar menahan takut dan tangisannya.

"Dengerin aku. Aku.. Gak marah sama sekali ke kamu. Aku gak marah sama kamu..", ucap gua penuh penekanan.

Mba Yu terisak. "Hiks.. Tapi.. Hiks..".

Gua potong ucapannya. "Sstt.. Dengerin dulu. Denger, Mba. Aku gak ada masalah apapun sama kamu, begitupun keluarga ku. Masalahnya Papah kamu. Tapi aku terima. Aku dan keluarga ku terima dia menolak lamaran itu. Aku ikhlas", gua tatap kedua bola matanya. "Tapi, Mba... Aku gak bisa terima ucapannya yang udah menghina itu. Sampai akhirat pun aku gak akan maafin Papah kamu, Mba", lanjut gua dengan airmata yang sudah menggenang dipelupuk mata ini.

Rasa amarah dan sakit yang gua rasakan bercampur didalam hati. Terngiang dengan jelas kalimat yang seolah-olah membunuh gua dan keluarga gua itu. Tapi gua berani bersumpah demi nyawa seluruh keluarga gua. Kalimat itu benar-benar menyayat hati kami. Andai sebuah ucapan manusia bisa langsung menghilangkan nyawa manusia lainnya. Gua yakin saat itu pula gua sudah berada di akhirat.

Mba Yu langsung memeluk gua. Memohon untuk memaafkan orangtuanya itu. Dia mendekap gua dengan erat.

Airmata gua sudah membasahi pipi ini. Gua menengok ke sisi kanan dimana rumah keluarga gua yang sudah tiada berada disana.

"Mba. Aku yang minta maaf. Aku udah bersumpah. Gak akan memaafkan Papah kamu dunia akhirat sebelum dia yang memohon maaf lebih dulu, Mba...", ucap gua dengan airmata yang semakin mengalir deras.



***



Dua hari setelahnya gua hanya berada di rumah bersama keluarga. Mba Yu dan keluarga gua sudah tidak pernah komunikasi sama sekali selama dua hari tersebut. Begitupun dengan gua.

Sore harinya selesai beribadah di masjid gua pulang ke rumah dan melihat seorang wanita cantik yang sudah duduk bersama Ibu dan Bapak di ruang tamu.

"Hey..", sapanya setelah gua memasuki ruang tamu dan duduk dihadapannya dan Ibu.

"Hai.. Tumben kesini. Ada apa nih ?", tanya gua.

Dia tersenyum bersama Ibu. Gua mengerenyitkan kening. Ada apa ini ?.

"Kamu harus siapin barang-barang kamu sekarang, Za", ucap Ibu.

"Untuk ?", tanya gua kebingungan.

"Sherlin nemuin aku kemarin, Za. Dia dipaksa pindah ke Jogja sama Papahnya. Dan kamu.. Kamu harus kejar dia..", jawab wanita keturunan Jerman-Tiongkok itu.

"Tunggu-tunggu-tunggu... Untuk apa ? Dan ada apa sebenernya ? Kok kamu tiba-tiba datang kesini terus ngasih kabar kayak gini ?", tanya gua semakin bingung.

"Sherlin udah cerita ke aku. Dia datang ke rumah sakit untuk jengukin Mamah. Disana dia cerita semuanya. Dan kayaknya kamu perlu memperjuangkan dia, Za", lanjutnya.

"Cukup ya. Aku gak ada urusan lagi sama dia. Aku gak masalah batal nikah sama dia. Tapi masalahnya...".

"Aku tau..", potongnya. "Aku tau kamu sakit hati karena ucapan Papahnya. Tapi, Za. Kamu gak akan pernah dapetin wanita sesempurna dia di dunia ini. Aku yakin cuma dia satu-satunya wanita yang terbaik untuk kamu dan keluarga ini", lanjutnya.

"Terakhir sayang, ya. Gak ada salahnya kamu mencoba untuk terakhir kali buat dapetin dia dan restu Papahnya", timpal Ibu.

"Tapi, Bu.. Aku udah bersumpah kalo..".

"Ssstt.. Buat perjanjian sama diri kamu sendiri. Kalo Papahnya kali ini ngerestuin kalian berdua. Kamu harus berbesar hati memaafkannya duluan sayang.. Gimana ?", potong Ibu kali ini.

Gua menghirup nafas dalam-dalam. Lalu pikiran gua berkecamuk. Tidak yakin apa yang akan gua lakukan atas permintaan itu bisa berjalan dengan baik setelah apa yang terjadi.

"Za. Kesempatan gak datang dua kali. Aku awalnya memang gak ngerti kenapa bisa-bisanya Sherlin mau menikah dengan keadaan kamu ini. Tapi, setelah aku liat kondisinya dengan mata kepalaku sendiri. Aku jadi ngerti. Betapa besar pengorbanan dan rasa cinta Sherlin untuk kamu, Za. Sekali lagi aku cuma mau ngingetin. Kamu gak akan bisa dapetin wanita sebaik Sherlin diluar sana, Za. Bahkan aku pun gak mampu seperti dia", ucap wanita bernama Franziska Luna Katrina itu.

Gua tidak bisa langsung menjawab permintaan Ibu dan Luna. Tapi Bapak yang duduk disebelah Ibu ikut meyakinkan gua untuk mencoba dan mengejar wanita bernama Sherlin Putri Levanya.

Saat gua masih terdiam memikirkan keputusan apa yang sebaiknya gua ambil, seorang wanita keluar dari kamar dekat tangga. Gua terkejut melihatnya.

"Hai, Kak...", ucapnya.

Gua masih terdiam beberapa saat. Terkejut, kaget, dan masih tidak percaya atas kehadirannya itu.

"Eza! Itu disapa juga", ucapan Ibu membuat gua tersadar.

"Eh.. Ii.. Iiya.. Hai... Kok ? Kamu juga disini ?", gua masih terkejut.

"Kamu ke Jogja ditemenin dia", ucap Luna seraya menunjuk wanita yang berdiri di dekat kami itu.

Gua semakin bingung.

"Aku yakin, Papahnya bisa nerima kali ini, Kak. Aku akan bantuin kamu untuk dapetin restu Papahnya", ucap wanita tersebut.

Gua memandanginya dengan keheranan. Tidak lama dia berjalan kearah pintu keluar.

"Om, Tante, Kak Luna.. Aku pulang dulu untuk ngemasin barang-barangku ya", ucap wanita itu lagi yang dijawab dengan senyuman dan anggukan kepala oleh Ibu dan yang lainnya.

"Assalamualaikum, Kak Eza..", ucapnya. Sebelum benar-benar pergi dari rumah gua.

Gua tertegun memandanginya. Sampai gua disadarkan oleh Bapak. "Za! Itu salamnya bukan dijawab...", ucap Bapak.

"Eh ii.. Iiya.. Wa.. Walaikumsalam..", jawab gua ketika wanita tersebut sudah tidak ada dari pandangan mata gua.

Gua menengok kepada Luna. Luna hanya tersenyum.

"Lun.. Tadi... Itu... Adek kamu kan ?", tanya gua masih bingung.

Luna menganggukkan kepalanya. "Iya. Kenapa ? Kaget ya ?", tanyanya seraya tetap tersenyum.

"Enggak-enggak.. Tadi itu.. Eeuu.. Dia.. Dia beneran ngucapin salam ?", tanya gua lagi.

"Iya. Panjang ceritanya, Za. Kamu ngobrol aja sama dia di perjalanan ke Jogja nanti", jawab sang Kakak.


*
*
*


Menunggu Kamu (ost. Jelita Sejuba) - Anji



*


Lihat aku sayang
Yang sudah berjuang
Menunggumu datang
Menjemputmu pulang

Ingat slalu sayang
Hati ku kau genggam
Aku tak kan pergi
Menunggu kamu di sini
Tetap di sini
Diubah oleh glitch.7 10-08-2018 23:01
dany.agus
fatqurr
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.