- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#6934
Lembayung Senja
Bagian Lima


Sudah satu bulan Mba Intan, anaknya yang bernama Nabil dan Suci keponakannya itu tinggal di rumah gua. Alhamdulilah mereka cukup betah dan semakin kesini mereka juga sudah terbiasa berkumpul bersama keluarga gua.
Mba Intan mulai hari ini bekerja di salah satu butik kenalan Ibu. Suci sudah kembali magang di restoran kota gua, sengaja kami pindahkan tempat dimana ia harus magang agar tidak terlalu jauh pulang-pergi dari rumah. Sedangkan Nabil ? Ada orang yang mengurusnya di rumah. Seseorang yang ditemani babysitter.
Gua sendiri bekerja di Jakarta seperti biasa lagi. Tidak ada masalah apapun mengenai pekerjaan kecuali urusan pribadi yang menyangkut keluarga gua serta Mba Yu. Ya inilah masalah baru yang gua rasa tidak mudah untuk diselesaikan. Urusan hati dan masa depan.
Yang gua ingat hari itu adalah malam minggu, dimana jalan raya cukup ramai. Gua mengemudikan sedan berwarna hitam milik wanita seksi itu kearah salah satu Mall di Jakarta untuk menjemputnya setelah membereskan pekerjaan di resto. Pagi sebelumnya memang kami berangkat bersama-sama, dia gua antar ke rumah temannya di Jakarta, dan gua membawa mobilnya ke tempat kerja.
Gua kirimkan chatt bbm kepadanya setelah sampai di depan Mall dan menunggunya yang masih berjalan keluar bersama teman-teman kuliahnya dulu. Semacam reuni kecil-kecilan katanya.
"Halooo.. Sorry agak lama ya, Mas", ucap Mba Yu seraya membuka pintu samping kemudi dan masuk kedalam mobil.
"Enggak kok. Wih ngeborong ?", tanya gua setelah melirik barang bawaannya sampai tiga kantung.
"Hehehe, jarang aku belanja kayak gini. Gara-gara temen-temen ku aja pada masuk toko ini, masuk toko itu, semua toko dimasukin, eh jadi kecantol deh pengen ikut beli juga", jawabnya heboh.
"Wajar sih cewek. Gak jauh dari demen shopping..", timpal gua seraya memasukkan persneling mobil dan mulai beranjak dari sisi jalan
"Itu tau.. Hihihi.. Eh Mas kita ke PI dulu ya sebentar", ucapnya setelah memasang seatbelt.
"PI ? ke Thamrin dong ? Yaelah Mbaaa.. Jauh ah males".
"Ih di depan belok kiri, yang ada SMK 57, nanti dari simpangan Buncit tinggal ambil jalan lewat Warung Jati, lurus terus nyampe Sudirman.. Setengah jam paling, ih", jawabnya enteng.
SMK 57 mana kali, ah! Jujur gua tidak hafal jalan Jakarta, lebih tahu si wanita seksi ini.
"Tapi, Mba. Selatan ke Pusat ini, muter-muternya males! Sejam lebih pasti mana malem minggu gini, kayak gak tau Jakarta aja.. Malah ngajak ke Thamrin lagi".
"Ssstt.. Udah-udah jangan berisik, belok kiri di depan. Ikutin navigator aja, kamu nyetir yang anteng. Diem mulutnya", timpalnya dengan nada memerintah.
Kalau bukan kamu, udah aku suruh turun naek taksi sono. Gerutu gua dalam hati.
Apa yang gua malesin bener aja kejadian. Macet! Ah males kan. Gua udah berharap setelah menjemput dia tadi langsung pulang ke rumah. Eh malah ngajakin nge-Mall. Padahal dia abis dari Mall kan. Parah ini ma...
Bener perkiraan gua hampir satu jam kami baru sampai di Thamrin setelah melewati kemacetan ibu kota. Saat itu pukul tujuh kurang dua puluh menit. Selesai parkir, gua bergegas keluar dari mobil.
"Kemana sih buru-buru banget jalannya ?", ucapnya yang mengejar gua dengan ikut berjalan cepat.
"Maghrib udah mau abis, Mba..", jawab gua sambil terus menuju pusat informasi di depan sana.
Setelah bertanya di pusat informasi tersebut, gua langsung menuju lantai tiga, dimana mushola dalam Mall ini berada.
Di dalam lift ada beberapa orang, gua berdiri bersebelahan dengan Mba Yu yang senyum-senyum gak jelas kearah gua daritadi. Setelah lift berhenti di lantai tujuan, gua dan Mba Yu langsung keluar dan kembali terburu-buru. Dia berjalan satu langkah dibelakang gua.
Singkat cerita gua sudah selesai melaksanakan shalat maghrib, sambil kembali mengenakan sepatu, Mba Yu duduk di samping gua dengan senyum gak jelasnya yang belum juga hilang.
Gua melirik sedikit kearahnya ketika mengenakan sepatu. "Kenapa sih ? Daritadi kayaknya kamu senyum-senyum terus..", tanya gua heran.
Mba Yu tetap tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat. Hanya itu tanggapannya. Entah ada apa dengan dia. Akhirnya mulai sekaranglah gua yang mengikuti Mba Yu untuk jalan santai di Mall ini. Hmmm...
Sepanjang kami berjalan beriringan, senyumannya masih belum hilang. Gua heran sebenarnya, tapi mungkin juga dia senang karena ini malam minggu dan pergi ke tempat yang ia mau.
Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya kami menemukan outlet yang ia cari-cari. Ternyata oh ternyata, outlet tas.
"Yang mana ya.. Kok gak ada..", gumamnya sambil melihat-lihat deretan tas yang berada di depan kami.
Gua berdiri agak jauh dibelakangnya. Sedangkan Mba Yu di temani oleh satu orang Pramuniaga wanita.
"Yang ini baru datang, Mba. Model terbaru", ucap Pramuniaga tersebut seraya menunjukkan salah satu tas yang terlihat sangat bagus.
Mba Yu mengambil tas tersebut lalu memperhatikannya, membuka dan melihat bagian dalam tas itu. Cukup lama dia memperhatikan tas yang sedang ia pegang, lalu melirik kearah gua.
"Bagus gak ?", tanyanya.
Gua mengangguk cepat sambil tersenyum mengiyakan. Karena memang tas itu terlihat sangat bagus dan mewah ketika dipakainya.
"Berapa yang ini, Mba ?", tanya Mba Yu.
"Sebelah sini harganya, Mba", jawab Pramuniaga itu sambil menunjukkan letak label harga.
Mba Yu terlihat menahan nafas dengan mata yang melotot. Lalu melirik kearah gua lagi sambil menahan tawa dan menunjukkan label harga tas tersebut. Gua memicingkan mata kearah label harga itu karena tulisannya agak kecil. Tidak butuh waktu lama buat gua untuk terkekeh sambil menggelengkan kepala.
"Hehehehe... Beli motor aja mendingan, Mbaa.. Hehehe..", ucap gua.
Mba Yu ikut terkekeh lalu mengembalikan tas itu kepada Pramuniaga. "Enggak deh, Mba. Mmm.. Sebenarnya saya kesini cari model yang gini nih, sebentar ya...", ucap Mba Yu seraya mengambil blackberry nya dari dalam tas yang ia kenakan lalu menunjukkan layar blackberry ke sang Pramuniaga.
"Oh yang itu ada disebelah sini, Mba. Mari ikuti saya", jawab si Pramuniaga berjalan kearah lain yang langsung diikuti Mba Yu.
Gua masih berdiri ditempat yang sama dan memilih untuk tidak mengikuti mereka. Gua ambil tas yang sebelumnya ia coba, gua perhatikan tas tersebut, membukanya, sama dengan apa yang Mba Yu lakukan sebelumnya. Lalu gua tersenyum tipis sekali.
Gua membalikkan badan dan melihat sekitar, ada seorang Pramuniaga lain di sisi kanan, gua pun memanggilnya.
"Ada yang bisa dibantu, Mas ?", tanyanya ramah penuh senyuman.
"Mba saya mau yang ini, tolong di keepdi kasir dulu ya. Saya mau liat-liat yang lain lagi", pinta gua.
"Oh, baik, Mas. Saya bawa ke kasir dulu kalo gitu", jawabnya lalu membawa tas yang gua pilih ke counter kasir.
Gua pun menyusul Mba Yu yang berada di bagian lain outlet ini. Setelah gua menghampirinya, Mba Yu langsung menunjukkan tas lain yang sedang ia coba.
"Bagus gak yang ini ?", tanyanya.
Gua mengangguk. "Bagus kok. Cocok buat kamu", jawab gua.
Tidak lama Mba Yu langsung meminta tas tersebut dibawa ke kasir kepada si pramuniaga. Gua sedikit curiga, gua dekati Mba Yu.
"Mba, kamu serius beli tas itu ?", tanya gua sedikit berbisik.
"Emang kenapa, Mas ?", dia balik bertanya dengan wajah bingung.
"Feeling aku kok itu tas lebih mahal dari yang sebelumnya kamu cobain deh..", jawab gua.
"Emang", timpalnya cepat. "Yuk ke kasir, terus makan dulu ya abis ini", lanjutnya santai.
Gua heran. Lebih mahal tapi kok biasa aja.
"Mba kamu beneran beli tas yang itu ?".
"Iya, Mas. Beneran masa boongan udah di kasir gini...", jawabnya seraya mengeluarkan dompet.
"Tumben banget kamu beli tas sampe mahal gini, Mba".
Mba Yu tersenyum lebar, lalu menepuk pundak gua pelan. "Hihihi.. Bukan buat aku kok..", ucapnya terkekeh.
"Terus ? Buat siapa ?", tanya gua tambah bingung.
"Jaaadiiii.. Mba Laras tadi siang tuh tau aku lagi di Jakarta, terus dia minta tolong titip tas itu ke aku, ini belinya juga pakai uang dia kok, Mas. Dia udah transfer uangnya ke rekening aku tadi sore pas kita lagi jalan kesini..", jawabnya menjelaskan.
"Ibu ? Mba Laras Ibu ku maksudnya ?", tanya gua tidak percaya.
Mba Yu mengangguk cepat. "Yaiya Ibu kamu, Mas! Emang Mba Laras mana lagi yang aku kenal ? Aneh-aneh aja deh..".
Wah gak sesuai rencana ini ma. Umpat gua dalam hati.
Kemudian tidak lama setelah itu Pramuniaga sebelumnya yang membantu gua datang.
"Mas tadi tasnya jadi ? Yang ini kan ?", tanyanya memastikan kepada gua.
Mba Yu terkejut, gua jadi ikut terkejut juga.
"Eh.. Eeuu.. Iya Mba jadi kok jadi", jawab gua kikuk.
"Loch ? Itu kan tas yang pertama aku coba. Kamu beli buat siapa ?", tanya Mba Yu.
Sebelum gua menjawab. Kasir menyela obrolan kami. "Maaf, yang ini tasnya mau dibayar sekalian dengan yang ini ?", dia menunjuk kepada dua tas yang berbeda kepada kami berdua. "Atau pembayarannya masing-masing ?", lanjutnya.
Mba Yu melirik kepada gua dengan wajah yang keheranan. Lalu kembali menatap Kasir di depan kami.
"Masing-masing aja, Mba. Yang warna gold biar pakai debit ini", jawab Mba Yu seraya menyerahahkan kartu debitnya.
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Gua ambil keputusan setelah memantapkan hati.
"Tunggu-tunggu. Mmm.. Biar.. Biar saya aja yang bayar semuanya", potong gua sambil menahan tangan Mba Yu yang sedang menyerahkan kartu kepada si Kasir.
"Serius ? Ibu kamu beneran transfer uangnya ke aku, Mas. Ini bayar bukan pake uang aku kok..", ucap Mba Yu.
"Bukan... Bukan soal itu. Mmm.. Udah deh biarin aku aja", jawab gua. "Udah Mba satuin aja pembayarannya..", lanjut gua kepada si Kasir.
Akhirnya kasir pun membuat transaksi belanja di komputernya. Selagi menunggu, nafas gua kembang-kempis.
"Mas.. Iih serius deh beneran kamu bayar semuanya ? Mba Laras juga beneran transfer uang ke aku loch, Mas. Kamu jangan takut ini bayarnya pakai uang aku", tanyanya serius kali ini. "Terus yang satu lagi buat siapa ?", lanjutnya lagi.
"Hadeuh.. Diluar perkiraan ini sih, Mba. Tapi yaudahlah. Gini loch, aku kira kamu beli tas buat kamu sendiri. Ternyata Ibu ku titip. Karena sekarang aku udah tau. Jadi yaaa.. Mmm.. Aku aja yang bayar, toh buat Ibu ku kan ?", jawab gua seraya menggaruk kening yang tidak gatal.
"Emang kenapa kalo misal itu tas dibeli buat aku sendiri ?", tanyanya.
"Ya gak apa-apa. Aku jadi tinggal bayar yang tas merah aja. Tapi ya itu karena ternyata buat Ibu.. Aku aja yang bayar. Uang Ibu ku tolong transfer lagi aja ke rekening Ibu ya, nanti aku kasih nomer rekeningnya ke kamu", jawab gua.
Mba Yu tersenyum. "Wiih anak yang berbakti bener nih yaaa... Ckckck... Hebat deh kamu", ucapnya meledek gua.
Mba gak tau aja kamu... Zzzz.. Lelah hayati.
"Totalnya jadi sekian sekian, Mas. Pakai credit card atau debit card, Mas ?", tanya si Kasir setelah selesai memasukkan total belanjaan.
Mba Yu dan gua sama-sama terkejut. Kami berdua saling bertukar pandang. Gilaaaa.. Mahal amat ya Allah. Nangis gua dalam hati waktu itu.
"Mas.. Kamu serius ada uangnya gak ? Ini pake aja sih uang Mba Laras, bayar masing-masing gak apa-apa kan..", sarannya.
"Ini Mba debit. Saya gak ada kartu kredit", jawab gua lemah kepada si Kasir tanpa memperdulikan saran Mba Yu.
Setelah transaksi belanja selesai, gua menerima dua buah bungkusan tas yang rasanya kok berat banget ini bebannya. Bukan tasnya. Tapi ah sudahlah... Ludes des des des tabungan gua selama ini. Hiks.. Hiks.. Hiks...
Kami keluar dari outlet terkampret itu. Gua berjalan gontai lemah serasa tak bertulang nih kaki. Okey, lebay.
Sambil berjalan berdampingan, Mba Yu mengelus-elus punggung gua seraya tersenyum. "Sabar-sabar. Kalo ngasih orangtua pasti nanti ada gantinya kok.. Hihihihi...", ucapnya seolah-olah tau apa yang sedang gua rasakan.
Gua terkekeh. "Hadeuh hadeuh.. Iya sih. Yaudahlah gak apa-apa kok. Bener kata kamu, buat Ibu sendiri ini ya kan ?", jawab gua menguatkan diri sendiri.
"Nah gitu dong.. Eh tapi... Terus yang satu lagi buat siapa ?".
Gua berhenti berjalan lalu Mba Yu ikutan berhenti.
"Buat kamu. Aku suka pas liat kamu pake tas ini, cocok untuk kamu, Mba.." jawab gua. "Nih", lanjut gua seraya memberikan salah satu bungkusan yang berisi tas warna merah sambil tersenyum kepadanya.
"Serius ?", tanyanya tidak percaya.
"Ya. Ini buat kamu...".
"Mas.. Ini kemahalan buat aku". Dia masih tidak percaya dan belum mengambil bungkusan itu dari tangan gua. "Kamu beneran beli untuk aku ? Bukan untuk...".
"Sssttt..", gua menggelengkan kepala. "Bukan. Ini sengaja aku beli untuk kamu kok. Ayo terima, Mba", potong gua.
"Ma.. Makasih banyak, Mas. Aduh aku ngerasa gak enak sama kamu", ucapnya seraya mengambil bungkusan itu dari tangan gua kali ini. Matanya sedikit berkaca-kaca.
Setelah itu kami pergi ke salah satu restoran di dalam Mall ini. Memesan makanan masing-masing, dan mulailah atmosfer anak muda dikala malam minggu seperti sekarang memenuhi suasana diantara kami.
Mba Yu terlihat tersenyum malu-malu. Lalu apa yang kami obrolkan di tempat ini sepanjang waktu makan benar-benar membangun suasana yang lain. Gua seperti terhempas ke masa lalu saat status kami masih sebagai sepasang kekasih.
"Makasih banyak kamu udah beliin barang mahal ini untuk aku", ucapnya malu-malu.
"Ehm. Mba..", gua melipat kedua tangan diatas meja dan sedikit mencondongkan tubuh kedepan. "Aku gak ada maksud apapun selain sadar diri..", lanjut gua serius sambil menatap kedua matanya.
Mba Yu menaruh kembali sendok yang sebelumnya sudah terisi makanannya. Lalu memperhatikan dengan wajah serius. "Maksudnya sadar diri gimana ?", tanyanya.
"Aku mau minta maaf kalo selama ini ternyata aku gak pernah ngasih apapun ke kamu. Seinget aku cuma jam tangan itu yang masih kamu pake sampe sekarang, Mba", jawab gua kali ini menatap pergelangan tangan kanannya.
Jam tangan berwarna hijau tosca itu masih ia kenakan. Kado yang pernah gua berikan kepadanya saat dulu masih ada almarhum Ayahanda. Jam tangan yang berbeda warna dengan yang gua berikan untuk Nona Ukhti disaat yang sama. Dan sekarang, kamu masih memakainya, Mba.
Apa yang gua beli untuknya sekarang bukan untuk menunjukkan kemampuan gua membeli barang mewah dihadapannya. Bukan itu maksud dan tujuan gua. Gua hanya ingin memberikan dia barang yang ia suka, karena selama ini nyatanya gua memang tidak pernah memberikan dia apa-apa. Cuma itu. Gak lebih.
"Aku gak pernah nungguin kamu beliin barang apapun selama ini. Gak pernah terlintas sedikitpun Mas untuk nunggu dikasih apalagi minta sama kamu", jawabnya serius.
"Kamu jangan salah paham. Aku juga gak pernah mikir kamu bakal minta kok. Kita udah kenal lama, kamu dan aku sama-sama tau sifat masing-masing. Intinya aku beliin tas itu memang dari keinginan aku sendiri. Dan emang kenyataannya bagus kalo dipake sama kamu. Jangan ngerasa gak enak atau apa. terima aja, Mba", ucap gua menjelaskan.
"Yaudah kalo emang gitu, aku ngucapin makasiiih bangettt.. Kamu udah beliin tas ini buat aku...", kali ini dia tersenyum lebar.
Setelah itu kami melanjutkan makan yang belum selesai. Sampai akhirnya gua ingat sesuatu.
"Aku mau tanya, tadi waktu di lift pas aku mau shalat kenapa senyum-senyum terus ?", tanya gua mengingat kejadian beberapa jam lalu.
"Ooh itu.. Hihihi.. Siapa sih yang gak seneng liat orang rajin ibadah. Kamu tuh sekarang bener-bener ta'at loch, Mas. Udah beda sama yang dulu... Aku seneng liat kamu kayak gini..", jawabnya
"Enggak juga. Kamu berlebihan, Mba..".
"Enggaklah, Mas. Yang menilai diri kita kan orang lain. Dan aku tau kamu kayak gimana. Perubahan kamu itu positif banget dalam hal ibadah ini. Aku jadi makin yakin sama kamu.. Hihihi..", ucapnya lagi dengan terus tersenyum.
Apa yang gua rasakan setelah dia mengatakan ucapannya itu langsung membuat fikiran gua berubah. Suasana yang sebelumnya sempat membuat gua hanyut karena kebahagiaan yang ia tunjukkan itu benar-benar hilang seketika. Membuat gua sadar, tidak seharusnya seperti ini.
"Pulang, yu.. Udah selesaikan makannya..", ajak gua seraya mengelap bibir dengan tisu.
Mata Mba Yu mendelik. "Kamu kenapa ? Kok jadi beda gitu, Mas..", tanyanya heran.
"Oh enggak kok, aku gak apa-apa.. Cuma inikan udah malem, Mba. Belom macet dijalan pulang, sampe jam berapa nanti di rumah kamu, hayo ? Aku gak mau kena omel orangtua kamu lah.. Hehehe", jawab gua berkilah.
Mba Yu memasang wajah cemberutnya. Bibirnya manyun matanya memicing. Mulai sebal dia sama gua.
"Ish! Malem minggu ini tuuuuh... Malem minggngnggguuuu... Sebel!", ucapnya kesal seraya melempar tisu keatas piring kotor.
Gua tertawa melihat tingkahnya yang seperti anak abg itu. "Hahahaha.. Yaiya malem minggu, kata siapa malem jum'at hahaha...", ledek gua menggodanya.
"Tau ah! Bikin bete aja kamu tuh!", dia langsung bangkit dari duduknya dengan wajah yang masih cemberut.
"Hahahaha.. Hey hey, Mba! Jangan pergi dulu.. Bayar dulu nih makanannya, hehehehe..", ucap gua sedikit berteriak dan terus menggodanya.
Mba Yu baru berjalan tiga langkah lalu membalikkan badan. "Bayarin!", jawabnya kemudian menjulurkan lidah dan kembali berjalan kearah pintu keluar restoran.
Gua semakin terpingkal melihat kelakuannya. Aduh-aduh, Mba. Kelakuanmu itu loch.. Hehehe.. Tawa gua dalam hati.
Selesai membayar makanan. Gua keluar restoran dengan santai. Mba Yu sudah berdiri di dekat lift.
"Udah ah jangan bete gitu. Tadikan keliatan seneng, masa sekarang mau pulang bete sih, Mba..", ucap gua sambil tersenyum.
"Tau! Bete! Gak ngertiin sih abisnya!", malah memalingkan wajah kearah lain dia.
Gua menggaruk rambut bagian belakang sambil tersenyum lebar. Ada-ada aja ini wanita satu. Tunggu aja, gua buat senyum lagi Lu.. Hehehe...
Sesampainya di lantai dasar gua melihat stand es krim yang tidak jauh dari pintu keluar. Gua berjalan mendahului Mba Yu menuju stand tersebut. Sengaja gua memesan satu es krim, setelah pesanan gua jadi, gua langsung melumatnya tepat ketika Mba Yu lewat di sisi kanan gua.
Dia berhenti berjalan. Memperhatikan gua dengan bibir yang manyun menahan senyuman.
"Mmmmsss... Enaaakk..", ucap gua tanpa mengalihkan pandangan dari es krim yang gua genggam.
"Mmaaauuu...", pintanya sambil mendorong tangan gua yang memegang es krim sampai es krim tersebut mengenai hidung gua.
"Hahaha.. Mau juga kamu. Yaudah beli lah..", tawa gua tidak memperdulikan sebagian es krim yang mengenai hidung.
"Beliin", pintanya manja.
"Iya, Mbaaa... Monggo pesen ae", jawab gua.
"Asyiiiikk... Hihihi..".
Mba Yu akhirnya memesan satu es krim rasa vanilla.
Mba Intan mulai hari ini bekerja di salah satu butik kenalan Ibu. Suci sudah kembali magang di restoran kota gua, sengaja kami pindahkan tempat dimana ia harus magang agar tidak terlalu jauh pulang-pergi dari rumah. Sedangkan Nabil ? Ada orang yang mengurusnya di rumah. Seseorang yang ditemani babysitter.
Gua sendiri bekerja di Jakarta seperti biasa lagi. Tidak ada masalah apapun mengenai pekerjaan kecuali urusan pribadi yang menyangkut keluarga gua serta Mba Yu. Ya inilah masalah baru yang gua rasa tidak mudah untuk diselesaikan. Urusan hati dan masa depan.
Yang gua ingat hari itu adalah malam minggu, dimana jalan raya cukup ramai. Gua mengemudikan sedan berwarna hitam milik wanita seksi itu kearah salah satu Mall di Jakarta untuk menjemputnya setelah membereskan pekerjaan di resto. Pagi sebelumnya memang kami berangkat bersama-sama, dia gua antar ke rumah temannya di Jakarta, dan gua membawa mobilnya ke tempat kerja.
Gua kirimkan chatt bbm kepadanya setelah sampai di depan Mall dan menunggunya yang masih berjalan keluar bersama teman-teman kuliahnya dulu. Semacam reuni kecil-kecilan katanya.
"Halooo.. Sorry agak lama ya, Mas", ucap Mba Yu seraya membuka pintu samping kemudi dan masuk kedalam mobil.
"Enggak kok. Wih ngeborong ?", tanya gua setelah melirik barang bawaannya sampai tiga kantung.
"Hehehe, jarang aku belanja kayak gini. Gara-gara temen-temen ku aja pada masuk toko ini, masuk toko itu, semua toko dimasukin, eh jadi kecantol deh pengen ikut beli juga", jawabnya heboh.
"Wajar sih cewek. Gak jauh dari demen shopping..", timpal gua seraya memasukkan persneling mobil dan mulai beranjak dari sisi jalan
"Itu tau.. Hihihi.. Eh Mas kita ke PI dulu ya sebentar", ucapnya setelah memasang seatbelt.
"PI ? ke Thamrin dong ? Yaelah Mbaaa.. Jauh ah males".
"Ih di depan belok kiri, yang ada SMK 57, nanti dari simpangan Buncit tinggal ambil jalan lewat Warung Jati, lurus terus nyampe Sudirman.. Setengah jam paling, ih", jawabnya enteng.
SMK 57 mana kali, ah! Jujur gua tidak hafal jalan Jakarta, lebih tahu si wanita seksi ini.
"Tapi, Mba. Selatan ke Pusat ini, muter-muternya males! Sejam lebih pasti mana malem minggu gini, kayak gak tau Jakarta aja.. Malah ngajak ke Thamrin lagi".
"Ssstt.. Udah-udah jangan berisik, belok kiri di depan. Ikutin navigator aja, kamu nyetir yang anteng. Diem mulutnya", timpalnya dengan nada memerintah.
Kalau bukan kamu, udah aku suruh turun naek taksi sono. Gerutu gua dalam hati.
Apa yang gua malesin bener aja kejadian. Macet! Ah males kan. Gua udah berharap setelah menjemput dia tadi langsung pulang ke rumah. Eh malah ngajakin nge-Mall. Padahal dia abis dari Mall kan. Parah ini ma...
Bener perkiraan gua hampir satu jam kami baru sampai di Thamrin setelah melewati kemacetan ibu kota. Saat itu pukul tujuh kurang dua puluh menit. Selesai parkir, gua bergegas keluar dari mobil.
"Kemana sih buru-buru banget jalannya ?", ucapnya yang mengejar gua dengan ikut berjalan cepat.
"Maghrib udah mau abis, Mba..", jawab gua sambil terus menuju pusat informasi di depan sana.
Setelah bertanya di pusat informasi tersebut, gua langsung menuju lantai tiga, dimana mushola dalam Mall ini berada.
Di dalam lift ada beberapa orang, gua berdiri bersebelahan dengan Mba Yu yang senyum-senyum gak jelas kearah gua daritadi. Setelah lift berhenti di lantai tujuan, gua dan Mba Yu langsung keluar dan kembali terburu-buru. Dia berjalan satu langkah dibelakang gua.
Singkat cerita gua sudah selesai melaksanakan shalat maghrib, sambil kembali mengenakan sepatu, Mba Yu duduk di samping gua dengan senyum gak jelasnya yang belum juga hilang.
Gua melirik sedikit kearahnya ketika mengenakan sepatu. "Kenapa sih ? Daritadi kayaknya kamu senyum-senyum terus..", tanya gua heran.
Mba Yu tetap tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat. Hanya itu tanggapannya. Entah ada apa dengan dia. Akhirnya mulai sekaranglah gua yang mengikuti Mba Yu untuk jalan santai di Mall ini. Hmmm...
Sepanjang kami berjalan beriringan, senyumannya masih belum hilang. Gua heran sebenarnya, tapi mungkin juga dia senang karena ini malam minggu dan pergi ke tempat yang ia mau.
Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya kami menemukan outlet yang ia cari-cari. Ternyata oh ternyata, outlet tas.
"Yang mana ya.. Kok gak ada..", gumamnya sambil melihat-lihat deretan tas yang berada di depan kami.
Gua berdiri agak jauh dibelakangnya. Sedangkan Mba Yu di temani oleh satu orang Pramuniaga wanita.
"Yang ini baru datang, Mba. Model terbaru", ucap Pramuniaga tersebut seraya menunjukkan salah satu tas yang terlihat sangat bagus.
Mba Yu mengambil tas tersebut lalu memperhatikannya, membuka dan melihat bagian dalam tas itu. Cukup lama dia memperhatikan tas yang sedang ia pegang, lalu melirik kearah gua.
"Bagus gak ?", tanyanya.
Gua mengangguk cepat sambil tersenyum mengiyakan. Karena memang tas itu terlihat sangat bagus dan mewah ketika dipakainya.
"Berapa yang ini, Mba ?", tanya Mba Yu.
"Sebelah sini harganya, Mba", jawab Pramuniaga itu sambil menunjukkan letak label harga.
Mba Yu terlihat menahan nafas dengan mata yang melotot. Lalu melirik kearah gua lagi sambil menahan tawa dan menunjukkan label harga tas tersebut. Gua memicingkan mata kearah label harga itu karena tulisannya agak kecil. Tidak butuh waktu lama buat gua untuk terkekeh sambil menggelengkan kepala.
"Hehehehe... Beli motor aja mendingan, Mbaa.. Hehehe..", ucap gua.
Mba Yu ikut terkekeh lalu mengembalikan tas itu kepada Pramuniaga. "Enggak deh, Mba. Mmm.. Sebenarnya saya kesini cari model yang gini nih, sebentar ya...", ucap Mba Yu seraya mengambil blackberry nya dari dalam tas yang ia kenakan lalu menunjukkan layar blackberry ke sang Pramuniaga.
"Oh yang itu ada disebelah sini, Mba. Mari ikuti saya", jawab si Pramuniaga berjalan kearah lain yang langsung diikuti Mba Yu.
Gua masih berdiri ditempat yang sama dan memilih untuk tidak mengikuti mereka. Gua ambil tas yang sebelumnya ia coba, gua perhatikan tas tersebut, membukanya, sama dengan apa yang Mba Yu lakukan sebelumnya. Lalu gua tersenyum tipis sekali.
Gua membalikkan badan dan melihat sekitar, ada seorang Pramuniaga lain di sisi kanan, gua pun memanggilnya.
"Ada yang bisa dibantu, Mas ?", tanyanya ramah penuh senyuman.
"Mba saya mau yang ini, tolong di keepdi kasir dulu ya. Saya mau liat-liat yang lain lagi", pinta gua.
"Oh, baik, Mas. Saya bawa ke kasir dulu kalo gitu", jawabnya lalu membawa tas yang gua pilih ke counter kasir.
Gua pun menyusul Mba Yu yang berada di bagian lain outlet ini. Setelah gua menghampirinya, Mba Yu langsung menunjukkan tas lain yang sedang ia coba.
"Bagus gak yang ini ?", tanyanya.
Gua mengangguk. "Bagus kok. Cocok buat kamu", jawab gua.
Tidak lama Mba Yu langsung meminta tas tersebut dibawa ke kasir kepada si pramuniaga. Gua sedikit curiga, gua dekati Mba Yu.
"Mba, kamu serius beli tas itu ?", tanya gua sedikit berbisik.
"Emang kenapa, Mas ?", dia balik bertanya dengan wajah bingung.
"Feeling aku kok itu tas lebih mahal dari yang sebelumnya kamu cobain deh..", jawab gua.
"Emang", timpalnya cepat. "Yuk ke kasir, terus makan dulu ya abis ini", lanjutnya santai.
Gua heran. Lebih mahal tapi kok biasa aja.
"Mba kamu beneran beli tas yang itu ?".
"Iya, Mas. Beneran masa boongan udah di kasir gini...", jawabnya seraya mengeluarkan dompet.
"Tumben banget kamu beli tas sampe mahal gini, Mba".
Mba Yu tersenyum lebar, lalu menepuk pundak gua pelan. "Hihihi.. Bukan buat aku kok..", ucapnya terkekeh.
"Terus ? Buat siapa ?", tanya gua tambah bingung.
"Jaaadiiii.. Mba Laras tadi siang tuh tau aku lagi di Jakarta, terus dia minta tolong titip tas itu ke aku, ini belinya juga pakai uang dia kok, Mas. Dia udah transfer uangnya ke rekening aku tadi sore pas kita lagi jalan kesini..", jawabnya menjelaskan.
"Ibu ? Mba Laras Ibu ku maksudnya ?", tanya gua tidak percaya.
Mba Yu mengangguk cepat. "Yaiya Ibu kamu, Mas! Emang Mba Laras mana lagi yang aku kenal ? Aneh-aneh aja deh..".
Wah gak sesuai rencana ini ma. Umpat gua dalam hati.
Kemudian tidak lama setelah itu Pramuniaga sebelumnya yang membantu gua datang.
"Mas tadi tasnya jadi ? Yang ini kan ?", tanyanya memastikan kepada gua.
Mba Yu terkejut, gua jadi ikut terkejut juga.
"Eh.. Eeuu.. Iya Mba jadi kok jadi", jawab gua kikuk.
"Loch ? Itu kan tas yang pertama aku coba. Kamu beli buat siapa ?", tanya Mba Yu.
Sebelum gua menjawab. Kasir menyela obrolan kami. "Maaf, yang ini tasnya mau dibayar sekalian dengan yang ini ?", dia menunjuk kepada dua tas yang berbeda kepada kami berdua. "Atau pembayarannya masing-masing ?", lanjutnya.
Mba Yu melirik kepada gua dengan wajah yang keheranan. Lalu kembali menatap Kasir di depan kami.
"Masing-masing aja, Mba. Yang warna gold biar pakai debit ini", jawab Mba Yu seraya menyerahahkan kartu debitnya.
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Gua ambil keputusan setelah memantapkan hati.
"Tunggu-tunggu. Mmm.. Biar.. Biar saya aja yang bayar semuanya", potong gua sambil menahan tangan Mba Yu yang sedang menyerahkan kartu kepada si Kasir.
"Serius ? Ibu kamu beneran transfer uangnya ke aku, Mas. Ini bayar bukan pake uang aku kok..", ucap Mba Yu.
"Bukan... Bukan soal itu. Mmm.. Udah deh biarin aku aja", jawab gua. "Udah Mba satuin aja pembayarannya..", lanjut gua kepada si Kasir.
Akhirnya kasir pun membuat transaksi belanja di komputernya. Selagi menunggu, nafas gua kembang-kempis.
"Mas.. Iih serius deh beneran kamu bayar semuanya ? Mba Laras juga beneran transfer uang ke aku loch, Mas. Kamu jangan takut ini bayarnya pakai uang aku", tanyanya serius kali ini. "Terus yang satu lagi buat siapa ?", lanjutnya lagi.
"Hadeuh.. Diluar perkiraan ini sih, Mba. Tapi yaudahlah. Gini loch, aku kira kamu beli tas buat kamu sendiri. Ternyata Ibu ku titip. Karena sekarang aku udah tau. Jadi yaaa.. Mmm.. Aku aja yang bayar, toh buat Ibu ku kan ?", jawab gua seraya menggaruk kening yang tidak gatal.
"Emang kenapa kalo misal itu tas dibeli buat aku sendiri ?", tanyanya.
"Ya gak apa-apa. Aku jadi tinggal bayar yang tas merah aja. Tapi ya itu karena ternyata buat Ibu.. Aku aja yang bayar. Uang Ibu ku tolong transfer lagi aja ke rekening Ibu ya, nanti aku kasih nomer rekeningnya ke kamu", jawab gua.
Mba Yu tersenyum. "Wiih anak yang berbakti bener nih yaaa... Ckckck... Hebat deh kamu", ucapnya meledek gua.
Mba gak tau aja kamu... Zzzz.. Lelah hayati.
"Totalnya jadi sekian sekian, Mas. Pakai credit card atau debit card, Mas ?", tanya si Kasir setelah selesai memasukkan total belanjaan.
Mba Yu dan gua sama-sama terkejut. Kami berdua saling bertukar pandang. Gilaaaa.. Mahal amat ya Allah. Nangis gua dalam hati waktu itu.
"Mas.. Kamu serius ada uangnya gak ? Ini pake aja sih uang Mba Laras, bayar masing-masing gak apa-apa kan..", sarannya.
"Ini Mba debit. Saya gak ada kartu kredit", jawab gua lemah kepada si Kasir tanpa memperdulikan saran Mba Yu.
Setelah transaksi belanja selesai, gua menerima dua buah bungkusan tas yang rasanya kok berat banget ini bebannya. Bukan tasnya. Tapi ah sudahlah... Ludes des des des tabungan gua selama ini. Hiks.. Hiks.. Hiks...
Kami keluar dari outlet terkampret itu. Gua berjalan gontai lemah serasa tak bertulang nih kaki. Okey, lebay.
Sambil berjalan berdampingan, Mba Yu mengelus-elus punggung gua seraya tersenyum. "Sabar-sabar. Kalo ngasih orangtua pasti nanti ada gantinya kok.. Hihihihi...", ucapnya seolah-olah tau apa yang sedang gua rasakan.
Gua terkekeh. "Hadeuh hadeuh.. Iya sih. Yaudahlah gak apa-apa kok. Bener kata kamu, buat Ibu sendiri ini ya kan ?", jawab gua menguatkan diri sendiri.
"Nah gitu dong.. Eh tapi... Terus yang satu lagi buat siapa ?".
Gua berhenti berjalan lalu Mba Yu ikutan berhenti.
"Buat kamu. Aku suka pas liat kamu pake tas ini, cocok untuk kamu, Mba.." jawab gua. "Nih", lanjut gua seraya memberikan salah satu bungkusan yang berisi tas warna merah sambil tersenyum kepadanya.
"Serius ?", tanyanya tidak percaya.
"Ya. Ini buat kamu...".
"Mas.. Ini kemahalan buat aku". Dia masih tidak percaya dan belum mengambil bungkusan itu dari tangan gua. "Kamu beneran beli untuk aku ? Bukan untuk...".
"Sssttt..", gua menggelengkan kepala. "Bukan. Ini sengaja aku beli untuk kamu kok. Ayo terima, Mba", potong gua.
"Ma.. Makasih banyak, Mas. Aduh aku ngerasa gak enak sama kamu", ucapnya seraya mengambil bungkusan itu dari tangan gua kali ini. Matanya sedikit berkaca-kaca.
Setelah itu kami pergi ke salah satu restoran di dalam Mall ini. Memesan makanan masing-masing, dan mulailah atmosfer anak muda dikala malam minggu seperti sekarang memenuhi suasana diantara kami.
Mba Yu terlihat tersenyum malu-malu. Lalu apa yang kami obrolkan di tempat ini sepanjang waktu makan benar-benar membangun suasana yang lain. Gua seperti terhempas ke masa lalu saat status kami masih sebagai sepasang kekasih.
"Makasih banyak kamu udah beliin barang mahal ini untuk aku", ucapnya malu-malu.
"Ehm. Mba..", gua melipat kedua tangan diatas meja dan sedikit mencondongkan tubuh kedepan. "Aku gak ada maksud apapun selain sadar diri..", lanjut gua serius sambil menatap kedua matanya.
Mba Yu menaruh kembali sendok yang sebelumnya sudah terisi makanannya. Lalu memperhatikan dengan wajah serius. "Maksudnya sadar diri gimana ?", tanyanya.
"Aku mau minta maaf kalo selama ini ternyata aku gak pernah ngasih apapun ke kamu. Seinget aku cuma jam tangan itu yang masih kamu pake sampe sekarang, Mba", jawab gua kali ini menatap pergelangan tangan kanannya.
Jam tangan berwarna hijau tosca itu masih ia kenakan. Kado yang pernah gua berikan kepadanya saat dulu masih ada almarhum Ayahanda. Jam tangan yang berbeda warna dengan yang gua berikan untuk Nona Ukhti disaat yang sama. Dan sekarang, kamu masih memakainya, Mba.
Apa yang gua beli untuknya sekarang bukan untuk menunjukkan kemampuan gua membeli barang mewah dihadapannya. Bukan itu maksud dan tujuan gua. Gua hanya ingin memberikan dia barang yang ia suka, karena selama ini nyatanya gua memang tidak pernah memberikan dia apa-apa. Cuma itu. Gak lebih.
"Aku gak pernah nungguin kamu beliin barang apapun selama ini. Gak pernah terlintas sedikitpun Mas untuk nunggu dikasih apalagi minta sama kamu", jawabnya serius.
"Kamu jangan salah paham. Aku juga gak pernah mikir kamu bakal minta kok. Kita udah kenal lama, kamu dan aku sama-sama tau sifat masing-masing. Intinya aku beliin tas itu memang dari keinginan aku sendiri. Dan emang kenyataannya bagus kalo dipake sama kamu. Jangan ngerasa gak enak atau apa. terima aja, Mba", ucap gua menjelaskan.
"Yaudah kalo emang gitu, aku ngucapin makasiiih bangettt.. Kamu udah beliin tas ini buat aku...", kali ini dia tersenyum lebar.
Setelah itu kami melanjutkan makan yang belum selesai. Sampai akhirnya gua ingat sesuatu.
"Aku mau tanya, tadi waktu di lift pas aku mau shalat kenapa senyum-senyum terus ?", tanya gua mengingat kejadian beberapa jam lalu.
"Ooh itu.. Hihihi.. Siapa sih yang gak seneng liat orang rajin ibadah. Kamu tuh sekarang bener-bener ta'at loch, Mas. Udah beda sama yang dulu... Aku seneng liat kamu kayak gini..", jawabnya
"Enggak juga. Kamu berlebihan, Mba..".
"Enggaklah, Mas. Yang menilai diri kita kan orang lain. Dan aku tau kamu kayak gimana. Perubahan kamu itu positif banget dalam hal ibadah ini. Aku jadi makin yakin sama kamu.. Hihihi..", ucapnya lagi dengan terus tersenyum.
Apa yang gua rasakan setelah dia mengatakan ucapannya itu langsung membuat fikiran gua berubah. Suasana yang sebelumnya sempat membuat gua hanyut karena kebahagiaan yang ia tunjukkan itu benar-benar hilang seketika. Membuat gua sadar, tidak seharusnya seperti ini.
"Pulang, yu.. Udah selesaikan makannya..", ajak gua seraya mengelap bibir dengan tisu.
Mata Mba Yu mendelik. "Kamu kenapa ? Kok jadi beda gitu, Mas..", tanyanya heran.
"Oh enggak kok, aku gak apa-apa.. Cuma inikan udah malem, Mba. Belom macet dijalan pulang, sampe jam berapa nanti di rumah kamu, hayo ? Aku gak mau kena omel orangtua kamu lah.. Hehehe", jawab gua berkilah.
Mba Yu memasang wajah cemberutnya. Bibirnya manyun matanya memicing. Mulai sebal dia sama gua.
"Ish! Malem minggu ini tuuuuh... Malem minggngnggguuuu... Sebel!", ucapnya kesal seraya melempar tisu keatas piring kotor.
Gua tertawa melihat tingkahnya yang seperti anak abg itu. "Hahahaha.. Yaiya malem minggu, kata siapa malem jum'at hahaha...", ledek gua menggodanya.
"Tau ah! Bikin bete aja kamu tuh!", dia langsung bangkit dari duduknya dengan wajah yang masih cemberut.
"Hahahaha.. Hey hey, Mba! Jangan pergi dulu.. Bayar dulu nih makanannya, hehehehe..", ucap gua sedikit berteriak dan terus menggodanya.
Mba Yu baru berjalan tiga langkah lalu membalikkan badan. "Bayarin!", jawabnya kemudian menjulurkan lidah dan kembali berjalan kearah pintu keluar restoran.
Gua semakin terpingkal melihat kelakuannya. Aduh-aduh, Mba. Kelakuanmu itu loch.. Hehehe.. Tawa gua dalam hati.
Selesai membayar makanan. Gua keluar restoran dengan santai. Mba Yu sudah berdiri di dekat lift.
"Udah ah jangan bete gitu. Tadikan keliatan seneng, masa sekarang mau pulang bete sih, Mba..", ucap gua sambil tersenyum.
"Tau! Bete! Gak ngertiin sih abisnya!", malah memalingkan wajah kearah lain dia.
Gua menggaruk rambut bagian belakang sambil tersenyum lebar. Ada-ada aja ini wanita satu. Tunggu aja, gua buat senyum lagi Lu.. Hehehe...
Sesampainya di lantai dasar gua melihat stand es krim yang tidak jauh dari pintu keluar. Gua berjalan mendahului Mba Yu menuju stand tersebut. Sengaja gua memesan satu es krim, setelah pesanan gua jadi, gua langsung melumatnya tepat ketika Mba Yu lewat di sisi kanan gua.
Dia berhenti berjalan. Memperhatikan gua dengan bibir yang manyun menahan senyuman.
"Mmmmsss... Enaaakk..", ucap gua tanpa mengalihkan pandangan dari es krim yang gua genggam.
"Mmaaauuu...", pintanya sambil mendorong tangan gua yang memegang es krim sampai es krim tersebut mengenai hidung gua.
"Hahaha.. Mau juga kamu. Yaudah beli lah..", tawa gua tidak memperdulikan sebagian es krim yang mengenai hidung.
"Beliin", pintanya manja.
"Iya, Mbaaa... Monggo pesen ae", jawab gua.
"Asyiiiikk... Hihihi..".
Mba Yu akhirnya memesan satu es krim rasa vanilla.
.
.
.
...scroll down to continues reading...
.
.
...scroll down to continues reading...
Diubah oleh glitch.7 03-08-2018 23:55
0

