Kaskus

Story

glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN




Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.


Tak Lagi Sama - Noah


Spoiler for Cover Stories:


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.


Quote:


Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

Masa yang Paling Indah
Credit thanks to Agan njum26

Love in Elegy
Credit thanks to Agan redmoon97


Sonne Mond und Stern
*mulustrasi karakter dalam cerita ini


Quote:

*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
chamelemonAvatar border
ezzasukeAvatar border
jenggalasunyiAvatar border
jenggalasunyi dan 127 lainnya memberi reputasi
124
1.9M
8.8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
#6891
Lembayung Senja
Bagian Empat
kaskus-image


Sudah satu minggu gua tidak menemui Mba Yu dari terakhir kami mengobrol pada saat makan siang di resto Jakarta. Kalaupun dia datang ke rumah seperti pagi tadi, gua memilih untuk mulai bekerja agar bisa pergi keluar rumah dan tidak menemuinya. Menghindar ? Ya, gua memang menghindar.

Apa yang ia katakan satu minggu lalu membuat beban di otak gua semakin bertambah. Lupakah dia dengan kondisi gua ?.

Satu bulan sebelumnya gua dirawat di rumah sakit. Rentetan kejadian yang dialami keluarga gua benar-benar membuat gua down.Selang dua hari setelah diperbolehkan pulang oleh dokter, keluarga gua malah membuat otak gua kembali sulit bekerja dengan normal. Akibatnya gua harus kembali dirawat sampai tiga hari lagi. Gua menyalahkan keluarga ? Ya gua memang menyalahkan mereka semua saat itu. Selama satu bulan itu pula emosi gua labil. Banyak melamun dan memikirkan hal yang sebenarnya tidak pernah gua inginkan.

Sore itu gua masih belum pulang kerja, duduk di dalam ruangan kepala Chef sambil memainkan komputer ketika tiba-tiba salah seorang pegawai terburu-buru membuka pintu.

"Kenapa ?", tanya gua ketika dia baru membuka pintu dengan wajah yang sendu.

"Mas. Pak Windu meninggal dunia", jawabnya dengan nada suara yang kecil dan sedikit tertahan.

Gua diam beberapa detik. Kaget. Lalu bangun dari kursi dan menghampirinya.

"Innalilahi wa innailaihi rojiun... Kapan ?", tanya gua setelah kami berhadapan.

"Tadi jam empat sore di rumah sakit, Mas. Gangguan jantung penyebabnya. Sekarang jenazahnya baru mau dibawa pulang", jawabnya sambil menyebutkan salah satu rumah sakit yang ada di ibu kota ini.

"Yaudah, kamu telpon kepala Chef, kabarin dia, bilang kita langsung ketemuan di rumah duka aja...", pinta gua karena memang hari ini kepala Chef libur kerja.

Setelah pegawai itu mengabari yang lain, gua pun langsung mengabari Ibu. Rencananya Ibu akan datang ke rumah duka juga.

Karena restoran belum waktunya tutup dan masih ada pengunjung jadi tidak memungkinkan untuk tutup tiba-tiba. Akhirnya sore itu yang berangkat hanya beberapa pegawai termasuk gua. Bergantian nanti, setelah kami selesai melayat mereka datang melayat juga.

Pukul lima sore gua dan beberapa pegawai sudah berada di rumah duka. Saat itu jenazah sudah berada di rumah duka. Gua bertemu dengan kepala chef diluar rumah.

"Pak, saya mau ngomong sebentar, kita ke warung situ dulu", ucap gua mengajak kepala Chef menjauh dari rumah duka.

"Ada apa, Mas ?", tanya Beliau setelah kami berada di warung rokok.

"Ini... Mmm.. Ini Bapak tau kalo rumah Pak Windu disini ?", tanya gua hati-hati.

"Iya, Mas. Tapi baru sekali ini saya kesini. Cuma pernah denger almarhum ngontrak daerah sini", jawabnya.

"Ngontrak ?!!", gua kaget bukan main.

"Iya, kenapa memangnya, Mas ?".

Gua menarik nafas dan menggelengkan kepala.

Gua memang terkejut saat tadi memasuki daerah rumah atau kontrakan Almarhum. Bukan gua bermaksud negatif atau sombong dan sebagainya. Tapi gua terkejut karena apa yang gua bayangkan dan gua lihat sekarang ternyata berbeda dari kenyataan.

"Pak. Saya ini bukannya gimana-gimana ya. Maksudnya bukan saya sok atau apalah. Tapi Bapak tau kan gaji Almarhum berapa ? Dan.. Duh Pak, ini dia tinggal di daerah ini gitu ? Dan ngontrak pula. Saya sedih. Bukan saya mau ikut campur urusan almarhum, tapi kenyataan yang saya liat ini kok rasanya berbanding terbalik sama penghasilan yang dia terima dari restoran. Kalau dipikir dia mampu beli rumah, minimal ngontrak ditempat yang lebih layak gitu, Pak", ucap gua mencoba menjelaskan.

Beliau mengangguk. "Saya paham... Saya paham maksud, Mas Eza. Mmm.. Gini, Mas. Ini kita terbuka aja ya Mas. Biar Mas Eza gak salah sangka menilai almarhum. Dan apa yang akan saya omongin ini bukan keburukan almarhum, toh memang gak boleh hukumnya menceritakan keburukan orang yang udah meninggalkan ? Jadi saya kasih penjelasan menurut yang saya tau aja, Mas", ucap Beliau.

Gua mengangguk. Kemudian Beliau menjelaskan soal permasalahan yang dialami almarhum selama ini. Karena memang almarhum dengan kepala Chef cukup dekat. Apa yang akan gua ceritakan soal almarhum (yang gua dapat juga dari kepala Chef) bukan soal keburukan atau hal negatif. Jadi tolong kalian para pembaca untuk bisa memahami dengan bijak, kalo gua tidak menjelek-jelekkan orang yang sudah wafat.

Menurut Beliau, almarhum mempunyai kebutuhan ekonomi yang cukup banyak. Salah satunya adalah membantu orangtuanya dan adik-adiknya di kampung secara materi. Almarhum memang bukan asli orang jawa barat, alias perantau. Dan setelah mendengar penjelasan yang diberitahukan kepala Chef gua baru paham kenapa almarhum hanya mampu sekedar mengontrak rumah di kawasan yang menurut gua agak pinggir di ibu kota ini. Sekali lagi, gua bukan men-judge atau menilai buruk.

Almarhum Pak Windu meninggalkan seorang istri dan juga satu anak gadis yang baru saja menginjak umur dua bulan. Dengan kondisi seperti itu gua semakin miris dan tidak tega melihat beban yang akan ditanggung istrinya kelak. Apalagi istrinya adalah seorang ibu rumah tangga. Jelas sudah saat ini tidak ada lagi penopang hidup mereka.

Setelah obrolan itu kami berdua kembali ke rumah duka, setelah gua lihat di dalam rumah sedikit sepi karena sebelumnya banyak yang melayat kedalam, akhirnya gua dan kepala Chef menemui istri almarhum yang sedang duduk di dekat jenazah suaminya.

"Assalamualaikum, Mba. Saya Reza. Owner restoran tempat almarhum bekerja. Dan ini atasan almarhum", ucap gua dengan suara pelan sambil memperkenalkan kepala Chef.

Istri almarhum masih menangis, dengan raut muka yang sangat sedih itu dia hanya mengangguk. Gua semakin terpukul melihatnya karena istrinya itu sedang menggendong sang anak yang tertidur pulas. Ya Allah Ya Tuhanku...

"Saya mengucapkan belasungkawa atas nama pribadi dan juga tempat almarhum bekerja", ucap gua lagi.

"Iya... Hiks.. Terimakasih, Pak... Hiks.. Hiks..".

Setelah itu beberapa pelayat datang lagi sehingga gua dan kepala Chef harus keluar dulu karena ruangan yang tidak cukup untuk menampung beberapa pelayat di dalam rumah.

Gua kembali menggelengkan kepala lagi setelah berada diluar.

"Pak.. Aduh.. Ini gimana ? Gak tega saya liat istri dan anaknya, Pak", ucap gua kepada kepala Chef.

Beberapa lama kepala Chef terdiam. Entah dia memikirkan apa, sampai akhirnya Beliau membisikkan saran yang akan membuat gua memiliki keluarga baru di kemudian hari.

"Gimana menurut Mas Eza ?", tanyanya setelah memberikan saran itu.

"Hah ? Gimana ceritanya, Pak ? Jangan ngawur, Pak!", jawab gua sedikit kaget mendengar sarannya.

"Loch, saya gak ngawur. Ini serius. Pahalanya besar loch, Mas. Coba omongin dulu sama keluarga Mas Eza", jawabnya serius.

"Entar-entar, entar dulu... Tadi maksudnya gimana ?", tanya gua lagi memastikan.

Beliau kembali menjelaskan maksud sarannya itu. Baru setelah Beliau menjelaskan lebih detail, gua paham maksud dan tujuannya.

"Oalaah.. Saya kira Bapak mau minta saya nikahin istrinya, bikin kaget aja", ucap gua lega.

"Oalah. Bukan.. Hehehe..". Kemudian Beliau terdiam beberapa detik sambil menatap gua. "Tapi kalo Mas Eza mau sih... Gak masalah juga, Mas. Asal nunggu masa iddah nya aja", lanjutnya sambil tersenyum kali ini.

Gua kembali melotot. "Hush! Sembarangan. Enggaklah... Cukup saran Bapak yang sebelumnya aja yang saya pertimbangkan nanti sama keluarga", jawab gua cepat.

FYI : Masa Iddah adalah masa atau waktu dimana seorang istri yang ditinggal wafat suaminya belum dapat atau tidak dapat (dalam hal ini) menikah lagi dengan pria lain dalam waktu masa iddah tersebut. Dan lamanya masa iddah adalah empat bulan sepuluh hari bagi istri yang ditinggal wafat suami dalam keadaan tidak mengandung/hamil. Sedangkan jika istrinya sedang dalam keadaan hamil, maka masa iddahnya berlaku sampai sang istri melahirkan anak dalam kandungannya.

Dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 234 : "Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (ber-iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”

Dan untuk istri yang sedang hamil. Dijelaskan dalam surat At-Thalaq ayat 4 : “Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya."

Terimakasih untuk istriku tercinta yang sudah membantu menjelaskan soal masa Iddah diatas.


Setelah satu minggu Alm. Pak Windu berpulang ke sang Pencipta, gua dan Ibu kembali menemui istri almarhum. Saat itu sore hari kami datang ke rumahnya.

"Maaf ya Mba Intan, datang tiba-tiba gini", ucap Ibu kepada istri almarhum yang bernama Intan.

"Gak apa-apa, Bu. Tapi maaf ini rumahnya masih berantakan. Sebentar saya ambilkan minum dulu ya", ucapnya dengan wajah yang masih tampak terlihat sedih.

"Gak usah repot-repot, Mba", ucap gua.

"Enggak kok, sebentar ya", lalu dia berdiri. "Ci.. Suci.. Sini sebentar ada tamu tuh, tolong temenin dulu", lanjutnya sambil berjalan kearah bagian dalam rumah.

Tidak lama keponakannya keluar dan duduk di ruang tamu ini. Suci adalah keponakan almarhum yang sedang magang di restoran gua.

"Eh, Mas Eza, Bu Laras..", sapanya seraya mencium tangan Ibu dan gua bergantian. "Maaf ya Mas, Bu. Saya belum bisa masuk training lagi, masih bantu-bantu Bibi", lanjutnya.

Suci memang diberikan izin untuk libur oleh gua setelah Pamannya itu meninggal. Dia ikut tinggal di rumah alamrhum semenjak mulai kuliah. Sama halnya dengan almarhum, Suci datang ke Jakarta dari kampung halaman setelah lulus SMK dan melanjutkan kuliah di Jakarta. Gua dengar katanya biaya kuliah Suci pun almarhum yang menanggung selama ini.

"Gapapa, kami ngerti kok. Kamu bantu Bibi mu dulu aja. Urusan magang biar aja dulu. Nanti urusan ke kampus kamu juga biar Bu Eva yang bantu bicara ya", jawab Ibu agar Suci tidak khawatir dengan training dan urusan ke kampusnya.

"Maaf ya Bu, Mas. Saya gak enak sebenernya baru jadi anak magang tapi udah ngerepotin banyak orang. Makasih banyak Bu Laras, Mas Eza dan pihak restoran udah bantuin saya sama keluarga Paman saya", ucapnya lagi.

"Jangan ngerasa gak enak gitu, Ci. Kita disini mau bantu kamu dan Bibi mu. Kalian gak sendiri kok, Ci", jawab gua mengurangi rasa sungkannya.

Mba Intan kembali bergabung bersama kami. Dia duduk disebelah keponakannya itu setelah menyuguhkan minuman diatas meja.

"Mba, saya kesini ada hal penting yang mau dibicarakan...", ucap Ibu memulai obrolan lagi.

"Ada apa ya, Bu ?".

"Sebelumnya saya mohon maaf. Tolong jangan salah sangka dulu kepada saya dan anak saya ini...", Ibu melirik kepada gua sesaat dan kembali menatap Mba Intan dan Suci yang sedikit kebingungan.
"Eza sudah bicara sama saya beberapa hari lalu yang berniat membantu keluarga Mba Intan. Saya setuju setelah mempertimbangkan beberapa hal. Kami berniat menawarkan pekerjaan untuk Mba Intan di salah satu butik dan membiayai kuliah Suci hingga selesai", lanjut Ibu menjelaskan.

Mba Intan dan Suci jelas terkejut mendengar niatan gua dan Ibu.

"Bu, saya mau bekerja jadi apa aja, asal halal. Apalagi sekarang keadaannya seperti ini. Tapi bagaimana dengan anak saya nanti kalo saya bekerja ? Enggak ada yang jagain dia, Bu", ucapnya khawatir.

"Itu juga sudah kami pikirkan, Mba. Biar nanti si kecil ada yang urus kok di rumah Eza", jawab Ibu.

Semakin terkejut dan kebingungan Mba Intan mendengar jawaban Ibu. "Maksudnya gimana ya, Bu ?".

"Gini, Mba. Saya bilang ke Eza, kalo Mba Intan bersedia pindah dari sini dan mau bekerja biar tinggal di rumah Eza untuk sementara, sambil nanti kami carikan kontrakan baru. Karena lokasi butiknya itu ada di kota kami", terang Ibu. "Mba Intan gak perlu khawatir soal anak. Insya Allah anak Mba Intan ada yang merawat selama Mba Intan bekerja dan orangnya saya jamin orang yang baik. Oh iya, Suci juga jelas ikut tinggal di rumah Mas Eza ya kalo Bibi mu ini setuju", lanjut Ibu seraya melirik Suci juga.

Kembali Mba Intan nampak bingung, begitupun dengan keponakannya itu. Kami tahu mereka perlu waktu untuk memikirkan hal ini dengan matang.

"Mba dan Suci gak perlu langsung menjawab tawaran kami berdua sekarang. Silahkan dipikirkan dulu. Saya tau ini bukan hal mudah, apalagi harus tinggal bersama orang yang belum kita kenal. Tapi insya Allah, niat saya dan Ibu saya tulus untuk membantu keluarga Mba Intan", timpal gua agar Mba Intan dan Suci bisa memutuskan dengan baik nantinya.

Tidak lama setelah membicarakan hal lain kami pamit pulang karena waktu sudah mulai larut.

Di perjalanan pulang gua duduk dibangku belakang bersama Ibu, sedangkan mobil Ibu ini dikemudikan oleh supir pribadinya. Sambil menunggu kemacetan di pintu tol, kami berdua kembali membicarakan soal keluarga alm. Pak Windu.

"Kira-kira mereka mau gak ya ?".

Ibu menengok kepada gua. "Ya Ibu gak tau ya Za. Yang jelas kita udah coba menawarkan bantuan, dan apapun keputusan Mba Intan nanti adalah yang terbaik untuk mereka sendiri", jawab Ibu sambil tersenyum.

"Kalo nolak ?", tanya gua.

"Ibu kan udah bilang, apapun Za. Dan kita cuma bisa berharap dan berdo'a segala kebaikan untuk mereka", jawab Ibu lagi.

"Iya sih. Tapi jujur ya, Bu. Aku kaget waktu kemaren Ibu ngasih usul mau ajak mereka pindah dan ngebantu Mba Intan nawarin kerjaan juga. Padahal saran kepala Chef ke aku tuh cuma bilang anaknya diangkat anak asuh aja, pahalanya besar ngerawat anak yatim", ucap gua mengingat obrolan kami beberapa hari lalu.

"Iya, Za. Tapi gak mungkin Ibu berani ambil keputusan sendiri dan nawarin seperti itu tanpa kasih tau kamu", jawab Ibu. Lalu Beliau menepuk punggung tangan gua dengan pelan. "Lagi pula, menolong orang lain itu jangan setengah-setengah, apalagi kepada sesama muslim, sayang...", tandas Beliau dengan senyuman yang indah.

Lima hari setelah kami menawarkan bantuan kepada Mba Intan, akhirnya dia dan Suci datang ke restoran. Di restoran pulalah gua mendengar langsung keputusannya untuk menerima tawaran serta bantuan gua dan Ibu. Tidak perlu waktu lama bagi gua untuk menelpon Ibu detik itu juga untuk mengabari hal tersebut.

Sore harinya supir Ibu menjemput Mba Intan bersama anaknya dan Suci di rumah kontrakan mereka. Sedangkan barang-barang mereka diangkut oleh mobil box yang gua sewakan. Tidak banyak barang yang mereka bawa karena ternyata Mba Intan sebelumnya sudah menjual beberapa barang rumah ke tetangga yang sekiranya tidak diperlukan.

Keesokan harinya rumah gua menjadi lebih ramai. Mba Intan, anaknya dan Suci sudah berada di ruang makan beserta Ibu dan Risya juga, sedangkan Bapak memang sedang ada kerjaan diluar kota.

"Pagi, Mas Eza", sapa Mba Intan dan juga Suci.

"Pagi Mba, pagi Ci. Gimana tidurnya semalem ? Pules ya pasti, kecapean gara-gara pindahan kemaren sore", sapa gua balik seraya menerima sarapan dari Ibu.

"Iya, Mas. Maaf ya Mas, kalo saya dan Suci bikin repot", ucap Mba Intan masih sungkan dengan kehadirannya di rumah ini.

"Hush, udah ah jangan minta maaf terus, Mba. Emangnya lebaran setiap hari ya ?", canda Ibu kali ini menyela obrolan gua dan Mba Intan.

Hari ini memang hari libur. Jadi gua dan keluarga tidak ada kesibukkan lain. Siang harinya Mba Yu datang ke rumah. Gua masih belum berbicara lagi dengannya karena sengaja menghindar seperti sebelumnya.

Mba Yu ternyata sudah tahu mengenai Mba Intan dan Suci yang sementara waktu akan ikut tinggal di rumah gua. Siapa lagi kalau bukan Ibu yang cerita.

Dia berkenalan dengan Mba Intan dan juga Suci. Terlihat akrab saat mereka mengobrol di ruang tamu.

"Za".

"Ya, Bu ?".

"Anterin Sherlin bentar kedepan gih. Ada yang mau dibeli tuh katanya", ucap Ibu lagi.

Dihadapan banyak orang seperti sekarang tidak mungkin gua menolak. Akhirnya gua keluar rumah bersama Mba Yu. Gua kendarai motor dengan Mba Yu yang duduk di belakang.

Sepanjang jalan terasa kikuk dan kami hanya saling diam tanpa membahas apapun sampai kami akhirnya tiba di minimart. Dia langsung menuju rak yang menyediakan perlengkapan bayi.

"Buat siapa, Mba ?", tanya gua.

"Buat anaknya Mba Intan, Mas.", jawabnya singkat lalu berjalan kearah kasir setelah mengambil beberapa keperluan lain.

Setelah itu kami keluar dari minimart. Mba Yu melihat kearah pedagang kebab yang berjualan di halaman parkir. "Mas, aku pengen kebab. Kamu mau ?", tanyanya.

"Kebab ? Yaudah beli aja. Aku juga mau", jawab gua.

Mba Yu memesan kebab untuk orang rumah sekalian katanya. Sambil menunggu pesanan jadi, gua mulai menurunkan ego, mencoba mencairkan suasana yang dingin diantara kami.

Mba Yu duduk diatas motor gua yang masih di parkir, sedangkan gua berdiri di dekatnya.

"Mba, aku minta maaf", ucap gua to the point.

"Hmm..", dia hanya bergumam tanpa mengalihkan pandangan dari layar smartphone yang ada di tangannya.

"Aku minta maaf udah diemin kamu, Mba. Kemaren-kemaren aku emosi. Maaf ya..".

Mba Yu melirik kepada gua dan menatap tajam. "Salah apa sih aku sampe kamu diemin gini ?", tanyanya tegas.

Gua hanya bisa sedikit menundukkan kepala. Sejujurnya gua ingin menjawab tapi gua menahan diri agar tidak adu argumen di tempat umum seperti ini.

"Mas. Kamu tau apa yang aku pilih itu gak mudah ? Kamu pikir aku gak beban ? Kalo kamu mikir aku cuma cari kebahagiaan semata, kamu salah! Aku juga sama kayak kamu, Mas! Banyak pertimbangan sebelum aku mutusin hal ini!", lanjutnya.

Gua menghela nafas dengan kasar. Ingin rasanya gua mengeluarkan argumen yang ada di dalam otak gua.

"Aku tau ini semua gak gampang. Dan aku tau kamu pun sama mikirin masalah ini. Tapi coba kamu pikirin baik-baik lagi, Mas.", ucapnya lagi dengan nada yang lebih tenang.

"Dengan cara itu ?", tanya gua dingin.

Mba Yu melotot. "Susah ngomong sama kamu!".

"Kamu jangan gitu, Mba.. Kamu gak tau perasaan a..".

"Udah udah udah deh Mas.. Aku gak mau ribut disini. Bener kata Mba Laras, susah bikin kamu ngerti tuh", potongnya.

Setelah itu kami berdua kembali berdiam diri. Gua benar-benar tidak tahan sebenarnya ingin mengomentari apa yang ia katakan itu, dasar sok tau! Umpat gua dalam hati.

Setelah pesanan kebab kami jadi, gua membayarnya dan langsung mengajak Mba Yu pulang.

Sore harinya. Gua baru saja selesai shalat Ashar dan kembali ke rumah dari masjid komplek. Saat gua sedang mengambil minum di dapur, ada Ibu yang sedang berdiri membelakangi gua dan memperhatikan sesuatu di halaman belakang.

"Ngapain, Bu ?", tanya gua yang berjalan mendekat.

Ibu menengok kebelakang dan tersenyum kepada gua. "Eh udah pulang. Kebetulan banget. Sini-sini cepet", pintanya.

"Kenapa ?".

"Tuh tuh liat..", bisiknya dengan nada yang bahagia diiringi senyuman yang semakin lebar. Tangannya menunjuk kearah gazebo diluar sana.

Gua melirik dan tertegun untuk beberapa saat. Bisa juga dia memangku mahluk mungil seperti itu.

"Gimana ? Benerkan kata Ibu, dia seneng", ucap Ibu. "Sana gih, samperin", lanjutnya dengan tetap tersenyum lebar.

Gua berjalan kearah gazebo. Lalu berdiri disampingnya.

"Abis shalat berjama'ah, Mas ?", tanyanya tersenyum.

"Iya", jawab gua singkat.

"Cantik ya, Mas ?", tanyanya seraya menunjukkan seorang bayi yang sedang berada dalam pangkuannya itu.

Gua tersenyum dan mengangguk, setuju dengan ucapannya. Bayi itu memang cantik dan lucu.

"Eh iya. Aku lupa tadi, namanya siapa sih ?", tanyanya.

Gua merendahkan tubuh, bertumpu pada kedua lutut dihadapannya yang berada diatas kursi. Kemudian memperhatikan bayi yang sedang ia pangku dengan hati-hati.

"Nabila", jawab gua setelah mengusap kening bayi yang sebentar lagi berusia tiga bulan tersebut.

"Ah iya Nabila. Panggilannya Nabil ya", ucapnya seraya tetap tersenyum bahagia melihat bayi Nabil.

*Nabil pertama kali gua ceritakan di Bab Side Story - Part VFA.
Diubah oleh glitch.7 02-08-2018 10:56
dany.agus
My.Precious.Tia
fatqurr
fatqurr dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.