Kaskus

Story

glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN




Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.


Tak Lagi Sama - Noah


Spoiler for Cover Stories:


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.


Quote:


Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

Masa yang Paling Indah
Credit thanks to Agan njum26

Love in Elegy
Credit thanks to Agan redmoon97


Sonne Mond und Stern
*mulustrasi karakter dalam cerita ini


Quote:

*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
chamelemonAvatar border
ezzasukeAvatar border
jenggalasunyiAvatar border
jenggalasunyi dan 127 lainnya memberi reputasi
124
1.9M
8.8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
#6373
PART 26


Quote:


Dengan segara gua bergegas meninggalkan restoran di kota gua. Kebetulan gua sedang tidak berada di resto Jakarta hari ini, jadi tidak butuh waktu lama untuk sampai di ruko atau klinik istri yang masih tahap renovasi itu.

Sesampainya disana gua langsung bertemu Jajang dan diantar ke lantai dua. Dimana istri gua masih berbaring.

"ASTAGFIRULLOH!!! VEEE!!!".

Gua gak percaya dengan apa yang gua lihat. Istri tercinta gua mengeluarkan darah dari kepalanya hingga membasahi sebagian mukanya. Yang lebih membuat gua panik dan takut adalah keadaannya yang nampak lemah.

Sebelum gua memasuki ruangan. Pintu kaca yang gua lewati tadi sudah pecah berada di lantai, beberapa serpihan kaca dan lantai terlihat noda darah yang belum mengering.

*Notes : Pintu kacanya tidak pecah keseluruhan, hanya sebagian kecil.

Istri gua dibaringkan diatas meja di dalam ruangan tersebut.

"Vee!! Kamu kenapa ?! Oi Jang! Ini istri gua kenapa ?!", tanya gua.

"Ceritanya panjang A, tapi yang jelas itu tadi kejatohan pintu kaca yang baru diapasang kemaren", jawab Jajang.

Gua emosi mendengarnya, gua berdiri dan hendak menghajar Jajang tapi dengan lemah tangan kanan gua dipegang oleh Nona Ukhti. Gua menengok kepadanya, dia hanya menggelengkan kepala dengan lemah dan mata yang yang nyaris tertutup.

"Mas.. Rumah sakit..", ucap istri gua lemah.

"Ii... Iya Ve.. Ayo kita ke rumah sakit!", jawab gua tersadar harus segera membawanya ke rumah sakit.

Gua langsung menahan kepalanya dengan tangan kiri, dan mengangkat kedua kakinya dengan tangan kanan. Akhirnya Jajang pun ikut membantu gua menggendong Nona Ukhti dan langsung membawanya kedalam mobil.

"Lu ikut! Masuk dibelakang!", ucap gua kepada Jajang.

"Iya A iya..", Jajang pun masuk ke kursi belakang.

Dengan secepat yang gua bisa, gua mengemudikan mobil dengan hati-hati untuk membawa Nona Ukhti sampai di rumah sakit.

Di dalam perjalanan gua beberapa kali melirik kepada istri tercinta, matanya sudah terpejam, tapi gua masih mendengar dia mengeluh kesakitan. Sampai akhirnya gua benar-benar panik.

"Ve, sabar Ve... Tunggu sebentar lagi kita sampe di rumah sakit ini! Jangan tinggalin aku, Ve!", ucap gua panik setelah melihatnya tidak ada pergerakan.
"Jang, lu jangan diem aja!", teriak gua.

"Bu.. Bu Vera... Bu sadar Bu... Jangan pingsan, Bu!", ucap Jajang yang daritadi memegangi bagian kepala Nona Ukhti yang masih terbungkus hijab dengan kain (entah kain apa) untuk menahan darah yang terus keluar.
"Astagfirulloh, A'.. Itu.. Itu darah dari rahim bukan A' ?", tanya Jajang panik melihat kearah kaki istri gua dari kursi belakang.

Gua menelan ludah melihat darah segar yang mengalir di kaki Nona Ukhti. Kemudian gua tatap wajahnya yang sudah pucat pasi. Gua langsung beristigfar dan kembali fokus mengendarai mobil. Gua sadar tidak ada gunanya panik atau bahkan emosi. Yang gua tau, sekarang gua harus sampai rumah sakit secepat mungkin.

"Aa'.. Itu darahnya A' keluar terus di kaki!", teriak Jajang yang panik.

"Iya! Gua tau! Gua tau! Udah lu diem aja! Jangan buat gua panik! Yang penting sampe rumah sakit dulu! Emangnya bisa apa kita sekarang ?!", jawab gua kesal.

"Iiya.. Maaf, A'".

Tidak lama akhirnya kami sampai di rumah sakit. Kemudian dengan cepat turun dari mobil dan meminta tolong kepada petugas rumah sakit untuk membawa istri gua.

Istri gua yang sudah tidak sadarkan diri itu dipindahkan ke atas ranjang beroda oleh beberapa perawat. Lalu gua mengikuti mereka masuk kedalam ruang igd.

Dalam keadaan panik tersebut gua menghubungi Ibu dan Mamah mertua. Setelah itu gua menunggu tim medis menangani istri tercinta.

Gua berdiri di depan igd dengan perasaan khawatir dan cemas. Tak henti-hentinya gua membaca istigfar dan memohon pertolongan dari ALLAH SWT di dalam hati.

Gua sedikit terkejut saat seorang perawat mencolek bahu kiri gua.

"Mas maaf. Sebaiknya anda membersihkan darah yang ada ditangan anda itu...", ucap sang perawat melirik kedua tangan gua.

"Oh iya, Mba. Makasih...".

Gua berjalan cepat menuju toilet lalu mencuci tangan di wastafel. Tapi darah yang mulai mengering itu tidak bisa sepenuhnya hilang. Gua menatap kedua telapak tangan serta kemeja biru yang gua kenakan. Lambat laun airmata gua menetes sedikit. Gua menahan nafas sejenak sebelum akhirnya membasuh wajah dengan air.

Noda darah yang tidak bisa hilang dari kemeja bagian perut, gua biarkan hingga mengering. Lalu gua kembali ke depan ruang igd. Tanpa permisi gua masuk kedalam.

"Saya suaminya Vera, perempuan yang sedang kalian tangani", ucap gua sebelum seorang suster bertanya.

Seorang dokter yang sedang memeriksa istri gua mendekat. "Mas, istri anda harus segera dioperasi", ucapnya.

"Terserah dokter, apapun itu saya setuju asalkan istri saya bisa selamat".

Gua benar-benar panik, khawatir, cemas dan sudah pasti takut. Tapi gua berusaha tenang dalam situasi seperti ini.

Sebelum istri gua dibawa ke ruang operasi, gua mendekatinya dan membaca surat Al-Fatihah. Kemudian gua memohon kepada ALLAH SWT.

'Ya ALLAH Ya Tuhan ku. Berikanlah kesembuhan kepada istriku. Angkatlah penyakitnya dan jadikanlah sakit yang ia derita sebagai pelebur dosa-dosanya. Ya ALLAH yang Maha Pengasih. Jika Engkau memberikannya kesempatan untuk kembali berkumpul bersama kami keluarganya, aku berjanji akan menjaganya sampai Engkau memanggil ku pulang'.

Setelah itu istri gua dibawa ke ruang operasi. Sebelum keluarga gua datang. Gua meminta Jajang menceritakan kejadian yang sebenarnya.

"Sekarang, lu cerita ama gua, kenapa istri gua bisa celaka sampe kayak gini ?", tanya gua sambil menahan emosi.

"Iya A', saya ceritain semuanya tapi tolong Aa jangan marah sama saya, saya serba salah soalnya A'..", pinta Jajang.

"Yaudah ceritain. Gua gak akan marah kalo lu emang gak salah", jawab gua.

Menurut pengakuan Jajang, malam sebelumnya, yang berarti malam dimana gua mengajak Giovanna mengobrol. Rifki datang ke klinik malam itu. Kebetulan memang Jajang menginap disana, biasa kan pekerja bangunan suka nginap ditempat proyek kerjaan mereka gitu. Nah setelah Rifki menanyakan soal kerjaan Jajang (yang menurut gua hanya basa-basi) tidak lama Rifki menelpon seseorang, entah siapa kata Jajang. Kemudian Rifki tiba-tiba meminta alat bangunan (gua lupa dia minta kunci/obeng atau semacamnya ke si Jajang), setelah itu Jajang meninggalkan Rifki di ruangan dimana tempat kecelakaan istri gua tadi terjadi.

Cukup lama Rifki berada disana, Jajang sempat menengok Bos nya tersebut ke ruangan tadi, dia sedikit heran ketika melihat Bos nya sedang membetulkan atau mengoprek pintu kaca ruangan tersebut.

"Saya tanya ke si Bos, 'Bos ngapain ?, itu pintu udah saya pasang dengan aman, Bos'. Kata saya gitu ke si Bos A'..", ucap Jajang menceritakan.

"Terus kata dia apa ?", tanya gua.

"Dia sempet keliatan kaget A' pas liat saya, mungkin dikira saya gak nyamperin, emang posisinya dia lagi ngebelakangin saya waktu itu. Kalo kata si Bos, saya kurang kenceng masangnya, masih kerasa goyang dan gak pas", jawab Jajang. "Tapi demi Allah A', saya masangnya udah bener, gak ada yang longgar, sebelum dia datang saya berapa kali nyoba buka tutup pintu kaca itu, dan aman..", lanjutnya.

Gua menghela nafas. Pikiran burukpun akhirnya terlintas.

"Apa Bos lu emang niat nyelakain istri gua ?", ucap gua.

Jajang diam beberapa saat. Baru kemudian menjawab.

"Saya gak yakin A' kalo si Bos sampe nyelakain Bu Vera, soalnya..", ucapannya tidak dilanjut.

"Hey, janji kan tadi bakal nyertain semuanya", ucap gua mengingatkan dia.

"Iya A'. Tapi ini saya cerita apa adanya, jangan marah sama saya A'. Jadi gini A'.. Saya jugakan bukan anak kecil A', dan Aa' juga pasti ngerti pas kemaren si Bos nitip hadiah untuk Bu Vera kan ? Saya tau kalo si Bos suka sama Bu Vera.. Udah lama saya tau dari cara dia ngobrol A'. Cuma ya saya sih kan disini kerja, gak tau juga kalo Bu Vera udah punya keluarga, maksudnya si Bos pernah bilang kalo Bu Vera itu janda dengan kondisi hamil. Jadi saya istilahnya tutup mata, makanya saya bilang gak mungkin kalo si Bos niat nyelakain Bu Vera", jawab Jajang.

Gila apa si Rifki. Bini gua dibilang janda ditinggal hamil tua. B*ngsat emang itu orang satu!

Akhirnya jelas kalo Rifki memang suka sama istri gua. Anak buahnya yang lebih sering ketemu dengan Rifki dan istri gua di klinik pun sampai paham dan mengerti tanpa perlu Bos nya itu cerita. Berarti artinya Rifki selama ini memang benar-benar niat merebut perempuan yang sudah berkeluarga.

"Terus sekarang maksudnya apa dia pura-pura benerin pintu kaca ?", tanya gua bingung.

"Nah itu A'.. Saya.. Saya denger si Bos nelepon lagi, gak tau nelpon siapa tapi saya nguping. Saya dengernya gini.. 'Udah beres, tinggal besok paling ngebuat lakinya dateng dan buka itu pintu'. kira-kira Aa' ngerti maksudnya gak ?", tanya Jajang kali ini.

Jelas gua langsung melotot dan nyaris gak percaya sama ucapannya. Jajang sampai mengatakan demi Allah dan meminta gua menanyakan langsung ke Bos nya kalo apa yang dia ucapkan benar adanya.

Anj*ng. Jadi si Rifki niatnya mau ngebuat gua celaka siang ini.... Fak!

"Saya gak tau gimana rencananya si Bos ngebuat Aa dateng. Tapi... Eeuu.. Yang dateng malah Bu Vera duluan dan buka pintu ruangan itu...", lanjut Jajang.

"Hufftt.. Anj*ng emang Bos lu.. Cari mati dia!", gua mulai emosi lagi. "Tapi sebentar. Kok lu bisa ngebiarin istri gua buka pintu itu ? Dan kenapa gak lu langsung benerin lagi tuh pintu sebelum istri gua dateng ?!", gua makin emosi yang mikir kalo si Jajang ini guobl*k juga.

"Sumpah A'.. Saya niat cek itu pintu siang ini, saya ngaku emang telat benerinnya, semalem udah ngantuk A', si Bos dateng jam sebelas malem. Jam setengah satu dia baru pulang. Saya mikir besok aja cek pintu itu. Eh gak taunya Bu Vera dateng tadi pas saya beres ngecat dinding. Saya disuruh beli minuman sama Bu Vera pas dia dateng. Baru turun tiga tangga, saya denger suara Bu Vera teriak terus bunyi kaca pecah... Maaf A' demi Allah saya gak ada niat buat nyelakain siapapun.. Saya emang salah karena gak langsung cek lagi itu pintu... Maafin saya A'..".

Gua gak bisa neken si Jajang atau ngeluapin emosi ke dia. Dia cerita jujur, dan terlebih meminta maaf sambil nangis. Gua rasa memang kesalahan dia satu, telat cek pintu itu setelah Bosnya pulang. Dan sialnya... Istri gua yang kena.

Gua gak bisa membayangkan gimana kejadiannya, gua suruh Jajang berhenti cerita ketika dia melihat istri gua yang sudah terkapar dengan tertimpa pintu kaca dibagian kepala dan sebagian tubuhnya.

Satu-satunya orang yang ingin gua temui cuma si Rifki. Dia yang harus bertanggungjawab. Seriously! Wanita itu lagi hamil! Dan akibat ulah dia sekarang dua nyawa dipertaruhkan! Fak!

...

Kemudian setelah itu barulah Ibu bersama Bapak dan Mamah mertua gua datang.

Saat gua akan bercerita tentang kejadian apa yang menimpa Vera. Seorang lelaki datang dan langsung mendekati gua.

"Mas Eza ?", tanyanya.

"Ya. Siapa ?", tanya gua balik.

"Saya Rifki, Mas".

Emosi gua sudah tidak bisa dikendalikan ketika mendengar namanya.

Buagh!!! Satu pukulan telak mendarat tepat mengenai dagunya.

Rifki terjungkal kebelakang dan sebelum dia sempat berdiri, gua langsung menendang dadanya. Kemudian gua duduk diatasnya dan dengan gelap mata gua menghantam wajahnya berulang-ulang sampai beberapa orang menarik gua dengan paksa.

"Bang*sat!!! Sini Lu an*jing!!", teriak gua dengan emosi.

Rifki dibantu oleh dua orang satpam rumah sakit. Bapak menahan gua dari samping dan Ibu memeluk gua dari belakang sambil mengucap istigfar kepada gua. Beberapa orang lainnya berada ditengah untuk melerai kami.

"Ma..maaf, Mas! Demi ALLAH saya gak tau apa-apa, Mas!", ucap Rifki sambil membersihkan darah yang terus mengalir dari hidungnya.

"Semuanya gara-gara Lu bang*sat! Keluar Lu! Kita selesain di luar!".

"Udah Za udah.. Istigfar ya Allah!", ucap Ibu. "Sabar, Za sabar dulu. Ini ada apa, Za ?", tanya Bapak.

"Dia Pak yang udah buat Vera ketimpa kaca!", jawab gua penuh emosi.

Setelah itu gua lepas genggaman tangan Bapak dan Ibu secara kasar. Berniat untuk menghantam baj*ngan bernama Rifki itu lagi.

Wuutt.. Buagh..

"Ugh! Aahh...", gua mengeluh kesakitan.

Ya gua yang awalnya sudah berlari untuk menerjang si Rifki malah terbanting dan sekarang sedang tertahan di lantai dengan sebuah kuncian.

"Istigfar! Istigfar Mas! Biar polisi yang urus semuanya!", ucap seseorang yang sedang menindih gua dan mengunci gua. Posisi gua telengkup dengan orang tersebut menduduki gua dibagian pinggang dan mengunci kedua tangan gua kebelakang.

Gua menengok keatas, kearahnya. "Mba ? Mba Yu ?", ucap gua terkejut.

"Tahan emosi kamu... Kalo emang bener dia nyelakain istri kamu, kita serahin kasus ini ke polisi, Mas.. Jangan sampe kamu malah ikut kena masalah karena ngelukain orang juga..", ucap Mba Yu Sherlin.

Kalo bukan Mba Yu yang ngomong dan nahan gua mungkin bakal lain ceritanya.

Gua akhirnya menuruti ucapan Mba Yu. Setelah itu beberapa satpam rs menghampiri, menahan gua dan Rifki yang sudah membuat keributan di lingkungan rs. Pada saat gua dan Rifki dibawa ke pos keamanan, gua ceritakan kenapa gua bisa membuat keributan. Setelah itu barulah gua meminta Rifki untuk berterus terang tentang apa yang sudah diceritakan Jajang benar atau enggak.

Rifki mengakui. Ya dia mengakui kalo niatnya untuk mencelakakan gua hari ini. Si bangs*t itu berniat memanggil gua ke klinik untuk bertemu dengannya. Dan rencananya dia yang akan meminta gua menunggu di ruangan tersebut. Otomatis kalo gua datang duluan, gua yang akan buka pintu kaca itu kata dia.

Tuh orang kebanyakan nonton sinetron emang.. Bangs*t lah!

Rifki dibawa ke kantor polisi. Harusnya gua yang membuat laporan karena korbannya istri gua. Tapi gua gak mau meninggalkan istri gua di rumah sakit dengan kondisi yang belum jelas. Akhirnya Ibu mertua gua, alias Mamahnya Ve yang membuat laporan atas tindakan Rifki terhadap anaknya itu. Jajang ikut karena sebagai saksi kunci. Ibu mertua gua di dampingi oleh Bapak dan Ibu. Sedangkan gua dan Mba Yu menunggu di rumah sakit.

"Kok bisa ya ada orang senekat itu, Mas ?", tanya Mba Yu setelah mendengar cerita sebenarnya.

Gua menaikkan kedua bahu. "Entah, Mba. Yang jelas si Rifki itu sakit! Jelas-jelas yang dia suka udah berkeluarga.. Gak tau aku juga musti ngomong apalagi...".

Mba Yu menghela nafas. "Heeuhh.. Kalo Ve udah berkeluarga doang, udah punya suami doang dan Rifki tetep suka masih wajar sebenernya. Yang bikin aku heran tuh, Ve kan lagi hamil tua. Perutnya keliatan gede gitu, dan itu laki-laki masih ngebet, sampe mau nyelakain kamu pula...", ucap Mba Yu.

"Obsesi mungkin..", jawab gua pelan.

"Maksudnya ?".

"Ya obsesi.. Yang aku bilang tadi. Sakit! Obsesi demen sama wanita hamil dan udah berkeluarga... Mungkin ajakan ?", jawab gua.

"Sinting! Amit-amit ih... Parah banget kalo beneran kayak gitu", timpal Mba Yu.

"Ya makanya, mungkin aja dia begitu..".

"Tapi, Mas.. Janji ya jangan aneh-aneh", ucap Mba Yu tiba-tiba.

"Maksudnya gimana ?".

"Aku tau kamu.. Orang yang kamu sayang dicelakain, pasti kamu bales! Mending kalo biasa cuma ngehajar aja. Aku gak mau kalo sampe kejadian kayak yang lalu lagi, waktu kamu bales ke mantan suamiku..", jawab Mba Yu.

Gua sedikit terkejut. Jujur aja gua hampir tidak ingat dengan kejadian itu. Maksudnya gua udah lupain.

"Eh.. Eeuu.. Yaa.. Ya tergantunglah.. Ini kondisi istriku gimana dulu... Ngawur aja kamu, masa iya aku diemin tuh brengs*k kalo sampe istriku lebih parah kondisinya ?".

"Kamu ngerti gak kenapa aku tadi nahan kamu ?".

"Banting woi banting. Kalo nahan ma meluk kek, megangin kek.. Ini ma ampe bunyi gedebug coy! Sakit juga itu bantingan mu.. Minta maaf kek ke aku", ucap gua meledek Mba Yu.

"Yeee.. Ini orang! Itu tuh kalo aku gak banting kamu, bisa selesai si Rifki itu.. Urusannya malah kamu yang dilaporin karena penganiayaan... Aku tau kamu ya!", ucapnya membela diri.

"Hmmm..", jawab gua malas sambil memalingkan wajah. "Eh ngomong-ngomong kok kamu bisa kesini ? Gimana ceritanya ?", tanya gua.

"Aku lagi makan di restoran mu, ketemu Mba Laras. Ngobrol gitu, eh Mba Laras dapet telpon dari kamu terus kita kesini abis jemput Bapak mu di kantornya...", jawab Mba Yu dengan tersenyum tipis.

"Leeh.. Leh.. Ibu kan lagi di resto Jakarta hari ini.. Jadi kamu tadi makan siang ke resto ku ?", tanya gua yang masih terkejut.

"Iyaaa.. Niatnya mau ketemu kamu, eh malah ketemu Ibunya, hehehe..".

"Dih nyengir.. Mau ngapain ketemu aku ? Kangen ?", tanya gua menggodanya.

"Idiiih pede banget lu! Maen ajaaa.. Biar dapet makan siang gratiss... tiss.. tisss.. tiiisss.. Hihihihi..", cekikikan dia.

"Halah tadi bilangnya pengen ketemu aku, udah sih ngaku aja emang kangen... Gitu aja malu ngakuinnya..", goda gua lagi.

"Denger yaa.. Mas Reza Agathaderaaaa.. Kalo orang mau makan gratis, gak mungkinkan cuma kenal sama satpamnya doang, jadi kalo kenalannya itu Owneerrrnyaaaaaaaa...", (sumpah ini si Sherlin nih waktu ngomong gini mukanya bikin kesel. Taukan Gais kalo cewek ngomongnya pake gaya bebas ? Alias lebay. Ngomong sambil tangan gak mau diem, bibir kebuka terus dimonyong-monyongin, beuh rese emang. Minta dikecup kali yak). "Itu pasti dapet makan gratis dooongng... Yu paham maksud ucapan Ai ?", tandasnya sambil menunjuk wajah gua dengan jari lentiknya.

Bocah ngapa yak ? Pinginnya ngomong gitu, tapi jaman itu nih kalimat belom ada...

"Lebay lu ah, Mba!".

"Ahahahaha.. Kesel nih yee.. Hahaha..".

"Ssstt.. Berisik ih, ketawa mulu..".

"Abisnya kamu mukanya kesel gitu, lucu hahahaha... Ehm.. Tapi karena ada aku kamu jadi gak stres banget kan sekarang ?", tanyanya pelan dengan senyuman yang ah.. Manis banget.

Gua tersenyum. "Makasih, Mba..", ucap gua tulus.

Ya gua akui. Dalam keadaan seperti ini butuh dukungan keluarga dan kerabat terdekat. Andaikan Mba Yu gak ada disini. Entah gua bisa lebih kalut dan stres lagi mungkin.

Tapi akhirnya semua harus kembali ke realita. Gua berterimakasih untuk Mba Yu yang cukup membuat kekalutan dan ketakutan gua hilang barang sejenak.

Dan kini kami semua harus menghadapi kenyataan yang sebenarnya...
Diubah oleh glitch.7 08-06-2018 02:52
fatqurr
kifif
oktavp
oktavp dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.