- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
bunbun.orenz
#6024
Von Hier Wegfliegen
Teils Zwei - Anfang
Quote:
*
*
*
*
*
Gua mengemudikan mobil dengan hati-hati ketika sampai di depan sebuah instalasi gawat darurat salah satu rumah sakit. Kemudian dengan cepat turun dari mobil dan meminta tolong kepada petugas rumah sakit untuk membawa istri gua.
Istri gua yang sudah tidak sadarkan diri itu dipindahkan ke atas ranjang beroda oleh beberapa perawat. Lalu gua mengikuti mereka masuk kedalam ruang igd.
Dalam keadaan panik tersebut gua menghubungi Ibu dan Mamah mertua. Setelah itu gua menunggu tim medis menangani istri tercinta.
Gua berdiri di depan igd dengan perasaan khawatir dan cemas. Tidak henti-hentinya gua membaca istigfar dan memohon pertolongan dari ALLAH SWT di dalam hati.
Gua sedikit terkejut saat seorang perawat mencolek bahu kiri gua.
"Mas maaf. Sebaiknya anda membersihkan darah yang ada ditangan anda itu...", ucap sang perawat melirik kedua tangan gua.
"Oh iya, Mba. Makasih...".
Gua berjalan cepat menuju toilet lalu mencuci tangan di wastafel. Tapi darah yang mulai mengering itu tidak bisa sepenuhnya hilang. Gua menatap kedua telapak tangan serta kemeja biru yang gua kenakan. Lambat laun airmata gua menetes sedikit. Gua menahan nafas sejenak sebelum akhirnya membasuh wajah dengan air.
Noda darah yang tidak bisa hilang dari kemeja bagian perut gua biarkan hingga mengering. Lalu gua kembali ke depan ruang igd. Tanpa permisi gua masuk kedalam.
"Saya suaminya Vera, perempuan yang sedang kalian tangani", ucap gua sebelum seorang suster maju dan bertanya.
Seorang dokter yang sedang memeriksa istri gua mendekat. "Mas, istri anda harus segera dioperasi", ucapnya.
"Terserah dokter, apapun itu saya setuju asalkan istri saya bisa selamat".
Gua benar-benar panik, khawatir, cemas dan sudah pasti takut. Tapi gua berusaha tenang dalam situasi seperti ini.
Sebelum istri gua dibawa ke ruang operasi, gua mendekatinya dan membaca surat Al-Fatihah. Kemudian gua memohon kepada ALLAH SWT.
"Ya ALLAH Ya Tuhan ku. Berikanlah kesembuhan kepada istriku. Angkatlah penyakitnya dan jadikanlah sakit yang ia derita sebagai pelebur dosa-dosanya. Ya ALLAH yang Maha Pengasih. Jika Engkau memberikannya kesempatan untuk kembali berkumpul bersama kami keluarganya, aku berjanji akan menjaganya sampai Engkau memanggil ku pulang.
Setelah itu istri gua dibawa ke ruang operasi. Tidak lama Ibu bersama Bapak dan Mamah mertua gua datang.
Saat gua akan bercerita tentang kejadian apa yang menimpa Vera. Seorang lelaki datang dan langsung mendekati gua.
"Mas Eza ?", tanyanya.
"Ya. Siapa ?", tanya gua balik.
"Saya Rifki, Mas".
Emosi gua sudah tidak bisa dikendalikan ketika mendengar namanya.
Buagh!!!Satu pukulan telak mendarat tepat mengenai dagunya.
Rifki terjungkal kebelakang dan sebelum dia sempat berdiri, gua langsung menendang dadanya. Kemudian gua duduk diatasnya dan dengan gelap mata gua menghantam wajahnya berulang-ulang sampai beberapa orang menarik gua dengan paksa.
"Bang*sat!!! Sini Lu an*jing!!", teriak gua dengan emosi.
Rifki dibantu oleh dua orang satpam rumah sakit. Bapak menahan gua dari samping dan Ibu memeluk gua dari belakang sambil mengucap istigfar kepada gua. Beberapa orang lainnya berada ditengah untuk melerai kami.
"Ma..maaf, Mas! Demi ALLAH saya gak tau apa-apa, Mas!", ucap Rifki sambil membersihkan darah yang terus mengalir dari hidungnya.
"Semuanya gara-gara Lu bang*sat! Keluar Lu! Kita selesain di luar!".
"Udah Za udah.. Istigfar ya Allah!", ucap Ibu. "Sabar, Za sabar dulu. Ini ada apa, Za ?", tanya Bapak.
"Dia Pak yang udah buat Vera ketimpa kaca!", jawab gua penuh emosi.
Kaca ? Tau pintu kaca frameless kantoran yang besar ? Bayangkan sendiri beratnya dan gimana jika ketimpa benda tersebut ?.
Istri gua yang sudah tidak sadarkan diri itu dipindahkan ke atas ranjang beroda oleh beberapa perawat. Lalu gua mengikuti mereka masuk kedalam ruang igd.
Dalam keadaan panik tersebut gua menghubungi Ibu dan Mamah mertua. Setelah itu gua menunggu tim medis menangani istri tercinta.
Gua berdiri di depan igd dengan perasaan khawatir dan cemas. Tidak henti-hentinya gua membaca istigfar dan memohon pertolongan dari ALLAH SWT di dalam hati.
Gua sedikit terkejut saat seorang perawat mencolek bahu kiri gua.
"Mas maaf. Sebaiknya anda membersihkan darah yang ada ditangan anda itu...", ucap sang perawat melirik kedua tangan gua.
"Oh iya, Mba. Makasih...".
Gua berjalan cepat menuju toilet lalu mencuci tangan di wastafel. Tapi darah yang mulai mengering itu tidak bisa sepenuhnya hilang. Gua menatap kedua telapak tangan serta kemeja biru yang gua kenakan. Lambat laun airmata gua menetes sedikit. Gua menahan nafas sejenak sebelum akhirnya membasuh wajah dengan air.
Noda darah yang tidak bisa hilang dari kemeja bagian perut gua biarkan hingga mengering. Lalu gua kembali ke depan ruang igd. Tanpa permisi gua masuk kedalam.
"Saya suaminya Vera, perempuan yang sedang kalian tangani", ucap gua sebelum seorang suster maju dan bertanya.
Seorang dokter yang sedang memeriksa istri gua mendekat. "Mas, istri anda harus segera dioperasi", ucapnya.
"Terserah dokter, apapun itu saya setuju asalkan istri saya bisa selamat".
Gua benar-benar panik, khawatir, cemas dan sudah pasti takut. Tapi gua berusaha tenang dalam situasi seperti ini.
Sebelum istri gua dibawa ke ruang operasi, gua mendekatinya dan membaca surat Al-Fatihah. Kemudian gua memohon kepada ALLAH SWT.
"Ya ALLAH Ya Tuhan ku. Berikanlah kesembuhan kepada istriku. Angkatlah penyakitnya dan jadikanlah sakit yang ia derita sebagai pelebur dosa-dosanya. Ya ALLAH yang Maha Pengasih. Jika Engkau memberikannya kesempatan untuk kembali berkumpul bersama kami keluarganya, aku berjanji akan menjaganya sampai Engkau memanggil ku pulang.
Setelah itu istri gua dibawa ke ruang operasi. Tidak lama Ibu bersama Bapak dan Mamah mertua gua datang.
Saat gua akan bercerita tentang kejadian apa yang menimpa Vera. Seorang lelaki datang dan langsung mendekati gua.
"Mas Eza ?", tanyanya.
"Ya. Siapa ?", tanya gua balik.
"Saya Rifki, Mas".
Emosi gua sudah tidak bisa dikendalikan ketika mendengar namanya.
Buagh!!!Satu pukulan telak mendarat tepat mengenai dagunya.
Rifki terjungkal kebelakang dan sebelum dia sempat berdiri, gua langsung menendang dadanya. Kemudian gua duduk diatasnya dan dengan gelap mata gua menghantam wajahnya berulang-ulang sampai beberapa orang menarik gua dengan paksa.
"Bang*sat!!! Sini Lu an*jing!!", teriak gua dengan emosi.
Rifki dibantu oleh dua orang satpam rumah sakit. Bapak menahan gua dari samping dan Ibu memeluk gua dari belakang sambil mengucap istigfar kepada gua. Beberapa orang lainnya berada ditengah untuk melerai kami.
"Ma..maaf, Mas! Demi ALLAH saya gak tau apa-apa, Mas!", ucap Rifki sambil membersihkan darah yang terus mengalir dari hidungnya.
"Semuanya gara-gara Lu bang*sat! Keluar Lu! Kita selesain di luar!".
"Udah Za udah.. Istigfar ya Allah!", ucap Ibu. "Sabar, Za sabar dulu. Ini ada apa, Za ?", tanya Bapak.
"Dia Pak yang udah buat Vera ketimpa kaca!", jawab gua penuh emosi.
Kaca ? Tau pintu kaca frameless kantoran yang besar ? Bayangkan sendiri beratnya dan gimana jika ketimpa benda tersebut ?.
dany.agus memberi reputasi
1

