- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#5816
Side Story
V.F.A
Gua baru saja memarkirkan mobil di halaman depan ketika disaat yang bersamaan Bunbun keluar dari dalam rumah bersama Orenz.
"Ayaaaahh...", teriak Orenz ketika gua keluar dari mobil.
"Haloo, assalamualaikum.. Salam dulu dong", ucap gua saat dia berlari menghampiri.
Orenz pun mencium tangan gua. "Walaikumcalam! Ayah Ayah... Olenz mo ke lumah cakit...", ucapnya antusias dan terburu-buru.
"Heh ? Ngapain ?", tanya gua kepada Bunbun yang sudah berdiri di belakang Orenz.
"Itu *** masuk rumah sakit katanya, udah pembukaan lima", jawab Bunbun.
"Loch kok gak da yang ngabarin aku ?".
"Aku aja baru dikabarin tadi, aku whatsapp kamu tapi belum di read", jawab Bunbun lagi.
"Aku lagi di jalan tadi, makanya belom cek hape, yaudah aku ikut, berangkat sekarang ?", tanya gua lagi.
"Yaudah langsung aja..", jawab Bunbun.
"Maaf Bun, jadinya mau dianter atau gimana ?", tanya Pak Yanto yang memang daritadi berada di dekat kami.
"Oh enggak usah deh Pak, jaga rumah aja ya, biar Ayahnya aja yang bawa mobil..", jawab Bunbun sebelum masuk kedalam mobil sedan merah milik almh. Echa yang selalu gua pakai untuk bekerja.
"Olenz mo duduk depan cendili...", ucap Orenz sambil mencoba membuka pintu depan.
"Iya-iya sabar ya, sini Ayah bukain..", gua pun membuka pintu mobil untuk Orenz.
Bunbun duduk dibangku belakang, gua masuk ke bangku kemudi dan memasangkan seat-belt untuk Orenz yang duduk di samping gua.
Sebelum ke rumah sakit, Bunbun meminta gua untuk mampir dulu ke sebuah toko kue dan buah. Setelah membeli bingkisan akhirnya kami sampai tepat saat adzan maghrib berkumandang di rumah sakit.
Sesampainya kami bertiga di sebuah kamar tempat rawat inap ternyata sudah cukup banyak sanak keluarga yang sudah datang.
"Eh, Mba nyampe duluan ?", tanya Bunbun kepada seorang wanita berhijab yang berdiri di dekat ranjang pasien.
"Iya, jalanan tumben gak macet, Bun..", jawab wanita tersebut.
Orenz yang sedang gua gendong menyalami semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Capee tau calam teluuss..", keluh si blaem setelah beres menyalami sekitar enam orang.
Kami yang mendengar ocehannya tertawa, kemudian pipinya dicubit manja oleh adik gua yang memang sudah datang daritadi.
"Loch, ama Mamah belum ? Hayoo..", ucap seorang wanita berketurunan Jawa yang berada di dekat Bunbun.
"Eh iiiya yaa..", ucap Orenz sambil berjalan mendekati wanita itu dan mencium tangannya.
Kemudian wanita itu berjongkok dihadapan Orenz, lalu mencium pipi kanan-kiri, kening dan mata Orenz.
"Aaaa... Bauu ihh..", keluh Orenz sambil mengelap pipinya dengan ujung jaket yang ia kenakan dan memasang tampang bete.
"Idih! Enak aja ni anak! Enggak yaaa.. Mamah udah mandi tauu! Tuh Ayah kamu yang belom mandi ma, pulang kerja si Ayah bau acem...", jawab wanita tersebut.
Orenz masih bete dan terus mengelap pipinya itu. Kelakuannya membuat wanita sebelumnya malah geregetan ingin mencium Orenz lagi. Tapi Orenz buru-buru berlari kesamping dan membenamkan wajahnya diantara kedua kaki Bundanya.
"Iih siniii.. Mamah belom puas nyiumin adee ah!".
"Enggaaaa... Engga maooo!", teriak Orenz yang masih membenamkan wajah itu.
"Susah, Mba. Turunan sih..", ucap Bunbun sambil melirik kearah gua yang sudah cengar-cengir.
"Jangankan orang lain, Mba. Aku ama Bunbun aja dibilang bau kalo nyium tu bocah...", timpal gua.
"Masa sih ? Emang jijian dia ?", tanyanya sambil berdiri.
"Bukan jijian, dia emang gak suka dicium sama orang, apalagi kalo basah. Sama tuh kayak Ayahnya...", jawab Bunbun kali ini.
Orenz akhirnya digendong oleh Gua. Lalu dia menengok kepada wanita yang belum puas menciuminya barusan.
"Mamah Mamah... Kak Nabil manaa ?", tanya Orenz.
"Kak Nabil ada di luar sayang. Yuk Mamah gendong, kita ke Kak Nabil", ajak wanita yang dipanggil Mamah tersebut.
"Enggaaa.. Maunya cama Ayah..", jawab Orenz yang ingin tetap di gendong oleh Gua.
"Nabil ikut ? Kok gak ada tadi didepan, Mba ?", tanya gua yang memang tidak melihat Nabil di depan pintu kamar tadi.
Dia malah mengedipkan matanya kepada gua, memberikan kode kalau nyatanya sedang berbohong.
"Diih..", sungut gua pelan sambil menggelengkan kepala.
"Yu yu sayang ke Kak Nabil, Kak Nabil lagi beli cokelat di kantin, tar Orenz Mamah beliin cokelat juga... Mau gak ?", ajaknya lagi kepada Orenz.
"Olenz ma kindel joy cukanya!", jawab Orenz dengan wajah khas teungilnya.
*Gua agak sulit menjelaskan gaya bahasa tubuh Orenz yang sedang teungil, bayangin aja kalo anak kecil masang muka sok tau sambil ngangkat dagunya, ya kurang lebih begitulah kelakuannya barusan.
"Iya kinder Joy deh, ada di kantin, hayu atuh Mamah gendong, yu...", ajak wanita yang dipanggil Mamah itu sambil merentangkan tangannya untuk menggendong Orenz.
Akhirnya Orenz mau juga ikut oleh wanita tersebut, dengan rayuan susah payah tentunya.
"Ade gak boleh nakal ya sama Mamahnya Kak Nabil", ucap Bunbun mengingatkan yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Orenz. "Mba, Orenz jangan dibeliin es krim ya, baru sembuh, kemaren kena pilek dia", lanjut Bunbun kepada wanita yang sedang menggendong Orenz itu.
"Okey...", jawab Mamahnya Nabil sambil tersenyum.
Setelah mereka berdua keluar kamar ini. Gua menengok kepada Adik gua.
"Heh, kagak salam lu ama gua ?", tanya Gua.
"Eh iya, lupaaa.. Maaf maaf... Hihihi", jawab Risya sambil menghampiri gua lalu mencium tangan kanan ini.
Kemudian gua melirik lagi kepada seorang wanita berhijab yang pada saat kami masuk ditanya oleh Bunbun.
"Kamu juga...", sindir gua pura-pura ketus.
"Eh, masa ? Udah ih.. Udah tau, tadi kan sebelum Orenz cium tangan aku, aku salamin kamu dulu..", jawabnya.
"Oh ya ? Kagak ah kayaknya...", jawab gua.
"Pikun! udah tua kamu", teriak wanita yang sedang berbaring diatas ranjang rumah sakit.
"Leeh ini ya yang mau lahiran malah emosian, sabar Bumiiilll...", jawab gua seraya berjalan mendekatinya.
Kemudian Gua berdiri diantara Bunbun dan Risya.
"Do'a in dong akunya, udah gereget ini anak mau keluar..", jawab Bumil.
"Iya, di do'a in biar prosesnya lancar, pada selamet semua ya..", ucap gua mendo'a kan kesalamatannya. "Deg-degan ya Bos ?", tanya gua kali ini kepada lelaki yang berdiri dan berada di sisi lain ranjang.
"Hah ? Oh hahaha.. Lumayan, Za.. Dag dig dug sih pasti, cuma ya saya serahin ke Allah SWT untuk keselamatan mereka berdua", jawab lelaki yang memang suami dari wanita yang sedang hamil itu.
"Aamiin, insya Allah, Lang", ucap gua lagi mengamini do'a nya.
"Aamiin, makasih udah dateng juga ya Za sekeluarga.. Jadi banyak yang nemenin", timpalnya lagi.
"Santai, kita semua kan keluarga, Lang", balas gua.
"Oh ya, Mba gak jadi kesana ?", tanya Bunbun kepada wanita berhijab.
"Enggak, Bun. Pas kamu ngasih kabar tadi, aku belum masuk tol, jadi langsung kesini aja...", ucap wanita berhijab.
"Loch emang Mba *** mau kemana ?", tanya Galang menengok ke sisi kanannya.
"Ke ******, nengok itunya tuuuuhh..", jawab wanita berhijab seraya melirik Bunbun.
"Iih... Ngeledek mulu kamu ma, Mba..", ucap Bunbun setelah digodain oleh wanita tersebut.
"Ooooh... Hahahaa.. By the waymaaf bukannya saya pengen tau nih, tapi cuma kepo sedikit...", ucap Galang.
"Yee sama aja itu namanya, Pah!", sungut istrinya yang masih berbaring, lalu mencubit lengan suaminya itu.
"Widih panggilannya Papah-Mamah nih ?", tanya gua mengintrupsi.
"Iya dong.. Weee..", istrinya ngeselin emang, lagi mau lahiran masih aja kelakuannya absurd.
"Kenapa tadi, Lang ? Mau nanya apa ?", tanya wanita berhijab yang berada di sisi kanan Galang.
"Itu.. Mmm.. Gak enak sih sebenernya mau nanyanya.. Hehehe".
"Kasih kucing aja kalo gak enak ma", jawab wanita berhijab lagi menahan kesabarannya.
Kami yang mendengarnya jadi ngakak. Ngeselin emang mau nanya aja pake gak enak segala suami mu tuh.. Hadeuh...
"Emangnya masih... ehm, perang dingin gitu ? Bukannya kata istri ku da baikkan lama kan ?.. Mmm.. Maaf loch ya, saya cuma pingin denger langsung aja", ucap Galang dengan hati-hati.
"Oooohh soal ituuuu...", gua sedikit meninggikan suara sambil menaikkan dagu. "Kalo soal itu maaa... Silahkeun tanya sama orangnya langsung", lanjut gua seraya melirik Bunbun. "Mangga neng dijawab", gua cengar-cengir.
"Hahaha.. Aku gak ikutan, mau nyusulin Orenz ke kantin ya, daaah...", ucap wanita berhijab sambil mulai berjalan kearah pintu kamar.
"Ikuuuttt..", teriak gua sambil melangkahkan kaki.
"Heh! Mau kemana kamu! Diem sini!".
Sialan, kerah kemeja gua ditahan Bunbun....
"Pasung aja pasung biar gak kelayapan, Kak", timpal Risya.
"Rese lu...", jawab gua melirik kearahnya.
"Enggak kok, Lang.. Udah lupa masalah itu ma, alhamdulilah udah gak ada apa-apa sekarang..", jawab Bunbun tenang.
"Ooh syukur kalo gitu, Bun. Seneng dengernya, biar silaturahminya makin baik", ucap Galang sambil tersenyum.
"Aamiin, Aamiin..", jawab Bunbun mengamini ucapan Galang.
Lalu gua dan Bunbun duduk di sofa dekat jendela kamar rawat inap yang berada di lantai empat ini.
Skip punya skip.... Akhirnya waktu yang di nanti tiba, wanita yang sedang hamil sebelumnya itu alhamdulillah telah melahirkan dengan normal dan selamat bersama anak pertamanya setelah melewati proses persalinan selama kurang lebih satu jam di dalam ruang persalinan.
Bayi cantik nan lucu itu pun sudah di adzankan oleh Papahnya.
"Namanya siapa, Lang ?".
"Valerina F.A", jawab Galang yang kini resmi menyandang gelar Bapak.
Gua sedikit terkejut. Kemudian gua melirik kepada wanita yang gua cintai.
"Loch kok ?", gua masih enggak percaya.
"Tanyain langsung sama Mamahnya Valerina, Za.. Jangan tanya ke saya", ucap Galang seraya menahan tawa.
"Kamu tau soal ini ?", tanya gua kepada Bunbun.
"Tau doooong... Hehehe", jawab Bunbun sambil terkekeh.
"Wah konspirasi ini ma... What the kamsud nih ?", tanya gua lagi yang makin bingung.
"Kan tadi saya udah bilang, Za... Tanya istri ku sana.. Udah boleh masuk tuh, sana tanyain daripada mati penasaran... Hahaha..", jawab Galang lagi sambil tertawa.
"Kampret lu da bisa bercanda ye sekarang...", sungut gua sebelum menemui istrinya di ruang rawat inap lagi.
Kebetulan, saat gua masuk, Risya dan wanita berhijab sebelumnya hendak keluar kamar. Jadi otomatis sekarang tinggal gua, wanita yang baru melahirkan tentunya dan sang Mamah yang sedang duduk di sofa, agak jauh dari ranjang pasien.
Gua menarik kursi lipat dan mendekati wanita yang baru melahirkan tadi.
"Hey, selamet ya.. Cantik anak mu...", ucap gua pelan.
"Alhamdulilah, iya makasih ya..", jawabnya dengan suara parau dan wajah yang sedikit pucat namun masih tersenyum.
¬¬¬¬Edited¬¬¬
"Ayaaaahh...", teriak Orenz ketika gua keluar dari mobil.
"Haloo, assalamualaikum.. Salam dulu dong", ucap gua saat dia berlari menghampiri.
Orenz pun mencium tangan gua. "Walaikumcalam! Ayah Ayah... Olenz mo ke lumah cakit...", ucapnya antusias dan terburu-buru.
"Heh ? Ngapain ?", tanya gua kepada Bunbun yang sudah berdiri di belakang Orenz.
"Itu *** masuk rumah sakit katanya, udah pembukaan lima", jawab Bunbun.
"Loch kok gak da yang ngabarin aku ?".
"Aku aja baru dikabarin tadi, aku whatsapp kamu tapi belum di read", jawab Bunbun lagi.
"Aku lagi di jalan tadi, makanya belom cek hape, yaudah aku ikut, berangkat sekarang ?", tanya gua lagi.
"Yaudah langsung aja..", jawab Bunbun.
"Maaf Bun, jadinya mau dianter atau gimana ?", tanya Pak Yanto yang memang daritadi berada di dekat kami.
"Oh enggak usah deh Pak, jaga rumah aja ya, biar Ayahnya aja yang bawa mobil..", jawab Bunbun sebelum masuk kedalam mobil sedan merah milik almh. Echa yang selalu gua pakai untuk bekerja.
"Olenz mo duduk depan cendili...", ucap Orenz sambil mencoba membuka pintu depan.
"Iya-iya sabar ya, sini Ayah bukain..", gua pun membuka pintu mobil untuk Orenz.
Bunbun duduk dibangku belakang, gua masuk ke bangku kemudi dan memasangkan seat-belt untuk Orenz yang duduk di samping gua.
Sebelum ke rumah sakit, Bunbun meminta gua untuk mampir dulu ke sebuah toko kue dan buah. Setelah membeli bingkisan akhirnya kami sampai tepat saat adzan maghrib berkumandang di rumah sakit.
Sesampainya kami bertiga di sebuah kamar tempat rawat inap ternyata sudah cukup banyak sanak keluarga yang sudah datang.
"Eh, Mba nyampe duluan ?", tanya Bunbun kepada seorang wanita berhijab yang berdiri di dekat ranjang pasien.
"Iya, jalanan tumben gak macet, Bun..", jawab wanita tersebut.
Orenz yang sedang gua gendong menyalami semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Capee tau calam teluuss..", keluh si blaem setelah beres menyalami sekitar enam orang.
Kami yang mendengar ocehannya tertawa, kemudian pipinya dicubit manja oleh adik gua yang memang sudah datang daritadi.
"Loch, ama Mamah belum ? Hayoo..", ucap seorang wanita berketurunan Jawa yang berada di dekat Bunbun.
"Eh iiiya yaa..", ucap Orenz sambil berjalan mendekati wanita itu dan mencium tangannya.
Kemudian wanita itu berjongkok dihadapan Orenz, lalu mencium pipi kanan-kiri, kening dan mata Orenz.
"Aaaa... Bauu ihh..", keluh Orenz sambil mengelap pipinya dengan ujung jaket yang ia kenakan dan memasang tampang bete.
"Idih! Enak aja ni anak! Enggak yaaa.. Mamah udah mandi tauu! Tuh Ayah kamu yang belom mandi ma, pulang kerja si Ayah bau acem...", jawab wanita tersebut.
Orenz masih bete dan terus mengelap pipinya itu. Kelakuannya membuat wanita sebelumnya malah geregetan ingin mencium Orenz lagi. Tapi Orenz buru-buru berlari kesamping dan membenamkan wajahnya diantara kedua kaki Bundanya.
"Iih siniii.. Mamah belom puas nyiumin adee ah!".
"Enggaaaa... Engga maooo!", teriak Orenz yang masih membenamkan wajah itu.
"Susah, Mba. Turunan sih..", ucap Bunbun sambil melirik kearah gua yang sudah cengar-cengir.
"Jangankan orang lain, Mba. Aku ama Bunbun aja dibilang bau kalo nyium tu bocah...", timpal gua.
"Masa sih ? Emang jijian dia ?", tanyanya sambil berdiri.
"Bukan jijian, dia emang gak suka dicium sama orang, apalagi kalo basah. Sama tuh kayak Ayahnya...", jawab Bunbun kali ini.
Orenz akhirnya digendong oleh Gua. Lalu dia menengok kepada wanita yang belum puas menciuminya barusan.
"Mamah Mamah... Kak Nabil manaa ?", tanya Orenz.
"Kak Nabil ada di luar sayang. Yuk Mamah gendong, kita ke Kak Nabil", ajak wanita yang dipanggil Mamah tersebut.
"Enggaaa.. Maunya cama Ayah..", jawab Orenz yang ingin tetap di gendong oleh Gua.
"Nabil ikut ? Kok gak ada tadi didepan, Mba ?", tanya gua yang memang tidak melihat Nabil di depan pintu kamar tadi.
Dia malah mengedipkan matanya kepada gua, memberikan kode kalau nyatanya sedang berbohong.
"Diih..", sungut gua pelan sambil menggelengkan kepala.
"Yu yu sayang ke Kak Nabil, Kak Nabil lagi beli cokelat di kantin, tar Orenz Mamah beliin cokelat juga... Mau gak ?", ajaknya lagi kepada Orenz.
"Olenz ma kindel joy cukanya!", jawab Orenz dengan wajah khas teungilnya.
*Gua agak sulit menjelaskan gaya bahasa tubuh Orenz yang sedang teungil, bayangin aja kalo anak kecil masang muka sok tau sambil ngangkat dagunya, ya kurang lebih begitulah kelakuannya barusan.
"Iya kinder Joy deh, ada di kantin, hayu atuh Mamah gendong, yu...", ajak wanita yang dipanggil Mamah itu sambil merentangkan tangannya untuk menggendong Orenz.
Akhirnya Orenz mau juga ikut oleh wanita tersebut, dengan rayuan susah payah tentunya.
"Ade gak boleh nakal ya sama Mamahnya Kak Nabil", ucap Bunbun mengingatkan yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Orenz. "Mba, Orenz jangan dibeliin es krim ya, baru sembuh, kemaren kena pilek dia", lanjut Bunbun kepada wanita yang sedang menggendong Orenz itu.
"Okey...", jawab Mamahnya Nabil sambil tersenyum.
Setelah mereka berdua keluar kamar ini. Gua menengok kepada Adik gua.
"Heh, kagak salam lu ama gua ?", tanya Gua.
"Eh iya, lupaaa.. Maaf maaf... Hihihi", jawab Risya sambil menghampiri gua lalu mencium tangan kanan ini.
Kemudian gua melirik lagi kepada seorang wanita berhijab yang pada saat kami masuk ditanya oleh Bunbun.
"Kamu juga...", sindir gua pura-pura ketus.
"Eh, masa ? Udah ih.. Udah tau, tadi kan sebelum Orenz cium tangan aku, aku salamin kamu dulu..", jawabnya.
"Oh ya ? Kagak ah kayaknya...", jawab gua.
"Pikun! udah tua kamu", teriak wanita yang sedang berbaring diatas ranjang rumah sakit.
"Leeh ini ya yang mau lahiran malah emosian, sabar Bumiiilll...", jawab gua seraya berjalan mendekatinya.
Kemudian Gua berdiri diantara Bunbun dan Risya.
"Do'a in dong akunya, udah gereget ini anak mau keluar..", jawab Bumil.
"Iya, di do'a in biar prosesnya lancar, pada selamet semua ya..", ucap gua mendo'a kan kesalamatannya. "Deg-degan ya Bos ?", tanya gua kali ini kepada lelaki yang berdiri dan berada di sisi lain ranjang.
"Hah ? Oh hahaha.. Lumayan, Za.. Dag dig dug sih pasti, cuma ya saya serahin ke Allah SWT untuk keselamatan mereka berdua", jawab lelaki yang memang suami dari wanita yang sedang hamil itu.
"Aamiin, insya Allah, Lang", ucap gua lagi mengamini do'a nya.
"Aamiin, makasih udah dateng juga ya Za sekeluarga.. Jadi banyak yang nemenin", timpalnya lagi.
"Santai, kita semua kan keluarga, Lang", balas gua.
"Oh ya, Mba gak jadi kesana ?", tanya Bunbun kepada wanita berhijab.
"Enggak, Bun. Pas kamu ngasih kabar tadi, aku belum masuk tol, jadi langsung kesini aja...", ucap wanita berhijab.
"Loch emang Mba *** mau kemana ?", tanya Galang menengok ke sisi kanannya.
"Ke ******, nengok itunya tuuuuhh..", jawab wanita berhijab seraya melirik Bunbun.
"Iih... Ngeledek mulu kamu ma, Mba..", ucap Bunbun setelah digodain oleh wanita tersebut.
"Ooooh... Hahahaa.. By the waymaaf bukannya saya pengen tau nih, tapi cuma kepo sedikit...", ucap Galang.
"Yee sama aja itu namanya, Pah!", sungut istrinya yang masih berbaring, lalu mencubit lengan suaminya itu.
"Widih panggilannya Papah-Mamah nih ?", tanya gua mengintrupsi.
"Iya dong.. Weee..", istrinya ngeselin emang, lagi mau lahiran masih aja kelakuannya absurd.
"Kenapa tadi, Lang ? Mau nanya apa ?", tanya wanita berhijab yang berada di sisi kanan Galang.
"Itu.. Mmm.. Gak enak sih sebenernya mau nanyanya.. Hehehe".
"Kasih kucing aja kalo gak enak ma", jawab wanita berhijab lagi menahan kesabarannya.
Kami yang mendengarnya jadi ngakak. Ngeselin emang mau nanya aja pake gak enak segala suami mu tuh.. Hadeuh...
"Emangnya masih... ehm, perang dingin gitu ? Bukannya kata istri ku da baikkan lama kan ?.. Mmm.. Maaf loch ya, saya cuma pingin denger langsung aja", ucap Galang dengan hati-hati.
"Oooohh soal ituuuu...", gua sedikit meninggikan suara sambil menaikkan dagu. "Kalo soal itu maaa... Silahkeun tanya sama orangnya langsung", lanjut gua seraya melirik Bunbun. "Mangga neng dijawab", gua cengar-cengir.
"Hahaha.. Aku gak ikutan, mau nyusulin Orenz ke kantin ya, daaah...", ucap wanita berhijab sambil mulai berjalan kearah pintu kamar.
"Ikuuuttt..", teriak gua sambil melangkahkan kaki.
"Heh! Mau kemana kamu! Diem sini!".
Sialan, kerah kemeja gua ditahan Bunbun....

"Pasung aja pasung biar gak kelayapan, Kak", timpal Risya.
"Rese lu...", jawab gua melirik kearahnya.
"Enggak kok, Lang.. Udah lupa masalah itu ma, alhamdulilah udah gak ada apa-apa sekarang..", jawab Bunbun tenang.
"Ooh syukur kalo gitu, Bun. Seneng dengernya, biar silaturahminya makin baik", ucap Galang sambil tersenyum.
"Aamiin, Aamiin..", jawab Bunbun mengamini ucapan Galang.
Lalu gua dan Bunbun duduk di sofa dekat jendela kamar rawat inap yang berada di lantai empat ini.
Skip punya skip.... Akhirnya waktu yang di nanti tiba, wanita yang sedang hamil sebelumnya itu alhamdulillah telah melahirkan dengan normal dan selamat bersama anak pertamanya setelah melewati proses persalinan selama kurang lebih satu jam di dalam ruang persalinan.
Bayi cantik nan lucu itu pun sudah di adzankan oleh Papahnya.
"Namanya siapa, Lang ?".
"Valerina F.A", jawab Galang yang kini resmi menyandang gelar Bapak.
Gua sedikit terkejut. Kemudian gua melirik kepada wanita yang gua cintai.
"Loch kok ?", gua masih enggak percaya.
"Tanyain langsung sama Mamahnya Valerina, Za.. Jangan tanya ke saya", ucap Galang seraya menahan tawa.
"Kamu tau soal ini ?", tanya gua kepada Bunbun.
"Tau doooong... Hehehe", jawab Bunbun sambil terkekeh.
"Wah konspirasi ini ma... What the kamsud nih ?", tanya gua lagi yang makin bingung.
"Kan tadi saya udah bilang, Za... Tanya istri ku sana.. Udah boleh masuk tuh, sana tanyain daripada mati penasaran... Hahaha..", jawab Galang lagi sambil tertawa.
"Kampret lu da bisa bercanda ye sekarang...", sungut gua sebelum menemui istrinya di ruang rawat inap lagi.
Kebetulan, saat gua masuk, Risya dan wanita berhijab sebelumnya hendak keluar kamar. Jadi otomatis sekarang tinggal gua, wanita yang baru melahirkan tentunya dan sang Mamah yang sedang duduk di sofa, agak jauh dari ranjang pasien.
Gua menarik kursi lipat dan mendekati wanita yang baru melahirkan tadi.
"Hey, selamet ya.. Cantik anak mu...", ucap gua pelan.
"Alhamdulilah, iya makasih ya..", jawabnya dengan suara parau dan wajah yang sedikit pucat namun masih tersenyum.
¬¬¬¬Edited¬¬¬
Diubah oleh glitch.7 22-03-2018 21:01
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
3

