Kaskus

Story

glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN




Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.


Tak Lagi Sama - Noah


Spoiler for Cover Stories:


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.


Quote:


Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

Masa yang Paling Indah
Credit thanks to Agan njum26

Love in Elegy
Credit thanks to Agan redmoon97


Sonne Mond und Stern
*mulustrasi karakter dalam cerita ini


Quote:

*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
pulaukapokAvatar border
chamelemonAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
AbiEyzaArraAvatar border
AbiEyzaArra
#5340
Vor dem Licht - Das Ende
Menyampaikan amanah dari si om Eza



PART XL


Dakishimeta kokoro no kosumo
atsuku moyase kiseki wo okose
kizutsuita mama ja inai to
chikai atta haruka na ginga

Pegasasu Fantasy sou sa yume dake wa
daremo mo ubaenai kokoro no
tsubasa dakara

Saint Seiya shounen wa minna
Saint Seiya ashita no yuusha oh yeah
Saint Seiya Pegasasu no you ni
Saint seiya ima koso habatake



Pegasus Fantasy - Ost. Saint Seiya


Waktu menunjukkan pukul setengah dua pagi, sudah hampir enam jam terlewati sejak gua dan Kinan mengobrol di kantin rumah sakit. Dan gua sudah tertidur sekitar tiga jam lamanya sebelum pada akhirnya gua dibangunkan oleh Mba Yu sepagi ini.

"Mas.. Shalat dulu", ucap Mba Yu yang sudah duduk di dekat gua.

Gua merentangkan kedua tangan seraya sedikit menguap. Lalu mengerjapkan mata agar pandangan gua terbiasa dengan cahaya lampu di lorong rumah sakit ini.

"Udah jam berapa, Mba ?", tanya gua kepada Mba Yu sambil mengucek mata.

"udah setengah dua, ayo katanya mau shalat tahajud dulu", jawabnya.

Kemudian gua pun bangun dari duduk dan berjalan kearah mushola yang berada di dalam rumah sakit ini. Mba Yu tidak ikut beribadah karena sedang berhalangan.

Selesai bersuci, gua masuki tempat ibadah yang berukuran cukup besar itu, gua sempat melihat ada beberapa orang yang sedang duduk sambil berdzikir dan yang lainnya sedang melaksanakan shalat.

Mungkin mereka semua hampir sama seperti gua, salah satu kerabat dari sekian banyaknya pasien di rumah sakit, yang sedang memohon pertolongan Allah SWT agar saudara, kerabat, teman, atau mungkin pendamping hidup mereka itu diberikan pertolongan oleh Allah SWT, diberi kesembuhan atas penyakit yang sedang diderita, dan pada akhirnya, kami berharap bisa kembali berkumpul seperti saat mereka sehat dahulu.

Gua mencoba berkhusyu' walaupun sulit atas apa yang sedang gua kerjakan. Selesai melaksanakan shalat dua raka'at itu, gua berdo'a kepada Sang Maha Segala-Nya. Memohon kesembuhan untuk Ibu, memohon kelancaran atas apa yang akan gua lewati satu jam kedepan nanti.

Bohong kalau gua mengatakan tidak ada rasa ragu atau takut sedikitpun. Sebenarnya gua cukup ketakutan saat memikirkan apa yang akan terjadi pada tubuh ini dalam hitungan satu jam dari sekarang.

Sekalipun gua pernah di operasi saat dulu terkena serempetantimah panas dari Mba Polcan, tapi rasanya berbeda dengan kali ini, gua rasa saat itu bukanlah operasi besar, karena luka yang gua terima pun tidak terlalu parah. Selain itu kondisi gua memang sudah tidak sadarkan diri, gua siuman setelah semuanya sudah selesai, gua terbangun saat sisi perut gua itu sudah dijahit.

Gua pernah melihat darah beberapa kali, tentunya darah dari manusia, darah yang sengaja dipaksa keluar karena tusukan atau sabetan benda tajam. Oleh orang lain kepada orang lain di depan mata gua sendiri atau pun gua yang melakukannya kepada orang lain. Kenangan yang kelam itu, kenangan yang rasanya membuat gua ingin muntah setiap mengingatnya terjadi saat gua berada di negeri matahari terbit.

Tapi nyatanya sekarang, segala pengalaman yang pernah gua alami itu tidak cukup untuk membuat rasa takut dalam diri ini benar-benar hilang.

Enggak mungkin juga gua harus bersikap out of control seperti saat melakukan hal gila untuk mengusir rasa takut tersebut. Kali ini apa yang akan gua jalani benar-benar melewati prosedur yang legal, yang sebelumnya dengan kesadaran gua sendiri, gua menawarkan diri kepada dokter bedah itu untuk memeriksa kesehatan gua, agar dapat menolong orang yang gua sayangi.

Selesai melaksanakan ibadah sunnah itu, gua kembali ke depan ruang bedah, dimana Mba Yu dan keluarga gua berada.

Masih ada waktu kurang dari satu jam sampai gua nanti benar-benar memasuki ruangan di depan gua itu.

Yang gua lakukan adalah tiada hentinya berdo'a dalam hati, bersama keluarga.

Sampai akhirnya entah kenapa, sebelum apa yang biasa dilakukan orang-orang pada jaman sekarang, gua memilih untuk mendengarkan musik, mungkin selain berdo'a, mendengarkan musik yang kita sukai cukup mampu mengusir rasa takut. Ya, begitulah fikir gua saat itu.

Gua keluarkan blackberry dari saku celana, mendownload secara ilegal sebuah lagu yang ingin gua dengar, lalu mendengarkannya berulang-ulang.

Jemari tangan gua mengetuk-ngetuk pinggiran bangku yang berbahan stainless steel. kepala gua sedikit mengangguk, menikmati lagu dari sepasang headset yang tertancap ke blackberry gua.

Lagu Pegasus Fantasy dari anime Saint Seiya begitu terdengar merdu pada telinga gua. Gua sedang mencoba menenangkan perasaan di dalam hati lewat apa yang sedang gua dengar ini.

Apa yang akan gua lewati sebentar lagi bukanlah hal biasa untuk gua. Rasa takut sudah pasti ada, dan saat ini gua benar-benar sedang berusaha mengikis ketakutan tersebut.


Pegasasu fantasy sou sa yume dake wa
daremo mo ubaenai kokoro no
tsubasa dakara

Saint seiya shounen wa minna
Saint seiya ashita no yuusha oh yeah
Saint seiya Pegasasu no you ni
Saint seiya ima koso habatake


Tidak lama kemudian tim dokter berjalan melewati kami dan masuk kedalam ruangan tersebut, kecuali satu orang, yang gua anggap adalah seorang suster berhenti tepat di depan gua yang duduk diantara Nenek dan Mba Yu.

"Mas Reza ?", tanyanya sopan.

"Iya, Sus..", jawab gua sambil melepaskan satu headset yang terpasang di telinga kanan.

"Ayo Mas masuk kedalam ruangan, sebentar lagi operasinya dimulai", lanjutnya sambil tersenyum.

"Oh oke..", gua pun berdiri sambil mengeluarkan beberapa barang yang berada di pakaian gua, lalu menyerahkannya kepada Nenek.

Dan barang terkahir gua berikan kepada Mba Yu. Saat itu Feri sang suami sudah terlalu lelah mungkin, dia tidur di mobil kata Mba Yu.

Barang terkahir itu adalah blackberry gua, lalu gua memasangkan headset bagian kiri ke telinganya, bagian kanan gua letakkan di tangannya yang sedang terbuka.

Mba Yu mengerenyitkan keningnya, kebingungan dengan tatapan mata yang menyiratkan pertanyaan kepada gua.

Gua tersenyum. "Do'a kan Seiya ya, Mba...", ucap gua.

"Hah ? Saya ?", tanyanya, mungkin terpengaruh lagu dari headset sebelah kiri yang sudah terpasang di telinganya barusan.

Gua terkekeh pelan. "Bukan saya, tapi Seiya...", jawab gua meluruskan. Kemudian gua berjalan mundur beberapa langkah sambil terus memandang mantan terseksi, dan terbaik gua itu.

Gua bersenandung. "Saint seiya shounen wa minna... Saint seiya ashita no yuusha, oh yeah...", gua lantunkan lirik lagu tersebut dengan sedikit menggoyangkan bahu.

Mereka semua tertawa melihat tingkah gua itu. Ya, mereka yang adalah keluarga gua.

Bukan tanpa alasan gua berprilaku sedikit sengklek seperti itu...

Gua tidak tau bagaimana dengan kalian, tapi saat itu, gua seperti berada diantara persimpangan jalan. Persimpangan yang memiliki papan nama jalannya masing-masing. Yang satu bertuliskan dunia, yang satunya bertuliskan akhirat.

Dan atas apa yang akan terjadi saat itu di depan gua... Gua hanya berfikir pendek, bagaimana gua bisa memberikan kesan baik kepada orang-orang yang gua lihat disana, kepada mereka, keluarga gua itu.

Melihat mereka tersenyum tanpa perlu ikut merasakan ketakutan atas apa yang terjadi dengan gua adalah hal terbaik yang ingin gua lihat saat itu.

Ya, seolah-olah saat itu, gua sudah siap jikalau operasi yang akan gua jalani mengalami kegagalan, dan tidak bisa melihat orang yang gua cintai untuk selamanya.

Maka senyum merekalah yang akan gua kenang sebelum semuanya menjadi gelap.

...

Di dalam ruangan, setelah gua berganti pakaian. Suster yang sebelumnya mendekati gua. Mengecek pakaian yang gua kenakan.

"Tenang aja, mudah-mudahan semuanya berjalan lancar, Mas. Tuhan selalu bersama orang yang baik", ucap Suster tersebut setelah mengecek pakaian gua.

Seolah-olah dia tau gua sedang khawatir.

"Oh iya Sus, aamiin..", timpal gua.

"Saya salut, Mas nya mau berkorban untuk sang istri", lanjutnya dengan tersenyum.

Istri ? Siapa ? Oh salah paham ini Suster.

"Oh bukan, Sus.. Dia Ibu saya, kok", jawab gua meluruskan.

"Oh ya ? Saya fikir kalian suami istri, maaf ya, Mas", ucapnya malu.

Mohon dimaklumi... Namanya orang yang sedang khawatir, cemas dan ketakutan, kadang ada aja fikiran sengklek yang terlintas. Mungkin karena gua tidak beristigfar dan berdo'a saat itu. Maka gua pun mengatakan... Ah gua meminta, ya meminta hal ngawur kepada Suster tersebut.

"Sus..".

"Ya ?".

"Kalau operasinya berjalan lancar, dan saya masih hidup... Saya boleh minta sesuatu dari Suster ?", tanya gua.

Dia kebingungan. "Apa ya, Mas ?", tanyanya.

Gua berjalan mendekatinya, lalu berbisik tepat di telinga kanannya.

"Hah ?!", dia tercengang mendengar apa yang gua bisikan sebelumnya.

"Ada apa, Jel ?", tanya salah seorang tim dokter yang berada di dekat kami saat itu.

Mungkin keterkejutan yang dialami Suster tadi membuat rekannya menengok kepada kami berdua.

"Eh, enggak apa-apa kok.. Maaf..", jawabnya kepada rekannya itu.

Kemudian gua tersenyum menatap Suster yang akhirnya gua ketahui memiliki nama Angel.

"Gimana ?", tanya gua.

Dia berfikir sejenak, lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

"Aneh-aneh aja, Mas nya..", ucapnya.

"Ya terus gimana ? Kok gak dijawab ?", cecar gua.

Dia tersenyum lebar kali ini, wajahnya merona merah.

Kemudian percaya enggak percaya, keisengan gua itu dijawabnya dengan anggukan.

"Iya, boleh..", jawabnya pelan.

"Janji ?", tanya gua memastikan.

"Iyaaa..", jawabnya lagi sebelum dia berjalan menjauh untuk mempersiapkan hal lainnya.

Gua terkekeh, lalu menepuk jidat.
'Mau mati aja pesona gua belum luntur ternyata... Kelakuan.. Kelakuan..', sungut gua kepada diri sendiri.

Beberapa menit kemudian, tubuh gua sudah terbaring diatas ranjang yang cukup besar. Lampu khas rumah sakit, ah bukan.. Lampu khusus untuk bedah, ya lampu besar itu tepat berada diatas gua.

Rasa takut dan khawatir yang sebelumnya sempat terkikis sekarang mulai kembali menyeruak.

'Sialan... Eh! Astagfirullah... Maaf, ya Allah...', ucap gua dalam hati.

Tim dokter yang akan melakukan tugasnya saat itu berjumlah lima orang, termasuk Suster Angel yang berada diantara mereka.

Mereka mempersiapkan segala sesuatunya dengan cukup cepat, tapi gua sempat melihat bagaimana salah seorang tim dokter memegang dan menaruh lagi alat bedah yang bentuknya sangat tajam, lalu ada juga bunyi dentingan benda berbahan stainless steelyang saling beradu.

Jantung gua berdegup semakin kencang. Gua ketakutan. Rasanya ingin sekali mengatakan kepada sang dokter... 'Dok, cancel aja ya..'. Tapi gua tau ini sudah terlambat, bisa-bisa gua malah mendengar jawaban. 'Maaf Gan, barang yang sudah di order tidak bisa di cancel...'.

Seorang dokter yang berdiri di sisi kanan gua mendekat, dengan masker yang menutupi mulutnya itu, dia berucap cukup jelas kepada gua.

"Disuntik dulu ya, Mas.. Jangan lupa berdo'a", ucapnya.

Gua mengangguk, lalu seorang lainnya mendekati gua di sisi kiri, sebuah suntikan sudah diangkat di depan wajahnya, dia tekan ujungnya, lalu keluarlah cairan dari ujung jarum suntik tersebut.

Gua menelan ludah sesaat. Kemudian tangan kanan gua memegang tangan dokter yang sebelumnya meminta gua berdo'a.

"Dok.. Dok.. Ini biusnya total kan ya ?", tanya gua khawatir.

Jangan sampai ada kejadian saat proses operasi bedah gua terbangun. Bisa-bisa gua lari keluar ruangan dengan usus yang beredel dari dalem perut.

"Iya... General anestesi kok, Mas. Karena ini termasuk operasi besar seperti yang saya katakan sebelumnya...", jawab sang dokter.

Okey, gua menghela nafas. Memejamkan mata sejenak dan berdo'a untuk yang terkahir kalinya, sebelum kesadaran gua benar-benar hilang ditelan oleh obat bius tersebut....


°°°


Entah berapa lama gua terlelap dan tidak sadar. Sampai akhirnya gua terbangun dalam ruangan yang berbeda, ruangan yang lebih bersih dan rapih dari ruangan yang sebelumnya gua lihat sebelum kehilangan kesadaran.

Suara derap langkah kaki yang berlari di lorong itu terdengar jelas hingga gua membuka mata ini dan mengerjapkannya sejenak. Gua beringsut untuk duduk diatas ranjang yang berada dalam ruangan dengan aroma Novenayang cukup tercium hingga membuat gua menahan nafas sesaat.

Lalu suara pintu yang berada di sisi kiri terbuka dengan suara yang cukup keras. Gua menengok ke arah sana, tersenyum tipis saat dia berlari dan langsung memeluk tubuh ini, airmatanya membasahi baju berwarna biru muda yang gua kenakan. Pelukkannya gua balas dengan mengusap punggungnya.

"Udah.. Aku enggak apa-apa kok", ucap gua dengan suara parau.

"Kamu bakal baik-baik ajakan, Mas...? Iyakan ?", tanyanya dengan suara yang bercampur tangis.

Gua mengangguk dan memegangi kedua sisi wajahnya. "I'm fine... See ? Don't worry, Nyonya...", jawab gua.

"Hiks.. Hiks... Kamu kenapa sampai harus kayak gini sih, Mas..? Ya Allah...", tangisnya semakin menjadi.

Gua peluk dirinya setelah sebelumnya dia melepaskan pelukkan, gua berbisik tepat di telinga kirinya. "Aku mencintai kamu, jangan pernah tinggalin aku ya, Ve.. Dan untuk hal satu ini, aku benar-benar minta maaf.. Maafin aku, Ve karena gak izin dulu sama kamu".

"Aku sayang sama kamu... Aku gak akan ninggalin kamu lagi, gak akan... Gak akan pernah, Mas... Hiks.. Hiks..".

"Terimakasih, Ve... Mmm.. Mba gimana keadannya?", tanya gua lagi.

Nyonya memundurkan wajahnya hingga kami saling bertatapan, dia mengusap airmatanya, lalu tersenyum.

"Alhamdulilah operasinya lancar... Tapi dia masih belum bangun, reaksi obat biusnya masih kuat kata dokter...", jawabnya.

"Alhamdulilah kalo gitu...".

Tidak lama seorang dokter lelaki memasuki ruangan ini beserta seorang perawat. Mereka berdua hanya melakukan pengecekan pada kondisi tubuh gua, dan mengatakan beberapa hal yang tidak terlalu penting hingga istri gua menanyakan hal yang menyangkut kesehatan gua untuk kedepannya.

"Dok, apa suami saya akan sehat ?".

"Insya Allah, Bu.. Insya Allah kondisi Bapak Eza akan pulih dan kembali normal, memang riskan operasi yang dilakukan sebelumnya, tapi hidup dengan satu ginjal bukan berarti kehilangan masa depan, Bu", jawab sang dokter yang sebelumnya gua ingat adalah dokter bedah sebelumnya.

"Mmm, Mas.. Aku mau ngobrol sebentar sama dokter ya", ucap istri gua.

Belum sempat gua menahannya, dia sudah mengajak dokter keluar ruangan.

Sekarang di ruangan ini tinggal gua yang masih terbaring lemah bersama seorang perawat, eh... Bukan, dia Suster Angel yang sebelumnya ikut dalam membantu operasi bedah itu.

Suster Angel meletakkan kertas yang entah berisi apa diatas kedua paha gua. Kemudian mendekat dan berdiri tepat di samping gua.

Cetukk!

"Aduh", gua mengusap kening yang ia sentil barusan.

Matanya tajam dan nampak sedikit emosi.

"Kenapa, Sus ?", tanya gua kebingungan.

"Dasar playboy!", ucapnya dengan mata yang melotot.

"Loch.. Loch... Apaan sih ?", gua kebingungan.

Dia diam lalu berbalik mengambil kertas yang sebelumnya berada diatas paha gua.

"Janjinya batal", lanjutnya tanpa melirik kepada gua.

Kemudian gua teringat apa yang gua bisikkan kepadanya.

"Eh.. Eh tunggu, Sus.. Janji tetap janji, gak boleh ingkar, dosa, Sus... Dosaaa..", ucap gua sedikit berteriak.

Dia acuh dan tetap berjalan menuju pintu diujung sana.

Ah, gagal deh... Keluh gua.

Tapi tunggu, ternyata dia enggak keluar, entah ngapain, hanya membuka pintu dan menengok keluar ruangan lalu buru-buru menutup pintu itu dan kembali berjalan mendekati gua.

Sedetik kemudian... Cupp...

Sedikit basah deh pipi kiri gua.

"Udah tuh ya! Dasar playboy!", sungutnya lalu buru-buru dia berjalan keluar, benar-benar keluar kali ini.

Makasih Angel, udah mau nepatin janji sama Babang Eza....


*
*
*


Satu minggu kemudian gua dan Ibu sudah diperbolehkan pulang. Alhamdulillah kami berdua tidak mengalami hal buruk lainnya. Walaupun kami berdua sama-sama masih butuh melakukan check-up untuk kedepannya, tapi semua ini sudah lebih dari cukup bagi kami semua.

Kami sekeluarga berterimakasih kepada tim dokter yang sudah membantu gua dan Ibu, terutama tentu saja kepada Dia, Sang Maha Kuasa. Terimakasih ya Allah SWT atas do'a ku yang Engkau kabulkan, membuat semuanya kembali seperti sediakala. Terimakasih banyak ya Rabb.

Ada hal lain yang baru gua sadari ketika hari pertama gua tersadar pasca operasi. Yaitu istri gua, ucapannya, panggilannya, kepada gua....

"Ve, kamu manggil aku apa tadi ?", tanya gua saat masih terbaring diatas ranjang ruang rawat.

Dia tersenyum teduh. "Mas.. Aku panggil kamu Mas mulai hari ini, agar aku lebih bisa menghormati kamu dari budaya keluarga ku..", jawabnya seraya mengusap punggung tangan kanan gua.

Gua ikut tersenyum, kemudian gua membelai lembut sisi kepalanya yang terbalut hijab berwarna biru muda.

"Makasih ya sayang.. Semoga mulai detik ini, apa yang akan kita lalui nanti bisa lebih menguatkan rumah tangga ini, aku sayang kamu", ucap gua.

"Insya Allah, Mas.. Semoga ya. Dan aku mau minta maaf juga sama kamu, soal kejadian kemarin itu. Maaf atas sikap kasar aku dan lebih memilih ikutin emosi ku... Aku udah ketemu Mba Sherlin, minta maaf ke dia, ketemu Kinan juga dan... Dan aku percaya sama kamu. Maaf ya sayang..", jelasnya sebelum ia mencium tangan kanan gua dalam-dalam.

Gua senang, akhirnya apa yang gua khawatirkan soal rumah tangga kami bisa kembali berjalan dengan baik, gua bersyukur saat ia mengucapkan kalimat perceraian itu hanyalah emosi sesaat.

"Mas.. Aku ada satu permintaan ke kamu", ucapnya kali ini seraya mengelus-ngelus punggung tangan kanan gua.

"Apa, Ve ?".

"Aku mau, mulai sekarang kamu juga ganti manggil Mba Laras..".

"Maksudnya ganti gimana ?", tanya gua bingung.

Wajahnya lebih mendekat. "Panggil dia Ibu... Karena dia sangat layak untuk kamu panggil Ibu", jawabnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Gua tersenyum lebar, sebelum airmata ini ikut tertumpah, gua raih tengkuknya dan menariknya lembut hingga gua capai keningnya itu dengan bibir ini.

"Makasih sayang, udah ingetin aku soal hal penting satu itu. Makasih, love you so much, Nyonya Agathadera..", ucap gua dengan air yang mengalir pelan dari kedua mata gua.

Dia mengangguk lalu mengusap airmata gua, kemudian ia kecup sesaat bibir gua dengan lembut, dengan perasaan yang dalam, dengan perasaan cinta dan kasih sayang seorang istri kepada suaminya.

"Love you more, Mas.. Love you more...", balasnya.

...
...
...

Quote:




~ Bab Sebelum Cahaya - Tamat ~

- Meine Sonne -

emoticon-Matahari

dany.agus
fatqurr
oktavp
oktavp dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.