- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
jenggalasunyi dan 127 lainnya memberi reputasi
124
1.9M
8.8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#5281
Sebelum Cahaya
PART XXXIX
"Apa-apaan ini ?!!", sentak istri gua yang masih memandangi kami berdua dengan rasa amarahnya.
"Vera.. Tunggu, aku bisa jelasin, Ve..", ucap Mba Yu seraya bangkit dan berjalan menghampiri istri gua itu.
"Aku sama Ez..".
PLAAKK!!
Belum sempat Mba Yu melanjutkan omongannya, dia sudah limbung ke sisi kanan.
Ya, sebuah tamparan tepat mengenai pipi perempuan seksi itu. Gua langsung berjalan mendekati mereka berdua.
"Vera, kamu salah paham.. Apa yang kamu liat barusan enggak seperti yang kamu pikirin, Ve...", ucap Mba Yu sambil memegangi sisi wajahnya yang memerah.
"Ve, biar aku jelasin dulu, Ve..", timpal gua yang berdiri disamping Mba Yu.
"Enggak perlu. Aku udah cukup ngedengerin penjelasan omong kosong kamu itu, Za!", jawabnya. Kemudian istri gua menarik kerah jaket denim Mba Yu.
"Sekarang kamu keluar dari rumah ini!", lanjutnya kepada mantan gua itu, lalu mendorong tubuh Mba Yu sedikit kasar.
Gua terkejut melihat sikap Nona Ukhti yang berubah beringas seperti ini. Belum pernah gua melihatnya semurka tadi, bahkan saat dulu bertengkar dengan Helen.
Tidak butuh waktu lama, Mba Yu pun bergegas keluar dari rumah gua dengan diiringi isak tangisnya. Dia berlari dibawah hujan siang itu dan pergi bersama mobil yang ia kendarai sendiri.
Gua menggelengkan kepala sambil menatap wajah penuh amarah dari perempuan yang masih berdiri dihadapan gua ini.
"Mana Mba Laras ?", tanyanya.
"Dia.. Dia pergi sama Kinan", jawab gua.
"See ? Gak ada siapa-siapa disini, Za! Kecuali kamu sama mantan kamu itu!", sentaknya lagi.
"Vera. Aku tau kamu gak suka dengan apa yang kamu liat tadi, tapi tolong denger dulu penjelasan aku. Ini semua gak seperti yang kamu pikirin, aku sama Sherlin gak ngapa-ngapain..", ucap gua seraya memegang kedua bahunya.
"Gak ngapa-ngapain ?! Dengan muka yang sedekat tadi kamu bilang gak ngapa-ngapain ?! Jangan pikir aku bisa dibohongin terus, Za!", jawabnya seraya menepis kedua tangan gua dari bahunya itu.
"Ve, aku bener-bener gak ngapa-ngapain sama Sherlin, aku cuma meluk dia, dia lagi ada masalah sama Feri..".
"Meluk.. Ciuman.. Terus apa udah itu ? Hah ?! Kalo aku gak dateng mungkin kalian udah tidur dikamar!".
"Vera.. Demi Allah aku gak cium dia. Sama sekali gak ada pikiran kesana.. Kamu tau hari ini ulang tahun Feri ? Dan tadi Sherlin baru cerita kalo..".
"Kalo Feri gak ada dan dia lebih milih ditemenin kamu ?! Udah deh Za, aku udah cukup denger semua omongan kamu. Mulai sekarang kamu gak perlu cari aku lagi! Aku urus perceraian kita secepatnya..", potongnya, lalu dia berjalan keluar rumah.
Gua menahan tangan kirinya.
"Kamu bilang apa tadi ?".
"Lepas! Lepasin aku, Za!", ucapnya sedikit berteriak di teras rumah.
"Ulang... Ulangi lagi, ngomong apa kamu barusan, hah ?!", gua cengkram lengannya kali ini.
Dia meringis menahan sakit pada lengannya. Tidak lama kemudian airmatanya tertumpah.
"Saa.. Kiiitt.. Eza... Hiks.. Hiks... Lepaasss.. Hiks.. Hiks..", pintanya.
"Masuk ke rumah!", sentak gua dengan mata yang memelototinya.
"Aku benciiii.. Kamu!", ucapnya seraya mendorong gua dan berlari kedalam rumah.
Gua menghela nafas dengan kasar. Lalu mengurut kening. Sebelum gua memasuki rumah, suara pagar di depan sana terbuka semakin lebar.
"Mas.. Mmm.. Maaf.. Argonya gimana ya ?", ucap seorang bapak paruh baya dengan sedikit berteriak.
Gua berjalan dan menghampiri si bapak tersebut.
"Berapa, Pak ?", tanya gua.
"Sekian ratus ribu, Pak..", jawabnya sedikit pelan.
Busyet, hampir setengah juta, ucap gua dalam hati.
Setelah membayar ongkos taxi tersebut, gua kembali masuk kedalam rumah sambil membawa tas milik istri gua yang tertinggal di dalam taxi.
...
Gua duduk di ruang tamu sendirian. Membakar sebatang rokok sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi sejam yang lalu.
Istri gua berada di dalam kamar Ibu, dia mengunci pintunya dari dalam. Sedangkan Ibu, Nenek dan Kinanti belum juga pulang dari rumah sakit.
Dua kali gua mencoba menelpon Tante gua tapi belum juga diangkat, gua bbm dan sms pun belum dibalas olehnya. Mungkin mereka masih dijalan, fikir gua.
Setengah jam kemudian, pintu kamar Ibu terbuka, istri gua keluar kamar dan berjalan menghampiri gua yang masih duduk di ruang tamu.
"Aku mau pulang ke rumah Mamah..", ucapnya pelan.
Gua menatap wajahnya yang sendu. Matanya sedikit bengkak akibat menangis.
"Oke", jawab gua singkat.
Di perjalanan menuju Sentul, kami berdua sama sekali tidak mengobrol. Hujan yang belum berhenti diluar sana pun semakin membuat suasana di dalam mobil terasa dingin.
Gua tarik rem tangan tanpa mematikan mesin mobil ketika sudah sampai di depan rumah Mamah mertua.
"Berapa lama kamu disini ?", tanya gua tanpa memandangnya.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Kemudian dia mengambil tas yang berada di jok belakang dari depan.
"Aku gak tau, aku cuma butuh waktu sendiri. Aku gak mau ketemu kamu dulu", jawabnya sebelum dia benar-benar keluar dari mobil dan memasuki rumah di depan sana.
Gua kembali mengendarai mobil menuju rumah, sepanjang perjalanan itu, otak gua tidak bisa berfikir jernih. Akhirnya gua memutuskan untuk pergi ke sebuah cafe.
Hot cappucino yang gua pesan sudah mulai dingin, tanpa gua teguk sedikitpun, berbeda dengan puntung rokok yang sudah mulai menumpuk didalam asbak.
Entah sekarang gua harus bersikap seperti apa menghadapi situasi seperti ini. Mencoba menjelaskan kejadian sebenarnya kepada Nona Ukhti dalam keadaannya yang sedang emosi bukanlah waktu yang tepat.
Sedari tadi gua hanya menaik turunkan keypad pada menu kontak. Gua butuh teman curhat, tapi bingung harus mengontak siapa, beberapa nama teman yang hampir gua hubungi membuat gua berfikir ulang. Ini masalah rumah tangga gua, masalah privasi, gua tidak bisa sembarangan cerita kepada orang lain.
Gua memundurkan tubuh sampai punggung ini menyentuh bahu kursi kayu, lalu menengadahkan kepala menatap kipas angin yang berputar di atas sana. Fikiran gua rasanya ikut berputar sejalan dengan rotasi kipas tersebut. Lama-kelamaan mata gua terpejam, gua mencoba menenangkan fikiran barang sejenak.
Tidak lama kemudian blackberry gua berdering dalam saku jaket. Gua membuka mata dan mengeluarkan smartphone itu, menatap layar yang memunculkan nama kontak dalam panggilan telpon.
Setelah membeli makanan di dekat cafe, gua langsung mengendarai mobil menuju rumah. Setengah jam kemudian gua sudah sampai di rumah.
"Darimana, Za ?", tanya Nenek yang duduk di sofa ruang tamu.
"Abis jalan keluar aja tadi, gimana check-up nya ?", jawab gua lalu menanyakan kondisi Ibu.
Nenek terlihat sedikit murung. "Kamu liat Mba Laras dulu gih di kamarnya...", jawab Nenek.
Gua serahkan makanan kepada Nenek, kemudian berjalan masuk kedalam kamar Ibu. Disana sang adik sedang menyuapi bubur nasi kepada kakaknya. Wajah Ibu sore itu nampak pucat dan terlihat kondisinya cukup lemah. Gua jadi khawatir.
"Mba..".
"Eh, Za.. Darimana sayang ?", tanya Ibu sambil berusaha tersenyum walaupun terlihat jelas dia sedang dalam kondisi yang buruk.
"Ehm, aku abis dari cafe aja tadi sebentar. Gimana hasil check-up hari ini, Mba ?", tanya gua yang berjongkok di dekat kasur.
"Alhamdulilah baik kok, gak ada apa-apa dan gak perlu khawatir, Za..", jawab Ibu sambil tersenyum lemah.
Jawaban yang jelas berbanding terbalik dengan kondisinya saat itu hanya bisa gua tanggapi dengan tersenyum tipis.
Kemudian gua berdiri. "Makan yang banyak, Mba.. Biar cepet sembuh ya", ucap gua yang hanya dijawab dengan anggukan kepalanya.
Kemudian gua berbalik dan menatap Kinanti yang duduk di sisi kasur.
"Kak, nanti tolong buatin aku kopi ya, taro di gazebo belakang aja..", ucap gua seraya memegang bahunya, memberikan dia kode.
Kinan mengerti maksud gua, dia tersenyum. "Iya, Za.. Nanti abis nyuapin Mba Laras ya", jawabnya.
...
Sekitar lima belas menit gua menunggu Tante gua itu di gazebo halaman belakang.
Gua memandangi 'rumah' Echa dan Jingga. Hujan yang mulai berubah menjadi gerimis rintik di sore itu masih terasa dingin. Suasana di halaman belakang rumah itupun membuat fikiran gua kembali mengingat beberapa kenangan bersama perempuan yang selalu gua cintai beberapa tahun kebelakang.
'Cha... Apa kabar kamu disana ?.
Bagaimana kabar Jingga ?.
Baik kah kalian berdua disana ?.
Aku kangen kalian berdua, sayang'.
"Za..".
Lamunan gua buyar tepat saat Tante gua datang dan menaruh secangkir kopi hitam diatas meja gazebo.
"Hey.. Makasih kopinya", ucap gua mengalihkan pandangan dari makam kepada Kinanti.
Kinan duduk disamping gua, memandangi wajah gua sesaat sebelum akhirnya dia tersenyum tipis.
"Kangen Echa ?", tebaknya.
Gua tersenyum lalu mengangguk. "Iya, Kak.. Kangen Jingga juga".
"Kirim do'a, Za".
"Iya".
Beberapa menit kami terdiam, larut dalam lamunan masing-masing, sampai akhirnya Kinanti memulai obrolan kembali.
"Za.. Kamu lagi ada masalah ?", tanyanya.
Gua rasa Kinan menebak dari sikap gua, yang nyatanya memang sedari tadi gua muram.
"Mmm.. Ya aku perlu temen cerita..", jawab gua tanpa menengok kepadanya.
"Aku dengerin, Za..".
Gua menengok kali ini, kemudian gua teguk beberapa kali kopi hitam yang ia buatkan sebelumnya. Dan barulah gua ceritakan apa yang sudah terjadi diantara gua, Nona Ukhti dan juga Mba Yu.
Selama gua menceritakan kejadian siang tadi, Kinanti tidak sekalipun menyela gua, dia mendengarkan dengan baik dengan raut wajah yang cukup serius. Sampai akhirnya gua selesai bercerita permasalahan itu, dia kembali mulai tersenyum.
"Secara gak langsung, kamu nurutin Vera ya, Za..", ucap Kinan tanpa memandang gua.
"Maksudnya, Kak ?", tanya gua.
"Ya, dia milih untuk sendiri kan ? Dan kamu secara gak langsung mengiyakan. Tapi itu gak masalah kok, Za. Perempuan memang wajarnya kayak gitu. Aku kalo ada di posisi Vera juga sama, akan memilih untuk menjauh dan butuh waktu sendiri dulu...", jawabnya sambil tersenyum dan menengok kepada gua kali ini.
"Tapi.. Kamu gak boleh ngebiarin dia terlalu lama jauh dari kamu, kamu harus bisa menjelaskan semuanya ke Vera dengan baik-baik, jangan sampe dia bener-bener menggugat cerai kamu. Mungkin satu minggu juga udah lebih dari cukup untuk Vera menyendiri...", lanjut Kinanti.
"Iya, Kak...", jawab gua singkat. Fikiran gua kembali tertuju kepada istri tercinta yang sedang berada di rumah Mamahnya itu.
"Za, kamu juga perlu ketemu Sherlin. Ini semua salah paham kan ? Aku percaya sama kamu, Za. Temuin Sherlin juga ya, minta maaf ke dia atas tindakan kasar istri kamu..".
"Iya, Kak.. Aku pasti temuin Sherlin juga... Makasih banyak udah mau denger cerita aku, dan makasih kamu udah gak menghakimi aku, Kak..", jawab gua.
Kinanti tersenyum. "Sama-sama, Za.. Sekarang, gantian.. Aku perlu ngasih tau kamu soal kondisi Mba Laras, Za..", ucapnya sedikit sendu kali ini.
Ah gua hampir lupa, ya kondisi Ibu gua itu memang terlihat lebih mengkhawatirkan dari sebelumnya.
"Gimana, Kak ? Kenapa dengan Mba Laras ?", tanya gua penasaran dan khawatir.
"Dokter bilang, kondisinya cukup buruk, obat dan perawatan yang dijalani selama ini cuma bisa menahan rasa nyeri di perutnya itu, Za..".
Akhirnya, tetes demi tetes airmata dari Kinanti pun terjatuh. Dia menutup mulutnya dengan satu tangan, kemudian gua menggenggam satu tangannya yang lain.
"Ada cara lain biar dia sembuh kan, Kak ?", tanya gua.
"Penyakitnya udah kronis, hiks.. hiks... Aku bingung harus gimana.. Aku gak bisa diem dan nutupin ini semua dari Papah dan Mamah, Za.. hiks .. hiks".
Selanjutnya gua mendengar semua penjelasan tentang Ibu gua itu dari sang adik. Gua tidak bisa membayangkan apa yang akan menimpa Ibu tiri yang sudah gua anggap seperti Ibu kandung gua itu. Apa yang dijelaskan Kinanti tentang kondisi kakaknya membuat gua sakit.
"Kak.. Gimanapun sekarang belum terlambat untuk ngasih tau keluarga kamu, itu lebih baik daripada semuanya terlambat, Kak.. Apapun yang akan terjadi nanti, pasti Papah dan Mamah kamu akan tau tentang kondisi Mba Laras..", ucap gua.
"Iya.. Aku bakal cerita ke Papah dan Mamah secepatnya, Za. Aku sayang sama Mba Laras.. Aku gak mau kehilangan dia, Za.. hiks.. hiks..".
Tanpa gua sadari, perlahan airmata ini pun ikut terjatuh.
Sore itu, di halaman belakang rumah gua... Dihadapan kedua makam orang yang sangat gua cintai... Gua berucap dalam hati...
'Cha... Sekali lagi... Sekali lagi, Cha... Ajari aku untuk Ikhlas'.
Dimulai dari satu langkah demi orang yang kami sayangi, kata Ikhlas yang bermakna dalam itu akan gua coba jalani.
Rasanya saat itu, Allah SWT sedang senang-senangnya menguji keluarga ini.
Gua pasrah untuk apa yang sedang kami hadapi saat itu.
Gua masih percaya, Allah tidak akan membiarkan umatnya terlalu lama dalam kesedihan dan cobaan yang tiada henti.
Ketika segala usaha yang kami coba sudah sampai pada batasnya. Yang kami lakukan pada akhirnya adalah berpasrah diri.
"Vera.. Tunggu, aku bisa jelasin, Ve..", ucap Mba Yu seraya bangkit dan berjalan menghampiri istri gua itu.
"Aku sama Ez..".
PLAAKK!!
Belum sempat Mba Yu melanjutkan omongannya, dia sudah limbung ke sisi kanan.
Ya, sebuah tamparan tepat mengenai pipi perempuan seksi itu. Gua langsung berjalan mendekati mereka berdua.
"Vera, kamu salah paham.. Apa yang kamu liat barusan enggak seperti yang kamu pikirin, Ve...", ucap Mba Yu sambil memegangi sisi wajahnya yang memerah.
"Ve, biar aku jelasin dulu, Ve..", timpal gua yang berdiri disamping Mba Yu.
"Enggak perlu. Aku udah cukup ngedengerin penjelasan omong kosong kamu itu, Za!", jawabnya. Kemudian istri gua menarik kerah jaket denim Mba Yu.
"Sekarang kamu keluar dari rumah ini!", lanjutnya kepada mantan gua itu, lalu mendorong tubuh Mba Yu sedikit kasar.
Gua terkejut melihat sikap Nona Ukhti yang berubah beringas seperti ini. Belum pernah gua melihatnya semurka tadi, bahkan saat dulu bertengkar dengan Helen.
Tidak butuh waktu lama, Mba Yu pun bergegas keluar dari rumah gua dengan diiringi isak tangisnya. Dia berlari dibawah hujan siang itu dan pergi bersama mobil yang ia kendarai sendiri.
Gua menggelengkan kepala sambil menatap wajah penuh amarah dari perempuan yang masih berdiri dihadapan gua ini.
"Mana Mba Laras ?", tanyanya.
"Dia.. Dia pergi sama Kinan", jawab gua.
"See ? Gak ada siapa-siapa disini, Za! Kecuali kamu sama mantan kamu itu!", sentaknya lagi.
"Vera. Aku tau kamu gak suka dengan apa yang kamu liat tadi, tapi tolong denger dulu penjelasan aku. Ini semua gak seperti yang kamu pikirin, aku sama Sherlin gak ngapa-ngapain..", ucap gua seraya memegang kedua bahunya.
"Gak ngapa-ngapain ?! Dengan muka yang sedekat tadi kamu bilang gak ngapa-ngapain ?! Jangan pikir aku bisa dibohongin terus, Za!", jawabnya seraya menepis kedua tangan gua dari bahunya itu.
"Ve, aku bener-bener gak ngapa-ngapain sama Sherlin, aku cuma meluk dia, dia lagi ada masalah sama Feri..".
"Meluk.. Ciuman.. Terus apa udah itu ? Hah ?! Kalo aku gak dateng mungkin kalian udah tidur dikamar!".
"Vera.. Demi Allah aku gak cium dia. Sama sekali gak ada pikiran kesana.. Kamu tau hari ini ulang tahun Feri ? Dan tadi Sherlin baru cerita kalo..".
"Kalo Feri gak ada dan dia lebih milih ditemenin kamu ?! Udah deh Za, aku udah cukup denger semua omongan kamu. Mulai sekarang kamu gak perlu cari aku lagi! Aku urus perceraian kita secepatnya..", potongnya, lalu dia berjalan keluar rumah.
Gua menahan tangan kirinya.
"Kamu bilang apa tadi ?".
"Lepas! Lepasin aku, Za!", ucapnya sedikit berteriak di teras rumah.
"Ulang... Ulangi lagi, ngomong apa kamu barusan, hah ?!", gua cengkram lengannya kali ini.
Dia meringis menahan sakit pada lengannya. Tidak lama kemudian airmatanya tertumpah.
"Saa.. Kiiitt.. Eza... Hiks.. Hiks... Lepaasss.. Hiks.. Hiks..", pintanya.
"Masuk ke rumah!", sentak gua dengan mata yang memelototinya.
"Aku benciiii.. Kamu!", ucapnya seraya mendorong gua dan berlari kedalam rumah.
Gua menghela nafas dengan kasar. Lalu mengurut kening. Sebelum gua memasuki rumah, suara pagar di depan sana terbuka semakin lebar.
"Mas.. Mmm.. Maaf.. Argonya gimana ya ?", ucap seorang bapak paruh baya dengan sedikit berteriak.
Gua berjalan dan menghampiri si bapak tersebut.
"Berapa, Pak ?", tanya gua.
"Sekian ratus ribu, Pak..", jawabnya sedikit pelan.
Busyet, hampir setengah juta, ucap gua dalam hati.
Setelah membayar ongkos taxi tersebut, gua kembali masuk kedalam rumah sambil membawa tas milik istri gua yang tertinggal di dalam taxi.
...
Gua duduk di ruang tamu sendirian. Membakar sebatang rokok sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi sejam yang lalu.
Istri gua berada di dalam kamar Ibu, dia mengunci pintunya dari dalam. Sedangkan Ibu, Nenek dan Kinanti belum juga pulang dari rumah sakit.
Dua kali gua mencoba menelpon Tante gua tapi belum juga diangkat, gua bbm dan sms pun belum dibalas olehnya. Mungkin mereka masih dijalan, fikir gua.
Setengah jam kemudian, pintu kamar Ibu terbuka, istri gua keluar kamar dan berjalan menghampiri gua yang masih duduk di ruang tamu.
"Aku mau pulang ke rumah Mamah..", ucapnya pelan.
Gua menatap wajahnya yang sendu. Matanya sedikit bengkak akibat menangis.
"Oke", jawab gua singkat.
Di perjalanan menuju Sentul, kami berdua sama sekali tidak mengobrol. Hujan yang belum berhenti diluar sana pun semakin membuat suasana di dalam mobil terasa dingin.
Gua tarik rem tangan tanpa mematikan mesin mobil ketika sudah sampai di depan rumah Mamah mertua.
"Berapa lama kamu disini ?", tanya gua tanpa memandangnya.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Kemudian dia mengambil tas yang berada di jok belakang dari depan.
"Aku gak tau, aku cuma butuh waktu sendiri. Aku gak mau ketemu kamu dulu", jawabnya sebelum dia benar-benar keluar dari mobil dan memasuki rumah di depan sana.
Gua kembali mengendarai mobil menuju rumah, sepanjang perjalanan itu, otak gua tidak bisa berfikir jernih. Akhirnya gua memutuskan untuk pergi ke sebuah cafe.
Hot cappucino yang gua pesan sudah mulai dingin, tanpa gua teguk sedikitpun, berbeda dengan puntung rokok yang sudah mulai menumpuk didalam asbak.
Entah sekarang gua harus bersikap seperti apa menghadapi situasi seperti ini. Mencoba menjelaskan kejadian sebenarnya kepada Nona Ukhti dalam keadaannya yang sedang emosi bukanlah waktu yang tepat.
Sedari tadi gua hanya menaik turunkan keypad pada menu kontak. Gua butuh teman curhat, tapi bingung harus mengontak siapa, beberapa nama teman yang hampir gua hubungi membuat gua berfikir ulang. Ini masalah rumah tangga gua, masalah privasi, gua tidak bisa sembarangan cerita kepada orang lain.
Gua memundurkan tubuh sampai punggung ini menyentuh bahu kursi kayu, lalu menengadahkan kepala menatap kipas angin yang berputar di atas sana. Fikiran gua rasanya ikut berputar sejalan dengan rotasi kipas tersebut. Lama-kelamaan mata gua terpejam, gua mencoba menenangkan fikiran barang sejenak.
Tidak lama kemudian blackberry gua berdering dalam saku jaket. Gua membuka mata dan mengeluarkan smartphone itu, menatap layar yang memunculkan nama kontak dalam panggilan telpon.
Quote:
Setelah membeli makanan di dekat cafe, gua langsung mengendarai mobil menuju rumah. Setengah jam kemudian gua sudah sampai di rumah.
"Darimana, Za ?", tanya Nenek yang duduk di sofa ruang tamu.
"Abis jalan keluar aja tadi, gimana check-up nya ?", jawab gua lalu menanyakan kondisi Ibu.
Nenek terlihat sedikit murung. "Kamu liat Mba Laras dulu gih di kamarnya...", jawab Nenek.
Gua serahkan makanan kepada Nenek, kemudian berjalan masuk kedalam kamar Ibu. Disana sang adik sedang menyuapi bubur nasi kepada kakaknya. Wajah Ibu sore itu nampak pucat dan terlihat kondisinya cukup lemah. Gua jadi khawatir.
"Mba..".
"Eh, Za.. Darimana sayang ?", tanya Ibu sambil berusaha tersenyum walaupun terlihat jelas dia sedang dalam kondisi yang buruk.
"Ehm, aku abis dari cafe aja tadi sebentar. Gimana hasil check-up hari ini, Mba ?", tanya gua yang berjongkok di dekat kasur.
"Alhamdulilah baik kok, gak ada apa-apa dan gak perlu khawatir, Za..", jawab Ibu sambil tersenyum lemah.
Jawaban yang jelas berbanding terbalik dengan kondisinya saat itu hanya bisa gua tanggapi dengan tersenyum tipis.
Kemudian gua berdiri. "Makan yang banyak, Mba.. Biar cepet sembuh ya", ucap gua yang hanya dijawab dengan anggukan kepalanya.
Kemudian gua berbalik dan menatap Kinanti yang duduk di sisi kasur.
"Kak, nanti tolong buatin aku kopi ya, taro di gazebo belakang aja..", ucap gua seraya memegang bahunya, memberikan dia kode.
Kinan mengerti maksud gua, dia tersenyum. "Iya, Za.. Nanti abis nyuapin Mba Laras ya", jawabnya.
...
Sekitar lima belas menit gua menunggu Tante gua itu di gazebo halaman belakang.
Gua memandangi 'rumah' Echa dan Jingga. Hujan yang mulai berubah menjadi gerimis rintik di sore itu masih terasa dingin. Suasana di halaman belakang rumah itupun membuat fikiran gua kembali mengingat beberapa kenangan bersama perempuan yang selalu gua cintai beberapa tahun kebelakang.
'Cha... Apa kabar kamu disana ?.
Bagaimana kabar Jingga ?.
Baik kah kalian berdua disana ?.
Aku kangen kalian berdua, sayang'.
"Za..".
Lamunan gua buyar tepat saat Tante gua datang dan menaruh secangkir kopi hitam diatas meja gazebo.
"Hey.. Makasih kopinya", ucap gua mengalihkan pandangan dari makam kepada Kinanti.
Kinan duduk disamping gua, memandangi wajah gua sesaat sebelum akhirnya dia tersenyum tipis.
"Kangen Echa ?", tebaknya.
Gua tersenyum lalu mengangguk. "Iya, Kak.. Kangen Jingga juga".
"Kirim do'a, Za".
"Iya".
Beberapa menit kami terdiam, larut dalam lamunan masing-masing, sampai akhirnya Kinanti memulai obrolan kembali.
"Za.. Kamu lagi ada masalah ?", tanyanya.
Gua rasa Kinan menebak dari sikap gua, yang nyatanya memang sedari tadi gua muram.
"Mmm.. Ya aku perlu temen cerita..", jawab gua tanpa menengok kepadanya.
"Aku dengerin, Za..".
Gua menengok kali ini, kemudian gua teguk beberapa kali kopi hitam yang ia buatkan sebelumnya. Dan barulah gua ceritakan apa yang sudah terjadi diantara gua, Nona Ukhti dan juga Mba Yu.
Selama gua menceritakan kejadian siang tadi, Kinanti tidak sekalipun menyela gua, dia mendengarkan dengan baik dengan raut wajah yang cukup serius. Sampai akhirnya gua selesai bercerita permasalahan itu, dia kembali mulai tersenyum.
"Secara gak langsung, kamu nurutin Vera ya, Za..", ucap Kinan tanpa memandang gua.
"Maksudnya, Kak ?", tanya gua.
"Ya, dia milih untuk sendiri kan ? Dan kamu secara gak langsung mengiyakan. Tapi itu gak masalah kok, Za. Perempuan memang wajarnya kayak gitu. Aku kalo ada di posisi Vera juga sama, akan memilih untuk menjauh dan butuh waktu sendiri dulu...", jawabnya sambil tersenyum dan menengok kepada gua kali ini.
"Tapi.. Kamu gak boleh ngebiarin dia terlalu lama jauh dari kamu, kamu harus bisa menjelaskan semuanya ke Vera dengan baik-baik, jangan sampe dia bener-bener menggugat cerai kamu. Mungkin satu minggu juga udah lebih dari cukup untuk Vera menyendiri...", lanjut Kinanti.
"Iya, Kak...", jawab gua singkat. Fikiran gua kembali tertuju kepada istri tercinta yang sedang berada di rumah Mamahnya itu.
"Za, kamu juga perlu ketemu Sherlin. Ini semua salah paham kan ? Aku percaya sama kamu, Za. Temuin Sherlin juga ya, minta maaf ke dia atas tindakan kasar istri kamu..".
"Iya, Kak.. Aku pasti temuin Sherlin juga... Makasih banyak udah mau denger cerita aku, dan makasih kamu udah gak menghakimi aku, Kak..", jawab gua.
Kinanti tersenyum. "Sama-sama, Za.. Sekarang, gantian.. Aku perlu ngasih tau kamu soal kondisi Mba Laras, Za..", ucapnya sedikit sendu kali ini.
Ah gua hampir lupa, ya kondisi Ibu gua itu memang terlihat lebih mengkhawatirkan dari sebelumnya.
"Gimana, Kak ? Kenapa dengan Mba Laras ?", tanya gua penasaran dan khawatir.
"Dokter bilang, kondisinya cukup buruk, obat dan perawatan yang dijalani selama ini cuma bisa menahan rasa nyeri di perutnya itu, Za..".
Akhirnya, tetes demi tetes airmata dari Kinanti pun terjatuh. Dia menutup mulutnya dengan satu tangan, kemudian gua menggenggam satu tangannya yang lain.
"Ada cara lain biar dia sembuh kan, Kak ?", tanya gua.
"Penyakitnya udah kronis, hiks.. hiks... Aku bingung harus gimana.. Aku gak bisa diem dan nutupin ini semua dari Papah dan Mamah, Za.. hiks .. hiks".
Selanjutnya gua mendengar semua penjelasan tentang Ibu gua itu dari sang adik. Gua tidak bisa membayangkan apa yang akan menimpa Ibu tiri yang sudah gua anggap seperti Ibu kandung gua itu. Apa yang dijelaskan Kinanti tentang kondisi kakaknya membuat gua sakit.
"Kak.. Gimanapun sekarang belum terlambat untuk ngasih tau keluarga kamu, itu lebih baik daripada semuanya terlambat, Kak.. Apapun yang akan terjadi nanti, pasti Papah dan Mamah kamu akan tau tentang kondisi Mba Laras..", ucap gua.
"Iya.. Aku bakal cerita ke Papah dan Mamah secepatnya, Za. Aku sayang sama Mba Laras.. Aku gak mau kehilangan dia, Za.. hiks.. hiks..".
Tanpa gua sadari, perlahan airmata ini pun ikut terjatuh.
Sore itu, di halaman belakang rumah gua... Dihadapan kedua makam orang yang sangat gua cintai... Gua berucap dalam hati...
'Cha... Sekali lagi... Sekali lagi, Cha... Ajari aku untuk Ikhlas'.
Dimulai dari satu langkah demi orang yang kami sayangi, kata Ikhlas yang bermakna dalam itu akan gua coba jalani.
Rasanya saat itu, Allah SWT sedang senang-senangnya menguji keluarga ini.
Gua pasrah untuk apa yang sedang kami hadapi saat itu.
Gua masih percaya, Allah tidak akan membiarkan umatnya terlalu lama dalam kesedihan dan cobaan yang tiada henti.
Ketika segala usaha yang kami coba sudah sampai pada batasnya. Yang kami lakukan pada akhirnya adalah berpasrah diri.
°°°
Sudah hari ketiga gua dan Nona Ukhti tidak berkomunikasi, sampai hari ini rasanya gua sudah cukup untuk membiarkannya larut dalam fikiran-fikiran buruknya itu. Dan sebelum semuanya semakin memburuk, gua berniat menjemputnya kali ini.
"Eh ayo masuk, Za..", ucap Mamah mertua gua yang menyambut menantunya ini.
"Iya, Mah.. Mmm.. Vera ada ?", tanya gua langsung.
Mamah mertua gua menghela nafas, lalu dia tersenyum, gua bisa merasakan kalau beliau memaksa senyuman itu.
"Dia masih belum mau ketemu kamu katanya, Za...", jawab beliau dengan wajah yang nampak sedih kali ini.
"Oh.. Tapi dia baik-baik aja kan ?".
Mamah mertua gua mengangguk. "Alhamdulilah dia baik, Za...".
"Mmm... Kalo gitu Eza nanti balik lagi deh, Mah.. Aku pamit dulu", ucap gua.
"Za..".
"Ya ?".
"Vera gak cerita soal apapun tentang masalah kalian berdua ke Mamah. Dan Mamah masih percaya kalo kalian bisa menyelesaikannya. Mamah gak mau terlalu ikut campur dalam rumah tangga anak. Kecuali semuanya sudah terlalu buruk, baru orangtua akan ikut kasih solusi...".
Gua hanya diam dan tertegun mendengar ucapan beliau.
"Za.. Mamah percaya dengan kalian berdua. Jangan sampai, apa yang Mamah dan Papahnya Vera alami dulu terulang di rumah tangga kalian...", lanjut beliau.
"Iya, Mah. Insya Allah Eza akan jaga Vera...".
"Aamiin. Semoga ya, Za. Mamah sayang kalian berdua".
Sepulang dari Sentul gua dikabarkan Kinanti saat di perjalanan, katanya Ibu kembali pingsan setelah sebelumnya mengaduh kesakitan lagi. Gua langsung menuju rumah sakit setelah keluar dari tol.
Sesampainya di rumah sakit, gua menuju ruangan yang Kinanti beritahu sebelumnya tadi.
Gua lihat disana sudah ada Kinanti, Nenek, dan kedua orangtua Ibu yang juga orangtua Kinanti.
Setelah menyalami semuanya, gua diceritakan oleh Kinanti, bagaimana Ibu yang mengeluh sakit dan akhirnya pingsan.
Cukup lama kami semua menunggu penanganan dokter yang berada di dalam ruangan di depan itu. Sampai akhirnya seorang perawat dan seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.
Kedua orangtua Ibu langsung menanyakan kondisi anak mereka.
Gua berdiri disebelah Nenek saat itu.
"Kondisinya sudah semakin buruk, tidak ada jalan lain lagi selain melakukan operasi, Pak..", ucap sang dokter kepada Papahmya Kinanti.
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya, Dok.. Tolong sembuhkan dia..", timpal sang Mamah.
"Mmm... Begini, Bu.. Masalahnya, pasien tidak akan bisa bertahan dengan hanya memiliki satu ginjal. Itu saya lihat dari rekam medisnya selama ini, Bu.. Dan solusinya.. Pasien butuh donor ginjal", jawab sang dokter yang langsung membuat kami semua terkejut.
"Saya bersedia mendonorkan ginjal saya, Dok..".
Kami semua melirik kepada seorang pria paruh baya itu.
"Sebelumnya kita harus cek kondisi kesehatan Bapak dulu..", ucap sang dokter lagi.
"Saya siap kapanpun akan diperiksa dan melakukan operasi tersebut..", jawab sang Papah yang sebelumnya menawarkan ginjalnya demi sang anak tercinta.
Tidak lama kemudian, dokter beserta Papah Kinanti pergi ke ruangan lain. Entah mungkin untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sekaligus menandatangani beberapa dokumen syarat operasi.
Gua mencoba menelpon istri gua, mengabari kondisi Ibu yang sebenarnya sudah semakin parah ini. Tapi sayangnya saat itu, nomor handphonenya tidak aktif.
Selepas shalat maghrib, gua mencoba kembali menelpon Nona Ukhti, tapi tetap sama, nomor handphonenya masih belum aktif juga. Akhirnya, gua mengabarkan Mba Yu lewat telpon.
Belum setengah jam rasanya gua menelepon Mba Yu. Dia sudah datang bersama sang suami saat itu, Feri.
Gua dan Kinanti menceritakan kondisi Ibu kepada pasangan suami-istri yang baru saja datang itu. Kemudian setelah itu, barulah gantian Mba Yu menceritakan soal kesalah pahamannya dengan Feri. Perempuan yang dilihat Mba Yu saat ulang tahun suaminya itu ternyata adalah sepupu Feri. Dan kenyataannya memang benar, Mba Yu hanya salah sangka. Toh saat Mba Yu melihat suaminya dengan sepupunya itu sebenarnya juga sedang bersama orangtua sepupu Feri, yang tidak lain adalah Paman dan Bibinya Feri.
Sebelum masuk waktu isya, akhirnya Papah dan Mamahnya Kinanti kembali ke depan ruangan dimana kami semua menunggu sang anak dirawat.
Apa yang dikatakan Papahnya Kinanti membuat kami semua kebingungan. Ternyata kondisi ginjal Papah ataupun Mamahnya Kinanti tidak cukup baik untuk di donorkan kepada sang anak. Terlalu beresiko karena Papah dan Mamahnya Kinanti juga memiliki riwayat kesehatan yang kurang bagus.
Saat itulah, kami semua berfikir sama, bagaimana caranya bisa membeli, atau mendapatkan donor dari pihak lain, dan tentu saja dengan cara legal.
Tapi...
Setelah kami mendengar ucapan dokter yang baru saja kembali memeriksa kondisi Ibu dari dalam ruangan itu...
Rasanya gua melihat sosok gelap yang dulu pernah menyapa gua dengan seringainya yang menakutkan...
Seolah-olah dia ingin memperingatkan gua, bahwa setiap detiknya, kapanpun, ia bisa mengambil nyawa dari orang yang gua sayangi.
Dengan pongahnya dia tertawa, tertawa diatas kesedihan yang sedang kami alami.
Kami berlomba dengan sang waktu...
Disaat semuanya kebingungan ketika pihak rumah sakit pun mengatakan kalau belum mendapatkan donor tersebut...
Gua melangkah ke sisi lain rumah sakit, tepat saat adzan Isya selesai berkumandang.
Gua basuh tubuh ini dengan air wudhu sebelum melaksanakan shalat empat raka'at.
Dalam tangisan yang tidak bisa gua tahan lagi, gua bersimpuh di dalam rumah-NYA. Mengharap ridho dan bantuan-NYA.
Gua berdo'a untuk seorang wanita yang gua sayangi, untuk seorang wanita yang gua cintai, untuk seorang wanita yang bernama Larasati.
Selesai melakukan ibadah wajib dan memohon pertolongan-NYA. Gua kembali ke rumah sakit dan menemui dokter yang menangani Ibu.
Satu jam kemudian gua menelpon Mamah mertua gua karena nomor handphone istri gua belum juga aktif. Selesai mengabarkan Mamah mertua, gua kembali ke depan ruangan dimana keluarga kami berada.
...
"Kak, ikut aku sebentar...", ucap gua sambil menarik pelan tangan Kinanti.
Di kantin rumah sakit, kami duduk bersebelahan.
"Kak, kamu sayang sama Mba mu kan ?", tanya gua.
"Kamu nanya gitu sih ? Jelaslah, Za..".
"Tapi kamu takut untuk bantu dia juga..".
Hening beberapa saat. Lalu gua mendengar suara isak tangisnya.
"Aku sayang dia, tapi aku... Hiks.. Hiks.. Aku juga takut, Za..".
"Gak apa-apa, Kak. Aku juga sama takut kayak kamu...", gua tersenyum memandanginya, lalu gua raih kedua tangannya dan menggenggam cukup erat.
"Janji sama aku, janji apapun yang terjadi nanti, seburuk-buruknya hal tersebut. Kamu janji sama aku", ucap gua sambil menatap matanya lekat-lekat.
"Apa, Za ? Ada apa ?", tanyanya khawatir dengan airmata yang belum berhenti membasahi wajahnya itu.
"Aku titip Mba Laras dan Vera".
"Eh ayo masuk, Za..", ucap Mamah mertua gua yang menyambut menantunya ini.
"Iya, Mah.. Mmm.. Vera ada ?", tanya gua langsung.
Mamah mertua gua menghela nafas, lalu dia tersenyum, gua bisa merasakan kalau beliau memaksa senyuman itu.
"Dia masih belum mau ketemu kamu katanya, Za...", jawab beliau dengan wajah yang nampak sedih kali ini.
"Oh.. Tapi dia baik-baik aja kan ?".
Mamah mertua gua mengangguk. "Alhamdulilah dia baik, Za...".
"Mmm... Kalo gitu Eza nanti balik lagi deh, Mah.. Aku pamit dulu", ucap gua.
"Za..".
"Ya ?".
"Vera gak cerita soal apapun tentang masalah kalian berdua ke Mamah. Dan Mamah masih percaya kalo kalian bisa menyelesaikannya. Mamah gak mau terlalu ikut campur dalam rumah tangga anak. Kecuali semuanya sudah terlalu buruk, baru orangtua akan ikut kasih solusi...".
Gua hanya diam dan tertegun mendengar ucapan beliau.
"Za.. Mamah percaya dengan kalian berdua. Jangan sampai, apa yang Mamah dan Papahnya Vera alami dulu terulang di rumah tangga kalian...", lanjut beliau.
"Iya, Mah. Insya Allah Eza akan jaga Vera...".
"Aamiin. Semoga ya, Za. Mamah sayang kalian berdua".
Sepulang dari Sentul gua dikabarkan Kinanti saat di perjalanan, katanya Ibu kembali pingsan setelah sebelumnya mengaduh kesakitan lagi. Gua langsung menuju rumah sakit setelah keluar dari tol.
Sesampainya di rumah sakit, gua menuju ruangan yang Kinanti beritahu sebelumnya tadi.
Gua lihat disana sudah ada Kinanti, Nenek, dan kedua orangtua Ibu yang juga orangtua Kinanti.
Setelah menyalami semuanya, gua diceritakan oleh Kinanti, bagaimana Ibu yang mengeluh sakit dan akhirnya pingsan.
Cukup lama kami semua menunggu penanganan dokter yang berada di dalam ruangan di depan itu. Sampai akhirnya seorang perawat dan seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.
Kedua orangtua Ibu langsung menanyakan kondisi anak mereka.
Gua berdiri disebelah Nenek saat itu.
"Kondisinya sudah semakin buruk, tidak ada jalan lain lagi selain melakukan operasi, Pak..", ucap sang dokter kepada Papahmya Kinanti.
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya, Dok.. Tolong sembuhkan dia..", timpal sang Mamah.
"Mmm... Begini, Bu.. Masalahnya, pasien tidak akan bisa bertahan dengan hanya memiliki satu ginjal. Itu saya lihat dari rekam medisnya selama ini, Bu.. Dan solusinya.. Pasien butuh donor ginjal", jawab sang dokter yang langsung membuat kami semua terkejut.
"Saya bersedia mendonorkan ginjal saya, Dok..".
Kami semua melirik kepada seorang pria paruh baya itu.
"Sebelumnya kita harus cek kondisi kesehatan Bapak dulu..", ucap sang dokter lagi.
"Saya siap kapanpun akan diperiksa dan melakukan operasi tersebut..", jawab sang Papah yang sebelumnya menawarkan ginjalnya demi sang anak tercinta.
Tidak lama kemudian, dokter beserta Papah Kinanti pergi ke ruangan lain. Entah mungkin untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sekaligus menandatangani beberapa dokumen syarat operasi.
Gua mencoba menelpon istri gua, mengabari kondisi Ibu yang sebenarnya sudah semakin parah ini. Tapi sayangnya saat itu, nomor handphonenya tidak aktif.
Selepas shalat maghrib, gua mencoba kembali menelpon Nona Ukhti, tapi tetap sama, nomor handphonenya masih belum aktif juga. Akhirnya, gua mengabarkan Mba Yu lewat telpon.
Belum setengah jam rasanya gua menelepon Mba Yu. Dia sudah datang bersama sang suami saat itu, Feri.
Gua dan Kinanti menceritakan kondisi Ibu kepada pasangan suami-istri yang baru saja datang itu. Kemudian setelah itu, barulah gantian Mba Yu menceritakan soal kesalah pahamannya dengan Feri. Perempuan yang dilihat Mba Yu saat ulang tahun suaminya itu ternyata adalah sepupu Feri. Dan kenyataannya memang benar, Mba Yu hanya salah sangka. Toh saat Mba Yu melihat suaminya dengan sepupunya itu sebenarnya juga sedang bersama orangtua sepupu Feri, yang tidak lain adalah Paman dan Bibinya Feri.
Sebelum masuk waktu isya, akhirnya Papah dan Mamahnya Kinanti kembali ke depan ruangan dimana kami semua menunggu sang anak dirawat.
Apa yang dikatakan Papahnya Kinanti membuat kami semua kebingungan. Ternyata kondisi ginjal Papah ataupun Mamahnya Kinanti tidak cukup baik untuk di donorkan kepada sang anak. Terlalu beresiko karena Papah dan Mamahnya Kinanti juga memiliki riwayat kesehatan yang kurang bagus.
Saat itulah, kami semua berfikir sama, bagaimana caranya bisa membeli, atau mendapatkan donor dari pihak lain, dan tentu saja dengan cara legal.
Tapi...
Setelah kami mendengar ucapan dokter yang baru saja kembali memeriksa kondisi Ibu dari dalam ruangan itu...
Rasanya gua melihat sosok gelap yang dulu pernah menyapa gua dengan seringainya yang menakutkan...
Seolah-olah dia ingin memperingatkan gua, bahwa setiap detiknya, kapanpun, ia bisa mengambil nyawa dari orang yang gua sayangi.
Dengan pongahnya dia tertawa, tertawa diatas kesedihan yang sedang kami alami.
Kami berlomba dengan sang waktu...
Disaat semuanya kebingungan ketika pihak rumah sakit pun mengatakan kalau belum mendapatkan donor tersebut...
Gua melangkah ke sisi lain rumah sakit, tepat saat adzan Isya selesai berkumandang.
Gua basuh tubuh ini dengan air wudhu sebelum melaksanakan shalat empat raka'at.
Dalam tangisan yang tidak bisa gua tahan lagi, gua bersimpuh di dalam rumah-NYA. Mengharap ridho dan bantuan-NYA.
Gua berdo'a untuk seorang wanita yang gua sayangi, untuk seorang wanita yang gua cintai, untuk seorang wanita yang bernama Larasati.
Selesai melakukan ibadah wajib dan memohon pertolongan-NYA. Gua kembali ke rumah sakit dan menemui dokter yang menangani Ibu.
Satu jam kemudian gua menelpon Mamah mertua gua karena nomor handphone istri gua belum juga aktif. Selesai mengabarkan Mamah mertua, gua kembali ke depan ruangan dimana keluarga kami berada.
...
"Kak, ikut aku sebentar...", ucap gua sambil menarik pelan tangan Kinanti.
Di kantin rumah sakit, kami duduk bersebelahan.
"Kak, kamu sayang sama Mba mu kan ?", tanya gua.
"Kamu nanya gitu sih ? Jelaslah, Za..".
"Tapi kamu takut untuk bantu dia juga..".
Hening beberapa saat. Lalu gua mendengar suara isak tangisnya.
"Aku sayang dia, tapi aku... Hiks.. Hiks.. Aku juga takut, Za..".
"Gak apa-apa, Kak. Aku juga sama takut kayak kamu...", gua tersenyum memandanginya, lalu gua raih kedua tangannya dan menggenggam cukup erat.
"Janji sama aku, janji apapun yang terjadi nanti, seburuk-buruknya hal tersebut. Kamu janji sama aku", ucap gua sambil menatap matanya lekat-lekat.
"Apa, Za ? Ada apa ?", tanyanya khawatir dengan airmata yang belum berhenti membasahi wajahnya itu.
"Aku titip Mba Laras dan Vera".
Diubah oleh glitch.7 21-01-2018 18:04
oktavp dan 2 lainnya memberi reputasi
3


