Kaskus

Story

glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN




Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.


Tak Lagi Sama - Noah


Spoiler for Cover Stories:


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.


Quote:


Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

Masa yang Paling Indah
Credit thanks to Agan njum26

Love in Elegy
Credit thanks to Agan redmoon97


Sonne Mond und Stern
*mulustrasi karakter dalam cerita ini


Quote:

*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
pulaukapokAvatar border
chamelemonAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
#5079
Lanjutan Sebelum Cahaya Part XXXVI
"Aku.. Mmm.. Gimana ya mulainya", dia terlihat ragu.

"Seenaknya kamu aja, mau langsung to the point atau gimana, aku berusaha jadi pendengar yang baik kok", jawab gua sambil tersenyum, memberikan sugesti agar dia merasa nyaman untuk bercerita.

"Mm.. Ini soal... Soal suamiku, Mas..", jawabnya pelan dan mengalihkan pandangannya ke sisi lain.

Wah, gua langsung sadar, gua tarik lagi ucapan gua sebelumnya.

"Ehm, Mba maaf, kayaknya aku gak bisa deh jadi pendengar yang baik", ucap gua buru-buru.

"Loch ? Kenapa ?", tanyanya bingung.

"Mba, aku gak mau tau ada masalah apa antara kamu dengan Feri, bukan maksudnya aku gak peduli, tapi... Ngngng... Gimana ya. Sssshh.. Aku tuh, aku tuh cuma takut salah paham aja, kamu ngertikan maksud aku ?", jelas gua.

"Iiih.. Bukan gitu, dengerin dulu dong, belum juga cerita ih..", ucapnya dengan ekspresi yang menahan kesal.

"Eh tapi serius deh, soal suami kamu itu, aku gak mau denger ah, nanti yang ada aku bukannya kasih saran malah ikut emosi, Mba..", jawab gua menjelaskan alasan sebenarnya.

"Ck.. Kamu tuh, aku tanya duluan deh, kamu takut emosi karena mikir apa dulu ? Coba aku pingin tau kamu mikir apa kira-kira soal hubungan aku sama suami ku", tantangnya.

Gua menghela nafas dengan kasar. "Mmm.. Feri selingkuh.. Maybe.. Sorry kalo salah..", tebak gua dengan suara pelan.

"Kan.. Salah. Makanya dengerin dulu ih..", jawab Mba Yu lagi, keliatan geregetan lagi dia.

"Iya-iya deh maaf. Yaudah apaan dong ?".

"Mmm.. Duh gimana ya.. Tapi kamu jangan ketawa atau kaget berlebihan, malu nih soalnya ditempat umum..", dia mewanti-wanti.

Gua malah makin penasaran dan tersenyum lebar mendengarnya berkata seperti itu.

"Kamu pernah gak sama Vera...", dia memajukan tubuhnya hingga merapat ke meja makan. Posisi kami saat itu duduk berhadapan dengan meja resto yang menjadi pemisah. "Mmm.. Kalo lagi itu, aneh-aneh..", lanjutnya dengan suara yang nyaris tidak bisa gua dengar dengan jelas.

"Hah ? Ngomong apaan sih ?!", tanya gua kesel, gak jelas karena terlalu pelan kalimat akhirnya.

"Iiiih.. Jangan teriak ih, sini-sini pindah, duduk sebelah aku", pintanya sambil menepuk kursi yang berada disampingnya.

Gua pun mengikuti maunya. Duduk disampingnya. Mba Yu merapatkan duduknya hingga kedua lengan kami bersentuhan. Dan gua yakin, jika orang lain melihat kami saat itu, pasti seperti orang yang memang sedang berbicara soal sebuah rahasia. Entah rahasia apalah, harta karun bisa jadi.

Karena jarak duduk kami terlalu dekat, gua sampai bisa mencium aroma tubuhnya, aroma wangi parfumnya, aromi wangi dari shampo nya, yang membuat gua tidak fokus. Apalagi kenyataan yang akan dia ceritakan, semakin membuat otak gua semerawut.

"Mas, kamu sama Vera suka aneh-aneh gak sih kalo lagi itu ?", tanyanya lagi dengan nada suara yang sangat pelan.

Matanya menatap gua.

Gua bingung, maksudnya apa. Dan seperti yang gua bilang, gak fokus. Apalagi, kampret emang nih autofokus, bisa-bisanya malah ngeliat kearah belahan duo-dribbleyang terlihat dari sela-sela kemeja berwarna putih yang ia kenakan itu.

"Heh! Matamu minta dicolok, hah ?!", ucapannya mengagetkan gua.

Dia buru-buru mengambil blazer yang sebelumnya dilepas, lalu ia gunakan blazer tersebut untuk menutup bagian depan tubuhnya itu.

"Hehehe, sorry-sorry.. Jangan rapet-rapet dong duduknya, Mas mu ini jadi gagal pokus kan.. Heheh..", jawab gua membela diri.

Lagian suruh siapa pake kemeja kok ketat banget sih Mba. Bikin mikir yang iya-iya kamu tuh. emoticon-Embarrassment ucap gua dalam hati.

"Ya terus gimana maksudnya tadi ? Aku gak paham nih sumpah", tanya gua kembali ke topik obrolan.

"Jadi ya itu, kamu sama Vera kalo lagi itu suka aneh-aneh gak ?", tanyanya lagi.

"Itu ? Maksud kamu ML ?", tanya gua cuek dan spontan tanpa perduli kami berdua sedang berada dimana.

Kyuutt... dia cubit paha kiri gua.

"Aawww.. Sakiitt monyong!", umpat gua spontan sambil melotot, lalu menepiskan jari yang mencubit paha gua itu.

"Pelan-pelan ngomongnya, Maliiihh!", suaranya pelan, giginya gemertak, matanya melotot kepada gua, kesel dia.

Eh kampret kok gua dibilang Malih.

"Sakit tau, Mba... Parah ih, gak usah pake acara nyubit juga kali, make manggil Malih segala..".

"Ya suruh siapa teriak gitu, malu tau! Kita lagi dimana ini! Heuh! Lagian kamu yang manggil aku monyong duluan.. Nyebelin, emang aku monyong apa!".

Monyong sih, akibat keseringan capcipcupcepcop sama Mas Eza dulu sih ya, Mba emoticon-Embarrassment
Sayangnya gua gak berani ngomong gitu...

"Terus gimana tadi ? Pernah gak ?", tanyanya lagi.

"Aneh-aneh gimana maksudnya ? Aku to the point nih ya, kalo soal itu sih aku biasa aja, paling maen di kamar mandi, itupun kalo bisa dikategoriin aneh", jawab gua.

"Yee, itu ma biasa, normal lah. Maksud ku tuh yang.. Mm.. Misal iket-iket gitu Mas kalo lagi maen..", terangnya dengan nada serius diakhir kalimat.

"Hah ? Iket-iket apa uget-uget ? Kalo uget-uget ma udah pasti atuh, namanya lagi mompa dan dipompa, hehehe..", jawab gua lagi sambil tersenyum lebar.

"Iiih serius.. Diiket ini ma, tangannya gitu".

"Gak pernah lah, ngapain ngiket segala ? Emangnya aku penggemar bdsm apa ?... Eh..", gua menyadari sesuatu pada akhirnya.

Mba Yu menaikkan alisnya.

"Maksud kamu.. Feri..?", gua tanya dengan perasaan waswas.

Dia tersenyum tipis lalu mengangguk.

"Ah, tapi... Cuma sebatas itu kan, Mba ?", tanya gua khawatir.

Saat itu mungkin, ya mungkin seharusnya gua lebih mau mendengarkan atau lebih perduli dengannya, andaikan saja waktu bisa diulang. Tapi ya mungkin juga jalannya harus seperti ini, sampai nanti saat dia benar-benar mengungkapkan hal yang sebenarnya seperti kejadian pada Bab V.

Dia hanya mengangguk, tapi gua tau ada hal lain yang menjadi bebannya juga. Dan lagi-lagi gua tidak ingin menempatkan diri sebagai seseorang yang terlalu ikut campur soal permasalahan rumah tangga orang lain. Jadi gua berusaha menghindari obrolan ini.

"Mba, kalo sekedar gitu sih gak apa-apalah, toh kamu kalo gak suka juga bisa ngomong baik-baik sama dia kan ?, masa harus aku yang ngomong, gak enak aku ama Feri, Mba.. Udah jangan terlalu dipikirin ya, selama kamu gak kenapa-kenapa, it's oke toh ?", ucap gua lagi mencoba netral dan berusaha menghindari fikiran negatif.

"Iya sih, Mas.. Tapi..".

Kali ini gua yang memotong ucapannya. "Udah gini aja, kayak yang aku bilang tadi, kalo kamu gak nyaman dengan cara dia, coba omongin baik-baik, pelan-pelan ya, aku yakin dia cuma sekedar nyoba hal baru, kadang laki-laki kayak gitu soalnya..", jelas gua kembali berfikir positif.

"Kamu sendiri ? Gimana ? Punya fantasi liar juga ?", tanyanya serius.

Gua tersenyum, mata gua menerawang ke arah langit-langit restoran.

"Iya, punya kok.. Tapi bukan seperti Feri", jawab gua.

"Apa ?".

"Sex in the kitchen..", jawab gua pelan sambil melirik dan tersenyum kepadanya.

Mba Yu tersenyum manis. Sangat manis sekali saat itu.

Akhirnya kami pun pulang setelah sadar kalau waktu sudah semakin larut. Gua antar dia sampai depan rumahnya, rumah dia dan Feri.

"Makasih ya, Mas..", ucap Mba Yu sambil membuka seatbelt.

"Sama-sama, Mba.. Salam buat Feri ya", jawab gua.

"Iya kalau malem dia nelpon aku".

"Nelpon ? Kok nelpon ?", tanya gua bingung.

"Aku lupa bilang, dia lagi ke luar kota, hehehe..", jawabnya.

"Ooh.. Sendirian dong di rumah, gak takut nih ?", goda gua seraya tersenyum meledek.

Matanya melotot. "Gak usah rese deh, Mas!", jawabnya sedikit menyentak.

"Hahaha.. Iya-iya.. Yaudah hati-hati di rumah, awas mati lampu tengah malem... Hehehe..".

Mba Yu tidak jadi membuka pintu mobil, dia berbalik lagi menatap gua, matanya emosi.

Sedetik kemudian, dia menerjang gua dengan mencubiti lengan kiri ini, lalu ditariknya lengan itu dan akhirnya dia gigit tangan kiri gua.

"Aaaah.. Ampun-ampun, Mba.. Udah-udah woy, sakit nih..", gua pura-pura mengaduh, karena sebenarnya gigitannya itu tidak sakit.

"Gak usah rese makanya! Nyebelin banget sih!", kesel banget nih perempuan satu.

"Iya maaf-maaf, hehehe.. Yaudah ah keluar sono, apa mau ikut aku pulang ke rumah Nenek ?".

"Yee malah ngusir... Enggaklah, ngapain.. Yaudah deh, hati-hati di jalan ya, Mas. Salam untuk Vera", jawabnya.

Kemudian setelah gua pastikan dia masuk kedalam rumahnya dan menutup pintu, barulah gua kembali menjalankan mobil untuk segera pulang ke rumah Nenek.

Saat di perjalanan pulang, telpon gua berdering di saku kemeja. Gua raih dan mengangkat telpon tersebut. Ternyata istri gua yang menanyakan kenapa belum sampai rumah. Wajar sih, karena gua lihat jam di mobil sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat. Dan gua lupa mengabarkan istri gua kalau tadi ke mall dulu nemenin Mba Yu.

Gua sampai di rumah setelah jam setengah sepuluh lewat. Istri gua ternyata sedang duduk di sofa teras depan kamar. Dia sendirian sambil membaca sebuah novel.

Gua masuki teras sambil mengucapkan salam yang langsung disambut olehnya.

"Kok malem banget sih, Za ?", tanyanya setelah mencium tangan kanan gua.

"Maaf sayang, aku lupa ngabarin kalo tadi Mba Yu minta anter ke Mall dulu, dia beli apa ya, bedak apa lipstik gitu", jawab gua sambil berjalan kearah kamar.

Istri gua mengikuti dibelakang, gua memasuki kamar sambil melepaskan jaket dan menaruh tas.

"Masa beli barang kayak gitu sampe larut gini, sih ? Emangnya sampe jam berapa tadi dari Jakarta ? Macet di tolnya ?", tanyanya lagi.

"Macet biasa sih, lamanya bukan dari Jakarta, tapi pas di Mall nya itu, Ve..", jawab gua lagi.

Gua sedang membuka kancing kemeja, berdiri saling berhadapan dengan istri gua itu.

"Emang kenapa di Mall ?".

"Aku ditraktir makan dulu tadi, terus dia curhat gitu..", jawab gua yang kali ini melepas kancing kemeja pada pergelangan tangan kiri.

Hari itu, gua memang mengenakan kemeja lengan panjang.

"Curhat apa ?", tanyanya lagi.

Istri gua, memperhatikan kancing kemeja pada pergelangan tangan gua itu. Karena gua kesulitan membukanya, dia membantu gua untuk melepaskan kancing tersebut.

"Soal Feri, gak penting banget tapinya.. Cuma soal kerjaan suaminya itu yang sering ke luar kota, jadi Mba Yu ngerasa kesepian aja...", jawab gua berbohong.

Kenapa gua sampai berbohong kepada istri gua ?. Karena gak mungkin rasanya gua menceritakan curhat Mba Yu itu kepada Nona Ukhti. Bukan soal apa-apa, tapi ini masalahnya soal perilaku seksual yang mengarah ke bdsm. Dan kalian yang mengikuti cerita ini dari bagian satu, terutama bagian kedua (Love in Elegy-red) pasti paham apa yang sudah terjadi dengan istri gua di bagian kedua tersebut, dan gua tidak ingin trauma, sakit hati, perasaan apapun yang dia rasakan di masa lalu itu kembali mengusik dirinya, karena apa yang dilakukan Feri menurut gua sedikit banyak menjurus kearah perlakuan yang pernah dialami istri gua dahulu. Pahamkan ? Tolong gak usah dikomentari urusan yang satu ini.

Gua sudah melepaskan kemeja gua, istri gua masih memegangi kemeja itu, sedangkan gua hendak berjalan kearah kamar mandi untuk bersih-bersih.

"Za..", panggilnya.

"Ya ?", gua membuka lemari pakaian.

"Eza", panggilnya lagi.

"Iya sayang, kenapa ?", tanya gua kali ini sambil menengok kepadanya yang sudah berdiri dibelakang gua.

Dia mengangkat kemeja gua kehadapan gua.

"Kenapa, Ve ?", tanya gua bingung.

"Liat baik-baik".

Gua perhatikan kemeja gua itu, lebih tepatnya bagian pergelangan tangan kiri kemeja.

"Eh.. Loch apaan itu ?!", gua beneran kaget saat itu.

"Gak usah pura-pura, maksudnya apa ?", tanyanya.

"Sumpah aku gak tau, Ve.. Aku baru liat ini..", jawab gua yang memang gak tau.

Gua benar-benar kaget dan gak tau kok bisa ada noda disitu.

"Abis ngapain kamu tadi ? Hah ? Lipstik siapa ini, Za ?", tanyanya dingin.

Gua bingung dan masih terkejut.

"Jawab!", bentaknya kali ini dengan suara yang membuat gua sampai sedikit terhenyak.

...

Setengah jam kemudian gua selesai mandi dan sudah mengenakan pakaian santai, bersiap untuk tiduran di kasur, dan sudah pasti harus membuat istri gua percaya.

Gua melihatnya sedang asyik duduk diatas kasur sambil memainkan handphone miliknya sendiri. Gua dekati dia.

"Sayang, jangan marah dong, sumpah aku gak tau itu lipstik kenapa bisa ada di kemeja aku", gua duduk disampingnya.

Gua lirik layar handphonenya, ternyata dia sedang chatting dengan Mamah tirinya yang berada di Singapore.

Istri gua masih diam dan asyik dengan chattnya itu. Gua coba lingkarkan tangan kanan ke sisi pinggang kanannya dari arah kiri.

"Veraaa..", panggil gua dengan nada manja. "Maafin Eza nya dong, please...", lanjut gua.

Dia melirik kearah gua. "Kamu ambil gih kopi kamu di meja teras, bawa masuk kesini", pintanya.

Oh dia udah buatin gua kopi ternyata. Lalu gua keluar kamar dan melihat memang ada kopi hitam di atas meja teras. Gua mengambilnya. Tepat saat gua berbalik, hendak kembali masuk ke kamar, terdengar bunyi ceklik dari pintu kamar.

Gua berjalan kearah pintu kamar dan membukanya... Tapi sial, pintu itu sudah terkunci dari dalam. Gua sadar, ini gak beres nih.

"Sayang... Veee.. Buka pintunya, Ve.. Kok dikonci sih ?", gua memanggilnya sambil mengetuk pintu.

Tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar. Yang gua dapati malah sebuah cahaya yang padam. Ya, dia mematikan lampu kamar itu. Lemas rasanya saat itu, gua baru sadar kalau malam itulah, pertama kalinya gua harus tidur diluar kamar sendirian, gak ketang, gak sendirian juga, tapi ditemani nging-ngingan suara nyamuk yang senantiasa terbang kesana kemari, lalu menghisap darah gua hingga subuh menjelang.

Kampret.
Diubah oleh glitch.7 06-01-2018 04:13
fatqurr
oktavp
oktavp dan fatqurr memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.