Kaskus

Story

glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN




Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.


Tak Lagi Sama - Noah


Spoiler for Cover Stories:


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.


Quote:


Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

Masa yang Paling Indah
Credit thanks to Agan njum26

Love in Elegy
Credit thanks to Agan redmoon97


Sonne Mond und Stern
*mulustrasi karakter dalam cerita ini


Quote:

*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
chamelemonAvatar border
ezzasukeAvatar border
jenggalasunyiAvatar border
jenggalasunyi dan 127 lainnya memberi reputasi
124
1.9M
8.8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
#5029
Sebelum Cahaya
PART XXXV


Sudah tiga hari gua berada di rumah Papah mertua bersama istri semenjak dia diperbolehkan pulang dari rumah sakit, dan hari ini kami sedang menunggu kedatangan Ibu dan Nenek yang rencananya akan menjenguk istri gua kesini.

Sambil menunggu kabar dari Ibu, gua berada di kamar yang memang disediakan oleh mertua untuk gua dan istri, di lantai atas.

Saat itu, istri gua sedang duduk diatas kasur, menyandarkan punggungnya ke bahu dipan sambil membaca Al-Qur'an, gua duduk disampingnya, mendengarkan dan memperhatikannya melantunkan ayat suci tersebut.

Selesai membaca kitab suci Al-Qur'an, dia menutup kitab tersebut lalu menciumnya sebentar dan meletakkannya pada meja kecil di sisi kasur.

Gua tersenyum saat dia menengok kepada gua. Wajahnya mulai terlihat normal, tidak begitu nampak sedih seperti kemarin-kemarin walaupun ada keletihan yang masih sedikit terpancar dari kedua matanya.

"Maaf, sayang", ucap gua lembut seraya memegang tangan kanannya yang berada diatas pahanya itu.

Rasanya hampir setiap hari gua mengucapkan kata maaf yang tulus untuknya selama kami berada disini.

Dia tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.

"Aku udah maafin kamu, jangan kayak gitu lagi ya, Za..", jawabannya kali ini membuat gua tersenyum bahagia.

Apa yang dikatakannya adalah hal yang paling gua tunggu selama tiga hari ini. Karena selama ini, setiap gua meminta maaf, dia hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun. Dan permintaan maaf gua barusan sudah diterimanya, gua benar-benar senang mendengarnya.

"Makasih sayang.. Makasih banyak, aku janji gak akan kayak gitu lagi, Ve.. Makasih, makasih...", ucap gua lalu beringsut mendekatinya.

Gua peluk istri gua dengan perasaan yang bercampur-campur di dalam hati. Perasaan senang, menyesal dan haru.

Dia mengusap punggung gua dengan lembut sambil berbisik.

"Aku sayang kamu, Za..", bisiknya.

"Aku juga sayang kamu, Ve.. Aku mencintai kamu, maafin aku dan terimakasih banyak...", balas gua yang masih memeluknya.

"Iya, Za.. I love you too..".

Bahagia rasanya ketika gua sudah benar-benar dimaafkan istri gua itu. Harapan gua sekarang, kami akan menjalani hari-hari seperti biasa lagi, tanpa ada rasa khawatir berlebihan ketika suatu saat nanti kami diberi kepercayaan lagi oleh Allah SWT untuk menerima titipannya. Dan semoga hal tersebut menjadi kenyataan dalam waktu dekat.

...

Hari sudah menjelang siang ketika gua menerima sebuah telpon dari Ibu yang memberi kabar kalau dia dan Nenek sudah sampai di Changi airport.

Gua bergegas turun ke bawah dan memberitahukan Papah mertua gua, hari itu Papah mertua gua memang izin tidak masuk kerja karena tau dari malam sebelumnya kalau Ibu dan Nenek akan datang siang ini.

Akhirnya gua dan Papah menuju bandara untuk menjemput Ibu dan Nenek yang sudah menunggu. Sedangkan istri gua dan Mamah mertua menyiapkan makanan di rumah.

Sesampainya di bandara dan bertemu dengan Ibu dan Nenek, kami langsung menuju mobil lagi, kembali pulang karena langit mulai gelap siang itu, dan benar saja, masih ditengah perjalanan hujan pun turun cukup deras.

"Maaf loch, Pak Alex, saya dan Ibu baru sempat kesini, karena kemarin-kemarin ada urusan kerja yang gak bisa langsung saya tinggalkan..", ucap Ibu gua yang duduk di bangku belakang bersama Nenek. Ibu yang dimaksud oleh Ibu gua adalah Nenek.

"Oh gak apa-apa, Bu Laras.. Saya ngerti kok, Eza juga udah cerita. Ya namanya sibuk dan sebagai direktur pasti gak bisa main tinggal restoran keluarga juga kan, saya paham.. Terimakasih ini sudah mau datang kesini sama Neneknya Eza..", jawab Papah mertua gua sambil menyetir mobil dan sesekali melihat kaca spion di dalam mobil untuk menanggapi Ibu gua itu.

"Iya, saya memang niatnya mau langsung kesini begitu Eza ngabarin Vera masuk rumah sakit, tapi ya itu, maklum kerjaannya sedikit numpuk, Pak..", timpal Ibu gua lagi.

"Iya gak apa-apa, Bu.. Oh ya ngomong-ngomong, Nenek sehat ?", tanya Papah mertua gua kali ini kepada Nenek.

"Alhamdulilah, Pak. Saya sehat, tapi disini cukup dingin ya ternyata", jawab Nenek.

"Biasanya sih bulan ini gak turun hujan, Nek.. Tumben ini juga hujan gini, Singapore hampir sama dengan Indonesia, agak panas kalau lagi gak hujan..", ucap Papah mertua gua lagi.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, hanya obrolan seperti itulah kurang-lebih yang kami bicarakan di dalam mobil. Sampai akhirnya kami sampai di rumah Papah mertua gua, dan dengan sedikit berlari kecil, kami keluar dari mobil menuju teras.

Di depan pintu, kami sudah disambut oleh Mamah mertua dan istri gua. Nenek dan Ibu bersalaman dengan Mamah mertua gua, lalu saling memeluk sebentar sambil saling menanyakan kabar masing-masing.

Setelah istri gua mencium tangan dan berpelukkan dengan Nenek dan Ibu, kami pun masuk ke dalam.

Di ruang tamu kami semua mengobrol, saling menanyakan kabar antara besan dan utamanya membicarakan kesehatan istri gua.

"Yang sabar ya sayang.. Allah tau yang terbaik untuk kamu, diambil hikmahnya, kamu masih diberi kesehatan", ucap Nenek sambil mengelus paha kanan istri gua.

Istri gua mengangguk sambil tersenyum, sedikit terlihat lagi kesedihan dari ekspresi wajahnya, kami tau kenyataan yang harus diterima oleh istri gua itu begitu berat dan cukup memukul mental sampai fikirannya terbebani.

Sejujurnya, di usia yang terbilang sangat muda seperti sekarang, gua baru mengetahui kalau istri gua itu begitu berharap akan kehadiran buah hati dari hubungan kami sebagai suami-istri.

Terlepas dari trauma yang gua alami sebelumnya, gua memang belum memikirkan, atau sangatberharap akan kehadiran si buah hati. Bukan apa-apa, toh saat itu istri gua pun masih harus menyelesaikan skripsinnya, belum kerja praktek dan cita-cita yang ingin ia wujudkan, dan ada jarak yang memisahkan kami. Cukup banyak saat itu yang harus dipertimbangkan jika istri gua mengandung. Walaupun bukan kejadian seperti ini yang kami harapkan.

Apa yang terjadi di awal pernikahan kami memang sepertinya cukup banyak cobaan silih berganti menguji rumah tangga kami. Atau... Karena kesalahan gua sendiri ? Entahlah, yang jelas gua berharap setelah kejadian yang cukup membuat istri gua stres, kami bisa kembali menjalani semuanya dengan baik dan lebih saling memahami satu sama lain.

Satu bulan berlalu, kondisi kesehatan istri gua alhamdulillah sudah semakin membaik, dan beban fikirannya tentang keguguran yang ia alami perlahan-lahan sudah bisa diterima dengan ikhlas. Tidak seperti sebelumnya yang terkadang gua dengan tidak sengaja melihatnya begitu sedih ketika sedang sendirian di dalam kamar sambil memegangi perutnya.

Dalam satu bulan terakhir ini, gua benar-benar belum pulang ke Indonesia, gua selalu menemaninya di rumah mertua gua ini. Mengajaknya pergi ke tempat wisata atau sekedar jalan-jalan agar fikirannya bisa kembali fresh. Kami semua tau, dia tidak boleh dibiarkan larut dalam kesedihan yang terkadang bisa datang secara tiba-tiba. Apalagi jika secara tidak sengaja dia melihat sepasang suami-istri yang baru memiliki anak, rasa sedih yang ia rasakan langsung nampak saat itu juga.

...

Hari ini gua akan pulang ke Indonesia, karena sudah lama tidak masuk kerja, bukan tidak mau menemani istri gua lebih lama disini, tapi dia sendiri yang meminta gua untuk segera pulang, gak baik katanya ninggalin kerjaan lama-lama. Selain itu, hasil check up selama satu bulan terakhir ini menunjukkan kalau istri gua sudah benar-benar lebih baik, terutama dia sudah tidak terlalu mengalami stress karena kejadian sebelumnya.

Karena rumah mertua gua cukup jauh, akhirnya dia ditemani Mamah tirinya tinggal di apartemen untuk sementara waktu. Skripsi yang sempat tertunda pun mulai dikerjakannya lagi, itu juga setelah istri gua meyakinkan kami semua kalau dia tidak akan terlalu terbebani oleh tugas akhirnya tersebut. Katanya ingin cepat-cepat selesai, lalu kerja praktek untuk mendapatkan sertifikasi, dan kembali ke Indonesia agar bisa tinggal bersama gua lebih cepat. Kami semua setuju dengan niatnya itu.

"Ve, jaga diri baik-baik ya, nanti aku bakal sering-sering kesini kalo ada rejeki, maaf aku harus pulang dulu", ucap gua yang saat itu sudah berada di bandara.

"Iya sayang, gak apa-apa.. Kamu juga jaga diri disana, jangan telat makan juga, aku disini ada Mamah, jadi gak perlu khawatir sama aku.. Maafin aku juga belum bisa nemenin kamu disana ya sayang. Aku pingin buru-buru nyelesain semuanya disini biar kita bisa jadi suami istri seutuhnya", jawab istri gua yang berdiri disamping kedua orangtua nya itu.

Ya apa yang dikatakannya benar, rasanya setelah pernikahan itu, kami berdua belum benar-benar merasakan sebagai sepasang suami-istri sebagaimana orang lain yang hidup bersama. Tapi ini semua demi masa depannya juga, demi kehidupan kami berdua kelak. Dan gua berharap semuanya akan berjalan dengan baik walaupun selalu ada cobaan dan godaan dalam rumah tangga kami. Karena gua benar-benar mencintainya sepenuh hati ini. I Love You, Ve...


***


Sore hari yang cukup cerah saat itu. Guratan-guratan awan yang nampak diatas sana bercampur cahaya senja, tidak ada pemandangan yang mendung dari langit ibu kota hari ini.

Gua baru saja berjalan kearah parkiran mobil untuk pulang ke rumah saat sebuah panggilan telpon terdengar cukup nyaring dari saku celana gua.

Gua lihat nama kontak yang terpampang di layar blackberry. Tumben dia nelpon, ucap gua dalam hati.

Quote:


Setengah jam akhirnya gua sampai di parkiran mobil sebuah mall yang Kinanti katakan tadi, deket memang deket, tapi sedeket-deketnya jarak kalau jam pulang kantor gini mana bisa bener-bener cepet sampe.

Singkat cerita gua sudah berada di lantai empat, gua melihat tante gua itu sedang melihat-lihat pakaian yang di pajang di depan sebuah toko.

Kapan ya terakhir kali gua bertemu dengannya, kok rasanya makin tinggi dan cantik. Hari itu dia mengenakan kemeja flanel dengan warna merah bercampur biru, lalu bawahannya mengenakan celana denim berwarna putih, dan tas ransel berada di punggungnya, terkahir, sebuah koper berwarna pink sedang ia genggam di dekat kakinya itu.

"Hai, cewek...", sapa gua ketika sudah berada tepat dibelakangnya.

Kinanti menengok kebelakang.

Kan bener, makin cantik. Rambutnya yang sudah cukup panjang itu dia kuncir keatas, kuncir kuda. Dia biarkan poninya yang sepanjang alisnya itu menghiasi bagian depan wajahnya. Dan ada yang berbeda ternyata, sebuah kacamata dengan frame berwarna violet menambah pesonanya. Jadi semakin girly menurut gua.

Bibirnya tersenyum, gua pun ikut tersenyum. "Hai, cowok.. Bengong aja sih liat, tanteee..", balasnya menggoda gua.

"Hahahaha... Apa kabar, Kak ?", gua tertawa mendengar ucapannya.

"Alhamdulilah baik, eh tolong bawain koper ku ya. Kita ke bawah yu..", ajaknya sambil menyuruh gua membawakan koper yang tidak terlalu besar itu.

"Idih, jadi aku disuruh kesini cuma buat bawain koper kamu, nih ?", tanya gua yang sudah tersenyum lebar.

Tante gua itu tertawa. "Hahaha, sekali-kali jadi ponakan yang baik dong, bantu tante kau ini lah, Za...", jawabnya dengan logat Medan yang dibuat-buat.

Gua hanya menggelengkan kepala sambil ikut tertawa, lalu mengikutinya yang sudah berjalan lebih dulu.

Kinan mengajak gua untuk makan di restoran khas sunda yang berada di lantai satu mall ini. Setelah memesan makanan kami pun saling menanyakan soal kerjaan masing-masing.

Selama ini Kinan memang berada di Bali. Bekerja di sebuah hotel bintang lima disana. Saat dulu gua berbulan madu dengan Nona Ukhti di Bali, semua keperluan dan tempat menginap juga dibantu oleh tante gua itu. Oh ya, disana dia mengontrak sebuah rumah bersama teman kerjanya.

Tidak lama, pesanan kami pun sudah terhidang diatas meja. Sambil menyantap makanan, gua mengabarkan istri gua via chatt bbm.

"Makan dulu, Za.. Malah maenin hp terus", ucap Kinan setelah menelan makanannya.

"Aku lagi ngabarin Vera, Kak.. Dia baru sampe apartemen. Salam juga buat kamu katanya", jawab gua sambil melirik kepadanya yang duduk di depan gua.

"Oh walaikumsalam. Eh iya, katanya kemarin Vera keguguran ya ? Aku turut berduka cita ya, Za. Maaf gak bisa jenguk kesana bareng Mba Laras".

"Gak apa-apa, Kak. Iya dia keguguran, faktor utamanya mungkin terlalu banyak beban pikiran yang bikin dia jadi stres, dan dia juga sempet ngalamin sakit perut, mmm.. Kram perut gitu sih beberapa kali, sampe akhirnya jatuh dikamar mandi dan pendarahan..", jawab gua dengan sedikit nada suara yang pelan.

Setiap gua mengingat soal keguguran yang dialami Nona Ukhti, selalu dan selalu gua merasa bersalah, karena harapan yang tidak seharusnya gua ucapkan, walaupun hanya terucap dan terlintas di dalam hati dan fikiran gua. Maafin aku, Ve...

Setelah itu kami berdua pun pulang ke kota kami, gua mengantarkan ke rumahnya. Sempat gua ajak untuk mampir ke rumah gua dulu, tapi katanya dia sudah kangen dengan kedua orangtuanya.

"Nanti deh, besok aku ke rumah kamu sekalian ketemu Mba ku juga, aku disini masih lama kok", jawabnya saat kami berada di dalam mobil dan sudah sampai di depan rumahnya.

Memang selama ini Mba Laras yang juga Kakak kandung Kinanti, alias Ibu gua, lebih sering tinggal dan menginap di rumah gua, walaupun kadang sesekali menginap juga di rumah Nenek gua. Ibu gua itu jarang menginap di rumah keluarganya, maksud gua di rumah orangtuanya. Kalau pun pulang ke rumah orangtuanya, Ibu gua sudah jarang menginap disana.

"Yaudah, aku pulang dulu ya, Kak.. Salam untuk Papah sama Mamah kamu", ucap gua sebelum dia keluar mobil.

"Okey, salam juga untuk Mba Laras ya, Za..".

...

Pukul setengah sembilan malam gua sampai di rumah. Gua baru saja selesai mandi dan menyeduh kopi saat itu, lalu gua berniat untuk duduk di gazebo sambil menikmati secangkir kopi tersebut bersama rokok yang memang sudah menjadi duo maut perusak kesehatan.

Malam itu gua masih ingat, cuacanya tidak begitu dingin... Hanya sesekali desiran angin berhembus pelan, lalu suara jangkrik sebagai penanda malam semakin larut pun cukup terdengar nyaring.

Seorang perempuan cantik yang sudah gua kenal selama ini berjalan dari arah dalam rumah menuju gazebo.

Dia duduk di samping gua dengan jarak yang tidak terlalu dekat.

"Tumben kamu belum tidur, Mba", ucap gua setelah menghembuskan asap rokok ke sisi lain.

Malam itu ada yang sedikit berbeda dari dirinya.

"Mba gak bisa tidur, Za..".

Nada suaranya terdengar sedikit aneh menurut gua. Dan saat itu juga gua yakin ada sesuatu yang sedang ia fikirkan.

Gua matikan rokok yang belum habis terbakar kedalam asbak, lalu meneguk kopi yang mulai terasa dingin.

Gua menggeser tubuh agar lebih dekat dengannya.

"Mba.. Hey...", gua memanggilnya yang sedang tertunduk.

Lalu gua melirik kearah tangannya yang memegang sebuah kertas terlipat.

"Mba, ada apa ?", tanya gua sedikit khawatir.

Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulutnya. Posisinya tidak berubah, hanya kedua tangannya yang masih memainkan kertas putih itu.

"Itu apa ?", tanya gua sambil melihat kearah kertas putih yang ia lipat.

Hening beberapa saat diantara kami berdua.

"Mba.. Cerita sama aku, kamu kenapa ?", tanya gua lagi setelah kami terdiam cukup lama.

Kali ini dia menengok kepada gua. Lalu sedetik kemudian gua pun terkejut melihat kedua matanya yang sudah berkaca-kaca.

"Loch ?! Mba! Kamu kenapa ?!", tanya gua untuk kesekian kalinya.

Ibu gua itu hanya menggelengkan kepalanya pelan, lalu dia memberikan kertas yang sebelumnya ia pegang kepada gua.

Gua membuka lipatan kertas tersebut, lalu disana terlihat cukup banyak keterangan yang tercetak, gua baca pelan-pelan isi keterangan pada kertas tersebut sampai selesai.

Gua menghela nafas dengan pelan, lalu memandang kearah kolam renang. Otak gua rasanya tidak bisa menyerap dengan baik apa yang baru saja gua baca sebelumnya.

Untuk kesekian kalinya gua tidak percaya dan sulit menerima sesuatu yang... Sangat buruk seperti ini... Dan kenapa harus selalu ada saja cobaan kepada gua dan keluarga dalam waktu yang berdekatan...

"Mba, disitu tertulis udah cukup lama, kenapa kamu baru nunjukin sekarang ?", tanya gua sedikit menahan emosi.

Ibu gua tersenyum, mungkin tersenyum getir, karena airmatanya mulai menetes.

"Mba berharap semuanya bisa kita lewatin dengan baik dan dengan ridho Allah SWT, Za..", jawabnya.

Tanpa terasa airmata gua pun hampir keluar.

"Mba, kenapa gak cerita sama aku selama ini ?", tanya gua getir.

"Mba gak mau buat semuanya khawatir, Mba sayang kalian.. Baru kamu yang tau soal ini..", jawabnya.

Gua tidak bisa mengatakan apa-apa lagi selain memeluk Ibu gua itu, gua tidak tau apa yang sebenarnya terjadi selama ini. Kenapa juga dia baru menunjukkannya sekarang.

Malam itu membuat gua merasakan ikatan bathin yang kuat dengannya. Rasanya saat itu, gua benar-benar merasakan kalau dia adalah Ibu kandung gua.


*
*
*


Dari sini semua rentetan cerita itu di mulai...

Dari sini semuanya berawal, yang disetiap kejadiannya membuat gua tidak percaya dengan apa yang sudah kami semua lewati.

Dari sini juga, kami mengerti apa makna kata Ikhlas yang sebenarnya. Setidaknya bagi kami sekeluarga.

Dan untuk itu semua, gua berterima kasih kepada ALLAH SWT untuk jalan hidup kami yang begitu penuh kejutan.

Sekalipun selalu ada pengorbanan yang harus dibayar, baik perasaan ataupun dengan sebuah nyawa.

Terimakasih Tuhan ku.
Diubah oleh glitch.7 02-01-2018 10:26
fatqurr
fatqurr memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.