- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•3Anggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#5004
Sebelum Cahaya
PART XXXIV
Gua berlari kecil pada selasar rumah sakit ini, mencari ruangan tempat istri gua dirawat. Setelah menanyakan kepada perawat yang ada, akhirnya gua sampai di depan pintu ruang rawat inap.
"Assalamualaikum", ucap gua seraya membuka pintu.
"Walaikumsalam", jawab kedua mertua gua berbarengan.
Gua melihat mereka berdua berdiri di sisi ranjang. Sedangkan istri gua terbaring diatas ranjang tersebut.
Gua berjalan mendekat dan menyalami kedua mertua gua.
"Tadi baru dipindah kesini, Za..", ucap Papah mertua gua.
Gua hanya mengangguk pelan, lalu kembali memperhatikan istri gua yang sedang terbaring, wajahnya terlihat pucat, bibirnya sedikit memutih tidak seperti biasanya. Hati gua kelu melihat perempuan yang gua sayangi itu terbaring lemah. Sebuah infusan pun tertancap di punggung tangannya.
"Tadi pagi, dia nelpon Papah, katanya perutnya sakit, terus di kamar mandi dia jatuh, dan pendarahan, Za..", ucap Papah mertua gua.
Kemudian Mamah mertua gua, Mamah tiri istri gua itu berjalan mendekati gua, dia usap punggung gua pelan.
"Kamu yang sabar ya, Vera keguguran, Za...", ucapnya lirih.
Gua menghela nafas pelan, memejamkan mata sesaat sebelum menanggapi mereka berdua.
"Tapi gimana sekarang kondisinya ? Apa kata dokter ?", tanya gua.
"Vera langsung Papah bawa kesini, mau gak mau dia harus di kuret, Za..", jawab Mamah mertua gua.
Kemudian pintu ruangan terbuka, seorang dokter dan perawat masuk kedalam.
"Ah, dok.. Ini suami anak saya...", ucap Papah mertua gua mengenalkan.
Setelah Gua bersalaman dengan dokter tersebut, akhirnya gua mendapatkan penjelasan secara langsung bagaimana kondisi istri gua yang sebenarnya.
"Jadi, istri anda sebenarnya sehat secara fisik, dan setelah tadi kami tangani, kemungkinan besar, janin Ibu Vera tidak berkembang secara baik dan sehat, untuk faktor penyebabnya, banyak kemungkinan, Mas..", ucap dokter tersebut.
"Maksudnya gimana ya, dok ?", tanya gua.
"Ya faktor penyebab janin itu tidak berkembang secara normal banyak kemungkinannya, misalkan disebabkan karena Mba Vera mengalami stres atau sering kelelahan, dan kalo memang akhir-akhir ini dia mengalami stres, itu bisa jadi pemicu, walaupun kemungkinannya kecil mengalami keguguran, seperti yang saya bilang tadi, fisiknya sehat tapi belum tentu dengan kondisi psikisnya. Saya belum banyak bertanya ke istri anda, karena begitu dibawa kesini, dia sudah lemah dan mengaduh kesakitan, saya rasa dia mengalami kram perut sebelumnya", jawab dokter tersebut.
Gua menganggukkan kepala.
"Oh ya, mungkin anda lebih tau, apa istri anda akhir-akhir ini memikirkan banyak hal ?", tanya dokter.
Gua sedikit terkejut, lalu menyadari sesuatu. "Iya, dok.. Dia memang akhir-akhir ini sedang menyelesaikan skripsinya dan... Ada hal lain yang mengganggu pikirannya, dan mungkin itu menjadi beban...", jawab gua.
"Ya itu maksud saya, walaupun kemungkinannya kecil karena beban pikiran, tapi resikonya tetap ada, dan saya juga sebelumnya dibertahukan oleh mertua anda, kalo istri anda ini tinggal sendirian di apartemennya.. Saya rasa itu juga bisa memicu beban fikirannya. Yang seharusnya di masa kehamilan trisemester pertama, dia bisa dekat dengan suaminya atau keluarganya..", lanjut dokter tersebut.
Beberapa hal yang gua fikirkan salah satunya adalah persoalan yang baru saja kami alami. Mungkin saja istri gua terbebani dengan kekhawatiran gua karena kehamilannya itu, selain skripsi yang sedang ia kerjakan tentunya.
Sedikit ketegangan diantara gua dan istri beberapa hari lalu mungkin menjadi penyebabnya, gua tau dia tidak suka dengan tingkah dan reaksi gua yang terlihat biasa aja atau malah terlihat tidak suka dengan kehamilannya, dan gua rasa hal itu juga yang membuat pikirannya terbebani.
"Terus, dok.. Sekarang kondisi istri saya bagaimana ?", tanya gua lagi.
Dokter melihat istri gua yang masih belum siuman, kemudian tersenyum kepada gua.
"Saya berharap anda dan keluarga bisa menjaganya dengan baik..", jawab dokter.
"Menjaga gimana maksudnya, dok ?", tanya gua bingung.
"Ini pertama kalinya istri anda hamil kan ?", tanya balik dokter tersebut.
Gua mengangguk.
"Ya, saya khawatir dengan kondisi pikirannya, apalagi ini kehamilan pertamanya dan langsung mengalami keguguran. Kalau soal fisiknya saya rasa dia akan pulih dengan cepat, tapi untuk mental dan fikirannya... Saya harap dia bisa ikhlas menerima kenyataan ini...", jawab dokter dengan nada bicara yang terdengar hati-hati.
Gua langsung ingat kejadian buruk yang dialami istri gua beberapa tahun lalu, bagaimana saat itu kondisi mental dan psikisnya terganggu, dan itu cukup parah. Gua jadi ketakutan sendiri setelah dokter mengatakan hal tersebut.
Sekarang kami semua hanya bisa berharap kalau perempuan yang sedang berada diatas ranjang itu tidak mengalami stres yang berkepanjangan seperti dahulu.
Menjelang sore hari, akhirnya istri gua siuman, saat itu gua berada di luar ruangan, sedang merokok di parkiran sambil menelepon Ibu yang menanyakan perkembangan dan kondisi menantunya itu. Setelah selesai telponan dengan Ibu, gua kembali ke ruangan ketika menerima sms dari Papah mertua gua yang mengabarkan istri gua sudah siuman.
"Hai, sayang..", sapa gua sambil tersenyum dan memegang tangannya.
Gua berdiri di sisi ranjang, Papah mertua gua berada di sisi lainnya, sedangkan Mamah mertua gua berada di samping belakang gua.
Dia tersenyum tipis, masih nampak wajahnya yang pucat dan lemah.
"Kamu gak apa-apa, tenang ya sayang.. Semuanya akan baik-baik aja kok", lanjut gua seraya mengusap punggung tangannya.
"Tapi, Za... Anak kita..", ucapnya lemah dengan matanya yang sendu.
"Eh ? Eeuu.. Gak usah dipikirin dulu ya, sayang... Yang penting kamunya sehat dulu, mungkin ini belum waktunya aja, Ve..", jawab gua cepat.
Dia kembali memejamkan mata sesaat, terlihat sangat lemah. Gua duduk setelah mengambil kursi di dalam ruangan ini, kemudian kembali memegangi tangannya.
Kemudian istri gua menceritakan awalnya kenapa dia bisa sampai terjatuh di kamar mandi, apa yang dikatakan dan diduga sebelumnya oleh dokter kepada gua ternyata benar. Istri gua ternyata mengalami kram perut beberapa kali sebelum akhirnya sampai terjatuh di pagi hari tadi. Dia sengaja tidak menceritakan kepada siapapun kalau sudah pernah merasakan sakit pada perutnya itu beberapa kali selama dua bulan terakhir, karena mungkin menurutnya hanya sakit perut biasa atau maag. Dan akhirnya, setelah perkiraan yang salah dan kami tidak pernah benar-benar mengecek secara detail lewat usg atau apapun itu, kejadian lah apa yang dialaminya hari ini.
Mamah mertua gua menenangkan anak tirinya itu, agar tidak terlalu stress menghadapi situasi dan kondisi yang sedang dia alami ini. Betul kata dokter, terlihat kalau istri gua itu sedikittidak percaya dengan janin yang ada di dalam kandungnya sudah tidak ada, dia mulai menunjukkan kesedihannya.
Dan sekarang gua sedang mengusap airmatanya yang keluar tanpa henti, dengan suara isak tangisnya yang terdengar memenuhi ruangan ini, Mamah mertua gua sampai ikut merasakan kesedihan yang nampak dari wajah anaknya itu. Papah mertua gua sempat meneteskan airmata sedikit lalu berusaha tegar dengan kenyataan yang harus kami terima.
Bagaimana dengan gua...?
Jahat... Ya seperti itu mungkin anggapan kalian ketika tau gua hanya terdiam tanpa ekspresi apapun, karena pada kenyataannya, gua benar-benar brengsek. Maaf untuk saat itu, Ve... Aku bersyukur kamu selamat dan menerima dengan hati yang bahagia kalau janin itu harus gugur. Maaf...
"Assalamualaikum", ucap gua seraya membuka pintu.
"Walaikumsalam", jawab kedua mertua gua berbarengan.
Gua melihat mereka berdua berdiri di sisi ranjang. Sedangkan istri gua terbaring diatas ranjang tersebut.
Gua berjalan mendekat dan menyalami kedua mertua gua.
"Tadi baru dipindah kesini, Za..", ucap Papah mertua gua.
Gua hanya mengangguk pelan, lalu kembali memperhatikan istri gua yang sedang terbaring, wajahnya terlihat pucat, bibirnya sedikit memutih tidak seperti biasanya. Hati gua kelu melihat perempuan yang gua sayangi itu terbaring lemah. Sebuah infusan pun tertancap di punggung tangannya.
"Tadi pagi, dia nelpon Papah, katanya perutnya sakit, terus di kamar mandi dia jatuh, dan pendarahan, Za..", ucap Papah mertua gua.
Kemudian Mamah mertua gua, Mamah tiri istri gua itu berjalan mendekati gua, dia usap punggung gua pelan.
"Kamu yang sabar ya, Vera keguguran, Za...", ucapnya lirih.
Gua menghela nafas pelan, memejamkan mata sesaat sebelum menanggapi mereka berdua.
"Tapi gimana sekarang kondisinya ? Apa kata dokter ?", tanya gua.
"Vera langsung Papah bawa kesini, mau gak mau dia harus di kuret, Za..", jawab Mamah mertua gua.
Kemudian pintu ruangan terbuka, seorang dokter dan perawat masuk kedalam.
"Ah, dok.. Ini suami anak saya...", ucap Papah mertua gua mengenalkan.
Setelah Gua bersalaman dengan dokter tersebut, akhirnya gua mendapatkan penjelasan secara langsung bagaimana kondisi istri gua yang sebenarnya.
"Jadi, istri anda sebenarnya sehat secara fisik, dan setelah tadi kami tangani, kemungkinan besar, janin Ibu Vera tidak berkembang secara baik dan sehat, untuk faktor penyebabnya, banyak kemungkinan, Mas..", ucap dokter tersebut.
"Maksudnya gimana ya, dok ?", tanya gua.
"Ya faktor penyebab janin itu tidak berkembang secara normal banyak kemungkinannya, misalkan disebabkan karena Mba Vera mengalami stres atau sering kelelahan, dan kalo memang akhir-akhir ini dia mengalami stres, itu bisa jadi pemicu, walaupun kemungkinannya kecil mengalami keguguran, seperti yang saya bilang tadi, fisiknya sehat tapi belum tentu dengan kondisi psikisnya. Saya belum banyak bertanya ke istri anda, karena begitu dibawa kesini, dia sudah lemah dan mengaduh kesakitan, saya rasa dia mengalami kram perut sebelumnya", jawab dokter tersebut.
Gua menganggukkan kepala.
"Oh ya, mungkin anda lebih tau, apa istri anda akhir-akhir ini memikirkan banyak hal ?", tanya dokter.
Gua sedikit terkejut, lalu menyadari sesuatu. "Iya, dok.. Dia memang akhir-akhir ini sedang menyelesaikan skripsinya dan... Ada hal lain yang mengganggu pikirannya, dan mungkin itu menjadi beban...", jawab gua.
"Ya itu maksud saya, walaupun kemungkinannya kecil karena beban pikiran, tapi resikonya tetap ada, dan saya juga sebelumnya dibertahukan oleh mertua anda, kalo istri anda ini tinggal sendirian di apartemennya.. Saya rasa itu juga bisa memicu beban fikirannya. Yang seharusnya di masa kehamilan trisemester pertama, dia bisa dekat dengan suaminya atau keluarganya..", lanjut dokter tersebut.
Beberapa hal yang gua fikirkan salah satunya adalah persoalan yang baru saja kami alami. Mungkin saja istri gua terbebani dengan kekhawatiran gua karena kehamilannya itu, selain skripsi yang sedang ia kerjakan tentunya.
Sedikit ketegangan diantara gua dan istri beberapa hari lalu mungkin menjadi penyebabnya, gua tau dia tidak suka dengan tingkah dan reaksi gua yang terlihat biasa aja atau malah terlihat tidak suka dengan kehamilannya, dan gua rasa hal itu juga yang membuat pikirannya terbebani.
"Terus, dok.. Sekarang kondisi istri saya bagaimana ?", tanya gua lagi.
Dokter melihat istri gua yang masih belum siuman, kemudian tersenyum kepada gua.
"Saya berharap anda dan keluarga bisa menjaganya dengan baik..", jawab dokter.
"Menjaga gimana maksudnya, dok ?", tanya gua bingung.
"Ini pertama kalinya istri anda hamil kan ?", tanya balik dokter tersebut.
Gua mengangguk.
"Ya, saya khawatir dengan kondisi pikirannya, apalagi ini kehamilan pertamanya dan langsung mengalami keguguran. Kalau soal fisiknya saya rasa dia akan pulih dengan cepat, tapi untuk mental dan fikirannya... Saya harap dia bisa ikhlas menerima kenyataan ini...", jawab dokter dengan nada bicara yang terdengar hati-hati.
Gua langsung ingat kejadian buruk yang dialami istri gua beberapa tahun lalu, bagaimana saat itu kondisi mental dan psikisnya terganggu, dan itu cukup parah. Gua jadi ketakutan sendiri setelah dokter mengatakan hal tersebut.
Sekarang kami semua hanya bisa berharap kalau perempuan yang sedang berada diatas ranjang itu tidak mengalami stres yang berkepanjangan seperti dahulu.
Menjelang sore hari, akhirnya istri gua siuman, saat itu gua berada di luar ruangan, sedang merokok di parkiran sambil menelepon Ibu yang menanyakan perkembangan dan kondisi menantunya itu. Setelah selesai telponan dengan Ibu, gua kembali ke ruangan ketika menerima sms dari Papah mertua gua yang mengabarkan istri gua sudah siuman.
"Hai, sayang..", sapa gua sambil tersenyum dan memegang tangannya.
Gua berdiri di sisi ranjang, Papah mertua gua berada di sisi lainnya, sedangkan Mamah mertua gua berada di samping belakang gua.
Dia tersenyum tipis, masih nampak wajahnya yang pucat dan lemah.
"Kamu gak apa-apa, tenang ya sayang.. Semuanya akan baik-baik aja kok", lanjut gua seraya mengusap punggung tangannya.
"Tapi, Za... Anak kita..", ucapnya lemah dengan matanya yang sendu.
"Eh ? Eeuu.. Gak usah dipikirin dulu ya, sayang... Yang penting kamunya sehat dulu, mungkin ini belum waktunya aja, Ve..", jawab gua cepat.
Dia kembali memejamkan mata sesaat, terlihat sangat lemah. Gua duduk setelah mengambil kursi di dalam ruangan ini, kemudian kembali memegangi tangannya.
Kemudian istri gua menceritakan awalnya kenapa dia bisa sampai terjatuh di kamar mandi, apa yang dikatakan dan diduga sebelumnya oleh dokter kepada gua ternyata benar. Istri gua ternyata mengalami kram perut beberapa kali sebelum akhirnya sampai terjatuh di pagi hari tadi. Dia sengaja tidak menceritakan kepada siapapun kalau sudah pernah merasakan sakit pada perutnya itu beberapa kali selama dua bulan terakhir, karena mungkin menurutnya hanya sakit perut biasa atau maag. Dan akhirnya, setelah perkiraan yang salah dan kami tidak pernah benar-benar mengecek secara detail lewat usg atau apapun itu, kejadian lah apa yang dialaminya hari ini.
Mamah mertua gua menenangkan anak tirinya itu, agar tidak terlalu stress menghadapi situasi dan kondisi yang sedang dia alami ini. Betul kata dokter, terlihat kalau istri gua itu sedikittidak percaya dengan janin yang ada di dalam kandungnya sudah tidak ada, dia mulai menunjukkan kesedihannya.
Dan sekarang gua sedang mengusap airmatanya yang keluar tanpa henti, dengan suara isak tangisnya yang terdengar memenuhi ruangan ini, Mamah mertua gua sampai ikut merasakan kesedihan yang nampak dari wajah anaknya itu. Papah mertua gua sempat meneteskan airmata sedikit lalu berusaha tegar dengan kenyataan yang harus kami terima.
Bagaimana dengan gua...?
Jahat... Ya seperti itu mungkin anggapan kalian ketika tau gua hanya terdiam tanpa ekspresi apapun, karena pada kenyataannya, gua benar-benar brengsek. Maaf untuk saat itu, Ve... Aku bersyukur kamu selamat dan menerima dengan hati yang bahagia kalau janin itu harus gugur. Maaf...
°°°
Hampir dua minggu istri gua harus dirawat inap di rumah sakit, sampai hari ini akhirnya diperbolehkan untuk pulang setelah dinyatakan cukup sehat, dan kedepannya tinggal berobat jalan untuk sekedar mengecek kondisinya pasca operasi kuret itu.
Gua membereskan barang-barang yang sempat dibawa ke rumah sakit ini bersama Mamah mertua gua, sedangkan Papah mertua gua menyelesaikan urusan administrasi dan pembayaran. Istri gua sudah bisa berjalan normal walaupun harus pelan-pelan.
"Kalian pulang dan tinggal di rumah Mamah dulu ya, gak usah ke apartemen dulu",
Saran Mamah mertua gua itu diamini oleh kami berdua.
"Za.. Maaf ya..", ucap istri gua tiba-tiba.
Saat itu gua baru saja mengangkat tas yang berisi pakaian istri gua, dia masih duduk diatas ranjang. Sedangkan Mamah mertua gua berdiri disampingnya.
"Gak apa-apa, sayang... Kamu kok malah minta maaf..", jawab gua dengan tersenyum.
"Iya aku minta maaf gak bilang kalo aku beberapa kali ngerasain perut ini sakit, kalo aku bilang ke kamu atau inisiatif sendiri ke dokter mungkin gak akan kejadian kayak gini...", lanjutnya dengan suara yang sedih dan menundukkan kepalanya sedikit.
Mamah mertua gua langsung memeluk istri gua itu. Dan mengusap lembut punggungnya.
"Jangan nyalahin diri kamu terus, Vera.. Kita semua ngerti, yang penting kamunya harus sehat dan gak boleh terlalu mikirin soal kejadian ini lagi, biar tenang dulu, dan semoga Tuhan memberikan kalian calon anak lagi, ya ?", ucap Mamah mertua kepada anaknya itu sambil tersenyum.
Istri gua tersenyum, tapi masih terlihat raut wajahnya yang selalu merasa bersalah.
Gua berjalan mendekati mereka berdua, berdiri dihadapan istri gua dan memegang satu tangannya.
"Hey.. Semuanya udah takdir, dan berpikir positif seperti yang kamu bilang, mungkin Allah punya rencana lain untuk kita semua.. Inget kamu selalu ngingetin aku untuk begitu ?", ucap gua mengingatkan omongannya sendiri kepada gua beberapa bulan lalu.
Istri gua tersenyum, dan kali ini lebih bisa gua rasakan kalau dia sedikit terhibur.
"Makasih, Za.. Udah ngingetin aku..", jawabnya.
"Sama-sama, sayang. Yu kita pulang..".
Saat kami bertiga hendak keluar dari kamar rawat ini, Papah mertua gua datang bersama seorang dokter yang selama ini menangani istri gua.
"Loch, ada apalagi Pah ?", tanya Mamah mertua gua kepada suaminya itu.
"Oh enggak ada apa-apa, ini dokternya mau ketemu sama Vera dulu katanya...", jawab Papah mertua gua.
"Mba Vera, kondisi Mba sekarang udah cukup baik dari hasil medis dua minggu terakhir ini, nanti kedepannya seperti yang saya bilang kemarin, Mba harus tetap cek kondisi rahim kedepannya secara berkala, tidak harus disini, karena saya sudah memberikan hasil lab dan rekam medis Mba, ya siapa tau Mba Vera akan pulang ke Indonesia, jadi siapapun dokter yang nanti menangani Mba bisa tau riwayat kesehatan Mba nya..", ucap dokter mengingatkan istri gua.
"Oh iya dok, terimakasih banyak, tapi saya lebih baik check up disini aja dok untuk pemeriksaan berikutnya, kebetulan belum ada niat untuk pulang ke Indonesia..", jawab istri gua.
"Nah itu lebih baik, Mba.. Tapi saya do'a kan juga, semoga Mba bisa lekas sembuh dan tidak perlu kembali kesini karena sudah benar-benar sehat ya..", ucap dokter lagi sambil tersenyum.
"Aamiin, terimakasih banyak dokter", jawab istri gua.
"Mm, dok.. Tapi menurut hasil pemeriksaan terakhir, enggak ada jaringan atau darah kotor yang tertinggal di rahim istri saya kan ?", tanya gua penasaran.
"Ada, Mas... Masih ada tapi itu bukan masalah yang besar, dan memang normalnya seperti itu, nanti bisa di rasakan sendiri oleh Mba Vera nya, kalau dalam waktu dekat, Mba Vera mendapatkan menstruasi, biasanya sisa-sisa konsepsi yang tertinggal di dalam rahim ikut terbawa, tapi kalo sampai Mba Vera mengalami keluhan seperti nyeri berkepanjangan, demam atau pendarahan berat, berarti perlu tindakan lebih lanjut.. Maka dari itu, Mba Vera harus check up secara berkala...", jawab dokter menjelaskan kepada kami semua.
"Ya alhamdulilah kalau gitu, dok.. Semoga istri saya bisa kembali beraktifitas dengan normal lagi. Saya bersyukur istri saya masih selamat dan janin itu bisa dikeluarkan, karena saya pikir juga berbahaya untuk kondisi istri saya seperti kemarin...", timpal gua menanggapi ucapan dokter tersebut.
"Maksud kamu ?!".
Tiba-tiba nada suara istri gua terdengar meninggi. Kami semua menengok kepadanya yang sedang menatap gua dengan raut wajah emosi itu.
"Eh ? Kenapa, Ve ?", tanya gua bingung.
"Iya maksud kamu apa bilang kayak gitu ?! Kamu seneng janin itu gugur ? Terus bilang kalo janin itu ngebahayain aku ?! Kok bisa sih kamu mikir gitu, Za!", jawabnya dengan emosi yang sudah meluap-luap.
Mamah mertua gua langsung memegangi bahu istri gua, kemudian mengusapnya pelan.
"Vera, sabar. Maksud suami kamu bukan gitu sayang...", ucap Mamah mertua gua mencoba menenangkan.
"Bukan gitu, sayang. Kamu salah paham...", gua mendekati istri gua.
Dia agak memundurkan tubuhnya sedikit menjauh dari gua.
"Enggak, aku baru sadar.. Kamu dari awal tau aku hamil gak pernah suka! Dan gak pernah aku liat kamu seneng dengan kehamilan aku!", sentaknya dengan airmata yang sudah berlinang.
Kami semua tertegun mendengarnya, melihat reaksinya yang baru gua lihat se-emosi itu selama ini membuat kami cukup terkejut.
Nafasnya sedikit memburu, emosinya sangat terlihat jelas. Tidak lama kemudian dokter berjalan mendekati istri gua.
"Mba Vera, ingat kondisi anda yang baru pulih. Saya hanya mengingatkan, keadaan fisik anda mungkin sudah lebih baik, tapi kondisi mental anda belum sepenuhnya membaik, dan lebih penting lagi, anda tidak boleh terlalu terbebani oleh berbagai pikiran yang bisa membuat anda stress.. Ketenangan bathin lebih tepatnya yang saya maksud", ucap dokter dengan nada bicara yang lembut dan hati-hati.
"Istrigfar, Nak... Istigfar...", timpal Mamah mertua gua yang kemudian mengusap bahu perempuan yang gua cintai itu.
Barulah istri gua menghela nafas sambil memejamkan matanya dan gua yakin dia pun sedang beristigfar di dalam hatinya.
Setelah sedikit suasana ketegangan tadi, akhirnya kami pun pamit kepada dokter, mengucapkan terimakasih banyak dan gua secara pribadi meminta maaf kepada dokter tersebut atas kejadian tidak mengenakan sebelumnya.
Saat di dalam mobil menuju rumah mertua, gua duduk di bangku depan, Papah mertua gua mengemudikan mobil, sedangkan istri gua duduk di bangku belakang, menyandarkan kepalanya ke bahu Mamah mertua gua.
Gua melihatnya dari kaca spion dalam mobil, matanya terpejam, dan bahunya masih diusap perlahan oleh Mamah mertua gua. Wajahnya kembali terlihat sedikit pucat dengan sisa-sisa kesedihan.
Dalam lelah yang nampak terlihat dari wajahnya, gua mengucapkan kata maaf berulang-ulang di dalam hati untuk istri gua itu, gua hanya bisa terdiam menunggu sampai kami benar-benar ada waktu berdua untuk membahas apa yang seharusnya gua sampaikan kepadanya.
Dan gua berharap dia bisa mengerti kesalahan yang telah gua lakukan...
I Love You, Ve...
Gua membereskan barang-barang yang sempat dibawa ke rumah sakit ini bersama Mamah mertua gua, sedangkan Papah mertua gua menyelesaikan urusan administrasi dan pembayaran. Istri gua sudah bisa berjalan normal walaupun harus pelan-pelan.
"Kalian pulang dan tinggal di rumah Mamah dulu ya, gak usah ke apartemen dulu",
Saran Mamah mertua gua itu diamini oleh kami berdua.
"Za.. Maaf ya..", ucap istri gua tiba-tiba.
Saat itu gua baru saja mengangkat tas yang berisi pakaian istri gua, dia masih duduk diatas ranjang. Sedangkan Mamah mertua gua berdiri disampingnya.
"Gak apa-apa, sayang... Kamu kok malah minta maaf..", jawab gua dengan tersenyum.
"Iya aku minta maaf gak bilang kalo aku beberapa kali ngerasain perut ini sakit, kalo aku bilang ke kamu atau inisiatif sendiri ke dokter mungkin gak akan kejadian kayak gini...", lanjutnya dengan suara yang sedih dan menundukkan kepalanya sedikit.
Mamah mertua gua langsung memeluk istri gua itu. Dan mengusap lembut punggungnya.
"Jangan nyalahin diri kamu terus, Vera.. Kita semua ngerti, yang penting kamunya harus sehat dan gak boleh terlalu mikirin soal kejadian ini lagi, biar tenang dulu, dan semoga Tuhan memberikan kalian calon anak lagi, ya ?", ucap Mamah mertua kepada anaknya itu sambil tersenyum.
Istri gua tersenyum, tapi masih terlihat raut wajahnya yang selalu merasa bersalah.
Gua berjalan mendekati mereka berdua, berdiri dihadapan istri gua dan memegang satu tangannya.
"Hey.. Semuanya udah takdir, dan berpikir positif seperti yang kamu bilang, mungkin Allah punya rencana lain untuk kita semua.. Inget kamu selalu ngingetin aku untuk begitu ?", ucap gua mengingatkan omongannya sendiri kepada gua beberapa bulan lalu.
Istri gua tersenyum, dan kali ini lebih bisa gua rasakan kalau dia sedikit terhibur.
"Makasih, Za.. Udah ngingetin aku..", jawabnya.
"Sama-sama, sayang. Yu kita pulang..".
Saat kami bertiga hendak keluar dari kamar rawat ini, Papah mertua gua datang bersama seorang dokter yang selama ini menangani istri gua.
"Loch, ada apalagi Pah ?", tanya Mamah mertua gua kepada suaminya itu.
"Oh enggak ada apa-apa, ini dokternya mau ketemu sama Vera dulu katanya...", jawab Papah mertua gua.
"Mba Vera, kondisi Mba sekarang udah cukup baik dari hasil medis dua minggu terakhir ini, nanti kedepannya seperti yang saya bilang kemarin, Mba harus tetap cek kondisi rahim kedepannya secara berkala, tidak harus disini, karena saya sudah memberikan hasil lab dan rekam medis Mba, ya siapa tau Mba Vera akan pulang ke Indonesia, jadi siapapun dokter yang nanti menangani Mba bisa tau riwayat kesehatan Mba nya..", ucap dokter mengingatkan istri gua.
"Oh iya dok, terimakasih banyak, tapi saya lebih baik check up disini aja dok untuk pemeriksaan berikutnya, kebetulan belum ada niat untuk pulang ke Indonesia..", jawab istri gua.
"Nah itu lebih baik, Mba.. Tapi saya do'a kan juga, semoga Mba bisa lekas sembuh dan tidak perlu kembali kesini karena sudah benar-benar sehat ya..", ucap dokter lagi sambil tersenyum.
"Aamiin, terimakasih banyak dokter", jawab istri gua.
"Mm, dok.. Tapi menurut hasil pemeriksaan terakhir, enggak ada jaringan atau darah kotor yang tertinggal di rahim istri saya kan ?", tanya gua penasaran.
"Ada, Mas... Masih ada tapi itu bukan masalah yang besar, dan memang normalnya seperti itu, nanti bisa di rasakan sendiri oleh Mba Vera nya, kalau dalam waktu dekat, Mba Vera mendapatkan menstruasi, biasanya sisa-sisa konsepsi yang tertinggal di dalam rahim ikut terbawa, tapi kalo sampai Mba Vera mengalami keluhan seperti nyeri berkepanjangan, demam atau pendarahan berat, berarti perlu tindakan lebih lanjut.. Maka dari itu, Mba Vera harus check up secara berkala...", jawab dokter menjelaskan kepada kami semua.
"Ya alhamdulilah kalau gitu, dok.. Semoga istri saya bisa kembali beraktifitas dengan normal lagi. Saya bersyukur istri saya masih selamat dan janin itu bisa dikeluarkan, karena saya pikir juga berbahaya untuk kondisi istri saya seperti kemarin...", timpal gua menanggapi ucapan dokter tersebut.
"Maksud kamu ?!".
Tiba-tiba nada suara istri gua terdengar meninggi. Kami semua menengok kepadanya yang sedang menatap gua dengan raut wajah emosi itu.
"Eh ? Kenapa, Ve ?", tanya gua bingung.
"Iya maksud kamu apa bilang kayak gitu ?! Kamu seneng janin itu gugur ? Terus bilang kalo janin itu ngebahayain aku ?! Kok bisa sih kamu mikir gitu, Za!", jawabnya dengan emosi yang sudah meluap-luap.
Mamah mertua gua langsung memegangi bahu istri gua, kemudian mengusapnya pelan.
"Vera, sabar. Maksud suami kamu bukan gitu sayang...", ucap Mamah mertua gua mencoba menenangkan.
"Bukan gitu, sayang. Kamu salah paham...", gua mendekati istri gua.
Dia agak memundurkan tubuhnya sedikit menjauh dari gua.
"Enggak, aku baru sadar.. Kamu dari awal tau aku hamil gak pernah suka! Dan gak pernah aku liat kamu seneng dengan kehamilan aku!", sentaknya dengan airmata yang sudah berlinang.
Kami semua tertegun mendengarnya, melihat reaksinya yang baru gua lihat se-emosi itu selama ini membuat kami cukup terkejut.
Nafasnya sedikit memburu, emosinya sangat terlihat jelas. Tidak lama kemudian dokter berjalan mendekati istri gua.
"Mba Vera, ingat kondisi anda yang baru pulih. Saya hanya mengingatkan, keadaan fisik anda mungkin sudah lebih baik, tapi kondisi mental anda belum sepenuhnya membaik, dan lebih penting lagi, anda tidak boleh terlalu terbebani oleh berbagai pikiran yang bisa membuat anda stress.. Ketenangan bathin lebih tepatnya yang saya maksud", ucap dokter dengan nada bicara yang lembut dan hati-hati.
"Istrigfar, Nak... Istigfar...", timpal Mamah mertua gua yang kemudian mengusap bahu perempuan yang gua cintai itu.
Barulah istri gua menghela nafas sambil memejamkan matanya dan gua yakin dia pun sedang beristigfar di dalam hatinya.
Setelah sedikit suasana ketegangan tadi, akhirnya kami pun pamit kepada dokter, mengucapkan terimakasih banyak dan gua secara pribadi meminta maaf kepada dokter tersebut atas kejadian tidak mengenakan sebelumnya.
Saat di dalam mobil menuju rumah mertua, gua duduk di bangku depan, Papah mertua gua mengemudikan mobil, sedangkan istri gua duduk di bangku belakang, menyandarkan kepalanya ke bahu Mamah mertua gua.
Gua melihatnya dari kaca spion dalam mobil, matanya terpejam, dan bahunya masih diusap perlahan oleh Mamah mertua gua. Wajahnya kembali terlihat sedikit pucat dengan sisa-sisa kesedihan.
Dalam lelah yang nampak terlihat dari wajahnya, gua mengucapkan kata maaf berulang-ulang di dalam hati untuk istri gua itu, gua hanya bisa terdiam menunggu sampai kami benar-benar ada waktu berdua untuk membahas apa yang seharusnya gua sampaikan kepadanya.
Dan gua berharap dia bisa mengerti kesalahan yang telah gua lakukan...
I Love You, Ve...
°°°
Quote:
***
"Disini, Pah ?".
"Iya disitu gak apa-apa, Za..", jawab Papah mertua gua.
Gua mulai menggali tanah yang ditumbuhi rerumputan hijau di hadapan gua. Kurang dari setengah meter gua menggali dengan cangkul, akhirnya sebuah lubang dengan diamater seluas lingkaran bola basket pun sudah terbentuk.
Papah mertua gua memberikan sebuah bungkusan yang terbuat dari kain berwarna putih.
"Baca do'a, Za...", ucap Mamah mertua gua mengingatkan.
Gua hanya mengangguk, dan mulai berjongkok di depan lubang tersebut.
Sambil mengucapkan basmalah, gua masukkan bungkusan tersebut ke dasar lubang yang tidak terlalu dalam itu sambil berdo'a di dalam hati kepada Allah SWT.
Gua mulai kembali menutup lubang tersebut dengan tanah yang sebelumnya sudah gua gali sampai akhirnya lubang tersebut kembali rata dengan tanah di halaman samping rumah Papah mertua gua itu.
Terdengar suara isak tangis yang tidak begitu keras dari arah belakang, gua taruh cangkul sembarangan dan membalikkan badan.
Istri gua sedang dipeluk oleh Mamah tirinya, dan Papah kandungnya itu ada di sisi kanannya, mengusap-usap pelan kepala anaknya yang tertutup hijab berwarna hitam di pagi ini.
Gua menghela nafas sebentar, lalu rasanya semua peredaran darah dalam tubuh gua bergerak dengan cepat, tubuh gua sedikit, ya hanya sedikit tapi gua bisa merasakan bergetar sesaat. Lalu bulu roma gua pun merinding, tanpa bisa gua tahan lagi, sedetik kemudian airmata ini turun dengan perlahan membasahi wajah gua.
Mungkin, saat itu, Papah dan Mamah mertua gua melihat menantunya ini ikut sedih dengan airmata yang sudah keluar, dan gua rasa mereka berdua mengerti. Tidak lama kemudian kedua mertua gua pergi berjalan masuk ke rumah.
Sekarang tinggallah gua dan istri yang berada di halaman samping ini.
Gua berjalan mendekati istri tercinta, tepat satu langkah sebelum gua benar-benar sampai dihadapannya, gua bersimpuh, menopang tubuh gua dengan kedua lutut yang menyentuh rerumputan.
Gua raih kedua tangannya yang lembut itu, menciumi kedua punggung tangannya bergantian terus-menerus, sampai akhirnya gua meminta maaf kepadanya.
"Aku.. Bener-bener minta maaf sama kamu, Ve.. Tolong maafin aku...", ucap gua sambil menengadahkan kepala untuk menatap wajahnya dari bawah sini.
Istri gua menghela nafasnya disertai sedikit isak tangis yang sudah mulai mereda.
"Lihat sekarang, Za...hiks.. hiks.. Kamu sendiri yang harus nguburin dia, hiks... hiks...", ucapnya dengan suara yang bercampur tangis.
"Maaf, maaf... Maafin aku..", ulang gua sungguh-sungguh.
"Salah apa janin itu sama kamu ? Hah ? Hiks... Hiks.. Tega kamu berharap kayak gini... Hiks.. Hiks..", ucapnya lagi.
"Ve, aku nyesel udah pernah berharap seperti itu, aku... Aku bener-bener nyesel, maafin aku....".
"Kamu minta maaf sama Allah..".
"Udah, Ve... Udah... Tadi malam aku shalat toubat, aku minta maaf sama Dia...".
"Aku kecewa sama kamu".
"Ve, please, maafin aku".
Kali ini gua berdiri dengan tetap memegang kedua tangannya itu.
"Maafin suami kamu ini, please.. Aku janji gak akan pernah takut lagi dengan kondisi kehamilan kamu di lain hari nanti. Tolong, Ve.. Maafin aku", gua memohon kepada istri gua yang sangat gua cintai itu.
Matanya terpejam, keningnya berkerut, pipinya memerah, dan airmatanya kembali membanjiri wajahnya.
Tepat saat dia sedikit berteriak menangis karena kesedihan yang terlalu pahit itu, gua peluk tubuhnya cukup erat.
"Maafin aku sayang, maafin aku. Aku bener-bener nyesel, dan janji gak akan mengulang harapan sialan itu lagi. Aku sayang kamu", bisik gua tepat di telinganya yang juga tertutup hijab.
Dia hanya terus tersedu dalam pelukan gua. Rasanya saat itu, gua sudah menjadi suami yang gagal.
"Iya disitu gak apa-apa, Za..", jawab Papah mertua gua.
Gua mulai menggali tanah yang ditumbuhi rerumputan hijau di hadapan gua. Kurang dari setengah meter gua menggali dengan cangkul, akhirnya sebuah lubang dengan diamater seluas lingkaran bola basket pun sudah terbentuk.
Papah mertua gua memberikan sebuah bungkusan yang terbuat dari kain berwarna putih.
"Baca do'a, Za...", ucap Mamah mertua gua mengingatkan.
Gua hanya mengangguk, dan mulai berjongkok di depan lubang tersebut.
Sambil mengucapkan basmalah, gua masukkan bungkusan tersebut ke dasar lubang yang tidak terlalu dalam itu sambil berdo'a di dalam hati kepada Allah SWT.
Gua mulai kembali menutup lubang tersebut dengan tanah yang sebelumnya sudah gua gali sampai akhirnya lubang tersebut kembali rata dengan tanah di halaman samping rumah Papah mertua gua itu.
Terdengar suara isak tangis yang tidak begitu keras dari arah belakang, gua taruh cangkul sembarangan dan membalikkan badan.
Istri gua sedang dipeluk oleh Mamah tirinya, dan Papah kandungnya itu ada di sisi kanannya, mengusap-usap pelan kepala anaknya yang tertutup hijab berwarna hitam di pagi ini.
Gua menghela nafas sebentar, lalu rasanya semua peredaran darah dalam tubuh gua bergerak dengan cepat, tubuh gua sedikit, ya hanya sedikit tapi gua bisa merasakan bergetar sesaat. Lalu bulu roma gua pun merinding, tanpa bisa gua tahan lagi, sedetik kemudian airmata ini turun dengan perlahan membasahi wajah gua.
Mungkin, saat itu, Papah dan Mamah mertua gua melihat menantunya ini ikut sedih dengan airmata yang sudah keluar, dan gua rasa mereka berdua mengerti. Tidak lama kemudian kedua mertua gua pergi berjalan masuk ke rumah.
Sekarang tinggallah gua dan istri yang berada di halaman samping ini.
Gua berjalan mendekati istri tercinta, tepat satu langkah sebelum gua benar-benar sampai dihadapannya, gua bersimpuh, menopang tubuh gua dengan kedua lutut yang menyentuh rerumputan.
Gua raih kedua tangannya yang lembut itu, menciumi kedua punggung tangannya bergantian terus-menerus, sampai akhirnya gua meminta maaf kepadanya.
"Aku.. Bener-bener minta maaf sama kamu, Ve.. Tolong maafin aku...", ucap gua sambil menengadahkan kepala untuk menatap wajahnya dari bawah sini.
Istri gua menghela nafasnya disertai sedikit isak tangis yang sudah mulai mereda.
"Lihat sekarang, Za...hiks.. hiks.. Kamu sendiri yang harus nguburin dia, hiks... hiks...", ucapnya dengan suara yang bercampur tangis.
"Maaf, maaf... Maafin aku..", ulang gua sungguh-sungguh.
"Salah apa janin itu sama kamu ? Hah ? Hiks... Hiks.. Tega kamu berharap kayak gini... Hiks.. Hiks..", ucapnya lagi.
"Ve, aku nyesel udah pernah berharap seperti itu, aku... Aku bener-bener nyesel, maafin aku....".
"Kamu minta maaf sama Allah..".
"Udah, Ve... Udah... Tadi malam aku shalat toubat, aku minta maaf sama Dia...".
"Aku kecewa sama kamu".
"Ve, please, maafin aku".
Kali ini gua berdiri dengan tetap memegang kedua tangannya itu.
"Maafin suami kamu ini, please.. Aku janji gak akan pernah takut lagi dengan kondisi kehamilan kamu di lain hari nanti. Tolong, Ve.. Maafin aku", gua memohon kepada istri gua yang sangat gua cintai itu.
Matanya terpejam, keningnya berkerut, pipinya memerah, dan airmatanya kembali membanjiri wajahnya.
Tepat saat dia sedikit berteriak menangis karena kesedihan yang terlalu pahit itu, gua peluk tubuhnya cukup erat.
"Maafin aku sayang, maafin aku. Aku bener-bener nyesel, dan janji gak akan mengulang harapan sialan itu lagi. Aku sayang kamu", bisik gua tepat di telinganya yang juga tertutup hijab.
Dia hanya terus tersedu dalam pelukan gua. Rasanya saat itu, gua sudah menjadi suami yang gagal.
If only they could see
If only they had been here
They would understand
How someone could have chosen
If only they had been here
They would understand
How someone could have chosen
Cayman Island - King of Convenience
oktavp dan fatqurr memberi reputasi
2

