- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
jenggalasunyi dan 127 lainnya memberi reputasi
124
1.9M
8.8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#4978
Sebelum Cahaya
PART XXXIII
Satu minggu sudah gua berada di rumah dan kembali bekerja, dan hari ini gantian istri gua yang pulang ke Indonesia setelah gua hanya mengunjunginya selama tiga hari di Singapore minggu lalu.
Sekitar pukul sepuluh pagi gua sudah menjemputnya di bandara, lalu kami berdua pergi ke sebuah klinik dokter kandungan yang berada di ibu kota.
Saat gua berada di Singapore minggu lalu, kami tidak jadi memeriksakan dan mengecek kandungan istri gua, karena di hari yang sama itu pula gua harus pulang ke Indonesia lebih dulu, ada keperluan yang mendadak yang diberitakan Ibu gua soal kerjaan.
Sesampainya di klinik, kami mengantri sekitar setengah jam sampai akhirnya dipanggil untuk masuk ke ruang dokter. Selesai pengecekan yang tidak lama itu, dokter pun mengabarkan berita bahagia yang memang diharapkan istri gua.
"Ya, hasilnya Mba Vera memang positif hamil, usia kandungannya sudah masuk delapan minggu...", ucap dokter kandungan tersebut di hadapan kami berdua.
"Alhamdulilah, terus kondisi saya dan janin ini gimana, dok ?", tanya istri gua setelah mengucapkan syukur.
"Kalo soal kondisi janin, harus di cek lebih lanjut, Mba. Tapi kalo kondisi Mba Vera saat ini baik, tidak ada masalah apapun sejauh pemeriksaan yang singkat tadi..", jawab dokter.
"Oh gitu, ya alhamdulilah kalo gitu dok, saya memang mau mastiin kehamilan saya dulu aja, karena saya sendiri baru cek dari testpack, kalo gitu terimakasih banyak, dok..", ucap istri gua.
"Ya sekali lagi selamat ya Mba dan Masnya.. Mba Vera positif hamil, semoga janinnya berkembang dengan baik dan sehat kedepannya..", ucap dokter tersebut sambil menyalami kami berdua.
Selesai pemeriksaan yang singkat tersebut, gua dan istri pun kembali ke mobil untuk pulang ke rumah. Mobil baru memasuki tol ketika istri gua mulai menanyakan hal yang dia rasa aneh...
"Za, kamu kenapa sih ?", tanyanya yang duduk dibangku samping kemudi.
"Hm ? Aku ? Kenapa ? Aku gak apa-apa ah, emang kenapa, Ve ?", tanya gua balik sambil fokus ke jalanan.
"Kamu itu aneh tau gak, dari terakhir kamu di apartemen seminggu lalu, sampe tadi di dokter juga sama.. Sikap kamu tuh aneh...", jawabnya sambil memperhatikan gua.
"Iya anehnya kenapa ? Perasaan aku biasa aja ah..", elak gua tanpa menengok kepadanya.
"Okey, biasa aja... Kenapa kamu biasa aja ?", nada suaranya berubah, gua tau dia mulai menahan amarah.
"Ya emang harus gimana coba ? Kan aku emang begini, kok jadi dimasalahin, Ve ?".
"Yang aku tau, kalo ada istri hamil, suaminya tuh seneng, bahagia, bukannya bersikap biasa aja dan dingin kayak kamu gini... Heran aku sama kamu! Kok kayak gak suka sih akunya hamil!", akhirnya meluap juga emosinya dengan nada suaranya yang sudah meninggi di akhir ucapannya itu.
Gua menghela nafas kasar, lalu berusaha mengendalikan perasaan yang memang gak enak dari seminggu lalu. Gua melirik kepadanya yang sedang menatap jalanan di depan, wajahnya terlihat marah. Sangatterlihat jelas...
"Hey, jangan marah ya... Maafin aku..", ucap gua pelan, berusaha mengatur nada suara agar terdengar serius.
Dia masih diam dengan ekspresi menahan emosinya itu.
"Yaudah, aku lagi nyetir dulu ya sayang, kita omongin di rumah aja... Okey ?", lanjut gua.
"Terserah", jawabnya dingin tanpa menoleh kepada gua.
Sepanjang perjalanan pulang itupun kami berdua hanya saling terdiam, tidak ada lagi obrolan yang terjadi sampai kami sampai di rumah Nenek.
Oh ya, ketika gua resmi menikahi Vera Tunggadewi, ada satu hal yang menurut gua sedikit aneh atau apalah gua gak begitu mengerti saat itu. Jadi, ketika gua dan dia selesai akad dirumahnya, dari sejak itulah istri gua ini belum pernah sekalipun tidur atau menginap di rumah gua dan almh. Echa. Entah kenapa dia memilih untuk tinggal di rumah Nenek, di kamar gua, barang-barangnya yang dipindahkan dari rumah Mamahnya di Sentul pun sudah ada di kamar gua saat seminggu setelah akad pernikahan.
Alasannya saat itu, dia ingin menemani Nenek yang memang tinggal sendiri semenjak gua pindah ke rumah milik almh. Echa. Sekalipun dia datang ke Indonesia seperti sekarang, dia hanya main dan istirahat sebentar di rumah gua dan alhmh. Echa, belum pernah sekalipun menginap di sana, padahal saat dulu belum menikah, Nona Ukhti pernah tidur di rumah itu, di kamarnya Ibu.
Gua melepaskan jaket dan menggantungnya di belakang pintu kamar, sedangkan Nona Ukhti masih mengobrol dengan Nenek di ruang tamu.
Gua rebahan diatas kasur yang selama ini sudah jarang gua tiduri. Terakhir tidur di kamar ini rasanya udah lama banget. Gua tatap kipas yang berputar pelan di langit-langit kamar, kemudian gua memikirkan bagaimana caranya menyampaikan rasa khawatir gua ini kepada istri gua itu, gua berharap dia mengerti dan enggak salah paham.
"Eza... Zaaa.. Sini, Zaa".
Panggilan Nenek menyadarkan gua dari lamunan, kemudian gua bangun dan berjalan keluar kamar menuju ruang tamu.
Istri gua duduk di samping Nenek pada sofa yang lebih panjang, kemudian gua duduk di sofa sebrang mereka berdua.
"Ada apa, Nek ?", tanya gua.
"Istri mu udah hamil ya, alhamdulilah selamat, Za.. Nenek seneng dengernya..", ucap Nenek sambil tersenyum.
"Iya, Nek.. Baru tadi cek ke dokternya...", jawab gua.
"Semoga pada sehat ya, Nenek juga udah lama pingin nimang bayi lagi loch, jadi inget Jingga dulu ya", ucap Nenek sambil tersenyum.
Gua hanya menghela nafas dengan fake smile...
Istri gua menatap gua dengan ekpresinya yang dingin, masih sama seperti di mobil tadi.
"Yaudah, kalian makan dulu atuh, Nenek bikin sop tuh, angetin dulu kalo mau ya, Vera..", ucap Nenek kepada istri gua.
Istri gua tersenyum kepada Nenek, lalu mengajak gua makan di ruang makan. Nenek kembali ke kamarnya.
Gua duduk di bangku makan sambil menyalakan tv, menunggu istri gua memanaskan sop dan mengambil nasi.
"Mau kerupuk, Za ?", tanyanya setelah menaruh makanan di depan gua.
Ekspresinya masih dingin walaupun dia mau melayani suaminya ini.
"Boleh, Ve...".
Saat makan pun kami jadi seperti bukan suami-istri, saling diam dan hanya suara dari tv yang mencairkan keheningan di ruang makan ini.
Tidak lama kami selesai makan, gua meminta dibuatkan kopi hitam dan menunggu di teras depan kamar.
Gua bakar sebatang rokok sambil melamun lagi, memandangi jalanan depan rumah yang lenggang. Siang itu cuaca cukup panas rasanya, sampai gua membuka kaos dan hanya mengenakan celana denim.
"Loch ? Kenapa buka baju ?", tanya istri gua ketika sudah berdiri di samping dengan secangkir kopi yang ia buatkan.
"Panas, Ve... Gerah banget ini siang...", jawab gua sambil bersandar ke bahu sofa.
Kemudian istri gua duduk di samping gua setelah menaruh cangkir kopi di meja depan kami, gua matikan rokok kedalam asbak yang belum setengah batang terbakar.
Gua melirik kepadanya, dia hanya tertunduk sambil memainkan jemari tangan diatas pahanya.
Gua menghela nafas lalu merangkul pundaknya dari sisi kanan.
"Maaf ya..", ucap gua tulus.
Istri gua masih diam tanpa merubah posisinya.
"Aku masih trauma, Ve... Sama kejadian dulu itu..", lanjut gua.
Dia menengok kali ini, menatap mata gua dengan ekspresi sendu.
"Tapi takdir manusia kan beda-beda, Za..", jawabnya pelan, dia mengerti apa yang gua takutkan.
"Iya aku tau, tapi aku masih takut ke ulang lagi dan aku gak akan pernah siap untuk mengalami hal itu untuk kedua kalinya, Ve..", timpal gua pelan.
"Sini..", dia tarik lembut wajah gua dengan memegangi kedua sisi wajah ini.
"Yakin Allah akan menjaga keluarga kita.. Aku selalu ingetin kamu untuk berpikir positif tentang hidup ini, Za... Aku ngerti kamu takut, tapi kamu juga gak boleh larut dalam ketakutan itu, aku yakin Teteh juga akan berpikir sama dengan aku sekarang...", ucapnya dengan senyuman yang terlihat sangat yakin atas ucapannya itu.
"Aku... Aku gak tau harus gimana, mungkin iya bener apa yang kamu bilang, kalo aku ini aneh waktu tau kamu hamil, tapi alasan ku ya karena hal yang gak pernah aku inginkan dulu keulang lagi, Ve...".
"Za, siapa sih yang menginginkan hal tersebut ? Kehilangan orang yang dicintainya, seorang istri, dan seorang anak.. Enggak ada, Za.. Tapi mungkin itu memang yang terbaik untuk Teteh dan Jingga, cuma Allah yang tau alasan sebenarnya kenapa mereka berdua harus pulang lebih cepat dan berpisah sama kamu.. Yang kita bisa lakuin mencoba ikhlas dan berpikir positif akan takdir itu, sayang...".
"Tapi, Ve...", ucapan gua dipotong.
"Za.. Cepat atau lambat kita akan berada di posisi sekarang kan ?", tanyanya.
"Maksudnya ?", tanya gua balik.
"Iya, maksud ku yang namanya orang menikah, pasti suatu saat memiliki anak, istrinya hamil, karena memang pernikahan salah satunya untuk memiliki keturunan, dan kalo kamu masih takut terus, kapan akan mulai bangkit ? Toh sama aja, momen kayak gini pasti kita lewatin juga... Lagian apa kamu gak pernah tau, kalo diluar sana banyak pasangan suami-istri yang belum dikasih rejeki dari Allah untuk memiliki keturunan ? Jadi maksud ku, kamu harus bersyukur atas apa yang udah Allah kasih ke kita sekarang, dan lambat-laun aku percaya, ketakutan dan trauma kamu itu akan hilang dengan sendirinya kok, aku selalu di samping kamu, sayang... Percaya Allah akan menjaga kita semua ya", jelasnya panjang lebar.
Gua gak tau harus ngomong apa lagi, karena saat itu jujur aja, gua masih takut, apa yang diucapkan istri gua memang benar.
Setiap manusia memiliki jalannya masing-masing, belum tentu perasaan khawatir gua dan rasa takut ini akan benar-benar terjadi. Tapi masalahnya gua saat itu belum bisa melupakan kejadian dulu. Gua terlalu takut untuk menerima kenyataan bahwa istri gua saat ini, Vera, sedang hamil. Dan entah harus menyebutnya apa, egois kah, penakut kah, brengsek kah, jahat kah, apapun itu, yang jelas harus gua akui kalau gua benar-benar gak bahagia seperti dulu, seperti saat pertama kali gua mendengar Almh. Echa hamil. Dan sayangnya istri gua yang sekarang, kelak akan mengetahui fakta tersebut.
"Hey, udah ya... Jangan dipikirin terus soal ketakutan kamu, aku paham gak mudah buat kamu, tapi liat aku deh...", ucapnya sambil menahan senyuman.
Gua menengok kepadanya dengan tatapan sendu dan pikirannya yang masih bingung dengan keadaan saat ini.
"Aku cantik kan ?", tanyanya menggoda gua dengan mengerlingkan matanya yang indah itu.
Dia tersenyum lebar lalu terkekeh pelan.
Gua tau, dia bermaksud untuk menghibur gua saat itu, tapi sayangnya... Tingkah dan perilaku yang ia tunjukkan malah membuat perasaan gua semakin takut, takut akan kehilangan dirinya, takut akan kehilangan momen seperti ini bersamanya.
Gua hanya terpaku menatapnya yang masih menggoda gua dengan segala tingkah lucunya.
"Senyum dooong... Istrinya lagi isi loch, suami ku tokcer, hihihi...", ucapnya masih mencoba menghibur gua.
"Hmm.. Dia ma masih gitu, sini dengerin aku lagi nih..", ucapnya dengan nada yang lucu.
Dia pegang tangan gua lalu tersenyum lebar.
"Aku gak akan kemana-mana, aku gak akan ninggalin kamu, anak kita juga akan tumbuh bersama orangtuanya... Semoga Allah mengabulkan harapan ku itu, Aamiin...".
Gua tidak tau harus menanggapinya seperti apa, yang gua ingat, gua hanya bisa terdiam dan memandanginya dengan sejuta fikiran berkelebat di otak ini.
Istri gua menghela nafas. "Kok diem ? Di Amin-in juga dong, saaayaaaang..", ucapnya sambil mencolek pipi gua.
Gua tersenyum. "Aamiin", jawab gua singkat dan senyuman gua itu, Senyuman yang terpaksa...
Sekitar pukul sepuluh pagi gua sudah menjemputnya di bandara, lalu kami berdua pergi ke sebuah klinik dokter kandungan yang berada di ibu kota.
Saat gua berada di Singapore minggu lalu, kami tidak jadi memeriksakan dan mengecek kandungan istri gua, karena di hari yang sama itu pula gua harus pulang ke Indonesia lebih dulu, ada keperluan yang mendadak yang diberitakan Ibu gua soal kerjaan.
Sesampainya di klinik, kami mengantri sekitar setengah jam sampai akhirnya dipanggil untuk masuk ke ruang dokter. Selesai pengecekan yang tidak lama itu, dokter pun mengabarkan berita bahagia yang memang diharapkan istri gua.
"Ya, hasilnya Mba Vera memang positif hamil, usia kandungannya sudah masuk delapan minggu...", ucap dokter kandungan tersebut di hadapan kami berdua.
"Alhamdulilah, terus kondisi saya dan janin ini gimana, dok ?", tanya istri gua setelah mengucapkan syukur.
"Kalo soal kondisi janin, harus di cek lebih lanjut, Mba. Tapi kalo kondisi Mba Vera saat ini baik, tidak ada masalah apapun sejauh pemeriksaan yang singkat tadi..", jawab dokter.
"Oh gitu, ya alhamdulilah kalo gitu dok, saya memang mau mastiin kehamilan saya dulu aja, karena saya sendiri baru cek dari testpack, kalo gitu terimakasih banyak, dok..", ucap istri gua.
"Ya sekali lagi selamat ya Mba dan Masnya.. Mba Vera positif hamil, semoga janinnya berkembang dengan baik dan sehat kedepannya..", ucap dokter tersebut sambil menyalami kami berdua.
Selesai pemeriksaan yang singkat tersebut, gua dan istri pun kembali ke mobil untuk pulang ke rumah. Mobil baru memasuki tol ketika istri gua mulai menanyakan hal yang dia rasa aneh...
"Za, kamu kenapa sih ?", tanyanya yang duduk dibangku samping kemudi.
"Hm ? Aku ? Kenapa ? Aku gak apa-apa ah, emang kenapa, Ve ?", tanya gua balik sambil fokus ke jalanan.
"Kamu itu aneh tau gak, dari terakhir kamu di apartemen seminggu lalu, sampe tadi di dokter juga sama.. Sikap kamu tuh aneh...", jawabnya sambil memperhatikan gua.
"Iya anehnya kenapa ? Perasaan aku biasa aja ah..", elak gua tanpa menengok kepadanya.
"Okey, biasa aja... Kenapa kamu biasa aja ?", nada suaranya berubah, gua tau dia mulai menahan amarah.
"Ya emang harus gimana coba ? Kan aku emang begini, kok jadi dimasalahin, Ve ?".
"Yang aku tau, kalo ada istri hamil, suaminya tuh seneng, bahagia, bukannya bersikap biasa aja dan dingin kayak kamu gini... Heran aku sama kamu! Kok kayak gak suka sih akunya hamil!", akhirnya meluap juga emosinya dengan nada suaranya yang sudah meninggi di akhir ucapannya itu.
Gua menghela nafas kasar, lalu berusaha mengendalikan perasaan yang memang gak enak dari seminggu lalu. Gua melirik kepadanya yang sedang menatap jalanan di depan, wajahnya terlihat marah. Sangatterlihat jelas...
"Hey, jangan marah ya... Maafin aku..", ucap gua pelan, berusaha mengatur nada suara agar terdengar serius.
Dia masih diam dengan ekspresi menahan emosinya itu.
"Yaudah, aku lagi nyetir dulu ya sayang, kita omongin di rumah aja... Okey ?", lanjut gua.
"Terserah", jawabnya dingin tanpa menoleh kepada gua.
Sepanjang perjalanan pulang itupun kami berdua hanya saling terdiam, tidak ada lagi obrolan yang terjadi sampai kami sampai di rumah Nenek.
Oh ya, ketika gua resmi menikahi Vera Tunggadewi, ada satu hal yang menurut gua sedikit aneh atau apalah gua gak begitu mengerti saat itu. Jadi, ketika gua dan dia selesai akad dirumahnya, dari sejak itulah istri gua ini belum pernah sekalipun tidur atau menginap di rumah gua dan almh. Echa. Entah kenapa dia memilih untuk tinggal di rumah Nenek, di kamar gua, barang-barangnya yang dipindahkan dari rumah Mamahnya di Sentul pun sudah ada di kamar gua saat seminggu setelah akad pernikahan.
Alasannya saat itu, dia ingin menemani Nenek yang memang tinggal sendiri semenjak gua pindah ke rumah milik almh. Echa. Sekalipun dia datang ke Indonesia seperti sekarang, dia hanya main dan istirahat sebentar di rumah gua dan alhmh. Echa, belum pernah sekalipun menginap di sana, padahal saat dulu belum menikah, Nona Ukhti pernah tidur di rumah itu, di kamarnya Ibu.
Gua melepaskan jaket dan menggantungnya di belakang pintu kamar, sedangkan Nona Ukhti masih mengobrol dengan Nenek di ruang tamu.
Gua rebahan diatas kasur yang selama ini sudah jarang gua tiduri. Terakhir tidur di kamar ini rasanya udah lama banget. Gua tatap kipas yang berputar pelan di langit-langit kamar, kemudian gua memikirkan bagaimana caranya menyampaikan rasa khawatir gua ini kepada istri gua itu, gua berharap dia mengerti dan enggak salah paham.
"Eza... Zaaa.. Sini, Zaa".
Panggilan Nenek menyadarkan gua dari lamunan, kemudian gua bangun dan berjalan keluar kamar menuju ruang tamu.
Istri gua duduk di samping Nenek pada sofa yang lebih panjang, kemudian gua duduk di sofa sebrang mereka berdua.
"Ada apa, Nek ?", tanya gua.
"Istri mu udah hamil ya, alhamdulilah selamat, Za.. Nenek seneng dengernya..", ucap Nenek sambil tersenyum.
"Iya, Nek.. Baru tadi cek ke dokternya...", jawab gua.
"Semoga pada sehat ya, Nenek juga udah lama pingin nimang bayi lagi loch, jadi inget Jingga dulu ya", ucap Nenek sambil tersenyum.
Gua hanya menghela nafas dengan fake smile...
Istri gua menatap gua dengan ekpresinya yang dingin, masih sama seperti di mobil tadi.
"Yaudah, kalian makan dulu atuh, Nenek bikin sop tuh, angetin dulu kalo mau ya, Vera..", ucap Nenek kepada istri gua.
Istri gua tersenyum kepada Nenek, lalu mengajak gua makan di ruang makan. Nenek kembali ke kamarnya.
Gua duduk di bangku makan sambil menyalakan tv, menunggu istri gua memanaskan sop dan mengambil nasi.
"Mau kerupuk, Za ?", tanyanya setelah menaruh makanan di depan gua.
Ekspresinya masih dingin walaupun dia mau melayani suaminya ini.
"Boleh, Ve...".
Saat makan pun kami jadi seperti bukan suami-istri, saling diam dan hanya suara dari tv yang mencairkan keheningan di ruang makan ini.
Tidak lama kami selesai makan, gua meminta dibuatkan kopi hitam dan menunggu di teras depan kamar.
Gua bakar sebatang rokok sambil melamun lagi, memandangi jalanan depan rumah yang lenggang. Siang itu cuaca cukup panas rasanya, sampai gua membuka kaos dan hanya mengenakan celana denim.
"Loch ? Kenapa buka baju ?", tanya istri gua ketika sudah berdiri di samping dengan secangkir kopi yang ia buatkan.
"Panas, Ve... Gerah banget ini siang...", jawab gua sambil bersandar ke bahu sofa.
Kemudian istri gua duduk di samping gua setelah menaruh cangkir kopi di meja depan kami, gua matikan rokok kedalam asbak yang belum setengah batang terbakar.
Gua melirik kepadanya, dia hanya tertunduk sambil memainkan jemari tangan diatas pahanya.
Gua menghela nafas lalu merangkul pundaknya dari sisi kanan.
"Maaf ya..", ucap gua tulus.
Istri gua masih diam tanpa merubah posisinya.
"Aku masih trauma, Ve... Sama kejadian dulu itu..", lanjut gua.
Dia menengok kali ini, menatap mata gua dengan ekspresi sendu.
"Tapi takdir manusia kan beda-beda, Za..", jawabnya pelan, dia mengerti apa yang gua takutkan.
"Iya aku tau, tapi aku masih takut ke ulang lagi dan aku gak akan pernah siap untuk mengalami hal itu untuk kedua kalinya, Ve..", timpal gua pelan.
"Sini..", dia tarik lembut wajah gua dengan memegangi kedua sisi wajah ini.
"Yakin Allah akan menjaga keluarga kita.. Aku selalu ingetin kamu untuk berpikir positif tentang hidup ini, Za... Aku ngerti kamu takut, tapi kamu juga gak boleh larut dalam ketakutan itu, aku yakin Teteh juga akan berpikir sama dengan aku sekarang...", ucapnya dengan senyuman yang terlihat sangat yakin atas ucapannya itu.
"Aku... Aku gak tau harus gimana, mungkin iya bener apa yang kamu bilang, kalo aku ini aneh waktu tau kamu hamil, tapi alasan ku ya karena hal yang gak pernah aku inginkan dulu keulang lagi, Ve...".
"Za, siapa sih yang menginginkan hal tersebut ? Kehilangan orang yang dicintainya, seorang istri, dan seorang anak.. Enggak ada, Za.. Tapi mungkin itu memang yang terbaik untuk Teteh dan Jingga, cuma Allah yang tau alasan sebenarnya kenapa mereka berdua harus pulang lebih cepat dan berpisah sama kamu.. Yang kita bisa lakuin mencoba ikhlas dan berpikir positif akan takdir itu, sayang...".
"Tapi, Ve...", ucapan gua dipotong.
"Za.. Cepat atau lambat kita akan berada di posisi sekarang kan ?", tanyanya.
"Maksudnya ?", tanya gua balik.
"Iya, maksud ku yang namanya orang menikah, pasti suatu saat memiliki anak, istrinya hamil, karena memang pernikahan salah satunya untuk memiliki keturunan, dan kalo kamu masih takut terus, kapan akan mulai bangkit ? Toh sama aja, momen kayak gini pasti kita lewatin juga... Lagian apa kamu gak pernah tau, kalo diluar sana banyak pasangan suami-istri yang belum dikasih rejeki dari Allah untuk memiliki keturunan ? Jadi maksud ku, kamu harus bersyukur atas apa yang udah Allah kasih ke kita sekarang, dan lambat-laun aku percaya, ketakutan dan trauma kamu itu akan hilang dengan sendirinya kok, aku selalu di samping kamu, sayang... Percaya Allah akan menjaga kita semua ya", jelasnya panjang lebar.
Gua gak tau harus ngomong apa lagi, karena saat itu jujur aja, gua masih takut, apa yang diucapkan istri gua memang benar.
Setiap manusia memiliki jalannya masing-masing, belum tentu perasaan khawatir gua dan rasa takut ini akan benar-benar terjadi. Tapi masalahnya gua saat itu belum bisa melupakan kejadian dulu. Gua terlalu takut untuk menerima kenyataan bahwa istri gua saat ini, Vera, sedang hamil. Dan entah harus menyebutnya apa, egois kah, penakut kah, brengsek kah, jahat kah, apapun itu, yang jelas harus gua akui kalau gua benar-benar gak bahagia seperti dulu, seperti saat pertama kali gua mendengar Almh. Echa hamil. Dan sayangnya istri gua yang sekarang, kelak akan mengetahui fakta tersebut.
"Hey, udah ya... Jangan dipikirin terus soal ketakutan kamu, aku paham gak mudah buat kamu, tapi liat aku deh...", ucapnya sambil menahan senyuman.
Gua menengok kepadanya dengan tatapan sendu dan pikirannya yang masih bingung dengan keadaan saat ini.
"Aku cantik kan ?", tanyanya menggoda gua dengan mengerlingkan matanya yang indah itu.
Dia tersenyum lebar lalu terkekeh pelan.
Gua tau, dia bermaksud untuk menghibur gua saat itu, tapi sayangnya... Tingkah dan perilaku yang ia tunjukkan malah membuat perasaan gua semakin takut, takut akan kehilangan dirinya, takut akan kehilangan momen seperti ini bersamanya.
Gua hanya terpaku menatapnya yang masih menggoda gua dengan segala tingkah lucunya.
"Senyum dooong... Istrinya lagi isi loch, suami ku tokcer, hihihi...", ucapnya masih mencoba menghibur gua.
"Hmm.. Dia ma masih gitu, sini dengerin aku lagi nih..", ucapnya dengan nada yang lucu.
Dia pegang tangan gua lalu tersenyum lebar.
"Aku gak akan kemana-mana, aku gak akan ninggalin kamu, anak kita juga akan tumbuh bersama orangtuanya... Semoga Allah mengabulkan harapan ku itu, Aamiin...".
Gua tidak tau harus menanggapinya seperti apa, yang gua ingat, gua hanya bisa terdiam dan memandanginya dengan sejuta fikiran berkelebat di otak ini.
Istri gua menghela nafas. "Kok diem ? Di Amin-in juga dong, saaayaaaang..", ucapnya sambil mencolek pipi gua.
Gua tersenyum. "Aamiin", jawab gua singkat dan senyuman gua itu, Senyuman yang terpaksa...
°°°
Gua pernah menanyakan soal tempat tinggal ketika kami berdua sedang duduk di gazebo belakang rumah almh. Echa. Saat itu gua dan Nona Ukhti baru pulang dari acara syukuran saudaranya di Sentul.
"Kamu tuh, sebenernya kenapa gak mau tinggal disini, Ve ?", tanya gua yang duduk tepat di sampingnya.
"Hm ? Ooh.. Bukan gitu, bukan aku enggak mau tinggal di rumah ini, sayang. Tapi nanti ya kalo aku udah selesai kuliah dan praktek, lagian kan sekarang aku masih harus tinggal di Singapore...", jawabnya lembut.
"Hmm.. Tapi kenapa kalo kayak sekarang lagi pulang kesini, kamu gak mau nginep disini ? Sekali aja gak pernah semenjak kita nikah, selalu tidur di rumah Nenek atau enggak di rumah Mamah kamu", tanya gua lagi yang masih heran.
Btw, kalau setiap istri gua pulang dari Singapore ke Indonesia, gua pasti tidur bersamanya di rumah Nenek, atau enggak di rumah Mamahnya, di sentul. Kalau udah gitu, Ibu lah yang gua tinggal sendiri di rumah ini, ada art juga sih yang nemenin.
"Mba Laras itu kasian loch, tiap kamu pulang kesini, pasti dia sendirian di rumah ini, kita kan selalu tidur di rumah Nenek..", ucap gua lagi.
"Iya-iya, tapi nanti yaa, biar lebih tenang aja maksud aku, kalo udah selesai pokoknya aku tinggal di rumah ini, sama kamu dan Mba Laras..", jawabnya tersenyum.
"Bukan karena... Takutkan, Ve ?", tanya gua menebak dengan hati-hati.
"Hm ? Takut ? Takut apa ?", tanyanya balik.
"Ya takut apa gitu... Kali aja..", jawab gua ragu.
"Oh aku paham, hehehe... Enggaklah bukan karena itu.. Aku cuma... Ehm, nanti deh ya aku jelasinnya, gak sekarang gak apa-apa kan ?".
Gua enggak pernah tau alasan apa yang membuatnya enggan tidur, menginap dan tinggal di rumah ini, sampai nanti dia menjelaskan alasan sebenarnya dihadapan Echa.
"Kamu tuh, sebenernya kenapa gak mau tinggal disini, Ve ?", tanya gua yang duduk tepat di sampingnya.
"Hm ? Ooh.. Bukan gitu, bukan aku enggak mau tinggal di rumah ini, sayang. Tapi nanti ya kalo aku udah selesai kuliah dan praktek, lagian kan sekarang aku masih harus tinggal di Singapore...", jawabnya lembut.
"Hmm.. Tapi kenapa kalo kayak sekarang lagi pulang kesini, kamu gak mau nginep disini ? Sekali aja gak pernah semenjak kita nikah, selalu tidur di rumah Nenek atau enggak di rumah Mamah kamu", tanya gua lagi yang masih heran.
Btw, kalau setiap istri gua pulang dari Singapore ke Indonesia, gua pasti tidur bersamanya di rumah Nenek, atau enggak di rumah Mamahnya, di sentul. Kalau udah gitu, Ibu lah yang gua tinggal sendiri di rumah ini, ada art juga sih yang nemenin.
"Mba Laras itu kasian loch, tiap kamu pulang kesini, pasti dia sendirian di rumah ini, kita kan selalu tidur di rumah Nenek..", ucap gua lagi.
"Iya-iya, tapi nanti yaa, biar lebih tenang aja maksud aku, kalo udah selesai pokoknya aku tinggal di rumah ini, sama kamu dan Mba Laras..", jawabnya tersenyum.
"Bukan karena... Takutkan, Ve ?", tanya gua menebak dengan hati-hati.
"Hm ? Takut ? Takut apa ?", tanyanya balik.
"Ya takut apa gitu... Kali aja..", jawab gua ragu.
"Oh aku paham, hehehe... Enggaklah bukan karena itu.. Aku cuma... Ehm, nanti deh ya aku jelasinnya, gak sekarang gak apa-apa kan ?".
Gua enggak pernah tau alasan apa yang membuatnya enggan tidur, menginap dan tinggal di rumah ini, sampai nanti dia menjelaskan alasan sebenarnya dihadapan Echa.
***
Gua yang masih tetap bekerja di restoran Jakarta, dan istri gua yang masih melanjutkan skripsinya di Singapore membuat kami sering berkomunikasi lewat bbm atau menelpon di waktu senggang. Karena toh hubungan apapun kalau terpisah jarak, yang utama agar tetap menjaga silaturahmi adalah komunikasi.
Rutinitas gua pun seperti biasa, setiap pagi selalu mengabarkan istri gua sebelum berangkat kerja, atau dia yang menelpon gua untuk mengingatkan shalat subuh. Siang harinya kembali kami terhubung untuk sekedar menanyakan makan siang dan sebagainya. Begitu pun malam hari. Dan itu semua sudah kami jalankan semenjak kami menikah dan saat kami terpisah seperti sekarang ini.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.... Dan saat itu, yang gua ingat adalah bulan dimana momen hari kemerdekaan negara ini tinggal satu minggu lagi.
Hari yang cerah pagi itu, gua berangkat ke ibu kota dengan menggunakan kendaraan umum, gua naik angkutan kota untuk menuju stasiun kereta. Hari ini adalah hari ketiga gua tidak membawa mobil, karena mulai merasakan cape dan lebih enak duduk dalam kendaraan umum tanpa harus mengendarai mobil sendiri disertai pusing karena macetnya ibu kota saat pulang kerja.
Gua masih berada dalam kereta ekonomi saat itu, duduk bersama penumpang lainnya, dan pemandangan yang selalu membuat gua semangat, yaitu orang-orang yang juga berada di dalam kereta ini, dan salah satunya adalah mereka yang kehabisan tempat duduk. Bagi gua, melihat mereka yang suka tidak suka berdiri di dalam kereta, membuat gua semangat untuk bekerja, karena apapun ekspresi mereka, di mata gua terlihat ada semangat untuk berjuang untuk keluarganya.
Blackberry gua bergetar dalam saku celana, gua fikir hanya sebuah chatt bbm biasa, dan gua abaikan. Karena gua memang jarang mengeluarkan smartphone saat berada di dalam kereta. Tapi sepertinya getaran di blackberry gua itu bukan sebuah chatt, karena tidak berhenti bergetar, gua keluarkan dari saku celana.
Sebuah panggilan masuk ternyata, dan nomornya tidak gua kenali... Kode areanya pun bukan berasal dari panggilan lokal.
Gua berlari kecil keluar dari stasiun tersebut, walaupun bukan disini seharusnya gua berhenti. Setelah berada dipinggir jalan, gua langsung mencari taxi, tapi enggak tau kenapa, di saat penting dan sedang panik seperti ini malah tidak ada satupun taxi si burung biru yang melintas. Andai waktu itu sudah ada taxi online atau jalur kereta yang menuju bandara Soetta.
Sekitar lima belas menit kemudian gua akhirnya sudah berada di dalam taxi.
"Kemana, Mas ?", tanya supir taxi setelah gua masuk ke bangku depan.
"Bandara Soekarno-Hatta, Pak", jawab gua cepat.
"Saya buru-buru, agak cepet ya bawa mobilnya..", lanjut gua sambil mengatur nafas.
Segala macam pikiran buruk sudah memenuhi isi otak gua saat itu, apa yang gua takutkan selama ini sepertinya terjadi. Walaupun gua masih berharap ada kesempatan untuk melihat semuanya kembali seperti seharusnya, tapi perasaan gua sudah terlalu pesimis.
Beruntung hari itu kondisi jalanan lumayan bersahabat, tidak terlalu macet tapi gua sampai di bandara cukup cepat menurut gua, setelah membayar taxi, gua langsung bergegas mencari loket penjualan tiket yang menjual tiket penerbangan ke Singapore, untungnya tahun itu masih ada loket on the spot.
Alhamdulilah gua mendapatkan tiket ke Singapore dengan jadwal penerbangan sejam kemudian. Selama menunggu keberangkatan, gua memilih untuk pergi ke mushola bandara dan berdo'a ditempat ibadah itu, berharap semuanya akan baik dan Allah SWT melindungi keluarga gua, terutama istri gua, Vera Tunggadewi.
Selesai berdo'a, gua pun masuk untuk check-in dan mengabarkan Papah mertua gua, kalo sebentar lagi pesawat yang gua tumpangi akan berangkat. Sempat gua menanyakan kabar istri gua, dan katanya masih ditangani oleh tim medis.
Pikiran gua kembali kalut, rasa takut yang sebelumnya sempat hilang saat berdo'a tadi kembali menyeruak.
Entah mungkin.. Ya mungkin saja, Allah memang bersama gua saat itu. Ada seorang wanita yang sama sekali tidak gua kenali, dia duduk tepat di samping gua.
Dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan saat gua meliriknya yang baru saja duduk.
Gua balas senyumannya. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dalam tas kecil yang ia selempangkan.
Gua memperhatikannya sebentar, dia larut membaca kitab yang ia keluarkan sebelumnya. Dan tentu saja tanpa suara, membaca dalam hati.
Dan, entah kenapa gua berani mengatakan hal ini...
"Mba, bisa membacanya dengan sedikit suara aja..", ucap gua tiba-tiba kepadanya.
Dia menengok kepada gua dengan heran.
"Eeu.. Maaf, saya sedikit panik, istri saya sedang sakit.. Jadi saya harap Mba nya bisa melantunkan sedikit ayat Al-Qur'an itu, biar saya yang mendengarnya dapat ketenangan", lanjut gua.
Dia tersenyum lebar, lalu mengangguk. "Boleh, Mas", jawabnya.
Lalu suara perempuan yang melantunkan ayat suci itu terdengar sedikit pelan, agar tidak mengganggu penumpang lain. Dia membacanya dengan merdu, menurut gua.
Gua memejamkan mata sambil berdo'a untuk keselamatan istri gua. Dan alhamdulillah, sepanjang perjalanan gua bisa merasa tenang.
Setidaknya sampai mendarat di Changi-Airport.
Rutinitas gua pun seperti biasa, setiap pagi selalu mengabarkan istri gua sebelum berangkat kerja, atau dia yang menelpon gua untuk mengingatkan shalat subuh. Siang harinya kembali kami terhubung untuk sekedar menanyakan makan siang dan sebagainya. Begitu pun malam hari. Dan itu semua sudah kami jalankan semenjak kami menikah dan saat kami terpisah seperti sekarang ini.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.... Dan saat itu, yang gua ingat adalah bulan dimana momen hari kemerdekaan negara ini tinggal satu minggu lagi.
Hari yang cerah pagi itu, gua berangkat ke ibu kota dengan menggunakan kendaraan umum, gua naik angkutan kota untuk menuju stasiun kereta. Hari ini adalah hari ketiga gua tidak membawa mobil, karena mulai merasakan cape dan lebih enak duduk dalam kendaraan umum tanpa harus mengendarai mobil sendiri disertai pusing karena macetnya ibu kota saat pulang kerja.
Gua masih berada dalam kereta ekonomi saat itu, duduk bersama penumpang lainnya, dan pemandangan yang selalu membuat gua semangat, yaitu orang-orang yang juga berada di dalam kereta ini, dan salah satunya adalah mereka yang kehabisan tempat duduk. Bagi gua, melihat mereka yang suka tidak suka berdiri di dalam kereta, membuat gua semangat untuk bekerja, karena apapun ekspresi mereka, di mata gua terlihat ada semangat untuk berjuang untuk keluarganya.
Blackberry gua bergetar dalam saku celana, gua fikir hanya sebuah chatt bbm biasa, dan gua abaikan. Karena gua memang jarang mengeluarkan smartphone saat berada di dalam kereta. Tapi sepertinya getaran di blackberry gua itu bukan sebuah chatt, karena tidak berhenti bergetar, gua keluarkan dari saku celana.
Sebuah panggilan masuk ternyata, dan nomornya tidak gua kenali... Kode areanya pun bukan berasal dari panggilan lokal.
Quote:
Gua berlari kecil keluar dari stasiun tersebut, walaupun bukan disini seharusnya gua berhenti. Setelah berada dipinggir jalan, gua langsung mencari taxi, tapi enggak tau kenapa, di saat penting dan sedang panik seperti ini malah tidak ada satupun taxi si burung biru yang melintas. Andai waktu itu sudah ada taxi online atau jalur kereta yang menuju bandara Soetta.
Sekitar lima belas menit kemudian gua akhirnya sudah berada di dalam taxi.
"Kemana, Mas ?", tanya supir taxi setelah gua masuk ke bangku depan.
"Bandara Soekarno-Hatta, Pak", jawab gua cepat.
"Saya buru-buru, agak cepet ya bawa mobilnya..", lanjut gua sambil mengatur nafas.
Segala macam pikiran buruk sudah memenuhi isi otak gua saat itu, apa yang gua takutkan selama ini sepertinya terjadi. Walaupun gua masih berharap ada kesempatan untuk melihat semuanya kembali seperti seharusnya, tapi perasaan gua sudah terlalu pesimis.
Beruntung hari itu kondisi jalanan lumayan bersahabat, tidak terlalu macet tapi gua sampai di bandara cukup cepat menurut gua, setelah membayar taxi, gua langsung bergegas mencari loket penjualan tiket yang menjual tiket penerbangan ke Singapore, untungnya tahun itu masih ada loket on the spot.
Alhamdulilah gua mendapatkan tiket ke Singapore dengan jadwal penerbangan sejam kemudian. Selama menunggu keberangkatan, gua memilih untuk pergi ke mushola bandara dan berdo'a ditempat ibadah itu, berharap semuanya akan baik dan Allah SWT melindungi keluarga gua, terutama istri gua, Vera Tunggadewi.
Selesai berdo'a, gua pun masuk untuk check-in dan mengabarkan Papah mertua gua, kalo sebentar lagi pesawat yang gua tumpangi akan berangkat. Sempat gua menanyakan kabar istri gua, dan katanya masih ditangani oleh tim medis.
Pikiran gua kembali kalut, rasa takut yang sebelumnya sempat hilang saat berdo'a tadi kembali menyeruak.
Entah mungkin.. Ya mungkin saja, Allah memang bersama gua saat itu. Ada seorang wanita yang sama sekali tidak gua kenali, dia duduk tepat di samping gua.
Dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan saat gua meliriknya yang baru saja duduk.
Gua balas senyumannya. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dalam tas kecil yang ia selempangkan.
Gua memperhatikannya sebentar, dia larut membaca kitab yang ia keluarkan sebelumnya. Dan tentu saja tanpa suara, membaca dalam hati.
Dan, entah kenapa gua berani mengatakan hal ini...
"Mba, bisa membacanya dengan sedikit suara aja..", ucap gua tiba-tiba kepadanya.
Dia menengok kepada gua dengan heran.
"Eeu.. Maaf, saya sedikit panik, istri saya sedang sakit.. Jadi saya harap Mba nya bisa melantunkan sedikit ayat Al-Qur'an itu, biar saya yang mendengarnya dapat ketenangan", lanjut gua.
Dia tersenyum lebar, lalu mengangguk. "Boleh, Mas", jawabnya.
Lalu suara perempuan yang melantunkan ayat suci itu terdengar sedikit pelan, agar tidak mengganggu penumpang lain. Dia membacanya dengan merdu, menurut gua.
Gua memejamkan mata sambil berdo'a untuk keselamatan istri gua. Dan alhamdulillah, sepanjang perjalanan gua bisa merasa tenang.
Setidaknya sampai mendarat di Changi-Airport.
Where'd you go?
I miss you so,
Seems like it's been forever,
That you've been gone.
Where'd You Go ? - Fort Minor
oktavp dan 2 lainnya memberi reputasi
3


: