Kaskus

Story

glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN




Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.


Tak Lagi Sama - Noah


Spoiler for Cover Stories:


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.


Quote:


Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

Masa yang Paling Indah
Credit thanks to Agan njum26

Love in Elegy
Credit thanks to Agan redmoon97


Sonne Mond und Stern
*mulustrasi karakter dalam cerita ini


Quote:

*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
chamelemonAvatar border
ezzasukeAvatar border
jenggalasunyiAvatar border
jenggalasunyi dan 127 lainnya memberi reputasi
124
1.9M
8.8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.6KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
#4938
Sebelum Cahaya
PART XXXII


Ini adalah kali kedua gua berkunjung ke apartemen istri gua setelah sebelumnya pernah kesini sesaat sebelum melamarnya dahulu. Ya, hari ini gua sedang berada di Singapore setelah satu bulan berlalu dari part sebelumnya.

Istri gua masih menghuni apartemen lamanya, yang jaraknya sedikit jauh dari tempat ia akan melangsungkan praktek kerja beberapa bulan kedepan nanti. Dan setelah beberapa kali kami berdua mengobrol ditelpon soal jarak antara tempat praktek dengan apartemennya yang sekarang ini, akhirnya kami memutuskan untuk mencari apartemen sewaan yang lebih dekat dengan tempat praktek tersebut, biar lebih efisien dan aman menurut gua, walaupun kegiatan praktek tersebut masih cukup lama.

"Nih harganya paling murah cuma yang disekitar sini, Za...", ucap istri gua sambil menunjuk layar laptop.

Gua telungkup disampingnya, sama-sama memandangi layar laptop yang menunjukkan sebuah website penyewaan apartemen.

"Mmm.. Itu deket sama tempat praktek kamu nanti, Ve ?", tanya gua balik.

"Cukup deketlah, tinggal jalan kaki juga bisa kok, Za.. Gimana ?".

Istri gua merubah posisinya, rebahan lalu memandangi gua sambil tersenyum.

"Mmm.. Kita kesana aja dulu besok, liat langsung apartemennya ya..", jawab gua sambil balik memandanginya.

"Okey, saayaaang..", ucapnya kali ini seraya tersenyum semakin lebar dan menarik lembut kepala gua.

Cup...dikecup bibir ini sekilas.

"Hm ? Tumben kamu, ada apa nih ?", tanya gua yang sedikit heran dengan tingkahnya.

"Lagiii... Pingin manja-manjaan aja sama suami kuuu..", jawabnya dengan nada menggoda.

Gua terkekeh mendengarnya. "Hehehe.. Aneh deh, kenapa sih ?".

"Ya enggak apa-apa, lagi pengen manja sama kamu malah dibilang aneh sih...".

Dia mulai telengkup lagi, lalu matanya menatap mata gua lekat-lekat, bibirnya tersenyum tipis.

Beberapa detik kemudian, dia miringkan wajahnya sedikit sambil mendekati wajah gua...

Cuupp.. lagi, bibir ini dikecup.

Gua tersenyum lebar, sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan. Heran aja kok tumben dia kayak gini.

"Hey...", belum selesai omongan gua, dia kembali memajukan wajahnya.

Dan kali ini bukan sebuah kecupan, melainkan sebuah ciuman yang berlangsung cukup lama...

"Mmm.. Mmmuuaahh...", begitulah kurang-lebih akhir suara yang dihasilkan dari dua bibir yang saling berpagut cukup lama.

"Ve ?".

"Mmmhh.. Kangen tau...", ucapnya manja.

Ya sudah bisa diterkalah ya, setelah istri gua menarik lagi tubuh gua, apa yang kemudian terjadi... Adegan dewasa yang dilarang keras untuk diceritakan di mari, Gais... emoticon-Embarrassment
no more japanese bread...


°°°


Hari kedua disini, gua lebih banyak menghabiskan waktu bersama istri serta Papah dan Mamahnya, sebelumnya, pagi tadi gua dan istri sudah deal dengan sewa apartemen baru yang rencananya besok langsung istri gua tempati.

Kami berdua mengunjungi rumah Papahnya, mertua lelaki gua. Jarak antara apartemen tempat istri gua tinggal memang cukup jauh dengan tempat tinggal Papahnya itu.

Sore hari kami baru sampai di rumah Papahnya, saat itu ada Mamah tirinya istri gua juga. Setelah saling menanyakan kabar dan basa-basi, kami memberitahu mereka soal niatan istri gua yang akan pindah apartemen. Kedua orangtua nya itu setuju dengan alasan gua dan istri yang mengatakan kalau apartemennya saat ini cukup jauh dengan tempat dimana dia akan praktek kerja.

Papah mertua gua menelpon perusahaan jasa angkut barang untuk membantu kami memindahkan barang-barang dari apartemen lama ke apartemen barunya nanti, setelah beres booking jasa angkut untuk esok pagi, kami berdua diajak Papahnya makan malam di sebuah restoran dekat taman Merlion.

Pukul setengah sembilan malam akhirnya kami pulang, gua dan istri berpisah dengan orangtuanya di restoran setelah selesai makan malam, karena rasanya terlalu jauh kalau kami berdua harus ikut lagi ke rumah mereka. Oh ya, memang sudah lama istri gua diberikan kendaraan oleh Papahnya biar lebih gampang kalau kemana-mana, apalagi dia tinggal sendirian di apartemen.

Gua mengendarai mobil bersama Nona Ukhti yang mulai terlihat mengantuk, gua jalankan mobil sedikit perlahan.

"Duh, udah smp, mau langsung bobo cantik pula nih istrinya si Eza...", ledek gua sambil melirik istri gua yang duduk dan menguap di bangku samping.

"Huaam.. Eeh.. Hehehe...", dia tertawa pelan sambil sedikit tersipu.
"Cape hari ini, muter-muter dari pagi sayang", jawabnya tersenyum.
"Eh, enak aja smp, aku gak langsung pulang ya, kamu tuh yang ngajak tadi, udah makan pulang yu, kan gitu kamu ngebisikin aku tadi di restoran...", lanjutnya sambil menepuk bahu gua pelan.

"Hehehe... Abisnya aku pingin buru-buru balik ke apartemen, Ve... Pingin mandi, perasaan lengket ini badan, gak enak gitu..", ucap gua sambil tetap fokus mengemudikan mobil.

"Mandi ? Iih enggak ah, udah kemaleman, sakit nanti, Za...", ucapnya.

"Enggak akan, abisnya badan aku tadi gerah, terus sekarang lengket gini... Pokoknya aku mau mandi".

"Yaudah iya, tapi pake aer anget aja ya jangan pake air dingin...", tawarnya melunak.

"Okey... Tapi... Mandinya bareng kamu juga ya", goda gua menengok sekilas kepadanya.

"Mau dimandiin ?", tanyanya sambil menahan tawa.

"Iya, mau.. Mau banget...", jawab gua cepat.

"Hahaha... Dasar, aku punya baby huey nih... Inget baby huey gak ? Hihihi...", tanyanya sambil terkekeh.

"Hahaha, iya inget... Sering nonton aku juga dulu... Baby duck yang segede alaihim gambreng itukan... Hehehe...", jawab gua mengingat film baby huey jaman old.

"Hahaha, iya... Eh maksudnya apa itu segede alaihim gambreng ? Hehehe..".

"Segede alaihim gambreng, masa gak tau ? Istilahnya naudzubillah gede banget, gitulah kurang-lebih maksudnya... Hehehe", jawab gua.

"Aneh-aneh aja kamu, geli gitu aku denger alaihim gambrengnya, hahaha..".

Dan, alhamdulilah trik gua berhasil. Sang Nyonya gak jadi tidur sepanjang perjalanan pulang di malam itu, gua memang agak males kalo nyetir malem-malem tapi ditinggal tidur sama keluarga atau siapapun yang ada di mobil, bukannya apa-apa, ngantuknya mereka, tidurnya mereka, dan suasananya juga bisa nular ke gua yang lagi bawa mobil, bisa bahaya nanti kalo gua ikutan tunduh (ngantuk) kan.

Jadi semenjak itu sampai sekarang, istri gua hafal kalo tiap malam kami pulang darimanapun dan gua mulai mencari bahan cerita apapun di perjalanan, pasti itu semua biar gua ada temen ngobrol saat nyetir malam hari. Jangankan cerita yang jelas, kalo udah kehabisan bahan obrolan dan ternyata istri gua mulai ngantuk lagi, itu separator jalan sama marka jalan aja gua bahas biar ada obrolan. Masih tetep ngantuk ? Belom aja gua sleding palanya... emoticon-Big Grin


°°°


Pagi yang cerah di hari ketiga, akhirnya istri gua jadi juga pindah ke apartemen sewaan yang baru. Setelah sebelumnya kami disewakan jasa angkut barang oleh Papahnya kemarin untuk memindahkan semua barang-barang milik istri gua, sekarang kami berdua sedang menata kembali semua barang di apartemen barunya ini.

"Pemandangannya bagus juga ya..", ucap gua yang berdiri di dekat jendela balkon apartemen, memandangi lampu kota malam hari dari lantai delapan.

"Keliatan gak gedung kliniknya, Za ?", tanya istri gua dari belakang sana, yang masih menata barang pribadinya.

"Keliatan sedikit tuh, hehehe..", jawab gua sambil menengok ke kiri, dimana gedung tempat ia akan praktek nanti sedikit terlihat.

"Deketkan kata aku juga, tinggal jalan kaki juga nyampe..".

Gua berjalan mendekatinya, istri gua sedang duduk diatas kasur sambil mengeluarkan beberapa barang dari tasnya itu.

"Ve..".

"Ya ?", dia masih sibuk mengeluarkan barang-barang tanpa menoleh kepada gua yang sudah berdiri dihadapannya.

"Kamu enggak apa-apa disini sendirian ?", tanya gua dengan nada khawatir.

Kali ini dia mendongakan kepalanya untuk melihat gua.

"Kamu khawatir sama aku ?", tanyanya balik sambil tersenyum.

Gua mengganggukan kepala, lalu bersimpuh dihadapannya, gua pegang kedua tangannya yang berada diatas pahanya itu.

"Kita belum tau, Ve... Daerah sini aman atau enggak", jawab gua.

Lalu istri gua membelai lembut rambut bagian atas kepala gua, diusapnya dengan lembut kepala ini sambil tetap tersenyum.

"Aku ngerti, tapi aku minta kamu berpikir positif ya, Za.. Aku sendiri udah lama ngebuang jauh-jauh perasaan paranoid seperti itu... Yakin Allah SWT selalu melindungi kita, dimanapun dan kapanpun, sayang", ucapnya lembut.

Entah kenapa, tiba-tiba gua kembali teringat dengan sebuah pertanyaan yang dari dulu ingin gua lontarkan, kepada siapapun...

"Ve, kalo emang begitu, dimana Dia,saat kamu mengalami kejadian itu ? Dimana Dia, saat Jingga diambil dari aku ?".

Istri gua terhenyak, terlihat wajahnya yang sangat terkejut dengan pertanyaan gua tadi.

"Astagfirullah, Eza... Kamu kok nanya kaya gitu ?", tanyanya dengan perasaan yang masih terkejut.

"Cuma sebuah pertanyaan, Ve... Dan aku rasa logis setelah apa yang aku dan kamu alami, atau paling enggak dengan kejadian yang menimpa kamu, kamu paham maksud aku..".

Dia sedikit mengatur nafasnya, memejamkan mata sesaat sebelum pada akhirnya tersenyum tipis dan memegang kedua wajah gua dengan perasaan sayangnya.

"Itu alasan kamu sempat meninggalkan-Nya dulu ?", tanyanya balik dengan tetap tersenyum.

Gua mngerutkan kening, lalu mengangguk dengan perasaan yang sudah campur aduk sambil mengingat rentetan cerita kelam beberapa tahun kebelakang itu.

"Za, manusia kan diberi pilihan oleh Allah, baik atau buruknya manusia itu sendiri nanti yang menuai hasilnya... Udah ada pedomannya di Al-Qur'an, bagaimana kita harus menjalani hidup di dunia ini, tapi karena Dia juga Maha adil, jadi ujungnya tetep aja manusia itu sendiri yang bebas memilih, mau milih jalan A, hasilnya akan A nanti, mau pilih jalan B, hasilnya akan B juga. Bebas sebebasnya, tapi inget... Ada konsekuensi dan pertanggungjawaban kelak di akhirat, Za...".

"Maksudnya dengan kita gimana ?", tanya gua bingung.

"Bukan soal kita juga, tapi kan kamu sekarang lagi khawatir sama aku, karena kejadian lalu itu toh ? Maksud ku, Mmm.. Mereka, mereka yang menganiaya aku itu memilih jalan yang buruk, memilih untuk menyakiti orang lain, dan itu semua pilihan mereka, bukan Allah yang menginginkan seperti itu pastinya... Dan dimana Dia, saat itu ? Dia selalu ada pada setiap manusia yang memiliki iman kepada-Nya, Za.. Dan aku yakin, mereka yang memilih menyakiti aku itu udah jauh dari Allah...".

Gua menghela nafas dengan kasar. Seolah-olah tidak puas dengan apa yang baru saja gua dengar.

"Hey...", istri gua mengangkat dagu gua sedikit dengan ujung jarinya seraya tersenyum menatap gua.
"Aku tau maksud pertanyaan kamu yang sebenernya, sayang...", dia usap kali ini sisi wajah gua dengan lembut.
"Kamu enggak boleh nyalahin Allah atas apa yang udah terjadi, Za... Setiap manusia diberi kebebasan memilih, kita semua tau mana yang baik dan buruk, dan kita sendirilah yang salah ketika memilih hal yang buruk itu... Dan aku, enggak mau kamu menjadi manusia yang memilih jalan buruk itu, meninggalkan Tuhan-Nya seperti mereka yang udah menganiaya aku...".

"Maaf...", ucap gua kelu.

Istri gua menarik lembut bahu gua. "Sini, sayang...", ucapnya tepat ditelinga gua setelah ia memeluk gua dan mengusap punggung ini.
"Aku mau kamu jadi pemimpin keluarga yang bisa membawa aku dan anak ini menuju ke surga-Nya...".

Tanpa bisa gua tahan dan bagaimana menjelaskannya, airmata ini pun membasahi wajah gua...

"Jangan berpaling lagi dari Dia, ya sayang...".

Gua hanya mengangguk pelan dalam dekapan istri gua itu, dengan airmata yang belum berhenti keluar membasahi bahunya.

Beberapa saat dia masih memeluk gua dengan tetap mengusap punggung ini, lalu setelah gua berhenti menangis, gua lepas pelukannya, menatap wajahnya yang tersenyum meneduhkan itu.

"Insya Allah, selalu dampingi aku ya, Ve..", ucap gua.

Istri gua mengangguk sambil tersenyum. "Tentu, sayang...".

"Eh...", gua sadar akan salah satu ucapannya tadi.
"Kamu tadi bilang anak ini ? Maksudnya... Anak ini gimana ?", gua sedikit deg-degan menunggu jawbannya.

Dia tersenyum lebar kali ini, kemudian memundurkan tubuhnya sedikit, lalu mengusap perutnya yang masih ramping itu sambil menatap gua dengan tatapan menggoda.

Kali ini gua yang terkejut. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia tunjukkan itu.

"Se... Serius ? Kamu... Kamu ?", tanya gua benar-benar gugup.

Dia mengangguk cepat, lalu terkekeh pelan.

"Ve... Ini beneran ? Kamu... Hamil ?", tanya gua tidak percaya.

"Iiiyaa.. Beneran... Hihihi...", jawabnya sambil tertawa pelan kali ini.

Gua masih tidak percaya, menatapnya dengan bingung dan takut....

"Hey... Ih bengong... Kaget ya ? Hihihi... Seneng gak ?".

Gua ragu dan tiba-tiba lagi dan lagi perasaan yang selama ini gua simpan dan kubur dalam-dalam, kembali menyeruak...

"Za ? Hey... Sayang... Kok diem gitu ?".
"Eza..", teriakannya kali ini menyadarkan gua dari bayangan buruk yang terbayang memenuhi kepala gua.

"Eh.. Ii-iya.. Kenapa ?", tanya gua kaget.

"Kamu kenapa sih ? Kok kaget banget kayaknya, eh... Enggak-enggak, ada yang aneh deh... Kamu kenapa ?", tanyanya heran yang melihat suaminya ini.

"Aku... Aku enggak apa-apa, cuma... Ehm, cuma enggak percaya aja kamu secepat ini bisa hamil..", jawab gua dengan nada suara yang gua buat senormal mungkin. Walaupun gua yakin, dia jelas merasakan ada yang aneh dari ucapan gua itu.

"Ya alhamdulilah kan, berarti Allah percaya sama kita berdua, Za.. Mmm.. Emang sih aku belom cek ke dokter, baru cek pake test pack seminggu lalu, soalnya aku udah telat dua bulan juga.. Eh ternyata, hasilnya positif... Surprise kan ? Hihihi...", jelasnya panjang lebar dengan perasaan bahagianya itu.

"Oh gitu...", jawab gua singkat karena masih memikirkan hal lain.

"Eza, serius deh... Kamu kenapa sih ? Kok kayaknya aneh banget tau akunya hamil ? Ada apa sih ?", terlihat sekarang dia mulai tidak suka dengan sikap gua.

"Hm ? Enggak, enggak kok.. Aku enggak apa-apa.. Haha... Iya kalo gitu syukur deh.. Mmm.. Nanti besok kita ke dokter gimana ? Buat mastiin..", jawab gua setelah bisa menguasai diri dari rasa bingung dan segala macam pikiran yang memenuhi otak ini.

Istri gua menatap gua dengan heran, raut wajahnya seperti curiga, dia menatap mata gua lekat-lekat.

"Kamu kenapa ? Jawab jujur sama aku...", tanyanya dingin.

Gua bangun, berdiri lalu berjalan kearah meja dekat lemari, mengambil minuman dan bersandar ke meja tersebut.

"Enggak kok, aku cuman kaget aja, iya surprise yang kata kamu itu...", jawab gua sebelum meminum air kemasan.

"Kamu aneh..", ucapnya sambil bangun dari duduk diatas kasur, lalu kembali membereskan barang-barang dari dalam tasnya.

Gua memandanginya yang masih membungkuk, mengambil beberapa barang dari dalam tas dan mengeluarkannya untuk kembali ditata di apartemen baru ini.

Gua memandanginya dengan perasaan yang aneh, gua memandanginya dengan perasaan yang serba-salah, gua memandanginya dengan perasaan takut... Ya, takut akan kehilangan seperti sebelumnya....
Diubah oleh glitch.7 29-12-2017 01:57
fatqurr
kifif
oktavp
oktavp dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.