Kaskus

Story

glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN




Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.


Tak Lagi Sama - Noah


Spoiler for Cover Stories:


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.


Quote:


Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

Masa yang Paling Indah
Credit thanks to Agan njum26

Love in Elegy
Credit thanks to Agan redmoon97


Sonne Mond und Stern
*mulustrasi karakter dalam cerita ini


Quote:

*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
snf0989Avatar border
pulaukapokAvatar border
chamelemonAvatar border
chamelemon dan 125 lainnya memberi reputasi
122
1.9M
8.8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
#4626
Sebelum Cahaya
PART XXVIII


Beberapa hari sebelum acara akad pernikahan...

...

"Ve, jadi ikut ?".

Nona Ukhti mengangguk sambil tersenyum.

Kami berdua memasuki mobil milik almarhumah istri gua, lalu gua kemudikan mobil menuju salah satu rumah tetangga yang berada di dekat masjid komplek perumahan ini.

Sesampainya di depan gerbang rumah yang megah itu, gua ketik bbm untuk memberitaukan kalau gua sudah sampai di depa rumahnya.

"Memang keluarganya kemana, Za ?", tanya Nona Ukhti yang duduk di bangku samping kemudi.

"Mamahnya lagi ke Aussie.. Jadinya sekarang dia sendirian di sini.. Gak ada yang anter...", jawab gua.

"Oh Mamahnya lagi nemuin Kakaknya itu ?".

Gua mengangguk. "Iya.. Luna lagi hamil katanya...", jawab gua.

"Oh ya ? Kamu dikabarin dia ?".

Belum sempat gua jawab, seorang satpam pribadi rumahnya membukakan pagar, lalu gua jalankan mobil memasuki pekarangan rumahnya.

"Iya, tapi Helen yang cerita ke aku... Nanti aku ceritain ya...", jawab gua sambil tersenyum.

Nona Ukhti hanya mengangguk, lalu tidak lama gua parkirkan mobil di depan teras rumahnya.

Disana sudah menunggu seorang perempuan cantik dengan koper yang berukuran sedang disampingnya.

Gua keluar dari mobil dan tersenyum kepadanya. "Hai, Ay... Berangkat sekarang ?", tanya gua.

Helen menganggukan kepala sambil tersenyum. Sebuah mantel hitam terlipat di tangannya.

"Mm, Vera ikut... Enggak apa-apa kan ?", tanya gua.

"Oh enggak apa-apa... Yaudah berangkat sekarang yu, Kak...", jawabnya dengan senyuman yang tipis.

Gua masukan koper ke bagasi mobil, lalu Helen duduk di bangku belakang.

"Hai, Ay...", sapa Nona Ukhti seraya menengok kebelakang.

"Hai, Kak Ve.. Maaf ya jadi ngerepotin.. Minta tolong Kak Eza nganterin nih...", jawab Helen setelah duduk dengan nyaman.

Tidak lama kemudian, setelah memastikan semuanya duduk dengan aman dan seatbelt terpasang, gua lajukan mobil meninggalkan kediaman rumah Helen untuk menuju bandara Soetta.

Sepanjang perjalanan Nona Ukhti banyak mengobrol soal perkuliahan dan fakultas yang diambil oleh Helen, tidak ada rasa canggung diantara mereka berdua. Dan selama obrolan itupun mereka berdua tidak membahas soal acara pernikahan gua dengan Nona Ukhti.

Quote:





Melepasmu - Drive


Gua masih mendekap perempuan cantik itu, sebelum melepaskan kepergiannya...

"Ay, terimakasih banyak untuk semuanya, untuk waktu yang pernah kita lewatin... Aku bener-bener minta maaf selama ini banyak salah sama kamu, dan aku gak ada niat untuk mainin perasaan kamu itu.. Aku sayang kamu...", bisik gua dengan tetap memeluknya.

Hanya suara isak tangis yang gua dengar dan tubuhnya bergetar....


Tak mungkin menyalahkan waktu
Tak mungkin menyalahkan keadaan
Kau datang di saat ku membutuhkanmu
Dari masalah hidupku bersamanya


Gua usap beberapa kali kepala belakang hingga ke punggunnya, kemudian gua lepaskan pelukan. Gua pegangi kedua sisi bahunya, menatapnya lekat-lekat.

Wajahnya memerah, airmatanya ikut membasahi kedua pipinya yang lembut itu, dia masih sedikit tersedu.

"Ay, aku berharap kamu bisa mendapatkan laki-laki yang terbaik, dan lebih mengerti kamu... Semoga setelah ini semua kita masih bisa menjaga silaturahmi ya, Ay... Aku minta maaf sekali lagi..", ucap gua sambil menahan airmata.

Tidak ada jawaban apapun dari bidadari yang sedang terluka itu, dia hanya menundukan kepala sambil sesekali mengusap airmatanya.

Gua menghela nafas sesaat sebelum calon istri gua menghampiri kami berdua.


Semakin ku menyayangimu
Semakin ku harus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama


Kemudian Nona Ukhti berdiri di dekat gua, dia langsung menarik pelan kedua tangan Helen dan memeluknya.

"Maafin aku kalo punya salah sama kamu ya, Ay.. Aku harap kamu bisa nerima semuanya dengan ikhlas..", ucap Nona Ukhti sambil mengelus punggung Helen.

Helen masih tidak mengeluarkan ucapan apapun selain suara isaknya yang mulai mereda.

Mereka berdua masih berpelukan. Gua hanya memperhatikan kedua perempuan itu...

Tidak lama kemudian, Helen memundurkan tubuhnya, dia balik menggenggam erat kedua tangan Nona Ukhti.

Lengkung senyum terukir di wajah bidadari itu sekalipun matanya sudah sembab dan memerah. Dia tersenyum tulus kepada calon istri gua.


Suatu saat nanti kau 'kan dapatkan
Seorang yang akan dampingi hidupmu
Biarkan ini menjadi kenangan
Dua hati yang tak pernah menyatu


"Kak Ve... Maaf aku gak bisa datang ke pernikahan kalian, aku cuma bisa bilang selamat dan semoga menjadi keluarga yang bahagia... Hari ini aku pergi ke Jerman, dan sekali lagi, maafin aku yang gak bisa hadir nanti... Maaf...", ucap Helen dengan suara parau.

Nona Ukhti tersenyum, matanya sudah berkaca-kaca dia pegang wajah bidadari itu dengan kedua tangannya.

"Terimakasih, Ay.. Maafin aku juga ya... Terimakasih untuk ucapan dan keikhlasannya... Kamu hati-hati disana ya, semoga kuliah kamu juga cepet beres dan bisa pulang lagi kesini..", jawab Nona Ukhti.

Helen tersenyum tipis, dia melirik kepada gua sebentar sebelum kembali berbicara lagi dengan calon istri gua itu.

"Aku... Aku enggak tau nanti bakal balik ke Indonesia atau stay di sana...", ucapnya sambil tertunduk.

Gua cukup kaget mendengar ucapannya itu, sama halnya dengan Nona Ukhti.

Maafkan aku yang biarkanmu
Masuk ke dalam hidupku ini
Maafkan aku yang harus melepasmu
Walau ku tak ingin


"Kenapa, Ay ?", tanya Nona Ukhti.

Helen tersenyum dengan tetap menundukan kepalanya sedikit, lalu menggeleng pelan.

"Enggak, enggak apa-apa... Aku cuma mau memulai semuanya lagi dari awal, dengan suasana dan lingkungan yang baru...", jawabnya.

Nona Ukhti menghela nafasnya, lalu mengusap bahu kanan Helen.

"Aku cuma bisa berdo'a yang terbaik untuk kamu, semoga apa yang kamu pilih adalah jalan yang terbaik untuk masa depan kamu, dan kalo suatu saat nanti kamu pulang kesini, kamu harus kabarin aku dan Eza ya, Ay..", ucap Nona Ukhti.

Helen hanya tersenyum tanpa menjawab apapun.

"Yaudah, Kak Ve... Aku berangkat dulu ya..", ucapnya setelah diam beberapa saat.

Nona Ukhti langsung menggenggam dan menahan tangan Helen.

"Janji dulu, Ay...", pinta Nona Ukhti serius.

Helen menghela nafasnya. Mengerenyitkan keningnya.

"Janji kalo kamu pulang kesini suatu saat nanti, kamu harus kabarin aku dan Eza...", ulang Nona Ukhti.

"Iya, aku janji sama kamu Kak...", jawabnya sambil tersenyum tipis kali ini.

Nona Ukhti pun ikut tersenyum, dan sekali lagi, mereka berdua berpelukan.

Gua ikut tersenyum. Lalu tidak lama Helen pamit untuk check-in.

"Aku berangkat dulu ya, Kak...".

"Iya hati-hati disana ya, Ay... Inget keep in touch...", jawab Nona Ukhti.

Helen mengangguk dan tersenyum.

"Kak..", panggil Helen melirik kepada gua.

"Hati-hati ya, Ay... Jaga kesehatan dan semoga apa yang kamu inginkan terwujud di eropa sana...", ucap gua sambil tersenyum.

Helen mengangguk. "Ya, makasih, Kak... Aku pamit dulu..", jawabnya dan mulai menarik koper.

Nona Ukhti mengecup pipi kanan-kiri Helen, kemudian Helen pun berjalan semakin menjauh kearah counter check-in di depan sana.

Gua berdiri bersebelahan dengan calon istri gua, melihat kepergian seorang bidadari cantik yang akan mengejar pendidikannya, cita-citanya dan juga untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya.

Gua rangkul bahu kiri istri gua, merapatkan tubuhnya dari samping, kemudian kepalanya bersandar pada sisi lengan kiri ini.

"Good luck and may God be with you, Helena...", ucap istri gua yang masih menatap ke arah perempuan di depan sana.

"Aamiin..", timpal gua.

Sesaat sebelum Helen masuk ke ruangan lain di depan, dia berhenti berjalan. Kemudian berbalik, menatap kami berdua.

Bidadari itu tersenyum, lalu melambaikan tangan kanannya. Tanpa suara, bibirnya berucap... 'Bye-bye'.

Nona Ukhti balas melambaikan tangannya sambil tersenyum, sedangkan gua hanya menganggukan kepala dan membalas senyuman kearahnya.


Semakin terasa cintamu
Semakin ku harus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama


'Selamat tinggal, Ay... Selamat membuka lembaran baru di benua eropa sana... Sampai nanti... Pengalaman menakjubkan yang kamu dapat di negara tembok berlin itu akan kamu bagikan sendiri kepada kami'.


Semakin ku menyayangimu
Semakin ku harus melepasmu


*
*
*


Mobil sedan berwarna silver yang gua tumpangi berjalan dengan santai. Gua duduk di bangku belakang dengan diapit oleh kedua wanita yang sangat gua sayangi.

Di sisi kanan ada Nenek, dan di sisi kiri ada Ibu gua.

"Gugup, Za ?", suara berat yang sudah jarang gua dengar beberapa tahun kebelakang kini menyapa dari bangku depan, samping kemudi.

Dia menengok kebelakang, kepada gua sambil tersenyum, kumisnya yang lebat itu menghiasi bagian atas bibirnya.

"Malah bengong, gugup kamu ?", ulang Om gua itu.

Gua tersenyum lebar lalu menggelengkan kepala. "Enggak, biasa aja ah...", jawab gua sambil melepas kopiah dan mengelap kening dengan tissu yang sudah diberikan Ibu sejak kami berangkat tadi.

Lalu tangan lembut Nenek menepuk-nepuk pelan paha kanan ini.

"Berdo'a semoga hari ini lancar dan minta ke Gusti Allah, biar dikasih ketenangan hati...", ucap beliau lembut.

"Jangan terlalu dihapalin, nanti malah blank kamu, Za...", timpal Ibu dari sisi kiri gua sambil tersenyum lebar.

Gua berdo'a dalam hati, meminta ketenangan hati kepada pemilik semesta ini agar apa yang hari ini hambanya kerjakan berjalan dengan baik tanpa ada halangan berarti.

Memohon kepada Sang Maha Esa agar acara hari ini berjalan dengan baik...

"Kamu coba bbm calon istrimu itu, udah siap apa belum disana ?", pinta Om gua dari bangku depan.

Sebelumnya kami memang sengaja melambatkan perjalanan menuju Sentul, karena saat kami baru saja berangkat, calon istri gua itu memberi kabar kalau penghulunya belum datang, jadi karena kami juga sudah dijalan beserta iringan mobil kerabat serta tetangga kami yang lain, mau tidak mau kami sengaja melambatkan perjalanan.

Gua bbm calom istri gua beberapa kali tapi tidak berubah status deliverednya menjadi read.

"Gimana ? Belum dibales juga ?", tanya Om gua lagi.

Gua hanya menggelengkan kepala.

"Ini udah mulai siang loch, Za.. Itu mobil di depan sama yang dibelakang juga ikutan lambat, kita malah bikin macet nanti...", timpal Ibu.

"Aku coba telpon deh...", jawab gua.

Beberapa kali gua menekan tombol call dan tidak mendapatkan suara calon istri gua diujung sana. Sampai keempat kalipun telpon gua belum juga diangkat.

"Yaudah, kalo gitu mobilnya jalan normal aja daripada macet, mungkin disana masih beres-beres juga..", ucap Nenek kali ini.

Gua taruh blackberry diatas paha, memutar-mutarnya.

Baru saja mobil keluar dari pintu tol. Blackberry gua bergetar, ada sebuah panggilan masuk.

"Siapa, Za ?", tanya Ibu yang ikutan melirik ke layar blackberry gua.

"Papahnya Ve...", jawab gua yang sedikit bingung.

"Yaudah angkat...", jawab Ibu.

Quote:



...to be continued...
Diubah oleh glitch.7 04-12-2017 04:19
fatqurr
kifif
oktavp
oktavp dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.