Kaskus

Story

glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN




Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.


Tak Lagi Sama - Noah


Spoiler for Cover Stories:


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.


Quote:


Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

Masa yang Paling Indah
Credit thanks to Agan njum26

Love in Elegy
Credit thanks to Agan redmoon97


Sonne Mond und Stern
*mulustrasi karakter dalam cerita ini


Quote:

*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
pulaukapokAvatar border
chamelemonAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
#3867
Sebelum Cahaya
PART XIX


Spoiler for Part from Epilog LiE:


Gua keluar kamar mandi lalu masuk kedalam kamar Nona Ukhti yang sebenarnya adalah kamar milik Kakak tirinya. Ya karena Nona Ukhti kalau ke Indonesia menginap di rumah Mamah kandungnya yang sudah menikah lagi, jadi sebenarnya rumah ini sudah terisi penuh oleh keluarga baru Mamahnya tersebut.

Gua meminjam pakaian milik calon adik ipar gua, lalu setelah rapih dan wangi, gua kembali ke ruang tamu. Sambil menunggu Ibu, Kinanti, Nenek dan Pak Rw datang, gua ajak Nona Ukhti ke teras depan rumahnya.

Di teras ini sudah ada Gusmen, Dewa, Gimma dan tentu saja Nona Ukhti sendiri.

Gua berdiri di dekat Dewa, sedangkan Nona Ukhti duduk bersebelahan dengan Gusmen.

"Mantap, akhirnya kan, Za ? Apa kata gua, hehehe...", ucap Dewa setelah membakar sebatang rokok.

"Emang pe'a, gua yang ajak malah gak percaya, eh pake ngajakin berantem segala.. Kampret lu!", sungut Gusmen menimpali.

Masih banyak pertanyaan yang ada di otak gua sebenarnya. Karena jawaban Nona Ukhti sebelumnya kepada Orangtua Adit itu. Gua acuhkan omongan kedua sahabat gua.

"Ve, jujur sama aku, Adit itu siapa ? Terus maksudnya jawaban kamu tadi apa ke Bapak nya ? Kok bisa kamu bilang kalo aku gak datang pun kamu bakal nolak lamaran keluarganya Adit...", tanya gua serius kepada Nona Ukhti.

"Oke, aku minta maaf sebelumnya sama kamu, Za.. Aku memang dikenalin awalnya sama Papah tiriku ke Adit, ya kita kenalan biasa aja, jarang ketemu tapi dia sering komunikasi lewat bbm.. Jujur aku enggak ada perasaan ke Adit selain nganggap dia temen aja kok..", jawab Nona Ukhti.

"Terus maksud kamu nolak aku waktu di Singapore apa ? Dan omongan si Gusmen tuh juga bilang Adit lebih baik dari aku..", tanya gua lagi.

"Okey deh, sekarang mending kita duduk dibawah aja, biar lebih santai ngobrolnya...", saran Gusmen yang kemudian duduk di lantai teras. Lalu diikuti oleh kami berempat.

"Yoi, jadi kayak rapat RT gini, bro... Sekalian atuh kopinya, aus yeuh eweuh suguhan pisan...", ledek Dewa kepada Gusmen.
(Aus nih gak di suguhin sama sekali).

"Hahaha sorry-sorry, Wa..",
"Gim, hehehe... Sorry yak, kan lu paling muda dimari, bikinin kopi ya, kalo ada cemilan sekalian, hehehe..", pinta Gusmen kepada adik tirinya Nona Ukhti tersebut.

"Sip, Mas.. Sebentar ya...", jawab adik tirinya Nona Ukhti lalu masuk kedalam rumah.

"Sekarang coba jelasin semuanya, Ve...", ucap gua sambil meminta rokok kepada Dewa.

Jadi menurut penuturan Nona Ukhti...

Dia tidak ada niat sama sekali untuk memilih Adit menjadi pendampingnya. Kalau dibilang Adit itu baik, mungkin memang begitu. Gusmen dan Nona Ukhti menceritakan kalau Adit adalah sosok lelaki yang baik, bukan playboy, menghormati kaum hawa, penurut kemauan orangtua, pintar, dari keluarga berada, fisik dan rupanya sih oke juga kata Nona Ukhti. Yang lebih bernilai plusnya lagi adalah, ternyata Adit ini calon dokter.

Lalu kenapa Nona Ukhti tidak memilih Adit ?. Karena apa yang dikatakan Gusmen dan Dewa benar adanya, termasuk fikiran gua selama ini. Bahwa Nona Ukhti tidak mungkin melupakan apa yang sudah gua dan dia lewati beberapa tahun lalu. Tidak mudah baginya menerima lelaki lain. Terus untuk apa dia kemarin sampai membuat gua stres karena selalu menyanjung sosok Adit ?. Karena itu semua untuk memberikan gua pelajaran.

Ya, Nona Ukhti kesal dan marah, tapi bukan berarti dia benci dengan gua. Nona Ukhti sama sekali tidak mencintai Adit.

"Terus kok kayaknya kamu seolah-seolah suka sama Adit, bukannya kamu emang mau milih dia, Ve ?", tanya gua lagi.

"Kenyataannya memang Adit orang yang baik, tapi bukan berarti aku cinta sama dia, Za... Dan coba kamu inget lagi, kapan aku ngomong milih dia ? Aku cuma bilang kalo Adit lebih bisa menghargai wanita, that's it.. Ya kan ?", jawabnya sambil tersenyum. "Makanya, Za.. Aku bilang ke Papahnya tadi, kalo aku akan tetep nolak lamaran mereka sekalipun kamu gak datang hari ini...", lanjutnya.

"Terus bukannya acara lamaran ini udah disetujuin kedua belah pihak ? Maksud gua antara keluarga lu, Ve.. Dan keluarga Adit... Jadi seenggaknya kalian udah ada bayangan dong...", tanya Dewa yang ikut penasaran.

"Jujur aja ya... Aku dan keluarga sama sekali gak tau kalo mereka akan ngelamar, benar-benar gak tau awalnya, acara hari ini tuh yang tau cuma Mamah ku dan Papah tiri ku..", jawab Nona Ukhti.

Jadi soal lamaran keluarga Adit hari ini adalah rencana Papah tirinya Nona Ukhti, diluar itu awalnya tidak ada yang mengetahui sama sekali, sampai dua hari sebelumnya Mamah kandungnya Nona Ukhti menelpon Papah kandungnya di Singapore. Meminta Nona Ukhti, Papah kandungnya dan Mamah tirinya datang dari Singapore ke Indonesia, tapi belum diberitahukan ada hal apa. Barulah ketika kemarin mereka datang, Papah tirinya membicarakan soal lamaran keluarga Adit ke Papah kandungnya Nona Ukhti.

Lu semua pusing ? Sama gua yang jelasin aja senewen ini milih kalimatnya emoticon-Nohope

Nona Ukhti, Papah kandungnya, Mamah tirinya, dan Gusmen. Mereka semua tidak mengetahui perihal acara lamaran yang mendadak hari ini, mereka semua baru tau kemarin, sehari sebelumnya.

Nah, awalnya rencana Nona Ukhti hanya ingin memberikan gua pelajaran, dengan menolak gua secara enggak langsung, seolah-olah lebih memilih Adit. Dan itu semua sudah dia obrolkan dengan Gusmen, Papah kandungnya dan juga Mamah tirinya di Singapore. Makanya saat gua ke Singapore dan bertemu Mamah tirinya, beliau mengatakan : 'katanya calon suami Vera itu namanya Adit'.Ucapan beliau itu sudah direncanakan oleh Nona Ukhti, ketika Nona Ukhti mendapatkan telpon dari Mamah tirinya pada saat gua datang ke Singapore. Aslinya ? Mereka semua tidak ada niatan untuk menjodohkan Nona Ukhti dengan Adit. Kecuali... Papah tirinya yang memang ingin menjodohkan Nona Ukhti dengan Adit secara tiba-tiba tanpa mengobrolkan hal penting ini jauh-jauh hari kepada Papah kandungnya.

"Jadi semua ucapan kamu yang marah dan benci sama aku itu cuma akal-akalan ?", tanya gua dengan terkejut.

"Aku gak benci kamu Za, tapi kalo marah iya, kesel iya... Makanya aku cuma pingin kamu mikir dan liat keseriusan kamu kayak gimana kalo ternyata ada cowok lain yang seolah-olah aku pilih...", jawab Nona Ukhti. "Tapi sumpah demi Allah, soal lamaran hari ini tuh aku bener-bener gak tau, sampai akhirnya Papah tiriku cerita kemarin ke aku dan Papah ku (Papah kandungnya)...", lanjutnya.

"Makanya tadi Vera jawab ke bokapnya Adit, kalopun lu enggak dateng, dia bakal tetep nolak lamaran itu...", timpal Gusmen.

"Dan lu tau soal ini, Wa ?", tanya gua kepada Dewa yang duduk disamping kiri gua.

"Jadi gua gini sih ? Mana gua tau ampe tadi ditelpon Bokapnya Meli ama Gusmen noh... Yang gua tau Vera mau di lamar ama yang namanya Adit.. Itu doang", jawab Dewa sambil mengambil cangkir kopi yang sudah disuguhkan oleh adik tiri Nona Ukhti.

"Ve.. Kok kamu kurang ajar sih ?", ucap gua serius.

"Maksudnya ?", tanya Nona Ukhti bingung.

"Lu semua disini pada mikir gak sih ?! Gua nih... Eerrghhh...", emosi lah gua. "Gua dateng kesini dengan dandanan bangun tidur, pake boxer doang! Belom mandi! Gak bawa apa-apa! Aaah parah lu semua.. Bener-bener parah! Lu pikir gua gak malu apa depan keluarga Adit, keluarga kamu juga, Ve! Keterlaluan lu semua bener..! Parah asli... Parah!", ucap gua sambil menggelengkan kepala dan menunjuk satu-satu muka mereka, termasuk adik tiri Nona Ukhti.

"Iiih.. Sumpah ya aku gak minta kamu kesini, tuh tanya aja si Agus!", berkilah lah itu si Nona.

"Wesss.. Sembarangan... Lu lupa apa, Za ? Kan gua bilang tadi pagi, gua disuruh siapa ? Inget gak lu, nyet ?!", ucap Gusmen kali ini.

Gua mikir bentar... Oh iya inget. "Nyokapnya Vera...", jawab gua.

"Nah! Sono masuk kedalem, carekan tah calon mitoha maneh mun wani ma!", Gusmen menunjuk ke kaca rumah.
(marahin tuh calon mertua lu kalo berani ma).

Gua menelan ludah. Lalu melirik kepada Dewa.

"Apa lu ?! Mau nyalahin gua ?! Gua lempar granat juga lu!", sentaknya, sebelum gua ngedumel. Kampret emang nih bocah.

"Jangan liat aku, Mas.. Aku normal dan masih suka perempuan, sumpah deh...", ucap adik tirinya Nona Ukhti juga sebelum gua menca-menca.

"Anying! Terus gua kudu marahin siapa nih ?!", kesel sendiri gua jadinya.

"Ya elu sendiri laah... Blo'on banget jadi orang maen cabut gak liat pakean, lagian parah lu, masa dari pagi ampe sore molor aja! Kebluk amat...", timpal Gusmen lagi.

"Gua begadang semalem, nyet! Belom tadi lu nendangin perut gua, kampret lu...", jawab gua.

"Eh kampret! Lu ma gak seberapa! Nih dagu gua nih korban! Si Helen tuh gila apa! Gua di gibeng langsung tepar! Mana malu banget orang sekantor gua tau semua sekarang! Anyinglah!", sewot lagi nih bocah atu.


...Scroll down to continues reading...
dany.agus
kifif
oktavp
oktavp dan 4 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.