Kaskus

Story

glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN




Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.


Tak Lagi Sama - Noah


Spoiler for Cover Stories:


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.


Quote:


Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

Masa yang Paling Indah
Credit thanks to Agan njum26

Love in Elegy
Credit thanks to Agan redmoon97


Sonne Mond und Stern
*mulustrasi karakter dalam cerita ini


Quote:

*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
pulaukapokAvatar border
chamelemonAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
#3576
Sebelum Cahaya
PART XV


Malam yang dingin setelah hujan di bulan desember membuat gua menaikan kaki keatas kursi teras, gua ambil sebatang rokok lights dan mulai membakarnya.

"Silahkan Mas Eza, kopinya...".

"Eh, makasih Bi..", ucap gua setelah Bibi menaruh secangkir kopi hitam diatas meja teras.

"Mas, gimana sama Non Vera ? Ketemu ?", tanya Bibi sambil mendekap nampan di depan tubuhnya.

"Huufftt...", gua menghela nafas sambil menurunkan kaki. "Ketemu, Bi..", jawab gua singkat lalu menghisap rokok dalam-dalam.

"Syukur atuh kalo udah ketemu, semoga pernikahannya bisa dilaksanakan secepatnya ya, Mas.. Bibi ikut seneng... Kasian abisnya sama Mas Eza, semenjak ditinggal Non Echa, Mas Eza Bibi perhatiin jarang senyum..", lanjutnya.

Gua menggaruk kepala yang tidak gatal, lalu menaruh sebatang rokok diatas asbak.

"Bi, kalo Vera bukan jodoh saya gimana ya, Bi ?", tanya gua dengan nada sendu.

"Loch kok ? Ada apa lagi Mas sama Non Vera ?", kali ini Bibi terkejut.

"Gimana ya, Bi... Gak ngerti saya juga, gak tau gimana jalan pikiran Vera yang sekarang...", jawab gua agak malas.

Bibi mendekati gua, lalu mengelus bahu kanan ini. "Insya Allah, Mas... Kalo jodoh gak akan kemana, jangan lupa shalatnya, minta ke gusti Allah biar diberikan yang terbaik untuk Mas Eza dan juga Non Vera...".

Gua melirik kepada Bibi yang sedang tersenyum. "Makasih banyak ya Bi, udah ngingetin saya..".

"Sama-sama, Mas...".

Gua masih duduk di teras setelah Bibi masuk kembali kedalam rumah. Memikirkan ucapannya tadi. Benar apa yang dikatakan Bibi, gua udah berjalan terlalu jauh dari jalan yang di ridhoi-NYA. Mungkin ini teguran buat gua. Selama ini gua memang jarang melaksanakan ibadah, apalagi kalau gua mengingat kejadian setelah ditinggal Jingga, ah masa-masa yang membuat gua gila.

Tanpa menanti-nanti lagi, gua pun bangkit dari duduk dan masuk kedalam rumah untuk melaksanakan ibadah empat raka'at.

Selesai mengambil wudhu dan berganti pakaian untuk beribadah, gua rentangkan sajadah menghadap kiblat di dalam kamar lantai dua. Sebelum melaksanakan ibadah, gua menatap foto berbingkai besar di samping kiri lalu tersenyum.

'Kangen jadi imam kamu, Cha...'.

Singkatnya gua sudah selesai melaksanakan shalat isya, kemudian gua menengadahkan kedua tangan sebatas dada. Mengucapkan rasa syukur dan terimakasih kepada Allah SWT atas apa yang sudah gua terima selama hidup di dunia ini. Lalu memohon ampunan-NYA, memohon ampun atas dosa-dosa yang pernah gua perbuat selama ini. Tanpa terasa airmata gua menetes.

Cukup lama gua berdo'a dan curhat kepada sang Maha segalanya itu. Sampai akhirnya gua selesai, bersamaan dengan bunyi blackberry tanda sebuah chatt bbm masuk.

Gua rapihkan sajadah, lalu berjalan kearah meja rias milik almarhumah, sambil membuka kancing baju koko, gua buka pesan bbm tadi.

Quote:


Gua taruh kembali blackberry diatas meja rias, lalu membuka koko dan mengganti pakaian santai, sambil berfikir ada apa ya si Helen mau ketemu sama gua. Jujur aja, sebenarnya gua enggak mau ketemu dia, gua malu dan ngerasa gak enak. Tapi... Ah iya karena itu juga sih, gua harusnya minta maaf ke dia. Mungkin ini waktu yang tepat untuk meminta maaf kepadanya.

Awalnya gua hendak menggunakan motor untuk datang ke rumah Helen, walaupun jaraknya tidak begitu jauh dari rumah gua, tapi lumayan juga kalau jalan kaki. Karena cuaca dingin dan hujan sudah berhenti daritadi, rasanya lebih asyik gua memilih berjalan ke rumahnya, udah lama juga gua enggak jalan kaki di komplek perumahan ini.

Sesampainya di gerbang pagar kediaman Helen, gua disambut oleh satpam pribadi rumahnya yang langsung membukakan pintu gerbang tersebut.

"Mas Eza ya ?", tanya satpam tersebut.

"Iya, Pak... Helennya ada ?", tanya gua balik.

"Ada, Mas.. Sudah ditunggu di dalam, silahkan masuk, Mas.. Eh iya biar saya antar pakai motor...", ajaknya.

"Enggak apa-apa, Pak, biar saya jalan kaki aja", tolak gua dengan halus.

Lalu gua pun kembali berjalan. Sambil menyapukan pandangan ke halaman rumah yang luas ini, gua mikir, bener juga sih harusnya bawa motor, lupa gua ini halaman rumahnya segede setengah lapangan bola. Yaudahlah itung-itung olahraga malem ae...

Baru gua ketuk pintu rumahnya dua kali, seorang perempuan cantik nan seksi langsung membukakan pintu tersebut.

Tapi kok... Sorot matanya tajem banget, perasaan gua jadi gak enak gini...

"Hey, Ay... Ada ap...".

Jjduughh...

"Ugh!".

Brugh.. Gua terjungkal kebelakang.

"Haaa... Ugh.. Ugh..", nafas gua tersengal, tangan gua memegangi hidung.

Masih dalam posisi terjatuh di lantai teras rumahnya, gua melirik kepada perempuan itu dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.

"Apaan ini maksudnya ?!", sentak gua sambil menahan perih pada tulang hidung.

"Bangun", jawabnya dingin sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.

"Lu kalo cowok udah gua hajar, Len!", emosi gua, udah gak bisa lagi sopan sama nih perempuan satu.

"Emang kalo aku cewek kenapa ? Ayo kalo mau dilanjutin, di belakang ada arena boxing. Sini ikut", ucapnya sambil masuk kedalam rumah.

Gua bangun, lalu hendak mengikutinya masuk kedalam, tapi....

Anying!!! Gua mengumpat dalam hati ketika melihat kaos putih ini sudah ternoda oleh bercak darah. Gila itu cewek, mimisan gini idung gua. Ngepet bener.

Gua pun akhirnya masuk ke ruang tamu rumah yang megah ini, lalu gua lihat Helen berjalan ke ruang tamu ini dari bagian dalam rumah lainnya dengan sebuah kotak p3k pada tangannya.

"Sini duduk...", ucapnya dengan nada memerintah.

Gua menghela nafas kasar, lalu duduk di sampingnya.

"Awas atuh tangannya, mau dibersihin gak itu darah...", ucapnya galak.

Heran gua, enggak ada manis-manisnya ini perempuan. Kenapa sih sebenernya sama dia....?

"Aw, pelan-pelan... Perih nih..", ucap gua sambil meringis perih ketika dia membersihkan bercak darah di sekitar hidung gua.

"Enggak usah manja kali, gini doang sakit..", sungutnya lagi sambil terus mencocol hidung gua dengan lap basah, mana pake tenaga lagi, makin berasa aja nih perih.

"Woy, pelan-pelan lu, dipikir gak sakit apa ? Liat nih ampe berdarah..", ringis gua lagi sambil memundurkan wajah.

"Lemah amat sih".

Ggrrrrhhhhh... Pingin rasanya gua toyor tu kepalanya. Seenak jidat bilang gua lemah.

"Sembarangan, siapa yang siap kalo langsung ditinju kayak tadi...", balas gua.

"Iya tapi gak langsung jatuh sekali pukul juga kali... Apa namanya kalo bukan lemah ? Hm ?".

"Tengil lu..", kesel gua emoticon-Mad

"Bodo...".
"Udah tuh, mau minum apa ? Kalo kopi item gak ada...", lanjutnya sambil bangun dari duduk setelah membereskan kotak p3k.

"Vodka ada, gak ?", tanya gua seraya menyandarkan kepala ke bahu sofa.

"Mau ditinju lagi, kamu ?", jawabnya seraya mengibaskan rambut kebelakang kemudian berjalan kearah dalam rumah.

Pe'a dasar... Sungut gua dalam hati.

Tidak berapa lama, balik lagi tuh perempuan cantik tapi sadis ke ruang tamu ini, gua terbelalak melihat suguhan yang dia berikan.

"Loch ? Wine ?", ucap gua sambil memajukan tubuh kearah meja di depan.

"Iya, adanya wine, minum aja", jawabnya lalu duduk disamping gua.

Busyet, gak nyangka aja gua dia nyimpen minuman kek gitu.

"Suka minum juga ?", tanya gua sambil melirik kearahnya.

Helen menggelengkan kepalanya. Lalu mengambil bantal sofa dan ditaruh diatas pahanya.

"Kalo lagi mood aja, lagipula itu koleksi Mamah..", jawabnya.

Gua mengambil botol wine tersebut lalu membaca merknya disana dan tahunnya. Wow, koleksinya boleh juga ini. Niatnya mau nuangin sendiri ke gelas yang sudah disediakan, tapi gua urungkan kembali niat tersebut. Gua taruh lagi wine itu diatas meja.

"Kenapa ? Gak suka wine ?", tanya Helen setelah melihat gua tidak jadi menuang minuman.

Gua tersenyum tanpa melirik kepadanya. "Suka, tapi enggaklah... Kapan-kapan aja..", jawab gua.

Memang udah lama rasanya gua enggak minum wine, apalagi sekarang yang berada di hadapan gua ini high grade, cuma ya gua masih waras, masih inget banget, baru beberapa menit yang lalu curhat sama Gusti Allah, masa iya sekarang da oleng lagi. Enggak banget hidup gua...

"Masih sakit hidungnya ?", tanya Helen saat kami sama-sama terdiam beberapa saat.

"Untuk apa kamu ninju aku tadi ?", tanya gua balik.

"Karena aku tau Vera gak mungkin ngelakuin hal itu, jadi ya aku wakilin aja...", jawabnya santai.

Gua mendengus dengan kasar. "Terus cuma untuk itu aku disuruh kesini ?", tanya gua lagi.

"Enggak juga... Aku mau tanya, kapan kalian nikah ?".

Gua melirikan mata kearahnya.

Helen menundukan kepala, juntaian rambut panjang menutupi sisi wajahnya. Gua tidak bisa melihat ekspresi wajahnya itu dari samping kanannya ini. Tapi gua tau dia sedih, jelas terasa dari nada bertanyanya tadi.

"Kapan-kapan...", jawab gua seraya kembali menengadahkan kepala, menatap langit-langit ruang tamu.

"Kok Kapan-kapan ?".

Gua menaikan kedua bahu. "Enggak tau, Ay... Aku enggak tau...", jawab gua malas.

"Ya terus kamu kesana gimana ? Cerita coba ke aku...", pintanya.

"Hadeuh... Males ah...".

"Gagal ya ?", tebaknya.

"Tau ah...".

"Kenapa bisa ditolak ? Katanya dia cinta banget sama kamu...".

"Aneh memang... Gak ngerti aku, kenapa bisa dia lebih milih cowok yang namanya Adit...", akhirnya mau enggak mau, cerita juga gua.

"Adit itu siapa, Kak ?".

"Katanya kenalan dari Ayah tirinya disini... Gak jelas sampai sejauh apa hubungan mereka, yang aku tau mereka mau dijodohin", jawab gua.

"Masa Vera nerima gitu aja ? Aneh banget... Gak logis ah... Terus kamu diem aja gitu ? Gak minta penjelasan apapun ke dia ?".

"Ehm... Ay...", gua menegapkan posisi duduk, lalu memegangi hidung yang terasa nyutnyutan.
"Kalo kamu pernah ngejalin suatu hubungan dengan cowok, dan banyak kejadian diantara kalian berdua yang diluar ekspetasi kalian, lalu mampu melewatinya bersama-sama, apa kamu akan relaian hubungan kamu itu demi cowok lain ?", tanya gua panjang lebar.

Helen menatap gua dengan sendu, dia tersenyum tipis tapi gua tau dia merasakan apa yang gua rasakan saat ini. Lalu tangan kanannya menggenggam tangan kiri gua.

"Kak... Apa sih yang sebenarnya terjadi sama kamu dan Vera di masa lalu ?".

Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakan kejadian memilukan yang dialami Nona Ukhti di masa lalu kepada Helen. Pada akhirnya gua pun meminta kami pindah duduk di teras, agar gua bisa menceritakannya sambil menikmati sebatang rokok. Tapi Helen enggan pindah tempat, jadi dia mengizinkan gua membakar rokok di ruang tamu rumahnya ini.

"Fuuuuhh...".
"Semuanya terjadi sebelum aku nikahin Echa...", gua mulai bercerita setelah membakar sebatang rokok.
"Aku sama Vera gak pernah pacaran, sama kayak dulu waktu dengan Echa..".

Helen memperhatikan gua dengan serius.

"Aku sayang sama dia, aku cinta sama dia, Ay... Apapun kondisinya saat itu, aku terima dia apa adanya.. Gak ada sedikitpun niat untuk pergi ninggalin dia...", lanjut gua.

"Apa yang terjadi sama Vera, Kak ?".

Gua merasakan nada kekhawatiran dari pertanyaannya itu.

Skip... Intinya gua ceritakan semua kejadian yang menimpa Nona Ukhti di masa lalu kepada Helen.

Selesai bercerita gua lirik Helen yang hanya diam selama mendengar cerita gua tadi. Dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Lalu menyeka airmatanya sendiri yang nyaris jatuh itu.

"Aku paham sekarang.. Kenapa Sherlin dan Luna mundur ketika tau kamu deket sama Vera lagi", ucapnya setelah menghapus airmata.

"Ya gitulah ceritanya, Ay..", gua ambil segelas air mineral yang memang sudah tersedia di meja ruang tamu lalu meneguknya.

"Terus, alasan apa yang buat Vera nolak kamu ? Apa hanya karena kamu cium Siska ? Rasanya aneh banget sampai dia relain hubungan kalian. Atau hanya karena perjodohan dengan Adit itu ?".

Gua menggelengkan kepala. "Itulah yang buat aku bingung dan gak abis fikir sama dia, Ay... Setelah apa yang kami lalui, kok bisa-bisanya dia dengan entengnya ngomong...", gua hentikan ucapan gua sambil memejamkan mata. Mengingat ucapan Nona Ukhti di apartment nya itu.

"Vera ngomong apa, Kak ?".

"Ciiih... Dia bilang, Adit lebih bisa menghargai perempuan...", jawab gua dengan menahan emosi.

"Cuma itu ?", tanya Helen tidak percaya.

"Anehkan ? Coba kamu pikir, Ay... Dia bisa ngomong gitu berarti sempet deket sama Adit, dan yang jadi masalahnya kapan mereka ketemu dan sempet deket ? Kamu tau sendiri, selama dia ada disini lebih sering ketemu siapa ? Aku, Ay... Aku!", gua tunjuk dada gua sendiri.

"Masa sih Vera main dibelakang kamu gitu, Kak ?".

"Ya gak tau, Ay... Bingung aku juga. Dan semuanya bener-bener aneh buat aku... Dia bilang gitu juga kok ya gak mikir sih... Apa yang udah kita lewatin dulu. Segampang itu dia milih Adit ? Fvck!", gua hempaskan lagi tubuh ke bahu sofa seraya menutupi wajah dengan kedua tangan.

Lama kami terdiam. Larut dalam fikiran kami masing-masing. Sampai akhirnya dia memecah keheningan diantara kami berdua.

"Kak...".

"Hm...", gua masih menutup mata.

"Kak..".

"Apa ?", mata gua masih tertutup, dengan kepala yang bersandar pada bahu sofa.

Cup... Lembut bibirnya terasa di pipi kiri gua.

Gua buka mata dengan terkejut, lalu menengokan kepala kearahnya sambil mengerenyitkan kening.

"Aku sayang kamu", ucapnya pelan.

Sedetik kemudian dia lumat bibir gua...


***


Beberapa saat kemudian, di malam yang sama...

"Pak, nasi gorengnya dua ya, makan disini...", ucap gua.

"Pedes gak, Mas ?", tanya tukang nasgor.

"Ay, kamu mau pedes gak ?", tanya gua sambil menengok kebelakang.

"Satu sendok aja sambelnya..", jawabnya sedikit berteriak.

"Yang satu pedes, yang satu sesendok aja sambelnya, Pak..", pinta gua.

"Sering makan disini, Kak ?".

Gua berjalan kearahnya yang duduk dibangku plastik. Lalu gua tarik salah satu bangku plastik lainnya dan duduk disampingnya.

"Gak sering, cuma kalo lagi pingin biasanya dibungkus. Enak kok..", jawab gua.

Helen menyapukan pandangannya ke sekitar lapak jajanan malam disini.

Tempatnya dipinggir jalan, tepat di samping gerbang komplek perumahan kami berdua. Ada cukup banyak tukang makanan. Semuanya buka dari sore sampai larut malam, dan rata-rata mereka berjualan memakai gerobak dorong, tapi mangkal di depan ruko yang sudah tutup.

Sekedar info yang gak penting untuk kalian, tapi penting buat gua. Hehehe...
Tepat dibelakang gua dan Helen makan, ruko yang tutup itu, suatu hari nanti bakal jadi tempat yang sering dikunjungi oleh si mblaem-mblaem Orenz emoticon-Big Grin

Kami menikmati nasgor pinggir jalan ini bersama pengunjung lain. Beberapa hal jadi bahan obrolan, lebih banyak soal kegiatan gua yang memang baru mulai bekerja di restoran cabang Jakarta. Lalu ketika kami sudah selesai makan, gua bakar sebatang rokok...

"Kak... Sebentar lagi aku balik ke Jerman loch...", ucapnya setelah meminum teh hangat.

"Kuliah lagi ya ?", tanya gua basa-basi.

Helen mengangguk dengan wajah lucu, bak anak kecil yang mengharapkan sesuatu.

"Bagus deh...", jawab gua menggodanya.

"Iiih.. Kok jawabnya cuma gitu...?", sungutnya sambil mencubit lengan kanan gua.

"Ya terus gimana ?", tanya gua sambil tersenyum.

"Ya gimana kek...", cemberut dia sambil membuang muka.

"Ya gimana apanya ? Bingung aku...", goda gua lagi.

"Tau ah! Nyebelin!".

Gua terkekeh lalu membuang rokok yang belum habis. Kemudian gua bangun dan membayar makanan kami.

"Pulang yu, udah malem nih...", ajak gua.

"Huh...", mukanya masih cemberut, tapi mau juga bangun dan berjalan pulang bersama gua.

Sebelumnya nih, gua memang mengajaknya makan di depan komplek, karena memang gua lapar, dan awalnya dia meminta gua untuk memakai motor bebek milik satpam pribadi rumahnya, karena gua enggan mengendarai mobil. Tapi entah kenapa, gua sendiri lagi beneran males naik kendaraan. Jadi setelah berdebat soal kendaraan, akhirnya dia mengalah dan menuruti gua untuk pergi ke depan sini dengan berjalan kaki.

Moment ini enggak bakal gua lupain seumur hidup... Termasuk dirinya, pasti tuh.

Kami berjalan berdampingan kedalam perumahan di malam yang gelap, penerangan dari lampu rumah di sisi kanan-kiri serta lampu jalanan cukup membuat jalanan terang benderang.

"Masih jauh lagi...", ucapnya saat kami masih berjalan.

"Hehehe... Males amat jalan kamu tuh, sekali-kali lah, Ay... Hehehe....", ucap gua sambil mencolek tangannya.

"Jauh tau... Mana gelap gini ih...".

Helen menyapukan pandangan ke arah kanan saat kami melewati sebuah rumah mewah tapi sepertinya tidak ada penghuni, karena rumah tersebut gelap gulita.

Gua ikut melirik kerumah tersebut. Disana memang gelap, cahaya lampu pun tidak ada. Tapi cukup terlihat ada sebuah pohon tinggi besar di sisinya. Niat iseng pun timbul seketika.

"Ay... Ay... Berenti sebentar...", gua raih bahunya agar dia berhenti berjalan.

"Kenapa ?", tanyanya sambil menengok kepada gua.

Gua tidak menjawab, tapi gua menunjuk kearah pohon di sebrang kanan kami. Helen ikut menengok kearah jari gua menunujuk.

"Ada apa sih, Kak ?", tanyanya kali ini seraya memperhatikan pohon besar disana.

"Liat gak ?", tanya gua.

"Liat apa ?".

"Tuh putih-putih di batang pohon, kayak ada yang lagi duduk ya..." jawab gua.

Helen tidak menjawab apapun, sedangkan gua masih memperhatikan pohon disana. Karena dia masih terdiam, gua pun melirik untuk melihat wajahnya.

Dan Oh Meeeeennn..... Hahahahaha.... Gua beneran nahan ketawa saat tau kalo dia ternyata udah nutup mata, kelopak mata yang menutup itu berkerut. Lalu gua lihat kedua tangannya yang terkepal.

"Ay Ay...", panggil gua sambil menahan tawa.

Helen masih memejamkan matanya, dia hanya menggelengkan kepalanya.

"Ay... Aku itung sampe tiga, lari ya, Ay", lanjut gua.

Dia masih terdiam dengan posisi yang sama, tanpa berani membuka matanya.

"Satuu...",
"Duaa....",
"Laarii Aaaayyyy....", teriak gua lalu beneran berlari.

Gua tertawa sambil berlari, tapi langsung menghentikan langkah ketika mendengar sebuah teriakan.

"AAAAAAAAAA!!!!!".

Gua menengok kebelakang... Oh fak!

Gua fikir dia ikutan lari. Ah sialan... Gua kembali berlari menghampirinya.

"Aaaaaaaaa!!".

Dan kalian tau dia dalam posisi apa ?.

Helen jongkok, memegangi kedua lututnya dengan mata terpejam dan berteriak sejadi-jadinya.

"Ay...ay... Udah-udah, ini aku, Ay... Hey hey... Udah jangan teriak oy...", gua pegangi bahunya dan ikutan berjongkok dihadapannya.

"Huaaa... Hiks.. Hiks... Huaaa... Huhuhuhu... Hiks... Hiks...".

Anjir doi mewek coy. Hahahaha...

"Ay udah Ay, jangan nangis... Nanti orang pada keluar, malu Ay... Udah gak ada apa-apa kok, beneran, Ay...".

"Enggak mauuu...huhuhu... Hiks.. Hiks... Huhuhu...", jawabnya masih memejamkan mata dengan airmata yang mbrebes mili.

Gila, nih perempuan segitu ketakutannya. Tubuhnya bergetar. Gak tega gua jadinya, kasian juga sih...

"Ayo pulang ayo... Yu yu... Aku pegangin nih, udah ya...", ucap gua sambil mencoba menarik tangannya agar berdiri.

"Enggak mau! Huhuhu... Hiks... Hiks...", sentaknya sambil menepis kasar tangan gua.

"Ya udah kalo gak mau, paling ditemenin om Ocong kamu kelamaan disini", ucap gua asal.

Jjdugh!

"Ughftt.. Argh... Aw...", gua meringis menahan sakit di perut.

Ditinju perut gua... Asyu! emoticon-Busa

"Gendong! Hiks... Hiks... Huhuhu... Huhu.." ucapnya.

Gua melotot kepadanya, masih memegangi perut yang perih dan eneg. Untung aja gak keluar itu nasgor tadi.

"Gendong ? Ngawur aja!", jawab gua.

"Gendong! Pokoknya gendooooongng!! Huhuhuhu... Hiks... Hiks...".

"Iya-iya deh.. Buruan naek dah ah... Riweuh aing ma".

Gua berjongkok membelakanginya, lalu dia melingkarkan kedua tangannya dari belakang kedepan bahu gua, gua angkat tubuhnya dengan memegangi kedua paha bagian bawahnya.

"Jalan!", perintahnya.

"Oke Tuan Putriiii", jawab gua mulai berdiri lalu berjalan dengan menggendongnya dibelakang.


Moment ngawur yang gak akan pernah kita lupain kan ?emoticon-Smilie
Diubah oleh glitch.7 30-10-2017 00:40
dany.agus
fatqurr
oktavp
oktavp dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.