- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#3421
Sebelum Cahaya
PART XII
Hujan di bulan oktober ini terasa beda untuk gua. Bunyi air yang jatuh dari langit diatas sana seolah-olah mengiringi rasa bersalah gua kepada sosok seorang perempuan istimewa yang sejam lalu baru saja pulang dari rumah gua.
Sial.... Ucap gua dalam hati ketika melihat kontak bbm dirinya sudah tidak ada lagi di blackberry gua.
Kemudian gua mengelus-ngelus pipi yang sedikit masih terasa peres karena tamparannya.
tuh perempuan satu kalo udah marah beneran bahaya ternyata.... Keluh gua lagi dalam hati.
Gua jadi inget waktu dia berantem ama Gladis di SMA dulu. Adu mulut doang sih, tapi emosinya itu loch... Ngeri Gais.
"Hey... Ngapain bengong ?".
Gua menengok kearah Ibu yang berdiri di depan pintu halaman belakang.
Gua hanya menggelengkan kepala, lalu membuang muka kearah lain. Tidak lama Ibu berlari kecil untuk menghindari rintikan hujan kearah gazebo ini.
"Ayo masuk, udah malem, Za..", ucapnya yang kini sudah berdiri di samping gua.
Gua hanya menundukan kepala, kemudian Ibu duduk disamping gua. Gua menengok kearahnya kali ini, dia tersenyum...
Ah ini nih...
Gua langsung menyandarkan kepala ke bahunya.
"Makanya jangan aneh-aneh... Kamu dikasih taunya susah sih...", ucap Ibu sambil mengusap kepala gua.
"Marah beneran dia...", ucap gua dengan suara parau.
"Ya kamunya juga kan.. Sakit gak digampar Vera ?", tanyanya.
"Enggak seberapa dibanding sakit hati aku, Mba...".
"Hahahaha...".
Loch ? Malah ketawa sih ?
Gua mundurkan tubuh lalu memperhatikan wajah Ibu yang masih tertawa itu.
"Kok ketawa sih ?!", tanya gua dengan nada kesel.
"Hahaha.. Abisnya kamu tuh lucu..".
"Apanya yang lucu ? Aku abis dibikin sakit hati sama Vera loch, Mbaaaa.... Ya ampun tega banget...", jawab gua sewot.
"Hihihihi... Syukur kalo kamu sakit hati..", jawabnya sambil tersenyum lebar. "Za... Harusnya kamu sadar, udah bikin sakit hati dia duluan.. Coba fikir deh, dia tau kalo lelaki yang dia sayangin ciuman sama perempuan lain.. Hayo, sakit hatian siapa sekarang ?".
"Yaiya sih, tapi kan Mba dia juga gak perlu ngomong kayak... Ah caur lah pokoknya tadi...", ucap gua mengingat kejadian dengan Nona Ukhti sebelumnya.
"Caur ? Apanya ? Emangnya kamu sakit hati karena dia ngomong apa sih ? Cerita dong ke Mba...".
Gua menghela nafas. Males sebenernya ngulang obrolan gua sama Nona Ukhti tadi ke Ibu. Tapi ya karena gua juga mikir gak ada temen curhat lagi, mau gak mau gua ceritain ke Ibu.
Ketika setelah makan malam bersama, gua mencoba mengajak Nona Ukhti ngobrol, tapi dia masih tetap bersikap dingin sama gua, jadi dengan sedikit pakasaan dari Gusmen yang menyarankan gua mengajaknya ngobrol di belakang, gua paksa lah sedikit sepupu perempuannya itu untuk mau ngobrol empat mata di gazebo.
Setelah berhasil mengajaknya ke gazebo, dia tetep cuek, gak tau deh dia dengerin apa enggak itu omongan yang keluar dari mulut gua, sampai akhirnya dia motong ucapan gua dengan sebuah pertanyaan yang membuat gua nyaris tertawa. (awalnya...).
"Kamu tuh pingin aku nerima cowok lain bukan ?", ucap Nona Ukhti serius.
Gua tersenyum, ah enggak enggak.. Lebih tepatnya gua menahan tawa.
"Ya enggaklah, Ve.. Tapi kan gak mungkin lah kamu juga bakal nerima cowok lain selain aku..", jawab gua penuh keyakinan dengan tetap menahan tawa.
Ya saat itu gua merasa jumawa, kalo Nona Ukhti gak mungkin nerima cowok lain selain gua. Somse mode on, Gais..
Tapi gua masih ingat wajahnya gak berubah, ekspresinya itu masih serius dan tatapan matanya kearah gua tajam.
"Za... Kamu pernah gak mikirin perasaan aku sekali aja... Hm ?", tanyanya pelan.
Mendadak gua terkejut. Selain karena ucapannya itu, gua terkejut karena dari kedua sudut matanya sudah ada butiran air yang siap membasahi wajahnya.
"Eh.. Kok kamu nangis ?", ucap gua bodoh.
"Za, kamu tuh maunya apa ? Kamu enak-enakan sama Siska, tanpa mikirin perasaan aku... Dengan entengnya kamu ngomong di depan Helen dan Mamahnya kalo kamu milih aku, mau nikahin aku... Tapi apa ? Apa ?! Kamu sekarang berani nyium Siska! Mantan kamu itu! Iyakan ?!".
"Iiya.. Iya aku salah, maaf, Ve... Maaf... Aku gak sengaja, spontan waktu itu, Ve... Aku nyesel beneran..".
"Gampang ya kamu bilang maaf ke aku ? Kamu tuh bukan ngeselin dan nyebelin lagi tau gak! Aku benci sama kamu!", sentaknya.
Gua sampai terhenyak mendengar kalimat terakhirnya. Enggak nyangka, ya gua bener-bener gak nyangka Nona Ukhti bakal ngomong kayak gitu. Benci sama gua ? Oh meeenn... Yang bener aja...
"Ve... Sabar dulu dong, maaf aku emang salah, kamu emosi aku tau, iya silahkan deh marah, tapi jangan ngomong gitu, Ve... Aku sayang beneran sama kamu..", ucap gua mencoba menenangkan, sambil memegang punggung tangan kanannya.
Tapi Nona Ukhti menepis tangan gua.
"Aku emang cinta sama kamu, sayang sama kamu... Tapi kalo kamu kayak gini terus, maaf ya Za... Aku gak bisa..", ucapnya sambil berdiri.
What the fvck ? Apa-apaan ini ? Gak mungkin ini Nona Ukhti, gak mungkin dia sampe kayak gini.
Nona Ukhti itu perempuan yang cinta dan sayang sama gua tanpa pamrih, iya kan ? Iya kan ? Iya lah. Ini dia.. Vera Tunggadewi. Sahabat SMA gua itu, temen perempuan yang dulu ngejar-ngejar gua.
"Aku gak perlu mikir ulang lagi, Za... Aku udah cukup sama kamu, nungguin apa yang aku harapin selama ini, bertahan dengan perasaan yang kamu gak pernah tau..".
"Ma.. Maksud kamu apa, Ve ?", tanya gua sambil menengadahkan kepala kearahnya.
"Apa kamu pernah mikir perasaan aku saat kamu ninggalin aku ke Jepang ? Terus pulang-pulang malah udah jadian sama Luna ? Abis itu apalagi ? Kamu deketin lagi Sherlin dan Helen... Dan terakhir.... Siska..", lanjutnya, kali ini dengan airmata yang sudah berderai.
Rasanya tuh gua pingin lari keluar gazebo, terus nyebur ke kolam renang di depan sana. Nyesek anjir denger omongannya. Dasar guoblok emang.... Fvck...!!!
"Aku perempuan biasa, Za... Sama kayak perempuan lainnya diluar sana, punya hati dan kesabaran..".
Gua hanya bisa menundukan kepala tanpa berani menatap wajahnya.
"Maaf Za... Kayaknya kamu gak perlu ngebuktiin apa-apa lagi ke aku.. Kita cukup sampai disini aja, Za...", lanjutnya dengan suara terisak.
"Ve Ve... Sebentar-sebentar, kita omongin masalah ini baik-baik ya sayang... Izinin aku ngomong dulu", gua pun bangun dari duduk dan mencoba meraih tangannya.
Tapi lagi-lagi dia menepis tangan gua dan memundurkan tubuhnya sambil menggelengkan kepala.
"Enggak ada yang perlu kamu jelasin lagi... Semuanya udah selesai bagi aku, Za..", jawabnya.
Gua bengong gak bisa ngomong apa-apa ketika dia bilang kayak gitu. Gak percaya... Dan lebih gak percaya lagi ketika ucapan terakhirnya benar-benar membuat gua diam untuk mencerna kalimat sialan yang dia lontarkan itu.
"Kamu harus tau, ada kalanya perempuan menyerah dan melihat lelaki lain yang ternyata lebih memperhatikan dia, lebih menghargainya dan selalu ada untuknya...".
Setelah itu Nona Ukhti pergi... Pulang bersama sepupunya. Dan meninggalkan gua dengan sejuta pertanyaan yang menggelantung di fikiran gua ini. Apa maksudnya coba ? Sebentar.. Maksudnya... Ada cowok lain gitu yang lagi deket sama dia ? Eh... Siapa orangnya ? Berani-beraninya deketin Nona kesayangan gua! Bajigur bener!
Gua bukan gak mau langsung mengejarnya, gua rasa percuma kalo dia udah ngomong gitu, jadi gua fikir ada baiknya dibiarin dulu dia pergi dengan perasaan marahnya itu, besok baru gua coba ngomong lagi. Tapi sial bagi gua, ketika baru setengah jam dia pergi, gua cek blackberry dan nyatanya kontak gua pun udah dihapus dari sana. Gua coba sms gak delivered, gua coba telpon gak aktif nomornya.
"Jadi Vera gak nerima lamaran kamu ?", tanya Ibu gua setelah gua selesai bercerita.
"Mba! Jangan ngomong gitu kenapa sih ? Jangan bikin aku takut gitu, Mba..", gua sedikit marah sama Ibu. "Emang Mba mau kejadian dulu keulang ?", tanya gua mengingat kejadian lalu, saat gua dan keluarga hendak melamar Nona Ukhti.
"Kamu yang berulah... Ya kamu tanggung akibatnya...", jawabnya enteng lalu pergi meninggalkan gua.
Gilaaaa... Gua gak percaya Ibu bakal ngomong kayak gitu. Ada apa sebenernya sih sama orang-orang itu ? Kok gak ada yang support gua! Biasanya gak kayak gini. Asli ini aneh banget buat gua.
Okey-okey.. Gua salah, iya salah udah nyium Mba Polcan tapi ya gak sampai gini juga atuh. Masa iya sampai gak jadi nikahin Nona Ukhti. Ah dunia macam apa ini...
Egois lu...
Yaiya egois, terus gua mesti gimana coba ? Kan udah nyeselin perbuatan gua, masa iya terus gua terima gitu aja keputusan Nona Ukhti ?.
Gua memilih masuk kedalam rumah ketika waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam, apalagi hujan masih seneng turun dan gak mau berhenti.
Sampai di kamar, gua tarik selimut untuk sekedar mengurangi hawa dingin, meringkuk diatas kasur sambil memperhatikan foto perempuan manis berhijab biru langit yang sedang tersenyum pada layar blackberry gua.
Ve... Maafin aku ya. Tapi aku beneran sayang dan cinta sama kamu, iya aku salah. Aku nyesel udah kayak gitu sama Mba Siska. Kamu masih mau kan ngewudujin mimpi kita ? Iya kan, Ve ?.
Lalu gua melirik kearah foto yang berukuran besar di sebrang kasur. Terpajang dengan bingkai yang indah. Gua menghela nafas sejenak, lalu kembali berucap dalam hati.
Cha... Aku salah, tapi Vera bakal maafin aku kan ya, Cha ? Iya kan, Cha ? Kayak kamu yang selalu memberi kesempatan ke aku...
Sial.... Ucap gua dalam hati ketika melihat kontak bbm dirinya sudah tidak ada lagi di blackberry gua.
Kemudian gua mengelus-ngelus pipi yang sedikit masih terasa peres karena tamparannya.
tuh perempuan satu kalo udah marah beneran bahaya ternyata.... Keluh gua lagi dalam hati.
Gua jadi inget waktu dia berantem ama Gladis di SMA dulu. Adu mulut doang sih, tapi emosinya itu loch... Ngeri Gais.
"Hey... Ngapain bengong ?".
Gua menengok kearah Ibu yang berdiri di depan pintu halaman belakang.
Gua hanya menggelengkan kepala, lalu membuang muka kearah lain. Tidak lama Ibu berlari kecil untuk menghindari rintikan hujan kearah gazebo ini.
"Ayo masuk, udah malem, Za..", ucapnya yang kini sudah berdiri di samping gua.
Gua hanya menundukan kepala, kemudian Ibu duduk disamping gua. Gua menengok kearahnya kali ini, dia tersenyum...
Ah ini nih...
Gua langsung menyandarkan kepala ke bahunya.
"Makanya jangan aneh-aneh... Kamu dikasih taunya susah sih...", ucap Ibu sambil mengusap kepala gua.
"Marah beneran dia...", ucap gua dengan suara parau.
"Ya kamunya juga kan.. Sakit gak digampar Vera ?", tanyanya.
"Enggak seberapa dibanding sakit hati aku, Mba...".
"Hahahaha...".
Loch ? Malah ketawa sih ?
Gua mundurkan tubuh lalu memperhatikan wajah Ibu yang masih tertawa itu.
"Kok ketawa sih ?!", tanya gua dengan nada kesel.
"Hahaha.. Abisnya kamu tuh lucu..".
"Apanya yang lucu ? Aku abis dibikin sakit hati sama Vera loch, Mbaaaa.... Ya ampun tega banget...", jawab gua sewot.
"Hihihihi... Syukur kalo kamu sakit hati..", jawabnya sambil tersenyum lebar. "Za... Harusnya kamu sadar, udah bikin sakit hati dia duluan.. Coba fikir deh, dia tau kalo lelaki yang dia sayangin ciuman sama perempuan lain.. Hayo, sakit hatian siapa sekarang ?".
"Yaiya sih, tapi kan Mba dia juga gak perlu ngomong kayak... Ah caur lah pokoknya tadi...", ucap gua mengingat kejadian dengan Nona Ukhti sebelumnya.
"Caur ? Apanya ? Emangnya kamu sakit hati karena dia ngomong apa sih ? Cerita dong ke Mba...".
Gua menghela nafas. Males sebenernya ngulang obrolan gua sama Nona Ukhti tadi ke Ibu. Tapi ya karena gua juga mikir gak ada temen curhat lagi, mau gak mau gua ceritain ke Ibu.
Ketika setelah makan malam bersama, gua mencoba mengajak Nona Ukhti ngobrol, tapi dia masih tetap bersikap dingin sama gua, jadi dengan sedikit pakasaan dari Gusmen yang menyarankan gua mengajaknya ngobrol di belakang, gua paksa lah sedikit sepupu perempuannya itu untuk mau ngobrol empat mata di gazebo.
Setelah berhasil mengajaknya ke gazebo, dia tetep cuek, gak tau deh dia dengerin apa enggak itu omongan yang keluar dari mulut gua, sampai akhirnya dia motong ucapan gua dengan sebuah pertanyaan yang membuat gua nyaris tertawa. (awalnya...).
"Kamu tuh pingin aku nerima cowok lain bukan ?", ucap Nona Ukhti serius.
Gua tersenyum, ah enggak enggak.. Lebih tepatnya gua menahan tawa.
"Ya enggaklah, Ve.. Tapi kan gak mungkin lah kamu juga bakal nerima cowok lain selain aku..", jawab gua penuh keyakinan dengan tetap menahan tawa.
Ya saat itu gua merasa jumawa, kalo Nona Ukhti gak mungkin nerima cowok lain selain gua. Somse mode on, Gais..

Tapi gua masih ingat wajahnya gak berubah, ekspresinya itu masih serius dan tatapan matanya kearah gua tajam.
"Za... Kamu pernah gak mikirin perasaan aku sekali aja... Hm ?", tanyanya pelan.
Mendadak gua terkejut. Selain karena ucapannya itu, gua terkejut karena dari kedua sudut matanya sudah ada butiran air yang siap membasahi wajahnya.
"Eh.. Kok kamu nangis ?", ucap gua bodoh.
"Za, kamu tuh maunya apa ? Kamu enak-enakan sama Siska, tanpa mikirin perasaan aku... Dengan entengnya kamu ngomong di depan Helen dan Mamahnya kalo kamu milih aku, mau nikahin aku... Tapi apa ? Apa ?! Kamu sekarang berani nyium Siska! Mantan kamu itu! Iyakan ?!".
"Iiya.. Iya aku salah, maaf, Ve... Maaf... Aku gak sengaja, spontan waktu itu, Ve... Aku nyesel beneran..".
"Gampang ya kamu bilang maaf ke aku ? Kamu tuh bukan ngeselin dan nyebelin lagi tau gak! Aku benci sama kamu!", sentaknya.
Gua sampai terhenyak mendengar kalimat terakhirnya. Enggak nyangka, ya gua bener-bener gak nyangka Nona Ukhti bakal ngomong kayak gitu. Benci sama gua ? Oh meeenn... Yang bener aja...
"Ve... Sabar dulu dong, maaf aku emang salah, kamu emosi aku tau, iya silahkan deh marah, tapi jangan ngomong gitu, Ve... Aku sayang beneran sama kamu..", ucap gua mencoba menenangkan, sambil memegang punggung tangan kanannya.
Tapi Nona Ukhti menepis tangan gua.
"Aku emang cinta sama kamu, sayang sama kamu... Tapi kalo kamu kayak gini terus, maaf ya Za... Aku gak bisa..", ucapnya sambil berdiri.
What the fvck ? Apa-apaan ini ? Gak mungkin ini Nona Ukhti, gak mungkin dia sampe kayak gini.
Nona Ukhti itu perempuan yang cinta dan sayang sama gua tanpa pamrih, iya kan ? Iya kan ? Iya lah. Ini dia.. Vera Tunggadewi. Sahabat SMA gua itu, temen perempuan yang dulu ngejar-ngejar gua.
"Aku gak perlu mikir ulang lagi, Za... Aku udah cukup sama kamu, nungguin apa yang aku harapin selama ini, bertahan dengan perasaan yang kamu gak pernah tau..".
"Ma.. Maksud kamu apa, Ve ?", tanya gua sambil menengadahkan kepala kearahnya.
"Apa kamu pernah mikir perasaan aku saat kamu ninggalin aku ke Jepang ? Terus pulang-pulang malah udah jadian sama Luna ? Abis itu apalagi ? Kamu deketin lagi Sherlin dan Helen... Dan terakhir.... Siska..", lanjutnya, kali ini dengan airmata yang sudah berderai.
Rasanya tuh gua pingin lari keluar gazebo, terus nyebur ke kolam renang di depan sana. Nyesek anjir denger omongannya. Dasar guoblok emang.... Fvck...!!!
"Aku perempuan biasa, Za... Sama kayak perempuan lainnya diluar sana, punya hati dan kesabaran..".
Gua hanya bisa menundukan kepala tanpa berani menatap wajahnya.
"Maaf Za... Kayaknya kamu gak perlu ngebuktiin apa-apa lagi ke aku.. Kita cukup sampai disini aja, Za...", lanjutnya dengan suara terisak.
"Ve Ve... Sebentar-sebentar, kita omongin masalah ini baik-baik ya sayang... Izinin aku ngomong dulu", gua pun bangun dari duduk dan mencoba meraih tangannya.
Tapi lagi-lagi dia menepis tangan gua dan memundurkan tubuhnya sambil menggelengkan kepala.
"Enggak ada yang perlu kamu jelasin lagi... Semuanya udah selesai bagi aku, Za..", jawabnya.
Gua bengong gak bisa ngomong apa-apa ketika dia bilang kayak gitu. Gak percaya... Dan lebih gak percaya lagi ketika ucapan terakhirnya benar-benar membuat gua diam untuk mencerna kalimat sialan yang dia lontarkan itu.
"Kamu harus tau, ada kalanya perempuan menyerah dan melihat lelaki lain yang ternyata lebih memperhatikan dia, lebih menghargainya dan selalu ada untuknya...".
Setelah itu Nona Ukhti pergi... Pulang bersama sepupunya. Dan meninggalkan gua dengan sejuta pertanyaan yang menggelantung di fikiran gua ini. Apa maksudnya coba ? Sebentar.. Maksudnya... Ada cowok lain gitu yang lagi deket sama dia ? Eh... Siapa orangnya ? Berani-beraninya deketin Nona kesayangan gua! Bajigur bener!
Gua bukan gak mau langsung mengejarnya, gua rasa percuma kalo dia udah ngomong gitu, jadi gua fikir ada baiknya dibiarin dulu dia pergi dengan perasaan marahnya itu, besok baru gua coba ngomong lagi. Tapi sial bagi gua, ketika baru setengah jam dia pergi, gua cek blackberry dan nyatanya kontak gua pun udah dihapus dari sana. Gua coba sms gak delivered, gua coba telpon gak aktif nomornya.
"Jadi Vera gak nerima lamaran kamu ?", tanya Ibu gua setelah gua selesai bercerita.
"Mba! Jangan ngomong gitu kenapa sih ? Jangan bikin aku takut gitu, Mba..", gua sedikit marah sama Ibu. "Emang Mba mau kejadian dulu keulang ?", tanya gua mengingat kejadian lalu, saat gua dan keluarga hendak melamar Nona Ukhti.
"Kamu yang berulah... Ya kamu tanggung akibatnya...", jawabnya enteng lalu pergi meninggalkan gua.
Gilaaaa... Gua gak percaya Ibu bakal ngomong kayak gitu. Ada apa sebenernya sih sama orang-orang itu ? Kok gak ada yang support gua! Biasanya gak kayak gini. Asli ini aneh banget buat gua.
Okey-okey.. Gua salah, iya salah udah nyium Mba Polcan tapi ya gak sampai gini juga atuh. Masa iya sampai gak jadi nikahin Nona Ukhti. Ah dunia macam apa ini...
Egois lu...
Yaiya egois, terus gua mesti gimana coba ? Kan udah nyeselin perbuatan gua, masa iya terus gua terima gitu aja keputusan Nona Ukhti ?.
Gua memilih masuk kedalam rumah ketika waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam, apalagi hujan masih seneng turun dan gak mau berhenti.
Sampai di kamar, gua tarik selimut untuk sekedar mengurangi hawa dingin, meringkuk diatas kasur sambil memperhatikan foto perempuan manis berhijab biru langit yang sedang tersenyum pada layar blackberry gua.
Ve... Maafin aku ya. Tapi aku beneran sayang dan cinta sama kamu, iya aku salah. Aku nyesel udah kayak gitu sama Mba Siska. Kamu masih mau kan ngewudujin mimpi kita ? Iya kan, Ve ?.
Lalu gua melirik kearah foto yang berukuran besar di sebrang kasur. Terpajang dengan bingkai yang indah. Gua menghela nafas sejenak, lalu kembali berucap dalam hati.
Cha... Aku salah, tapi Vera bakal maafin aku kan ya, Cha ? Iya kan, Cha ? Kayak kamu yang selalu memberi kesempatan ke aku...
***
Keesokan siang...
"Yaa kamu telat, Za.. Vera udah berangkat lagi ke Singapore tadi pagi, dianter Kakaknya...", ucap sang Ibunda.
"Oh.. Sekarang berarti udah sampe kali ya, tan...?", tanya gua.
"Udah daritadi... Dia udah ngabarin tante di telpon.. Emangnya kamu gak dikabarin ? Bukannya kemarin dia ke rumah kamu sama Agus ?".
"Mmm... Dia enggak ngomong kalo hari ini berangkat, tan... Saya fikir masih lama disini..".
"Kalian...".
"Bertengkar ya ?".
Gua tersenyum kecut, gak enak rasanya kalo sang Ibunda sampai mengetahui permasalahan gua dengan anaknya itu.
"Coba bicarakan baik-baik sama Vera, walaupun tante gak tau apa masalah kalian, tapi kayaknya cuma salah paham aja.. Komunikasi nya harus dijaga, Za... Apalagi kalian kan terpisah kayak gini..", ucap sang Ibunda sambil tersenyum.
Gua makin gak enak sama Nona Ukhti karena ucapan Ibundanya itu. Ini bukan salah paham, tapi memang gua yang salah.
"Iya, tante.. Nanti saya coba hubungi Veranya, terimakasih, tan. Saya pamit dulu kalo gitu..".
...
Sepulang dari rumah Nona Ukhti, gua pun memilih nongkrong di salah satu warung, gua parkirkan si RR di sisi jalan. Sambil duduk di bangku kayu, gua menikmati teh dingin serta sebatang rokok lights.
Jelaslah fikiran gua saat ini tertuju ke Nona Ukhti seorang. Tapi yang lebih gua fikirkan adalah bagaimana gua mendapatkan kata maaf dari dia. Kalo soal nyusulin ke Singapore sih bisa aja langsung berangkat besok, tapi kalo cuma buat dicuekin buat apa juga. Nona Ukhti itu gak pernah marah sampai ngehapus kontak bbm ataupun ngeblokir nomor handphone gua kayak sekarang. Beda perkara waktu dulu dia 'menghilang'saat mau gua lamar.
Masih mikirin gimana enaknya minta maaf ke Nona Ukhti, tiba-tiba sebuah notifikasi chatt bbm masuk, gua buka chatt tersebut dan ternyata dari si Gusmen. Ah bener, gua lupa... Kan ada dia sepupunya. Siapa tau bisa bantuin gua. Gua balas chattnya, yang sebelumnya hanya menanyakan gua udah tau apa belum kalau Nona Ukhti udah pergi ke Singapore.
Singkatnya gua meminta ketemuan sama sahabat SMA gua itu. Walaupun gak bisa siang itu juga sih, karena Gusmen ada keperluan soal kerjaan saat ini. Jadi mau gak mau, gua setuju ketemuan malam nanti.
Gua lirik jam tangan, ternyata baru pukul satu siang. Karena gua bingung ini hari mau kemana dan ngapain lagi, gua akhirnya memilih untuk berkendara enggak jelas muterin ini kota yang enggak besar. Setelah membayar minuman, gua pun cabut bersama si RR.
Gua arahkan motor ke pusat kota, gua ikuti jalan raya satu arah ini, enggak jelas sebenarnya mau kemana, karena di otak gua masih kepikiran Nona Ukhti. Sampai gua enggak sadar kalo ternyata gua sudah berada di jalanan arah ke rumah seorang mantan kekasih. Gua hentikan motor di dekat gerbang perumahan itu. Lalu mengeluarkan blackberry dan mengetik sebuah sms kepada salah satu kontak disana.
Sebenarnya gua iseng karena gabut, dan komplek perumahan di depan gua ini jelas mengingatkan gua kepada seorang perempuan yang pernah mengukir indah sebuah kenangan untuk kami berdua.
Gua gak yakin juga sih dia ada di rumahnya, toh yang gua tau dia berada di kota kembang. Cukup lama gua menunggu balasannya, dan kayaknya dia memang gak ada di rumah atau lagi sibuk mungkin...
Gua memilih untuk balik kanan, alias pulang ke rumah, apalagi gerimis mengundang, udah jatuh tuh butiran air dari atas langit.
Tapi baru saja gua menyalakan mesin motor, blackberry gua berdering tanda panggilan masuk. Gua keluarkan lagi itu blackberry dan melihat sebuah nama perempuan di layar dalam mode panggilan.
Beres telponan, gua pun bergegas mengendarai si RR masuk ke komplek perumahan di depan. Karena letak rumahnya agak ujung, dan gak mungkin juga gua kebut-kebutan di sini. Masih inget dulu kena tegur satpam gara-gara bawa si Bandot yang berisik. Sekarang hampir sama, dua tak kan nih si RR. Gara-gara itu juga gua sampai di depan rumahnya dengan cukup basah karena hujan yang sudah turun semakin deras.
Sesampainya di depan pagar rumah, seorang perempuan kurus putih dan manis sudah menunggu di depan teras. Begitu dia melihat gua, itu perempuan tipe kutilang darat langsung berlari menghampiri sambil mengenakan payung.
"Ayo-ayo cepetan masuk.. Duh keujanan kan tuh...", ajaknya setelah membuka pagar rumah.
Gua parkirkan si RR di dekat mobil honda juzz miliknya. Lalu berlari kecil ke teras.
"Ih udah basah semua gitu, A.. Udah masuk aja yuk, ganti baju dulu gih...", ucapnya sambil menutup payung.
"Hehehe.. Kamu tuh gak berubah... Udah duduk disini aja, basah nih baju..", ucap gua seraya menyeuka butiran air di kening.
"Iih dibilangin, nanti sakit loch.. Yuk masuk".
Kali ini dia menarik tangan gua masuk ke dalam rumahnya.
"Bentar ya, A... Aku cariin dulu baju si Kakak, siapa tau masih ada yang disimpen disini".
Gua duduk di salah satu sofa, sedangkan Wulan mencari pakaian ganti untuk gua di kamar bekas Kakaknya.
Sambil menunggu, gua buka jaket yang memang cukup lepek karena kehujanan tadi. Enggak lama Wulan kembali ke ruang tamu dengan wajah kecewa.
"A.. Enggak ada baju bekas si Kakak.. Gimana atuh ya ?".
"Udah gak apa-apa sih, ini baju gak gitu basah kok, santai aja, Neng...", jawab gua sambil tersenyum.
"Oh iya, Aa mau teh apa kopi ?", tawarnya.
"Mmm... Kopi aja, Neng...", jawab gua. "Eh iya, kalo ada sih kopi item, hehehe...", udah namu, nawar pula lagi gua.
"Yaa kayaknya enggak ada deh, si Papah kopinya kopi susu gitu, cappuccino sachet-an.. Gimana ?".
"Yaudah enggak apa-apa, Neng... Maaf ya, hehehe...".
"Okey, tunggu bentar ya...".
Gua menyapukan pandangan ke ruang tamu ini. Enggak banyak yang berubah ternyata. Hampir sama seperti saat gua masih sering ke sini waktu masih smp. Cuma mungkin ada beberapa pajangan baru dan juga sebuah bingkai foto. Disitu, terpampang sebuah foto seorang perempuan yang diapit oleh kedua orangtuanya. Gua berdiri lalu berjalan ke salah satu dinding, dimana foto itu terpajang.
Makin manis aja kamu, Neng. Congrats untuk wisudanya... ucap gua dalam hati sambil tersenyum melihat foto tersebut.
"A.. Ini kopinya".
"Eh udah jadi toh..", gua menengok ke belakang.
"Lagi liatin apa, A ?", Wulan berjalan mendekati gua yang masih berdiri di dekat bingkai foto.
"Kamu udah lulus ternyata.. Selamat ya..", ucap gua yang kembali melihat foto wisudanya itu.
"Iya, baru tahun ini kok lulusnya... Pinter kan aku ? Pas empat tahun loch.. Hihihi....", jawabnya sambil terkekeh.
"Iya-iya pinter banget deh.. Ngomong-ngomong kok sepi banget ini rumah, Neng ?", tanya gua yang kali ini melirik ke setiap sudut ruangan.
"Mamah sama Papah ke Bandung, ada acara temennya Papah gitu.. Baru tadi pagi berangkatnya.. Aku diajak tapi males ah.. Lagian ada janji mau ketemu temen nanti sore...", jawabnya.
"Ooh...".
Lalu gua mengikuti Wulan yang duduk di sofa ruang tamu, kami duduk bersebelahan tapi ada cukup jarak kok diantara kami.
"Neng, diminum ya...", ucap gua sambil mengambil cangkir kopi.
"Iya diminum atuh.. Maaf loch gak ada suguhan apa-apa, eh tapi sebentar... Kayaknya ada kue kering deh.. Bentar ya...", jawab Wulan sambil bangun dan hendak bergegas ke ruangan lainnya.
"Neng...", panggil gua.
"Ya ?", Wulan berhenti berjalan dan kembali menengok kebelakang.
"Enggak usah repot-repot... Keluarin aja yang ada...", jawab gua sambil nyengir.
"Hahahahah... Dasar ih...".
....
Kami berdua siang itu banyak mengobrol tentang perkuliahannya, tentang gua yang mulai bekerja di restoran dan banyak hal lainnya. Beberapa topik udah pasti ngomongin masa lalu, saat dulu di SMP sampai dia nanyain kabar Olla. Lalu tentang kisah asmaranya yang masih langgeng sampai sekarang.
Wulan juga sempat menanyakan kabar Luna tentang kesehatannya. Dan karena yang gua tau Luna baik-baik aja sampai saat itu, jadi ya gua berharap penyakit yang di deritanya juga sudah hilang. Tapi entahlah...
"Terus, kamu sama dia gimana sekarang ?", tanyanya.
"Males sih sebenernya ngomongin itu perempuan satu...", ucap gua lalu menyeruput kopi yang hampir habis.
"Kenapa ? Putus ? Katanya mau nikahin dia...", tanya Wulan lagi.
"Hahaha.. Enggak jadi, Neng... Gagal.. Jadi ampas lah kayak kopi ini", jawab gua sambil menyodorkan cangkir yang hanya menyisakan ampas kopi disana.
"Kok bisa ? Ada apa gitu ?".
Gua menghela nafas, ya mau enggak mau gua ceritain ke Wulan tentang Luna...
"Ya ampun. Seriusan kamu ditinggal nikah gitu aja ? Kok dia bisa tega gitu sih, A ?", tanyanya enggak percaya dengan apa yang sudah gua ceritakan.
"Ya gak taulah... Demi kebahagiaan aku katanya... Bullshiitt lah...".
"Ya ampun... Sabar ya, A...".
Wulan mengusap-usap pundak gua. Gua hanya tersenyum kecut sambil menggelengkan kepala.
"Terus sekarang kamu pacaran sama siapa ?", tanyanya lagi sambil bertopang dagu.
Lucu waktu liat ekspresinya itu. Gemes sebenernya gua... Hehehe...
"Pacaran ? Enggak ada, Neng... Kalo deket sih ada. Vera namanya... Temen SMA aku dulu..", jawab gua. "Tapi ya gitulah... Kita berdua lagi ada problem... Tapi aku serius sama dia... Kali ini aku bener-bener enggak akan kecolongan lagi, Neng...".
"Maksudnya kecolongan ?".
"Hmmm... Mmm... Ya aku mau nikahin dia dalam waktu dekat, Neng... Dan aku berusaha untuk enggak ngelepasin kesempatan ini... Aku enggak mau di nanti-nanti lagi, walaupun sekarang kami berdua lagi ada masalah...", jawab gua sambil merebahkan punggung ke bahu sofa.
Wulan merapatkan duduknya mendekati gua.
"A... Aku yakin kamu pasti bahagia sama pilihan kamu.. Yang penting kamu berusaha berikan yang terbaik untuk Vera...", ucapnya meyakinkan gua.
Gua tersenyum dan mengangguk. "Makasih, Neng...".
Tapi...
Ini maksudnya apa ya ? Tangannya ngelus-ngelus dada gua, kepalanya bersandar pula ke lengan kanan.
Kami sama-sama terdiam, gua hanya menatap ke meja ruang tamu.
Hujan masih terus mengguyur di luar sana. Membuat hawa dingin semakin terasa di kulit. Apalagi ini baju gua cukup basah walaupun gak sampai lepek.
Gua hendak membakar sebatang rokok untuk kesekian kalinya, tapi tangan lentik itu menahan tangan kanan gua yang memegang korek gas.
"A...".
"Hm ?", gua menengok kebawah sedikit. Karena kepalanya masih bersandar di lengan.
"Kangen..", jawabnya lirih sambil mendekatkan wajah.
"Yaa kamu telat, Za.. Vera udah berangkat lagi ke Singapore tadi pagi, dianter Kakaknya...", ucap sang Ibunda.
"Oh.. Sekarang berarti udah sampe kali ya, tan...?", tanya gua.
"Udah daritadi... Dia udah ngabarin tante di telpon.. Emangnya kamu gak dikabarin ? Bukannya kemarin dia ke rumah kamu sama Agus ?".
"Mmm... Dia enggak ngomong kalo hari ini berangkat, tan... Saya fikir masih lama disini..".
"Kalian...".
"Bertengkar ya ?".
Gua tersenyum kecut, gak enak rasanya kalo sang Ibunda sampai mengetahui permasalahan gua dengan anaknya itu.
"Coba bicarakan baik-baik sama Vera, walaupun tante gak tau apa masalah kalian, tapi kayaknya cuma salah paham aja.. Komunikasi nya harus dijaga, Za... Apalagi kalian kan terpisah kayak gini..", ucap sang Ibunda sambil tersenyum.
Gua makin gak enak sama Nona Ukhti karena ucapan Ibundanya itu. Ini bukan salah paham, tapi memang gua yang salah.
"Iya, tante.. Nanti saya coba hubungi Veranya, terimakasih, tan. Saya pamit dulu kalo gitu..".
...
Sepulang dari rumah Nona Ukhti, gua pun memilih nongkrong di salah satu warung, gua parkirkan si RR di sisi jalan. Sambil duduk di bangku kayu, gua menikmati teh dingin serta sebatang rokok lights.
Jelaslah fikiran gua saat ini tertuju ke Nona Ukhti seorang. Tapi yang lebih gua fikirkan adalah bagaimana gua mendapatkan kata maaf dari dia. Kalo soal nyusulin ke Singapore sih bisa aja langsung berangkat besok, tapi kalo cuma buat dicuekin buat apa juga. Nona Ukhti itu gak pernah marah sampai ngehapus kontak bbm ataupun ngeblokir nomor handphone gua kayak sekarang. Beda perkara waktu dulu dia 'menghilang'saat mau gua lamar.
Masih mikirin gimana enaknya minta maaf ke Nona Ukhti, tiba-tiba sebuah notifikasi chatt bbm masuk, gua buka chatt tersebut dan ternyata dari si Gusmen. Ah bener, gua lupa... Kan ada dia sepupunya. Siapa tau bisa bantuin gua. Gua balas chattnya, yang sebelumnya hanya menanyakan gua udah tau apa belum kalau Nona Ukhti udah pergi ke Singapore.
Singkatnya gua meminta ketemuan sama sahabat SMA gua itu. Walaupun gak bisa siang itu juga sih, karena Gusmen ada keperluan soal kerjaan saat ini. Jadi mau gak mau, gua setuju ketemuan malam nanti.
Gua lirik jam tangan, ternyata baru pukul satu siang. Karena gua bingung ini hari mau kemana dan ngapain lagi, gua akhirnya memilih untuk berkendara enggak jelas muterin ini kota yang enggak besar. Setelah membayar minuman, gua pun cabut bersama si RR.
Gua arahkan motor ke pusat kota, gua ikuti jalan raya satu arah ini, enggak jelas sebenarnya mau kemana, karena di otak gua masih kepikiran Nona Ukhti. Sampai gua enggak sadar kalo ternyata gua sudah berada di jalanan arah ke rumah seorang mantan kekasih. Gua hentikan motor di dekat gerbang perumahan itu. Lalu mengeluarkan blackberry dan mengetik sebuah sms kepada salah satu kontak disana.
Sebenarnya gua iseng karena gabut, dan komplek perumahan di depan gua ini jelas mengingatkan gua kepada seorang perempuan yang pernah mengukir indah sebuah kenangan untuk kami berdua.
Gua gak yakin juga sih dia ada di rumahnya, toh yang gua tau dia berada di kota kembang. Cukup lama gua menunggu balasannya, dan kayaknya dia memang gak ada di rumah atau lagi sibuk mungkin...
Gua memilih untuk balik kanan, alias pulang ke rumah, apalagi gerimis mengundang, udah jatuh tuh butiran air dari atas langit.
Tapi baru saja gua menyalakan mesin motor, blackberry gua berdering tanda panggilan masuk. Gua keluarkan lagi itu blackberry dan melihat sebuah nama perempuan di layar dalam mode panggilan.
Quote:
Beres telponan, gua pun bergegas mengendarai si RR masuk ke komplek perumahan di depan. Karena letak rumahnya agak ujung, dan gak mungkin juga gua kebut-kebutan di sini. Masih inget dulu kena tegur satpam gara-gara bawa si Bandot yang berisik. Sekarang hampir sama, dua tak kan nih si RR. Gara-gara itu juga gua sampai di depan rumahnya dengan cukup basah karena hujan yang sudah turun semakin deras.
Sesampainya di depan pagar rumah, seorang perempuan kurus putih dan manis sudah menunggu di depan teras. Begitu dia melihat gua, itu perempuan tipe kutilang darat langsung berlari menghampiri sambil mengenakan payung.
"Ayo-ayo cepetan masuk.. Duh keujanan kan tuh...", ajaknya setelah membuka pagar rumah.
Gua parkirkan si RR di dekat mobil honda juzz miliknya. Lalu berlari kecil ke teras.
"Ih udah basah semua gitu, A.. Udah masuk aja yuk, ganti baju dulu gih...", ucapnya sambil menutup payung.
"Hehehe.. Kamu tuh gak berubah... Udah duduk disini aja, basah nih baju..", ucap gua seraya menyeuka butiran air di kening.
"Iih dibilangin, nanti sakit loch.. Yuk masuk".
Kali ini dia menarik tangan gua masuk ke dalam rumahnya.
"Bentar ya, A... Aku cariin dulu baju si Kakak, siapa tau masih ada yang disimpen disini".
Gua duduk di salah satu sofa, sedangkan Wulan mencari pakaian ganti untuk gua di kamar bekas Kakaknya.
Sambil menunggu, gua buka jaket yang memang cukup lepek karena kehujanan tadi. Enggak lama Wulan kembali ke ruang tamu dengan wajah kecewa.
"A.. Enggak ada baju bekas si Kakak.. Gimana atuh ya ?".
"Udah gak apa-apa sih, ini baju gak gitu basah kok, santai aja, Neng...", jawab gua sambil tersenyum.
"Oh iya, Aa mau teh apa kopi ?", tawarnya.
"Mmm... Kopi aja, Neng...", jawab gua. "Eh iya, kalo ada sih kopi item, hehehe...", udah namu, nawar pula lagi gua.
"Yaa kayaknya enggak ada deh, si Papah kopinya kopi susu gitu, cappuccino sachet-an.. Gimana ?".
"Yaudah enggak apa-apa, Neng... Maaf ya, hehehe...".
"Okey, tunggu bentar ya...".
Gua menyapukan pandangan ke ruang tamu ini. Enggak banyak yang berubah ternyata. Hampir sama seperti saat gua masih sering ke sini waktu masih smp. Cuma mungkin ada beberapa pajangan baru dan juga sebuah bingkai foto. Disitu, terpampang sebuah foto seorang perempuan yang diapit oleh kedua orangtuanya. Gua berdiri lalu berjalan ke salah satu dinding, dimana foto itu terpajang.
Makin manis aja kamu, Neng. Congrats untuk wisudanya... ucap gua dalam hati sambil tersenyum melihat foto tersebut.
"A.. Ini kopinya".
"Eh udah jadi toh..", gua menengok ke belakang.
"Lagi liatin apa, A ?", Wulan berjalan mendekati gua yang masih berdiri di dekat bingkai foto.
"Kamu udah lulus ternyata.. Selamat ya..", ucap gua yang kembali melihat foto wisudanya itu.
"Iya, baru tahun ini kok lulusnya... Pinter kan aku ? Pas empat tahun loch.. Hihihi....", jawabnya sambil terkekeh.
"Iya-iya pinter banget deh.. Ngomong-ngomong kok sepi banget ini rumah, Neng ?", tanya gua yang kali ini melirik ke setiap sudut ruangan.
"Mamah sama Papah ke Bandung, ada acara temennya Papah gitu.. Baru tadi pagi berangkatnya.. Aku diajak tapi males ah.. Lagian ada janji mau ketemu temen nanti sore...", jawabnya.
"Ooh...".
Lalu gua mengikuti Wulan yang duduk di sofa ruang tamu, kami duduk bersebelahan tapi ada cukup jarak kok diantara kami.
"Neng, diminum ya...", ucap gua sambil mengambil cangkir kopi.
"Iya diminum atuh.. Maaf loch gak ada suguhan apa-apa, eh tapi sebentar... Kayaknya ada kue kering deh.. Bentar ya...", jawab Wulan sambil bangun dan hendak bergegas ke ruangan lainnya.
"Neng...", panggil gua.
"Ya ?", Wulan berhenti berjalan dan kembali menengok kebelakang.
"Enggak usah repot-repot... Keluarin aja yang ada...", jawab gua sambil nyengir.
"Hahahahah... Dasar ih...".
....
Kami berdua siang itu banyak mengobrol tentang perkuliahannya, tentang gua yang mulai bekerja di restoran dan banyak hal lainnya. Beberapa topik udah pasti ngomongin masa lalu, saat dulu di SMP sampai dia nanyain kabar Olla. Lalu tentang kisah asmaranya yang masih langgeng sampai sekarang.
Wulan juga sempat menanyakan kabar Luna tentang kesehatannya. Dan karena yang gua tau Luna baik-baik aja sampai saat itu, jadi ya gua berharap penyakit yang di deritanya juga sudah hilang. Tapi entahlah...
"Terus, kamu sama dia gimana sekarang ?", tanyanya.
"Males sih sebenernya ngomongin itu perempuan satu...", ucap gua lalu menyeruput kopi yang hampir habis.
"Kenapa ? Putus ? Katanya mau nikahin dia...", tanya Wulan lagi.
"Hahaha.. Enggak jadi, Neng... Gagal.. Jadi ampas lah kayak kopi ini", jawab gua sambil menyodorkan cangkir yang hanya menyisakan ampas kopi disana.
"Kok bisa ? Ada apa gitu ?".
Gua menghela nafas, ya mau enggak mau gua ceritain ke Wulan tentang Luna...
"Ya ampun. Seriusan kamu ditinggal nikah gitu aja ? Kok dia bisa tega gitu sih, A ?", tanyanya enggak percaya dengan apa yang sudah gua ceritakan.
"Ya gak taulah... Demi kebahagiaan aku katanya... Bullshiitt lah...".
"Ya ampun... Sabar ya, A...".
Wulan mengusap-usap pundak gua. Gua hanya tersenyum kecut sambil menggelengkan kepala.
"Terus sekarang kamu pacaran sama siapa ?", tanyanya lagi sambil bertopang dagu.
Lucu waktu liat ekspresinya itu. Gemes sebenernya gua... Hehehe...
"Pacaran ? Enggak ada, Neng... Kalo deket sih ada. Vera namanya... Temen SMA aku dulu..", jawab gua. "Tapi ya gitulah... Kita berdua lagi ada problem... Tapi aku serius sama dia... Kali ini aku bener-bener enggak akan kecolongan lagi, Neng...".
"Maksudnya kecolongan ?".
"Hmmm... Mmm... Ya aku mau nikahin dia dalam waktu dekat, Neng... Dan aku berusaha untuk enggak ngelepasin kesempatan ini... Aku enggak mau di nanti-nanti lagi, walaupun sekarang kami berdua lagi ada masalah...", jawab gua sambil merebahkan punggung ke bahu sofa.
Wulan merapatkan duduknya mendekati gua.
"A... Aku yakin kamu pasti bahagia sama pilihan kamu.. Yang penting kamu berusaha berikan yang terbaik untuk Vera...", ucapnya meyakinkan gua.
Gua tersenyum dan mengangguk. "Makasih, Neng...".
Tapi...
Ini maksudnya apa ya ? Tangannya ngelus-ngelus dada gua, kepalanya bersandar pula ke lengan kanan.
Kami sama-sama terdiam, gua hanya menatap ke meja ruang tamu.
Hujan masih terus mengguyur di luar sana. Membuat hawa dingin semakin terasa di kulit. Apalagi ini baju gua cukup basah walaupun gak sampai lepek.
Gua hendak membakar sebatang rokok untuk kesekian kalinya, tapi tangan lentik itu menahan tangan kanan gua yang memegang korek gas.
"A...".
"Hm ?", gua menengok kebawah sedikit. Karena kepalanya masih bersandar di lengan.
"Kangen..", jawabnya lirih sambil mendekatkan wajah.
oktavp dan fatqurr memberi reputasi
2


