- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#3256
Sebelum Cahaya
PART X
"Masa sih, Za ? Mba gak pernah ngalamin hal kayak gitu selama nginep di sini..", ucap Ibu yang sudah duduk di samping gua.
"Ya sama, Mba.. Aku juga gak pernah, dan ini baru pertama kalinya...", jawab gua yang memang baru pertama kali mengalami hal aneh selama menempati rumah ini.
"Yaudah gak usah terlalu dipikirin, mungkin itu cuma lamunan kamu aja, insya Allah enggak ada apa-apa, Za.. Toh selama ini kita semua baik-baik aja kan ? Bibi juga enggak pernah cerita hal aneh selama kerja disini...".
"Iya, Mba... Mudah-mudahan..".
"Oh ya Mba, mau kemana tadi ?", tanya gua sambil mengambil gelas cangkir berisi kopi yang isinya sudah hampir habis.
"Mba tadinya mau ke dapur ambil minum, liat pintu belakang kok kebuka, dikirain Bibi yang lupa ngunci, taunya malah ada kamu lagi duduk disini", jawab Ibu dari samping, dimana kami masih berada di dalam gazebo halaman belakang.
Sebelumnya gua meminta Ibu untuk membawakan kitab suci Al-Qur'an setelah mendengar suara derap langkah kaki tak berwujud, dan ketika Ibu sudah membawakan Al-Qur'an, beliau pula lah yang kemudian membaca beberapa ayat di dalam kitab tersebut. Barulah setelah itu gua menceritakan kejadian sebenarnya, seperti percakapan diatas.
"Yaudah sekarang udah larut, masuk lagi yu Za, nanti masuk angin kamu kelamaan disini, belum sembuh bener juga..", ajak Ibu seraya berdiri dan memeluk kitab suci.
Gua mengangguk lalu mengambil bekas cangkir kopi untuk kemudian mengikutinya berjalan kembali kedalam rumah.
Sesaat sebelum pintu gua tutup dari arah dalam rumah, gua kembali menyapukan pandangan keseluruh penjuru halaman belakang di hadapan gua itu, dan kedua bola mata ini berhenti tepat kearah sebrang kolam, dimana rumah kedua orang yang tersayang telah berpulang meninggalkan gua terlebih dahulu.
'Selamat malam Cha...'.
'Selamat malam Jingga...'. Ucap gua dalam hati.
"Za... Ayo ah. Jangan berdiri disitu terus..".
"Iya, Mba...".
Gua pun menutup pintu lalu menguncinya, sebelum kembali keatas.
"Ya sama, Mba.. Aku juga gak pernah, dan ini baru pertama kalinya...", jawab gua yang memang baru pertama kali mengalami hal aneh selama menempati rumah ini.
"Yaudah gak usah terlalu dipikirin, mungkin itu cuma lamunan kamu aja, insya Allah enggak ada apa-apa, Za.. Toh selama ini kita semua baik-baik aja kan ? Bibi juga enggak pernah cerita hal aneh selama kerja disini...".
"Iya, Mba... Mudah-mudahan..".
"Oh ya Mba, mau kemana tadi ?", tanya gua sambil mengambil gelas cangkir berisi kopi yang isinya sudah hampir habis.
"Mba tadinya mau ke dapur ambil minum, liat pintu belakang kok kebuka, dikirain Bibi yang lupa ngunci, taunya malah ada kamu lagi duduk disini", jawab Ibu dari samping, dimana kami masih berada di dalam gazebo halaman belakang.
Sebelumnya gua meminta Ibu untuk membawakan kitab suci Al-Qur'an setelah mendengar suara derap langkah kaki tak berwujud, dan ketika Ibu sudah membawakan Al-Qur'an, beliau pula lah yang kemudian membaca beberapa ayat di dalam kitab tersebut. Barulah setelah itu gua menceritakan kejadian sebenarnya, seperti percakapan diatas.
"Yaudah sekarang udah larut, masuk lagi yu Za, nanti masuk angin kamu kelamaan disini, belum sembuh bener juga..", ajak Ibu seraya berdiri dan memeluk kitab suci.
Gua mengangguk lalu mengambil bekas cangkir kopi untuk kemudian mengikutinya berjalan kembali kedalam rumah.
Sesaat sebelum pintu gua tutup dari arah dalam rumah, gua kembali menyapukan pandangan keseluruh penjuru halaman belakang di hadapan gua itu, dan kedua bola mata ini berhenti tepat kearah sebrang kolam, dimana rumah kedua orang yang tersayang telah berpulang meninggalkan gua terlebih dahulu.
'Selamat malam Cha...'.
'Selamat malam Jingga...'. Ucap gua dalam hati.
"Za... Ayo ah. Jangan berdiri disitu terus..".
"Iya, Mba...".
Gua pun menutup pintu lalu menguncinya, sebelum kembali keatas.
°°°
Di suatu siang yang mendung, sebelum langit menurunkan lagi air untuk membasahi isi dunia yang berada dibawah sini.
Gua sedang berjalan di salah satu pusat perbelanjaan di Ibu kota. Mengitari bagian mall lantai dua sambil sesekali berhenti ketika melihat sebuah butik yang memajang barang-barang kaum hawa pada etalase depan gerai tersebut.
"Eh yang itu bagus kayaknya", ucap gua setelah berhenti di depan sebuah butik.
"Yaudah masuk dulu aja..", jawab wanita yang memang sedang menemani gua hari ini.
Kami berdua memasuki butik tersebut, yang langsung disambut oleh pramuniaga butik.
"Mba, yang ini bahannya ada yang lebih halus lagi gak ?", tanya wanita yang menemani gua kepada pramuniaga.
"Ada, Mba.. Sebentar ya saya ambilkan dulu", jawab pramuniaga, lalu dia berjalan ke bagian lainnya.
"Za, yang ini bagus juga nih... Liat dulu deh..", wanita itu memperlihatkan pakaian lain yang ia ambil dari rak disebelahnya.
"Iya ya.. Mmm.. Tapi warnanya kurang bagus kayaknya...", jawab gua setelah menerima pakaian tersebut dan memperhatikannya.
"Dia suka warna biru muda ya ?".
Gua mengangguk dan tersenyum.
"Yang tadi itu cocok warnanya, modelnya juga bagus, tapi bahannya kurang bagus, Za..", ucapnya lagi.
Tidak lama kemudian, pramuniaga sebelumnya kembali menghampiri kami dengan sebuah pakaian yang baru dengan bahan yang lebih bagus, menurut gua.
"Nah ini oke nih... Cocok deh warna sama bahannya...", ucap gua setelah melihat pramuniaga tersebut memberikan pakaian kepada wanita yang sedang menemani gua itu.
"Yakin, Za ?", tanyanya.
"Ukurannya kamu yakin gak segini ?".
"Waduh.. Iya ya.. Sebentar-sebentar, coba aku liat dulu sini..", ucap gua langsung mengambil pakaian yang ia pegang.
Gua perhatikan pakaian muslimah yang berwarna biru muda, dengan bahan yang sangat lembut.
"Kayaknya sih kebesaran sedikit..", ucap gua pada akhirnya.
"Yaudah kalo yakin cuma sedikit kebesaran, ambil aja yang ini, kan bisa dikecilin nanti.. Daripada kekecilan".
"Iya ya.. Yaudah lah ini aja..", jawab gua sambil menyerahkan lagi pakaian tersebut kepada wanita itu.
"Mba, saya ambil yang ini ya...", ucap wanita itu kepada pramuniaga.
"Oke, Mba.. Saya ambilkan yang di gudang dulu, karena yang ini untuk display...", jawab pramuniaga, lalu kembali ke gudang butik di belakang sana.
Gua menunggu di kasir. Sedangkan wanita sebelumnya masih melihat-lihat pakaian muslim yang terpajang di dalam butik ini. Gua perhatikan wanita itu yang masih melihat-lihat pakian yang sedang ia pegang.
"Kalo suka beli aja...", celetuk gua dari depan kasir.
"Enggak, cuma liat-liat aja kok...", jawabnya setelah tersenyum kepada gua.
Lalu dia menaruh kembali pakaian itu dan menggantungnya. Kemudian berjalan ke kasir.
"Za.. Dari sini mau langsung ke resto itu ? Udah datang belum dia ?", tanyanya setelah berdiri disamping gua.
"Mmm.. Sebentar, aku bbm dulu, kayaknya masih dijalan deh...", jawab gua seraya mengeluarkan blackberry dari saku celana.
"Bilang aja ke dia, kita nunggu di resto lantai empat, sekalian kalo mau dipesenin makanan buat mereka berdua...", ucap wanita itu lagi.
"Iya iya..", jawab gua sambil mulai mengetik chatt bbm kepada seseorang.
"Jadi berapa Mba ?", tanya wanita itu kepada kasir, setelah pramuniaga sebelumnya datang dengan membawakan pakaian yang telah gua pilih sebelumnya.
"Sekian rupiah, Mba.. Ini notanya", jawab si kasir dan menyodorkan sebuah nota belanja kepada wanita disamping gua.
Setelah beres mengetik chatt bbm dan delivered. Gua mengambil dompet dari saku celana belakang. "Biar aku aja yang bayar...", ucap gua.
"Udah gak apa-apa, uang kamu kan di tabungan masih utuh, pake aja yang di situ, lagian urusan inikan buat kepentingan masa depan kamu, Za..", jawabnya.
Kemudian ia mengeluarkan dompet dari tas mininya, dan mengambil sebuah kartu debit.
"Jangan deh. Itu uang buat nanti, buat hari spesial aja... Hehehe...", sela gua sebelum dirinya memberikan kartu debit tersebut kepada si kasir.
"Beneran ? Kamu ada gak ? Belum kerja juga kamu", timpalnya.
"Ada kok... Lah ini tiap bulan kan aku dapet bunganya dari hasil usaha itu.. Gimana sih..".
"Ya bukan gitu, takutnya kamu ada sekarang, besok-besok gak pegang uang lagi...".
"Ck.. Beneran cukup kok, tenang aja udah...", jawab gua lalu mengambil beberapa lembar rupiah dan menyerahkannya kepada si kasir. "Cash aja, Mba... Ini uangnya..", lanjut gua.
"Makasih, Mas, Mba.. Silahkan ini barangnya... Silahkan mampir lagi ke toko kami...", ucap si kasir setelah memberikan barang belanjaan kepada gua.
"Iya sama-sama, makasih juga Mba..", jawab wanita disamping gua.
Singkat cerita akhirnya gua dan wanita itu sudah kembali keluar toko butik dan hendak menuju lantai empat.
Kami berdua jalan berdampingan, sambil tetap melihat-lihat jejeran toko yang ada di dalam mall ini. Ketika kami menaiki escalator, tangan kanan gua sedikit ditarik, dan langsung saja tangan kiri wanita yang menemani gua itu mengapitnya.
"Za.. Kamu udah beneran serius mikiran hal ini dengan matang ?", tanyanya.
Gua tersenyum lalu menengok kepadanya yang berada di sisi kanan. "Iya, aku yakin sama pilihan hati aku kok.. Ada apa emangnya ?", tanya gua balik.
"Enggak apa-apa, cuma aku mikir kamu itu gak terlalu cepet apa mau nikah lagi ?".
"Kan soal ini udah dibahas kemaren... Masa harus diulang-ulang lagi ?", jawab gua dengan nada suara yang pelan.
Dia tersenyum, lalu mempererat kaitan tangan kami. "Iya iya... Bukan aku gak percaya sama kamu, Za.. Cuma mastiin lagi aja..", jawabnya.
Sampai di lantai tiga, kami berjalan lagi melewati beberapa toko untuk menuju escalator ke lantai empat. Tepat sebelum escalator menuju lantai empat, di depan sana ada sebuah toko perhiasan.
"Za... Mampir kesitu dulu yu..", ajaknya.
"Hm ? Oh iya ya.. Boleh-boleh tuh..", jawab gua antusias.
Kemudian tangannya berpindah, sekarang tangan kirinya itu sudah menggenggam telapak tangan kanan gua.
Kami berdua memasuki toko perhiasan yang langsung disambut oleh pramuniaga toko tersebut.
"Selamat siang, Mas, Mba... Ada yang bisa dibantu ?", ucap salah satu pramuniaga toko dengan ramah.
"Siang... Kita baru mau liat-liat aja dulu..", jawab wanita yang menemani gua itu sambil menyapukan pandangannya ke etalase di depan kami.
"Silahkan, Mba.. Mmm.. Mungkin Mba mau liat barang yang ini...", ucap pramuniaga seraya membuka etalase dihadapannya dan mengambil salah satu perhiasan.
Setelah si pramuniaga menyerahkan barang yang ia ambil sebelumnya, wanita disamping gua itu terlihat tersenyum senang, tentu saja sambil memperhatikan barang yang kini ia pegang.
"Itu barang baru datang, Mba... Limited edition..", ucap si pramuniaga lagi.
"Ah limited edition darimana ? Ntar kalo saya pergi ke toko laen, nemuin barang yang sama, gimana hayo ?", sela gua.
Ya gua cuma mikir waktu itu si pramuniaga hanya mengompori wanita disamping gua itu, agar semakin tertarik, ya gak salah juga sih, namanya juga orang jualan, tapi menurut gua agak lebay aja karena dia bilang barang tersebut edisi terbatas, dan gua gak percaya dengan ucapannya itu.
"Enggak kok Mas, toko kami kebanyakan menjual barang handmade, jadi modelnya gak pasaran seperti di tempat lain, Mas nya boleh cek ke toko lain, kalo ada yang bener-bener mirip dengan yang ini... Biar saya kasih gratis deh barangnya..", tantang si pramuniaga kepada gua.
Weh sembarangan ini orang. Tapi boleh juga tantangannya. Kalo gua bisa nemuin barang yang sama di toko yang berbeda, untung banget ini bisa dapet perhiasan gratis.
"Serius gak nih, Mba ? Nanti boong lagi ah..", ucap gua tidak percaya.
"Serius kok, Mas.. Tapi saya kasih waktu cuma sampai besok sore ya..", jawabnya sambil tersenyum.
"Maksudnya gimana ?", tanya gua bingung.
"Jadi gini, Mas nya boleh cari dulu barang yang sama seperti barang yang kami jual itu di toko lain.. Tapi dengan catatan sampai besok sore waktunya, kalo Mas enggak bisa nemuin barang yang sama di toko lain, ya Mas nya gak berhak mendapatkan barang itu secara gratis. Karena toko kami cuma ada dua di Ibu kota ini, Mas.. Di daerah lain belum ada cabang baru.. Kecuali di Singapore dan Malaysia..", jelasnya panjang lebar.
Woh kalo gitu sih, bisa jadi beneran limited edition ini barang yang mereka jual. Gua menyapukan pandangan di dalam toko ini, ternyata bener juga sih apa yang si pramuniaga ucapkan, ini toko ukurannya gak terlalu besar, malah bisa dibilang sedikit kecil, tapi berada di salah satu mall terbaik di ibu kota. Dan desain toko perhiasan ini juga sangat eksklusif walaupun ruangannya kecil. Jadi ya gua mikir mungkin aja mereka beneran jual barang limited edition.
"Za.. Ini barang beneran limited edition kok, aku pernah belanja ke toko yang di Singapore, mereka gak jual barang yang sama kayak kebanyakan di toko perhiasan lain, Za...", timpal wanita yang menemani gua.
Kemudian gua melirik kepada si pramuniaga, dan kurang ajar, itu senyumnya penuh kemenangan. Kampret lah.
Gua bukannya gak mau berdebat lagi, tapi kalo wanita disamping gua ini udah bilang gitu, berarti ucapannya bener. Bukan apa-apa, gua tau dan pernah liat koleksi perhiasannya, ya secara otomatis membuat gua percaya kalo dia memang lebih pengalaman dengan barang-barang seperti ini.
Tapi sebentar... Kapan dia pernah pergi ke Singapore ???
"Za, kamu gak mau liat-liat kalung atau gelang gitu ? Buat dia ?", ucap wanita itu lagi, menyadarkan gua dari lamunan.
"Eh ? Oya ya.. Kamu bantu aku aja deh, pilihin yang mana yang bagus... Kamu kan lebih ahli..", jawab gua sambil menggaruk pelipis yang tidak gatal.
Cukup lama dirinya melihat-lihat perhiasan dengan bentuk yang berbeda-beda. Gua hanya memperhatikannya dan sesekali mengomentari apa yang ia pilih untuk pasangan gua nanti.
"Nah kalo ini gimana ? Kata kamu kan dia suka yang gak terlalu wah gitu.. Ini simpel modelnya, tapi gak murahan... Gimana ?", ucapnya seraya menunujukan sebuah cincin.
Gua ambil cincin berwarna emas tersebut, lalu memperhatikannya.
"Mmm.. Ukurannya.. Gimana ya ?", ucap gua seraya menengok kepada wanita itu.
"Loch ? Kamu enggak tau ukurannya ?", tanyanya kaget.
"Hehehe.. Enggak apal aku... Hehehe..", jawab gua polos.
"Ya ampun terus gimana mau milih cincinnya kalo gitu..?".
Ya gimana atuh, gua gak sempet ngira-ngira ukuran jari perempuan yang gua pilih.
"Maaf, Mas, Mba... Kalau boleh tau, memang barang yang dicari bukan untuk Mba nya ya ?", tanya pramuniaga yang daritadi memperhatikan kami berdua.
"Bukan untuk saya kok.. Tapi untuk calon menantu saya", jawab wanita disamping gua.
"Hah ?! Calon menantu ?!", terkejut lah itu pramuniaga.
Gua menahan tawa, ngerti gua kenapa ini pramuniaga sampe terkejut gitu.
"Iya... Kaget ya, Mba ? Pasti si Mba mikir kami berdua ini pacaran...", timpal wanita disamping gua lagi kepada pramuniaga.
"Ii..iiya, Mba.. Maaf ya, saya pikir Mba dan Mas nya pacaran. Soalnya keliatan masih muda banget Mba nya.. Apalagi tadi pas masuk pegangan tangan..", jawab si pramuniaga. "Enggak akan ada yang nyangka, Mba.. Kalo Mba udah punya anak bujang sebesar ini pasti.. Jadi mohon maaf sekali lagi, Mba, Mas..", lanjutnya.
Gua dan Mba Laras akhirnya tertawa mendengar ucapan si pramuniaga.
"Enggak apa-apa, Mba.. Soalnya memang udah sering disangka pacaran kalo jalan berdua kayak gini, bukan kayak Ibu dan anak... Hihihihi...", jawab Mba Laras yang adalah Ibu gua itu.
Ya memang kenyataannya seperti itu sih. Beberapa kali gua jalan dengan Mba Laras berdua, dan bukan hal yang aneh lagi kalau Mba Laras sering mengaitkan tangannya ketika kami sedang berpergian seperti sekarang, yang otomatis membuat orang lain berfikir kami adalah sepasang kekasih.
"Yaudah.. Terus sekarang mau gimana, Za ? Apa mau nanti aja kamu dan Vera berdua pilih cincinnya ?", tanya Ibu lagi.
"Mmm.. Kalo gitu gak jadi dong aku bikin kejutan untuk dia, Mba...", jawab gua lemes, ya karena bakal gak jadi deh bikin sureprise ke Nona Ukhti.
"Ya terus gimana dong ? Kamu gak tau ukuran jari manisnya sih..", timpal Ibu.
"Gimana ya, Mba...?.", gua jadi bingung.
Tiba-tiba si pramuniaga menyela lagi obrolan antara Ibu dan anaknya itu.
"Tuh, Mas nya kok manggil Mba sih ? Beneran deh saya enggak percaya kalo kalian anak dan Ibu...".
"Ya ampun ini si Mba.. Kepo amat, Mba.. Beneran loch ini Ibu saya... Gak percaya amat, hadeuuh.. Cewek tuh yaaa..", ucap gua sedikit bete.
"Udah deh, Mba.. Pokoknya ini anak saya ya, anak ketemu gede, hihihi...", jawab Ibu gua terkekeh kepada si pramuniaga.
Kepo lu ah...timpal gua dalam hati sambil melirik kepada si pramuniaga.
"Yaudah deh nanti aja ya belinya.. Kayaknya lebih baik aku ajak Vera aja, biar dia sendiri yang milih, Mba.. Bingung kalo nerka ukuran jarinya ma...", ucap gua kepada Ibu.
"Nah gitu aja... Lagian kalo soal kejutan, dia juga nanti terkejut kalo kamu ajak ke toko perhiasan kayak gini. Kamu ajak aja tapi jangan bilang mau kemana, baru deh kalo udah sampe di toko bilang, untuk apa beli cincinnya.. Gimana ? cukup sureprise kok kata Mba sih..", usul Ibu gua sambil tersenyum manis.
"Iya juga ya.. Yaudah deh, oke kalo gitu idenya... Hehehe..", jawab gua.
Baru saja kami hendak meninggalkan toko perhiasan ini, sebelum benar-benar keluar toko, pramuniaga itu memanggil Ibu gua lagi.
"Mbaaa, Mba... Sebentaar..", panggilannya sedikit berteriak.
Kami berdua pun menengok kebelakang.
"Kenapa, Mba ?", tanya Ibu.
Pramuniaga itu tersenyum. Lalu kembali tangannya mengambil sebuah perhiasan dari dalam etalase. Lalu mengangkatnya sebatas dada.
"Yang ini gak jadi dibeli Mba nya ?", tanyanya.
"Ck... Enggaklah, Mba...", potong gua kepada si pramuniaga.
Tapi apa reaksi Ibu ? Dia menengok sesaat kepada gua, lalu tersenyum tipis setelah kembali menatap perhiasan yang masih dipegang oleh si pramuniaga.
"Iya enggak jadi, lain kali aja ya Mba, maaf...", jawab Ibu dengan nada yang berbeda.
Wah kacau, ada yang salah nih. Enggak biasanya Ibu kayak gini.
"Yu, Za.. Kita ke lantai atas, nanti mereka berdua nungguin lagi..", ajak Ibu seraya kembali berjalan keluar toko.
Gua masih mematung menatap perhiasan yang baru saja kembali dimasukan ke dalam etalase.
"Hey.. Ayo Za... Malah bengong sih...".
"Eh iya Mba.. Ayo ayo..", jawab gua lalu berjalan menghampiri Ibu yang sudah berada di luar.
Setelah kami sampai di sebuah restoran, gua dan Ibu duduk bersebelahan di salah satu meja resto yang dekat dengan pintu masuk.
"Udah sampe mana katanya, Za ?", tanya Ibu sambil membuka buku menu.
"Udah di lantai dua katanya, Mba...", jawab gua setelah membaca chatt bbm dari seseorang.
"Oh, yaudah bareng aja mesen makanannya kalo gitu ya, tunggu mereka berdua dulu...", jawab Ibu lagi tanpa menengok kepada gua.
Gua memperhatikan Ibu yang masih membuka lembaran buku menu, melihat-lihat makanan yang akan ia pesan. Tapi fikiran gua bukan soal menu apa yang akan dia pilih...
"Mba...", panggil gua pelan.
"Hm ?", dia tidak menengok, masih asyik melihat-lihat menu.
"Kamu pingin beli perhiasan tadi ?", tanya gua.
"Enggak...", jawabnya singkat, dan tetap tidak menengok kepada gua.
"Kalo memang suka, beli aja, Mba... Mmm.. Kalo uangnya kurang.. Kamu bisa pake du..", ucapan gua terpotong.
Puukkk.. buku menu ia tutup dengan cepat. Lalu Ibu menengok kepada gua dengan wajah yang dingin.
Gua menaikan kedua alias dan cukup terkejut dengan sikapnya.
"Bukan soal uang. Mba cuma mau barang itu didapat seperti kamu...", jawabnya dengan tersenyum sangat tipis.
"Iya, Sher.. Enggak apa-apa kok, kita berdua juga baru masuk restoran ini..", jawab Ibu.
"Hai, Mba.. Hai Fer..", sapa gua kemudian kepada sepasang suami-istri itu.
Singkat cerita akhirnya kami berempat sudah memesan makanan, dan sambil menunggu makanan datang, kami membahas lebih rinci soal hal yang sebelumnya sempat gua ceritakan sedikit kepada Mba Yu di bbm.
"Yaudah paling seperti waktu itu, Mas.. Cuma adatnya aja yang beda kali ya.. Eh ngomong-ngomong, Vera itu asli mana sih ?", tanya Mba Yu kepada gua.
Gua tersenyum lebar, kemudian cengengesan.
"Loch ? Kok malah cengengesan ditanya beneran juga..", ucap Mba Yu heran.
"Pasti ada yang gak beres nih, Yang..", timpal suaminya, Feri.
"Iiih gaje deh kamu, Mas.. Apaan sih ketawa gak jelas gitu..", kesal Mba Yu dengan wajah khasnya. Cemberut lagi.
"Sorry-sorry... Hahaha.. Aduh ketawa mulu aku jadinya, Mba.. Hehehe..", gua mencoba menghentikan tawa mengingat Nona Ukhti dan Mba Yu.
"Gak jelas ah kamu ketawa apaan coba...", sungutnya lagi.
"Okey sorry-sorry. Jadi tadi kamu nanyakan.. Nanya darimana aslinya Vera ?".
"Hmmm..", jawab Mba Yu masih jutek.
"Kampung halamannya sama kok..", ucap gua.
"Sama ? Sama ama siapa ?".
"Ya, ama kamu, Mba... Hehehe... Gimana aku gak nyengir coba, hehehe...", jawab gua akhirnya.
Gua sedang berjalan di salah satu pusat perbelanjaan di Ibu kota. Mengitari bagian mall lantai dua sambil sesekali berhenti ketika melihat sebuah butik yang memajang barang-barang kaum hawa pada etalase depan gerai tersebut.
"Eh yang itu bagus kayaknya", ucap gua setelah berhenti di depan sebuah butik.
"Yaudah masuk dulu aja..", jawab wanita yang memang sedang menemani gua hari ini.
Kami berdua memasuki butik tersebut, yang langsung disambut oleh pramuniaga butik.
"Mba, yang ini bahannya ada yang lebih halus lagi gak ?", tanya wanita yang menemani gua kepada pramuniaga.
"Ada, Mba.. Sebentar ya saya ambilkan dulu", jawab pramuniaga, lalu dia berjalan ke bagian lainnya.
"Za, yang ini bagus juga nih... Liat dulu deh..", wanita itu memperlihatkan pakaian lain yang ia ambil dari rak disebelahnya.
"Iya ya.. Mmm.. Tapi warnanya kurang bagus kayaknya...", jawab gua setelah menerima pakaian tersebut dan memperhatikannya.
"Dia suka warna biru muda ya ?".
Gua mengangguk dan tersenyum.
"Yang tadi itu cocok warnanya, modelnya juga bagus, tapi bahannya kurang bagus, Za..", ucapnya lagi.
Tidak lama kemudian, pramuniaga sebelumnya kembali menghampiri kami dengan sebuah pakaian yang baru dengan bahan yang lebih bagus, menurut gua.
"Nah ini oke nih... Cocok deh warna sama bahannya...", ucap gua setelah melihat pramuniaga tersebut memberikan pakaian kepada wanita yang sedang menemani gua itu.
"Yakin, Za ?", tanyanya.
"Ukurannya kamu yakin gak segini ?".
"Waduh.. Iya ya.. Sebentar-sebentar, coba aku liat dulu sini..", ucap gua langsung mengambil pakaian yang ia pegang.
Gua perhatikan pakaian muslimah yang berwarna biru muda, dengan bahan yang sangat lembut.
"Kayaknya sih kebesaran sedikit..", ucap gua pada akhirnya.
"Yaudah kalo yakin cuma sedikit kebesaran, ambil aja yang ini, kan bisa dikecilin nanti.. Daripada kekecilan".
"Iya ya.. Yaudah lah ini aja..", jawab gua sambil menyerahkan lagi pakaian tersebut kepada wanita itu.
"Mba, saya ambil yang ini ya...", ucap wanita itu kepada pramuniaga.
"Oke, Mba.. Saya ambilkan yang di gudang dulu, karena yang ini untuk display...", jawab pramuniaga, lalu kembali ke gudang butik di belakang sana.
Gua menunggu di kasir. Sedangkan wanita sebelumnya masih melihat-lihat pakaian muslim yang terpajang di dalam butik ini. Gua perhatikan wanita itu yang masih melihat-lihat pakian yang sedang ia pegang.
"Kalo suka beli aja...", celetuk gua dari depan kasir.
"Enggak, cuma liat-liat aja kok...", jawabnya setelah tersenyum kepada gua.
Lalu dia menaruh kembali pakaian itu dan menggantungnya. Kemudian berjalan ke kasir.
"Za.. Dari sini mau langsung ke resto itu ? Udah datang belum dia ?", tanyanya setelah berdiri disamping gua.
"Mmm.. Sebentar, aku bbm dulu, kayaknya masih dijalan deh...", jawab gua seraya mengeluarkan blackberry dari saku celana.
"Bilang aja ke dia, kita nunggu di resto lantai empat, sekalian kalo mau dipesenin makanan buat mereka berdua...", ucap wanita itu lagi.
"Iya iya..", jawab gua sambil mulai mengetik chatt bbm kepada seseorang.
"Jadi berapa Mba ?", tanya wanita itu kepada kasir, setelah pramuniaga sebelumnya datang dengan membawakan pakaian yang telah gua pilih sebelumnya.
"Sekian rupiah, Mba.. Ini notanya", jawab si kasir dan menyodorkan sebuah nota belanja kepada wanita disamping gua.
Setelah beres mengetik chatt bbm dan delivered. Gua mengambil dompet dari saku celana belakang. "Biar aku aja yang bayar...", ucap gua.
"Udah gak apa-apa, uang kamu kan di tabungan masih utuh, pake aja yang di situ, lagian urusan inikan buat kepentingan masa depan kamu, Za..", jawabnya.
Kemudian ia mengeluarkan dompet dari tas mininya, dan mengambil sebuah kartu debit.
"Jangan deh. Itu uang buat nanti, buat hari spesial aja... Hehehe...", sela gua sebelum dirinya memberikan kartu debit tersebut kepada si kasir.
"Beneran ? Kamu ada gak ? Belum kerja juga kamu", timpalnya.
"Ada kok... Lah ini tiap bulan kan aku dapet bunganya dari hasil usaha itu.. Gimana sih..".
"Ya bukan gitu, takutnya kamu ada sekarang, besok-besok gak pegang uang lagi...".
"Ck.. Beneran cukup kok, tenang aja udah...", jawab gua lalu mengambil beberapa lembar rupiah dan menyerahkannya kepada si kasir. "Cash aja, Mba... Ini uangnya..", lanjut gua.
"Makasih, Mas, Mba.. Silahkan ini barangnya... Silahkan mampir lagi ke toko kami...", ucap si kasir setelah memberikan barang belanjaan kepada gua.
"Iya sama-sama, makasih juga Mba..", jawab wanita disamping gua.
Singkat cerita akhirnya gua dan wanita itu sudah kembali keluar toko butik dan hendak menuju lantai empat.
Kami berdua jalan berdampingan, sambil tetap melihat-lihat jejeran toko yang ada di dalam mall ini. Ketika kami menaiki escalator, tangan kanan gua sedikit ditarik, dan langsung saja tangan kiri wanita yang menemani gua itu mengapitnya.
"Za.. Kamu udah beneran serius mikiran hal ini dengan matang ?", tanyanya.
Gua tersenyum lalu menengok kepadanya yang berada di sisi kanan. "Iya, aku yakin sama pilihan hati aku kok.. Ada apa emangnya ?", tanya gua balik.
"Enggak apa-apa, cuma aku mikir kamu itu gak terlalu cepet apa mau nikah lagi ?".
"Kan soal ini udah dibahas kemaren... Masa harus diulang-ulang lagi ?", jawab gua dengan nada suara yang pelan.
Dia tersenyum, lalu mempererat kaitan tangan kami. "Iya iya... Bukan aku gak percaya sama kamu, Za.. Cuma mastiin lagi aja..", jawabnya.
Sampai di lantai tiga, kami berjalan lagi melewati beberapa toko untuk menuju escalator ke lantai empat. Tepat sebelum escalator menuju lantai empat, di depan sana ada sebuah toko perhiasan.
"Za... Mampir kesitu dulu yu..", ajaknya.
"Hm ? Oh iya ya.. Boleh-boleh tuh..", jawab gua antusias.
Kemudian tangannya berpindah, sekarang tangan kirinya itu sudah menggenggam telapak tangan kanan gua.
Kami berdua memasuki toko perhiasan yang langsung disambut oleh pramuniaga toko tersebut.
"Selamat siang, Mas, Mba... Ada yang bisa dibantu ?", ucap salah satu pramuniaga toko dengan ramah.
"Siang... Kita baru mau liat-liat aja dulu..", jawab wanita yang menemani gua itu sambil menyapukan pandangannya ke etalase di depan kami.
"Silahkan, Mba.. Mmm.. Mungkin Mba mau liat barang yang ini...", ucap pramuniaga seraya membuka etalase dihadapannya dan mengambil salah satu perhiasan.
Setelah si pramuniaga menyerahkan barang yang ia ambil sebelumnya, wanita disamping gua itu terlihat tersenyum senang, tentu saja sambil memperhatikan barang yang kini ia pegang.
"Itu barang baru datang, Mba... Limited edition..", ucap si pramuniaga lagi.
"Ah limited edition darimana ? Ntar kalo saya pergi ke toko laen, nemuin barang yang sama, gimana hayo ?", sela gua.
Ya gua cuma mikir waktu itu si pramuniaga hanya mengompori wanita disamping gua itu, agar semakin tertarik, ya gak salah juga sih, namanya juga orang jualan, tapi menurut gua agak lebay aja karena dia bilang barang tersebut edisi terbatas, dan gua gak percaya dengan ucapannya itu.
"Enggak kok Mas, toko kami kebanyakan menjual barang handmade, jadi modelnya gak pasaran seperti di tempat lain, Mas nya boleh cek ke toko lain, kalo ada yang bener-bener mirip dengan yang ini... Biar saya kasih gratis deh barangnya..", tantang si pramuniaga kepada gua.
Weh sembarangan ini orang. Tapi boleh juga tantangannya. Kalo gua bisa nemuin barang yang sama di toko yang berbeda, untung banget ini bisa dapet perhiasan gratis.
"Serius gak nih, Mba ? Nanti boong lagi ah..", ucap gua tidak percaya.
"Serius kok, Mas.. Tapi saya kasih waktu cuma sampai besok sore ya..", jawabnya sambil tersenyum.
"Maksudnya gimana ?", tanya gua bingung.
"Jadi gini, Mas nya boleh cari dulu barang yang sama seperti barang yang kami jual itu di toko lain.. Tapi dengan catatan sampai besok sore waktunya, kalo Mas enggak bisa nemuin barang yang sama di toko lain, ya Mas nya gak berhak mendapatkan barang itu secara gratis. Karena toko kami cuma ada dua di Ibu kota ini, Mas.. Di daerah lain belum ada cabang baru.. Kecuali di Singapore dan Malaysia..", jelasnya panjang lebar.
Woh kalo gitu sih, bisa jadi beneran limited edition ini barang yang mereka jual. Gua menyapukan pandangan di dalam toko ini, ternyata bener juga sih apa yang si pramuniaga ucapkan, ini toko ukurannya gak terlalu besar, malah bisa dibilang sedikit kecil, tapi berada di salah satu mall terbaik di ibu kota. Dan desain toko perhiasan ini juga sangat eksklusif walaupun ruangannya kecil. Jadi ya gua mikir mungkin aja mereka beneran jual barang limited edition.
"Za.. Ini barang beneran limited edition kok, aku pernah belanja ke toko yang di Singapore, mereka gak jual barang yang sama kayak kebanyakan di toko perhiasan lain, Za...", timpal wanita yang menemani gua.
Kemudian gua melirik kepada si pramuniaga, dan kurang ajar, itu senyumnya penuh kemenangan. Kampret lah.
Gua bukannya gak mau berdebat lagi, tapi kalo wanita disamping gua ini udah bilang gitu, berarti ucapannya bener. Bukan apa-apa, gua tau dan pernah liat koleksi perhiasannya, ya secara otomatis membuat gua percaya kalo dia memang lebih pengalaman dengan barang-barang seperti ini.
Tapi sebentar... Kapan dia pernah pergi ke Singapore ???
"Za, kamu gak mau liat-liat kalung atau gelang gitu ? Buat dia ?", ucap wanita itu lagi, menyadarkan gua dari lamunan.
"Eh ? Oya ya.. Kamu bantu aku aja deh, pilihin yang mana yang bagus... Kamu kan lebih ahli..", jawab gua sambil menggaruk pelipis yang tidak gatal.
Cukup lama dirinya melihat-lihat perhiasan dengan bentuk yang berbeda-beda. Gua hanya memperhatikannya dan sesekali mengomentari apa yang ia pilih untuk pasangan gua nanti.
"Nah kalo ini gimana ? Kata kamu kan dia suka yang gak terlalu wah gitu.. Ini simpel modelnya, tapi gak murahan... Gimana ?", ucapnya seraya menunujukan sebuah cincin.
Gua ambil cincin berwarna emas tersebut, lalu memperhatikannya.
"Mmm.. Ukurannya.. Gimana ya ?", ucap gua seraya menengok kepada wanita itu.
"Loch ? Kamu enggak tau ukurannya ?", tanyanya kaget.
"Hehehe.. Enggak apal aku... Hehehe..", jawab gua polos.
"Ya ampun terus gimana mau milih cincinnya kalo gitu..?".
Ya gimana atuh, gua gak sempet ngira-ngira ukuran jari perempuan yang gua pilih.
"Maaf, Mas, Mba... Kalau boleh tau, memang barang yang dicari bukan untuk Mba nya ya ?", tanya pramuniaga yang daritadi memperhatikan kami berdua.
"Bukan untuk saya kok.. Tapi untuk calon menantu saya", jawab wanita disamping gua.
"Hah ?! Calon menantu ?!", terkejut lah itu pramuniaga.
Gua menahan tawa, ngerti gua kenapa ini pramuniaga sampe terkejut gitu.
"Iya... Kaget ya, Mba ? Pasti si Mba mikir kami berdua ini pacaran...", timpal wanita disamping gua lagi kepada pramuniaga.
"Ii..iiya, Mba.. Maaf ya, saya pikir Mba dan Mas nya pacaran. Soalnya keliatan masih muda banget Mba nya.. Apalagi tadi pas masuk pegangan tangan..", jawab si pramuniaga. "Enggak akan ada yang nyangka, Mba.. Kalo Mba udah punya anak bujang sebesar ini pasti.. Jadi mohon maaf sekali lagi, Mba, Mas..", lanjutnya.
Gua dan Mba Laras akhirnya tertawa mendengar ucapan si pramuniaga.
"Enggak apa-apa, Mba.. Soalnya memang udah sering disangka pacaran kalo jalan berdua kayak gini, bukan kayak Ibu dan anak... Hihihihi...", jawab Mba Laras yang adalah Ibu gua itu.
Ya memang kenyataannya seperti itu sih. Beberapa kali gua jalan dengan Mba Laras berdua, dan bukan hal yang aneh lagi kalau Mba Laras sering mengaitkan tangannya ketika kami sedang berpergian seperti sekarang, yang otomatis membuat orang lain berfikir kami adalah sepasang kekasih.
"Yaudah.. Terus sekarang mau gimana, Za ? Apa mau nanti aja kamu dan Vera berdua pilih cincinnya ?", tanya Ibu lagi.
"Mmm.. Kalo gitu gak jadi dong aku bikin kejutan untuk dia, Mba...", jawab gua lemes, ya karena bakal gak jadi deh bikin sureprise ke Nona Ukhti.
"Ya terus gimana dong ? Kamu gak tau ukuran jari manisnya sih..", timpal Ibu.
"Gimana ya, Mba...?.", gua jadi bingung.
Tiba-tiba si pramuniaga menyela lagi obrolan antara Ibu dan anaknya itu.
"Tuh, Mas nya kok manggil Mba sih ? Beneran deh saya enggak percaya kalo kalian anak dan Ibu...".
"Ya ampun ini si Mba.. Kepo amat, Mba.. Beneran loch ini Ibu saya... Gak percaya amat, hadeuuh.. Cewek tuh yaaa..", ucap gua sedikit bete.
"Udah deh, Mba.. Pokoknya ini anak saya ya, anak ketemu gede, hihihi...", jawab Ibu gua terkekeh kepada si pramuniaga.
Kepo lu ah...timpal gua dalam hati sambil melirik kepada si pramuniaga.
"Yaudah deh nanti aja ya belinya.. Kayaknya lebih baik aku ajak Vera aja, biar dia sendiri yang milih, Mba.. Bingung kalo nerka ukuran jarinya ma...", ucap gua kepada Ibu.
"Nah gitu aja... Lagian kalo soal kejutan, dia juga nanti terkejut kalo kamu ajak ke toko perhiasan kayak gini. Kamu ajak aja tapi jangan bilang mau kemana, baru deh kalo udah sampe di toko bilang, untuk apa beli cincinnya.. Gimana ? cukup sureprise kok kata Mba sih..", usul Ibu gua sambil tersenyum manis.
"Iya juga ya.. Yaudah deh, oke kalo gitu idenya... Hehehe..", jawab gua.
Baru saja kami hendak meninggalkan toko perhiasan ini, sebelum benar-benar keluar toko, pramuniaga itu memanggil Ibu gua lagi.
"Mbaaa, Mba... Sebentaar..", panggilannya sedikit berteriak.
Kami berdua pun menengok kebelakang.
"Kenapa, Mba ?", tanya Ibu.
Pramuniaga itu tersenyum. Lalu kembali tangannya mengambil sebuah perhiasan dari dalam etalase. Lalu mengangkatnya sebatas dada.
"Yang ini gak jadi dibeli Mba nya ?", tanyanya.
"Ck... Enggaklah, Mba...", potong gua kepada si pramuniaga.
Tapi apa reaksi Ibu ? Dia menengok sesaat kepada gua, lalu tersenyum tipis setelah kembali menatap perhiasan yang masih dipegang oleh si pramuniaga.
"Iya enggak jadi, lain kali aja ya Mba, maaf...", jawab Ibu dengan nada yang berbeda.
Wah kacau, ada yang salah nih. Enggak biasanya Ibu kayak gini.
"Yu, Za.. Kita ke lantai atas, nanti mereka berdua nungguin lagi..", ajak Ibu seraya kembali berjalan keluar toko.
Gua masih mematung menatap perhiasan yang baru saja kembali dimasukan ke dalam etalase.
"Hey.. Ayo Za... Malah bengong sih...".
"Eh iya Mba.. Ayo ayo..", jawab gua lalu berjalan menghampiri Ibu yang sudah berada di luar.
Setelah kami sampai di sebuah restoran, gua dan Ibu duduk bersebelahan di salah satu meja resto yang dekat dengan pintu masuk.
"Udah sampe mana katanya, Za ?", tanya Ibu sambil membuka buku menu.
"Udah di lantai dua katanya, Mba...", jawab gua setelah membaca chatt bbm dari seseorang.
"Oh, yaudah bareng aja mesen makanannya kalo gitu ya, tunggu mereka berdua dulu...", jawab Ibu lagi tanpa menengok kepada gua.
Gua memperhatikan Ibu yang masih membuka lembaran buku menu, melihat-lihat makanan yang akan ia pesan. Tapi fikiran gua bukan soal menu apa yang akan dia pilih...
"Mba...", panggil gua pelan.
"Hm ?", dia tidak menengok, masih asyik melihat-lihat menu.
"Kamu pingin beli perhiasan tadi ?", tanya gua.
"Enggak...", jawabnya singkat, dan tetap tidak menengok kepada gua.
"Kalo memang suka, beli aja, Mba... Mmm.. Kalo uangnya kurang.. Kamu bisa pake du..", ucapan gua terpotong.
Puukkk.. buku menu ia tutup dengan cepat. Lalu Ibu menengok kepada gua dengan wajah yang dingin.
Gua menaikan kedua alias dan cukup terkejut dengan sikapnya.
"Bukan soal uang. Mba cuma mau barang itu didapat seperti kamu...", jawabnya dengan tersenyum sangat tipis.
Quote:
"Iya, Sher.. Enggak apa-apa kok, kita berdua juga baru masuk restoran ini..", jawab Ibu.
"Hai, Mba.. Hai Fer..", sapa gua kemudian kepada sepasang suami-istri itu.
Singkat cerita akhirnya kami berempat sudah memesan makanan, dan sambil menunggu makanan datang, kami membahas lebih rinci soal hal yang sebelumnya sempat gua ceritakan sedikit kepada Mba Yu di bbm.
"Yaudah paling seperti waktu itu, Mas.. Cuma adatnya aja yang beda kali ya.. Eh ngomong-ngomong, Vera itu asli mana sih ?", tanya Mba Yu kepada gua.
Gua tersenyum lebar, kemudian cengengesan.
"Loch ? Kok malah cengengesan ditanya beneran juga..", ucap Mba Yu heran.
"Pasti ada yang gak beres nih, Yang..", timpal suaminya, Feri.
"Iiih gaje deh kamu, Mas.. Apaan sih ketawa gak jelas gitu..", kesal Mba Yu dengan wajah khasnya. Cemberut lagi.
"Sorry-sorry... Hahaha.. Aduh ketawa mulu aku jadinya, Mba.. Hehehe..", gua mencoba menghentikan tawa mengingat Nona Ukhti dan Mba Yu.
"Gak jelas ah kamu ketawa apaan coba...", sungutnya lagi.
"Okey sorry-sorry. Jadi tadi kamu nanyakan.. Nanya darimana aslinya Vera ?".
"Hmmm..", jawab Mba Yu masih jutek.
"Kampung halamannya sama kok..", ucap gua.
"Sama ? Sama ama siapa ?".
"Ya, ama kamu, Mba... Hehehe... Gimana aku gak nyengir coba, hehehe...", jawab gua akhirnya.
Diubah oleh glitch.7 08-10-2017 23:37
oktavp dan 2 lainnya memberi reputasi
3

