Kaskus

Story

glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN




Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.


Tak Lagi Sama - Noah


Spoiler for Cover Stories:


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.


Quote:


Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

Masa yang Paling Indah
Credit thanks to Agan njum26

Love in Elegy
Credit thanks to Agan redmoon97


Sonne Mond und Stern
*mulustrasi karakter dalam cerita ini


Quote:

*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
pulaukapokAvatar border
chamelemonAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
#3152
Sebelum Cahaya
PART IX


Setengah jam sudah gua mendengarkan ceramah dari koalisi hijabers...

Gua duduk di ujung sofa dengan memeluk kedua kaki yang gua naikkan keatas, hingga lutut ini menjadi sandaran dagu gua.

Kalimat-kalimat yang keluar dari wanita cantik berhijab lebar dihadapan gua itu cukup membuat nyali perempuan berhijab yang lebih muda di sampingnya sedikit menciut. Terlihat dari ekspresi wajahnya ketika ia mendengarkan omelan-omelan yang ditujukan kepada gua. Sedangkan gua hanya menanggapi semua itu dengan tersenyum dan mengangguk.

"Kalo udah sakit, nanti manja... Kan dia gitu, Ve...", ucapnya mengakhiri rentetan omelan kepada gua selama setengah jam.

Gua tersenyum untuk kesekian kalinya karena mendengar ucapan dari seorang wanita cantik yang duduk tepat di samping perempuan berhijab di depan sana.

"Ooh.. Emang gitu ya, Mba ? Aku baru tau loch ternyata dia manja...", ucap Nona Ukhti kali ini melirik kepada gua.

Gua terkekeh pelan.

"Anak laki kok manja sih, Za..", lanjut Nona Ukhti sembari meledek gua.

Gua berdiri dari duduk dan menghampiri wanita yang berada di samping Nona Ukhti, lalu duduk tepat dibawahnya, diatas lantai keramik ruang tamu rumah gua ini.

Gua sandarkan kepala ini di pahanya.

"Eh ? Iiiih.. Malah beneran manja sih ?", Nona Ukhti terbelalak melihat tingkah gua itu.

Wanita yang kedua pahanya sedang gua sandarkan kepala ini hanya tertawa pelan. Lalu tangan lembutnya membelai rambut gua. Gua pejamkan mata sesaat menikmati belaian kasih sayangnya itu.

Gua tidak memperdulikan ucapan Nona Ukhti yang mengatakan gua seperti anak kecil, lalu tidak lama wanita ini ikut terkekeh karena keheranan yang ditunjukkan Nona Ukhti.

"Tapi, Ve... Anak manja ini lah yang Mba sayangi...", ucap wanita itu lembut, tanpa berhenti mengelus rambut gua.

Ucapannya semakin membuat lengkung senyum di bibir gua semakin lebar. Hati gua bahagia mendengar ungakapannya tersebut.

Gua membuka mata sedikit, melirik keatas kanan, dimana Nona Ukhti sedang memperhatikan kami berdua, dan saat matanya melirik kepada gua, gua tertawa karena wajahnya yang cemberut.

"Hahahaha... Ada yang cemburuuuu... Hahaha...", ledek gua seraya menegakkan lagi posisi duduk di lantai ini.

"Apa siiih.. Enggak ya... Ngapain cemburu yee..", Nona Ukhti memalingkan wajahnya ke sisi lain.

"Eza emang gini sama Mba.. Dia manja... Beneran manja...", timpal Ibu.

Ya, wanita berhijab yang kedua pahanya gua jadikan sandaran kepala adalah Mba Laras.

Ucapannya bukanlah sebuah candaan, yang membuat Nona Ukhti kembali melirik kepada kami berdua dengan ekspresi wajah penuh keingintahuan.

"Mba.. Lapeeerrr..", ucap gua seraya mendongakan kepala keatas melirik kepada Ibu gua itu.

"Mba masak makanan kesukaan kamu tadi, ada teri kacang balado sama sayur Lodeh...", jawab Ibu.

Gua tersenyum lebar. "Mau atuuh... Hehehe..", ucap gua lagi.

"Tuh, liat sendiri kan, manjanya Eza, Ve..", Ibu menggelengkan kepalanya. Lalu kemudian dia bangkit dari duduknya dan berjalan kearah dapur.

Gua pun bangkit dari lantai dan duduk diatas sofa, di samping Nona Ukhti sambil menyandarkan punggung dan kepala ke bahu sofa.

"Za... Itu apa maksudnya ?", Nona Ukhti masih keheranan.

"Udah diem aja sampai aku selesai makan ya.. Aku lagi sakit nih... Okey ? Hehehehe...".

"Aku bingung deh...".

"Udah jangan bingung dan gak usah dipikirin.. Tar kamu paham kok, hahaha...", timpal gua pada akhirnya yang membuat Nona Ukhti terdiam.

Ibu kembali ke ruang tamu ini, dengan sebuah piring makan di tangan kanannya yang berisi nasi serta lauk pauk kesukaan gua.

"Ve.. Makan bareng. Ayo ambil sendiri ke dapur, Ve..", tawar Ibu.

"Iya sana ambil makanan, Ve.. Abis keujanan berendem pula di kolam, pasti laper tuh perut...", timpal gua.

Nona Ukhti mengangguk, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil makan.

"Nih kerupuknya pegang sendiri, Za..", ucap Ibu setelah duduk di samping gua dan memberikan sebuah kerupuk putih bulat.

"Wokeh.. Mantap ini makanannya... Hehehe..", jawab gua seraya menerima kerupuk dan melirik ke piring yang berisi penuh makanan favorit gua itu.

Ibu menyendok makanan, kemudian menyuapi gua.

"Aaa...", ucapnya sambil mendekatkan sendok berisi makanan kearah mulut ini.

"Loch ? Disuapin ? Ya ampuuun...", terbebelak lagi itu kedua bola mata Nona Ukhti ketika sudah kembali ke ruang tamu.

Ya bagaimana pun gua paham, Nona Ukhti pasti keheranan melihat remaja lelaki yang baru menginjak usia dua puluh satu tahun sedang disuapi makan oleh Ibunya. Apalagi remaja lelaki itu sudah bersatus duda.

catatan : ini untuk menjawab usia gua pada saat kejadian di part sebelumnya berlangsung. Jadi gua belum tua, K A M P R E T emoticon-Wink

"Vera gak percaya dibilangin kamu itu manja...", Ibu tersenyum kepada gua sambil kembali menyendok makanan.

Gua hanya tersenyum sambil mengunyah makanan di dalam mulut yang belum gua telan, yang sedetik kemudian gua menengok kepada Nona Ukhti lalu tersenyum lagi dengan pipi yang gua gembulkan.

Reaksi Nona Ukhti hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu dia duduk di sofa sebrang kami.

Beberapa menit Nona Ukhti menghabiskan makanannya, begitupun dengan gua yang makan dengan disuapi Ibu sampai habis. Selama itu pula Nona Ukhti hanya bisa memperhatikan tingkah gua yang berubah menjadi manja kepada Ibu.

Selesai makan, gua mengajak Nona Ukhti duduk di teras depan. Sedangkan Ibu pergi ke kamarnya.

...

Rintikan hujan yang sebelumnya turun cukup deras, kini sudah mulai reda. Gua mulai membakar sebatang rokok setelah duduk di salah satu kursi teras depan ini.

"Kamu beneran aneh ya ngeliat tingkah aku barusan ke Mba Laras, Ve ?", tanya gua seraya menengok kepada Nona Ukhti yang duduk di samping.

Nona Ukhti mengangguk antusias.

Gua hisap rokok light dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya ke udara. Gua tersenyum kecut memandangi langit sore yang gelap diatas sana.

"Aku lupa..",
"Kapan terakhir kali aku disuapin sama Ibu...", ucap gua seraya menerawang ke langit gelap.

"Ibu ? Maksud kamu, Almarhumah ?".

Gua mengangguk tanpa menengok kepadanya. Gua mainkan rokok di sela-sela jemari tangan, lalu menundukkan kepala dan memejamkan mata dengan diiringi dengusan kasar.

"Ciih..".dengus gua.

Sebuah usapan lembut terasa di punggung ini.

"Maaf.. Aku gak kepikiran kalo tingkah kamu itu, karena...".

"Enggak.. Enggak apa-apa Ve.. Aku cumaaa...", "Ya apa ya.. Hahaha.. Gak jelas banget sih emang... Tapi aku cuma pingin balik ke masa anak-anak... Masa dimana seorang manusia gak memusingkan apapun selain bermain dan menerima kasih sayang orangtuanya..".

"Za..".

"Ve.. Aku gak pernah ngerasain itu semua di masa kecil. Disaat Rekti, Unang, Dewa dan yang lainnya merasakan kasih sayang orangtua mereka, di saat mereka dimanja, disuapin makan di lapangan depan rumah, digendong oleh Ibu mereka, diajak jalan...", Gua kembali mendongakan kepala, menatap langit gelap itu lagi.
"Semuanya itu cuma mimpi bagi aku, Ve.. Ibu udah pergi waktu itu dan Ayah ku kerja di di luar... Sayangnya gak bisa ya kita balik ke masa itu, dan merubah segalanya...", lanjut gua sebelum kembali menghisap rokok.

Nona Ukhti memegang tangan kanan gua, lalu mengelus punggung tangan tersebut.

"Za.. Tapi masa ituu...",
"Ada Nenek dan Kakek kamu kan, sayang ?", ucapnya seraya tersenyum tipis.

Gua menengok kepadanya, dan tersenyum juga. "Iya.. Alhamdulillah masih ada mereka berdua..".

"Ya kamu harus bersyukur, karena masih ada Nenek dan Kakek waktu itu, sayang... Aku tau kamu lelaki yang kuat menghadapi itu semua...".

Gua hanya tersenyum kecut, lalu menggelengkan kepala seraya menduduk lagi.

Enggak Ve.. Aku gak sekuat itu. Apa yang terjadi di masa kecilku itu jauh lebih berat dari apa yang kamu bayangkan. Ucap gua dalam hati.

"Ve.. Aku mau nunjukin sesuatu sama kamu..", ucap gua dan kemudian berdiri.

"Mau nunjukin apa, Za ?".

Gua melepaskan kaos putih yang gua kenakan dan menaruhnya diatas kursi. Lalu berdiri dengan posisi membelakangi Nona Ukhti yang masih duduk.

"Apa yang kamu liat, Ve...?", tanya gua tanpa menengok kebelakang.

"Tatto kamu...", jawabnya.

"Kamu liat kebagian pinggang...".

Lalu gua rasakan bunyi derit kursi, kemudian jemari tangan Nona Ukhti terasa menyentuh sebuah garis di pinggang gua.

"Ini.. Ini kenapa, Za ?", nada suaranya terdengar sedikit tercekat.

"That's scar from my Mom..".

"Are you kidding me, Za ?"

Gua berbalik, lalu berjongkok dihadapannya.

"Kamu tau kodachi yang ada di kamar ku di rumah Nenek ?", tanya gua tepat dihadapannya.

Nona Ukhti mengangguk. "Pedang kecil itu ? Kenapa ?".

"Itu punya Almarhumah.. Dan apa yang baru aja kamu sentuh di pinggang ku tadi adalah sebuah bentuk rasa sayangnya untuk aku...".

Dia terkejut, menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Enggak mungkin... Enggak mungkin, Za... Kamu... Kamu bercanda kan ? Enggak mungkin Ibu kamu...", ucapannya terhenti ketika gua memegang kedua tangannya.

"Aku pernah ceritain soal ini ke Sherlin dulu..",
"Dan sekarang, kamu...", ucap gua.

Apa yang pernah gua ceritakan dahulu kepada Mba Yu, kini gua ceritakan juga kepada Nona Ukhti. Sebuah cerita yang pada akhirnya membuat Nona Ukhti meneteskan airmata.

"Aku gak tau harus ngomong apa... Aku... Aku...",
"Aku gak bisa percaya kalo Ibu kamu bisa setega itu...", lanjutnya dengan suara yang bergetar karena airmatanya sudah terjatuh hingga ke sisi dagunya.

Gua mengusap airmatanya dengan kedua ibu jari, lalu memegangi wajahnya, menatap matanya lekat-lekat.

"Listen to me, Ve...",
"She's fuckin love me..",
"Yap.. She's really really fuckin love me... Right ?".


Nona Ukhti langsung memeluk gua dan pecah lagi tangisnya dalam pelukan.

Suara adzan maghrib terdengar berkumandang, Nona Ukhti melepaskan pelukannya, lalu berdiri dan memegang kedua tangan gua.

"Kita shalat ya, sayang...", ajaknya dengan senyuman yang menawan, walaupun jejak airmata diwajahnya belum mengering.

Gua mengangguk dan kembali mengenakan kaos, barulah kemudian kami berdua masuk kembali ke dalam rumah.

...

Selepas shalat maghrib berjamaah bersama Nona Ukhti dan Ibu (Mba Laras) sebagai makmum, kami bertiga duduk di ruang tamu lagi.

"Jadi Ve... Aku emang suka manja sama Mba Laras.. Gak sering sih, kalo lagi pengen aja.. Dan..", gua menahan tawa seraya melirik kepada Ibu yang duduk di sebrang kami.

"Dan apa hayoo..?", ledek Nona Ukhti sambil mencolek sisi pinggang gua.

"Hehehe.. Dan liat situasi juga kondisi Mba Laras lah... Kalo lagi santai, terus mood nya bagus ya aku berani manja ama dia... Tapi kalo lagi bad mood... Beuh.. Boro-boro berani deketin, manggil aja ogah..." jawab gua.

"Hahahaha... Kamu tuh bisa aja deh, Za.. Emang kenapa gitu kalo Mba lagi bete ? Kok takut banget kayaknya... Hihihihi...", tanya Ibu dengan sedikit tergelak.

"Suka gak sadar deh.. Mba itu kalo lagi bete apalagi marah sama Eza, sukanya ngapain coba ? Lupa apa kayak yang tadi sore ?", balas gua dengan pura-pura memasang tampang marah.

"Hahaha.. Apaan siiih... Mba gak galak kaliii.." jawabnya mengelak.

"Mba itu galak loch, Ve... Beneran..", ucap gua.
"Kamu takut gak tadi pas dia ngomelin aku ? Belom lamanya berapa jam itu kalo udah tausiah... Hehehehe...", kali ini gua menengok kepada Nona Ukhti dan langsung disambut oleh tawanya.

Gelak tawa pun mengisi ruang tamu ini, ya tawa dari kedua mahluk cantik berhijab itu.

"Hahaha.. Emang Mba Ustadzah apa, pake dibilang tausiah segala... Hihihihi..", ucap Ibu gua sambil kembali tertawa.

"Ya abisnya kalo udah ngomel lama banget, aku nih kalo gak nanya ke Kinan, gak bakal tau cara ngatasin omelan kamu, Mba..", timpal gua.

"Hahaha, emangnya Kinan bilang apa ?", tanyanya dengan tersenyum lebar.

"Ya pokoknya harus siap mental dan siap kuping panas aja kalo ngadepin Mba Laras yang lagi ngomel...", jawab gua mengingat ucapan Tante gua, Kinanti.

"Dasar... Hihihi...",
"Eh iya.. Ngomong-ngomong, dia akhir bulan ini pulang loch dari Bali. Nanti jemput ya Za di bandara..", ucap Ibu gua mengingatkan kalo adiknya itu akan pulang dalam waktu dekat ini.

"Ooh pulang toh.. Oke lah tenang aja, Mba... Pasti makin cantik tuh si Tante, hehehe...", jawab gua seraya menaik turunkan alis.

"Cantikan mana sama Mba, Za ?", tanya Ibu gua tiba-tiba dengan tersenyum lebar.

"Hahahaha... Cantikan Kakaknya lah...", goda gua.

"Aalaah.. Modus kamu, Za.. Ada maunya ini pasti...", Ibu gua pura-pura bete.

"Enggak, Mba, bukan modus.. Cuma cari aman aja... Hahahaha".

"Yeee.. Kepaksa berarti nih jawabnya... Awas kamu yaa", jawabnya seraya melotot kepada gua.

Nona Ukhti pun hanya bisa tertawa mendengar obrolan antara anak dan Ibu dihadapannya itu.

"Ngomong-ngomong usia Mba Laras berapa sih ? Masih muda banget kayaknya...", tanya Nona Ukhti kali ini.

"Beda tujuh tahun aku sama kalian berdua...", jawab Ibu gua.

"Oooh.. Berarti sekarang baruuu... Mmm... Dua sembilan ya ?", tanya Nona Ukhti lagi.

"Enggak Ve.. Dua delapan. Mba Laras itu gak tau kalo kamu sama aku beda setahun sebenernya..", ralat gua.

"Loch, emang iya ya ? Kok beda setahun ? Bukannya di SMA kalian seangkatan ?", tanya Ibu bingung.

"Iya Mba... Jadi Eza tuh emang harusnya adik kelas aku... Dia kan lahiran delapan sembilan, aku delapan-delapan...", jawab Nona Ukhti.

"Kan aku pernah cerita, Mba... Aku sama Echa itu harusnya beda dua tingkat. Tapi dulu aku masuk TK nya setahun lebih cepet... Makanya waktu sekolah aku sekelas sama angkatan yang lahir delapan-delapan..".

"Ooh iya iya... Mba Lupa, Za...".

"Nah jadi kalo sama kamu, Mba Laras beda enam tahun, Ve..", jawab gua lagi.

"Iya, masih muda ya.. Tapi udah punya anak segede gini, hahaha..", ucap Nona Ukhti seraya menyenggol lengan gua.

"Iya, bonus nih anak dari bapaknya dulu... Hihihihi...", timpal Ibu terkekeh pelan.

"Bonusnya tamvan nan rupawan, gak rugi lah...", jawab gua memasang wajah tengil, yang langsung membuat mereka berdua tertawa lagi.


°°°


Malam hari sekitar pukul setengah sembilan malam. Saat itu Nona Ukhti dan Ibu sudah tidur di kamar bawah. Sedangkan gua berada di kamar atas. Rasa kantuk belum juga menyerang, padahal cuaca masih terasa sangat dingin di luar rumah, walaupun hujan sudah berhenti sekitar pukul delapan tadi.

Gua bangun dari kasur, lalu berjalan keluar kamar dan menuruni tangga. Suasana rumah ini sepi, karena yang lain sudah masuk ke kamarnya dan terlelap dalam mimpi.

Gua melewati ruang makan yang penerangannya redup karena lampu ruangan ini sudah dimatikan, hanya cahaya lampu dari dapurlah yang membuat sekitar ruangan masih cukup jelas terlihat.

Setelah berada di dapur, gua menyeduh secangkir kopi hitam yang dicampur gula. Selesai membuat kopi sendiri, gua berniat kembali ke lantai atas, tapi baru saja gua hendak meninggalkan dapur, yang mana pasti melewati pintu kaca halaman belakang, langkah kaki gua terhenti.

Gua menatap pintu kaca yang gordinnya belum tertutup, gua fikir pasti Bibi lupa menutup gordin itu. Gua berjalan kearah pintu halaman belakang itu. Sebelum gua menarik gordin, pandangan gua secara otomatis menatap kearah luar sana. Dimana terlihat kolam renang dan juga rumah almarhumah istri gua berada.

Entah kenapa, gua tidak jadi menutup gordin, malah membuka kunci pintu kaca tersebut, lalu menggesernya dan melangkahkan kaki keluar menuju halaman belakang rumah.

Gua berjalan ke sisi kolam, lalu menaruh secangkir kopi di meja kayu dalam gazebo, sebelum kembali berjalan menuju rumah almarhumah kedua orang yang gua sayangi.

"Hai.. Assalamualaikum, Cha... Assalamualaikum Jingga...".

Ucap gua setelah berdiri diantara kedua gundukan tanah dihadapan gua. Kedua tangan ini gua selipkan di saku celana. Mata gua bergantian melirik kearah nisan yang berada tepat di depan sana.

Udara malam itu ternyata sangat dingin, hembusan angin yang bertiup di malam hari, ditambah sebelumnya di guyur hujan lebat selama berjam-jam membuat tubuh gua yang tanpa jaket ini bergidik karena hawa dingin tersebut.

"Fuuuuh... Dingin ya..? Kalian kedinginan gak disana ?".

Gua memejamkan mata sesaat, lalu kembali membuka mata ketika mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat dari arah belakang.

"Ve ?", panggil gua pelan tanpa menengok ketika langkah itu berhenti tepat terdengar dibelakang gua.

Tidak ada jawaban dari arah belakang. Gua membalikan tubuh, lalu hati ini...

Degh

Bukan bukan... Jantung ya jantung gua serasa menclos, dan berhenti berdetak.

Karena kenyataannya bukanlah Vera atau Nona Ukhti yang gua fikir mendekati gua tadi, tapi....

Entah, gua hanya bisa menceritakan fikiran dan logika gua pada saat kejadian ini berlangsung.

Siapa yang gua temui ?

Jawabnya bukan siapa-siapa... Yang berarti ? Tidak ada siapapun ternyata dibelakang gua. Ya, gua benar-benar tidak menemukan sosok manusia yang sebelumnya jelas terdengar oleh indra pendengaran gua, bahwa ada langkah kaki seseorang yang berjalan diatas rerumputan. Rerumputan sisi kolam ini.

Kedua tangan gua yang masih berada di dalam saku celana tanpa terasa bergetar, karena terkepal. Nafas gua sedikit memburu. Kemudian gua sapukan pandangan seluas halaman ini. Gua tatap setiap sudutnya, kanan ke kiri, atas dan bawah. Penerangan di halaman belakang ini cukup terang, karena cukup banyak lampu disekitar kolam dan juga sudut halaman.

Lalu gua mendengus kasar dan membalikan lagi tubuh menghadap kearah tempat peristirahatan istri dan anak gua.

Gua menggelengkan kepala dengan cepat. "Enggak.. Enggak... Ini kurang ajar namanya, Cha...", ucap gua dengan menatap nisannya.

"Aku gak terima kalo sampe merekabener-bener maenin aku dan kamu...", lanjut gua dengan menggertakan gigi.

Gua emosi. Ya gua emosi dan tidak terima 'hal semacam' itu menganggu ketenangan halaman belakang ini. Bukan gua berlagak atau sombong. Tapi fikiran gua saat itu, malah berfikir kalo 'hal seperti mereka' sedang mencoba mengusik dan mempermainkan gua, dan gua benar-benar emosi jika 'mereka' menampakkan wujudnya dalam bentuk almarhumah istri gua tercinta. Gua gak rela, benar-benar gak rela.

"Sialan...", umpat gua lalu berjalan masuk kedalam gazebo.

Gua duduk menghadap kearah kolam renang, lalu mengeluarkan sebungkus rokok dan membakarnnya sebatang.

Gua hisap rokok dalam-dalam, dengan tetap menyapukan pandangan ke semua penjuru halaman belakang di hadapan gua itu.

Tidak nampak apapun sejauh mata gua memandang, dan suara-suara disini hanyalah ada suara jangkrik serta tetesan-tetesan air hujan yang jatuh dari genting. Selain suara tersebut, tidak gua dengar hal lainnya seperti suara langkah kaki sebelumnya.

Saat itu gua akui, gua cukup takut sebenarnya, bulukuduk gua pun merinding. Tapi gua tutupi dengan perasaan emosi agar gua berani. Kalau dikatakan apakah gua penakut dengan hal semacam itu, gua jawab tergantung. Bukan gua tidak mau mengakui takut, tapi memang aslinya gua ini orang yang cuek terhadap hal-hal ghaib, gua percaya akan eksistensi mereka di dunia ini. Tapi gua pun tidak mau ambil pusing, selagi mereka tidak menganggu, ya it's ok, rite ?

Andaikan ini bukan di tempat yang khusus untuk istri dan anak gua, mungkin gua sudah tidak perduli dan mencari aman, alias pergi dan memilih untuk menghindari hal semacam ini. Tapi kali ini lain ceritanya. Gua tidak terima mereka mengusik tempat dimana kedua orang yang gua sayangi terbaring di dasar tanah sekian meter.

Rokok yang gua hisap hampir habis, dan itu menandakan cukup lama gua berada disini, dan sejauh itu pula tidak nampak ada hal aneh yang terjadi lagi.

Gua teguk secangkir kopi yang mulai kehilangan rasa panasnya. Baru gua teguk dua kali gua kembali mendengar suara langkah kaki yang memakai sandal, kali ini berasal dari dalam rumah.

Gua menengok kearah pintu halaman belakang di sisi kiri dari dalam gazebo ini.

Seorang perempuan berhenti tepat di ambang pintu itu, menatap kearah gua dengan keheranan.

"Eza ?", ucapnya terkejut. "Ngapain kamu disitu malem-malem ?", lanjutnya.

"Mba... Tolong ambilin Al-Qur'an...", jawab gua singkat.
Diubah oleh glitch.7 04-10-2017 03:39
dany.agus
fatqurr
kifif
kifif dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.