- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#3039
Sebelum Cahaya
PART VIII
"Jadi lelaki itu harus bertanggungjawab, Za.. Gak bisa kamu seperti itu..".
Gua mengangguk pelan sambil tertunduk, lalu mendelikan mata untuk menatap wajah Beliau. "Maaf Tante.. Saya enggak sengaja, iya saya akui juga saya salah... Maaf sekali lagi..", jawab gua pada akhirnya.
Beliau menggelengkan kepalanya, lalu menghela nafas dengan pelan. "Jangan diulangi lagi seperti itu, Za.. Tante gak suka".
"Iya Tan, maaf sekali lagi, saya bener-bener minta maaf...".
Siang ini, gua sedang duduk di sofa nan empuk pada ruang tamu rumah yang amat mewah. Tapi segala kenyamanan di dalam rumah ini berbanding terbalik dengan perasaan yang ada di dalam hati gua.
Perasaan bersalah dan tidak enak hati ini karena tindakan gua semalam yang membiarkan anak bungsunya itu pulang berjalan kaki sendirian ke rumahnya, yang langsung saja membuat blackberry gua berdering tanpa berhenti ketika pukul sepuluh pagi tadi. Dan apesnya lagi, nomor yang menelpon gua bukanlah nomor handphone milik anaknya, melainkan sang Mamah langsung. Karena itulah yang awalnya gua malas-malasan membuka mata karena masih sangat ngantuk, tiba-tiba memiliki kesadaran seratus persen ketika mendengar suara Beliau.
"Ya sudah, kamu mau makan siang bareng sama kami ?", tanya Beliau kali ini lebih ramah.
"Makasih Tante, nanti aja di rumah...", jawab gua sambil tersenyum.
"Di rumah ? Oooh...", tiba-tiba anak bungsunya itu menimpali, dengan wajah sinisnya.
Gleuk...Gua menelan ludah, salah ucap lagi nih.
"Udah makan bareng aja sama Tante dan Ay disini, Tante bikin ayam goreng sama sayur sop, yu ke ruang makan, Za..", ajak Mamahnya seraya bangkit dari duduknya lalu berjalan kearah meja makan di sisi lain rumah.
Gua menyandarkan punggung ke bahu sofa lalu menghela nafas dengan kasar.
"Makanyaaa... Kalo jadi cowok tuh harus bertanggungjawab. Jangan suka biarin anak perawan pulang tengah malem sendirian. Huh!".
Haduh haduh buyung, apes banget gua hari ini.
"Iya iya, maaf banget Ay... Beneran maaf deh ya..".
"Tau ah!", sungutnya seraya menaikkan satu kaki ke kaki lainnya lalu melipat kedua tangannya di depan dada dan memalingkan wajah.
Aissshh... Judes banget deh nih bidadari...
Gua berdiri lalu berjalan ke sofa sebrang, dimana Helen duduk dengan mode judesnya itu. Gua duduk tepat disampingnya, yang mana kini dia sudah memunggungi gua karena masih marah.
"Cantik... Maafin aku ya, asli aku beneran gak kepikiran anter kamu gara-gara abis kamu gampar, Ay..".
"Oooh jadi maksudnya karena aku tampar semalem ngebuat kamu marah ? Terus ngebiarin aku pulang sendiri gitu ?! Iya ?!", semakin emosi ini bidadari walaupun kini dia sudah membalikan badannya untuk bertatapan dengan gua.
"Bukan bukan... Aku blank.. Gak kepikiran jadinya untuk anter kamu, maksud aku... Aku mikirnya karena tinggal jalan kaki jadi aku lupa untuk anterin kamu pulang Ay... Maaf ya maaf, beneran maaf banget...".
"Tau ah! Kesel aku pokoknya sama kamu!!", sentaknya seraya berdiri lalu berjalan meninggalkan gua yang masih pusing karena kurang tidur.
Tidak lama kemudian suara sang Mamah kembali terdengar, memanggil nama gua untuk ikut bergabung ke ruang makan. Akhirnya gua pun dengan langkah gontai berjalan ke ruang makan dan duduk di samping Helen.
...
Selesai makan siang, sang Mamah pergi ke lantai dua, mungkin ke kamarnya. Sedangkan gua dan Helen kini duduk di dekat kolam renang, di halaman samping rumahnya ini.
"Ay... Abis makan nih, boleh ya sebatang...", ucap gua meminta izin, karena sebenarnya yang gua sungkan kan adalah tempat dimana gua berada. Bukan di rumah gua.
"Terserah...", jawabnya pelan tanpa sedikitpun menengok kepada gua.
Gua bakar sebatang rokok sambil menyandarkan punggung ke bahu kursi berbahan kayu. Gua menghisap dalam-dalam rokok light, lalu menghembuskannya ke udara. Tidak ada yang berbicara diantara kami berdua, hanya suara riak air di depan kami lah pemecah keheningan siang ini.
Helen menopang dagunya dengan satu tangan kanan, matanya menatap kearah kolam renang di depan sana, sayu. Tak ada ekspresi riang seperti biasanya. Sedangkan gua hanya bisa terdiam sambil menikmati sang racun.
Bukan gua tidak ingin merayu atau mulai mengajaknya berbicara. Tapi kalian pasti tau, dimana kondisi tubuh saat kurang tidur tapi dibangunkan oleh suara emosi dari seseorang, yang pada akhirnya gua harus datang ke rumahnya, lalu kena omel oleh Mamahnya juga.
Pusing di kepala masih terasa, belum lagi rasa kantuk yang menyerang, ditambah sebelumnya ini perut di isi makanan, lengkap sudah rasa kantuk yang bertubi-tubi menyerang pusat saraf di otak ini.
"Kak..".
".....".
"Kak...".
".....".
Senyap.
"KAK!!!".
"ASTAGFIRULLAH!! Kenapa, Ay ? Kenapa kenapa ?!!", jawab gua panik seraya terperanjat hingga rokok yang terselip di kedua jari terlepas.
"Iissh!! Tau ah!!", sungutnya dan kembali memalingkan wajah.
Gua mengusap-usap wajah, lalu memukul-mukul dada sendiri dengan cukup keras. Gua kaget bray! Aseellliii... Kaget gua denger suara menggelegar si Helen tadi. Masalahnya tadi gua udah mau masuk ke alam mimpi.
Gua mengatur nafas perlahan, menetralisirkan rasa kaget yang masih terasa, kemudian gua teguk air mineral yang memang tersedia sedari tadi.
"Ay, maafin aku.. Aku ngantuk banget ini.. Pusing banget ini kepala aku, Ay...", jawab gua dengan suara memelas.
Bukan mendramatisir, tapi memang gua merasakan pusing, tubuh yang lemas dan rasa kantuk yang menggelayut. Tanpa gua sadari, kepala gua bertopang ke punggung tangan yang berada diatas meja kayu ini, lalu kedua kelopak mata gua menutup pelan, kemudian kesadaran gua pun perlahan-lahan menghilang ditelan rasa kantuk yang teramat sangat.
...
...
...
Entah sudah berapa lama gua tertidur, yang jelas gua terbangun ketika mendengar suara dari beberapa orang yang cukup berisik. Gua buka mata perlahan untuk melihat keadaan sekitar.
Loch.. Ada Nona Ukhti ? Mimpikah gua...?.
Gua kerjapkan mata beberapa kali hingga sedikit demi sedikit kesadaran gua pulih.
"Zaaa.... Kamu enggak apa-apa kan ?", tanya Nona Ukhti yang melangkah mendekat dan memegangi kening gua dengan telapak tangannya.
Gua hanya mengangkat kepala sedikit dan rasanya... Sakit bukan kepalang, ya rasa sakit akibat pusing yang gua rasakan sebelumnya ternyata belum juga hilang. Gua sampai menggertakan gigi untuk menahan rasa sakit di kepala ini.
"Udah udah, kita bawa Eza ke dokter aja...", ucap suara wanita lain yang ternyata adalah Mamahnya Helen.
"Yaudah ayo Kak, kita bawa ke mobil dulu...", ucap Helen kali ini kepada Nona Ukhti.
"Za, kamu bisa berdiri enggak ? Bisa jalan dulu gak Za sebentar ke depan ?", tanya Nona Ukhti dengan nada khawatirnya.
"Sebentar-sebentar... Uuuhh.. Ssshh... Sakit banget ini kepala aku.. Sshhh..", jawab gua dengan mengerenyitkan kening dan mata yang terpejam karena menahan sakit di kepala.
"Ya Allah... Badannya panas banget ini!!", ucap Nona Ukhti lagi, yang kali ini sudah memegangi lengan kanan gua.
"Aku panggil Pak Yanto dulu kalo gitu...", timpal Helen yang hendak memanggil satpam komplek rumah.
"Enggak usah... Awww.. Ssshh.. Aku.. Aku bisa jalan kok... Aduh duh..", jawab gua berusaha berdiri dengan nada suara yang meringis.
Nona Ukhti langsung memegangi sisi tubuh gua, membantu gua agar bisa berdiri dan berjalan.
"Udah gak apa-apa, Kak... Aku panggil Pak Yanto dulu ya...", ucap Helen lagi yang hendak kembali berjalan keluar.
"Enggak usah, Ay... Aku bisa jalan ke depan kok.. Udah gak usah panggil satpam..".
Akhirnya dengan perlahan dan menahan rasa sakit di kepala, gua pun berjalan keluar dari halaman samping ini ke halaman depan rumah Helen. Tentu saja gua berjalan dengan dibantu oleh Nona Ukhti.
Helen sudah menyalakan mesin mobil sedan miliknya, gua dan Nona Ukhti duduk di belakang, sedangkan Mamahnya duduk di depan bersama sang anak bungsunya itu.
Sepanjang perjalanan.... Gua menahan sakit di kepala. Tapi... Posisinya gua rebahan di paha Nona Ukhti, bukan mau gua, inget bukan mau gua loch ya. Karena Nona Ukhti sendiri yang menarik gua dengan lembut agar gua berbaring dan menyandarkan kepala ini di pahanya itu. Ya gua kan lagi sakit, masa iya sih melawan dan nolak. Bukan maksud nyari kesempatan, apalah daya gua yang sedang lemah dan tak berdaya menahan pusing di kepala. (Elu semua gak usah cengar-cengir Gais bacanya... -_-).
Dan laki-laki itu emang tempatnya salah dimata wanita, mau sakit kek mau sehat kek, bodo amat, yang penting wanita selalu bener.
Gua sempat melihat kearah spion dalam mobil, melihat dia... Iya dia... Si bidadari yang sedang mengemudikan mobil ini melirik, menatap gua juga dari kaca spion itu. Matanya sinis dengan bibir yang cemberut. Apalagi ditambah sikap Nona Ukhti yang mengelus-elus rambut dan kening gua sepanjang perjalanan. Makin-makin dah itu bidadari menahan emosinya...
Singkat cerita akhirnya kami berempat telah sampai di sebuah klinik umum. Sore itu gua dinyatakan sakit, panas tinggi disertai migran. Ini akibat gua begadang semalam yang lebih parahnya terkena angin malam, karena tidur di kursi teras depan rumah. Setelah menebus obat dan membayarnya, gua dibolehkan pulang.
"Za.. Beli bubur dulu ya.. Kamu harus isi makanan lagi..", ucap Nona Ukhti yang daritadi tidak melepaskan tangannya dari lengan gua selama turun dari mobil Helen hingga kami keluar lagi dari Klinik ini.
"Duh, jangan bubur deh, gak kenyang, Ve... Aku pingin...", ucapan gua terhenti sesaat ketika baru saja keluar dari klinik.
"Mau apa, Za ?", tanya Nona Ukhti lagi.
"Ay... Kamu udah pernah nyobain tempura kah ?", tanya gua kepada Helen yang daritadi berdiri di hadapan gua dan Nona Ukhti.
Helen mengangguk tanpa bersuara dan memberikan ekspresi dingin.
"Yaudah Ve... Kalo gitu ke Jakarta ya..", ucap gua kepada Nona Ukhti lagi.
"Loch ? Kok ke Jakarta ? Kalo cuma tempura kan ada di HM sini, Za...", jawab Nona Ukhti keheranan.
"Kok jauh-jauh ke Jakarta, lagian kamu kan lagi sakit, Kak..", timpal Helen kali ini.
"Udah enggak apa-apa, nanti juga sembuh abis makan tempura spesial...", jawab gua kepada mereka berdua. "Kamu, Ve... Kayak enggak tau aja resto mana yang aku maksud.. Hehehe..", lanjut gua melirik kepada Nona Ukhti lagi yang langsung membuatnya tersenyum sangat manis.
Toko sebelah senyum manis, Toko depan menatap sinis... Heuuhh... Cewe tuh yaaaa...
...
Kami berempat akhirnya sampai di sebuah Mall di ibu kota, dan langsung menuju lantai dimana resto khas makanan Jepang berada. Setelah memesan menu yang kami pilih masing-masing, kami mengobrol tentang kepulangan Nona Ukhti kemarin malam, itu semua karena Mamahnya Helen yang aktif bertanya, gua tidak tahu apakah sang Mamah mengetahui hubungan macam apa antara gua dan anak bungsunya kini, karena jauh sebelum gua bertemu kembali dengan anak bungsunya itu, Beliau sempat mengetahui tentang siapa Nona Ukhti bagi gua dari anak sulungnya, Luna.
Tapi gua bersyukur, karena Mamahnya itulah, suasana kebersamaan tanpa ada rasa permusuhan diantara dua perempuan cantik diantara kami tidak begitu menunjukkan gelagat siaga satu untuk gua. Setidaknya untuk sementara ini...
Makanan sudah hampir habis ketika kami menyantapnya sambil asyik mengobrol, hingga Nona Ukhti mengingat satu kejadian beberapa tahun lalu.
"Tante, Eza tuh paling tau kalo aku suka sama tempura. Sama kayak almarhumah istrinya dulu..", ucap Nona Ukhti sambil mengelap bibirnya dengan sebuah tissue.
"Oh ya ? Tante baru tau kalo Echa suka masakan ini... Banyak persamaan kah antara kamu dan Echa ?", tanya Beliau.
"Mungkin Tan.. Tanya Eza aja, dia yang jauh lebih kenal mendiang istrinya...", jawab Nona Ukhti seraya menengok kepada gua yang duduk di sampingnya.
Gua mengangguk pelan sambil tertunduk, lalu mendelikan mata untuk menatap wajah Beliau. "Maaf Tante.. Saya enggak sengaja, iya saya akui juga saya salah... Maaf sekali lagi..", jawab gua pada akhirnya.
Beliau menggelengkan kepalanya, lalu menghela nafas dengan pelan. "Jangan diulangi lagi seperti itu, Za.. Tante gak suka".
"Iya Tan, maaf sekali lagi, saya bener-bener minta maaf...".
Siang ini, gua sedang duduk di sofa nan empuk pada ruang tamu rumah yang amat mewah. Tapi segala kenyamanan di dalam rumah ini berbanding terbalik dengan perasaan yang ada di dalam hati gua.
Perasaan bersalah dan tidak enak hati ini karena tindakan gua semalam yang membiarkan anak bungsunya itu pulang berjalan kaki sendirian ke rumahnya, yang langsung saja membuat blackberry gua berdering tanpa berhenti ketika pukul sepuluh pagi tadi. Dan apesnya lagi, nomor yang menelpon gua bukanlah nomor handphone milik anaknya, melainkan sang Mamah langsung. Karena itulah yang awalnya gua malas-malasan membuka mata karena masih sangat ngantuk, tiba-tiba memiliki kesadaran seratus persen ketika mendengar suara Beliau.
"Ya sudah, kamu mau makan siang bareng sama kami ?", tanya Beliau kali ini lebih ramah.
"Makasih Tante, nanti aja di rumah...", jawab gua sambil tersenyum.
"Di rumah ? Oooh...", tiba-tiba anak bungsunya itu menimpali, dengan wajah sinisnya.
Gleuk...Gua menelan ludah, salah ucap lagi nih.
"Udah makan bareng aja sama Tante dan Ay disini, Tante bikin ayam goreng sama sayur sop, yu ke ruang makan, Za..", ajak Mamahnya seraya bangkit dari duduknya lalu berjalan kearah meja makan di sisi lain rumah.
Gua menyandarkan punggung ke bahu sofa lalu menghela nafas dengan kasar.
"Makanyaaa... Kalo jadi cowok tuh harus bertanggungjawab. Jangan suka biarin anak perawan pulang tengah malem sendirian. Huh!".
Haduh haduh buyung, apes banget gua hari ini.
"Iya iya, maaf banget Ay... Beneran maaf deh ya..".
"Tau ah!", sungutnya seraya menaikkan satu kaki ke kaki lainnya lalu melipat kedua tangannya di depan dada dan memalingkan wajah.
Aissshh... Judes banget deh nih bidadari...

Gua berdiri lalu berjalan ke sofa sebrang, dimana Helen duduk dengan mode judesnya itu. Gua duduk tepat disampingnya, yang mana kini dia sudah memunggungi gua karena masih marah.
"Cantik... Maafin aku ya, asli aku beneran gak kepikiran anter kamu gara-gara abis kamu gampar, Ay..".
"Oooh jadi maksudnya karena aku tampar semalem ngebuat kamu marah ? Terus ngebiarin aku pulang sendiri gitu ?! Iya ?!", semakin emosi ini bidadari walaupun kini dia sudah membalikan badannya untuk bertatapan dengan gua.
"Bukan bukan... Aku blank.. Gak kepikiran jadinya untuk anter kamu, maksud aku... Aku mikirnya karena tinggal jalan kaki jadi aku lupa untuk anterin kamu pulang Ay... Maaf ya maaf, beneran maaf banget...".
"Tau ah! Kesel aku pokoknya sama kamu!!", sentaknya seraya berdiri lalu berjalan meninggalkan gua yang masih pusing karena kurang tidur.
Tidak lama kemudian suara sang Mamah kembali terdengar, memanggil nama gua untuk ikut bergabung ke ruang makan. Akhirnya gua pun dengan langkah gontai berjalan ke ruang makan dan duduk di samping Helen.
...
Selesai makan siang, sang Mamah pergi ke lantai dua, mungkin ke kamarnya. Sedangkan gua dan Helen kini duduk di dekat kolam renang, di halaman samping rumahnya ini.
"Ay... Abis makan nih, boleh ya sebatang...", ucap gua meminta izin, karena sebenarnya yang gua sungkan kan adalah tempat dimana gua berada. Bukan di rumah gua.
"Terserah...", jawabnya pelan tanpa sedikitpun menengok kepada gua.
Gua bakar sebatang rokok sambil menyandarkan punggung ke bahu kursi berbahan kayu. Gua menghisap dalam-dalam rokok light, lalu menghembuskannya ke udara. Tidak ada yang berbicara diantara kami berdua, hanya suara riak air di depan kami lah pemecah keheningan siang ini.
Helen menopang dagunya dengan satu tangan kanan, matanya menatap kearah kolam renang di depan sana, sayu. Tak ada ekspresi riang seperti biasanya. Sedangkan gua hanya bisa terdiam sambil menikmati sang racun.
Bukan gua tidak ingin merayu atau mulai mengajaknya berbicara. Tapi kalian pasti tau, dimana kondisi tubuh saat kurang tidur tapi dibangunkan oleh suara emosi dari seseorang, yang pada akhirnya gua harus datang ke rumahnya, lalu kena omel oleh Mamahnya juga.
Pusing di kepala masih terasa, belum lagi rasa kantuk yang menyerang, ditambah sebelumnya ini perut di isi makanan, lengkap sudah rasa kantuk yang bertubi-tubi menyerang pusat saraf di otak ini.
"Kak..".
".....".
"Kak...".
".....".
Senyap.
"KAK!!!".
"ASTAGFIRULLAH!! Kenapa, Ay ? Kenapa kenapa ?!!", jawab gua panik seraya terperanjat hingga rokok yang terselip di kedua jari terlepas.
"Iissh!! Tau ah!!", sungutnya dan kembali memalingkan wajah.
Gua mengusap-usap wajah, lalu memukul-mukul dada sendiri dengan cukup keras. Gua kaget bray! Aseellliii... Kaget gua denger suara menggelegar si Helen tadi. Masalahnya tadi gua udah mau masuk ke alam mimpi.

Gua mengatur nafas perlahan, menetralisirkan rasa kaget yang masih terasa, kemudian gua teguk air mineral yang memang tersedia sedari tadi.
"Ay, maafin aku.. Aku ngantuk banget ini.. Pusing banget ini kepala aku, Ay...", jawab gua dengan suara memelas.
Bukan mendramatisir, tapi memang gua merasakan pusing, tubuh yang lemas dan rasa kantuk yang menggelayut. Tanpa gua sadari, kepala gua bertopang ke punggung tangan yang berada diatas meja kayu ini, lalu kedua kelopak mata gua menutup pelan, kemudian kesadaran gua pun perlahan-lahan menghilang ditelan rasa kantuk yang teramat sangat.
...
...
...
Entah sudah berapa lama gua tertidur, yang jelas gua terbangun ketika mendengar suara dari beberapa orang yang cukup berisik. Gua buka mata perlahan untuk melihat keadaan sekitar.
Loch.. Ada Nona Ukhti ? Mimpikah gua...?.
Gua kerjapkan mata beberapa kali hingga sedikit demi sedikit kesadaran gua pulih.
"Zaaa.... Kamu enggak apa-apa kan ?", tanya Nona Ukhti yang melangkah mendekat dan memegangi kening gua dengan telapak tangannya.
Gua hanya mengangkat kepala sedikit dan rasanya... Sakit bukan kepalang, ya rasa sakit akibat pusing yang gua rasakan sebelumnya ternyata belum juga hilang. Gua sampai menggertakan gigi untuk menahan rasa sakit di kepala ini.
"Udah udah, kita bawa Eza ke dokter aja...", ucap suara wanita lain yang ternyata adalah Mamahnya Helen.
"Yaudah ayo Kak, kita bawa ke mobil dulu...", ucap Helen kali ini kepada Nona Ukhti.
"Za, kamu bisa berdiri enggak ? Bisa jalan dulu gak Za sebentar ke depan ?", tanya Nona Ukhti dengan nada khawatirnya.
"Sebentar-sebentar... Uuuhh.. Ssshh... Sakit banget ini kepala aku.. Sshhh..", jawab gua dengan mengerenyitkan kening dan mata yang terpejam karena menahan sakit di kepala.
"Ya Allah... Badannya panas banget ini!!", ucap Nona Ukhti lagi, yang kali ini sudah memegangi lengan kanan gua.
"Aku panggil Pak Yanto dulu kalo gitu...", timpal Helen yang hendak memanggil satpam komplek rumah.
"Enggak usah... Awww.. Ssshh.. Aku.. Aku bisa jalan kok... Aduh duh..", jawab gua berusaha berdiri dengan nada suara yang meringis.
Nona Ukhti langsung memegangi sisi tubuh gua, membantu gua agar bisa berdiri dan berjalan.
"Udah gak apa-apa, Kak... Aku panggil Pak Yanto dulu ya...", ucap Helen lagi yang hendak kembali berjalan keluar.
"Enggak usah, Ay... Aku bisa jalan ke depan kok.. Udah gak usah panggil satpam..".
Akhirnya dengan perlahan dan menahan rasa sakit di kepala, gua pun berjalan keluar dari halaman samping ini ke halaman depan rumah Helen. Tentu saja gua berjalan dengan dibantu oleh Nona Ukhti.
Helen sudah menyalakan mesin mobil sedan miliknya, gua dan Nona Ukhti duduk di belakang, sedangkan Mamahnya duduk di depan bersama sang anak bungsunya itu.
Sepanjang perjalanan.... Gua menahan sakit di kepala. Tapi... Posisinya gua rebahan di paha Nona Ukhti, bukan mau gua, inget bukan mau gua loch ya. Karena Nona Ukhti sendiri yang menarik gua dengan lembut agar gua berbaring dan menyandarkan kepala ini di pahanya itu. Ya gua kan lagi sakit, masa iya sih melawan dan nolak. Bukan maksud nyari kesempatan, apalah daya gua yang sedang lemah dan tak berdaya menahan pusing di kepala. (Elu semua gak usah cengar-cengir Gais bacanya... -_-).
Dan laki-laki itu emang tempatnya salah dimata wanita, mau sakit kek mau sehat kek, bodo amat, yang penting wanita selalu bener.
Gua sempat melihat kearah spion dalam mobil, melihat dia... Iya dia... Si bidadari yang sedang mengemudikan mobil ini melirik, menatap gua juga dari kaca spion itu. Matanya sinis dengan bibir yang cemberut. Apalagi ditambah sikap Nona Ukhti yang mengelus-elus rambut dan kening gua sepanjang perjalanan. Makin-makin dah itu bidadari menahan emosinya...

Singkat cerita akhirnya kami berempat telah sampai di sebuah klinik umum. Sore itu gua dinyatakan sakit, panas tinggi disertai migran. Ini akibat gua begadang semalam yang lebih parahnya terkena angin malam, karena tidur di kursi teras depan rumah. Setelah menebus obat dan membayarnya, gua dibolehkan pulang.
"Za.. Beli bubur dulu ya.. Kamu harus isi makanan lagi..", ucap Nona Ukhti yang daritadi tidak melepaskan tangannya dari lengan gua selama turun dari mobil Helen hingga kami keluar lagi dari Klinik ini.
"Duh, jangan bubur deh, gak kenyang, Ve... Aku pingin...", ucapan gua terhenti sesaat ketika baru saja keluar dari klinik.
"Mau apa, Za ?", tanya Nona Ukhti lagi.
"Ay... Kamu udah pernah nyobain tempura kah ?", tanya gua kepada Helen yang daritadi berdiri di hadapan gua dan Nona Ukhti.
Helen mengangguk tanpa bersuara dan memberikan ekspresi dingin.
"Yaudah Ve... Kalo gitu ke Jakarta ya..", ucap gua kepada Nona Ukhti lagi.
"Loch ? Kok ke Jakarta ? Kalo cuma tempura kan ada di HM sini, Za...", jawab Nona Ukhti keheranan.
"Kok jauh-jauh ke Jakarta, lagian kamu kan lagi sakit, Kak..", timpal Helen kali ini.
"Udah enggak apa-apa, nanti juga sembuh abis makan tempura spesial...", jawab gua kepada mereka berdua. "Kamu, Ve... Kayak enggak tau aja resto mana yang aku maksud.. Hehehe..", lanjut gua melirik kepada Nona Ukhti lagi yang langsung membuatnya tersenyum sangat manis.
Toko sebelah senyum manis, Toko depan menatap sinis... Heuuhh... Cewe tuh yaaaa...

...
Kami berempat akhirnya sampai di sebuah Mall di ibu kota, dan langsung menuju lantai dimana resto khas makanan Jepang berada. Setelah memesan menu yang kami pilih masing-masing, kami mengobrol tentang kepulangan Nona Ukhti kemarin malam, itu semua karena Mamahnya Helen yang aktif bertanya, gua tidak tahu apakah sang Mamah mengetahui hubungan macam apa antara gua dan anak bungsunya kini, karena jauh sebelum gua bertemu kembali dengan anak bungsunya itu, Beliau sempat mengetahui tentang siapa Nona Ukhti bagi gua dari anak sulungnya, Luna.
Tapi gua bersyukur, karena Mamahnya itulah, suasana kebersamaan tanpa ada rasa permusuhan diantara dua perempuan cantik diantara kami tidak begitu menunjukkan gelagat siaga satu untuk gua. Setidaknya untuk sementara ini...
Makanan sudah hampir habis ketika kami menyantapnya sambil asyik mengobrol, hingga Nona Ukhti mengingat satu kejadian beberapa tahun lalu.
"Tante, Eza tuh paling tau kalo aku suka sama tempura. Sama kayak almarhumah istrinya dulu..", ucap Nona Ukhti sambil mengelap bibirnya dengan sebuah tissue.
"Oh ya ? Tante baru tau kalo Echa suka masakan ini... Banyak persamaan kah antara kamu dan Echa ?", tanya Beliau.
"Mungkin Tan.. Tanya Eza aja, dia yang jauh lebih kenal mendiang istrinya...", jawab Nona Ukhti seraya menengok kepada gua yang duduk di sampingnya.
Gua mengambil teh ocha hangat sebelum menjawab pertanyaan mereka berdua. Lalu menyumpit menu salah satu tempura yang berisi udang dengan balutan tepung, untuk kemudian gua berikan kepada Helen yang duduk di depan gua, tepat disamping Mamahnya.
"Cobain, Ay... Enak kok, jangan lupa pake soy sauce nya...", ucap gua kepada Helen yang melirik sebentar kepada gua.
"Makasih, Kak...", jawabnya pelan, kemudian mulai mencicipi udang tempura tadi.
"Ehm... Kalo soal Vera dengan Echa... Mmm.. Ya memang cukup banyak beberapa sifat yang sama diantara mereka berdua, Tan..", jawab gua kini menengok ke samping Helen, dimana sang Mamah duduk sambil tersenyum mendengar jawaban gua.
"Contohnya apa, Za ?", tanya Beliau lagi seraya mengambil gelas berisi minuman bersoda pesanannya.
"Ya kayak makanan ini, Echa dan Vera sama-sama suka tempura, kalo hal lainnya... Mmm.. Ah iya..", gua teringat sesuatu, lalu melirik dan tersenyum kepada perempuan berhijab di samping gua itu, sesaat sebelum melanjutkan kembali ucapan gua. "Mereka sama-sama penyuka bunga, bedanya... Echa suka bunga mawar, dan Vera suka bunga Lily...", tandas gua.
"Hmm.. Gitu ya, berarti seneng dong ya ? Maksud Tante, seenggaknya ada hal-hal yang baik yang mereka miliki berdua dan hampir sama...", ucap Beliau lagi setelah meminum minumannya itu.
"Yaa... Gitulah, Tan..", jawab gua singkat seraya tersenyum dan berganti, kini gua yang kembali meminum teh ocha hangat.
"Kalo anak Tante yang satu ini gimana, Za ?", tanyanya seraya melirik kepada anak bungsunya. "Apa ada yang sama seperti Echa dan kamu senengin dari sikapnya ?", pertanyaannya kali ini lebih terdengar seperti sebuah introgasi dan keingintahuan yang tinggi.
"Uhuuuk... Uhuk.. Uhuk..".
"Aduh.. Pelan-pelan dong, Za.. Kok bisa batuk sih minum teh anget doang juga.. Pelan-pelan ih..", ucap Nona Ukhti sambil mengusap-usap tengkuk gua.
Gua mengambil tissue dan mengelap mulut yang sedikit basah karena terbatuk, sampai minuman yang hampir masuk ke kerongkongan keluar kembali.
"Biasa aja kali, gak usah sok kaget gitu...", timpal Helen dengan nada pelan, tapi masih cukup terdengar oleh gua.
Gua berdeham sesaat, agar tenggorokan yang terasa tercekat kembali lega.
Sebentar... What a fakin' moment right now, dude ?
"Udah batuknya ?", tanya Beliau dengan tersenyum ramah kepada gua.
"Udah bisa jawab sekarang, Za ?", lanjutnya dengan tetap tersenyum ra-mah.
Pernah berada di situasi seperti ini, hah ? Ditanya di depan perempuan yang sama-sama lu suka, lu sayang ? Dan lagi... Yang nanya salah satu orangtua mereka. Amazing bagi gua saat itu. Pilihan bijak diam seribu bahasa ? Oh tentu saja bukan.. Jawab dengan jujur adalah pilihan terbaik bagi gua.
"Oke, Tan... Saya pribadi suka dengan anak bungsu Tante ini..", jawab gua tanpa ragu seraya menatap lekat-lekat Helen yang tiba-tiba saja terdiam dan menghentikan suapannya itu setelah mendengar jawaban gua.
Lalu gua kembali menengok kepada sang Mamah.
"Saya suka dengan pola pikir Helen yang bebas, yang enggak pernah mempermasalahkan masa lalu seseorang, apalagi masa lalu yang buruk..", lanjut gua, kemudian gua menaruh kedua tangan diatas meja makan. "Dibalik sifatnya yang manja, pecemburu, dan pemarah... Dia adalah perempuan yang sangat baik juga optimis...", ucap gua lagi tanpa tersenyum sedikitpun dan kembali menatap Helen.
Bidadari itu cemberut sambil menundukkan wajahnya.
"Dan yang terpenting dari semua itu... Saya tau dia perempuan yang setia kepada pasangannya.. Ya saya yakin akan hal itu, Tan..", gua masih menatap lekat-lekat anak bungsunya itu.
"Penilaian yang bagus, anak ini memang manja, karena dia anak bungsu, Za.. Tapi dia sangat baik, bukan Tante ingin membanggakan anak sendiri, tapi kamu juga tau apa yang dia 'yakini'berbeda dengan kita bertiga...", ucap Beliau seraya melirik gua dan Vera. "Tapi hal tersebut tidak pernah membuatnya merubah sikap kepada keluarganya, kepada teman-temannya dan juga kepada orang lain..".
Kemudian Beliau tersenyum penuh arti kepada gua dan Helen, sebelum kembali bertanya.
"Jadi... Apa Helen termasuk perempuan yang akan kamu pilih seperti Echa, Za ?".
Helen terkejut mendengar ucapan Mamahnya itu, hingga ia menengok dan menggeleng pelan, hanya untuk menandakan bahwa seharusnya sang Mamah tidak perlu menanyakan hal seperti itu kepada gua dihadapan Nona Ukhti.
Gua menengok kepada Nona Ukhti sesaat, melihat wajahnya yang tampak menunggu jawaban gua juga seperti Helen dan sang Mamah.
Gua tersenyum, mengambil nafas perlahan, mencoba meyakinkan diri gua, bahwa apa yang akan gua ucapkan ini adalah yang terbaik untuk semuanya. Ya semoga...
"Saya laki-laki, Tante.. Dan saya akui, mungkin ini adalah ego terbesar saya sebelum benar-benar melepas status duda saya..", gua melipat kedua tangan diatas meja, dan mencondongkan tubuh kedepan. "Saya dan Helen memiliki jalan masing-masing, saya enggak mau menjadi orang yang menghambatnya untuk sukses dan menyelesaikan kuliahnya... Ada beberapa hal yang harus kami pertimbangkan untuk melangkah ke hubungan yang lebih serius dari itu semua, dan saya yakin, seperti yang Tante bilang sebelumnya, hal yang benar-benar penting untuk Helen dan saya adalah masalah keyakinan...".
Beliau menatap gua serius, dan anak bungsunya itu mulai tertunduk, hingga beberapa helai rambut poninya menutupi wajahnya yang sendu.
"Saya memilih untuk menikah tahun ini, dan Helen baru akan menyelesaikan kuliahnya tahun depan di Jerman...", gua meraih tangan bidadari cantik itu yang berada diatas meja, tepat di depan gua.
Mengusap perlahan punggung tangannya. "Aku akan menikahi Vera... Dan...".
Ay... Ini isi hati aku saat aku mengucapkan kalimat itu ke kamu dan dihadapan Mamah. Aku tau kamu hancur, sakit, dan kecewa. Tapi apa kamu tau juga ? Betapa berat rasanya harus mengucapkan itu semua, Ay. Enggak ada niat sedikitpun untuk membuat kamu seperti itu di depan Mamah dan Vera. Aku sama dengan kamu. Merasakan sakit yang sama dan hancur. Aku minta maaf untuk hal itu. Maaf, Ay.. Maaf...
"Dan kamu.. Harus tetap berjalan walaupun semuanya terasa berat, Ay.. Aku yakin, kelak kamu akan menemukan pasangan yang terbaik, lebih baik dari aku... Maaf untuk semuanya, Ay... Dan terimakasih..".
Dia menaikkan wajahnya, menatap gua dengan derai airmata yang sudah tertumpah, lalu berdiri dan berlari pergi meninggalkan kami semua yang masih duduk di dalam resto ini.
"Za.. Tante paham kenapa kamu memilih Vera, maaf bukan maksud saya untuk memaksa kamu memilih, tapi karena saya tau dari awal kalo kamu cepat atau lambat akan meninggalkan Helen dan memilih Vera. Saya tau Vera yang akan kamu pilih. Maafin Tante ya Za... Vera..", ucap Beliau lalu berdiri dan hendak mengejar anak bungsunya.
Baru saja Beliau melewati Vera, ia kembali berucap...
"Za, semoga bahagia dengan Vera ya, begitupun kamu Vera.. Dan soal Helen, biar saya yang ngomong...", ucapnya sebelum kembali berjalan cepat untuk kembali mengejar anaknya itu.
Dugh.. Gua menghempaskan kepala ini keatas meja makan.
Sebuah usapan lembut pada punggung gua terasa lebih dari cukup untuk meredam tangis yang hampir keluar membasahi pipi ini.
"Za.. Kok kamu ngomong gitu ke Helen ?", tanya Nona Ukhti dengan heran.
Gua kembali menegakkan posisi duduk dan menatap langit-langit resto ini. Gua tau airmata ini nyaris saja tertumpah. Kemudian gua menelan ludah dan menghirup udara dalam-dalam.
"Karena aku mau nepatin janji aku, Ve...".
"Janji ? Janji apa ?".
Gua menengok kepadanya, menatap matanya lekat-lekat seraya mengusap lembut pipinya dengan tangan kanan ini.
"I will marry you...".
"Cobain, Ay... Enak kok, jangan lupa pake soy sauce nya...", ucap gua kepada Helen yang melirik sebentar kepada gua.
"Makasih, Kak...", jawabnya pelan, kemudian mulai mencicipi udang tempura tadi.
"Ehm... Kalo soal Vera dengan Echa... Mmm.. Ya memang cukup banyak beberapa sifat yang sama diantara mereka berdua, Tan..", jawab gua kini menengok ke samping Helen, dimana sang Mamah duduk sambil tersenyum mendengar jawaban gua.
"Contohnya apa, Za ?", tanya Beliau lagi seraya mengambil gelas berisi minuman bersoda pesanannya.
"Ya kayak makanan ini, Echa dan Vera sama-sama suka tempura, kalo hal lainnya... Mmm.. Ah iya..", gua teringat sesuatu, lalu melirik dan tersenyum kepada perempuan berhijab di samping gua itu, sesaat sebelum melanjutkan kembali ucapan gua. "Mereka sama-sama penyuka bunga, bedanya... Echa suka bunga mawar, dan Vera suka bunga Lily...", tandas gua.
"Hmm.. Gitu ya, berarti seneng dong ya ? Maksud Tante, seenggaknya ada hal-hal yang baik yang mereka miliki berdua dan hampir sama...", ucap Beliau lagi setelah meminum minumannya itu.
"Yaa... Gitulah, Tan..", jawab gua singkat seraya tersenyum dan berganti, kini gua yang kembali meminum teh ocha hangat.
"Kalo anak Tante yang satu ini gimana, Za ?", tanyanya seraya melirik kepada anak bungsunya. "Apa ada yang sama seperti Echa dan kamu senengin dari sikapnya ?", pertanyaannya kali ini lebih terdengar seperti sebuah introgasi dan keingintahuan yang tinggi.
"Uhuuuk... Uhuk.. Uhuk..".
"Aduh.. Pelan-pelan dong, Za.. Kok bisa batuk sih minum teh anget doang juga.. Pelan-pelan ih..", ucap Nona Ukhti sambil mengusap-usap tengkuk gua.
Gua mengambil tissue dan mengelap mulut yang sedikit basah karena terbatuk, sampai minuman yang hampir masuk ke kerongkongan keluar kembali.
"Biasa aja kali, gak usah sok kaget gitu...", timpal Helen dengan nada pelan, tapi masih cukup terdengar oleh gua.
Gua berdeham sesaat, agar tenggorokan yang terasa tercekat kembali lega.
Sebentar... What a fakin' moment right now, dude ?
"Udah batuknya ?", tanya Beliau dengan tersenyum ramah kepada gua.
"Udah bisa jawab sekarang, Za ?", lanjutnya dengan tetap tersenyum ra-mah.
Pernah berada di situasi seperti ini, hah ? Ditanya di depan perempuan yang sama-sama lu suka, lu sayang ? Dan lagi... Yang nanya salah satu orangtua mereka. Amazing bagi gua saat itu. Pilihan bijak diam seribu bahasa ? Oh tentu saja bukan.. Jawab dengan jujur adalah pilihan terbaik bagi gua.
"Oke, Tan... Saya pribadi suka dengan anak bungsu Tante ini..", jawab gua tanpa ragu seraya menatap lekat-lekat Helen yang tiba-tiba saja terdiam dan menghentikan suapannya itu setelah mendengar jawaban gua.
Lalu gua kembali menengok kepada sang Mamah.
"Saya suka dengan pola pikir Helen yang bebas, yang enggak pernah mempermasalahkan masa lalu seseorang, apalagi masa lalu yang buruk..", lanjut gua, kemudian gua menaruh kedua tangan diatas meja makan. "Dibalik sifatnya yang manja, pecemburu, dan pemarah... Dia adalah perempuan yang sangat baik juga optimis...", ucap gua lagi tanpa tersenyum sedikitpun dan kembali menatap Helen.
Bidadari itu cemberut sambil menundukkan wajahnya.
"Dan yang terpenting dari semua itu... Saya tau dia perempuan yang setia kepada pasangannya.. Ya saya yakin akan hal itu, Tan..", gua masih menatap lekat-lekat anak bungsunya itu.
"Penilaian yang bagus, anak ini memang manja, karena dia anak bungsu, Za.. Tapi dia sangat baik, bukan Tante ingin membanggakan anak sendiri, tapi kamu juga tau apa yang dia 'yakini'berbeda dengan kita bertiga...", ucap Beliau seraya melirik gua dan Vera. "Tapi hal tersebut tidak pernah membuatnya merubah sikap kepada keluarganya, kepada teman-temannya dan juga kepada orang lain..".
Kemudian Beliau tersenyum penuh arti kepada gua dan Helen, sebelum kembali bertanya.
"Jadi... Apa Helen termasuk perempuan yang akan kamu pilih seperti Echa, Za ?".
Helen terkejut mendengar ucapan Mamahnya itu, hingga ia menengok dan menggeleng pelan, hanya untuk menandakan bahwa seharusnya sang Mamah tidak perlu menanyakan hal seperti itu kepada gua dihadapan Nona Ukhti.
Gua menengok kepada Nona Ukhti sesaat, melihat wajahnya yang tampak menunggu jawaban gua juga seperti Helen dan sang Mamah.
Gua tersenyum, mengambil nafas perlahan, mencoba meyakinkan diri gua, bahwa apa yang akan gua ucapkan ini adalah yang terbaik untuk semuanya. Ya semoga...
"Saya laki-laki, Tante.. Dan saya akui, mungkin ini adalah ego terbesar saya sebelum benar-benar melepas status duda saya..", gua melipat kedua tangan diatas meja, dan mencondongkan tubuh kedepan. "Saya dan Helen memiliki jalan masing-masing, saya enggak mau menjadi orang yang menghambatnya untuk sukses dan menyelesaikan kuliahnya... Ada beberapa hal yang harus kami pertimbangkan untuk melangkah ke hubungan yang lebih serius dari itu semua, dan saya yakin, seperti yang Tante bilang sebelumnya, hal yang benar-benar penting untuk Helen dan saya adalah masalah keyakinan...".
Beliau menatap gua serius, dan anak bungsunya itu mulai tertunduk, hingga beberapa helai rambut poninya menutupi wajahnya yang sendu.
"Saya memilih untuk menikah tahun ini, dan Helen baru akan menyelesaikan kuliahnya tahun depan di Jerman...", gua meraih tangan bidadari cantik itu yang berada diatas meja, tepat di depan gua.
Mengusap perlahan punggung tangannya. "Aku akan menikahi Vera... Dan...".
Ay... Ini isi hati aku saat aku mengucapkan kalimat itu ke kamu dan dihadapan Mamah. Aku tau kamu hancur, sakit, dan kecewa. Tapi apa kamu tau juga ? Betapa berat rasanya harus mengucapkan itu semua, Ay. Enggak ada niat sedikitpun untuk membuat kamu seperti itu di depan Mamah dan Vera. Aku sama dengan kamu. Merasakan sakit yang sama dan hancur. Aku minta maaf untuk hal itu. Maaf, Ay.. Maaf...
"Dan kamu.. Harus tetap berjalan walaupun semuanya terasa berat, Ay.. Aku yakin, kelak kamu akan menemukan pasangan yang terbaik, lebih baik dari aku... Maaf untuk semuanya, Ay... Dan terimakasih..".
Dia menaikkan wajahnya, menatap gua dengan derai airmata yang sudah tertumpah, lalu berdiri dan berlari pergi meninggalkan kami semua yang masih duduk di dalam resto ini.
"Za.. Tante paham kenapa kamu memilih Vera, maaf bukan maksud saya untuk memaksa kamu memilih, tapi karena saya tau dari awal kalo kamu cepat atau lambat akan meninggalkan Helen dan memilih Vera. Saya tau Vera yang akan kamu pilih. Maafin Tante ya Za... Vera..", ucap Beliau lalu berdiri dan hendak mengejar anak bungsunya.
Baru saja Beliau melewati Vera, ia kembali berucap...
"Za, semoga bahagia dengan Vera ya, begitupun kamu Vera.. Dan soal Helen, biar saya yang ngomong...", ucapnya sebelum kembali berjalan cepat untuk kembali mengejar anaknya itu.
Dugh.. Gua menghempaskan kepala ini keatas meja makan.
Sebuah usapan lembut pada punggung gua terasa lebih dari cukup untuk meredam tangis yang hampir keluar membasahi pipi ini.
"Za.. Kok kamu ngomong gitu ke Helen ?", tanya Nona Ukhti dengan heran.
Gua kembali menegakkan posisi duduk dan menatap langit-langit resto ini. Gua tau airmata ini nyaris saja tertumpah. Kemudian gua menelan ludah dan menghirup udara dalam-dalam.
"Karena aku mau nepatin janji aku, Ve...".
"Janji ? Janji apa ?".
Gua menengok kepadanya, menatap matanya lekat-lekat seraya mengusap lembut pipinya dengan tangan kanan ini.
"I will marry you...".
*
*
*
Berjalanlah walau habis terang
Ambil cahaya cinta tuk terangi jalanmu
di antara beribu lainnya
Kau tetap, kau tetap, kau tetap benderang
Walau Habis Terang - Peterpan
Diubah oleh glitch.7 26-09-2017 22:22
oktavp dan 3 lainnya memberi reputasi
4

