Kaskus

Story

glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN




Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.


Tak Lagi Sama - Noah


Spoiler for Cover Stories:


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.


Quote:


Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

Masa yang Paling Indah
Credit thanks to Agan njum26

Love in Elegy
Credit thanks to Agan redmoon97


Sonne Mond und Stern
*mulustrasi karakter dalam cerita ini


Quote:

*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
pulaukapokAvatar border
chamelemonAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
#2820
Sebelum Cahaya
PART VI


Suatu hal yang biasa jika kita berada di suatu tempat ramai dan disuguhkan pemandangan dari orang-orang yang nampak sedih saat melepas kepergian orang terdekat atau keluarga mereka untuk pergi dan berpisah sementara waktu. Tapi, ada pula yang tersenyum bahagia ketika menyambut kedatangan sanak keluarga, kekasih atau mungkin sahabat mereka juga.

Seperti suasana di bandara Soekarno-Hatta saat ini, walaupun sudah hampir tengah malam namun masih cukup ramai orang-orang yang datang. Dan diantara mereka, ada gua yang juga ikut masuk ke terminal kedatangan, untuk menjemput seorang wanita manis nan cantik yang hari ini mengenakan busana muslim berwarna krem.

Gua tersenyum, lalu melambaikan tangan kearahnya di depan sana, dan ya tentu saja, ia pun tersenyum sambil tetap berjalan menghampiri gua.

"Assalamualaikum, Za..".

"Walaikumsalam, Nona Ukhti...", jawab gua.

Nona Ukhti Ve semakin tersenyum lebar ketika mendengar jawaban salam gua itu, lalu dia menggelengkan kepalanya sambil melepas pegangan koper yang sebelumnya ia bawa, untuk kemudian mencium punggung tangan kanan gua.

"Kamu enggak sama Mba Laras, Za ?", tanyanya setelah mencium tangan.

"Enggak, Ve.. Tadi dia titip pesen aja ke aku buat jemput kamu malam ini..".

"Ooh.. Kirain ikut...".

"Eh iya, kok dadakan sih Ve ? Biasanya kamu ngabarin aku kalo mau pulang...", tanya gua kali ini sambil mengambil alih kopernya di sisi kanan.

"Aku tuh sebenernya baru mau nemuin kamu besok, tapi malah Mba Larasnya yang enggak bisa jemput aku... Gak jadi deh surprise nya...", jawabnya dengan wajah sedikit cemberut.

"Emang mau bikin surprise apa sih ? Perasaan gak ada hari yang spesial pake telor hari ini atau besok, Ve...", tanya gua lagi, kali ini sambil mulai berjalan.

"Hehehe, dasar ih... Emangnya nasi goreng pake telor...", tawanya seraya menyenggol lengan kiri gua. "Emang gak ada apa-apa sih, Za.. Cuma ya aku mau ajak kamu jalan-jalan aja besok, dateng ke rumah kamu gak bilang-bilang gitu, eh tapi Mba Laras katanya malah ada keperluan dan minta maaf gak bisa jemput aku..."

"Hoo.. Kalo gitu kenapa gak minta jemput Papah kamu ? Atau... Naik taks.. Eh..", ucapan gua terhenti karena sadar salah ucap.

"Hihihi... Kamu tuh, mana berani aku ngelanggar amanat kamu, Za... Kalo Papah tiriku sama Mamah lagi pergi jenguk si Adek, gak ada orang di rumah...".

Ya, salah ucap dan amanat yang gua dan Vera maksud adalah omongan gua soal dirinya, tentang dirinya yang gua larang pergi-pergian menggunakan transportasi umum disini, di Indonesia. Apalagi taksi, oh enggak deh, gak boleh pokoknya. Kalo di Singapore lain cerita, karena ada mobil milik Papah kandungnya. Toh, disana juga dia masih tinggal dengan Papahnya itu.

Bukan bermaksud apa-apa soal transportasi umum di sini, tapi setelah... Ya 'kejadian' tiga tahun lalu itu jelas mengubah segalanya, gua menjadi berlebihan tentang keselamatan Nona Ukhti.

Pada akhirnya, Nona Ukhti gua ajak ke sebuah restoran cepat saji di pelataran bandara ini.

"Kamu mau makan dulu, Za ?", tanyanya ketika kami hampir sampai di pintu masuk resto.

Gua menghentikan langkah kaki, dan meliriknya yang berada di sisi kiri gua. "Ve, aku...", gua mengalihkan pandangan kearah depan, melihat kearah dalam resto, dimana seorang wanita cantik dengan gaun pesta yang cukup.. Ehm, sangat seksi maksud gua, sedang duduk sendirian di salah satu kursi dengan segelas minuman bersoda di depannya. "Aku... Kesini sama Helen...", lanjut gua pelan.

"Helen ?... Helen adiknya Luna ?", tanyanya sedikit terkejut.

Gua mengangguk dan tersenyum hati-hati.. Ya, hati-hati.

Nona Ukhti menghela nafas pelan dengan mata yang terpejam sesaat. Lalu kembali menatap gua. Tatapannya itu cukup dalam, hingga gua mengalihkan pandangan lagi.

"Za..".

"Yy-yaa, Ve ?", jawab gua sedikit gugup.

"Jadi, kabar itu bener ?".

"Kabar ? Kabar apa, Ve ?".

"Kamu sekarang deket sama adiknya Luna kata Mba Laras..".

Gua menelan ludah, mau jawab iya tapi kok takut, mau jawab enggak tapi faktanya berkata lain. Tapi bentar deh... Dia bilang dapet kabar dari Mba Laras ?!!!

Oh c'mon Mom.. Really ? You tell her about, Ay ? Aiiihh... Gua mencium sebuah koalisi nasdang dimari, alias nasi padang, lebih greget dari nastak dan nasbung... emoticon-Metal

Tapi jawaban Ibu waktu itu masih gua ingat, Gais. Kata nyokap gua itu, namanya adalah 'Koalisi Hijabers'. Bener-bener deh si Ibu, emoticon-Nohope


...

"Ay...", panggil gua kepada Helen yang masih duduk.

Dia menengok ke kanan, dimana gua berdiri di dekat meja makannya. "Ketemu Ka.. Eh...", ucapannya terhenti ketika melihat sosok Nona Ukhti yang berdiri tepat di samping gua. "Ehm, hai Kak Vera...". Helen berdiri dari duduknya dan menghampiri Nona Ukhti. "Aku Helen, kita udah pernah kenalan kan ya ?", lanjutnya sambil menjulurkan tangan kanannya kepada Nona Ukhti dengan senyuman yang menawan.

Nona Ukhti tersenyum lalu menyambut jabat tangan Helen. "Iya.. Waktu di rumah Eza dulu...", jawabnya.

"Kak Ve sehatkan ?", tanya Helen lagi.

Nona Ukhti mengerenyitkan kening sesaat, lalu kembali tersenyum dan mengangguk. "Alhamdulilah sehat... Kamu juga keliatannya sehat ya...", jawab Nona Ukhti dan melepas jabat tangannya dari Helen.

"Iya.. Oh ya, duduk dulu yu...", ajak Helen hendak kembali ke meja makan.

"Makasih, tapi ini udah kemalaman", Nona Ukhti tetap tersenyum kepada Helen. "Kita langsung pulang aja ya, Za...", lanjutnya kali ini melirik kepada gua yang daritadi masih berdiri disampingnya.

"Oh iya, langsung pulang aja deh, udah lewat tengah malem juga...", jawab gua. "Mm.. Ay, kamu udah ngabarin Mamah kan ? Kita udah janjikan ngabarin Mamah kamu kalo pergi sampe larut lagi...", lanjut gua kepada Helen kali ini.

"Udah kok, Kak.. Tenang aja.. Hihihi", jawab Helen kembali menghampiri kami berdua.

"Ehm.. Lagi ?", Nona Ukhti menengok kepada gua dan menatap gua tajam.

"Hm ? Kenapa ?", tanya gua bingung dan berbalik menatapnya.

"Biasanya kalo 'lagi' itu berarti ada yang sebelumnya...", jawab Nona Ukhti dingin.

"Apaan sih ?", gua masih bingung.

"Maksud Kak Vera itu, kita pernah telat pulang sebelumnya Kak...", kali ini Helen yang menjelaskan.

Dan... Gua baru saja menyadari bahwa ucapan gua sebelumnya itu sama saja dengan menyulut api unggun... Damn!.

"Eeuu... Itu.. Kapan ya, Ay ? Ahahaha.. Lupa deh aku....", bodohnya gua karena gugup malah mengatakan hal yang menuju keadaan bahaya tingkat satu.

"Iiih.. Baru juga sabtu kemarin kita main ke Paralayang, kok lupa sih...? Parah kamu, Kak...", jawab Helen dengan wajah cemberutnya.

Astagfirullah, Ay... Jangan dijawab ngapa.. Hiks...

"Wooww... Malem mingguan ke Paralayang ? Ckckckck... Asyik dong, Za ? Ya ? Enak ya ? Bagus kan pemandangannya disana ? Iya kan ?", tanya Nona Ukhti sambil menyenggol lengan gua dengan raut muka yang... Duh, senyum sih.. Tapi ya gitu deh...

Keadaan bahaya sudah langsung naik ke tingkat tujuh ini, Gais.

"Wih bagus kok, Kak Ve... Untung waktu itu gak hujan, rame sih tapi ya tetep aja indah, liat lampu kota dari atas sana, terus liat bintang...", timpal Helen lagi.

"Oooh gitu yaa...? Indah banget ya kayaknya Len ?", Nona Ukhti sekarang menengok kepada Helen yang tersenyum dan mengangguk, lalu kembali menengok lagi kepada gua. "Hei..! Aku mau juga dong diajak kesana.. Belum pernah loch kamu ajak aku kesana, Za..", tangannya kembali menyenggol lengan gua, kali ini lebih bertenaga.

"Belum pernah kesana, Kak ? Ya aaampuuunn.. Nyesel loch, disana bagus banget pemandangannya, Kak Ve...", lagi dan lagi itu wanita keturunan Jerman-China yang jawab.

"Iya ya, Len ? Bagus ya ? Indah ? Hmmm... Nanti aku ajak Eza kesana deh. Pingin tau aku juga nih...", jelas banget itu nada suara Nona Ukhti sinis pake banget.

Entah ya, Helen ini sengaja atau karena mulai sadar kalau Nona Ukhti mulai sinis dari nada ucapannya itu.

"Iyalah.. Kesana dooongng, udaranya juga seger deh, gak kayak di kota... Banyak PO-LU-SIII...", timpal Helen dengan nada penekanan diakhir kalimat ucapannya itu.

Dan... Syit meennn.. Ngapain kamu ikutan sinis gitu sih mukanya, Ay ? Pake ngelipet tangan lagi di depan dada.
Oh my Lord, can i run right now ? emoticon-Frown

"Kok tiba-tiba hawanya panas ya, Za ? Ini pendingin restorannya rusak atau emang ada *sensor*", ya ?", ucap Nona Ukhti dengan wajah yang sudah menahan emosi, namun nada bicaranya berusaha ia ucapkan dengan seramah mungkin.

"Pendinginnya sih normal, mungkin aja ada yang gak normal sama darah, Kak Ve... Kan baru sampe tuuh.. Iya kan ?", timpal Helen lagi tanpa tersenyum kali ini.

"Heh..!", sentak Nona Ukhti. "Situ yang gak normal! Malem-malem gini pake baju kayak gitu! Kekurangan bahan, bukan ?! Itu punggung bolong ya ?! Kasian banget!".

Waah modar aing, paeh aing paeeehh...

"Eh udah-udah, kita pulang aja yu.. Udah kemaleman ini.."

Helen tidak jadi menimpali ucapan Nona Ukhti yang sudah membuatnya emosi, gimana enggak, keliatan banget itu matanya melotot dengan pundak yang mulai naik turun. Dan sialnya, ngapain itu tangannya terkepal....

"Ay, ayo Ay pulang... Ayo aahh..", ajak gua sambil memegang tangannya agar tidak mengepal lagi dan mau segera berjalan.

Bahaya ini kalo dibiarin, si Helen udah mulai masuk mode Super Saiyan fase pertama,rambutnya naik jadi tajem-tajem, dan kalo tetep gua biarin lagi... Itu listrik-listrik yang suka di gambar sama Akira Toriyama ditambah tulisan 'Bzzzzztt... Bzzztt... Zzzttt..' bisa keluar dan muncul ke permukaan tubuhnya. Masuk Super Saiyan dua nanti. emoticon-Shutup yang ada gua kena Kameha-meha... Modyar atuh Ezachi (Itachi), gak mempan Genjutsu gua sama itu wanita satu emoticon-Nohope

Spoiler for Super Saiyan II with Kamehameha:


...

Sesampainya di parkiran mobil bandara...
Sebentar, boleh di skip gak ? emoticon-Frown

"Eeeuuu... Ehm.. Iniii... Eeuu.. Aku, aku jadi supir aja, ya... Kalian duduk dibelakang berdua, hehehee...".

Dongonya sih Eza waktu itu kebangetan emoticon-Nohope

"Sorry ya... Aku gak mau!", jawab Nona Ukhti.

Dia langsung berjalan cepat kearah depan dan membuka pintu sebelah bangku kemudi. Masuk kedalam dan membanting pintunya.

Gua terbengong melihat tingkah Nona Ukhti. Tapi langsung buru-buru mengangkat koper dan memasukannya ke dalam bagasi.

"Ay, ayo mas... Eh eh... Aaay!! Mau kemanaaaa...?!! Aaaay.. Tungguuuu...", gua berteriak cukup kencang.

Gimana enggak teriak ? Itu si Helen kabur, pergi menjauh dan ketika gua memanggilnya dia berlari kearah luar parkiran.

"Aaaayyy.. Tunggu eh...".

Insting gua sebagai lelaki langsung saja menggerakan langkah kaki ini untuk mengejarnya. Tapi baru saja sedikit menjauh dari mobil, suara Nona Ukhti terdengar keras dari arah belakang sana.

"Ezaa!".

Gua melambatkan langkah dan menengok kebelakang. Ya ampun itu wajahnya. Eh salah, matanya melotot. Ini dejavu nih... Long time ago... I see her eyes with sage modelike that. Ya, ekspresi marahnya Nona Ukhti lewat kedua bola matanya itu ia tunjukkan pertama kali saat gua ke gep jalan sama Airin di SMA dulu. Kedua bola matanya jadi....Sharingan.

Spoiler for The Eyes with Sharingan:


Kampret banget ini, kudu kumaha aing, nu hiji lumpat ka ditu, nu hiji deui nungguan di belah sejen. Ah piraku kudu ninggalkeun dua-dua na emoticon-Nohope
(harus gimana gua ? Yang satu lari ke sana, yang satu lagi nungguin di sisi lain, ah gak mungkin harus ninggalin dua-duanya).

"Bentar-bentar, Ve... Bentar yaa... Tunggu situ jangan kemana-manaaa...", teriak gua.

Mau gimana lagi selain meninggalkan Nona Ukhti di mobil untuk sementara. Ya kali gua biarin si Helen pulang sendirian, mampus gua nanti di kasih talking no jutsusama Mamahnya.

Gua kembali mencari Helen, dan untungnya dia baru saja menyebrang jalan, dimana banyak taksi yang memang terparkir di sekitar bandara.

"Ay,... Ay pulang bareng ya.. Ayo Ay, jangan marah dulu ya, Ay...", ucap gua dengan sedikit nafas yang terengah-engah ketika sudah berada di sampingnya.

Helen memalingkan wajahnya, rambutnya menutupi sisi wajahnya dari tempat gua berdiri. Tangannya terlipat di depan dadanya. Gua mencoba untuk memegang sisi lengannya agar ia berbalik, tapi langsung ditepisnya.

"Aku pulang sendiri!", jawabnya sinis tanpa menengok.

"Janganlah, Ay... Kita pergi berdua tadi sore, masa iya pulangnya sendiri-sendiri... Lagian aku bertanggung jawab sama Mamah kamu, Ay... Pulang kelewat malem lagi sekarang... Udah ya, marahnya dilanjut nanti lagi, tapi jangan pulang sendirian, please Ay...".

Dia masih terdiam dan mengabaikan gua. Percuma kalau udah gini. Helen itu kalau udah marah antara ngebanting gua atau diem seribu bahasa selama berhari-hari.

Masih membujuk Helen, tiba-tiba sebuah mobil yang sangat gua kenali menghampiri dan berhenti tepat di depan kami berdua. Seorang wanita keluar dari pintu kemudi mobil sedan berwarna merah itu.

Nona Ukhti, berdiri di samping pintu kemudi itu dan menatap kami berdua. Btw, kunci mobil gua tergantung di bagasi tadi, pantes dia bisa bawa mobil keluar parkiran.

"Ayo Len pulang, kamu bawa mobilnya...", ucapnya sambil berjalan ke sisi dekat kami dan membuka pintu depan lainnya. Dan sebelum dia menutup pintu mobil... "Za, kamu duduk dibelakang...", lanjutnya.

Helen... Langsung berjalan kearah pintu kemudi dan masuk kedalam.

Gua ? Bengong lah... Mikir keras gua, masuk apa enggak ini... Waduh, nyawa taruhannya kalo masuk kedalem nih...

Kaca mobil terbuka, Nona Ukhti menatap gua tajam. "Mau ditinggal ?", tanyanya dingin.

Gua masih mikir, sebentar-sebentar.. Kayaknya lebih baik kali ya kalau gua yang pulang naik taksi aja.

Grrruuuuungngngngng...!!!

Edyan, itu gas mobil bunyi kenceng! Siapa lagi kalo bukan Helen punya kelakuan tuh.

"Ii-iiya iya aku masuk nih, Ve...", jawab gua cepat lalu masuk ke bangku belakang.

Duduk manis, jangan pesimis, inget di depan ada mahluk manis walau menatap gua dengan sinis.

Istigfar, banyakin do'a aja kalau udah gini. Ujian ini ujian, ya ujian ini gua yakin... emoticon-linux2

Mobil melaju meninggalkan bandara, menembus angin malam dan melintasi jalan tol yang cukup lenggang.

Dingin di dalam mobil, karena udara yang keluar dari ac mobil dan terlebih suasananya. Kami bertiga terdiam, tak ada satupun yang berbicara hingga keluar tol dan sampai di kota kami.

"Rumah Kak Ve dimana ?", tanya Helen memecah keheningan dan tetap mengemudikan mobil tanpa melirik kepada wanita berhijab disampingnya itu.

Gua yang duduk di bangku belakang, melirik kepada Nona Ukhti yang duduk di bangku kiri depan. Terlihat sekilas dan gua yakin kok.. Dia tersenyum tipis.

"Langsung ke rumah Eza aja... Aku mau nginep di rumahnya...", jawab Nona Ukhti dengan nada suara lembut.

Helen langsung menengok kepada Nona Ukhti, terkejut dia, tapi langsung menguasai diri lagi.

"Kayak di izinin aja sama keluarga Eza. Heuh...", dengus Helen diakhir ucapannya dan kembali menatap jalan raya di depan.

"Mba Laras yang minta...", jawab Nona Ukhti dengan... Senyum lebar penuh kemenangan. Lalu dia menatap gua yang duduk dibelakang ini dari kaca spion, ya tentu saja dengan senyuman merekahnya itu.

Di sisi lain, sisi kanan kaca itu, gua melihat wanita cantik tanpa hijab, melirik dan menatap gua juga, tapi... Tanpa senyuman, dan tatapan matanya membunuh gua....

Saya, Eza... Eh Oda. Melambaikan tangan kearah kamera, ya kamera disana, tolong sampaikan salam saya pada Ibu dan Nenek ya. Terimakasih...


*
*
*


Quote:
dany.agus
fatqurr
oktavp
oktavp dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.