- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#2746
Sebelum Cahaya
PART V
Tahun dua ribu sepuluh, beberapa bulan setelah pernikahan Mba Yu, gua dan keluarga barunya itu memang cukup dekat, tidak ada hal yang membuat kedekatan gua bersama Mba Yu menjadi renggang, karena sang suami, Feri, telah menerima hubungan gua dengan istrinya itu, ya tentu saja hubungan dekat sebagai saudara.
Sedangkan hubungan gua dengan Luna dan Erick ? Agak berbeda, entah harus menganggapnya bagaimana, karena dia sudah pindah bersama Erick ke Australia sebelum Mba Yu dan Feri menikah, yang otomatis membuat komunikasi antara gua dan Luna pun menjadi jarang. Tidak mungkin gua juga menghubunginya seperti dulu walaupun lewat handphone. Beberapa kali pernah memang gua dan Luna berkomunikasi lewat chatt bbm, itupun gua hanya menanyakan kondisi kesehatannya, dan alhamdulillah dirinya masih dalam kondisi yang cukup baik walaupun katanya penyakit yang ia derita belum benar-benar hilang dalam tubuhnya.
Dan karena pernikahan Luna serta Mba Yu tersebutlah yang menjadikan hubungan gua kini cukup dekat dengan dua orang wanita sekaligus.
Vera masih melanjutkan kuliahnya di Singapore, dan saat pernikahan Luna ataupun Mba Yu, dia hanya berada di Indonesia beberapa hari, tidak sampai empat hari. Tapi komunikasi gua dengannya terjalin cukup baik dan lebih intens dari sebelumnya, walaupun hanya via telepon ataupun bbm.
Satu wanita lain ? Siapa lagi kalo bukan adik mantan kekasih gua, Helen.
Sedangkan hubungan gua dengan Luna dan Erick ? Agak berbeda, entah harus menganggapnya bagaimana, karena dia sudah pindah bersama Erick ke Australia sebelum Mba Yu dan Feri menikah, yang otomatis membuat komunikasi antara gua dan Luna pun menjadi jarang. Tidak mungkin gua juga menghubunginya seperti dulu walaupun lewat handphone. Beberapa kali pernah memang gua dan Luna berkomunikasi lewat chatt bbm, itupun gua hanya menanyakan kondisi kesehatannya, dan alhamdulillah dirinya masih dalam kondisi yang cukup baik walaupun katanya penyakit yang ia derita belum benar-benar hilang dalam tubuhnya.
Dan karena pernikahan Luna serta Mba Yu tersebutlah yang menjadikan hubungan gua kini cukup dekat dengan dua orang wanita sekaligus.
Vera masih melanjutkan kuliahnya di Singapore, dan saat pernikahan Luna ataupun Mba Yu, dia hanya berada di Indonesia beberapa hari, tidak sampai empat hari. Tapi komunikasi gua dengannya terjalin cukup baik dan lebih intens dari sebelumnya, walaupun hanya via telepon ataupun bbm.
Satu wanita lain ? Siapa lagi kalo bukan adik mantan kekasih gua, Helen.
°°°
Saat itu sore hari, dua hari setelah gua dan Helen pergi malam mingguan di tempat Paralayang.
Gua baru saja selesai berenang dan masih berada di sisi kolam ketika seorang wanita keturunan Jerman-China itu berjalan menghampiri dari arah dalam rumah.
"Sore, Kaaak..".
Gua menengok kebelakang, dan melihat sosoknya yang sore ini nampak berbeda. Sebelumnya hanya dua kali gua melihat dirinya mengenakan dress party. Dan untuk sore ini adalah kali ketiga gua melihatnya dalam balutan dress tanpa lengan yang cukup seksi itu.
Gua tersenyum sambil menyisir rambut yang basah kearah belakang. "Sore, Ay..".
"Ckckckck... Tattonyaaaaa...", ucapnya lagi ketika berhenti tepat dibelakang gua dan menatap punggung ini yang penuh dengan sebuah karya seni rajam tubuh.
"Hehehe... Udah pernah liat kan ?", tanya gua seraya berdiri kali ini.
Dia mengangguk lalu mengambil handuk yang berada di kursi kayu sampingnya. "Kak... Ikut yu, temenin aku ke pesta ulangtahun temen ku...", ajaknya setelah memberikan handuk kepada gua.
"Sekarang ?", tanya gua heran.
"Nanti sih jam tujuhan, aku sekarang mau ke salon dulu.. Kamu mau anter aku atau nung..".
"Nunggu nunggu.. Aku mau nunggu aja di rumah ya, nanti aku jemput aja ke salon okeh ? Hehehehe...", potong gua memilih pilihan yang bijak.
Dia tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Dasar ih... Yaudah deh.. Nanti kamu jemput aku ya kalo gitu di Mall xxx... Jangan telat loch aku cuma satu jam paling nyalonnya...", ucapnya sambil menaikkan jari telunjuknya di depan wajah gua.
"Sipp.. Tenang aja, Ay... Hehehe...".
...
Waktu berlalu, kini gua sudah bersiap menjemput bidadari dunia itu dari sebuah salon kecantikan yang berada di dalam mall dekat pusat kota. Setelah gua memastikan pakaian yang gua kenakan rapih dan cocok, gua pun bergegas menuju mobil milik almh. Istri gua. Baru saja gua membuka pintu kemudi, tiba-tiba seorang wanita memanggil gua dari ambang pintu rumah.
"Zaaa...".
Gua menengok kearahnya. "Ya, Mba ?".
"Kamu sampai jam berapa pergi sama Helen ?".
"Mmm.. Enggak tau, Mba... Acaranya malem kan.. Mungkin jam sepuluh baru selesai. Lupa nanya aku ke dia, kenapa gitu ?".
"Vera malam ini pulang, kamu jemput dia di bandara ya, sayang... Bisakan Nak ?".
Permintaan Mba Laras itu membuat kepala gua tiba-tiba pusing seketika. Gimana ceritanya Nona Ukhti gak kasih kabar dulu ke gua kalo mau pulang ke Indonesia. Biasanya dia suka bilang di bbm atau telpon. Kok dadakan gini, dan lagian sampai gua inget-inget, ada hari spesial atau enggak ketika itu, tapi gak ada yang spesial, ulang tahun gua dan dia masih cukup jauh kalau dia mau buat kejutan. Aneh...
Singkat cerita gua mengiyakan permintaan Mba Laras, dan sekarang gua sudah mengemudikan mobil kearah Mall di dekat pusat kota, dimana seorang bidadari sedang bersolek. Sekitar pukul setengah tujuh kurang gua sudah sampai di parkiran Mall. Gua balas chatt bbm darinya ketika gua sedang berada di eskalator menuju lantai dimana ia berada.
"Ay..", panggil gua ketika sudah memasuki sebuah salon di lantai empat mall ini.
Dia menengok kebelakang, kearah dimana gua masih berdiri di dekat pintu masuk. "Hai, Kak... Aku udah selesai kok, mau bayar dulu sebentar..", jawabnya seraya berjalan kearah kasir di dekat sisi kanan gua.
Wow...itulah ucapan yang terlintas ketika tadi dia menengok kepada gua.
Ini wanita satu, eh bidadari... Cantik pake banget. Dress berwarna hitam yang cukup terbuka tanpa lengan itu ternyata memperlihatkan punggungnya yang putih mulus hingga nyaris sepinggang. Tadi sore ketika gua melihatnya di rumah tidak tau kalau ternyata model dressnya itu terbuka dibagian punggung, ya karena rambutnya yang ia gerai memanjang dan menutupi punggungnya tersebut. Tapi sekarang ? 'Holy Fucking Shiitt' rambutnya ditata keatas, seperti dicepol dan menyisakan helaian rambut bagian samping terjuntai pada sisi kanan kiri wajahnya. Gila, kalau gini caranya hati gua bisa berpaling dari Nona Ukhti ini. Gawat...
Dia berjalan menghampiri gua setelah menyelesaikan pembayaran di kasir. "Yu jalan sekarang, Kak..", ajaknya seraya tersenyum lebar.
Gua yakin seratus persen, kalau dia sadar ketika melihat gua yang berdiri terpaku dan terpana akan kecantikan yang ia miliki itu. Damn, girl.. You so' fucking sexy and beautiful tonight.
Hati gua benar-benar campur aduk, gimana gak dag dig dug dan merasa jumawa, sekarang gua sedang berjalan di dalam Mall dengan seorang bidadari yang tangan kanannya itu terkait ke lengan kiri gua, sedangkan tas pesta berukuran kecil berwarna hitam merah ia genggam di tangan kiri. Bunyi high heelsnya yang beradu dengan lantai Mall ini semakin membuat beberapa pengunjung lain memperhatikan kami berdua. Ya, antara malu dan bahagia juga gua saat ini. Banggalah bisa jalan sama Helen, digandeng pula lagi. Oooh my oh my oh myy... Oh my Lord, can i make her mine ?
"Kak, aku cantik gak hari ini ?", tanyanya ketika kami masih berjalan di lantai empat dengan wajah yang sumringah.
Gua menggelengkan kepala seraya tersenyum lebar, lalu melepaskan tangannya yang masih terkait itu, barulah kemudian gua rangkul bahunya dan mendekati wajahnya.
"You are so beautiful and sexy as always, Ay...", bisik gua tepat di telinga kanannya.
Dia tersenyum semakin lebar lalu menggigit bibir bawahnya.
Dan... Ketika kami turun melalui eskalator, dia kembali bertanya.
"Cantikkan mana aku sama Luna ?".
Jlegeeerrr...
Duuaaarrrr...
Dyarr.. Dyaaarr... Dyaarrr.. Dyaarr... Modyaaarrrr...

Gua baru saja selesai berenang dan masih berada di sisi kolam ketika seorang wanita keturunan Jerman-China itu berjalan menghampiri dari arah dalam rumah.
"Sore, Kaaak..".
Gua menengok kebelakang, dan melihat sosoknya yang sore ini nampak berbeda. Sebelumnya hanya dua kali gua melihat dirinya mengenakan dress party. Dan untuk sore ini adalah kali ketiga gua melihatnya dalam balutan dress tanpa lengan yang cukup seksi itu.
Gua tersenyum sambil menyisir rambut yang basah kearah belakang. "Sore, Ay..".
"Ckckckck... Tattonyaaaaa...", ucapnya lagi ketika berhenti tepat dibelakang gua dan menatap punggung ini yang penuh dengan sebuah karya seni rajam tubuh.
"Hehehe... Udah pernah liat kan ?", tanya gua seraya berdiri kali ini.
Dia mengangguk lalu mengambil handuk yang berada di kursi kayu sampingnya. "Kak... Ikut yu, temenin aku ke pesta ulangtahun temen ku...", ajaknya setelah memberikan handuk kepada gua.
"Sekarang ?", tanya gua heran.
"Nanti sih jam tujuhan, aku sekarang mau ke salon dulu.. Kamu mau anter aku atau nung..".
"Nunggu nunggu.. Aku mau nunggu aja di rumah ya, nanti aku jemput aja ke salon okeh ? Hehehehe...", potong gua memilih pilihan yang bijak.
Dia tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Dasar ih... Yaudah deh.. Nanti kamu jemput aku ya kalo gitu di Mall xxx... Jangan telat loch aku cuma satu jam paling nyalonnya...", ucapnya sambil menaikkan jari telunjuknya di depan wajah gua.
"Sipp.. Tenang aja, Ay... Hehehe...".
...
Waktu berlalu, kini gua sudah bersiap menjemput bidadari dunia itu dari sebuah salon kecantikan yang berada di dalam mall dekat pusat kota. Setelah gua memastikan pakaian yang gua kenakan rapih dan cocok, gua pun bergegas menuju mobil milik almh. Istri gua. Baru saja gua membuka pintu kemudi, tiba-tiba seorang wanita memanggil gua dari ambang pintu rumah.
"Zaaa...".
Gua menengok kearahnya. "Ya, Mba ?".
"Kamu sampai jam berapa pergi sama Helen ?".
"Mmm.. Enggak tau, Mba... Acaranya malem kan.. Mungkin jam sepuluh baru selesai. Lupa nanya aku ke dia, kenapa gitu ?".
"Vera malam ini pulang, kamu jemput dia di bandara ya, sayang... Bisakan Nak ?".
Permintaan Mba Laras itu membuat kepala gua tiba-tiba pusing seketika. Gimana ceritanya Nona Ukhti gak kasih kabar dulu ke gua kalo mau pulang ke Indonesia. Biasanya dia suka bilang di bbm atau telpon. Kok dadakan gini, dan lagian sampai gua inget-inget, ada hari spesial atau enggak ketika itu, tapi gak ada yang spesial, ulang tahun gua dan dia masih cukup jauh kalau dia mau buat kejutan. Aneh...
Singkat cerita gua mengiyakan permintaan Mba Laras, dan sekarang gua sudah mengemudikan mobil kearah Mall di dekat pusat kota, dimana seorang bidadari sedang bersolek. Sekitar pukul setengah tujuh kurang gua sudah sampai di parkiran Mall. Gua balas chatt bbm darinya ketika gua sedang berada di eskalator menuju lantai dimana ia berada.
"Ay..", panggil gua ketika sudah memasuki sebuah salon di lantai empat mall ini.
Dia menengok kebelakang, kearah dimana gua masih berdiri di dekat pintu masuk. "Hai, Kak... Aku udah selesai kok, mau bayar dulu sebentar..", jawabnya seraya berjalan kearah kasir di dekat sisi kanan gua.
Wow...itulah ucapan yang terlintas ketika tadi dia menengok kepada gua.
Ini wanita satu, eh bidadari... Cantik pake banget. Dress berwarna hitam yang cukup terbuka tanpa lengan itu ternyata memperlihatkan punggungnya yang putih mulus hingga nyaris sepinggang. Tadi sore ketika gua melihatnya di rumah tidak tau kalau ternyata model dressnya itu terbuka dibagian punggung, ya karena rambutnya yang ia gerai memanjang dan menutupi punggungnya tersebut. Tapi sekarang ? 'Holy Fucking Shiitt' rambutnya ditata keatas, seperti dicepol dan menyisakan helaian rambut bagian samping terjuntai pada sisi kanan kiri wajahnya. Gila, kalau gini caranya hati gua bisa berpaling dari Nona Ukhti ini. Gawat...
Dia berjalan menghampiri gua setelah menyelesaikan pembayaran di kasir. "Yu jalan sekarang, Kak..", ajaknya seraya tersenyum lebar.
Gua yakin seratus persen, kalau dia sadar ketika melihat gua yang berdiri terpaku dan terpana akan kecantikan yang ia miliki itu. Damn, girl.. You so' fucking sexy and beautiful tonight.
Hati gua benar-benar campur aduk, gimana gak dag dig dug dan merasa jumawa, sekarang gua sedang berjalan di dalam Mall dengan seorang bidadari yang tangan kanannya itu terkait ke lengan kiri gua, sedangkan tas pesta berukuran kecil berwarna hitam merah ia genggam di tangan kiri. Bunyi high heelsnya yang beradu dengan lantai Mall ini semakin membuat beberapa pengunjung lain memperhatikan kami berdua. Ya, antara malu dan bahagia juga gua saat ini. Banggalah bisa jalan sama Helen, digandeng pula lagi. Oooh my oh my oh myy... Oh my Lord, can i make her mine ?

"Kak, aku cantik gak hari ini ?", tanyanya ketika kami masih berjalan di lantai empat dengan wajah yang sumringah.
Gua menggelengkan kepala seraya tersenyum lebar, lalu melepaskan tangannya yang masih terkait itu, barulah kemudian gua rangkul bahunya dan mendekati wajahnya.
"You are so beautiful and sexy as always, Ay...", bisik gua tepat di telinga kanannya.
Dia tersenyum semakin lebar lalu menggigit bibir bawahnya.
Dan... Ketika kami turun melalui eskalator, dia kembali bertanya.
"Cantikkan mana aku sama Luna ?".
Jlegeeerrr...
Duuaaarrrr...
Dyarr.. Dyaaarr... Dyaarrr.. Dyaarr... Modyaaarrrr...

°°°
Pukul sembilan malam ternyata acara ulangtahun temannya itu sudah selesai, salah satu hal menarik adalah pemandangan yang tersaji dari para perempuan-perempuan yang memakai gaun seksi seperti Helen. Dan di pesta inilah gua bertemu sahabat lama gua di masa sma dulu.
"Zaa..", ucap seorang lelaki yang berperawakan tinggi besar dengan suaranya yang berat.
Gua menengok ke kanan dan tersenyum ketika melihatnya berjalan menghampiri gua.
"Apa kabar, Za ? Kemana aja lu Bro ?", tanyanya sambil menyalami gua dan menepuk bahu kiri ini.
"Alhamdulilah baik, Nat.. Lu apa kabar nih ?", tanya gua balik kepada sahabat dan sekaligus kakak kelas gua di masa sma itu.
"Baik juga.. Eh lu sama siapa kesini ? Apa emang kenal juga sama Linda ?".
Linda yang Bernat maksud adalah perempuan yang sedang berulang tahun malam ini. Dan tentu saja gua tidak kenal sama sekali dengan si Empu acara itu.
"Enggak, Nat... Gua gak kenal, diajakin sama temen kesini, nemenin doang sih... Hehehe..", jawab gua.
"Ooh.. Sama siapa lu kesini, Za ?".
Gua melirik ke sekitar, mencari sosok wanita berparas cantik diantara kerumunan perempuan-perempuan cantik pula. Dan gua dapati ia sedang asyik mengobrol bersama temannya yang lain di dekat meja kue ulangtahun.
"Tuh, Nat... Yang pake gaun item... Yang punggungnya mulus gak ketutupan.. Hehe..", jawab gua sambil menunjuk kearah sana dengan dagu.
"Itu ? Yang tinggi ? Sebelah Linda ?", tanyanya lagi.
"Iya, Nat...".
"Yang bener, Za ? Itukan... Adeknya Luna, Zaa... Seriusan lu deket sama dia ?".
Gua menganggukkan kepala sambil tersenyum. "Yoi.. Hehehe...".
"Ckckckck.. Kakaknya gagal, adeknya dibegal... Gokil... Hahaha...".
"Pale lu dibegal... Ada juga gua yang dibanting mulu ama tuh cewek atu, Nat..", sungut gua sambil menggelengkan kepala.
"Hahaha... Iya gua tau tuh, doi jago Aikido, katanya ikut kejuaraan internasional kemaren-kemaren... Yaa jangan macem-macem aja sama doi, Za.. Patah tuh pinggang bisa-bisa, hahahahaha...".
Sialan emang si Gorilla satu ini, walaupun apa yang diucapkannya benar semua, tapi malah bikin nyali gua ciut.
"Ngomong-ngomong, Za... Kok bisa lu deket sama Helen ? Setau gua dia dari dulu susah dideketin cowok...", tanya Bernat kali ini sedikit serius.
"Gak tau juga, Nat.. Gua sebenarnya udah kenal dia sebelum Luna, cuma gak terlalu deket, dia adek kelas gua di smp dan baru ketemu lagi sekarang-sekarang sih...", jawab gua sambil menatap bidadari itu dari kejauhan.
"Terus... Lu sama dia pacaran ?".
Gua menghela nafas pelan, lalu menatap Helen dari jarak yang cukup jauh dimana gua masih berdiri bersama Bernat. Entahlah, mungkin karena dia merasa diperhatikan hingga kini wajahnya menengok kepada gua juga, dan menatap gua balik dengan tersenyum.
"Gua... Gua enggak tau, Nat... Hubungan macam apa antara gua sama dia, gua cuma... Mmm.. Entahlah.. Bingung gua kalo ditanya hubungan gua sama Helen...".
"Tapi.. Lu tau kan dia itu seorang...".
"Agnostik ?", sambung gua cepat.
Bernat mengangguk.
"Ya.. Gua tau... Dan kayaknya cerita antara gua dan dia masih panjang, Nat...".
Seketika itu juga fikiran gua kembali terbebani akan hubungan gua dan Helen.
Selama ini gua dan dia memang cukup dekat, terlebih setelah kakaknya itu menikah lalu Mba Yu juga menikah, dan dari waktu kakaknya menikah, dia baru sekali kembali ke Jerman dan tidak lama kembali lagi ke Indonesia karena sedang libur. Dan karena hal itulah gua masih bimbang dan ragu akan hubungan kami berdua.
Sekitar pukul sepuluh kurang blackberry gua berbunyi tanda ada panggilan masuk, tepat saat gua dan Helen baru saja akan beranjak dari pesta ulangtahun yang memang sudah selesai daritadi itu.
"Bentar ya, Ay.. Hape ku bunyi nih...", ucap gua sebelum membuka pintu kemudi, sedangkan Helen berada di sisi lain mobil, pintu sebrang kemudi.
"Kenapa, Kak ?", tanya Helen yang melihat gua baru saja memasukkan handphone ke saku celana.
Gua tersenyum dan menggelengkan kepala pelan. "Kamu gak buru-buru pulangkan, Ay ?".
Dia tersenyum. "Enggak, kok.. Mau kemana dulu ?".
Gua buka pintu kemudi. "Kita ke bandara ya, Ay..", jawab gua sambil memasuki bangku kemudi mobil.
...
...
...
Gua kendarai mobil sedan merah ini dengan kecepatan sedang di jalan Tol. Sedangkan seorang wanita yang masih bersama gua kini sedang memainkan blackberry nya. Semenjak gua mengatakan keperluan gua ke Bandara malam ini, moodnya langsung berubah dan hanya diam sepanjang perjalanan.
"Ay... Maaflah.. Aku lupa kasih tau kamu, kalo tadi Mba Laras minta tolong aku untuk jemput dia, Ay..", ucap gua untuk kesekian kalinya.
Helen masih terdiam seperti sebelumnya. Gua yakin dia hanya memainkan blackberrynya membuka tutup aplikasi di dalamnya tanpa ada maksud yang jelas. Wajahnya berubah menjadi bete.
Haaa... Pusing gua kalo udah gini nih.
"Ay... Maaf atuh, Ay.. Jangan marahlah sama Kakak.. Ya maaf ya ?".
Tetap diam tak bergeming.
Sampai akhirnya mobil gua sampai di parkiran Bandara terminal kedatangan internasional dan Helen masih saja diam. Gua baru saja mematikan mesin mobil, lalu hendak membuka seat belt.
"Kak..".
Gua menengok kepadanya. "Ya, Ay ?".
"Aku minta maaf udah kesel sama kamu karena harus jemput Kak Vera...", ucapnya tanpa menengok kepada gua.
"Iya, Ay... Aku juga minta maaf lupa ngasih tau kamu tadi..".
Kemudian dia tersenyum lalu melepaskan seat belt yang melingkari tubuhnya dan menengok kepada gua.
"Yu, Kak... Kita temuin Kak Vera mu itu...", ucapnya kali ini dengan tersenyum sangat lebar.
Entah kenapa... Jantung gua malah berdegup lebih kencang dari biasanya. Seperti genderang... Mau perang...
Kampret...
"Zaa..", ucap seorang lelaki yang berperawakan tinggi besar dengan suaranya yang berat.
Gua menengok ke kanan dan tersenyum ketika melihatnya berjalan menghampiri gua.
"Apa kabar, Za ? Kemana aja lu Bro ?", tanyanya sambil menyalami gua dan menepuk bahu kiri ini.
"Alhamdulilah baik, Nat.. Lu apa kabar nih ?", tanya gua balik kepada sahabat dan sekaligus kakak kelas gua di masa sma itu.
"Baik juga.. Eh lu sama siapa kesini ? Apa emang kenal juga sama Linda ?".
Linda yang Bernat maksud adalah perempuan yang sedang berulang tahun malam ini. Dan tentu saja gua tidak kenal sama sekali dengan si Empu acara itu.
"Enggak, Nat... Gua gak kenal, diajakin sama temen kesini, nemenin doang sih... Hehehe..", jawab gua.
"Ooh.. Sama siapa lu kesini, Za ?".
Gua melirik ke sekitar, mencari sosok wanita berparas cantik diantara kerumunan perempuan-perempuan cantik pula. Dan gua dapati ia sedang asyik mengobrol bersama temannya yang lain di dekat meja kue ulangtahun.
"Tuh, Nat... Yang pake gaun item... Yang punggungnya mulus gak ketutupan.. Hehe..", jawab gua sambil menunjuk kearah sana dengan dagu.
"Itu ? Yang tinggi ? Sebelah Linda ?", tanyanya lagi.
"Iya, Nat...".
"Yang bener, Za ? Itukan... Adeknya Luna, Zaa... Seriusan lu deket sama dia ?".
Gua menganggukkan kepala sambil tersenyum. "Yoi.. Hehehe...".
"Ckckckck.. Kakaknya gagal, adeknya dibegal... Gokil... Hahaha...".
"Pale lu dibegal... Ada juga gua yang dibanting mulu ama tuh cewek atu, Nat..", sungut gua sambil menggelengkan kepala.
"Hahaha... Iya gua tau tuh, doi jago Aikido, katanya ikut kejuaraan internasional kemaren-kemaren... Yaa jangan macem-macem aja sama doi, Za.. Patah tuh pinggang bisa-bisa, hahahahaha...".
Sialan emang si Gorilla satu ini, walaupun apa yang diucapkannya benar semua, tapi malah bikin nyali gua ciut.
"Ngomong-ngomong, Za... Kok bisa lu deket sama Helen ? Setau gua dia dari dulu susah dideketin cowok...", tanya Bernat kali ini sedikit serius.
"Gak tau juga, Nat.. Gua sebenarnya udah kenal dia sebelum Luna, cuma gak terlalu deket, dia adek kelas gua di smp dan baru ketemu lagi sekarang-sekarang sih...", jawab gua sambil menatap bidadari itu dari kejauhan.
"Terus... Lu sama dia pacaran ?".
Gua menghela nafas pelan, lalu menatap Helen dari jarak yang cukup jauh dimana gua masih berdiri bersama Bernat. Entahlah, mungkin karena dia merasa diperhatikan hingga kini wajahnya menengok kepada gua juga, dan menatap gua balik dengan tersenyum.
"Gua... Gua enggak tau, Nat... Hubungan macam apa antara gua sama dia, gua cuma... Mmm.. Entahlah.. Bingung gua kalo ditanya hubungan gua sama Helen...".
"Tapi.. Lu tau kan dia itu seorang...".
"Agnostik ?", sambung gua cepat.
Bernat mengangguk.
"Ya.. Gua tau... Dan kayaknya cerita antara gua dan dia masih panjang, Nat...".
Seketika itu juga fikiran gua kembali terbebani akan hubungan gua dan Helen.
Selama ini gua dan dia memang cukup dekat, terlebih setelah kakaknya itu menikah lalu Mba Yu juga menikah, dan dari waktu kakaknya menikah, dia baru sekali kembali ke Jerman dan tidak lama kembali lagi ke Indonesia karena sedang libur. Dan karena hal itulah gua masih bimbang dan ragu akan hubungan kami berdua.
Sekitar pukul sepuluh kurang blackberry gua berbunyi tanda ada panggilan masuk, tepat saat gua dan Helen baru saja akan beranjak dari pesta ulangtahun yang memang sudah selesai daritadi itu.
"Bentar ya, Ay.. Hape ku bunyi nih...", ucap gua sebelum membuka pintu kemudi, sedangkan Helen berada di sisi lain mobil, pintu sebrang kemudi.
Quote:
"Kenapa, Kak ?", tanya Helen yang melihat gua baru saja memasukkan handphone ke saku celana.
Gua tersenyum dan menggelengkan kepala pelan. "Kamu gak buru-buru pulangkan, Ay ?".
Dia tersenyum. "Enggak, kok.. Mau kemana dulu ?".
Gua buka pintu kemudi. "Kita ke bandara ya, Ay..", jawab gua sambil memasuki bangku kemudi mobil.
...
...
...
Gua kendarai mobil sedan merah ini dengan kecepatan sedang di jalan Tol. Sedangkan seorang wanita yang masih bersama gua kini sedang memainkan blackberry nya. Semenjak gua mengatakan keperluan gua ke Bandara malam ini, moodnya langsung berubah dan hanya diam sepanjang perjalanan.
"Ay... Maaflah.. Aku lupa kasih tau kamu, kalo tadi Mba Laras minta tolong aku untuk jemput dia, Ay..", ucap gua untuk kesekian kalinya.
Helen masih terdiam seperti sebelumnya. Gua yakin dia hanya memainkan blackberrynya membuka tutup aplikasi di dalamnya tanpa ada maksud yang jelas. Wajahnya berubah menjadi bete.
Haaa... Pusing gua kalo udah gini nih.
"Ay... Maaf atuh, Ay.. Jangan marahlah sama Kakak.. Ya maaf ya ?".
Tetap diam tak bergeming.
Sampai akhirnya mobil gua sampai di parkiran Bandara terminal kedatangan internasional dan Helen masih saja diam. Gua baru saja mematikan mesin mobil, lalu hendak membuka seat belt.
"Kak..".
Gua menengok kepadanya. "Ya, Ay ?".
"Aku minta maaf udah kesel sama kamu karena harus jemput Kak Vera...", ucapnya tanpa menengok kepada gua.
"Iya, Ay... Aku juga minta maaf lupa ngasih tau kamu tadi..".
Kemudian dia tersenyum lalu melepaskan seat belt yang melingkari tubuhnya dan menengok kepada gua.
"Yu, Kak... Kita temuin Kak Vera mu itu...", ucapnya kali ini dengan tersenyum sangat lebar.
Entah kenapa... Jantung gua malah berdegup lebih kencang dari biasanya. Seperti genderang... Mau perang...
Kampret...

Diubah oleh glitch.7 01-01-2018 21:14
oktavp dan 2 lainnya memberi reputasi
3


: