- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Catatan:
1. Mengacu pada aturan main forum H2H dan SFTH
2. 95% Semua tokoh/karakter di cerita ini sudah memberikan izin
3. Sikapi dengan bijak apa yang tertuang disini
4. Jangan meminta lebih dari apa yang sudah diberikan
5. Sopanlah dalam berkomentar
6. Saling menghargai TS, penulis dan sesama kaskuser disini
1. Mengacu pada aturan main forum H2H dan SFTH
2. 95% Semua tokoh/karakter di cerita ini sudah memberikan izin
3. Sikapi dengan bijak apa yang tertuang disini
4. Jangan meminta lebih dari apa yang sudah diberikan
5. Sopanlah dalam berkomentar
6. Saling menghargai TS, penulis dan sesama kaskuser disini
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
BAB I & BAB II
BAB III & BAB IV
***
Tralala_Trilili
PROLOG
BAB V
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15- continues
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
***
SEBELUM CAHAYA
PART I
PART II
PART III - The Ghost of You
PART IV
PART V
PART VI
PART VII
PART VIII
Cooling Down
PART IX
PART X - continues
PART XI
PART XII
PART XIII
PART XIV
PART XV
PART XVI
PART XVII A
PART XVII B
PART XVIII
PART XIX - continues
PART XX
PART XXI
PART XXII
PART XXIII
PART XXIV
PART XXV
PART XXVI
PART XXVII
PART XXVIII
PART XXIX
PART XXX
PART XXXI
PART XXXII
PART XXXIII
PART XXXIV
PART XXXV
PART XXXVI - continues
PART XXXVII
PART XXXVIII
PART XXXIX
Vor dem Licht XL - Das Ende
***
BAB V
PART 21
PART 22
Tentang Rasa
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
Von Hier Wegfliegen
Teils Eins - Vorstellen
Teils Zwei - Anfang
Teils Drei - Der Erbarmer
Teils Vier - Von Hier Wegfliegen
Lembayung Senja
Bagian Satu
Bagian Dua
Bagian Tiga
Bagian Empat
Bagian Lima - continues
Bagian Enam
Bagian Tujuh
Bagian Delapan
Bagian Sembilan
Bagian Sepuluh - continues
Breaking Dawn
One Step Closer
Ascension
Throwback Stories
Life is Not Always Fair
Dusk till Dawn
Awal Semula
Untuk Masa Depan
Terimakasih
Omong Kosong
Kepingan Cerita
Menyerah
Restoe
Rasanya - Rasain
Pengorbanan
Menuju Senja
Kenyataan
Wiedersehen
Cobalah untuk Mengerti
Pengorbanan
Tentang Kita
SIDE STORY
VFA
Daily Life I
Daily Life II
Maaf NEWS
Tentang MyPI
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
jenggalasunyi dan 127 lainnya memberi reputasi
124
1.9M
Kutip
8.8K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#2621
Sebelum Cahaya
PART III
Quote:
Reminiscing - August 16th 2008
One day after Downfall I in Elegy
Gua terbangun ketika mentari pagi masuk melewati celah-celah dari ventilasi kamar, lalu cahayanya terjatuh menyinari sebagian tubuh gua.
Sesaat gua mencoba mengerjapkan mata, sedikit rasa perih pun terasa menjalar dari kedua kelopak mata gua yang sedikit bengkak akibat menangis. Gua mengurut kening perlahan dengan sedikit tenaga, akibat rasa pusing yang belum hilang sejak tadi malam.
Setelah kesadaran pulih dengan normal, gua mencoba duduk diatas kasur dengan menyandarkan tubuh kebelakang, lalu menyapukan pandangan di dalam kamar ini yang sudah sangat berantakan dan kotor.
"Huaa...aaammh...", gua merentangkan kedua tangan lebar-lebar seraya menguap.
Kemudian mulai bangkit dari kasur dan berjalan kearah cermin di dekat meja komputer, tangan kiri gua menggaruk-garuk sisi pinggang, sedangkan tangan yang satunya menampar-nampar pelan pipi kanan ini.
Kini, gua sedang berhadapan dengan sosok yang... Entahlah, berantakan sekali dirinya. Gua menatapnya tajam, begitupun dengan sosok tersebut, balik menatap diri ini dengan tatapan bencinya. Kemudian gua memiringkan kepala ke kiri, dan sosok itupun melakukan hal yang sama. Gua menyeringai, sosok itupun ikut menyeringai... Sedetik kemudian mata gua terbelalak, dia pun melakukan hal yang sama. Lalu gua berteriak...
"BANGSAAT!!!"....Duaagh... Praangngng...
Darah mengalir keluar dari kepalan tangan kanan ini setelah sebelumnya gua menghantam sosok tersebut. Sosok itu hilang, pecah bersama kepingan kaca dari sebagian cermin yang berada di hadapan gua.
dug dug dug dug dug dug dug...ketukan beruntun dari luar pintu kamar terdengar nyaring, tidak lama kemudian suara seorang wanita memanggil-manggil nama gua dari balik pintu yang masih terkunci rapat diujung kanan gua.
"Ezaaa... Eza... Ada apa, sayang...? Bunyi apa tadi, Nak ? Kamu kenapa, Za ?".
Suara Mba Laras terdengar khawatir. Tapi gua tidak memperdulikannya, gua berlalu masuk kedalam kamar mandi di dalam kamar ini, membiarkan Mba Laras memanggil-manggil dari balik pintu.
Kucuran air yang keluar dari shower mulai membasahi kepala gua dan mulai merata keseluruh tubuh. Lengan tangan kanan ini menempel pada dinding kamar mandi di depan gua, lalu kepala gua tertunduk dan bersandar pada lengan kanan tersebut. Dinginnya air yang membasahi kepala ini mulai mengikis rasa emosi gua walaupun hanya sedikit. Di dalam kamar mandi gua hanya melamun dengan posisi berdiri tersebut dan tidak berubah, lambat laun airmata gua menetes lagi, bercampur dengan derasnya air dari kucuran shower diatas.
Gua menggigit bibir bagian bawah sambil memejamkan mata, airmata gua masih keluar, yang kini sudah bercampur bersamaan dengan air mandi dari shower, tubuh gua bergetar, gua terisak dalam tangis, mengingat kejadian satu hari lalu.
Tepatnya tadi malam, seorang wanita... Bukan, tapi dia adalah seorang bidadari dunia bagi gua. Seorang Ratu dalam hati ini telah berpulang ke pangkuan-Nya. Disaat dia sudah berhasil berjuang untuk melahirkan buah hati kami ke dunia ini.
Perjuangannya demi anak kami itu dibayar mahal dengan harga yang disebut nyawa. Sepadankah ? Tentu saja, seorang Ibu akan selalu berjuang hingga nyawa pun ia pertaruhkan demi anak, demi darah dagingnya, demi buah hatinya, demi mahluk mungil yang dititipkan Tuhan ke dalam rahimnya. Apapun itu, pengorbanannya adalah rasa cinta dan kasih sayang yang nyata demi sang buah hati.
Sayang sekali, pemikiran itu baru bisa gua pahami dan mengerti setelah jauh kejadian ini berlalu...
Dan tepat dimana satu hari setelah berpulangnya Istri gua, Ressa Ferossa, gua jatuh. Jatuh ke dalam lubang gelap tanpa batas. Dan gua tidak bisa lagi melihat hal baik atau hikmah dibalik itu semua, karena pembandingnya adalah Ibu gua sendiri, Ny. Hikari...
Dalam otak ini, saat itu gua berfikir, bagaimana bisa seorang wanita baik hati bak malaikat meninggalkan keluarganya dengan cara seperti itu. Meninggalkan suaminya, orangtuanya dan yang paling terpenting adalah meninggalkan buah hatinya sendiri tanpa bisa melihatnya barang sejenak, bahkan setelah ia melahirkan anaknya sendiri yang bernama Kencana Jingga.
Sedangkan seorang Ibu yang melahirkan gua dengan cara yang sama, hidup dengan baik bersama keluarganya dan masih diberi kesempatan untuk merawat anaknya. Tapi kesempatan itu malah disalah gunakan... Dia siksa tubuh ini hingga memberikan tanda cintanya pada pinggang sang anak dengan menggunakan benda tajam yang disebut kodachi. Selesai sampai disitu ? Harapan gua begitu. Tapi apa yang ia lakukan kemudian ? Dia pergi tanpa pamit, meninggalkan anaknya itu, bahkan beberapa tahun kemudian di saat mereka berdua bertemu pun sang Ibu tidak menganggapnya lagi sebagai anak.
Ressa, gua yakin dia adalah calon Ibu yang berhati mulia, yang bisa menjaga keluarganya dan anaknya dengan kasih sayang serta mendidiknya dengan akhlak yang baik pula. Tapi sayang sekali, kesempatan itu tidak pernah datang.
Kembali dimana gua kini sudah selesai memebersihkan dan mengeringkan tubuh, juga luka gores pada tangan kanan akibat meninju cermin sebelumnya, sekarang gua sudah berganti pakaian dan hendak keluar kamar. Gua keluar kamar lewat pintu yang terhubung ke teras di depan, ya karena kini gua sedang berada di rumah Nenek.
Saat itu sekitar pukul sembilan pagi, gua membakar sebatang rokok diambang pintu kamar, lalu berjalan keluar rumah, melewati mobil milik gua, si Black dan terus berjalan hingga melewati beberapa rumah tetangga. Ketika sudah berada di persimpangan jalan gua berbelok ke kiri, dan dua rumah dari persimpangan itu, tepat di depan gua, disana lah rumah yang mengawali semuanya.
Gua berdiri di depan rumah tersebut, memandangi halamannya yang cukup luas, beberapa tanaman hias memenuhi halaman tersebut dan halaman parkir di sampingnya kosong tanpa ada kendaraan yang terparkir. Pintu rumah utama itu terbuka. Tapi tidak nampak satupun penghuni rumah itu yang gua lihat.
Gua kembali menghisap rokok light ini dalam-dalam dan menghembuskannya ke depan sana, kearah rumah itu.
Dan saat itu, seolah-olah asap yang keluar dari mulut ini menyibakkan pandangan gua, rumah yang saat itu gua pandangi kini berubah, seiring asap rokok yang lambat laun menguap keatas sana, rumah di hadapan gua pun nampak seperti rumah yang gua ingat sekitar tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh lima.
Quote:
Berkelebat bayangan sosok anak gadis yang berusia tujuh tahun saat itu. Jelas tergambar dalam bayangan ini dan tak pernah terlupakan sedikitpun. Saat itu dia mengenakan dress berwarna kuning gading dengan motif bunga-bunga yang berwarna warni. Tubuhnya memang gemuk, pipinya chubby, lucu sekali ketika melihatnya berlari seperti itu.
Satu hal, kamu adalah seorang anak yang periang sekalipun sering dijahili dan akhirnya menangis.
Dia berlari dari kejaran sepupunya, seorang anak gadis juga, yang usianya lebih muda satu tahun dari dirinya. Layaknya anak pada usia itu, mereka bermain, bercanda dan tertawa bersama. Dan diakhiri dengan duduk berdua di teras depan rumahnya, bermain masak-masakan.
Di sisi lain gua melihat seorang anak lelaki, yang berusia sama dengan sang sepupu, enam tahun. Anak lelaki itu sudah berdiri sekitar lima belas menit di depan rumahnya, dia hanya berdiri diam sambil memperhatikan kedua anak gadis yang asyik bermain di teras itu.
"Hei... Ngapain disitu ?".
Suara khas yang keluar dari mulut seorang anak gadis berusia tujuh tahun tersebut membuyarkan lamunan si anak lelaki yang masih termenung menatapnya.
Anak lelaki itu menggeleng pelan lalu tertunduk, dia berbalik dan hendak pergi ke lapangan sepak bola.
"Aghaaaa... Tungguuu...", teriak si anak gadis gemuk tadi.
Dia berlari keluar terasnya dan menghampiri si anak lelaki yang bernama Agha.
"Kamu kenapa ? Ih, abis nangis ya ?", lanjut si anak gadis gemuk tersebut setelah berdiri dihadapan anak yang bernama Agha. "Udah, main yuk sama aku, tuh ada Dewi juga, temen sekelas kamu ituu... Yuk...".
Dia menarik tangan kiri Agha, mengajaknya ke teras untuk bermain bersama.
Mereka bertiga bermain bersama, walaupun Agha kecil hanya duduk terdiam dan memperhatikan kedua gadis kecil di depannya yang sedang asyik memasak, tentu saja memasak daun-daun dari tanaman halaman rumahnya dengan peralatan memasak mainan.
"Nih, masakannya udah jadi, Gha... Ini buat kamu..", ucap si anak gadis gemuk seraya menaruh piring kecil berbahan plastik yang berwarna pink dengan dedaunan yang juga berada diatasnya.
Agha kecil menggeleng pelan tanpa berbicara sedikitpun.
"Agha makan dong, itu kan udah dimasakin sama Teteh...", lanjutnya kali ini dengan wajah yang cemberut. Pipi chubbynya semakin terlihat berisi ketika dia mengembungkan pipinya itu.
"Hahahaha... Hahahahaha....".
"Iiiih dia ketawa, kenapa ketawa si Agha, Wi ?", tanyanya kepada sepupunya yang masih asyik memotong dedaunan.
Dewi melirik kepada Agha kecil sebentar, lalu kembali asyik memotong dedaunan sambil menaikkan kedua bahunya. "Aauu.. Ah...", (tau ah) jawabnya singkat.
"Agha ngapain ketawa ?", tanyanya lagi penasaran.
Agha kecil baru bisa berhenti tertawa ketika tangan Tetehnya itu menepuk pelan, ya pelan, bahu kanannya.
"Aaawww... Huaaaaaa..".
"Eh ? Eeh.. Eh kok nangis ? Wi, Agha nangis... Kenapa, Wi ?".
Kedua gadis itu panik melihat anak lelaki dihadapan mereka menangis keras sambil memegangi bahunya sendiri. Bahu yang baru saja ditepuk sangat pelan oleh gadis kecil gemuk dihadapannya itu.
Seorang Ibu muda keluar dari dalam rumah, menghampiri mereka bertiga. Dia menanyakan kenapa anak lelaki yang bernama Agha itu menangis hingga sempat berteriak. Dewi kecil menjelaskan kejadian sebelumnya, dimana anak si Ibu muda itu, anak gadis gemuknya menepuk pelan bahu Agha kecil.
"Aku cuma megang doang, Maaaah... Hiks.. Hiks...", anak gadis gemuk tersebut kini malah ikut menangis, mungkin takut dimarahi oleh sang Mamah.
"Yaudah, yaudah... Kamu gak usah ikut nangis Cha...", jawab sang Mamah menenangkan buah hatinya terlebih dulu.
Kemudian dia, sang Mamah, menggendong Agha kecil yang masih menangis, lalu berdiri dan tangan kiri sang Mamah mengusap airmata Agha kecil yang belum berhenti keluar.
"Agha, kamu kenapa nangis ? Sakit bukan ? Habis jatuh, Nak ?", tanya Ibu muda tersebut yang tidak lain adalah Mamah si anak gadis gemuk sebelumnya.
Agha kecil mengangguk walaupun tetap menangis.
"Dimana yang sakit, Nak ?".
Tangan kecilnya menunjuk bahu kanannya sendiri dengan tetap menangis.
Kemudian tangan lembut Ibu muda itu perlahan menarik pelan kerah baju yang dikenakan Agha kecil, dan disanalah terlihat jelas sebuah lebam berwarna hijau kebiruan.
"Allahu Akbar... Astagfirullah Aghaaa...", teriak si Ibu muda terbelalak menatap luka tersebut. "Ya Allah, Nak... Kenapa bisa begini ? Siapa yang mukul kamu, Gha ?", tanya sang Ibu muda.
Apa jawaban Agha kecil ? Dia hanya bisa menangis semakin keras hingga menjerit-jerit. Tidak lama kemudian, dia dibawa kedalam rumah dengan tetap di gendong oleh si Ibu muda itu. Di dudukannya Agha kecil di sofa ruang tamu. Ibu muda itu pergi berlari kecil ke dalam rumah bagian lainnya. Kedua gadis kecil sebelumnya ikut masuk, mereka kini ada di ruang tamu.
"Agha, agha.. Agha jangan nangis yaaa, ada Teteh disini, ada Dewi juga, ada Mamah jugaaa...", ucap gadis gemuk sebelumnya.
Entah apa yang ada di fikiran si anak gadis gemuk itu, di usianya yang baru saja menginjak tujuh tahun, jiwa, sikap, dan lembut kasih seorang wanita sudah nampak sejak kecil. Dia menghapus airmata yang membasahi wajah Agha kecil, lalu memegang kedua tangannya. "Agha, Mamah Teteh punya es krim, Agha pasti gak nangis kalo mamam es krim, bentar ya, Teteh mintain ke Mamah dulu, jangan nangis lagi yaa...".
Belum sempat sang Teteh meminta es krim ke Mamahnya, sang Mamah sudah kembali ke ruang tamu dengan tangan yang penuh memegang beberapa barang. Sang Mamah membawa ember kecil yang dari dalamnya sedikit mengeluarkan uap, lalu sebuah handuk kecil berada di sisi ember tersebut. Di tangan satunya satu box es krim ukuran sedang dia pegang.
"Agha, Tante obatin sakitnya dulu ya, sambil Agha makan es krim ya, sayang... Mau ya diobatin, biar gak sakit lagi, sayang...", ucap Beliau.
Agha kecil memakan es krim tersebut dengan disuapi oleh sang Teteh. Kemudian setelah baju bergambar saint seiya nya dibuka, Ibu muda tersebut mulai membasuh luka lebam yang berada di bahu Agha kecil, dengan hati-hati dan telaten Beliau membasuh luka tersebut dengan air hangat yang berada di handuk kecil itu, sesekali Agha kecil meringis. Tapi rasa sakit itu tidak terlalu terasa lagi karena lembutnya basuhan sang Ibu muda, membuat Agha kecil lebih fokus dan menikmati tiap suapan es krim dari sendok mini yang disuapkan oleh sang Teteh.
"Enak kan es krimnya ? Hihihi... Apa kata Teteh, gak sakit lagi kan kalo mamam es krim...", ucap sang Teteh sambil menyendok lagi es krim dari box yang ia pegang. "Nih abisin ya... Iiih si Agha ceremotan mamam es krimnya, hahahaha... Hahaha..", lalu dia tertawa.
Tawanya membuat Agha kecil ikut merasakan bahagia, dia ikut tertawa bersama sang Teteh.
Setelah sang Ibu muda selesai membasuh luka lebam dengan air hangat dan mengompresnya, dia membaringkan Agha kecil di sofa ruang tamunya ini. Tentu saja bekas es krim yang berada di sekitar mulut Agha kecil itu sudah dilap oleh sang Teteh.
"Agha... Tante mau tanya, Agha kenapa bisa sampai luka gitu ?", tanya lembut sang Ibu muda.
Agha kecil hanya menggeleng lemah dan nampak takut wajahnya.
"Kamu jatuh ?".
Agha kecil masih menggelengkan kepalanya, tidak menjawab pertanyaan sang Ibu muda.
"Ibu ya ?", tembak sang Ibu muda.
Kini, anak lelaki yang berusia enam tahun bernama Agha itu menganggukkan kepalanya dengan cepat, airmata yang sudah menggenang di sudut matanya kembali terlihat jelas.
"Agha main aja disini, ya... Main sama Teteh Echa dan Dewi, bobo sini ya, sayang...", lanjut Beliau seraya mengusap lembut kening Agha kecil, kedua bola mata sang Ibu muda pun terlihat sudah berkaca-kaca.
"Agha nginep rumah Teteh, horeeee.... Main sama aku ya Mah yaa ?", timpal sang anak.
Ibu muda mengangguk cepat kepada sang anak seraya menyeuka airmatanya yang nyaris tertumpah.
"Aghaaa... Agha Agha, nanti Teteh kasih liat koleksi kartu dragon ball, banyak tauu di kamar, ada tajos juga loochh...".
Agha kecil tertawa melihat raut wajah sang Teteh, dia tertawa karena bentuk pipi sang Teteh kembali terlihat lebih chubby karena dikembungkan.
Bahagia, canda, tawa, riang gembira, semua itu karena kamu...
Cha... Kamu si bapau yang periang...
Kamu si anak gemuk yang suka menangis...
Tapi saat itu, Cha... Saat itulah kamu membuat aku lupa akan setiap perih dan sakit yang aku rasakan, keriangan kamu lah yang membasuh luka ini, Cha.
Masa itu, adalah salah satu Masa yang Paling Indah saat aku kecil...
Ressa, Sahabat kecil ku, Teteh ku, Terimakasih untuk masa itu.
Satu hal, kamu adalah seorang anak yang periang sekalipun sering dijahili dan akhirnya menangis.
Dia berlari dari kejaran sepupunya, seorang anak gadis juga, yang usianya lebih muda satu tahun dari dirinya. Layaknya anak pada usia itu, mereka bermain, bercanda dan tertawa bersama. Dan diakhiri dengan duduk berdua di teras depan rumahnya, bermain masak-masakan.
Di sisi lain gua melihat seorang anak lelaki, yang berusia sama dengan sang sepupu, enam tahun. Anak lelaki itu sudah berdiri sekitar lima belas menit di depan rumahnya, dia hanya berdiri diam sambil memperhatikan kedua anak gadis yang asyik bermain di teras itu.
"Hei... Ngapain disitu ?".
Suara khas yang keluar dari mulut seorang anak gadis berusia tujuh tahun tersebut membuyarkan lamunan si anak lelaki yang masih termenung menatapnya.
Anak lelaki itu menggeleng pelan lalu tertunduk, dia berbalik dan hendak pergi ke lapangan sepak bola.
"Aghaaaa... Tungguuu...", teriak si anak gadis gemuk tadi.
Dia berlari keluar terasnya dan menghampiri si anak lelaki yang bernama Agha.
"Kamu kenapa ? Ih, abis nangis ya ?", lanjut si anak gadis gemuk tersebut setelah berdiri dihadapan anak yang bernama Agha. "Udah, main yuk sama aku, tuh ada Dewi juga, temen sekelas kamu ituu... Yuk...".
Dia menarik tangan kiri Agha, mengajaknya ke teras untuk bermain bersama.
Mereka bertiga bermain bersama, walaupun Agha kecil hanya duduk terdiam dan memperhatikan kedua gadis kecil di depannya yang sedang asyik memasak, tentu saja memasak daun-daun dari tanaman halaman rumahnya dengan peralatan memasak mainan.
"Nih, masakannya udah jadi, Gha... Ini buat kamu..", ucap si anak gadis gemuk seraya menaruh piring kecil berbahan plastik yang berwarna pink dengan dedaunan yang juga berada diatasnya.
Agha kecil menggeleng pelan tanpa berbicara sedikitpun.
"Agha makan dong, itu kan udah dimasakin sama Teteh...", lanjutnya kali ini dengan wajah yang cemberut. Pipi chubbynya semakin terlihat berisi ketika dia mengembungkan pipinya itu.
"Hahahaha... Hahahahaha....".
"Iiiih dia ketawa, kenapa ketawa si Agha, Wi ?", tanyanya kepada sepupunya yang masih asyik memotong dedaunan.
Dewi melirik kepada Agha kecil sebentar, lalu kembali asyik memotong dedaunan sambil menaikkan kedua bahunya. "Aauu.. Ah...", (tau ah) jawabnya singkat.
"Agha ngapain ketawa ?", tanyanya lagi penasaran.
Agha kecil baru bisa berhenti tertawa ketika tangan Tetehnya itu menepuk pelan, ya pelan, bahu kanannya.
"Aaawww... Huaaaaaa..".
"Eh ? Eeh.. Eh kok nangis ? Wi, Agha nangis... Kenapa, Wi ?".
Kedua gadis itu panik melihat anak lelaki dihadapan mereka menangis keras sambil memegangi bahunya sendiri. Bahu yang baru saja ditepuk sangat pelan oleh gadis kecil gemuk dihadapannya itu.
Seorang Ibu muda keluar dari dalam rumah, menghampiri mereka bertiga. Dia menanyakan kenapa anak lelaki yang bernama Agha itu menangis hingga sempat berteriak. Dewi kecil menjelaskan kejadian sebelumnya, dimana anak si Ibu muda itu, anak gadis gemuknya menepuk pelan bahu Agha kecil.
"Aku cuma megang doang, Maaaah... Hiks.. Hiks...", anak gadis gemuk tersebut kini malah ikut menangis, mungkin takut dimarahi oleh sang Mamah.
"Yaudah, yaudah... Kamu gak usah ikut nangis Cha...", jawab sang Mamah menenangkan buah hatinya terlebih dulu.
Kemudian dia, sang Mamah, menggendong Agha kecil yang masih menangis, lalu berdiri dan tangan kiri sang Mamah mengusap airmata Agha kecil yang belum berhenti keluar.
"Agha, kamu kenapa nangis ? Sakit bukan ? Habis jatuh, Nak ?", tanya Ibu muda tersebut yang tidak lain adalah Mamah si anak gadis gemuk sebelumnya.
Agha kecil mengangguk walaupun tetap menangis.
"Dimana yang sakit, Nak ?".
Tangan kecilnya menunjuk bahu kanannya sendiri dengan tetap menangis.
Kemudian tangan lembut Ibu muda itu perlahan menarik pelan kerah baju yang dikenakan Agha kecil, dan disanalah terlihat jelas sebuah lebam berwarna hijau kebiruan.
"Allahu Akbar... Astagfirullah Aghaaa...", teriak si Ibu muda terbelalak menatap luka tersebut. "Ya Allah, Nak... Kenapa bisa begini ? Siapa yang mukul kamu, Gha ?", tanya sang Ibu muda.
Apa jawaban Agha kecil ? Dia hanya bisa menangis semakin keras hingga menjerit-jerit. Tidak lama kemudian, dia dibawa kedalam rumah dengan tetap di gendong oleh si Ibu muda itu. Di dudukannya Agha kecil di sofa ruang tamu. Ibu muda itu pergi berlari kecil ke dalam rumah bagian lainnya. Kedua gadis kecil sebelumnya ikut masuk, mereka kini ada di ruang tamu.
"Agha, agha.. Agha jangan nangis yaaa, ada Teteh disini, ada Dewi juga, ada Mamah jugaaa...", ucap gadis gemuk sebelumnya.
Entah apa yang ada di fikiran si anak gadis gemuk itu, di usianya yang baru saja menginjak tujuh tahun, jiwa, sikap, dan lembut kasih seorang wanita sudah nampak sejak kecil. Dia menghapus airmata yang membasahi wajah Agha kecil, lalu memegang kedua tangannya. "Agha, Mamah Teteh punya es krim, Agha pasti gak nangis kalo mamam es krim, bentar ya, Teteh mintain ke Mamah dulu, jangan nangis lagi yaa...".
Belum sempat sang Teteh meminta es krim ke Mamahnya, sang Mamah sudah kembali ke ruang tamu dengan tangan yang penuh memegang beberapa barang. Sang Mamah membawa ember kecil yang dari dalamnya sedikit mengeluarkan uap, lalu sebuah handuk kecil berada di sisi ember tersebut. Di tangan satunya satu box es krim ukuran sedang dia pegang.
"Agha, Tante obatin sakitnya dulu ya, sambil Agha makan es krim ya, sayang... Mau ya diobatin, biar gak sakit lagi, sayang...", ucap Beliau.
Agha kecil memakan es krim tersebut dengan disuapi oleh sang Teteh. Kemudian setelah baju bergambar saint seiya nya dibuka, Ibu muda tersebut mulai membasuh luka lebam yang berada di bahu Agha kecil, dengan hati-hati dan telaten Beliau membasuh luka tersebut dengan air hangat yang berada di handuk kecil itu, sesekali Agha kecil meringis. Tapi rasa sakit itu tidak terlalu terasa lagi karena lembutnya basuhan sang Ibu muda, membuat Agha kecil lebih fokus dan menikmati tiap suapan es krim dari sendok mini yang disuapkan oleh sang Teteh.
"Enak kan es krimnya ? Hihihi... Apa kata Teteh, gak sakit lagi kan kalo mamam es krim...", ucap sang Teteh sambil menyendok lagi es krim dari box yang ia pegang. "Nih abisin ya... Iiih si Agha ceremotan mamam es krimnya, hahahaha... Hahaha..", lalu dia tertawa.
Tawanya membuat Agha kecil ikut merasakan bahagia, dia ikut tertawa bersama sang Teteh.
Setelah sang Ibu muda selesai membasuh luka lebam dengan air hangat dan mengompresnya, dia membaringkan Agha kecil di sofa ruang tamunya ini. Tentu saja bekas es krim yang berada di sekitar mulut Agha kecil itu sudah dilap oleh sang Teteh.
"Agha... Tante mau tanya, Agha kenapa bisa sampai luka gitu ?", tanya lembut sang Ibu muda.
Agha kecil hanya menggeleng lemah dan nampak takut wajahnya.
"Kamu jatuh ?".
Agha kecil masih menggelengkan kepalanya, tidak menjawab pertanyaan sang Ibu muda.
"Ibu ya ?", tembak sang Ibu muda.
Kini, anak lelaki yang berusia enam tahun bernama Agha itu menganggukkan kepalanya dengan cepat, airmata yang sudah menggenang di sudut matanya kembali terlihat jelas.
"Agha main aja disini, ya... Main sama Teteh Echa dan Dewi, bobo sini ya, sayang...", lanjut Beliau seraya mengusap lembut kening Agha kecil, kedua bola mata sang Ibu muda pun terlihat sudah berkaca-kaca.
"Agha nginep rumah Teteh, horeeee.... Main sama aku ya Mah yaa ?", timpal sang anak.
Ibu muda mengangguk cepat kepada sang anak seraya menyeuka airmatanya yang nyaris tertumpah.
"Aghaaa... Agha Agha, nanti Teteh kasih liat koleksi kartu dragon ball, banyak tauu di kamar, ada tajos juga loochh...".
Agha kecil tertawa melihat raut wajah sang Teteh, dia tertawa karena bentuk pipi sang Teteh kembali terlihat lebih chubby karena dikembungkan.
Bahagia, canda, tawa, riang gembira, semua itu karena kamu...
Cha... Kamu si bapau yang periang...
Kamu si anak gemuk yang suka menangis...
Tapi saat itu, Cha... Saat itulah kamu membuat aku lupa akan setiap perih dan sakit yang aku rasakan, keriangan kamu lah yang membasuh luka ini, Cha.
Masa itu, adalah salah satu Masa yang Paling Indah saat aku kecil...
Ressa, Sahabat kecil ku, Teteh ku, Terimakasih untuk masa itu.
....
Gua kembali ke realita, hilang bayangan-bayangan itu dalam pandangan gua ketika seorang Ibu paruh baya keluar dari dalam rumah di depan sana.
"Eza... Ada apa, Za ?", tanyanya.
Gua terdiam sesaat, lalu airmata ini tertumpah, tersadar bahwa kini rumah itu bukanlah rumah yang berisi sahabat kecil gua, Teteh gua, bukan... Karena sekarang dan sudah belasan tahun lalu rumah itu berpindah pemiliknya. Gua berjongkok dan menangis. Ibu paruh baya itu berlari menghampiri gua dan memegangi kedua bahu gua.
"Kenapa, Le' ? Ada apa ?", tanyanya kali ini sambil memegangi kedua bahu gua dan mengajak gua berdiri.
Gua menyeuka airmata dan meminta maaf kepadanya. "Maaf Bude, saya.... Huuuufffttt... Saya cuma mengenang Istri saya... Dulu dia pernah tinggal di rumah ini, pertama kalinya kami berkenalan saat masih anak-anak, Maaf...".
"Yowes ora popo, ndak masalah, Za, Bude ngerti... Ayo masuk dulu kalo gitu...", ajaknya.
"Enggak usah Bude, gak apa-apa, maaf sekali lagi, saya pamit...".
"Le'... Bude turut berduka cita... Kamu yang kuat yo.. Bojo mu wes ditempatkan di tempat yang terbaik oleh Gusti Allah... Sing Sabar yo, Le'...".
Gua tersenyum getir lalu mengangguk dan kembali berjalan kearah rumah Nenek.
...SCROLL DOWN to CONTINUES READING...
Diubah oleh glitch.7 20-08-2017 08:39
kifif dan fatqurr memberi reputasi
2
Kutip
Balas

