- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#2474
Sebelum Cahaya
PART I
"Kamu jadi pergi sama dia hari ini, Mas ?".
Gua meregangkan kedua tangan ke udara, lalu bangun dari sofa ruang tamu rumahnya. "Jadi...", saku celana gua bergetar pelan. "Sebentar, kayaknya dia bbm nih...", jawab gua yang sudah duduk, lalu mengeluarkan blackberry dari saku celana denim. Gua membaca isi pesan bbm yang baru saja masuk, sebuah balasan dari pesan bbm yang gw kirim beberapa menit lalu kepada seorang wanita.
"Assalamualaikum...", ucapan salam yang terdengar dari ambang pintu di sisi kiri ruang tamu ini membuat kami berdua menengok kearah sosok lelaki yang baru saja pulang.
"Walaikumsalam...", jawab kami berdua berbarengan.
"Tumben udah pulang, Mas".
"Iya kerjaannya sedikit hari ini, sayang... Eh ada si Eza... Apa kabar, Za ?".
Gua tersenyum lalu berjalan menghampiri lelaki yang berjalan masuk ke ruang tamu rumahnya sendiri ini. "Baik kok seperti biasanya, oh ya gua abis anterin istri lu tadi ke mall, pusing gua nemeninnya hadeuh...".
Kami berjabat tangan lalu gua kembali duduk di sofa, kali ini gua duduk bersebelahan dengan sang kepala keluarga rumah ini. Sedangkan istrinya juga sudah kembali duduk di sofa sebrang kami, setelah sebelumnya mencium tangan sang suami.
"Yeee.. Tadi aja bilangnya gak apa-apa nemenin aku, giliran suami ku pulang malah ngadu, dasar samanya... Cowo ma gitu kalo diajak cewe nya, pemalasan.. Huh..!", protes sang istri setelah mendengar omongan gua.
Gua dan sang suami hanya tertawa mendengar perasaan kesal istrinya. Kemudian, sang istri pergi ke dapur, membuatkan minuman untuk sang suami yang baru saja pulang.
"Gimana Za, resto lancar ?".
Lelaki itu sekarang menyandarkan punggungnya ke bahu sofa seraya mengeluarkan sebatang rokok mild dari bungkusnya, lalu mulai menikmati setiap hisapan racun yang telah terbakar.
"Alhamdulilah, lancar... Kerjaan lu sendiri gimana ? Lancar ? Katanya mau buka usaha kecil-kecilan juga bini lu..", gua merubah posisi duduk dengan melipat satu kaki ke kaki lainnya dan ikut mengeluarkan rokok milik gua sendiri, membakar sebatang light dan menghisapnya dalam-dalam untuk kemudian gua hembuskan polusinya ke ruang tamu rumahnya ini.
"Ya gitu-gitu aja gawean gua ma... Namanya karyawan gak sesibuk pengusaha macem lu, hehehe...", dia terkekeh pelan.
"Alah, apaan pengusaha... Belom jadi apa-apa gua ma..", jawab gua sambil menjentikkan batang rokok ke dalam asbak yang berada diatas meja, membuang abu rokok.
"Eh iya soal bini gua yang mau buka usaha tuh bantuin lah, kan katanya tante lu yang cantik itu bisnisnya oke punya, bisalah kasih tips-tips soal usaha ke bini gua...", pintanya serius kali ini.
Ya memang beberapa waktu lalu, sang istri sempat mengutarakan niatnya untuk membuka usaha kecil-kecilan, di bidang kuliner, entah roti atau kue kering yang nanti akan ia coba. Dan karena, tante gua, Kinanti serta keluarga besarnya memang sudah berpengalaman dalam bidang usaha pembuatan roti itulah membuat sang istri ingin juga membuka usaha. Padahal dirinya juga berstatus sebagai karyawati di salah satu perusahaan, dan memang sempat gua dengar kalau sekarang bidang pekerjaannya itu tidak sesuai dengan minatnya selama ini, maka muncullah ide untuk menjadi wirausahawan yang di dukung penuh oleh sang suami.
Sang istri kembali ke ruang tamu dengan secangkir teh manis panas yang berada di genggamannya, kemudian dia menaruhnya diatas meja, di depan suaminya.
"Mas, mau bikin kopi lagi ?", tanyanya tanpa menengok kepada gua ataupun suaminya.
"Mas mu yang mana nih ? Ada dua disini yang kamu panggil Mas...", ucap sang suami.
"Mas Eza maksudnya, hehehe.. Kalo kamu kan baru aja aku buatin teh, masa iya mau kopi juga, Mas...", jawab sang istri sambil tersenyum kepada suaminya itu.
"Eh, tuh hape lu geter, Za...", ucap sang suami yang melirik ke blackberry diatas meja, dekat asbak.
Gua mencondongkan tubuh kedepan, melihat ke layar blackberry itu dan... Oh shit!
Gua mengambil blackberry tersebut dan menggenggamnya. Lalu gua berdiri untuk pamit kepada pasangan suami istri itu, karena sekarang blackberry gua sudah bergetar tanpa henti, yang tandanya ada panggilan telpon dan menunggu untuk dijawab.
"Eh, gua pamit dulu ya.. Sorry nih, soalnya gua ada janji ama orang..", gua pamit sambil menatap layar blackberry yang menunjukkan nama kontak seorang wanita sedang dalam panggilan telpon. "Soal usaha itu nanti gua coba tanya Kinan, sekalian istri lu gua ajak ketemu Kinan deh biar lebih enak ngobrolnya", lanjut gua yang mulai buru-buru untuk segera pergi.
"Nah kan, pasti bbm dari dia belum dibales deh, kebiasan kamu, Mas...", ucap sang istri kali ini yang melihat gua sibuk hendak pamit sambil menatap layar blackberry pada tangan ini.
"Okey, Za. Enggak apa-apa, makasih udah nemenin istri gua tadi...", jawabnya sambil menjabat tangan gua.
"Iya, thanks juga Fer...", jawab gua cepat. "Mba, aku pulang ya.. Thanks untuk nasi gorengnya tadi, hehehe...", kali ini gua menengok kepada istrinya sambil melambaikan tangan kiri. Istrinya itu, Mba Yu.. Ya, Mba Yu Sherlin tersenyum kepada gua sambil mengucapkan terimakasih juga.
Gua berjalan cepat keluar dari rumah pasangan suami istri yang baru saja menikah satu bulan lalu itu.
Masih di depan teras rumah Feri dan Mba Yu, gua buru-buru menekan tombol answer pada blackberry untuk menjawab panggilan telpon yang masih belum berhenti bergetar. "Hallo, iya iya sebentar ini aku udah di jalan...", jawab gua cepat ketika suara seorang wanita diujung telpon terdengar kesal karena bbm yang ia kirimkan sebelumnya belum sempat gua balas, yang langsung berlanjut kepada pertanyaan sudah berada dimana posisi gua sekarang... Mampus gua udah buat dia nunggu lama.
Gua meregangkan kedua tangan ke udara, lalu bangun dari sofa ruang tamu rumahnya. "Jadi...", saku celana gua bergetar pelan. "Sebentar, kayaknya dia bbm nih...", jawab gua yang sudah duduk, lalu mengeluarkan blackberry dari saku celana denim. Gua membaca isi pesan bbm yang baru saja masuk, sebuah balasan dari pesan bbm yang gw kirim beberapa menit lalu kepada seorang wanita.
"Assalamualaikum...", ucapan salam yang terdengar dari ambang pintu di sisi kiri ruang tamu ini membuat kami berdua menengok kearah sosok lelaki yang baru saja pulang.
"Walaikumsalam...", jawab kami berdua berbarengan.
"Tumben udah pulang, Mas".
"Iya kerjaannya sedikit hari ini, sayang... Eh ada si Eza... Apa kabar, Za ?".
Gua tersenyum lalu berjalan menghampiri lelaki yang berjalan masuk ke ruang tamu rumahnya sendiri ini. "Baik kok seperti biasanya, oh ya gua abis anterin istri lu tadi ke mall, pusing gua nemeninnya hadeuh...".
Kami berjabat tangan lalu gua kembali duduk di sofa, kali ini gua duduk bersebelahan dengan sang kepala keluarga rumah ini. Sedangkan istrinya juga sudah kembali duduk di sofa sebrang kami, setelah sebelumnya mencium tangan sang suami.
"Yeee.. Tadi aja bilangnya gak apa-apa nemenin aku, giliran suami ku pulang malah ngadu, dasar samanya... Cowo ma gitu kalo diajak cewe nya, pemalasan.. Huh..!", protes sang istri setelah mendengar omongan gua.
Gua dan sang suami hanya tertawa mendengar perasaan kesal istrinya. Kemudian, sang istri pergi ke dapur, membuatkan minuman untuk sang suami yang baru saja pulang.
"Gimana Za, resto lancar ?".
Lelaki itu sekarang menyandarkan punggungnya ke bahu sofa seraya mengeluarkan sebatang rokok mild dari bungkusnya, lalu mulai menikmati setiap hisapan racun yang telah terbakar.
"Alhamdulilah, lancar... Kerjaan lu sendiri gimana ? Lancar ? Katanya mau buka usaha kecil-kecilan juga bini lu..", gua merubah posisi duduk dengan melipat satu kaki ke kaki lainnya dan ikut mengeluarkan rokok milik gua sendiri, membakar sebatang light dan menghisapnya dalam-dalam untuk kemudian gua hembuskan polusinya ke ruang tamu rumahnya ini.
"Ya gitu-gitu aja gawean gua ma... Namanya karyawan gak sesibuk pengusaha macem lu, hehehe...", dia terkekeh pelan.
"Alah, apaan pengusaha... Belom jadi apa-apa gua ma..", jawab gua sambil menjentikkan batang rokok ke dalam asbak yang berada diatas meja, membuang abu rokok.
"Eh iya soal bini gua yang mau buka usaha tuh bantuin lah, kan katanya tante lu yang cantik itu bisnisnya oke punya, bisalah kasih tips-tips soal usaha ke bini gua...", pintanya serius kali ini.
Ya memang beberapa waktu lalu, sang istri sempat mengutarakan niatnya untuk membuka usaha kecil-kecilan, di bidang kuliner, entah roti atau kue kering yang nanti akan ia coba. Dan karena, tante gua, Kinanti serta keluarga besarnya memang sudah berpengalaman dalam bidang usaha pembuatan roti itulah membuat sang istri ingin juga membuka usaha. Padahal dirinya juga berstatus sebagai karyawati di salah satu perusahaan, dan memang sempat gua dengar kalau sekarang bidang pekerjaannya itu tidak sesuai dengan minatnya selama ini, maka muncullah ide untuk menjadi wirausahawan yang di dukung penuh oleh sang suami.
Sang istri kembali ke ruang tamu dengan secangkir teh manis panas yang berada di genggamannya, kemudian dia menaruhnya diatas meja, di depan suaminya.
"Mas, mau bikin kopi lagi ?", tanyanya tanpa menengok kepada gua ataupun suaminya.
"Mas mu yang mana nih ? Ada dua disini yang kamu panggil Mas...", ucap sang suami.
"Mas Eza maksudnya, hehehe.. Kalo kamu kan baru aja aku buatin teh, masa iya mau kopi juga, Mas...", jawab sang istri sambil tersenyum kepada suaminya itu.
"Eh, tuh hape lu geter, Za...", ucap sang suami yang melirik ke blackberry diatas meja, dekat asbak.
Gua mencondongkan tubuh kedepan, melihat ke layar blackberry itu dan... Oh shit!
Gua mengambil blackberry tersebut dan menggenggamnya. Lalu gua berdiri untuk pamit kepada pasangan suami istri itu, karena sekarang blackberry gua sudah bergetar tanpa henti, yang tandanya ada panggilan telpon dan menunggu untuk dijawab.
"Eh, gua pamit dulu ya.. Sorry nih, soalnya gua ada janji ama orang..", gua pamit sambil menatap layar blackberry yang menunjukkan nama kontak seorang wanita sedang dalam panggilan telpon. "Soal usaha itu nanti gua coba tanya Kinan, sekalian istri lu gua ajak ketemu Kinan deh biar lebih enak ngobrolnya", lanjut gua yang mulai buru-buru untuk segera pergi.
"Nah kan, pasti bbm dari dia belum dibales deh, kebiasan kamu, Mas...", ucap sang istri kali ini yang melihat gua sibuk hendak pamit sambil menatap layar blackberry pada tangan ini.
"Okey, Za. Enggak apa-apa, makasih udah nemenin istri gua tadi...", jawabnya sambil menjabat tangan gua.
"Iya, thanks juga Fer...", jawab gua cepat. "Mba, aku pulang ya.. Thanks untuk nasi gorengnya tadi, hehehe...", kali ini gua menengok kepada istrinya sambil melambaikan tangan kiri. Istrinya itu, Mba Yu.. Ya, Mba Yu Sherlin tersenyum kepada gua sambil mengucapkan terimakasih juga.
Gua berjalan cepat keluar dari rumah pasangan suami istri yang baru saja menikah satu bulan lalu itu.
Masih di depan teras rumah Feri dan Mba Yu, gua buru-buru menekan tombol answer pada blackberry untuk menjawab panggilan telpon yang masih belum berhenti bergetar. "Hallo, iya iya sebentar ini aku udah di jalan...", jawab gua cepat ketika suara seorang wanita diujung telpon terdengar kesal karena bbm yang ia kirimkan sebelumnya belum sempat gua balas, yang langsung berlanjut kepada pertanyaan sudah berada dimana posisi gua sekarang... Mampus gua udah buat dia nunggu lama.
°°°
Sore ini rasanya udara cukup segar, walaupun sepanjang perjalanan tadi banyak kendaraan bermotor dan menyebabkan udara terkena polusi, gua tidak perduli lagi, karena disini sangatlah berbeda, ya berbeda karena sekarang gua sudah berada di sebuah taman kota. Sejuknya udara yang ada disebabkan oleh banyaknya pohon-pohon yang cukup banyak meneduhi taman ini. Semilir angin di sore ini menambah sejuk keadaan di sekitar. Dan sekarang bertambah lagi kesejukan serta kesegaran yang gua rasakan, karena apa yang gua lihat dari jarak kurang lebih sekitar lima meter dari tempat gua berdiri telah nampak sesosok bidadari yang sedang duduk diatas sebuah bangku taman.
Penampilannya membuat mata gua hingga terperangah tak percaya, kalau ternyata ada wanita secantik dia dan telah gua kenal cukup dekat. Mimpi apa gua bisa dekat dengannya, terkadang gua sama dengan orang lain pada umumnya, ketika melihat sosok wanita cantik seperti dirinya, fikiran gua membawa gua kepada kenyataan bahwa biasanya, gua hanya bisa menatap layar kaca untuk menemukan sosok kaum hawa dengan kecantikan luar biasa seperti dirinya, apalagi kalau bukan layaknya artis-artis wanita sekelas Raline Shah, (misalnya).
Jika gua boleh membandingkan, siapa saja wanita dengan penampilan wajah yang sangat cantik diantara para wanita yang pernah gua kenal sampai saat ini (waktu dimana kejadian ini berlangsung), urutan pertamanya adalah Mba Siska, ya dia mantan kekasih gua yang memiliki wajah tercantik diantara wanita yang pernah gua kenal. Lalu... Ehm... Luna. Dilanjutkan diurutan ketiga ada Mba Yu, kemudian disusul oleh sang Nyonya, Vera. Dan barulah almh. Echa. Maaf, bukan bermaksud tidak sopan dengan membandingkan seperti ini, tapi ini hanyalah sebuah tolak ukur bagi gua sendiri, dan perlu diingat juga, penilaian tersebut relatif, karena setiap orang terkadang memiliki standar penilaiannya sendiri. Misalkan gua mengatakan Mba Siska paling cantik di mata gua, belum tentu di mata lelaki lain dia yang tercantik, mungkin saja Luna yang berada diurutan teratas. Seperti adik ipar gua yang lebih tergila-gila dan mengatakan kalau (awas spoiler) adik gua lebih cantik dari semua mantan kekasih gua dahulu, dan adik gua yang dimaksud olehnya, bukanlah Dian. Balik lagi, semuanya memiliki sudut pandang yang berbeda-beda pula.
Tapi sore ini, ya sore ini, di sebuah taman, dibawah pepohonan yang menjulang tinggi, ada salah satu bidadari yang sepertinya sedang tersesat, dan tidak tahu jalan pulang ke tempat seharusnya. Sosok bidadari dihadapan gua itu benar-benar menyingkirkan urutan pertama dari apa yang gua jabarkan sebelumnya. Serius, dia melewati Mba Siska sebagai wanita tercantik di mata gua. Damn...kok bisa gua baru sadar sekarang, kalau dirinya jauh lebih cantik daripada Mba Siska selama ini, mungkin karena gua tidak begitu dekat dengannya beberapa tahun lalu. Dan ketika kini kami mulai dekat, barulah gua tersadar... Kamu cantik sekali.
Atmosfer yang terasa menghipnotis gua karena segala keindahan yang dimiliki sosok bidadari tersebut tiba-tiba saja berubah seratus delapan puluh derajat ketika dirinya sudah menyadari kehadiran gua yang kembali berjalan mendekat.
Kedua matanya memicing, bibirnya seperti bergumam tipis lalu kedua tangannya yang berada diatas kedua pahanya itu, terkepal.
Gua tersenyum lebar sambil terus berjalan dan berhenti tepat dihadapannya. Gua masih tersenyum lebar dan mulai terkekeh pelan. "Hehehe... Maaf ya, maaf banget jadi bikin kamu nunggu lama...", ucap gua seraya menggaruk pipi kanan yang sama sekali tidak terasa gatal sebenarnya.
"Hm..".
Bidadari ternyata punya emosi juga... Kesal dan bete pasti dia. Gua yakin kalo sudah begini sih, karena gua hafal betul dengan segala sikapnya itu.
"Maafin aku.. Beneran deh tadi abis dari rumah Mba Yu langsung on the way kesini.. Maaf ya cantik...", lanjut gua, karena sekarang dia sudah melipat kedua tangannya di depan dada, lalu memalingkan wajah ke arah lain.
Gemas rasanya diri ini ketika harus melihat raut wajahnya yang setiap kali kesal kepada gua pasti saja menunjukkan reaksi cemberutnya itu. Pipinya mengembung, bibirnya mengatup kecil, lalu matanya melirik sinis kearah gua dengan wajah yang ia palingkan. Gemas, lucu, dan... Ngeselin juga. Tingkah laku yang kekanakan seperti itulah yang malah membuat gua suka kepadanya. Wait a sec... What I said ? Suka ?.
Dia masih diam dengan segala kekesalan yang ia tunjukkan itu. Gua menggaruk kepala bagian belakang sambil kembali mendekatinya, lalu duduk tepat di samping kiri.
Eh, dia malah menyerongkan tubuhnya ke arah lain. Gua tersenyum lebar ketika dipunggungi seperti ini. Gua laki-laki, normal. Catet. Jadi keinginan untuk membujuknya agar memaafkan gua hilang seketika, karena otak gua mulai bekerja dengan cepat, reaksi dalam otak ini begitu cepat seperti kilatan cahaya gara-gara kedua indra penglihatan ini menangkap sebuah visualisasi dari mahkota seorang bidadari. Gila, cuma karena sebuah mahkota wanita saja pikiran gua bisa melayang jauh kearah negatif. Mungkin karena memang dirinya memiliki daya tarik yang kuat untuk menaklukan lawan jenis. Pesonanya itu yang membuat hati ini meleleh.
Tangan kanan gua bergerak dengan sendirinya, membelai mahkotanya yang terkuncir memanjang hingga punggungnya. Warna mahkotanya yang terkuncir itu hitam dengan sebagian berwarna kecokelatan, dan ketika tangan ini berhenti tepat di dekat tengkuknya, fikiran ini semakin jauh melayang membayangkan bagaimana jika gua menyentuh lembut tengkuk yang putih bersih menggoda di hadapan gua itu. Baru saja jemari gua akan menyentuh bagian yang katanya cukup sensitif bagi wanita, dia menoleh kepada gua. Matanya melotot menatap wajah gua yang sudah terkejut.
"Mau ngapain ?!", sentaknya dengan ekspresi yang cukup menyiutkan gua punya nyali.
"Eh...eengng.. Enggak kok, gak ngapa-ngapain...", jawab gua seraya memundurkan tubuh sedikit menjauh.
"Macem-macem lagi ?! Di taman loch ini!!", semakin emosi dia hingga benar-benar merubah posisi duduknya hingga menyerong kearah gua. "Dasar PERVERT!!", sentakannya kali ini diiringi dengan tubuhnya yang sudah berdiri dan bertolak pinggang dihadapan gua.
Gua menelan ludah, masih duduk di bangku taman ini, gua mundurkan tubuh agar berada di jarak aman, jangan sampai kejadian yang sudah-sudah terulang lagi... Ya, jangan sampai.
"Enggak suweeerrr... Pikirannya gitu amat sih sama aku...".
Padahal ma iya juga, terlena gua gara-gara rambut dan tengkuknya. Sial...
"Pikirannya gitu amat sih sama akuu...".
Gais, lu tau gak kalo cewe mengulang kalimat kita dengan nada suara yang ngeselin, alias mencibir. Belum ekspresi wajahnya yang enggak banget! Jadi pingin ngejembel pipinya... (ngejembel = nyubit).
Ya begitulah ni bidadari satu, sangat cantik, lucu, tapi tetep, N-G-E-S-E-L-I-N.
"Ya ampun beibh...", ucapan gua langsung dipotong.
"Bab, beb, bab, beb... Udah udah gak usah lebay deh... Buruan ah berangkat, bete aku!!", sungutnya seraya mengambil cardigans berwarna pink miliknya yang berada di bangku taman samping gua.
"Masa langsung berangkat, baru juga sampe...".
"Sampe habis kesabaran! Situ sih iya baru sampe! Lah sini nih yang daritadi udah sampe, sampe abis kesabaran sini nunggu situ!! Heuh!", sungutnya lagi memotong ucapan gua.
Melenggak-lenggok dia berjalan seperti di film-film drama ketika seorang wanitanya kesal dengan si lelaki, pergi lah dia meninggalkan gua yang masih duduk terbengong karena tingkah lakunya yang sangat 'menyenangkan'...
Penampilannya membuat mata gua hingga terperangah tak percaya, kalau ternyata ada wanita secantik dia dan telah gua kenal cukup dekat. Mimpi apa gua bisa dekat dengannya, terkadang gua sama dengan orang lain pada umumnya, ketika melihat sosok wanita cantik seperti dirinya, fikiran gua membawa gua kepada kenyataan bahwa biasanya, gua hanya bisa menatap layar kaca untuk menemukan sosok kaum hawa dengan kecantikan luar biasa seperti dirinya, apalagi kalau bukan layaknya artis-artis wanita sekelas Raline Shah, (misalnya).
Jika gua boleh membandingkan, siapa saja wanita dengan penampilan wajah yang sangat cantik diantara para wanita yang pernah gua kenal sampai saat ini (waktu dimana kejadian ini berlangsung), urutan pertamanya adalah Mba Siska, ya dia mantan kekasih gua yang memiliki wajah tercantik diantara wanita yang pernah gua kenal. Lalu... Ehm... Luna. Dilanjutkan diurutan ketiga ada Mba Yu, kemudian disusul oleh sang Nyonya, Vera. Dan barulah almh. Echa. Maaf, bukan bermaksud tidak sopan dengan membandingkan seperti ini, tapi ini hanyalah sebuah tolak ukur bagi gua sendiri, dan perlu diingat juga, penilaian tersebut relatif, karena setiap orang terkadang memiliki standar penilaiannya sendiri. Misalkan gua mengatakan Mba Siska paling cantik di mata gua, belum tentu di mata lelaki lain dia yang tercantik, mungkin saja Luna yang berada diurutan teratas. Seperti adik ipar gua yang lebih tergila-gila dan mengatakan kalau (awas spoiler) adik gua lebih cantik dari semua mantan kekasih gua dahulu, dan adik gua yang dimaksud olehnya, bukanlah Dian. Balik lagi, semuanya memiliki sudut pandang yang berbeda-beda pula.
Tapi sore ini, ya sore ini, di sebuah taman, dibawah pepohonan yang menjulang tinggi, ada salah satu bidadari yang sepertinya sedang tersesat, dan tidak tahu jalan pulang ke tempat seharusnya. Sosok bidadari dihadapan gua itu benar-benar menyingkirkan urutan pertama dari apa yang gua jabarkan sebelumnya. Serius, dia melewati Mba Siska sebagai wanita tercantik di mata gua. Damn...kok bisa gua baru sadar sekarang, kalau dirinya jauh lebih cantik daripada Mba Siska selama ini, mungkin karena gua tidak begitu dekat dengannya beberapa tahun lalu. Dan ketika kini kami mulai dekat, barulah gua tersadar... Kamu cantik sekali.
Atmosfer yang terasa menghipnotis gua karena segala keindahan yang dimiliki sosok bidadari tersebut tiba-tiba saja berubah seratus delapan puluh derajat ketika dirinya sudah menyadari kehadiran gua yang kembali berjalan mendekat.
Kedua matanya memicing, bibirnya seperti bergumam tipis lalu kedua tangannya yang berada diatas kedua pahanya itu, terkepal.
Gua tersenyum lebar sambil terus berjalan dan berhenti tepat dihadapannya. Gua masih tersenyum lebar dan mulai terkekeh pelan. "Hehehe... Maaf ya, maaf banget jadi bikin kamu nunggu lama...", ucap gua seraya menggaruk pipi kanan yang sama sekali tidak terasa gatal sebenarnya.
"Hm..".
Bidadari ternyata punya emosi juga... Kesal dan bete pasti dia. Gua yakin kalo sudah begini sih, karena gua hafal betul dengan segala sikapnya itu.
"Maafin aku.. Beneran deh tadi abis dari rumah Mba Yu langsung on the way kesini.. Maaf ya cantik...", lanjut gua, karena sekarang dia sudah melipat kedua tangannya di depan dada, lalu memalingkan wajah ke arah lain.
Gemas rasanya diri ini ketika harus melihat raut wajahnya yang setiap kali kesal kepada gua pasti saja menunjukkan reaksi cemberutnya itu. Pipinya mengembung, bibirnya mengatup kecil, lalu matanya melirik sinis kearah gua dengan wajah yang ia palingkan. Gemas, lucu, dan... Ngeselin juga. Tingkah laku yang kekanakan seperti itulah yang malah membuat gua suka kepadanya. Wait a sec... What I said ? Suka ?.
Dia masih diam dengan segala kekesalan yang ia tunjukkan itu. Gua menggaruk kepala bagian belakang sambil kembali mendekatinya, lalu duduk tepat di samping kiri.
Eh, dia malah menyerongkan tubuhnya ke arah lain. Gua tersenyum lebar ketika dipunggungi seperti ini. Gua laki-laki, normal. Catet. Jadi keinginan untuk membujuknya agar memaafkan gua hilang seketika, karena otak gua mulai bekerja dengan cepat, reaksi dalam otak ini begitu cepat seperti kilatan cahaya gara-gara kedua indra penglihatan ini menangkap sebuah visualisasi dari mahkota seorang bidadari. Gila, cuma karena sebuah mahkota wanita saja pikiran gua bisa melayang jauh kearah negatif. Mungkin karena memang dirinya memiliki daya tarik yang kuat untuk menaklukan lawan jenis. Pesonanya itu yang membuat hati ini meleleh.
Tangan kanan gua bergerak dengan sendirinya, membelai mahkotanya yang terkuncir memanjang hingga punggungnya. Warna mahkotanya yang terkuncir itu hitam dengan sebagian berwarna kecokelatan, dan ketika tangan ini berhenti tepat di dekat tengkuknya, fikiran ini semakin jauh melayang membayangkan bagaimana jika gua menyentuh lembut tengkuk yang putih bersih menggoda di hadapan gua itu. Baru saja jemari gua akan menyentuh bagian yang katanya cukup sensitif bagi wanita, dia menoleh kepada gua. Matanya melotot menatap wajah gua yang sudah terkejut.
"Mau ngapain ?!", sentaknya dengan ekspresi yang cukup menyiutkan gua punya nyali.
"Eh...eengng.. Enggak kok, gak ngapa-ngapain...", jawab gua seraya memundurkan tubuh sedikit menjauh.
"Macem-macem lagi ?! Di taman loch ini!!", semakin emosi dia hingga benar-benar merubah posisi duduknya hingga menyerong kearah gua. "Dasar PERVERT!!", sentakannya kali ini diiringi dengan tubuhnya yang sudah berdiri dan bertolak pinggang dihadapan gua.
Gua menelan ludah, masih duduk di bangku taman ini, gua mundurkan tubuh agar berada di jarak aman, jangan sampai kejadian yang sudah-sudah terulang lagi... Ya, jangan sampai.
"Enggak suweeerrr... Pikirannya gitu amat sih sama aku...".
Padahal ma iya juga, terlena gua gara-gara rambut dan tengkuknya. Sial...
"Pikirannya gitu amat sih sama akuu...".
Gais, lu tau gak kalo cewe mengulang kalimat kita dengan nada suara yang ngeselin, alias mencibir. Belum ekspresi wajahnya yang enggak banget! Jadi pingin ngejembel pipinya... (ngejembel = nyubit).
Ya begitulah ni bidadari satu, sangat cantik, lucu, tapi tetep, N-G-E-S-E-L-I-N.
"Ya ampun beibh...", ucapan gua langsung dipotong.
"Bab, beb, bab, beb... Udah udah gak usah lebay deh... Buruan ah berangkat, bete aku!!", sungutnya seraya mengambil cardigans berwarna pink miliknya yang berada di bangku taman samping gua.
"Masa langsung berangkat, baru juga sampe...".
"Sampe habis kesabaran! Situ sih iya baru sampe! Lah sini nih yang daritadi udah sampe, sampe abis kesabaran sini nunggu situ!! Heuh!", sungutnya lagi memotong ucapan gua.
Melenggak-lenggok dia berjalan seperti di film-film drama ketika seorang wanitanya kesal dengan si lelaki, pergi lah dia meninggalkan gua yang masih duduk terbengong karena tingkah lakunya yang sangat 'menyenangkan'...
°°°
"Udah ya, dimaafin enggak nih ? Kalo enggak dimaafin juga, aku pulang...".
Meminta maaf kepada bidadari cantik jelita itu kadang menyiksa. Siksa batin....
"Iih jangan pulang dulu, emang gak kangen apa sama aku ?", jawabnya dengan menunjukkan wajah seperti anak kecil.
"Ya kangen lah, tapi dimaafin dulu gak nih ?", tanya gua mengulang.
"Ya udah deh iya dimaafin... Awas aja jangan gitu lagi, satu jam tuh lama tau gak nunggu kamu, pake acara di godain anak-anak sma pula... iiih kesel aku!!".
"Ya kamu juga ngapain pake acara buka cardigans segala tadi ? Itu badan juga cuma pake you can see...Ada-ada aja sih..".
Sebelumnya, dia memang benar-benar marah kepada gua, ya apalagi kalau bukan karena datang terlambat. Gua memang cerita kepadanya di bbm saat masih mengantar Mba Yu pergi ke mall, tapi gua juga mengatakan kalau setelah itu akan menemuinya di taman kota, dan karena keasyikan mengobrol, ditambah Mba Yu memasakkan gua nasi goreng di rumahnya itulah gua jadi lupa bahwa sudah membuat janji dengan si bidadari. Memang terlambat satu jam karena jalanan cukup padat sekalipun gua menggunakan kendaraan roda dua. Ya karena waktu jam pulang kerja salah satu faktor yang membuat gua semakin telat sampai di taman sore tadi.
Ada hal lain yang memang membuatnya kesal, seperti yang ia katakan, di godain sama anak abg, seragam putih-abu. Tapi bukan salah mereka juga sih, suruh siapa memiliki wajah cantik nan jelita, apalagi pakaiannya tadi sangat memperlihatkan lekuk tubuhnya, dia menunggu gua dengan melepas cardigans pinknya, jadilah hanya sebuah tank top berwarna putih yang menutupi bagian atas tubuhnya tersebut, sedangkan celananya cukup sopan, denim berwarna biru gelap dengan beberapa gaya robekan pada bahan denimnya dibagian dengkul dan paha. Sedikit tomboy ternyata...
Lelaki mana yang tidak akan tergoda melihat seorang wanita cantik duduk sendirian di taman sore hari dengan pakaian seksi seperti itu... Termasuk gua pasti... Pasti... Pasti dibanting maksudnya kayak salah satu anak sma... Beneran, dia memang membanting salah satu anak sma yang menggodanya, karena sudah terlalu kurang ajar ucapan si anak sma tersebut. Dan gua mengetahui kejadiannya dari pemilik warung rokok yang berjualan di dekat bangku taman. yang menjadi saksi mata keberingasan seorang bidadari.
'Kang, eta kabogoh na geulis-geulis sadis oge nya, budak sakola dibanting, dipulintir leungeun na euy.. Edun lah.'
(Kang, itu pacarnya cantik-cantik sadis juga ya, anak sekolah dibanting, dipelintir tangannya loch, edan lah.) begitulah kurang lebih keterangan yang gua ingat dari saksi mata, si pemilik warung, saat gua membeli sebungkus rokok sebelum mengejar bidadari yang tadi sore pergi kearah mobilnya. Btw siapa yang dimaksud pacar gua oleh si pemilik warung ? Masih proses, Pak...
"Ya abisnya panas tau, beda sama di Jerman...", jawabnya membela diri.
Lah iya sih, cuaca di eropa sama di sini beda, apalagi dirinya baru pulang dua hari yang lalu. Mana kota ini tumben juga cuacanya panas banget.
"Ya gimana lagi, cuaca beda, budaya juga ikutan beda...".
"Ya pokoknya gitulah.. Eh iya, kamu mau kopi ?", tanyanya seraya bangun dari sofa ruang tamu rumahnya yang mewah ini.
Gua mengangguk tersenyum. "Boleh...".
Dia berjalan kearah dapur, sebelum semakin jauh, gua yang masih memperhatikannya, mengangkat kedua alis ketika dia berhenti, lalu berbalik kearah gua yang masih terduduk di sofa.
"Kenapa, Ay ?".
"Aku lupa, gak ada kopi kesukaan kamu, Kak...".
Meminta maaf kepada bidadari cantik jelita itu kadang menyiksa. Siksa batin....
"Iih jangan pulang dulu, emang gak kangen apa sama aku ?", jawabnya dengan menunjukkan wajah seperti anak kecil.
"Ya kangen lah, tapi dimaafin dulu gak nih ?", tanya gua mengulang.
"Ya udah deh iya dimaafin... Awas aja jangan gitu lagi, satu jam tuh lama tau gak nunggu kamu, pake acara di godain anak-anak sma pula... iiih kesel aku!!".
"Ya kamu juga ngapain pake acara buka cardigans segala tadi ? Itu badan juga cuma pake you can see...Ada-ada aja sih..".
Sebelumnya, dia memang benar-benar marah kepada gua, ya apalagi kalau bukan karena datang terlambat. Gua memang cerita kepadanya di bbm saat masih mengantar Mba Yu pergi ke mall, tapi gua juga mengatakan kalau setelah itu akan menemuinya di taman kota, dan karena keasyikan mengobrol, ditambah Mba Yu memasakkan gua nasi goreng di rumahnya itulah gua jadi lupa bahwa sudah membuat janji dengan si bidadari. Memang terlambat satu jam karena jalanan cukup padat sekalipun gua menggunakan kendaraan roda dua. Ya karena waktu jam pulang kerja salah satu faktor yang membuat gua semakin telat sampai di taman sore tadi.
Ada hal lain yang memang membuatnya kesal, seperti yang ia katakan, di godain sama anak abg, seragam putih-abu. Tapi bukan salah mereka juga sih, suruh siapa memiliki wajah cantik nan jelita, apalagi pakaiannya tadi sangat memperlihatkan lekuk tubuhnya, dia menunggu gua dengan melepas cardigans pinknya, jadilah hanya sebuah tank top berwarna putih yang menutupi bagian atas tubuhnya tersebut, sedangkan celananya cukup sopan, denim berwarna biru gelap dengan beberapa gaya robekan pada bahan denimnya dibagian dengkul dan paha. Sedikit tomboy ternyata...
Lelaki mana yang tidak akan tergoda melihat seorang wanita cantik duduk sendirian di taman sore hari dengan pakaian seksi seperti itu... Termasuk gua pasti... Pasti... Pasti dibanting maksudnya kayak salah satu anak sma... Beneran, dia memang membanting salah satu anak sma yang menggodanya, karena sudah terlalu kurang ajar ucapan si anak sma tersebut. Dan gua mengetahui kejadiannya dari pemilik warung rokok yang berjualan di dekat bangku taman. yang menjadi saksi mata keberingasan seorang bidadari.
'Kang, eta kabogoh na geulis-geulis sadis oge nya, budak sakola dibanting, dipulintir leungeun na euy.. Edun lah.'
(Kang, itu pacarnya cantik-cantik sadis juga ya, anak sekolah dibanting, dipelintir tangannya loch, edan lah.) begitulah kurang lebih keterangan yang gua ingat dari saksi mata, si pemilik warung, saat gua membeli sebungkus rokok sebelum mengejar bidadari yang tadi sore pergi kearah mobilnya. Btw siapa yang dimaksud pacar gua oleh si pemilik warung ? Masih proses, Pak...

"Ya abisnya panas tau, beda sama di Jerman...", jawabnya membela diri.
Lah iya sih, cuaca di eropa sama di sini beda, apalagi dirinya baru pulang dua hari yang lalu. Mana kota ini tumben juga cuacanya panas banget.
"Ya gimana lagi, cuaca beda, budaya juga ikutan beda...".
"Ya pokoknya gitulah.. Eh iya, kamu mau kopi ?", tanyanya seraya bangun dari sofa ruang tamu rumahnya yang mewah ini.
Gua mengangguk tersenyum. "Boleh...".
Dia berjalan kearah dapur, sebelum semakin jauh, gua yang masih memperhatikannya, mengangkat kedua alis ketika dia berhenti, lalu berbalik kearah gua yang masih terduduk di sofa.
"Kenapa, Ay ?".
"Aku lupa, gak ada kopi kesukaan kamu, Kak...".
Diubah oleh glitch.7 11-08-2017 19:27
oktavp dan 2 lainnya memberi reputasi
3

