Kaskus

Story

glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN




Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.


Tak Lagi Sama - Noah


Spoiler for Cover Stories:


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.


Quote:


Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

Masa yang Paling Indah
Credit thanks to Agan njum26

Love in Elegy
Credit thanks to Agan redmoon97


Sonne Mond und Stern
*mulustrasi karakter dalam cerita ini


Quote:

*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
pulaukapokAvatar border
chamelemonAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
#2372
PART 20


Sebelum bulan november berakhir, gua sudah kembali ke Indonesia, dan lagi-lagi harus berpisah dengan sang Nyonya yang masih harus menyelesaikan pekerjaannya di Singapore. Gua sudah mulai bekerja di kitchen sehari setelah kepulangan dari menemui sang Nyonya tersebut. Hari demi hari gua lalui dengan semangat baru, ya apalagi selain karena satu alasan yang membuat gua sangat bahagia, karena tidak lama lagi, gua akan menjadi seorang ayah (dan lagi). Mimpi yang pernah hilang dan direnggutoleh sang maut saat tahun dua ribu delapan lalu itu kini kembali hadir, membuat gua kembali dapat merasakan bagaimana bahagianya ketika akan menyambut si buah hati.

Dan semoga kali ini semuanya akan baik-baik saja. Ya, semoga...


°°°


Sekitar satu minggu sebelum akhir bulan november berakhir. Hari dimana gua kembali bertemu dengan Mba Yu, okey gua akui, kali ini adalah kali ketiga gua menjemputnya saat pulang kerja. Pertama tentunya ketika diakhiri dengan sedikit pertengkaran diantar kami berdua di teras rumahnya. Lalu yang kedua minggu lalu, gua mengantarnya tanpa bertamu lagi. Dan hari ini, adalah kali ketiga gua kembali menjemput Mba Yu di kantornya lagi.

Tentu saja semua itu diketahui oleh sang Nyonya (kecuali kejadian kurang ajar yang gua perbuat di dalam mobil tentunya), karena gua memang selalu mengabari kemanapun gua hendak pergi dan dengan siapa saja gua berpergian. Ini memang bukan permintaan sang Nyonya yang selalu ingin diberikan kabar atau terlihat protektif, melainkan keinginan dan kesadaran diri gua pribadi. Bukankah memang selayaknya seperti itu ? Seorang pasangan hidup harus memberikan kabar kepada pasangannya, apalagi kami sedang dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh. Dan yang sangat terpenting adalah kepercayaan. Ya kepercayaan sang Nyonya ketika mengizinkan gua berpergian bersama Mba Yu Sherlin. Tidak ada rasa cemburu yang ia tunjukkan kepada gua, bahkan semenjak dirinya mengetahui kekerasan yang dialami Mba Yu sampai ke perceraiannya dengan Feri, istri gua dengan terang-terangan mengatakan kalau gua harus menjaga Mba Yu, dan dia mengatakan hal tersebut dihadapan Ibu gua serta Mba Yu sendiri.

Bagi kami sekeluarga hal tersebut bukanlah hal yang aneh, walaupun gua tau kalian semua belum tentu bisa memahami ikatan batin seperti apa yang terjalin antara Vera dan Sherlin. kalau gua mengatakan seperti yang sudah-sudah, bahwa Mba Yu sudah dianggap anak sendiri oleh Ibu dan kakak bagi istri gua, tetap saja rasanya memang tidak masuk akal sampai Nyonya Agathadera itu memberikan gua tanggungjawab untuk menjaga diri Mba Yu. Tapi alasannya cukup kuat, sekalipun sulit menembus logika yang ada... Dan untuk itu, bersabarlah dulu, hingga kelak gua menjelaskan hubungan macam apa yang mereka miliki saat gua belum resmi menjadi suami dari wanita luar biasa yang bernama Vena... Gua tidak salah mengetik, ya... Nama asli sang Nyonya adalah Vena.

Gua sudah menghentikan mobil milik almh. Echa tepat di depan kantor Mba Yu bekerja, lalu berdiri di luar sambil bersandar pada sisi mobil dengan rokok yang sudah gua nikmati setengah batang.

Cuaca sore ini sudah mendung, awan gelap di atas sana cukup menyadarkan gua bahwa nampaknya sebentar lagi akan turun hujan. Gua memainkan blackberry dengan maksud memberikan kabar lewat sebuah chatt bbm kepada sang Nyonya, mengabarinya bahwa sore ini gua sedang menjemput Mba Yu. Setelah mengirimkan chatt bbm kepada sang Nyonya dan rokok yang gua hisap pun sudah habis, gua kembali memasukkan blackberry ke saku celana, kemudian melirik ke jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kiri ini. Sudah hampir maghrib, tapi Mba Yu masih belum juga keluar dari kantornya.

Gua menghela nafas sambil melipat kedua tangan di depan dada, menatap jauh kedepan sana, dimana sebuah pintu kaca yang tertutup rapat berada. Sejauh mata memandang, hanya ada seorang security yang berada di dekat pintu utama tersebut, tidak lama security tersebut berdiri dari kursi lipat yang ia duduki, lalu membukakan salah satu pintu kaca di sampingnya. Kini, gua dapat melihat dengan jelas, seorang wanita yang sore ini terlihat cantik dengan pakaian kerjanya itu sedang berjalan keluar. Mba Yu mengenakan blazer berwarna putih gading, dengan kemeja berbahan satin putih susu, rok span yang berwarna senada dengan kemejanya itu menutupi bagian bawah tubuhnya hingga sebatas lutut. Tas kerja berwarna hitamnya ia kaitkan ke lengan kiri, kacamata berwarna hijau toscanya menjadi aksesoris yang mempercantik wajah seorang wanita bernama Sherlin itu.

Gua tersenyum tipis dengan menaikkan ujung bibir sebelah kiri ketika menyadari bahwa Mba Yu tidaklah sendirian. Dia berjalan berdampingan dengan seorang lelaki yang cukup tampan, seorang lelaki yang boleh dikatakan metro seksual. Gerak tubuhnya memang terlihat berwibawa, beberapa kali dia tersenyum sambil mengobrol dengan Mba Yu, tapi juga terlihat jelas kalau dirinya menjaga wibawanya itu. Mungkin karena mereka berdua masih dilingkungan kerja hingga membuat si lelaki menahan diri dengan menyembunyikan rasa ketertarikannya kepada Mba Yu. But why should I care ?

Mba Yu tersenyum dan melambaikan tangan ketika dirinya sudah sampai di area parkiran, melihat kearah gua yang berada di luar area kantornya itu, dia menengok sebentar kepada lelaki sebelumnya yang masih berdiri di sampingnya, entah mereka berdua membicarakan apa, tapi ketika Mba Yu menganggukkan kepala seraya tersenyum, si lelaki nampak sedikit terkejut dengan gerak kedua alis yang ia angkat, lalu dirinya menengok kearah gua dengan mata yang memicing. Mungkin, ya mungkin saja Mba Yu mengatakan bahwa sore ini, dirinya sudah dijemput oleh seseorang dan menolak ajakan si lelaki itu yang ingin mengantarnya pulang, sekali lagi, mungkin seperti itu.

Tapi setelah itu ada hal lain yang nyatanya membuat gua tersenyum sedikit lebar, karena sekarang, mereka berdua malah kembali berjalan berdampingan, kearah gua yang masih berdiri di samping mobil. Sebelumnya memang gua melihat dengan jelas, ketika Mba Yu yang memberikan gestur pamit kepada si lelaki dan hendak berjalan sendirian keluar area kantornya itu, si lelaki sedikit mengejarnya dan memanggil Mba Yu, hanya sebentar mereka kembali terlibat obrolan dan sesaat kemudian sudah kembali berjalan kearah gua.

Lelaki itu jelas memiliki sebuah jabatan, pertama karena rasa hormat Mba Yu ketika berada di dekatnya saat berjalan berdua sedari tadi, kemudian yang kedua adalah pakaian high class yang ia kenakan cukup membuat gua berasumsi bahwa dia adalah atasannya Mba Yu, si supervisor yang menaruh hati kepada mantan kekasih gua tersebut.

"Maaf, Mas... Nunggu lama ya ? Aku ada sedikit kerjaan yang belum selesai tadi...", ucap Mba Yu ketika sudah berada di depan gua, dan tentu saja bersama si lelaki sebelumnya yang kini, ah yang masih maksud gua. Ya masih berada di samping Mba Yu.

"Oh, enggak apa-apa, Mba...", jawab gua santai dan singkat seraya tersenyum kepadanya.

"Oh ya, kenalin Mas, ini Pak Andi... Supervisor aku di kantor", Mba Yu menengok ke arah kanannya, dimana lelaki yang bernama Andi itu berdiri dengan senyum ramah yang ia tunjukkan kepada gua. "Dan Pak, ini Reza, pacar saya...", lanjut Mba Yu.

What the fuck ?!

Jelaslah gua terkejut dengan ucapan Mba Yu tersebut, apa maksudnya dia mengatakan bahwa gua adalah pacarnya ?. Tapi gua langsung menguasai diri dari rasa terkejut yang baru saja gua tunjukkan, karena Mba Yu dengan cekatan melirik lagi kepada gua dengan senyum yang sangat mudah gua pahami.

"Saya, Andi... Supervisor divisi ***, atasannya Sherlin Mas, Salam kenal ya..", ucap Andi seraya mengulurkan tangannya kepada gua.

"Eh.. Ehm.. Ya salam kenal juga, Pak Andi... Saya Reza...", jawab gua yang langsung menyambut jabat tangannya.

Dan wow... Gua cukup memahami bahwa dirinya sedang menunjukkan siapa diaini, seolah-olah dia sendiri ingin mengatakan bahwa saya adalah lelaki yang cukup pantas untuk mendampingi Sherlin. Karena apa yang ia berikan pada jabatan tangannya kepada gua itu sudah lebih dari cukup untuk membuat gua mengerti maksud dan tujuannya berkenalan. Cukup kuat tangannya menjabat tangan ini, menunjukkan bahwa dia adalah seorang lelaki yang memiliki keyakinan tinggi dan berwibawa. Atau... Ingin menunjukkan seorang lelaki yang lebih superior dibandingkan orang yang baru saja ia kenal dihadapannya ini..? Oh, I don't fucking care...

"Maaf, kerja dimana Mas Eza ?", tanyanya ramah setelah melepaskan 'cengkraman' tangannya dari tangan kanan gua itu.

"Saya juru masak amatiran, Pak... Di sebuah restoran daerah ***", jawab gua dengan senyum yang cukup lebar.

"Oooh... Chef ya, asyik dong ya kamu Sher, setiap hari bisa dimasakin makanan sama pacar kamu nih..", ucap Andi kali ini melirik kepada Mba Yu sambil tersenyum.

"Ya, alhamdulilah Pak... Bahagia punya pacar yang pinter masak kaya Mas Eza gini...", jawab Mba Yu tanpa sedikitpun menunjukkan rasa sungkan kepada gua ataupun atasannya itu.

"Ah saya cuma pekerja biasa, Pak... Jadi chef juga masih pemula..", timpal gua, bermaksud membawa obrolan ini agar lebih santai.

Tapi apa maksud dari tanggapannya itu ? Dia tersenyum penuh arti, lalu mengangguk pelan kepada gua. "Ya, kalo gitu kan masih bisa dipelajari Mas Reza... Dan selama menapaki karir tersebut dibutuhkan seorang pendamping yang pas, seorang wanita yang mau bersabar menunggu calon pasangan hidupnya itu sukses dalam karir...", jawabnya dengan tetap tersenyum kepada gua. Dan senyumannya itu sungguh mengusik hati gua. "Bukan begitu, Sher ?", tanyanya kali ini melirik kepada Mba Yu.

"Iya, Pak... Dan alhamdulilah saya udah kenal Mas Eza dari kami masih di smp, Pak...", Mba Yu menatap balik atasannya tersebut. "Dan saya pasti bersabar untuk benar-benar menjadi pendampingnya kelak...", lanjutnya dengan penuh keyakinan dan senyum balasan untuk Andi. "Ya, kan Mas ?", kali ini Mba Yu melirik kepada gua dengan senyuman yang merekah.

"Eh ? Ii.. Iya.. Hehehe...", jawab gua sedikit tergagap seraya tertawa tak jelas karena suasana yang mereka bangun ini terasa canggung untuk gua.

What a fuckin drama ? Ada apa sebenarnya diantara mereka berdua sih ? Sampai gua yang tidak tau apa-apa merasakan canggung sendiri. Sial...

"Well... God bless you both... Okey kalo gitu hati-hati di jalan ya, Sher, Mas Reza.. Dan happy weekend...", ucapan Andi itu lebih terasa seperti pengunduran diri yang terhormat bagi gua, setelah Mba Yu memberikan 'Jab' tepat ke dalam hatinya yang terdalam.

Gua tidak perlu merasa bangga atau merasakan suatu hal yang bisa dikatakan sebuah kebahagian, karena jelas posisi gua disini bukanlah untuk memiliki Mba Yu ataupun menghalangi lelaki lain yang ingin mencoba mendapatkan hatinya. Gua hanya memainkan sebuah peran yang Mba Yu paksakan dan berikan secara tiba-tiba beberapa menit yang lalu. Apapun itu, akhirnya gua hanya menjadi dinding pelindung untuknya...




Rintik hujan sudah membasahi jalanan sedari tadi, dan cukup membuat gua lebih waspada karena jarak pandang gua sedikit terganggu oleh butiran air hujan tersebut, yang menerjang kaca mobil di depan. Suara lagu dari sebuah band lokal yang memulai karirnya di medio tahun sembilan puluhan melantun merdu, beradu dengan suara hujan yang semakin deras di luar sana.

Sejenak kami berdua sama-sama terdiam ketika mobil terhenti karena antrian yang cukup panjang untuk keluar dari jalan tol ini. Gua menyandarkan punggung ke jok mobil, lalu melirik ke kanan, pandangan gua menembus kaca jendela yang masih terkena terpaan butiran air hujan deras di luar sana, memandangi deretan mobil lain yang juga sedang mengantri di jalur lain. Fikiran gua melayang ke waktu dimana gua dan Mba Yu melakukan kesalahan di dalam mobil ini beberapa minggu lalu. Kemudian pertemuan kedua kami, yang lebih tepatnya saat gua menjemput dan mengantarnya pulang minggu lalu memang tidak membahas soal kejadian sebelumnya, ya saat kedua kalinya gua mengantar pulang, kami hanya terdiam sepanjang perjalanan hingga sampai di rumahnya dan gua menolak untuk bertamu. Dan untuk kali ini, gua tidak ingin keheningan diantara kami semakin larut seperti yang lalu dan tidak ingin pula mengulangi kesalahan yang sama.

"Mas..".

Gua cukup terkejut ketika baru saja hendak memulai obrolan dengan memanggilnya, namun malah dirinya yang lebih dulu memecahkan keheningan diantara kami berdua.

"Mas... Kamu marah sama aku ?", tanyanya to the point.

Gua paham maksud ucapannya itu. Dia memang masih meminta untuk dijemput ketika pulang kerja seperti hari ini, tapi komunikasi diantara kami sebenarnya sangatlah buruk. Apalagi kalau bukan sama-sama saling berdiam diri ketika bertemu...? Jadi, setelah kejadian di dalam mobil itu, gua maupun Mba Yu tidak pernah berkomunikasi secara langsung ataupun lewat bbm. Dan permintaannya untuk minta diantarkan pulang seperti sekarang adalah satu-satunya komunikasi yang kami lakukan, hanya itu. Kami sama sekali belum membahas masalah tersebut. Ketika kami bertemu saat gua menjemputnya seperti tadi hingga sepanjang perjalanan tidak pernah mengobrol. Tidak enak rasanya dan terlalu kekanak-kanakan jika semua ini dibiarkan.

"Aku gak marah, aku mau minta maaf ke kamu, Mba...", gua menghela nafas pelan sambil menundukkan kepala. "Aku yang salah udah memulainya duluan saat itu, aku benar-benar minta maaf, Mba...", lanjut gua.

"Bukan sepenuhnya salah kamu, Mas. Karena aku sadar, aku juga masih berharap ke kamu, mengharapkan perasaan ini masih bisa terbalas, walaupun aku tau itu sulit dan enggak mungkin...", jawabnya.

Gua menengok kali ini kepada Mba Yu. "Aku gak mungkin berani selingkuhin Vera, Mba.. Jujur aja, aku gak bisa berfikir jernih saat itu, spontanitas, Mba... Maaf...".

"Aku... Nyesel udah lepasin kamu dulu, Mas.. Nyesel banget... Bener-bener nyesel, dan gak tau bakal sesulit ini untuk relain kamu dengan Vera..".

"Kamu udah anggap Vera adik kamu... Jangan hancurkan semuanya, Mba... Dan aku sendiri harus sadar diri, sekarang kita balik ke awal ya, kita lupain semuanya yang udah terjadi kemarin-kemarin, kita keluarga, kamu adalah kakak bagi aku dan Vera.. Rasa sayang aku tetap ada untuk kamu, tapi sayang itu gak bisa menjadi rasa sayang seperti sebelumnya, Mba... Kamu paham kan ?", gua memegangi bahu kanannya dengan lembut.

Mba Yu langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lagi-lagi tubuhnya bergetar lalu terdengarlah suara isak tangisnya. Gua memejamkan mata sejenak, menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

"Mas.. Aak.. Aku... Aku minta maaf sama kamu dan Vera, aku sayang kalian...", ucapnya dengan tetap menangis tanpa membuka kedua tangan yang masih menutupi wajahnya itu.

Gua menarik pelan satu tangannya, lalu wajahnya menengok kepada gua yang berada di sisi kanannya. Nampaklah wajah sendu disana, linangan airmatanya sudah membasahi wajah cantiknya itu. Gua memegangi sisi pipi kanannya dengan tangan kiri, lalu memiringkan wajah ini ke kiri sedikit. Menatapnya dengan perasaan bersalah dan juga sedih, sama halnya dengan apa yang ia rasakan saat ini. "Mba, aku juga minta maaf, maafin aku, dan aku janji untuk menjaga kamu, dan sekarang aku berjanji untuk menjaga kamu dengan baik tanpa melewati batasan yang ada lagi seperti kemarin... Aku sayang kamu juga, dan Vera juga sama menyanyangi kamu...", ucap gua.

Mba Yu masih menangis, lalu tangannya melepaskan seat belt yang melingkari tubuhnya itu, dia memeluk gua seraya mengucapkan kata maaf terus menerus. Saat ini, gua sadar diri dan tidak lagi ingin melakukan kesalahan yang sama. Gua membalas pelukkannya, membelai rambutnya, semua itu sudah batas maksimal, tidak... Gua tidak akan lagi melewati batas, ini sudah lebih dari cukup dan sudah batasnya. Hanya memeluknya untuk memberikan rasa nyaman, berharap segala beban fikiran yang ia tanggung bisa menguap dengan cara seperti ini, ya hanya seperti ini... Karena kami tidak mungkin (lagi) menyakiti hati wanita yang saat ini sedang berada jauh di negara lain.

Gua mencintai Vera setulus hati dan menyayangi dia sepenuhnya, tidak ada lagi alasan lain untuk gua berani mengkhianatinya, apalagi dengan wanita yang sudah kami anggap saudara sendiri, sekalipun dulu sempat menjadi mantan kekasih gua.

Dan saat ini, baik gua maupun Mba Yu sama-sama menyadari hubungan diantara kami tidak akan pernah lebih dari sekadar sahabat ataupun kerabat. Ya tidak akan pernah lebih dari itu... Tidak akan pernah...


Sesal takkan ada arti
Karna semua tlah terjadi
Kini 'AKU' tlah menjalani
Sisa hidup dengannya

Yang Terlewatkan - Sheila on 7


***


Desember, dipenghujung tahun yang mana kejadian diatas sudah berlalu beberapa minggu, hampir satu bulan. Dan semuanya kembali seperti sedia kala, tidak ada lagi perasaan yang ingin dipaksakan antara gua dan Mba Yu.

Semuanya sudah kembali lagi, kembali gua menjalani hari bersama sang Nyonya setelah dirinya selesai mendapatkan sertifikasi dari sebuah perusahaan (anggap saja perusahaan) di Singapore, dan untuk perayaan tahun baru nanti, kami tidak jadi merayakannya di Singapore, karena keinginan istri gua itu ingin berkumpul bersama Ibu gua serta sang Mamah di sini.

Untuk Mba Yu sendiri, sekarang dia sudah mulai membuka hatinya untuk lelaki lain, walaupun belum pada tahap hubungan pacaran, tapi Mba Yu sedang dalam masa pendekatan, ah.. Didekati maksud gua, oleh seorang lelaki yang pernah menjadi rekan kerjanya di tempat sebelumnya, bukan supervisor yang bernama Andi di tempatnya bekerja saat ini.

Semuanya begitu terlihat berjalan dengan baik, untuk gua dan keluarga, maupun orang-orang di sekitar kami...

...
...
...


Sayang sekali... Ya, sayang sekali... Semua itu hanya nampak di awal... Hanya nampak diawal...

Untuk kesekian kalinya...

Untuk hal-hal bangsaatt yang pernah gua alami di dunia ini...

Untuk alasan-alasan omong kosong yang pernah gua dengar...

Untuk sang Tuan Duka yang dengan pongahnya kembali hadir menyapa...

Ya... Untuk semua itu... Cerita ini baru saja di mulai......
Diubah oleh glitch.7 09-08-2017 09:09
fatqurr
kifif
kadalbuntingzzz
kadalbuntingzzz dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.