- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#2313
PART 19
Hujan deras di malam minggu ini membuat pakaian yang gua kenakan cukup kebasahan setelah berlari dari teras rumah Mba Yu menuju mobil yang terparkir di luar gerbang rumahnya itu. Gua baru saja menyalakan mesin mobil ketika sebuah ketukkan pada jendela pintu bagian penumpang berbunyi cukup keras. Gua turunkan jendela itu dengan menekan power window.
"Loch ? Kenapa Mba ?", tanya gua kebingungan ketika Mba Yu menunduk dan terlihat jelas wajahnya sedikit basah.
"Hape kamu ketinggalan...", jawabnya seraya menyodorkan blackberry milik gua kedalam mobil.
"Eh iya... Makasih, Mba.. Makasih...", ucap gua menerima blackberry darinya. "Eh Mba.. Kok gak pake payung ? Masuk masuk dulu...", ucap gua lagi lalu menekan autolock agar pintu samping kemudi terbuka.
Tidak jauh berbeda dengan pakaian yang ia kenakan, sama basahnya dengan kemeja yang gua pakai, dan tentu saja Mba Yu juga belum mengganti pakaian kerjanya. Entah kenapa kami malah terdiam di dalam sini, hanya suara derasnya hujan diluar sana yang menjadi pemecah keheningan diantara kami berdua. Fikiran gua melayang-layang kepada ucapannya saat di teras gua memeluknya. Bukan perkara gua tidak mengetahui perasaannya, tapi gua benar-benar tidak menyangka kalau reaksi dan tanggapan Mba Yu akan sejujur itu.
"Mba, aku masukin mobil ke halaman rumah kamu ya...?", tawar gua karena memang pintu gerbangnya sudah terbuka lebar. Hanya ingin bersimpati agar dia tidak kembali berlari dan kehujanan untuk kembali ke dalam rumah orangtuanya.
Mba Yu hanya mengangguk sebagai jawaban yang ia berikan, tanpa sedikitpun menoleh kepada gua.
Akhirnya gua menjalankan mobil untuk masuk ke halaman rumahnya, berhenti tepat dibelakang mobil milik orangtuanya itu, lalu menarik lagi tuas handbrake tanpa mematikan mesin mobil.
"Mmm... Maafin aku ya, Mba... Soal tadi..", ucap gua sambil melirik kepadanya.
Mba Yu memalingkan wajahnya ke sisi kiri, kearah jendela mobil. Tak ada sepatah katapun yang ia ucapkan, dan gua menganggap itu adalah jawaban bahwa dirinya belum mau memaafkan gua.
"Hey... Aku minta maaf, gak maksud buat kamu sedih dan menjebak kamu dengan pertanyaan aku tadi, Mba...", lanjut gua kali ini seraya memegang bahu kanannya dengan tangan kanan.
Dia menengok kali ini, melirik kepada gua, kedua kantung matanya masih sedikit sembab karena tangis yang ia keluarkan sebelumnya. Gua menghela nafas pelan lalu menundukkan kepala sedikit. Tangan kanan gua sekarang memegang punggung tangan kanannya, lalu mengelusnya pelan.
"Kalo kamu mau bahas masalah ini lagi, Mba... Kayaknya gak akan selesai-selesai...", gua menggelengkan kepala kali ini.
"Dari dulu juga kamu seperti ini, Mas... Iyakan ? Gak pernah bisa mencintai aku dengan tulus...", ucapannya terdengar bergetar.
Gua menatap wajahnya dengan kening yang berkerut. Kedua bola matanya kembali berkaca-kaca, dan bibirnya terlihat bergetar menahan luapan emosinya itu.
"Apalagi ? Balik lagi ke permasalahan dulu, Mba ? Iya ? Gak ada habisnya bahas soal perasaan diantara kita, Mba...".
"Karena emang kamunya, Mas! Yang enggak bisa nerim... Mmmmppphhff...".
Gua menerjangnya tanpa perduli lagi dengan batasan yang ada, gua tinggalkan segala kewarasan dan kesadaran dalam otak dan hati ini. Dan biarlah dia mengerti dari sebuah gerak bibir yang gua berikan untuknya itu...
"Loch ? Kenapa Mba ?", tanya gua kebingungan ketika Mba Yu menunduk dan terlihat jelas wajahnya sedikit basah.
"Hape kamu ketinggalan...", jawabnya seraya menyodorkan blackberry milik gua kedalam mobil.
"Eh iya... Makasih, Mba.. Makasih...", ucap gua menerima blackberry darinya. "Eh Mba.. Kok gak pake payung ? Masuk masuk dulu...", ucap gua lagi lalu menekan autolock agar pintu samping kemudi terbuka.
Tidak jauh berbeda dengan pakaian yang ia kenakan, sama basahnya dengan kemeja yang gua pakai, dan tentu saja Mba Yu juga belum mengganti pakaian kerjanya. Entah kenapa kami malah terdiam di dalam sini, hanya suara derasnya hujan diluar sana yang menjadi pemecah keheningan diantara kami berdua. Fikiran gua melayang-layang kepada ucapannya saat di teras gua memeluknya. Bukan perkara gua tidak mengetahui perasaannya, tapi gua benar-benar tidak menyangka kalau reaksi dan tanggapan Mba Yu akan sejujur itu.
"Mba, aku masukin mobil ke halaman rumah kamu ya...?", tawar gua karena memang pintu gerbangnya sudah terbuka lebar. Hanya ingin bersimpati agar dia tidak kembali berlari dan kehujanan untuk kembali ke dalam rumah orangtuanya.
Mba Yu hanya mengangguk sebagai jawaban yang ia berikan, tanpa sedikitpun menoleh kepada gua.
Akhirnya gua menjalankan mobil untuk masuk ke halaman rumahnya, berhenti tepat dibelakang mobil milik orangtuanya itu, lalu menarik lagi tuas handbrake tanpa mematikan mesin mobil.
"Mmm... Maafin aku ya, Mba... Soal tadi..", ucap gua sambil melirik kepadanya.
Mba Yu memalingkan wajahnya ke sisi kiri, kearah jendela mobil. Tak ada sepatah katapun yang ia ucapkan, dan gua menganggap itu adalah jawaban bahwa dirinya belum mau memaafkan gua.
"Hey... Aku minta maaf, gak maksud buat kamu sedih dan menjebak kamu dengan pertanyaan aku tadi, Mba...", lanjut gua kali ini seraya memegang bahu kanannya dengan tangan kanan.
Dia menengok kali ini, melirik kepada gua, kedua kantung matanya masih sedikit sembab karena tangis yang ia keluarkan sebelumnya. Gua menghela nafas pelan lalu menundukkan kepala sedikit. Tangan kanan gua sekarang memegang punggung tangan kanannya, lalu mengelusnya pelan.
"Kalo kamu mau bahas masalah ini lagi, Mba... Kayaknya gak akan selesai-selesai...", gua menggelengkan kepala kali ini.
"Dari dulu juga kamu seperti ini, Mas... Iyakan ? Gak pernah bisa mencintai aku dengan tulus...", ucapannya terdengar bergetar.
Gua menatap wajahnya dengan kening yang berkerut. Kedua bola matanya kembali berkaca-kaca, dan bibirnya terlihat bergetar menahan luapan emosinya itu.
"Apalagi ? Balik lagi ke permasalahan dulu, Mba ? Iya ? Gak ada habisnya bahas soal perasaan diantara kita, Mba...".
"Karena emang kamunya, Mas! Yang enggak bisa nerim... Mmmmppphhff...".
Gua menerjangnya tanpa perduli lagi dengan batasan yang ada, gua tinggalkan segala kewarasan dan kesadaran dalam otak dan hati ini. Dan biarlah dia mengerti dari sebuah gerak bibir yang gua berikan untuknya itu...
When you go
Would you even turn to say
I don't love you
Like I did
Yesterday
Would you even turn to say
I don't love you
Like I did
Yesterday
Nafasnya mulai terengah-engah dan gua menyudahi segala aktifitas diantara bibir kami berdua. Memundurkan wajah sedikit dan menyapu bibirnya dengan ibu jari ini. "Aku gak pernah membiarkan cinta untuk kamu hilang, dosa ini adalah bukti kalo aku udah mengkhianati Vera, Mba...", ucap gua lirih.
Pecah sudah tangisnya, dan kembali dia memeluk gua, menyandarkan kepalanya ke bahu ini lalu memeluk gua dengan erat. Lirih dalam tangis, ucapan maafnya serasa percuma dan tidak akan bisa lagi membalikkan waktu, ya waktu yang baru saja menjadikan gua mengkhianati sang Nyonya.
Tidak terlintas sedikitpun sebelumnya bagi gua harus mengkhianati Vera, istri tercinta gua itu dengan tindakan sialan seperti tadi kepada Mba Yu, dan gua memang mengakui, perasaan untuk Mba Yu memang masih bersemayam dalam hati ini, tidak pernah berkurang sekalipun gua mencoba untuk mengikisnya saat menikahi Vera dahulu hingga sekarang. Tapi semua itu gua jaga dengan baik, gua biarkan perasaan untuk Mba Yu tetap berada di sudut hati ini tanpa perlu gua tunjukkan kepada siapapun, karena gua menghindari hal seperti ini, ya kejadian kurang ajar yang gua lakukan ini...
Dan malam ini menjadi berbeda setelah sebuah ciuman yang gua berikan untuknya, bagaimana lagi gua harus menjalani semuanya ?, sedangkan sang Nyonya percaya... Sangat percaya kepada hubungan suaminya ini dengan wanita yang bernama Sherlin Putri Levanya hanya sebatas sahabat baik, saudara baik dan keluarga tanpa ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
"Mas....".
"Mba, keluar dari mobil, dan masuk ke rumah... Itu lebih baik, Mba.. Maaf untuk kesekian kalinya atas tindakan kurang ajar ak... Mmppphh..".
Damn girl... You kicking me out...
"Aku cinta sama kamu... Dan akan selalu seperti itu, Agathadera...", ucapnya setelah melepaskan ciuman.
Pecah sudah tangisnya, dan kembali dia memeluk gua, menyandarkan kepalanya ke bahu ini lalu memeluk gua dengan erat. Lirih dalam tangis, ucapan maafnya serasa percuma dan tidak akan bisa lagi membalikkan waktu, ya waktu yang baru saja menjadikan gua mengkhianati sang Nyonya.
Tidak terlintas sedikitpun sebelumnya bagi gua harus mengkhianati Vera, istri tercinta gua itu dengan tindakan sialan seperti tadi kepada Mba Yu, dan gua memang mengakui, perasaan untuk Mba Yu memang masih bersemayam dalam hati ini, tidak pernah berkurang sekalipun gua mencoba untuk mengikisnya saat menikahi Vera dahulu hingga sekarang. Tapi semua itu gua jaga dengan baik, gua biarkan perasaan untuk Mba Yu tetap berada di sudut hati ini tanpa perlu gua tunjukkan kepada siapapun, karena gua menghindari hal seperti ini, ya kejadian kurang ajar yang gua lakukan ini...
Dan malam ini menjadi berbeda setelah sebuah ciuman yang gua berikan untuknya, bagaimana lagi gua harus menjalani semuanya ?, sedangkan sang Nyonya percaya... Sangat percaya kepada hubungan suaminya ini dengan wanita yang bernama Sherlin Putri Levanya hanya sebatas sahabat baik, saudara baik dan keluarga tanpa ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
"Mas....".
"Mba, keluar dari mobil, dan masuk ke rumah... Itu lebih baik, Mba.. Maaf untuk kesekian kalinya atas tindakan kurang ajar ak... Mmppphh..".
Damn girl... You kicking me out...
"Aku cinta sama kamu... Dan akan selalu seperti itu, Agathadera...", ucapnya setelah melepaskan ciuman.
I don't love you
Like I loved you
Yesterday
Like I loved you
Yesterday
I Don't Love You - MCR
*
*
*
*
*
Birthday My Lovely Wife...
"Good morning, my dear...", cuppp..
Sebuah kecupan pada pipi kiri gua terasa hangat setelah sang Nyonya mengucapkan selamat pagi.
Gua tersenyum melirik kepadanya, lalu melingkarkan tangan kanan ke pinggangnya, mendekap tubuhnya dari samping lalu mengecup keningnya itu.
"Good morning my sunshine..", balas gua. "Selamat ulangtahun ya, semoga panjang umur, selalu dilimpahkan rejeki, dilindungi dimanapun kamu berada dan selalu mencintai aku untuk selamanya, Ve...", lanjut gua yang kini sudah benar-benar memeluknya dari arah depan.
"Aamiin... Aamiin.. Aamiin, terimakasih banyak, Mas... I love you..", jawabnya sambil menengadahkan kepalanya menatap wajah gua.
Cupp...gua kecup bibirnya.
"I love you too, sayang...".
Di hari ulangtahunnya kali ini, gua memang meminta izin kepada Ibu untuk pergi menemui sang Nyonya di Singapore. Walaupun seharusnya gua baru akan berangkat dan menemuinya di akhir tahun nanti tapi tidak mungkin gua juga tidak berada disisinya saat dia bertambah usia di tahun ini. Gua baru menjejakan kaki disini sehari sebelumnya, tepat kemarin malam, beberapa jam sebelum dia berulangtahun, dan sedikit kejutan atas kedatangan gua yang tanpa memberitahunya itu cukup membuatnya bahagia, apalagi dengan sureprise lainnya, sebuah kado khusus untuknya tadi malam.
"Hari ini mau jalan-jalan, sayang ?".
Sang Nyonya tersenyum lebar lalu mengangguk cepat.
Tidak butuh waktu lama setelah gua berganti pakaian casual dan mengajaknya pergi dari apartemen sewaannya itu. Gua mengendarai mobil milik Papah mertua yang memang dipinjamkan untuk istri gua tercinta selama berada di negara ini. By the way, Papah mertua gua memang tinggal disini, hanya berbeda kota dengan istri tercinta gua, sang Nyonya, Vera Tunggadewi.
Kami berdua hangout ke beberapa tempat wisata di negara ini, keluar masuk toko tas, dan kali ini berbeda, karena gua yang memaksa dirinya untuk membeli semua yang ia inginkan di hari spesialnya. Love you till i die, Ve... Really love you no matter what they say...
Ketika hari sudah mulai sore, kami pulang ke apartemen dan beristirahat sejenak, membersihkan tubuh agar kembali segar untuk acara nanti malam. Saat senja sudah berganti dengan gelapnya malam tanpa hujan, kami berdua telah mengenakan pakaian yang cukup formal. Malam ini, gua mengajak sang Nyonya penyuka bunga Lily itu untuk makan malam di sebuah restoran yang menyajikan tempat berbeda dengan restoran pada umumnya. Dimana nanti kami akan makan malam di dalam sebuah kapsul, ya bentuknya memang seperti kapsul dan kapsul tersebut terhubung dengan sebuah Singapore Flyer di dekat Marina Bay, dan dikenal dengan Marina Promenade.
Singkat cerita gua dan sang Nyonya sudah berada di restoran tersebut, duduk bersebelahan di dalam sebuah kapsul yang akan bergerak berputar perlahan dari bawah keatas, dan saat berada di ketinggian, kami akan melihat indahnya kota pada malam hari, tentunya dengan berbagai menu pilihan yang telah kami pesan sebelumnya. Kami menikmati makan malam dengan sajian dim sum dan beberapa choco cake sebagai dessert, sedangkan Nyonya memilih panna cotta sebagai sajian penutup.
Sebelum pukul sepuluh malam, kami berdua sudah pulang dan kembali ke apartemen. Malam itu cuacanya cerah, tidak nampak akan turun hujan, bintang-bintang di langit pun menunjukkan cahayanya yang indah, beautiful night, isn't it ? Dan sempurnalah semuanya ketika gua memeluk sang Nyonya dari belakang, kami menatap langit malam yang bertabur bintang dari beranda apartemen ini.
Gua mengecup kepalanya yang terbalut hijab berwarna hitam, kedua tangan kami bertumpuk di depan perutnya yang langsing itu. Tangan lembutnya mengusap pelan punggung lengan gua, dia memiringkan wajahnya lalu mencium pipi kiri ini.
"Love you, Mas... Love you so much, thanks for today...", ucapnya dengan lengkung senyum yang indah nan cantik itu.
"Love you too, my beloved wife... Love you more than anything.. No thanks.. I mean.. I'm thanks to you... For being my half life, my everything...", balas gua lalu mencium bibirnya yang terbalut lipstik berwarna merah maroon.
"Hihihi... Romantis banget kamu, jadi inget ulangtahun tahun lalu waktu kamu beliin aku mobil itu, di kamarkan kamu taburin bunga mawar sama bunga Lily diatas kasur...", jawabnya sambil mengelus-elus pipi ini. "Dan sekarang... Kamu melakukan hal yang sama, ada bunga Lily lagi di kasur, thanks Mas.. Sayang kamu...", lanjutnya.
"Sayang kamu juga, Nyonya Agathadera...".
"Kyaaaa.... Hahahaha...", teriaknya karena gua sudah mengangkat tubuhnya dengan menggendong dari bagian depan.
"One more sureprise, baby...", ucap gua lagi seraya berjalan memasuki kamar.
"What a sureprise my dear ?".
"Oh hohoho.... I'm on the top! So this is will be a party between you and me.. All night long...", balas gua yang sudah merebahkan tubuhnya diatas kasur, tepat disamping se-bukcet bunga Lily kesukaannya.
"My Dear...".
"Hm ?".
"What do you prefer ? Called Daddy or Papih ?".
"What do you mean ?".
"I think you will be a father soon...", jawabnya dengan senyum yang sangat lebar.
Gua terpaku, terhenti rasanya segala aliran darah dalam tubuh ini, tiba-tiba saja gua kembali tersadar ketika merasakan jantung ini berdegup dengan cukup kencang, adrenalin gua sepertinya berpacu dengan sangat cepat lalu gua mencium bibirnya dengan penuh perasaan cinta untuknya. Tak bersisa rasanya semua cinta yang ada dalam hati ini, ya... Rasa ini hanya untuknya, sang Nyonya Vera Tunggadewi, bukan untuk wanita lain yang dengan segala perasaannya sedang dimabuk asmara karena kebodohan gua.
Maaf...
Maaf...
Maaf Sher...
"Good morning, my dear...", cuppp..
Sebuah kecupan pada pipi kiri gua terasa hangat setelah sang Nyonya mengucapkan selamat pagi.
Gua tersenyum melirik kepadanya, lalu melingkarkan tangan kanan ke pinggangnya, mendekap tubuhnya dari samping lalu mengecup keningnya itu.
"Good morning my sunshine..", balas gua. "Selamat ulangtahun ya, semoga panjang umur, selalu dilimpahkan rejeki, dilindungi dimanapun kamu berada dan selalu mencintai aku untuk selamanya, Ve...", lanjut gua yang kini sudah benar-benar memeluknya dari arah depan.
"Aamiin... Aamiin.. Aamiin, terimakasih banyak, Mas... I love you..", jawabnya sambil menengadahkan kepalanya menatap wajah gua.
Cupp...gua kecup bibirnya.
"I love you too, sayang...".
Di hari ulangtahunnya kali ini, gua memang meminta izin kepada Ibu untuk pergi menemui sang Nyonya di Singapore. Walaupun seharusnya gua baru akan berangkat dan menemuinya di akhir tahun nanti tapi tidak mungkin gua juga tidak berada disisinya saat dia bertambah usia di tahun ini. Gua baru menjejakan kaki disini sehari sebelumnya, tepat kemarin malam, beberapa jam sebelum dia berulangtahun, dan sedikit kejutan atas kedatangan gua yang tanpa memberitahunya itu cukup membuatnya bahagia, apalagi dengan sureprise lainnya, sebuah kado khusus untuknya tadi malam.
"Hari ini mau jalan-jalan, sayang ?".
Sang Nyonya tersenyum lebar lalu mengangguk cepat.
Tidak butuh waktu lama setelah gua berganti pakaian casual dan mengajaknya pergi dari apartemen sewaannya itu. Gua mengendarai mobil milik Papah mertua yang memang dipinjamkan untuk istri gua tercinta selama berada di negara ini. By the way, Papah mertua gua memang tinggal disini, hanya berbeda kota dengan istri tercinta gua, sang Nyonya, Vera Tunggadewi.
Kami berdua hangout ke beberapa tempat wisata di negara ini, keluar masuk toko tas, dan kali ini berbeda, karena gua yang memaksa dirinya untuk membeli semua yang ia inginkan di hari spesialnya. Love you till i die, Ve... Really love you no matter what they say...
Ketika hari sudah mulai sore, kami pulang ke apartemen dan beristirahat sejenak, membersihkan tubuh agar kembali segar untuk acara nanti malam. Saat senja sudah berganti dengan gelapnya malam tanpa hujan, kami berdua telah mengenakan pakaian yang cukup formal. Malam ini, gua mengajak sang Nyonya penyuka bunga Lily itu untuk makan malam di sebuah restoran yang menyajikan tempat berbeda dengan restoran pada umumnya. Dimana nanti kami akan makan malam di dalam sebuah kapsul, ya bentuknya memang seperti kapsul dan kapsul tersebut terhubung dengan sebuah Singapore Flyer di dekat Marina Bay, dan dikenal dengan Marina Promenade.
Singkat cerita gua dan sang Nyonya sudah berada di restoran tersebut, duduk bersebelahan di dalam sebuah kapsul yang akan bergerak berputar perlahan dari bawah keatas, dan saat berada di ketinggian, kami akan melihat indahnya kota pada malam hari, tentunya dengan berbagai menu pilihan yang telah kami pesan sebelumnya. Kami menikmati makan malam dengan sajian dim sum dan beberapa choco cake sebagai dessert, sedangkan Nyonya memilih panna cotta sebagai sajian penutup.
Sebelum pukul sepuluh malam, kami berdua sudah pulang dan kembali ke apartemen. Malam itu cuacanya cerah, tidak nampak akan turun hujan, bintang-bintang di langit pun menunjukkan cahayanya yang indah, beautiful night, isn't it ? Dan sempurnalah semuanya ketika gua memeluk sang Nyonya dari belakang, kami menatap langit malam yang bertabur bintang dari beranda apartemen ini.
Gua mengecup kepalanya yang terbalut hijab berwarna hitam, kedua tangan kami bertumpuk di depan perutnya yang langsing itu. Tangan lembutnya mengusap pelan punggung lengan gua, dia memiringkan wajahnya lalu mencium pipi kiri ini.
"Love you, Mas... Love you so much, thanks for today...", ucapnya dengan lengkung senyum yang indah nan cantik itu.
"Love you too, my beloved wife... Love you more than anything.. No thanks.. I mean.. I'm thanks to you... For being my half life, my everything...", balas gua lalu mencium bibirnya yang terbalut lipstik berwarna merah maroon.
"Hihihi... Romantis banget kamu, jadi inget ulangtahun tahun lalu waktu kamu beliin aku mobil itu, di kamarkan kamu taburin bunga mawar sama bunga Lily diatas kasur...", jawabnya sambil mengelus-elus pipi ini. "Dan sekarang... Kamu melakukan hal yang sama, ada bunga Lily lagi di kasur, thanks Mas.. Sayang kamu...", lanjutnya.
"Sayang kamu juga, Nyonya Agathadera...".
"Kyaaaa.... Hahahaha...", teriaknya karena gua sudah mengangkat tubuhnya dengan menggendong dari bagian depan.
"One more sureprise, baby...", ucap gua lagi seraya berjalan memasuki kamar.
"What a sureprise my dear ?".
"Oh hohoho.... I'm on the top! So this is will be a party between you and me.. All night long...", balas gua yang sudah merebahkan tubuhnya diatas kasur, tepat disamping se-bukcet bunga Lily kesukaannya.
"My Dear...".
"Hm ?".
"What do you prefer ? Called Daddy or Papih ?".
"What do you mean ?".
"I think you will be a father soon...", jawabnya dengan senyum yang sangat lebar.
Gua terpaku, terhenti rasanya segala aliran darah dalam tubuh ini, tiba-tiba saja gua kembali tersadar ketika merasakan jantung ini berdegup dengan cukup kencang, adrenalin gua sepertinya berpacu dengan sangat cepat lalu gua mencium bibirnya dengan penuh perasaan cinta untuknya. Tak bersisa rasanya semua cinta yang ada dalam hati ini, ya... Rasa ini hanya untuknya, sang Nyonya Vera Tunggadewi, bukan untuk wanita lain yang dengan segala perasaannya sedang dimabuk asmara karena kebodohan gua.
Maaf...
Maaf...
Maaf Sher...
*
*
*
*
*
Quote:
Pay my respects to grace and virtue
Send my condolences to good
Give my regards to soul and romance
They always did the best they could
...You got to let me go...
Send my condolences to good
Give my regards to soul and romance
They always did the best they could
...You got to let me go...
Diubah oleh glitch.7 07-08-2017 13:34
kifif dan fatqurr memberi reputasi
3

