- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#1749
PART 15
Gua duduk diatas kursi lipat di dalam ruangan yang ukurannya tidak lebih dari empat kali tiga meter. Bunyi 'tak tik tak tik' yang keluar dari sebuah papan ketik di depan gua, serta deru angin dari kipas di ujung ruangan menjadi pemecah keheningan selama satu jam, sampai akhirnya lelaki yang daritadi memainkan jemarinya diatas papan ketik itu berhenti, lalu berdiri dan berjalan kearah pintu ruangan di belakang gua.
Derap langkah kaki dari sepatu pantofel yang beradu dengan lantai berwarna putih seluas ruangan ini semakin jelas terdengar dan berhenti ketika sosok lelaki lain, lelaki yang kali ini gua kenal sudah berdiri di samping kiri gua. Jemarinya mengambil sebatang rokok light dan menyodorkannya ke mulut ini gua menerimanya dengan mulut terbuka lalu dibakarkan lah racun tersebut olehnya.
"Reza.. Reza... Reza...", ucapnya sambil berjalan kedepan gua dan duduk dibalik meja dihadapan gua, dia duduk diatas kursi kerja tempat lelaki yang sebelumnya mengetik.
Gua menatapnya yang sedang menggelengkan kepala menatap gua balik, gua tersenyum tipis dengan rokok yang terselip di bibir ini.
"Oh sorry Za... Sebentar...", ucapnya lagi lalu melirik kebawah, kearah pinggangnya dan mengambil sebuah kunci. "Tangan...", lanjutnya.
Gua mengangkat kedua tangan keatas meja. Klik...suara kunci tersebut diputar. Treeeekkk borgol diputar dan bebaslah pergelangan tangan gua.
"Huufftt..", gua menghembuskan asap rokok yang sebelumnya telah gua hisap dalam-dalam. "Thanks Gus...", ucap gua lagi sambil mengurut pergelangan tangan kiri.
"Jangan ngucapin makasih dulu, gua belum tentu bisa bantu lu...", ucapnya kali ini sambil menyandarkan tubuh ke bahu kursi dibelakangnya.
Gua terkekeh pelan. "Ya ya ya... Toh gua juga gak minta tolong sama lu, thanks buat kunci borgolnya tadi maksud gua, hehehe....".
"Za...", tidak ada senyum atau canda yang ia tunjukan, raut wajahnya serius. "Ini kasus berat Za, bisa masuk ke pasal pembunuhan berencana...", lanjutnya lagi sambil memejamkan matanya kali ini.
Gua menengadah menatap langit ruangan ini, lalu kembali tersenyum. "Yaa mau gimana lagi, Gus.. Udah kejadian juga..", gua sama sekali tidak menatap wajah sahabat masa SMA gua itu.
"Seperti kelas dua dulu ?", tebaknya.
"Half...", jawab gua pelan masih menatap langit-langit ruangan.
"Maksudnya...?".
"Gus...", gua menatap wajahnya yang kebingungan. "Banyak hal yang terjadi beberapa tahun kebelakang, yang membuat sisi gelap gua lebih... Lebih gelap lagi, anggaplah begitu, gua gak tau harus nyebut apa, Gus...", jawab gua yang membuat Gusmen semakin kebingungan.
"Karena pengalaman di Jepang dulu ?", tebaknya lagi.
"Ya... Itu hal yang paling membuat sisi gelap gua semakin.... Ah you know what i mean, brother...", gua menggelengkan kepala lalu kembali menghisap rokok dalam-dalam.
"Gua cuma takut lu kelewat batas aja Za, gua fikir sisi gelap itu udah hilang atau minimal berkurang... Karena istri lu sempet cerita soal terapi yang lu jalanin sebelum nikah...", Gusmen mengambil sebatang rokok dan mulai membakarnya.
"Lu percaya gua psikopat ?", tanya gua.
Sahabat yang telah menjadi saudara gua, ah memang dia sudah gua anggap saudara semenjak kami menjalin persahabatan di masa SMA dulu, tentunya bersama Sandhi dan alm. Topan. Menatap gua dengan ekspresi sedih, atau kasihan lebih tepatnya.
"Gua gak tau Za, gimanapun lu saudara gua, dan gua gak mau berfikir kearah situ... Walaupun orang-orang percaya lu memiliki sedikit sifat kearah sana..", jawabnya hati-hati.
"Gua berfikir menggunakan logika, Gus...", gua membenarkan posisi duduk lalu menaruh kedua tangan keatas meja. "Hampir semua lelaki akan melakukan kekerasan untuk membalas perlakuan kasar yang Feri berikan kepada Sherlin", lanjut gua lalu menghisap rokok yang hampir habis. "Hanya caranya yang berbeda....", tandas gua kali ini seraya mematikan rokok kedalam asbak kaca kemudian menghembuskan asapnya kesamping.
"Nah itu, Za... Kenapa juga lu harus sesadis itu... Ini udah berlebihan dan perkara yang berat, Za... Bisa kena pasal berlapis..", balasnya.
"Karena pengalaman Gus, bukan soal sifat kejiwaan... Pengalaman yang gua ceritain ke lu dulu...", gua menggelengkan kepala pelan.
"Waktu di Jepang lagi ?".
Gua menganggukkan kepala kali ini seraya tersenyum simpul. Gusmen menghembuskan asap rokok dari mulutnya lalu mematikan puntungnya kedalam asbak sambil menggelengkan kepalanya dengan gerakan cepat.
"Apapun itu, psikopat lah, pengalaman lah, whatever pokoknya Za, tetep aja salah dan semuanya udah kejadian Za...".
"Ya, gua tau... Dan gak ada niatan untuk kabur Gus... Gak ada sama sekali, i risk everything and take the responsibility...".
Gusmen berdiri dari duduknya kemudian berjalan ke sisi ruangan. Dia berdiri menatap sebuah figura kecil yang menunjukan sebuah visi dan misi dari lembaga tempat ia bekerja. "Za, gua harap lu gak salah paham...", ucapnya dengan tetap menatap ke figura kecil di depannya. "Gimana juga lu adalah sodara gua... Tapi lu juga tau profesi gua ini, jadi gua pasti bantu lu Za dengan batasan-batasan yang ada..", lanjutnya kemudian berbalik menatap gua dengan tersenyum.
Gua mengangguk dan membalas senyumnya. "Gak perlu khawatir dengan hukuman gua Gus... Lu kan hanya menjalankan tugas, dan gua memang salah, jadi lakuin apa yang udah jadi prosedur, Gus...", jawab gua.
...
Derap langkah kaki dari sepatu pantofel yang beradu dengan lantai berwarna putih seluas ruangan ini semakin jelas terdengar dan berhenti ketika sosok lelaki lain, lelaki yang kali ini gua kenal sudah berdiri di samping kiri gua. Jemarinya mengambil sebatang rokok light dan menyodorkannya ke mulut ini gua menerimanya dengan mulut terbuka lalu dibakarkan lah racun tersebut olehnya.
"Reza.. Reza... Reza...", ucapnya sambil berjalan kedepan gua dan duduk dibalik meja dihadapan gua, dia duduk diatas kursi kerja tempat lelaki yang sebelumnya mengetik.
Gua menatapnya yang sedang menggelengkan kepala menatap gua balik, gua tersenyum tipis dengan rokok yang terselip di bibir ini.
"Oh sorry Za... Sebentar...", ucapnya lagi lalu melirik kebawah, kearah pinggangnya dan mengambil sebuah kunci. "Tangan...", lanjutnya.
Gua mengangkat kedua tangan keatas meja. Klik...suara kunci tersebut diputar. Treeeekkk borgol diputar dan bebaslah pergelangan tangan gua.
"Huufftt..", gua menghembuskan asap rokok yang sebelumnya telah gua hisap dalam-dalam. "Thanks Gus...", ucap gua lagi sambil mengurut pergelangan tangan kiri.
"Jangan ngucapin makasih dulu, gua belum tentu bisa bantu lu...", ucapnya kali ini sambil menyandarkan tubuh ke bahu kursi dibelakangnya.
Gua terkekeh pelan. "Ya ya ya... Toh gua juga gak minta tolong sama lu, thanks buat kunci borgolnya tadi maksud gua, hehehe....".
"Za...", tidak ada senyum atau canda yang ia tunjukan, raut wajahnya serius. "Ini kasus berat Za, bisa masuk ke pasal pembunuhan berencana...", lanjutnya lagi sambil memejamkan matanya kali ini.
Gua menengadah menatap langit ruangan ini, lalu kembali tersenyum. "Yaa mau gimana lagi, Gus.. Udah kejadian juga..", gua sama sekali tidak menatap wajah sahabat masa SMA gua itu.
"Seperti kelas dua dulu ?", tebaknya.
"Half...", jawab gua pelan masih menatap langit-langit ruangan.
"Maksudnya...?".
"Gus...", gua menatap wajahnya yang kebingungan. "Banyak hal yang terjadi beberapa tahun kebelakang, yang membuat sisi gelap gua lebih... Lebih gelap lagi, anggaplah begitu, gua gak tau harus nyebut apa, Gus...", jawab gua yang membuat Gusmen semakin kebingungan.
"Karena pengalaman di Jepang dulu ?", tebaknya lagi.
"Ya... Itu hal yang paling membuat sisi gelap gua semakin.... Ah you know what i mean, brother...", gua menggelengkan kepala lalu kembali menghisap rokok dalam-dalam.
"Gua cuma takut lu kelewat batas aja Za, gua fikir sisi gelap itu udah hilang atau minimal berkurang... Karena istri lu sempet cerita soal terapi yang lu jalanin sebelum nikah...", Gusmen mengambil sebatang rokok dan mulai membakarnya.
"Lu percaya gua psikopat ?", tanya gua.
Sahabat yang telah menjadi saudara gua, ah memang dia sudah gua anggap saudara semenjak kami menjalin persahabatan di masa SMA dulu, tentunya bersama Sandhi dan alm. Topan. Menatap gua dengan ekspresi sedih, atau kasihan lebih tepatnya.
"Gua gak tau Za, gimanapun lu saudara gua, dan gua gak mau berfikir kearah situ... Walaupun orang-orang percaya lu memiliki sedikit sifat kearah sana..", jawabnya hati-hati.
"Gua berfikir menggunakan logika, Gus...", gua membenarkan posisi duduk lalu menaruh kedua tangan keatas meja. "Hampir semua lelaki akan melakukan kekerasan untuk membalas perlakuan kasar yang Feri berikan kepada Sherlin", lanjut gua lalu menghisap rokok yang hampir habis. "Hanya caranya yang berbeda....", tandas gua kali ini seraya mematikan rokok kedalam asbak kaca kemudian menghembuskan asapnya kesamping.
"Nah itu, Za... Kenapa juga lu harus sesadis itu... Ini udah berlebihan dan perkara yang berat, Za... Bisa kena pasal berlapis..", balasnya.
"Karena pengalaman Gus, bukan soal sifat kejiwaan... Pengalaman yang gua ceritain ke lu dulu...", gua menggelengkan kepala pelan.
"Waktu di Jepang lagi ?".
Gua menganggukkan kepala kali ini seraya tersenyum simpul. Gusmen menghembuskan asap rokok dari mulutnya lalu mematikan puntungnya kedalam asbak sambil menggelengkan kepalanya dengan gerakan cepat.
"Apapun itu, psikopat lah, pengalaman lah, whatever pokoknya Za, tetep aja salah dan semuanya udah kejadian Za...".
"Ya, gua tau... Dan gak ada niatan untuk kabur Gus... Gak ada sama sekali, i risk everything and take the responsibility...".
Gusmen berdiri dari duduknya kemudian berjalan ke sisi ruangan. Dia berdiri menatap sebuah figura kecil yang menunjukan sebuah visi dan misi dari lembaga tempat ia bekerja. "Za, gua harap lu gak salah paham...", ucapnya dengan tetap menatap ke figura kecil di depannya. "Gimana juga lu adalah sodara gua... Tapi lu juga tau profesi gua ini, jadi gua pasti bantu lu Za dengan batasan-batasan yang ada..", lanjutnya kemudian berbalik menatap gua dengan tersenyum.
Gua mengangguk dan membalas senyumnya. "Gak perlu khawatir dengan hukuman gua Gus... Lu kan hanya menjalankan tugas, dan gua memang salah, jadi lakuin apa yang udah jadi prosedur, Gus...", jawab gua.
...
*
*
*
*
*
Quote:
Quote:
And the rain will kill us all...
We throw ourselves against the wall
But no one else can see
The preservation of the martyr in me
We throw ourselves against the wall
But no one else can see
The preservation of the martyr in me
Psychosocial - Slipknot
...SCROLL DOWN to CONTINUES READING...
Diubah oleh glitch.7 09-08-2017 21:51
2


