- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#1432
PART 13
"Gimana rasanya ? enak ?".
"Hmm.. Oke juga, tapi ini kayak gorengan gitu ya..", jawab seorang wanita cantik yang sebelumnya meminta makan di restoran Jepang ini.
"Ya emang gorengan biasa, cuma beda isinya aja sama ada tandemnya kuah shoyu itukan...", timpal gua sambil menyumpit salah satu tempura moriawase yang berisi ubi.
Restoran ini tidak begitu ramai di siang hari menjelang sore seperti sekarang, apalagi ini hari kerja. Jadi saat ini hanya ada gua dan seorang wanita cantik yang duduk dihadapan gua itu, dan satu meja makan lainnya diisi oleh seorang pasangan anak muda. Hanya kami berempat saat itu yang menjadi pengunjung. Gua tersenyum menatap salah satu tempura yang berisi udang, mengingatkan gua kepada almarhumah istri tercinta.
'Cha.. Kamu kangen gak makan tempura ? Aku sekarang lagi makan tempura nih, sama dia'.
Sekarang malah dia yang minta nyobain tempura... It's funny rite ?'
Selesai makan, kami langsung menuju parkiran mobil dan pulang ke rumah setelah sebelumnya membayar makan siang itu.
Gua kembali mengemudikan mobil miliknya, melewati jalan tol yang sudah mulai sedikit padat. Sore hari kami berdua sampai di rumah gua, beres memarkirkan mobil tepat dibelakang mobil milik sang Nyonya, gua mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Sebentar ya, aku ke kamar dulu...", ucap gua sambil berjalan kearah tangga.
"Iya, Mas..", ucapnya sambil duduk di sofa ruang tamu. "Eh kamu mau istirahat ? Aku langsung pulang aja kalo gitu ya..", lanjutnya tiba-tiba.
Gua berhenti dan tidak jadi menaiki tangga, lalu membalikan tubuh kearahnya. "Enggak kok, gak cape, tenang aja.. Udah tunggu sebentar.. Aku cuma mau ganti pakaian", jawab gua. "Oh ya, kalo mau minum ambil sendiri ya ke dapur, Bibi lagi ke rumah Ibu...", lanjut gua.
Wanita itu tersenyum sambil mengangguk sebagai jawabannya.
Gua mencuci muka terlebih dahulu, kemudian keluar kamar mandi dan menuju meja rias milik sang Nyonya pertama, almh. Echa, untuk menatap kearah sisi kanan atas meja rias tersebut, dimana di dinding sana sebuah bingkai foto yang berukuran cukup besar terpajang, tepat disebelahnya ukuran bingkai yang lebih kecil ikut menghiasi dinding kamar ini.
Gua tersenyum sambil mengelapkan handuk ke sisi wajah menatap kedua foto tersebut.
'I'm home Cha...'ucap gua dalam hati. Lalu kemudian gua menuju lemari pakaian dan mengambil salah satu kaos santai berwarna dasar hitam dengan gambar band favorit almarhumah, MCR. Beres mengenakan pakaian, gua kembali keluar kamar dan menuruni tangga menuju ruang tamu.
"Udah ambil minum ?", tanya gua setelah berdiri di dekat wanita cantik itu.
"Hm ? Udah Mas.. Aku buat sendiri tadi ke dapur, maaf gak sopan, abis aus sih, hihihi...", jawabnya.
Gua tersenyum lalu duduk disebrangnya. Ya, rasanya tak etis jika di dalam rumah gua berduaan seperti ini, bahkan kalau sampai duduk bersebelahan dengan wanita lain selain sang Nyonya.
"Kamu kayak ke siapa aja, udah sering kesini juga...", ucap gua seraya menyandarkan tubuh ke bahu sofa.
"Iya iya... Oh ya, kata kamu tadi Bibi lagi ke rumah Ibu ? Emang ada acara apa ?", tanyanya kali ini sambil melipat satu kakinya keatas paha kaki yang lain.
"Tadi waktu kita makan, aku bbm Ibu, bilang kalo udah sampe Jakarta, terus Ibu bilang Bibi lagi dimintain tolong masak dan bantu-bantu dirumahnya, mau ada acara pengajian rutin gitu sebulan sekali...", jawab gua lalu menyandarkan kepala belakang ke sofa.
"Ooh pengajian rutin itu... By the way kamu gak ikut pengajiannya ?".
Gua memejamkan mata dengan tubuh dan kepala yang masih bersandar kebelakang sofa ini. "Iya ikut kok, acaranya nanti malam, Ibu sih gak maksa karena tau aku baru sampe takut kecapean katanya... Tapi kayaknya aku tetep ikut pengajian...", jawab gua pelan.
"Mas, kamu cape ya ?".
Gua mendengar suaranya itu lebih jelas, lebih dekat, apa dia bangun dari duduknya ? Gua tidak tau karena mata ini masih terpejam.
"Lumayan sih...", jawab gua lagi tanpa merubah posisi. "Eh ?!", gua membuka mata seketika, saat lembut kedua tangannya gua rasakan memijat bahu ini, gua melihatnya dari bawah sini, melihat wanita itu ternyata sudah berdiri dibelakang sofa yang gua duduki. Senyuman itu terlukis di wajahnya, menatap gua dari atas dengan kedua tangan yang masih terus memijat bahu gua.
"Kamu ngapain ?", tanya gua sambil menatapnya heran.
"Katanya cape kan ? Aku pijitin sebentar ya..", jawabnya dengan nada suara yang terdengar tulus.
Gua menghela nafas, mengerjapkan mata sejenak lalu menegakkan posisi duduk, tidak lagi bersandar ke sofa. Sejujurnya, gua menikmati pijatannya itu. Hanya sebuah pijatan biasa di bahu ini, gua menikmatinya karena memang cukup pegal rasanya akibat terlalu banyak duduk dan kurang bergerak selama perjalanan dari luar negeri, bahkan kembali duduk lagi dan lagi ketika di dalam mobil dan makan di restoran. Tapi akal sehat gua alhamdulillah masih bekerja dengan baik. Gua terlihat berlebihan atau mungkin kege'eran berpikir seperti sekarang ini, namun pengalaman mengajarkan gua, bahwa situasi berduaan dengan wanita lain seperti sekarang cukup bisa membuat gua masuk kedalam kesalahpahaman lagi dan menjadi awkward momen.
"Kenapa ?", tanyanya yang kembali mencoba memijat bahu gua.
"Enggak apa-apa...", jawab gua.
Dia berjalan kedepan sofa dan duduk tepat disamping gua. "Mau dipijitin sambil duduk ?", ucapnya menawarkan.
Gua menggelengkan kepala lalu tersenyum. "Gak enak aja, kita berduaan di rumah ini dengan status sama-sama udah jadi pasangan hidup orang lain, takut jadi fitnah...", jawab gua lalu berdiri dan berjalan beberapa langkah menuju pintu depan. "Maaf, duduk di teras depan aja yu...", ajak gua.
Kami berdua duduk di bangku teras, dengan meja kecil yang berada diantara dua bangku ini. Gua langsung membuka obrolan perihal pekerjaannya yang baru saja gua dengar saat sebelum berangkat bersama Nyonya ke luar negeri. Saat itu dia menceritakan kalo dirinya baru saja keluar dari pekerjaannya yang lama karena ada lowongan kerja disebuah perusahaan bidang periklanan yang cukup ternama. Setelah gua mendengar ceritanya dan gua menyimpulkan bahwa pekerjaan barunya itu nampaknya sangat membuat dia senang, tidak seperti pekerjaan yang sebelumnya, mungkin bukan minatnya saat dulu bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi.
"Kamu sendiri gimana soal kerjaan ? Katanya pindah ke dapur sekarang...", tanyanya setelah dia selesai bercerita soal pekerjaan barunya itu.
"Iya, udah gak dibalik meja lagi sekarang, beda meja... Meja kitchen sekarang ma, hahaha...", jawab gua santai.
"Passion kamu mungkin emang disitu Mas, lebih suka praktek daripada mikirin teori dan ngurusin administrasi...", timpalnya.
"Iya, lagian ilmu perkuliahan aku kemaren juga bukan di bidang administrasi atau ekonomi.. Pusinglah, hehehe...".
"Oh ya Mas.. Gimana soal manajer baru di Jakarta itu ? Beneran jadi Eva gantiin kamu ?", tanyanya lagi.
Ah gua cukup terkejut, seolah-olah diingatkan olehnya akan sosok wanita yang memiliki kepribadian absurd tersebut.
"Ah iya, aku juga mau nanyain ke kamu soal dia, lupa aku... Untung kamu nanya...", ucap gua.
"Ada apa emangnya ?".
"Kayaknya apa yang kamu ceritakan waktu itu bener...", jawab gua sambil merogoh saku celana dan mengeluarkan sebungkus rokok semboro light.
"Soal Eva ?", tanyaya yang kali ini sedikit membuatnya tertarik.
Gua membakar sebatang rokok sebelum menjawab pertanyaannya itu, kemudian menghisapnya dalam-dalam lalu gua hembuskan keatas.
"Ya.. Soal Eva, apa yang kamu ceritakan dulu kayaknya bener... Aku sendiri yang ngerasain", jawab gua.
"Nah menurut kamu gimana ? Aku enggak bohong kan kalo dia itu aneh..", lanjutnya.
Gua mengangguk, mengiyakan ucapannya.
"Kayaknya Eva punya kepribadian ganda... Kayaknya.. Ya kayaknya begitu..", ucap gua pelan sambil memandangi rerumputan di depan sana, di halaman depan yang mulai memanjang.
"Suami ku juga berkata jujur berarti waktu itu".
"Iya.. Suami kamu bener.. Eva itu aneh dan sepertinya dia beneran punya kepribadian ganda..".
Gua mengamini dan tidak lagi menyangkalnya seperti dulu. Kali ini apa yang pernah gua dengar dari dirinya dan suaminya itu benar, karena apa yang gua alami bersama Eva adalah bukti yang sahih.
"Memangnya kamu liat Eva gimana ?".
"Bukan liat, tapi ngalamin sendiri... Dia nampar aku, tapi setelah itu ngecup bibir aku juga, Mba...".
"WHAT ?!!", teriaknya yang terkejut mendengar ucapan gua itu. "Yang bener kamu ?!!!", tanyanya dengan nada yang sedikit emosi.
Gua mengangguk. "Beneran.. Di pantry...", jawab gua pelan.
"Terus terus... Kamu bales ciumannya ? Iya ?!!", loch loch kok jadi emosi dia.
"Loch kok kamu nanyanya gitu ? Jadi aku yang disalahin gini ?", tanya gua balik dengan nada suara yang tersirat bahwa gua tidak suka dengan pertanyaan dan terkaan ngawurnya itu.
"Ya gak mungkin kalo kamu gak bales ciumannya! Eva cantik gitu! Hiiih!", makin terlihat amarahnya deh.
"Sebentar sebentar... Ini yang pe'a siapa sih sebenarnya.. Eva atau kita ? Aneh deh kamu...".
"Oooh sekarang kamu bilang aku pe'a, iya ? Iya ?! Belain Eva karena udah dicium, hah!", dia berdiri lalu mencubit lengan kiri gua dengan kekuatan penuh.
"WAAADDDAAAAAAAAWWWWW....!! SAKIIIITT!!", Amit-amit sakitnya kalo di cubit doi tuh
"Bodo amat! Ngeselin kamu!", sungutnya sambil melepas cubitan. "Aku bilangin istri kamu! Pasti kamu gak ceritakan ?!!", lanjutnya mengancam gua dengan tatapan membunuh.
"Wooo wooo.. Malesin.. Sembarangan nih orang atu...", ucap gua sambil mengelus-ngelus lengan ini. "Denger ya, aku cuma dikecup bukan ciuman.. Beda...", lanjut gua meluruskan kejadian yang sebenarnya.
"Alah ngeles aja kamu dasar laki-laki tukang dusta!", timpalnya sambil memutar kedua bola mata keatas dengan ekspresi yang tengil. Asli tengil nih cewek. Untung aja kamu cantik huh!
"Kamu tuh dari dulu gak mau denger penjelasan aku kalo tau cerita gak beres kayak gini... Males aku cerita-cerita lagi kalo gitu...", jawab gua sambil berdiri dan hendak masuk kedalam rumah.
"Hey! hey! heey! Maen kabur aja...", dia mengikuti gua berjalan masuk kedalam rumah lagi. "Berarti bener dong prasangka aku, kalo kamu ada apa-apa sama Eva nih! Hayo ngaku ?!", cerocosnya sambil mencoba menahan tangan gua. "Ayo ngaku!".
"Sembarangaaaan hadeuh... Cape aku cerita ama kamu, belom kelar da maen judge aja! Kamu yang ngeselin nih...", balas gua mulai kesal. "Lagian kenapa jadi kita yang ribut sih ? Kayak suami istri aja elaah... Cape deh..", ledek gua sambil memasang wajah tengil (gantian).
Wajahnya cemberut kali ini tapi gua tau dia melunak, tidak emosi seperti sebelumnya. "Huuu.. Abisnya ngeselin kamu, malah mau-maunya dicium ama dia heuh!"
"Siapa yang mau dicium dia ? Dianya aja maen nyosor bibir seksi aku... Kecup inget kecup! Gak ampe dua detik".
"Seksi seksi matamuuu!!!", sungutnya seraya menoyor kening gua. Gak sopan emang nih si seksi ama mantannya yang tampan ini. Hadeuh
"Terus udah nih ? Ngobrolnya berdiri aja gini kayak satpam bank...", lanjutnya kesal.
"Huahahahaha... Dasar kamu tuh Mbaa.. Hahaha... Iya lagian yang nahan aku kan kamu, gak jelas aja jadinya nih.. Hayu hayu duduk lagi, anggap rumah sendiri aja Mba.. Malu-maluin juga enggak papa kok...", balas gua sambil tertawa.
"Abisnya ngeselin.. Hahaha..hahaha...", ya akhirnya kami berdua malah tertawa. Begitulah hubungan gua dan dirinya, yang memang dekat dari dulu. Bahkan sang Nyonya pun tau.
Karena kami sudah menganggap hubungan ini seperti keluarga. Dia adalah seorang kakak bagi istri gua, begitupun dirinya yang menganggap istri gua seperti adiknya sendiri.
Kami berdua duduk kembali di sofa ruang tamu, tetap tidak bersebelahan, walaupun istri gua mengetahui kedekatan kami, begitupun dengan suaminya, namun gua dan dirinya tau batasan, apalagi ini rumah lagi sepi. Gua duduk seperti sebelumnya, di depan dia.
Wanita itu kembali mendengarkan cerita gua tentang Eva, tepatnya kejadian saat gua dan Eva adu argumen hingga dia menampar pipi gua dan setelah itu malah mengecup bibir ini. Setelah mendengar semua cerita gua yang sebenarnya, barulah si pemilik jam tangan berwarna hijau tosca tersebut mengerti dan paham.
"Terus kamu beneran mau minta Ibu mu ngeluarin Eva ? Dengan alasan kejadian itu ?", tanyanya.
"Ya enggaklah, gila aja aku ampe cerita ke Ibu kalo Eva ngecup bibir ini... Ya aku cari alasan lain lah.. Apa kek.. Terlalu emosian dan nyusahin pekerjaan orang laen kek.. Atau apa kek, gampang itu...", jawab gua.
"Hmmm.. Ya terserah sih yang penting sekarang kamu harus hati-hati Mas sama dia, inget istri mu ya.. Apalagi sekarang kamu dan istri mu terpisah selama tiga bulankan... Banyak-banyak istigfar, Mas...", lanjutnya mengingatkan gua.
"Istigfar sih istigfar... Tapi yaaa.. Kalo disuguhin yang seksi juga godaannya beratlaaah...", jawab gua dengan nada menggoda dan tidak lupa mata nakal ini melirik kearah bukit merapinya.
"Matamu minta dicolok Mas ? Hm ? Liatin apa kamu ?!", dia merubah posisi duduk sambil menutupi bagian depan tubuhnya itu dengan jaket yang ia kenakan lalu mengaitkan setiap kancingnya.
"Huehehehehe... Ampun ampun... Maaf maaf bercanda...", jawab gua tertawa mesum.
Ah begitulah candaan gua dengannya, yang memang kurang ajar kadang-kadang, tapi dia juga tau sifat gua. Tetap tidak mungkin gua berani kurang ajar secara fisik kepadanya.
"Mas..".
"Hm ?".
"Aku mau cerita soal suami ku sama kamu... Waktu itu gak jadikan karena kamu dan istrimu berangkat...", ucapnya kali ini serius.
Ah iya, saat diperjalanan ke bandara Soetta seminggu yang lalu, dia memang bercerita sedikit soal suaminya kepada gua dan istri di dalam mobil. Tapi sayangnya tidak sampai selesai karena kami lebih dulu sampai di bandara dan langsung masuk ke terminal keberangkatan internasional waktu itu.
"Ooh iya, yang kamu cerita waktu nganter aku dan Nyonya ke bandara kan ? Iya kenapa itu sih ? Ada apa sebenarnya Mba ?", tanya gua setelah mengingat-ingat.
Sherlin Putri Levanya, wanita yang selama ini dekat dengan gua dan keluarga gua kini tertunduk, wajahnya terlihat menyiratkan kesedihan, berubah seketika saat tadi kami masih bercanda dan tertawa. Ya ampun Mba, ada apa lagi sama kehidupan rumah tangga kamu...
"Hmm.. Oke juga, tapi ini kayak gorengan gitu ya..", jawab seorang wanita cantik yang sebelumnya meminta makan di restoran Jepang ini.
"Ya emang gorengan biasa, cuma beda isinya aja sama ada tandemnya kuah shoyu itukan...", timpal gua sambil menyumpit salah satu tempura moriawase yang berisi ubi.
Restoran ini tidak begitu ramai di siang hari menjelang sore seperti sekarang, apalagi ini hari kerja. Jadi saat ini hanya ada gua dan seorang wanita cantik yang duduk dihadapan gua itu, dan satu meja makan lainnya diisi oleh seorang pasangan anak muda. Hanya kami berempat saat itu yang menjadi pengunjung. Gua tersenyum menatap salah satu tempura yang berisi udang, mengingatkan gua kepada almarhumah istri tercinta.
'Cha.. Kamu kangen gak makan tempura ? Aku sekarang lagi makan tempura nih, sama dia'.
Sekarang malah dia yang minta nyobain tempura... It's funny rite ?'
Selesai makan, kami langsung menuju parkiran mobil dan pulang ke rumah setelah sebelumnya membayar makan siang itu.
Gua kembali mengemudikan mobil miliknya, melewati jalan tol yang sudah mulai sedikit padat. Sore hari kami berdua sampai di rumah gua, beres memarkirkan mobil tepat dibelakang mobil milik sang Nyonya, gua mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Sebentar ya, aku ke kamar dulu...", ucap gua sambil berjalan kearah tangga.
"Iya, Mas..", ucapnya sambil duduk di sofa ruang tamu. "Eh kamu mau istirahat ? Aku langsung pulang aja kalo gitu ya..", lanjutnya tiba-tiba.
Gua berhenti dan tidak jadi menaiki tangga, lalu membalikan tubuh kearahnya. "Enggak kok, gak cape, tenang aja.. Udah tunggu sebentar.. Aku cuma mau ganti pakaian", jawab gua. "Oh ya, kalo mau minum ambil sendiri ya ke dapur, Bibi lagi ke rumah Ibu...", lanjut gua.
Wanita itu tersenyum sambil mengangguk sebagai jawabannya.
Gua mencuci muka terlebih dahulu, kemudian keluar kamar mandi dan menuju meja rias milik sang Nyonya pertama, almh. Echa, untuk menatap kearah sisi kanan atas meja rias tersebut, dimana di dinding sana sebuah bingkai foto yang berukuran cukup besar terpajang, tepat disebelahnya ukuran bingkai yang lebih kecil ikut menghiasi dinding kamar ini.
Gua tersenyum sambil mengelapkan handuk ke sisi wajah menatap kedua foto tersebut.
'I'm home Cha...'ucap gua dalam hati. Lalu kemudian gua menuju lemari pakaian dan mengambil salah satu kaos santai berwarna dasar hitam dengan gambar band favorit almarhumah, MCR. Beres mengenakan pakaian, gua kembali keluar kamar dan menuruni tangga menuju ruang tamu.
"Udah ambil minum ?", tanya gua setelah berdiri di dekat wanita cantik itu.
"Hm ? Udah Mas.. Aku buat sendiri tadi ke dapur, maaf gak sopan, abis aus sih, hihihi...", jawabnya.
Gua tersenyum lalu duduk disebrangnya. Ya, rasanya tak etis jika di dalam rumah gua berduaan seperti ini, bahkan kalau sampai duduk bersebelahan dengan wanita lain selain sang Nyonya.
"Kamu kayak ke siapa aja, udah sering kesini juga...", ucap gua seraya menyandarkan tubuh ke bahu sofa.
"Iya iya... Oh ya, kata kamu tadi Bibi lagi ke rumah Ibu ? Emang ada acara apa ?", tanyanya kali ini sambil melipat satu kakinya keatas paha kaki yang lain.
"Tadi waktu kita makan, aku bbm Ibu, bilang kalo udah sampe Jakarta, terus Ibu bilang Bibi lagi dimintain tolong masak dan bantu-bantu dirumahnya, mau ada acara pengajian rutin gitu sebulan sekali...", jawab gua lalu menyandarkan kepala belakang ke sofa.
"Ooh pengajian rutin itu... By the way kamu gak ikut pengajiannya ?".
Gua memejamkan mata dengan tubuh dan kepala yang masih bersandar kebelakang sofa ini. "Iya ikut kok, acaranya nanti malam, Ibu sih gak maksa karena tau aku baru sampe takut kecapean katanya... Tapi kayaknya aku tetep ikut pengajian...", jawab gua pelan.
"Mas, kamu cape ya ?".
Gua mendengar suaranya itu lebih jelas, lebih dekat, apa dia bangun dari duduknya ? Gua tidak tau karena mata ini masih terpejam.
"Lumayan sih...", jawab gua lagi tanpa merubah posisi. "Eh ?!", gua membuka mata seketika, saat lembut kedua tangannya gua rasakan memijat bahu ini, gua melihatnya dari bawah sini, melihat wanita itu ternyata sudah berdiri dibelakang sofa yang gua duduki. Senyuman itu terlukis di wajahnya, menatap gua dari atas dengan kedua tangan yang masih terus memijat bahu gua.
"Kamu ngapain ?", tanya gua sambil menatapnya heran.
"Katanya cape kan ? Aku pijitin sebentar ya..", jawabnya dengan nada suara yang terdengar tulus.
Gua menghela nafas, mengerjapkan mata sejenak lalu menegakkan posisi duduk, tidak lagi bersandar ke sofa. Sejujurnya, gua menikmati pijatannya itu. Hanya sebuah pijatan biasa di bahu ini, gua menikmatinya karena memang cukup pegal rasanya akibat terlalu banyak duduk dan kurang bergerak selama perjalanan dari luar negeri, bahkan kembali duduk lagi dan lagi ketika di dalam mobil dan makan di restoran. Tapi akal sehat gua alhamdulillah masih bekerja dengan baik. Gua terlihat berlebihan atau mungkin kege'eran berpikir seperti sekarang ini, namun pengalaman mengajarkan gua, bahwa situasi berduaan dengan wanita lain seperti sekarang cukup bisa membuat gua masuk kedalam kesalahpahaman lagi dan menjadi awkward momen.
"Kenapa ?", tanyanya yang kembali mencoba memijat bahu gua.
"Enggak apa-apa...", jawab gua.
Dia berjalan kedepan sofa dan duduk tepat disamping gua. "Mau dipijitin sambil duduk ?", ucapnya menawarkan.
Gua menggelengkan kepala lalu tersenyum. "Gak enak aja, kita berduaan di rumah ini dengan status sama-sama udah jadi pasangan hidup orang lain, takut jadi fitnah...", jawab gua lalu berdiri dan berjalan beberapa langkah menuju pintu depan. "Maaf, duduk di teras depan aja yu...", ajak gua.
Kami berdua duduk di bangku teras, dengan meja kecil yang berada diantara dua bangku ini. Gua langsung membuka obrolan perihal pekerjaannya yang baru saja gua dengar saat sebelum berangkat bersama Nyonya ke luar negeri. Saat itu dia menceritakan kalo dirinya baru saja keluar dari pekerjaannya yang lama karena ada lowongan kerja disebuah perusahaan bidang periklanan yang cukup ternama. Setelah gua mendengar ceritanya dan gua menyimpulkan bahwa pekerjaan barunya itu nampaknya sangat membuat dia senang, tidak seperti pekerjaan yang sebelumnya, mungkin bukan minatnya saat dulu bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi.
"Kamu sendiri gimana soal kerjaan ? Katanya pindah ke dapur sekarang...", tanyanya setelah dia selesai bercerita soal pekerjaan barunya itu.
"Iya, udah gak dibalik meja lagi sekarang, beda meja... Meja kitchen sekarang ma, hahaha...", jawab gua santai.
"Passion kamu mungkin emang disitu Mas, lebih suka praktek daripada mikirin teori dan ngurusin administrasi...", timpalnya.
"Iya, lagian ilmu perkuliahan aku kemaren juga bukan di bidang administrasi atau ekonomi.. Pusinglah, hehehe...".
"Oh ya Mas.. Gimana soal manajer baru di Jakarta itu ? Beneran jadi Eva gantiin kamu ?", tanyanya lagi.
Ah gua cukup terkejut, seolah-olah diingatkan olehnya akan sosok wanita yang memiliki kepribadian absurd tersebut.
"Ah iya, aku juga mau nanyain ke kamu soal dia, lupa aku... Untung kamu nanya...", ucap gua.
"Ada apa emangnya ?".
"Kayaknya apa yang kamu ceritakan waktu itu bener...", jawab gua sambil merogoh saku celana dan mengeluarkan sebungkus rokok semboro light.
"Soal Eva ?", tanyaya yang kali ini sedikit membuatnya tertarik.
Gua membakar sebatang rokok sebelum menjawab pertanyaannya itu, kemudian menghisapnya dalam-dalam lalu gua hembuskan keatas.
"Ya.. Soal Eva, apa yang kamu ceritakan dulu kayaknya bener... Aku sendiri yang ngerasain", jawab gua.
"Nah menurut kamu gimana ? Aku enggak bohong kan kalo dia itu aneh..", lanjutnya.
Gua mengangguk, mengiyakan ucapannya.
"Kayaknya Eva punya kepribadian ganda... Kayaknya.. Ya kayaknya begitu..", ucap gua pelan sambil memandangi rerumputan di depan sana, di halaman depan yang mulai memanjang.
"Suami ku juga berkata jujur berarti waktu itu".
"Iya.. Suami kamu bener.. Eva itu aneh dan sepertinya dia beneran punya kepribadian ganda..".
Gua mengamini dan tidak lagi menyangkalnya seperti dulu. Kali ini apa yang pernah gua dengar dari dirinya dan suaminya itu benar, karena apa yang gua alami bersama Eva adalah bukti yang sahih.
"Memangnya kamu liat Eva gimana ?".
"Bukan liat, tapi ngalamin sendiri... Dia nampar aku, tapi setelah itu ngecup bibir aku juga, Mba...".
"WHAT ?!!", teriaknya yang terkejut mendengar ucapan gua itu. "Yang bener kamu ?!!!", tanyanya dengan nada yang sedikit emosi.
Gua mengangguk. "Beneran.. Di pantry...", jawab gua pelan.
"Terus terus... Kamu bales ciumannya ? Iya ?!!", loch loch kok jadi emosi dia.
"Loch kok kamu nanyanya gitu ? Jadi aku yang disalahin gini ?", tanya gua balik dengan nada suara yang tersirat bahwa gua tidak suka dengan pertanyaan dan terkaan ngawurnya itu.
"Ya gak mungkin kalo kamu gak bales ciumannya! Eva cantik gitu! Hiiih!", makin terlihat amarahnya deh.
"Sebentar sebentar... Ini yang pe'a siapa sih sebenarnya.. Eva atau kita ? Aneh deh kamu...".
"Oooh sekarang kamu bilang aku pe'a, iya ? Iya ?! Belain Eva karena udah dicium, hah!", dia berdiri lalu mencubit lengan kiri gua dengan kekuatan penuh.
"WAAADDDAAAAAAAAWWWWW....!! SAKIIIITT!!", Amit-amit sakitnya kalo di cubit doi tuh

"Bodo amat! Ngeselin kamu!", sungutnya sambil melepas cubitan. "Aku bilangin istri kamu! Pasti kamu gak ceritakan ?!!", lanjutnya mengancam gua dengan tatapan membunuh.
"Wooo wooo.. Malesin.. Sembarangan nih orang atu...", ucap gua sambil mengelus-ngelus lengan ini. "Denger ya, aku cuma dikecup bukan ciuman.. Beda...", lanjut gua meluruskan kejadian yang sebenarnya.
"Alah ngeles aja kamu dasar laki-laki tukang dusta!", timpalnya sambil memutar kedua bola mata keatas dengan ekspresi yang tengil. Asli tengil nih cewek. Untung aja kamu cantik huh!

"Kamu tuh dari dulu gak mau denger penjelasan aku kalo tau cerita gak beres kayak gini... Males aku cerita-cerita lagi kalo gitu...", jawab gua sambil berdiri dan hendak masuk kedalam rumah.
"Hey! hey! heey! Maen kabur aja...", dia mengikuti gua berjalan masuk kedalam rumah lagi. "Berarti bener dong prasangka aku, kalo kamu ada apa-apa sama Eva nih! Hayo ngaku ?!", cerocosnya sambil mencoba menahan tangan gua. "Ayo ngaku!".
"Sembarangaaaan hadeuh... Cape aku cerita ama kamu, belom kelar da maen judge aja! Kamu yang ngeselin nih...", balas gua mulai kesal. "Lagian kenapa jadi kita yang ribut sih ? Kayak suami istri aja elaah... Cape deh..", ledek gua sambil memasang wajah tengil (gantian).
Wajahnya cemberut kali ini tapi gua tau dia melunak, tidak emosi seperti sebelumnya. "Huuu.. Abisnya ngeselin kamu, malah mau-maunya dicium ama dia heuh!"
"Siapa yang mau dicium dia ? Dianya aja maen nyosor bibir seksi aku... Kecup inget kecup! Gak ampe dua detik".
"Seksi seksi matamuuu!!!", sungutnya seraya menoyor kening gua. Gak sopan emang nih si seksi ama mantannya yang tampan ini. Hadeuh

"Terus udah nih ? Ngobrolnya berdiri aja gini kayak satpam bank...", lanjutnya kesal.
"Huahahahaha... Dasar kamu tuh Mbaa.. Hahaha... Iya lagian yang nahan aku kan kamu, gak jelas aja jadinya nih.. Hayu hayu duduk lagi, anggap rumah sendiri aja Mba.. Malu-maluin juga enggak papa kok...", balas gua sambil tertawa.
"Abisnya ngeselin.. Hahaha..hahaha...", ya akhirnya kami berdua malah tertawa. Begitulah hubungan gua dan dirinya, yang memang dekat dari dulu. Bahkan sang Nyonya pun tau.
Karena kami sudah menganggap hubungan ini seperti keluarga. Dia adalah seorang kakak bagi istri gua, begitupun dirinya yang menganggap istri gua seperti adiknya sendiri.
Kami berdua duduk kembali di sofa ruang tamu, tetap tidak bersebelahan, walaupun istri gua mengetahui kedekatan kami, begitupun dengan suaminya, namun gua dan dirinya tau batasan, apalagi ini rumah lagi sepi. Gua duduk seperti sebelumnya, di depan dia.
Wanita itu kembali mendengarkan cerita gua tentang Eva, tepatnya kejadian saat gua dan Eva adu argumen hingga dia menampar pipi gua dan setelah itu malah mengecup bibir ini. Setelah mendengar semua cerita gua yang sebenarnya, barulah si pemilik jam tangan berwarna hijau tosca tersebut mengerti dan paham.
"Terus kamu beneran mau minta Ibu mu ngeluarin Eva ? Dengan alasan kejadian itu ?", tanyanya.
"Ya enggaklah, gila aja aku ampe cerita ke Ibu kalo Eva ngecup bibir ini... Ya aku cari alasan lain lah.. Apa kek.. Terlalu emosian dan nyusahin pekerjaan orang laen kek.. Atau apa kek, gampang itu...", jawab gua.
"Hmmm.. Ya terserah sih yang penting sekarang kamu harus hati-hati Mas sama dia, inget istri mu ya.. Apalagi sekarang kamu dan istri mu terpisah selama tiga bulankan... Banyak-banyak istigfar, Mas...", lanjutnya mengingatkan gua.
"Istigfar sih istigfar... Tapi yaaa.. Kalo disuguhin yang seksi juga godaannya beratlaaah...", jawab gua dengan nada menggoda dan tidak lupa mata nakal ini melirik kearah bukit merapinya.
"Matamu minta dicolok Mas ? Hm ? Liatin apa kamu ?!", dia merubah posisi duduk sambil menutupi bagian depan tubuhnya itu dengan jaket yang ia kenakan lalu mengaitkan setiap kancingnya.
"Huehehehehe... Ampun ampun... Maaf maaf bercanda...", jawab gua tertawa mesum.
Ah begitulah candaan gua dengannya, yang memang kurang ajar kadang-kadang, tapi dia juga tau sifat gua. Tetap tidak mungkin gua berani kurang ajar secara fisik kepadanya.
"Mas..".
"Hm ?".
"Aku mau cerita soal suami ku sama kamu... Waktu itu gak jadikan karena kamu dan istrimu berangkat...", ucapnya kali ini serius.
Ah iya, saat diperjalanan ke bandara Soetta seminggu yang lalu, dia memang bercerita sedikit soal suaminya kepada gua dan istri di dalam mobil. Tapi sayangnya tidak sampai selesai karena kami lebih dulu sampai di bandara dan langsung masuk ke terminal keberangkatan internasional waktu itu.
"Ooh iya, yang kamu cerita waktu nganter aku dan Nyonya ke bandara kan ? Iya kenapa itu sih ? Ada apa sebenarnya Mba ?", tanya gua setelah mengingat-ingat.
Sherlin Putri Levanya, wanita yang selama ini dekat dengan gua dan keluarga gua kini tertunduk, wajahnya terlihat menyiratkan kesedihan, berubah seketika saat tadi kami masih bercanda dan tertawa. Ya ampun Mba, ada apa lagi sama kehidupan rumah tangga kamu...
Diubah oleh glitch.7 18-07-2017 20:23
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
3

