Kaskus

Story

glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN




Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.


Tak Lagi Sama - Noah


Spoiler for Cover Stories:


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.


Quote:


Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

Masa yang Paling Indah
Credit thanks to Agan njum26

Love in Elegy
Credit thanks to Agan redmoon97


Sonne Mond und Stern
*mulustrasi karakter dalam cerita ini


Quote:

*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
pulaukapokAvatar border
chamelemonAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
#1292
PART 12


Di penghujung tahun yang sudah musim hujan membuat gua sedikit flu, baru satu hari gua berada di negara ini bersama istri tercinta, tapi pilek dan bersin sudah melanda, gak enak rasanya hidung tersumbat karena cairan di dalamnya sampai membuat kepala ini sedikit berat dan pusing. Alhasil hari pertama gua hanya berbaring di kasur dalam apartemen yang baru disewa ini.

Istri gua sedang memasak air panas untuk dituangkan ke baskom kecil di dapur. Gua berbaring diatas kasur sambil menonton acara televisi dengan selimut yang menutupi sebagian tubuh. Hujan diluar sana masih cukup jelas terdengar hingga kedalam kamar apartemen.

"Duduk dulu sayang, nih air panasnya udah mateng... Pake dulu anduknya ke kepala, nanti kamu nunduk sambil pegang baskomnya ya", ucap istri Gua yang sudah berdiri disamping kasur.

Gua pun bangun dan duduk di sisi kasur dengan kaki yang menyentuh lantai, kemudian istri gua menutup kepala ini dengan handuk kecil, sebagian handuk menutupi sisi wajah kanan-kiri, lalu baskom yang sudah berisi air panas itu gua pegang diatas paha, uap yang keluar dari air panas tersebutlah yang menjadi pokok utama penyembuhan alakadarnya ini. Agar hidung gua tidak tersumbat lagi, gua menunudukkan kepala agar jarak antara baskom dan wajah gua cukup dekat, mungkin sekitar sepuluh menit kurang akhirnya hidung gua merasakan udara segar lagi, menghirup udara tersebut dengan lancar tanpa terasa tersumbat.

"Gimana, Mas ? Udah enakan ?", tanya istri gua yang sedari tadi duduk disamping gua dengan segelas teh manis hangat yang ia pegang.

Gua mengangguk sambil menghirup udara, rasanya enak sekali bisa bernafas lega.

"Nih minum dulu tehnya...", istri gua memberikan segelas teh yang ia genggam.

Gua meminum sedikit lalu kembali memberikan gelasnya kepada sang Nyonya. Lalu gua berdiri dan berjalan pelan menuju balkon apartemen.

"Mau kemana Mas ? Masih hujan diluar, pakai sweaternya ya..", istri gua mengikuti dari belakang dengan sebuah sweater rajut yang ia bawakan untuk gua.

Gua memasukan kedua tangan kedalam saku celana training berwarna abu, pusing dikepala masih terasa walaupun tidak seberat seperti sebelumnya, mata gua sayu menatap keluar dari jendela kamar lantai delapan, melihat hujan yang masih turun dengan derasnya.

"Mas, pake dulu sweaternya...", sang Nyonya kini berdiri disamping gua sambil menatap gua dengan ekspresi kasihan. Kasihan kepada suaminya yang sedang sakit ini.

"Sayang...".

"Ya ?".

"Kamu gak apa-apa beneran nanti disini sendirian ?", tanya gua dengan suara yang mindeng karena masih flu.

"Enggak apa-apa kok sayang, aku beneran gak akan kenapa-kenapa, Mas.. Insya Allah, Allah SWT pasti bersama hambaNya yang selalu ingat kepadaNya juga.. We believe in God right ?", ucapnya seraya mengelus lembut bahu kiri gua.

Gua tersenyum tipis tanpa melirik kepadanya, mata ini belum ingin menatap hal lain selain butiran air yang nampak seperti garis-garis putih yang turun dengan cepatnya.

"Aamiin... Everythings gonna be alright..", ucap gua.

"Ya, semuanya akan baik-baik aja kok...", jawabnya meyakinkan gua yang diiringi sebuah pelukan dari samping tubuh gua.

Gua mendekap tangannya yang melingkar ke pinggang dan perut gua, lalu menyandarkan kepala keatas kepalanya itu.

"Aku khawat...".

"Sssttt...", potongnya. "Insya Allah gak akan ada apa-apa sama aku, Mas.. Aku juga udah cukup lama di negara inikan dulu ? Toh Papah dan Mamah bakal sering nengokin aku, kamu juga kan ? So don't worry honey... Don't be afraid...", lanjutnya.

"Beda sayang, dulu kamu gak sendirian di negara ini...".

"Emang sekarang aku sendirian ?", ucapnya dengan nada menggoda.

"Loch iya toh, aku pulang kamu sendirian di apartemen ini, mereka jauh dari sini...", jawab gua.

"Udah ya udah... Kamu khawatir berlebihan aja sama aku sayang... Udah gak perlu cemas soal apapun, setiap saat aku pasti ngabarin kamu, minimal bbm dan sms...", kembali dia mencoba meyakinkan gua.

Gua khawatir dan takut, ya itulah saat ini yang gua rasakan. Berlebihankah ? Tidak sama sekali, dia istri gua, dia Nyonya Agathadera yang sudah sah, menjadi pendamping hidup gua setelah Nyonya sebelumnya, almh. Echa. Ketakutan dan rasa khawatir gua ini sangat beralasan. Gua sedang tidak main-main perkara rasa takut dalam diri ini.

"Sayang, aku tinggal disini aja lah selama kamu training ya...", ucap gua yang kini sudah menghadapkan tubuh kearahnya.

"Mas... Aku disini gak sebentar jugakan, tiga bulan loch, kerjaan kamu gimana ? Gak mungkin kamu cuti selama itu, gak enak sama Ibu, ya walaupun kamu pemiliknya...", jawabnya.

Gua menghela nafas dengan kasar lalu memegang kedua bahunya, menatap wajahnya yang meneduhkan itu.

"Aku takut...", ucap gua pelan.

"Aku enggak kemana-mana sayang... Aku jaga diri disini. I promise...".

"Tapi...", gua ragu.

"Gini aja Mas... Kalo nanti kamu beneran udah gak bisa sabar nahan rasa takut dan khawatir kamu itu, kamu langsung kesini, tinggal disini sampai aku selesai training, okey ? But not now, you must back to work for your career", sarannya kepada gua dengan senyuman yang manis sekali.

Gua memutar bola mata sambil berfikir sejenak, lalu kembali menatapnya, kemudian gua menempelkan kening ini ke keningnya.

"I've been looking after you, and what I got ? Nothing... I don't wanna walking to the same road again, never and ever, so I'll be here, beside you, beside what i want to protect forever...", ucap gua lirih dengan mata yang terpenjam dan melingkarkan kedua tangan ke pinggangnya.

"We walk this road together honey... No matter what happens, we will through the storm and the night... And no nightmare anymore, no more...", jawabnya lalu memeluk gua dengan perasaan yakinnya itu.

Wanita ini adalah segalanya bagi gua, tentu saja setelah apa yang dulu kami lalui. Setelah gua kehilangan dua orang yang gua cintai juga, Echa dan Jingga. Jadi apa yang gua takutkan adalah rasa takut akan kehilangan lagi, apalagi nanti kami harus terpisah ratusan mil. Oh so fakin damn moment for this... But i don't want too selfish. Gua juga harus memahami dan mengerti keinginannya yang ingin mendapatkan apa yang ia cita-citakan selama ini.

Dan...Bukankah pasangan hidup itu harus bisa saling mengerti, memahami, dan menerima kekurangan masing-masing ?

Dia sudah menerima segala kekurangan gua, apalagi sebelum gua menikahinya. Wah itu adalah salah satu kampret moment bagi gua, habis sudah gua diceramahi macam-macam, dia tidak menghakimi... Tapi mengingatkan. Ah I'm yours pokoknya Nyonya... emoticon-Malu

...

Dua hari kemudian gua sudah sehat, alhamdulillah. Dan untuk acara hari ini gua benar-benar segar bugar. Salah satu momen bersejarah lainnya selain sebuah pernikahan, ya acara wisuda sang Nyonya.

Gua sudah rapih dengan pakaian jas berwarna hitam, kemeja berwarna putih, dasi dan tentu saja celana bahan dan pantofel hitam. Istri gua sudah mengenakan pakaian wisudanya, toga. Kedua orangtuanya yang tidak lain adalah mertua gua pun hadir. Di sebuah gedung megah acara wisudanya diselenggarakan, tidak begitu banyak wisudawan dan wisudawati yang mengikuti acara kelulusan program studi bidang.... Ah nanti ajalah bidang dan jurusannya ya... Hehehe. Mungkin hanya sekitar dua tarus hingga dua ratus lima puluh orang yang di wisuda hari ini.

Singkat saja, selesai di wisuda, seperti hal pada umumnya, apalagi selain acara foto bersama. Gua memberikan sebucket bunga Lily kepadanya sambil mengecup keningnya, mengucapkan selamat atas apa yang sudah ia selesaikan atas prestasi pendidikannya, dan menjadi salah satu mahasiswi yang paling cepat menyelesaikan kuliah di kampus yang cukup ternama di negara luar.

Selesai acara, kami sekeluarga pergi ke sebuah restoran untuk merayakan kelulusannya. Gua duduk di samping sang Nyonya, sedangkan kedua mertua duduk dihadapan kami.

"Hari ini jadi pulang, Za ?", tanya Mamah mertua gua disela-sela makan sore ini.

"Gak jadi Mah, kayaknya mau tinggal disini selama satu minggu dulu... Aku udah telpon Ibu untuk izin kerja selama disini...", jawab gua setelah menyendok sayuran yang berada ditengah meja dan menaruhnya keatas piring makan gua.

"Baguslah kalo gitu, lebih baik disini sementara temani istrimu... Kasian dia sendirian, mau diminta tinggal sama Papah dan Mamah kejauhan jaraknya ke tempat praktek studinya itu...", ucap Mamah mertua lagi.

"Tapi aku bisa kok sendiri, gak masalah... Jangan berlebihan khawatir sama aku, percaya Allah SWT selalu melindungi kita semua...", ucap istri gua kali ini.

Kami bertiga terdiam mendengar ucapannya itu. Ya kami tidak ingin berdebat soal rasa khawatir kami kepadanya lagi.

"Aamiin, ya Papah yakin Allah SWT selalu melindungi hambaNya, selama kita sebagai hambaNya selalu mengingat dan beribadah kepadaNya...", jawab Papahnya setelah terdiam beberapa saat.

...

Dua hari setelah acara kelulusan dari kampusnya itu, gua mengantarnya ke​ sebuah gedung yang berlantai empat, tidak begitu jauh dari apartemen, berjalan selama kurang dari sepuluh menit rasanya juga terjangkau. Tapi alhamdulillah sang Papah meminjamkannya mobil selama dia praktek dan mendalami bidang khususnya itu untuk tiga bulan kedepan. Hari pertama ini gua meninggalkannya yang sudah langsung mulai praktek di tempat tersebut, gua kembali ke apartemen dan akan menjemputnya sore nanti.

Selama satu minggu ini, kegiatan gua mengantar jemput istri dari apartemen ke tempat praktek kerjanya (sebut saja seperti itu). Gua mulai menghapal jalan mana saja yang memungkinkan untuk menjadi alternatif pulang pergi jika nanti dia sudah sendirian di sini, kemudian tidak lupa juga mencari market market disekitar sini yang menjual berbagai macam makanan halal, alhamdulillah ada market yang menjual bahan makanan mentah atau matang yang halal walaupun hanya satu market saja.

Tidak terasa satu minggu berlalu dengan cepat, sampai juga akhirnya dimana gua dan istri harus berpisah untuk sementara waktu. Pagi itu gua diantarkan olehnya ke bandara internasional untuk kembali pulang ke Indonesia.

"Mas, langsung kabarin kalo udah sampai disana ya, hati-hati... Jadikan dijemput dia ?", tanya istri gua sebelum gua melakukan check-in.

"Iya nanti begitu sampai aku ngabarin kamu sayang.. Jadi kok, dia tadi bbm katanya jadi jemput aku...", jawab gua.

Istri tercinta gua itu tersenyum manis, jujur saat itu gua berat untuk berpisah dengannya. Ah kenapa juga harus terpisah setelah menikah sekian lama...

"Sayang... Hati-hati disini ya, jaga diri kamu baik-baik, selalu waspada ya...", gua tau mulut ini selalu mengatakan hal yang sama sedari malam tadi sampai sekarang. Mungkin juga dia bosan, mungkin...

"Iya sayang, aku selalu ingat pesan kamu...", jawabnya dengan tetap tersenyum. Sabar banget kamu sayang menghadapi aku yang berubah jadi cerewet seperti ini.

Gua berubah menjadi overprotective, bahkan gua membelikan dia beberapa benda untuk membela diri, entah itu pepper spray sampai ke alat kejut listrik yang voltasenya cukup tinggi. Apapun itu demi kebaikan dirinya. Sayang sekali dirinya menolak mentah-mentah tawaran gua yang ingin membekalinya dengan sebuah revolver Smith & Wesson yang masih tersimpan rapih di dalam kamar, di rumah Nenek, bahkan gua malah dicubitnya karena baru mengetahui gua menyimpan benda berbahaya tersebut. emoticon-Peace

"Nomor telpon polisi setempat udah di save di kontak handphone kamukan ?".

"Iya udah, Mas.. Kamu jangan terlalu khawatir sama aku, gak baik untuk kamu juga, nanti yang ada kerja kamu gak fokus, bahaya loch di kitchen...", jawabnya sambil mengelus pipi kanan gua.

"Jangan ragu kalo ada orang asing yang mencurigakan langsung semprot aja pake tuh Pepper spray ya...", lanjut gua.

"Iya sayang iya... Hehehe.. Kamu tuh ih..", tawanya pelan sambil mencubit hidung gua.

"Yaudah ya, aku berangkat dulu, udah waktunya nih.. Sekali lagi, jaga diri baik-baik disini ya...", ucap gua lalu mencium keningnya.

"Iya, kamu juga hati-hati disana ya, i love you, Mas...", ucapnya sambil menarik wajah gua.

Cupp...dia mengecup bibir ini.

Gua tersenyum lalu memeluknya. "I love you more sayang...".

Gua pun akhirnya berjalan meninggalkannya yang masih berdiri menatap suaminya ini. Gua mulai memasuki bagian lain bandara ini lalu berbalik menatapnya lagi sejenak. Dia.. Nyonya Agathadera masih disana, berdiri sambil melambaikan tangannya kepada gua, tersenyum dengan menutupi rasa sedihnya. Gua membalas senyumnya dan mulai kembali berjalan meninggalkannya dibelakang sana dengan airmata yang mulai membasahi pipi ini. Fak! Gua tidak akan berlama-lama di Indonesia...

Aku akan kembali secepatnya untuk menjaga kamu sayang. Ya untuk kamu istri ku...

Karena...

Aku gak akan biarkan seorang pun menyakiti kamu... Kepala merekalah taruhannya... Ya taruhannya... I swear to God...


***



Beberapa saat kemudian... Cukup lama... Gua sudah berada di bandara Soetta ketika matahari sedang terik-teriknya.

Gua berjalan keluar dari terminal kedatangan internasional sambil menarik koper beroda ditangan kiri, tangan kanan ini sedang asyik menggenggam blackberry yang gua tempelkan ke telinga bagian kanan, mengabari sang Nyonya bahwa suami tercintanya sudah sampai dengan selamat.

"Iya... Jangan lupa makan juga ya... Eh nih dia udah ada ternyata, aku langsung pulang ke rumah ya... Oke iya... Walaikumsalam....",gua mengakhiri panggilan dan memasukan blackberry tersebut kedalam saku celana denim sambil tetap berjalan kearah depan.

Seorang wanita dengan pakaian santainya, ya menurut dia seperti itu dari dulu. Jaket denim dan celana denim berwarna biru langit, kaos putih yang aaawww.. Cukup ketat. Rambutnya tergerai sebahu lebih sedikit, ah ternyata sudah dicat berwarna pirang, cocok dengan kulitnya yang putih. Ada yang berbeda ternyata. Dia dandan, bersolek, memakai makeup... Wow are you kidding me ? Cantik... Kamu memang cantik dari dulu tapi saat ini kok berbeda, lebih cantik dimata ku.

Dia melambaikan tangan kearah gua sambil tersenyum girang.

"Hai... Udah lama disini ?", tanya gua ketika sudah dekat.

"Belum kok... Sini aku bawain kopernya...", jawabnya.

"Gak usah... Biar aku aja gak apa-apa, cukup berat soalnya hehehe...", ucap gua sambil tertawa pelan. "Oh ya, istriku titip salam untuk kamu dan bilang terimakasih udah mau repot-repot jemput suaminya ini loch... Hahaha...", lanjut gua menyampaikan salam untuknya.

"Walaikumsalam, makasih juga... Ah apaan sih ngerepotin, kayak ke siapa aja kalian tuh...", jawabnya santai.

Dia tersenyum lalu mengajak gua untuk pergi meninggalkan bandara ini. Kami berjalan berdampingan menuju parkiran bandara. Sesampainya di mobil miliknya, gua menawarkan diri untuk mengemudi. Setelah diberikan kunci mobil, gua memasukan dulu koper ke bagasi belakang, kemudian masuk kedalam bangku kemudi.

Seatbelt sudah terpasang dengan aman, begitupun dengan wanita cantik yang duduk di samping gua.

"Pulang ?", tanya gua yang baru memasukan persneling ke gigi satu namun masih menekan rem dan kopling.

"Mmm... Mau makan dulu gak ?", tanyanya.

"Boleh.. Kamu mau makan apa ?".

"Ajakin aku ke restoran favorit dia...", jawabnya.

"Favorit ?", tanya gua bingung.

"Iya...", dia tersenyum dan mengangguk. "Aku mau nyobain tempura, Mas...".


Do you remember...?
When we were dancing in the rain in that december
I remember...
All the things that we shared, and the promise we made
Just you and i

I Remember - Mocca
Diubah oleh glitch.7 07-01-2020 11:02
dany.agus
fatqurr
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.