- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
jenggalasunyi dan 127 lainnya memberi reputasi
124
1.9M
8.8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#1185
PART 11
Eva tersenyum lebar, atau mungkin menyeringai ? Ya entahlah, yang jelas wajahnya menunjukkan sebuah rasa puas. Gua mundur dua langkah setelah melepaska kedua tangannya dari tengkuk ini. Kemudian berjalan keluar pantry menuju kichen lagi sambil menggelengkan kepala.
'Dia gila... Dia gila... Dia gila.. Ya dia gila'ucap gua dalam hati.
Suasana di dapur ternyata sudah tidak sesibuk sebelumnya, gua melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Gua mengecek setiap orderan yang masuk, kemudian mendekati dua orang crew kitchen yang memang sedang lembur.
"Kalian berdua mau lembur sampai jam berapa ?", tanya gua.
"Sampai closing Mas"... "Iya, saya juga lembur sampai closing...", jawab keduanya.
"Okey, kalo gitu saya tinggal duluan ya, nanti waktu lemburnya jangan lupa diisi..".
"Siap Mas...".
Gua berjalan menuju ruang kerja Pak Toni lagi, kemudian izin pamit untuk pulang duluan. Setelah dari ruangan Pak Toni gua pamit kepada crew lainnya yang berjumlah enam orang di dapur ini, lalu berjalan keluar dapur menuju locker room untuk berganti pakaian. Selesai berganti pakaian, gua menyelempangkan tas dan berjalan keluar restoran.
"Pulang Mas...", sapa seorang satpam dengan ramah yang berdiri di dekat parkiran.
"Oh iya Pak, cape rasanya hahaha.. Mari Pak saya duluan", jawab gua.
"Mari, hati-hati di jalan Mas".
"Yaa makasih Pak...".
Gua berhenti empat meter dari mobil milik almh. Istri gua, menatap kepada seorang wanita yang berdiri tepat di depan mobil, dia sedang bersandar pada kap bagian depan sambil melipat kedua tangannya dan tersenyum tipis menatap gua.
"Ngapain kamu depan mobil aku ?", tanya gua dingin.
"Mobilku masuk bengkel, dibawa sama sopir, jadi aku mau numpang pulang bareng kamu ya, Za...", jawabnya sambil melangkah maju dan tetap tersenyum.
"Pesen taxi aja sana...", jawab gua sambil berjalan kearah pintu kemudi.
"Tega kamu biarin seorang wanita pulang sendirian malam gini ?", tanyanya lagi setelah gua melintasinya.
"Terserah...", gua menekan auto-lock lalu membuka pintu kemudi. "Heh.. Aku gak mau pulang bareng kamu, Va...", ucap gua lagi setelah melihatnya ikut membuka pintu samping kemudi.
Wanita itu memiringkan wajahnya sedikit lalu menyimpan helaian rambut bagian kanannya kebelakang telinga. "Just for tonight, Za..", ucapnya kali ini seraya mengerlingkan satu mata dan melempar senyum manisnya.
Eva Andarista... Seorang wanita yang umurnya terpaut tiga tahun diatas gua itu adalah seorang manajer baru di restoran cabang Jakarta ini. Usianya sama dengan Luna dan Mba Yu, hanya berbeda bulan lahir yang membuat Eva menjadi kakak tiri Luna. Pernikahan Papahnya Luna dengan Mamahnya Eva berlangsung setelah pernikahan Luna dengan Erick. Mamahnya Eva asli orang jawa barat, sedangkan Papah kandungnya berasal dari Manado.
Eva baru bekerja satu bulan di restoran cabang Jakarta, menggantikan posisi gua yang pindah ke kitchen. Setelah kesulitan mencari sosok pengganti gua, akhirnya Ibu gua, Mba Laras meminta tolong kepada Papahnya Luna, dan seperti yang kalian ketahui, Papahnya langsung merekomendasikan anak tirinya itu untuk menjabat sebagai seorang manajer. Latar belakang pendidikannya memang menunjang, dia pernah menjabat sebagai seorang head of marketing di sebuah perusahaan leasing diusianya yang baru menginjak dua puluh lima tahun.
Mobil gua arahkan ke komplek perumahan kami setelah keluar dari pintu tol. Eva dan Mamahnya memang tinggal di rumah Papahnya Luna, karena memang Beliau sekarang tinggal sendirian semenjak Luna dan Erick memilih tinggal di Australia. Sekitar pukul setengah sepuluh malam kami sampai di depan rumahnya.
"Thanks Za..", ucapnya ramah sambil melepaskan seatbelt dan melirik kepada gua.
"Hm", jawab gua mengabaikannya dan memalingkan wajah ke sisi lain.
"Reza.. Eva minta maaf kalo tadi udah kasar sama Reza..", nada suaranya berubah seperti anak kecil.
Gua menengok kepadanya dengan perasaan, ehm sedikit jijik. "Apaan sih Lu, Va ?".
"Za.. Aku minta maaf udah nampar kamu, coba aku liat... Sakit ya ?", nada suaranya kembali normal, bahkan terdengar khawatir, terlihat dari perubahan raut mukanya.
Tangan kanannya mencoba menyentuh pipi kiri gua yang sebelumnya sudah diobati oleh Giovanna.
Kemudian gua memundurkan wajah sebelum tangannya sampai menyentuh pipi, dan memegang pergelangan tangannya itu.
"Va, udah gak usah sok peduli, gua gak butuh perhatian lu...", jawab gua yang masih menahan tangannya itu.
"Aku minta maaf, maaf... Maafin aku". Entah kenapa bisa-bisanya Eva sampai berubah seperti ini, kedua matanya berkilau karena air yang mulai menggenang disudut matanya itu.
"Lu kenapa sih ? Gak usah aneh-aneh deh Va...", gua melepaskan genggaman pada pergelangan tangan.
"Sakit ya Za ? Maafin aku...", ucapnya lirih dengan kedua jari yang membelai hansaplast pada pipi kiri gua.
Gua bingung dan heran dengan perubahan sikapnya yang seperti ini. Apa maksudnya dia sok baik dan khawatir setelah sebelumnya memaki gua. Eva masih menatap kearah pipi kiri gua ketika blackberry gua bergetar di saku celana, gua merogoh blackberry tersebut dan mengambilnya, ternyata ada sebuah panggilan masuk. Gua menghalau tangannya ketika mulai menekan tombol answer.
"Istri kamu ?", tanya Eva yang masih duduk dikursi samping gua dengan posisi yang masih dekat kearah gua.
Gua melirik kepadanya sambil mengangguk. "Iya, gua harus pulang sekarang, udah masuk sana gih...", lanjut gua sambil menaruh blackberry di dashboard mobil.
Cupp.. Dia mencium pipi kiri gua sebentar.
"Makasih Za, thanks for today, see you soon...", ucapnya sambil membuka pintu disampingnya.
Gua menggelengkan kepala pelan, sambil melihatnya yang berjalan kearah gerbang rumahnya itu. 'Apa yang sedang kamu rencanain Va...' ucap gua dalam hati.
...
Pukul sepuluh malam gua sudah berada di rumah setelah membelikan pesanan istri gua sebelumnya. Gua memberikan bungkusan martabak manis itu kepadanya lalu berjalan kearah tangga lantai dua menuju kamar.
"Mas.. Hey tunggu, pipi kamu kenapa ?", tanya istri gua yang berdiri di dekat tangga.
Gua menghentikan langkah kaki yang sedang menaiki tangga ini, lalu berbalik dan menatapnya dari atas. "Aku abis berantem sama orang tadi, gak sengaja dan udah gak apa-apa kok sayang...", jawab gua berbohong.
"Berantem ? Sama siapa Mas ? Kok bisa ?", tanyanya heran.
"Ehm.. Tadi ada motor main potong jalan aku, gak pake lampu sein, ya aku langsung klaksonin, eh dia malah nyuruh berhenti di pinggir jalan... Yaudah jadinya adu mulut sampe berantem, untung dipisahin orang-orang yang lagi jalan di trotoar...", jelas gua.
"Kok aneh sih ? Sampe berantem segala ?" cecarnya yang tetap tidak percaya.
"Ternyata orang mabok tuh yang bawa motornya...", lanjut gua lagi.
"Lagian bisa-bisanya kamu kena pukul sampe di plester gitu ? Biasanya juga kalo berantem gak kena pukul...".
"Hahahaha... Sok tau kamu ah, emang aku jagoan apa ? Hehehe... Udah ah aku mau mandi dulu ya, nanti udah mandi kita duduk di halaman belakang", jawab gua sambil tertawa lalu kembali menaiki tangga.
Gua langsung membuka pakaian dan mandi di dalam kamar mandi. Beres bersih-bersih dan memakai piyama berwarna hitam seperti warna piyama sang Nyonya, gua kembali keluar kamar dan berjalan kearah gazebo halaman belakang.
Gua duduk di dalam gazebo, tidak lama kemudian istri tercinta datang dengan secangkir kopi hitam dan sepiring martabak manis yang ia bawa pada kedua tangannya, lalu menaruhnya diatas meja kayu dalam gazebo ini. Baru saja dia menaruh santapan malam itu, dengan lembut gua menarik tangan kirinya dan memangkunya, posisi duduknya miring diatas kedua paha ini.
"Apa sih, Mas ? Pasti ada maunya nih..", dia tersenyum lebar sambil mencolek hidung gua.
"Ngajinya libur dulu ya sayang..", jawab gua sambil tersenyum dan menatap matanya.
"Oh iya, kamu harus ngaji ya... Hmmm... Kenapa libur ? Besok-besok juga pasti libur lama kan... Akunya gak ada juga, huh...", ah ternyata dia baru sadar, bibirnya cemberut.
"Hehehe... Mulai malam ini libur dulu, nanti selama kamu disana, aku ngaji sendiri disini kok, kalo perlu sambil teleponan..", saran gua kepadanya.
"Janji loch, Mas.. Awas aja.. Oh ya kenapa kamu tiba-tiba gini ? Biasanya enggak deh... Hayoo ada apa ?", godanya kali ini sambil mencolek dagu gua yang sedikit kasar karena beberapa jenggot yang mulai tumbuh lagi.
"Iya janji kok... Enggak apa-apa, aku cuma pingin kangeng-kangenan sama kamu... Mesra-mesraan hehehe, udah duduk dipangkuan aku gak usah pindah pokoknya...", ucap gua lalu mengigit pelan lengannya.
"Iiih... Aneh deh kamu, Mas..", istri gua keheranan. "Ada apaan sih ? Jujur ah sama aku..", lanjutnya sambil memundurkan tubuh agar gigitan gua terlepas.
"Pingin mesra-mesraan sama kamu aja, emang gak boleh ?", tanya gua serius.
"Hahaha... Apaan siiih..", dia tertawa lalu mengusap wajah gua dengan tangan kanannya.
Gua mendongakkan kepala lalu mencium bibirnya lembut. "Kangen sama kamu sayang...", ucap gua pelan.
"Ada app.. Mmmppppp...mmmpppp...", ucapannya terpotong karena bibir ini mulai kembali melumat bibirnya.
Tangan kanan gua melingkar ke pinggangnya, lalu lambat-laun bergerak mengusap sisi pinggang langsingnya itu dari bawah keatas. Kalau sudah begini, dia pasti membalas ciuman gua.
Dan cukup lama kami berciuman sampai nafasnya terengah-engah, lalu dia memundurkan wajahnya menyudahi ciuman kami.
"Huufftt.. Hhh.. Hhh...", Nyonya menarik nafas dan menghembuskannya perlahan dengan bahu yang naik turun. "Mas... Duuh kamu tuh... Paling bisa deh ngegodain aku... Huufftt..".
"Enak kan ?", goda gua sambil tersenyum jahil.
Wajahnya merona, selalu seperti itu ketika dulu gua menciumnya. Ah kamu tuh manis banget Nyonya. I love you full...
"Mas udah dulu aaah...", ucapnya malu-malu ketika tangan gua mulai bergerilya.
"Kenapa emangnya..?", tanya gua sambil tetap mengusap sisi pinggangnya dari atas kebawah.
"Aku pingin makan martabak duluuu... Iisshh..".
Gua menyandarkan kepala ke tubuhnya, lalu tetap mengusap sisi pinggangnya. "Yaudah, makan ma makan aja sayang... Aku temenin...".
"Iih nanti gak nikmat makannya kalo kamu godain terus Mas.. Udah dilanjutin di kamar aja nanti..", jawabnya lagi kali ini sambil mengambil sepotong martabak manis di meja.
Gua tersenyum lebar tanpa merubah posisi. "Nikmatan mana makan martabak atau mesra-mesraan sama aku ?", goda gua lagi.
"Ah kamu maa... Malu tapi kaaan..", jawabnya yang tidak jadi memakan martabak ditangannya itu.
"Malu ? Malu sama suami sendiri ? Aneh kamu..".
Kemudian istri gua memundurkan tubuhnya hingga kini dia menghadap kearah gua, lalu tangannya itu memegang pipi ini dan membuat wajah gua menengok kearah luar gazebo, kearah sekitar kolam renang.
"Malu sama Echa dan Jingga...", jawabnya pelan dan tersenyum tipis.
'Dia gila... Dia gila... Dia gila.. Ya dia gila'ucap gua dalam hati.
Suasana di dapur ternyata sudah tidak sesibuk sebelumnya, gua melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Gua mengecek setiap orderan yang masuk, kemudian mendekati dua orang crew kitchen yang memang sedang lembur.
"Kalian berdua mau lembur sampai jam berapa ?", tanya gua.
"Sampai closing Mas"... "Iya, saya juga lembur sampai closing...", jawab keduanya.
"Okey, kalo gitu saya tinggal duluan ya, nanti waktu lemburnya jangan lupa diisi..".
"Siap Mas...".
Gua berjalan menuju ruang kerja Pak Toni lagi, kemudian izin pamit untuk pulang duluan. Setelah dari ruangan Pak Toni gua pamit kepada crew lainnya yang berjumlah enam orang di dapur ini, lalu berjalan keluar dapur menuju locker room untuk berganti pakaian. Selesai berganti pakaian, gua menyelempangkan tas dan berjalan keluar restoran.
"Pulang Mas...", sapa seorang satpam dengan ramah yang berdiri di dekat parkiran.
"Oh iya Pak, cape rasanya hahaha.. Mari Pak saya duluan", jawab gua.
"Mari, hati-hati di jalan Mas".
"Yaa makasih Pak...".
Gua berhenti empat meter dari mobil milik almh. Istri gua, menatap kepada seorang wanita yang berdiri tepat di depan mobil, dia sedang bersandar pada kap bagian depan sambil melipat kedua tangannya dan tersenyum tipis menatap gua.
"Ngapain kamu depan mobil aku ?", tanya gua dingin.
"Mobilku masuk bengkel, dibawa sama sopir, jadi aku mau numpang pulang bareng kamu ya, Za...", jawabnya sambil melangkah maju dan tetap tersenyum.
"Pesen taxi aja sana...", jawab gua sambil berjalan kearah pintu kemudi.
"Tega kamu biarin seorang wanita pulang sendirian malam gini ?", tanyanya lagi setelah gua melintasinya.
"Terserah...", gua menekan auto-lock lalu membuka pintu kemudi. "Heh.. Aku gak mau pulang bareng kamu, Va...", ucap gua lagi setelah melihatnya ikut membuka pintu samping kemudi.
Wanita itu memiringkan wajahnya sedikit lalu menyimpan helaian rambut bagian kanannya kebelakang telinga. "Just for tonight, Za..", ucapnya kali ini seraya mengerlingkan satu mata dan melempar senyum manisnya.
Eva Andarista... Seorang wanita yang umurnya terpaut tiga tahun diatas gua itu adalah seorang manajer baru di restoran cabang Jakarta ini. Usianya sama dengan Luna dan Mba Yu, hanya berbeda bulan lahir yang membuat Eva menjadi kakak tiri Luna. Pernikahan Papahnya Luna dengan Mamahnya Eva berlangsung setelah pernikahan Luna dengan Erick. Mamahnya Eva asli orang jawa barat, sedangkan Papah kandungnya berasal dari Manado.
Eva baru bekerja satu bulan di restoran cabang Jakarta, menggantikan posisi gua yang pindah ke kitchen. Setelah kesulitan mencari sosok pengganti gua, akhirnya Ibu gua, Mba Laras meminta tolong kepada Papahnya Luna, dan seperti yang kalian ketahui, Papahnya langsung merekomendasikan anak tirinya itu untuk menjabat sebagai seorang manajer. Latar belakang pendidikannya memang menunjang, dia pernah menjabat sebagai seorang head of marketing di sebuah perusahaan leasing diusianya yang baru menginjak dua puluh lima tahun.
Mobil gua arahkan ke komplek perumahan kami setelah keluar dari pintu tol. Eva dan Mamahnya memang tinggal di rumah Papahnya Luna, karena memang Beliau sekarang tinggal sendirian semenjak Luna dan Erick memilih tinggal di Australia. Sekitar pukul setengah sepuluh malam kami sampai di depan rumahnya.
"Thanks Za..", ucapnya ramah sambil melepaskan seatbelt dan melirik kepada gua.
"Hm", jawab gua mengabaikannya dan memalingkan wajah ke sisi lain.
"Reza.. Eva minta maaf kalo tadi udah kasar sama Reza..", nada suaranya berubah seperti anak kecil.
Gua menengok kepadanya dengan perasaan, ehm sedikit jijik. "Apaan sih Lu, Va ?".
"Za.. Aku minta maaf udah nampar kamu, coba aku liat... Sakit ya ?", nada suaranya kembali normal, bahkan terdengar khawatir, terlihat dari perubahan raut mukanya.
Tangan kanannya mencoba menyentuh pipi kiri gua yang sebelumnya sudah diobati oleh Giovanna.
Kemudian gua memundurkan wajah sebelum tangannya sampai menyentuh pipi, dan memegang pergelangan tangannya itu.
"Va, udah gak usah sok peduli, gua gak butuh perhatian lu...", jawab gua yang masih menahan tangannya itu.
"Aku minta maaf, maaf... Maafin aku". Entah kenapa bisa-bisanya Eva sampai berubah seperti ini, kedua matanya berkilau karena air yang mulai menggenang disudut matanya itu.
"Lu kenapa sih ? Gak usah aneh-aneh deh Va...", gua melepaskan genggaman pada pergelangan tangan.
"Sakit ya Za ? Maafin aku...", ucapnya lirih dengan kedua jari yang membelai hansaplast pada pipi kiri gua.
Gua bingung dan heran dengan perubahan sikapnya yang seperti ini. Apa maksudnya dia sok baik dan khawatir setelah sebelumnya memaki gua. Eva masih menatap kearah pipi kiri gua ketika blackberry gua bergetar di saku celana, gua merogoh blackberry tersebut dan mengambilnya, ternyata ada sebuah panggilan masuk. Gua menghalau tangannya ketika mulai menekan tombol answer.
Quote:
"Istri kamu ?", tanya Eva yang masih duduk dikursi samping gua dengan posisi yang masih dekat kearah gua.
Gua melirik kepadanya sambil mengangguk. "Iya, gua harus pulang sekarang, udah masuk sana gih...", lanjut gua sambil menaruh blackberry di dashboard mobil.
Cupp.. Dia mencium pipi kiri gua sebentar.
"Makasih Za, thanks for today, see you soon...", ucapnya sambil membuka pintu disampingnya.
Gua menggelengkan kepala pelan, sambil melihatnya yang berjalan kearah gerbang rumahnya itu. 'Apa yang sedang kamu rencanain Va...' ucap gua dalam hati.
...
Pukul sepuluh malam gua sudah berada di rumah setelah membelikan pesanan istri gua sebelumnya. Gua memberikan bungkusan martabak manis itu kepadanya lalu berjalan kearah tangga lantai dua menuju kamar.
"Mas.. Hey tunggu, pipi kamu kenapa ?", tanya istri gua yang berdiri di dekat tangga.
Gua menghentikan langkah kaki yang sedang menaiki tangga ini, lalu berbalik dan menatapnya dari atas. "Aku abis berantem sama orang tadi, gak sengaja dan udah gak apa-apa kok sayang...", jawab gua berbohong.
"Berantem ? Sama siapa Mas ? Kok bisa ?", tanyanya heran.
"Ehm.. Tadi ada motor main potong jalan aku, gak pake lampu sein, ya aku langsung klaksonin, eh dia malah nyuruh berhenti di pinggir jalan... Yaudah jadinya adu mulut sampe berantem, untung dipisahin orang-orang yang lagi jalan di trotoar...", jelas gua.
"Kok aneh sih ? Sampe berantem segala ?" cecarnya yang tetap tidak percaya.
"Ternyata orang mabok tuh yang bawa motornya...", lanjut gua lagi.
"Lagian bisa-bisanya kamu kena pukul sampe di plester gitu ? Biasanya juga kalo berantem gak kena pukul...".
"Hahahaha... Sok tau kamu ah, emang aku jagoan apa ? Hehehe... Udah ah aku mau mandi dulu ya, nanti udah mandi kita duduk di halaman belakang", jawab gua sambil tertawa lalu kembali menaiki tangga.
Gua langsung membuka pakaian dan mandi di dalam kamar mandi. Beres bersih-bersih dan memakai piyama berwarna hitam seperti warna piyama sang Nyonya, gua kembali keluar kamar dan berjalan kearah gazebo halaman belakang.
Gua duduk di dalam gazebo, tidak lama kemudian istri tercinta datang dengan secangkir kopi hitam dan sepiring martabak manis yang ia bawa pada kedua tangannya, lalu menaruhnya diatas meja kayu dalam gazebo ini. Baru saja dia menaruh santapan malam itu, dengan lembut gua menarik tangan kirinya dan memangkunya, posisi duduknya miring diatas kedua paha ini.
"Apa sih, Mas ? Pasti ada maunya nih..", dia tersenyum lebar sambil mencolek hidung gua.
"Ngajinya libur dulu ya sayang..", jawab gua sambil tersenyum dan menatap matanya.
"Oh iya, kamu harus ngaji ya... Hmmm... Kenapa libur ? Besok-besok juga pasti libur lama kan... Akunya gak ada juga, huh...", ah ternyata dia baru sadar, bibirnya cemberut.
"Hehehe... Mulai malam ini libur dulu, nanti selama kamu disana, aku ngaji sendiri disini kok, kalo perlu sambil teleponan..", saran gua kepadanya.
"Janji loch, Mas.. Awas aja.. Oh ya kenapa kamu tiba-tiba gini ? Biasanya enggak deh... Hayoo ada apa ?", godanya kali ini sambil mencolek dagu gua yang sedikit kasar karena beberapa jenggot yang mulai tumbuh lagi.
"Iya janji kok... Enggak apa-apa, aku cuma pingin kangeng-kangenan sama kamu... Mesra-mesraan hehehe, udah duduk dipangkuan aku gak usah pindah pokoknya...", ucap gua lalu mengigit pelan lengannya.
"Iiih... Aneh deh kamu, Mas..", istri gua keheranan. "Ada apaan sih ? Jujur ah sama aku..", lanjutnya sambil memundurkan tubuh agar gigitan gua terlepas.
"Pingin mesra-mesraan sama kamu aja, emang gak boleh ?", tanya gua serius.
"Hahaha... Apaan siiih..", dia tertawa lalu mengusap wajah gua dengan tangan kanannya.
Gua mendongakkan kepala lalu mencium bibirnya lembut. "Kangen sama kamu sayang...", ucap gua pelan.
"Ada app.. Mmmppppp...mmmpppp...", ucapannya terpotong karena bibir ini mulai kembali melumat bibirnya.
Tangan kanan gua melingkar ke pinggangnya, lalu lambat-laun bergerak mengusap sisi pinggang langsingnya itu dari bawah keatas. Kalau sudah begini, dia pasti membalas ciuman gua.
Dan cukup lama kami berciuman sampai nafasnya terengah-engah, lalu dia memundurkan wajahnya menyudahi ciuman kami.
"Huufftt.. Hhh.. Hhh...", Nyonya menarik nafas dan menghembuskannya perlahan dengan bahu yang naik turun. "Mas... Duuh kamu tuh... Paling bisa deh ngegodain aku... Huufftt..".
"Enak kan ?", goda gua sambil tersenyum jahil.
Wajahnya merona, selalu seperti itu ketika dulu gua menciumnya. Ah kamu tuh manis banget Nyonya. I love you full...
"Mas udah dulu aaah...", ucapnya malu-malu ketika tangan gua mulai bergerilya.
"Kenapa emangnya..?", tanya gua sambil tetap mengusap sisi pinggangnya dari atas kebawah.
"Aku pingin makan martabak duluuu... Iisshh..".
Gua menyandarkan kepala ke tubuhnya, lalu tetap mengusap sisi pinggangnya. "Yaudah, makan ma makan aja sayang... Aku temenin...".
"Iih nanti gak nikmat makannya kalo kamu godain terus Mas.. Udah dilanjutin di kamar aja nanti..", jawabnya lagi kali ini sambil mengambil sepotong martabak manis di meja.
Gua tersenyum lebar tanpa merubah posisi. "Nikmatan mana makan martabak atau mesra-mesraan sama aku ?", goda gua lagi.
"Ah kamu maa... Malu tapi kaaan..", jawabnya yang tidak jadi memakan martabak ditangannya itu.
"Malu ? Malu sama suami sendiri ? Aneh kamu..".
Kemudian istri gua memundurkan tubuhnya hingga kini dia menghadap kearah gua, lalu tangannya itu memegang pipi ini dan membuat wajah gua menengok kearah luar gazebo, kearah sekitar kolam renang.
"Malu sama Echa dan Jingga...", jawabnya pelan dan tersenyum tipis.
***
Hari ini adalah keberangkatan istri gua, ya mau tidak mau, rela tidak rela gua harus berpisah untuk sementara waktu dengan istri gua itu. Memang sih tidak langsung berpisah, gua tetap ikut menemaninya, tapi hanya dua atau tiga hari, lalu gua akan kembali lagi ke rumah dan bekerja lagi seperti biasa, sedangkan sang Nyonya harus mengikuti sebuah pelatihan khusus dari apa yang sudah menjadi dasar studi dan keahliannya selama ini, demi cita-citanya.
Pagi hari gua sudah turun dari lantai dua sambil membawa koper yang berukuran besar untuk dimasukkan kedalam mobil. Kemudian supir pribadi Ibu gua datang tidak lama setelah mengantar Ibu gua ke sebuah acara undangan. Masih ada waktu sebelum kami berangkat, gua menikmati secangkir kopi hitam sambil membakar sebatang rokok di kursi teras halaman depan.
"Mas... Ngerokok mulu ih...", ucap seorang wanita yang berdiri di ambang pintu rumah.
"Hey, duduk sini... Nikmatin pagi dengan secangkir kopi hitam dan sebatang rokok... Hehehe...", jawab gua sambil tertawa pelan.
Dia berjalan lalu berdiri dihadapan gua sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. "Bandel dari dulu disuruh ngurangin rokok juga ih...", ucapnya lagi dengan ekspresi kesalnya.
"Dari dulu juga kamu cerewet deh... Hahaha..".
"Yeee dibilangin susah banget... Yaudah yu berangkat, Mas... Tuh udah siap semua", ajaknya sambil melirik jam tangan berwarna hijau tosca pemberian gua saat ulangtahunnya dulu.
"Okey...let's gooo...", gua berdiri lalu menghabiskan kopi yang tinggal setengah gelas. "Pak, kita berangkat sekarang...", ucap gua sedikit berteriak kepada supir pribadi Ibu yang masih mengelap mobil sedan milik istri tercinta.
"Siap Mas...", jawabnya.
Gua berjalan disamping wanita cantik ini, lalu merangkulkan tangan ke bahunya sambil menengok kepadanya dan tersenyum lebar.
"Apaan sih ? Aneh deh kamu, Mas...", wajahnya terheran sambil mengerenyitkan kening.
"Kangen... Kangen... Hehehehe", jawab gua sambil menaik turunkan kedua alis.
"Sembarangan aja iiiihh...", dia menoyor kepala gua pelan.
Duh Mba Yuuu kuu.. Kamu tuh galak deh sama aku.. Gemes jadinya nih...
Pagi hari gua sudah turun dari lantai dua sambil membawa koper yang berukuran besar untuk dimasukkan kedalam mobil. Kemudian supir pribadi Ibu gua datang tidak lama setelah mengantar Ibu gua ke sebuah acara undangan. Masih ada waktu sebelum kami berangkat, gua menikmati secangkir kopi hitam sambil membakar sebatang rokok di kursi teras halaman depan.
"Mas... Ngerokok mulu ih...", ucap seorang wanita yang berdiri di ambang pintu rumah.
"Hey, duduk sini... Nikmatin pagi dengan secangkir kopi hitam dan sebatang rokok... Hehehe...", jawab gua sambil tertawa pelan.
Dia berjalan lalu berdiri dihadapan gua sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. "Bandel dari dulu disuruh ngurangin rokok juga ih...", ucapnya lagi dengan ekspresi kesalnya.
"Dari dulu juga kamu cerewet deh... Hahaha..".
"Yeee dibilangin susah banget... Yaudah yu berangkat, Mas... Tuh udah siap semua", ajaknya sambil melirik jam tangan berwarna hijau tosca pemberian gua saat ulangtahunnya dulu.
"Okey...let's gooo...", gua berdiri lalu menghabiskan kopi yang tinggal setengah gelas. "Pak, kita berangkat sekarang...", ucap gua sedikit berteriak kepada supir pribadi Ibu yang masih mengelap mobil sedan milik istri tercinta.
"Siap Mas...", jawabnya.
Gua berjalan disamping wanita cantik ini, lalu merangkulkan tangan ke bahunya sambil menengok kepadanya dan tersenyum lebar.
"Apaan sih ? Aneh deh kamu, Mas...", wajahnya terheran sambil mengerenyitkan kening.
"Kangen... Kangen... Hehehehe", jawab gua sambil menaik turunkan kedua alis.
"Sembarangan aja iiiihh...", dia menoyor kepala gua pelan.
Duh Mba Yuuu kuu.. Kamu tuh galak deh sama aku.. Gemes jadinya nih...

Diubah oleh glitch.7 14-07-2017 13:01
oktavp dan 5 lainnya memberi reputasi
6


: