Kaskus

Story

glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN




Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.


Tak Lagi Sama - Noah


Spoiler for Cover Stories:


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.


Quote:


Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

Masa yang Paling Indah
Credit thanks to Agan njum26

Love in Elegy
Credit thanks to Agan redmoon97


Sonne Mond und Stern
*mulustrasi karakter dalam cerita ini


Quote:

*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
pulaukapokAvatar border
chamelemonAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
#1101
PART 10


Sudah dua minggu gua kembali bekerja di Ibu kota, seperti biasa berangkat pagi hari setelah shalat subuh dan pulang sampai rumah setelah maghrib atau paling lama setelah isya. Suasana restoran dimana gua bekerja kini berbeda, gua sudah tidak lagi menempatkan posisi sebagai seorang manajer, melainkan seorang juru masak amatarin.

Selama dua minggu ini gua banyak belajar kepada para juru masak restoran, mempelajari setiap detail bahan, takaran, tingkat kematangan, bumbu, sampai ke cara penyajian yang baik dan benar. Alhamdulillah tidak perlu waktu lama bagi gua untuk mempelajari semua itu, karena basic gua saat pkl dulu memang di dapur. Dan sekarang ternyata apa yang sudah gua lakukan selama dua minggu ini telah membuat gua nyaman, sadar bahwa passion gua adalah memasak, bukan duduk dibelakang meja sambil memikirkan keuangan restoran dan lain sebagainya. Satu hal yang menjadi goal gua sekarang adalah menemukan menu baru untuk menambah 'bendahara makanan' agar dapat masuk kedalam buku menu restoran ini untuk dijual.

Puncak ramainya pengunjung restoran ini adalah malam minggu, dimana rata-rata pengunjung yang datang kesini kebanyakan bersama keluarga mereka. Seperti malam minggu ini, gua sibuk bersama crew di dapur untuk memasak pesanan yang makin malam makin bertambah. Alhamdulillah memang, tapi sepadan juga dengan rasa lelah. Untuk gua pribadi seharusnya sudah pulang ketika jam empat atau setengah lima sore, tapi karena hari ini malam minggu, jadi gua memilih untuk ikut membantu juru masak shift sore bekerja. Oh ya, khusus malam minggu dan malam sabtu, restoran ini tutup pukul dua belas malam, sedangkan hari biasa atau senin sampai kamis dan hari minggu tutup pukul sepuluh malam.

Malam minggu kali ini sangat berbeda untuk gua, karena inilah pertama kalinya gua ikut bekerja di dapur dari pagi hingga lembur seperti sekarang. Suasana dapur ini pun berubah menjadi hell kitchen, I'm so fakin busy with crews... This is rush hour isn't it ?.

Gua sedang memotong bahan makanan, sedangkan para chef lainnya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Hilir-mudik beberapa waiter atau waitress pun menambah pemandangan betapa sibuknya dapur ini. Seorang waiter menghampiri gua dengan sebuah kertas berukuran A empat dan sebuah pulpen pada tangannya.

"Mas.. Mas Eza, maaf ini stock paprika habis, Pak Toni udah ngajuin order ke bagian keuangan untuk order malam ini juga, tapi Bu Fitrinya udah pulang, Mas...", ucapnya sambil menyerahkan kertas tersebut.

Gua menaruh pisau dan membaca request order tersebut, lalu menggelengkan kepala." Kamu standby lagi aja sana, biar saya yang urus...".

Gua meninggalkan pekerjaan dan meminta salah satu crew kitchen ini untuk melanjutkan pekerjaan gua, karena apa yang sedang gua kerjakan sebelumnya adalah orderan menu dari pengunjung, jadi tidak mungkin membiarkan pekerjaan memotong bahan makanan itu tertunda, bisa-bisa kena komplain karena kelamaan.

Gua berjalan keluar kitchen sambil membuka apron, dan menuju lantai dua. Gua melirik sebentar ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri, sudah jam setengah enam sore.

Gua mengetuk dua kali pintu divisi accounting lalu membukanya.

"Rin...", ucap gua ketika melihat Rini yang masih duduk di kursi kerjanya.

"Ya Mas ? Ada apa ?", tanyanya melirik kepada gua.

"Mulai sekarang kamu gak perlu lagi nunggu keputusan Fitri kalo ada request stock order dari kitchen... Kamu acc aja langsung deh ya, kelamaan Rin kalo apa-apa harus nunggu tanda tangan Fitri...", ucap gua sambil menaruh kertas tersebut di depan meja Rini.

"Tapi bukan kewenangan saya, Mas.. Maaf..", jawabnya dengan nada yang pelan.

Kemudian seorang gadis belia masuk kedalam ruangan ini dengan dua gelas minuman yang ia pegang pada kedua tangannya.

"Gini deh, mulai sekarang, mulai hari ini gak ada lagi aturan kayak gitu, saya yang tanggungjawab.. Kamu dan Giovanna berhak menandatangani request order dari kitchen dan nyairin dananya...", lanjut gua.

Giovanna yang baru saja duduk di kursi kerjanya, tepat dibelakang meja kerja Rini ikut memperhatikan kami berdua.

"Tapi Mas...".

"Ya ampuuun... Kamu tuh takut sama Fitri ?", potong gua.

"Bukan gitu Mas, tapi inikan aturan dari restoran pusat...", jawabnya.

Gua menghela nafas dengan kasar lalu melipat kedua tangan di depan dada sambil tetap menatap wajahnya. Rini tertunduk.

"Rin... I'm owner this fakin restaurant... Did you know that ?".

Rini mengangguk pelan tanpa berani mendongakan kepalanya kepada gua.

"So what do you waiting for ? Let's signed off that order request goddammit!!!".

Tanpa menunggu diperintah lagi, tangannya langsung mengambil sebuah pulpen dan ukiran tandatangannya menghiasi kertas request order tersebut.

"Langsung cairin dananya sekarang juga Rin, biar anak kitchen yang jalan sendiri nanti beli bahannya...", ucap gua sambil membalikan badan dan berjalan kearah pintu. "Satu lagi...", gua menghentikan langkah tepat di ambang pintu sambil membalikan badan, menatap kedua karyawan divisi accounting itu.
"Jangan pulang dulu sampai jam delapan", pinta gua yang langsung membuat mereka berdua mengangguk tanpa bersuara.

Gua kembali berjalan menuruni tangga. Seperti inilah seorang juru masak ketika sedang banyak pekerjaan, ya pekerjaan memasak. Terkadang harus keras karena apa yang menjadi tuntutan pekerjaannya tidaklah mudah, apalagi ketika di jam sibuk seperti sekarang, dan sialnya stock bahan masakan ada saja yang habis. Memang bukan salah divisi lain, sebenarnya setiap hari ada pengecekan stock di mulai ketika buka pagi hari dan pergantian shift dari pagi ke sore. Saat itulah seorang chef yang masuk pagi hari melaporkan stock bahan makanan kepada chef yang masuk sore, merinci setiap stock mana saja yang perlu ditambah dan membuat orderan ke divisi keuangan. Yang jadi masalah ternyata malam minggu ini apa yang sudah di order dan ditambah tetap saja habis karena order menu yang membludak. Makin runyam lagi ternyata request order itu hanya bisa ditangani oleh seorang wanita di divisi accounting. Terakhir, Fitri sudah pulang dan membuat pekerjaan divisi kitchen tertunda.

Gua kembali mengecek orderan para pengunjung yang dibawa oleh para waiter dan waitress. Kemudian menuliskan menu-menu yang sold out atau out of stock karena kekurangan bahan masakan, entah bahan utama atau hanya bahan pelengkapnya, gua menulisnya di sebuah white boards yang memang disediakan untuk waiter dan waiterss membaca papan informasi tersebut. Lalu gua masuk ke dalam ruangan lain di bagian kitchen ini, ruangan khusus kepala juru masak. Pak Toni namanya, dan sudah pasti dia lembur setiap malam minggu.

Gua duduk di kursi depan meja kerjanya, sedangkan Beliau duduk di kursi tepat dibelakang mejanya.

"Ada apa Mas ?", tanya beliau yang berhenti mengetik pada laptopnya.

"Aturan soal order stock ingredients kita harus diubah... Gak bisa gini Pak...", ucap gua sambil menyandarkan tubuh ke bahu kursi.

Beliau tersenyum lalu mengangguk. "Saya sudah sarankan, agar lebih dipermudah, tapi Bu Eva tidak menanggapi saran dan masukan saya, Mas...", jawabnya.

"Dia itu memang terlalu angkuh Pak.. Beneran angkuh dan terlalu baku sama aturan pusat..", timpal gua.

"Yaa gimana lagi Mas, manajer, muda, ambisius dan ehm... Anak pemegang saham restoran ini jugakan..", Pak Toni mengingatkan gua.

Gua mengambil sebungkus rokok dan mengeluarkannya sebatang lalu membakarnya. "Sorry Pak.. Saya merokok..", ucap gua.

"Ah gak apa-apa Mas... Masa iya saya larang situ...", jawabnya terkekeh pelan.

Gua tersenyum lebar mendengarnya. "Ah biar nanti saya masukan pembahasan soal order ini ke rapat akhir bulan nanti di pusat...", ucap gua lagi setelah menghembuskan asap rokok keatas.

"Semoga bisa lebih dipermudah Mas..".

"Aamiin.. Haruslah..", jawab gua.

"Oh ya, Bu Eva masih di ruangannya Mas.. Tadi dia baru aja order steak...".

Gua langsung berdiri dan tersenyum. "Saya izin keatas dulu kalo gitu Pak...", ucap gua lalu menghisap rokok ini lagi.

"Hahaha... Gak perlu izin segala Mas, mau pulang juga silahkan hehehe.. Mana berani saya ngelarang-larang sampean Mas..", dia tertawa cukup keras.

Gua menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar. "Tetep aja posisi saya di kitchen ini bawahan sampean Pak.. Hahaha...".

...

Gua membuka pintu kayu tanpa mengetuknya terlebih dahulu, lalu memasuki ruangan yang beberapa bulan lalu masih gua tempati, kini sudah banyak berubah, lebih mmmm... Apa ya... Too girly maybe.. Ya karena sekarang sudah bukan gua lagi yang bekerja dan mengisi ruangan ini.

"Bisa ketuk pintu dulu sebelum masuk ?", tanya seorang wanita yang okelah... You beautiful but... Not my type.

"Sorry buru-buru...", jawab gua santai lalu duduk diatas sofa.

"Mau ngapain kamu kesini ?", tanyanya lagi dengan nada yang sangat sinis.

"Aku perlu bicarain soal stock orderan...".

"Ah iya... Maksud kamu apa nyuruh Rini nanda tanganin request orderan ? Itu wewenang Fitri dan kamu gak bisa memaksa kayak gitu Za!", emosinya mulai terlihat jelas.

"Suka-suka aku lah...", jawab gua masih santai.

Brak!!meja dihadapannya ia gebrak dengan kedua tangan, sekarang dia berdiri dibelakang mejanya itu.

"Jangan mentang-mentang kamu pemilik restoran ini lalu seenaknya rubah aturan Za!".

"Kamu tau gak kendala apa aja yang dihadapi sama anak kitchen ? Hm ? Kamu pikir restoran ini ujung tombaknya apa Va ?".

"Tapi bukan berarti kamu langsung minta Rini untuk tandatangan request order itu, Za!!".

Gua berdiri lalu berjalan mendekatinya, berdiri disampingnya. "Va, kalau gak ada bahan masakan, apa yang mau kita jual ? Aer kobokan ? Iya ?".

"Sekali lagi ya Za! Kamu gak bisa seenaknya kayak gini! Dan kamu harus inget! Kamu itu cuma crew kitchen disini, inget kamu sendiri yang memposisikan diri kamu seperti sekarang!!", jawabnya dengan emosi yang meluap hingga berteriak di depan wajah ini.

Gua memiringkan wajah lalu memasukan kedua tangan kedalam saku celana." Heh... Gua ingetin sama lu juga, posisi crew kitchen cuma gua sandang di dapur, saat satu kaki gua keluar dari dapur, posisi gua balik sebagai owner restoran ini... Paham lu ?", gua memajukan wajah hingga Eva memundurkan wajahnya.

Plak!! sebuah tamparan yang tidak keras dan tidak bertenaga mendarat tepat di pipi kiri ini.

"Sombong banget kamu! Kamu pikir kamu siapa ?! Hah ?!", teriaknya lagi.

"Hahahha... Gua ya owner restoran ini, Va.. lu bodoh apa tuli ?".

Plaaakkk!!! Kali ini bangsaatt.. Tamparannya bener-bener keras sampe tubuh gua sedikit limbung ke kanan.

"Kamu lebih baik keluar dari ruangan aku sekarang!!!", tangan kirinya terangkat dan jari telunjuknya mengarah ke pintu.

"Va.... Gua bisa jual satu cabang untuk ngembaliin modal dan keuntungan Bokap lu.. Dan sampe saat itu tiba, lu betah-betahin deh kerja disini ya....", jawab gua pelan dan menatap matanya tajam.

Eva melotot menatap gua, emosinya masih terpancar jelas. Gua tersenyum kepadanya lalu berjalan kearah pintu dan berhenti ketika hendak membuka pintu itu.

"Va.. Apa yang dikatakan Sherlin benar ternyata, kamu itu angkuh dan gila jabatan ya...", ucap gua tanpa melirik kepadanya, lalu gua membuka pintu dan melangkah keluar ruangannya.

Gua berjalan kearah divisi accounting sambil memegangi pipi kiri yang benar-benar terasa perih dan sakit, sialan itu wanita... Gua masuk kedalam ruangan accounting, lalu duduk di kursi milik Fitri dan kembali membakar sebatang rokok. Dua orang wanita yang masih duduk di belakang mejanya masing-masing terdiam menatap kearah gua.

"Aku minta maaf sama kamu Rin soal kejadian tadi.. I'm so sorry.. Gak maksud buat marah-marah ke kamu.. Tapi memang apa yang jadi kerjaan di dapur itu gak semudah yang dipikirkan orang lain... Sorry for that Rin..", ucap gua lalu menghembuskan asap rokok.

"Iya Mas Eza, aku ngerti, gak apa-apa, aku gak marah atau kesinggung kok Mas..", jawabnya sambil tersenyum.

"Aku juga minta maaf ke kamu Ann.. Jadi harus lembur gini", lanjut gua kali ini menatap Giovanna.

"Enggak apa-apa Mas, namanya juga malam minggu, lagian aku suka kok kerja dan nemenin Mba Rini...", jawabnya.

Gua mengangguk dan tersenyum. "Okey kalo gitu sebagai permintaan maaf gimana kalo aku traktir kalian aja.. Aku masakin makanan untuk kalian berdua ? Mau gak ?", tanya gua.

"Mau", ucap Giovanna.. "Enggak..", ucap Rini, mereka berdua menjawab diwaktu yang bersamaan.

"Yang satu mau, yang satu enggak... So gimana jadinya ? Eh sebentar sebentar... Kamu jawab enggak karena meragukan keahlian masak aku Rin ?", tanya gua menyelidik.

"Eh ? Enggak Mas enggak.. Bukan itu maksud aku, beneran sumpah deh...", jawab Rini terbata.

"Terus ?".

"Aku udah pesen makanan duluan tadi, nelpon ke kitchen, beneran Mas.. Tuh Anna yang belum mesen makanan...", jawabnya lagi.

"Hehehe kirain.. Yaudah deh kalo gitu Anna aja, mau makan apa Ann ?", tanya gua kepada Giovanna.

"Apa aja Mas.. Terserah..", jawabnya.

"Yaudah deh, bentar ya, aku balik ke dapur dulu", gua berdiri dari kursi lalu berjalan kearah pintu, sebelum keluar, gua ingat sesuatu dan membalikan badan lagi kearah mereka berdua. "Ann.. Bisa ikut aku sebentar ?", tanya gua yang kini menatap Giovanna.

Anna nampak terkejut sejenak, lalu menganggukan kepalanya dan berdiri.




Gua mengajak Giovanna ke pantry, duduk berhadapan di ruangan kecil ini. Gua menghisap rokok dalam-dalam lalu menghembuskannya kearah lain, kemudian mematikan rokok tersebut keatas asbak yang berada di atas meja.

"Ehm.. Ann.. Aku to the point ya".

"Ya Mas...".

"Aku minta maaf soal kejadian waktu itu, aku tau seharusnya aku juga bisa menahan kamu dan gak membiarkan kamu bertindak lebih jauh lagi...", lanjut gua sambil menatap wajahnya.

Giovanna menghela nafas lalu tersenyum. "Aku udah lupain kejadian itu, Mas.. Maafin aku yang terlalu agresif...", jawabnya.

"Ehm, aku suka sama cewek agresif kok..".

"Eh ?", dia terkejut.

"Hahahah... Dulu waktu belum nikah maksudnya hahaha... Ah udahlah jangan dipikirin, malah ngawur nanti hehehe...".

"Mas..".

"Hm ?".

Tangan halusnya dan jemarinya yang lentik itu membelai lembut pipi kiri gua dengan cepat. Wajahnya mendekat dan berhenti dengan jarak yang cukup dekat.

"Pipi kamu kenapa ?", tanyanya sambil memiringkan wajah dan menatap pipi kiri ini yang masih dipegangnya.

Gua langsung memundurkan wajah dengan hati yang berdegup kencang, sial sensasinya kayak gini lagi, bahaya.

"Emm.. Enggak apa-apa kok Ann, gak apa-apa...", ucap gua tergugup.

"Serius Mas ? Kamu habis ditampar siapa sampai lecet gitu ?".

Hah ? Lecet ? Emang sih kerasa perih, tapi masa iya sampe lecet. Gua berdiri lalu menuju wastafel dan bercermin di pantry ini, dan ya apa yang diucapkan Giovanna ternyata benar, dua goresan luka merah karena ada sedikit darah nampak jelas terlihat di pipi kiri gua. Kurang ajar itu wanita satu, emosi gua mulai timbul dan sepertinya memecat dia adalah tindakan yang akan gua lakukan senin nanti. Fak you Eva!

"Mas.. Sini biar aku obatin dulu lukanya...", entah kapan ini gadis belia mengambil betadine dan hansaplast yang sudah berada di tangannya.

"Eh gak usah Ann, gak apa-apa kok...", jawab gua.

Tapi Giovanna tidak memperdulikan ucapan gua, dia mulai merobek bungkus hansaplast dan membuka tutup betadine.

"Diem dulu ya, Mas... Jangan bergerak...", ucapnya sambil memberikan betadine ke pipi gua.

Gua memiringkan wajah agar cairan betadine itu menempel ke luka goresan di pipi ini. Lalu Anna kembali maju satu langkah untuk menempelkan hansaplast.

"Yap, udah selesai...", ucapnya sambil tersenyum.

"Makasih Ann..", jawab gua yang membalas senyumannya.

"Ooowww.. Ada apa disini ? Seorang karyawan dan pemilik restoran yang selingkuh ya.. Hm ?".

Kami berdua menengok kearah pintu, dimana seorang wanita sedang berdiri menatap kami dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dadanya dan tersenyum sinis kearah kami.

"Bu Eva ?!", Giovanna terkejut sambil menatap seorang manajer baru itu.

Gua berjalan kearah pintu dan berdiri tepat dihadapannya.

"Gak usah berpikir macam-macam Va.. Apa yang kamu pikirin itu jauh dari kenyataan sebenarnya..", ucap gua memperingatkan.

"Oh ya ? Masa ? Gimana rasanya nyium gadis muda ?", tanyanya sinis.

"Kamu liat ini pipi, hah ? Ini gara-gara kamu, dan Anna cuma ngobatin aku, gak usah nebar gosip murahan Va..".

"Za.. Kamu pikir aku bodoh apa ? Ehm.. Gimana ya kalo istri kamu sampai tau hal ini ?".

Gua menatap tajam kearahnya. Lalu menengok kepada Giovanna. "Ann, kamu boleh pulang sekarang, sama Rini juga...", ucap gua.

"Baik, Mas...", jawab Giovanna pelan lalu berjalan melewati gua dan Eva. "Permisi Bu..", ucapnya ketika melewati Eva.

"Bitches...", ucap Eva pelan.

Giovanna berhenti sebentar dan menatap Eva dengan kedua mata yang melotot, gua sendiri pun terkejut mendengar ucapannya itu. Dengan cepat gua menarik tangan kanan Eva dan menariknya kedalam lalu sedikit kasar mendorongnya ke dinding.

"Jaga lu punya mulut Va!!", gua melotot dengan wajah yang cukup dekat.

Giovanna kembali berjalan dan langkah kakinya terdengar terburu-buru meninggalkan kami.

"Kenapa ? Belain dia Za ? Hm ?".

"Mau lu tuh apa sih hah ? Makin lama lu makin kurang ajar..", ucap gua sambil menahan emosi yang sudah meletup-letup.

Tangan gua yang masih mencengkram lengannya ia tepis. Kemudian kedua tangannya menarik kasar sisi pakaian bagian leher ini dan...

Cuuppp..dengan kasar dia melumat bibir gua.

Brak... gua mendorongnya kembali ke dinding hingga tubuhnya menabrak dinding dibelakangnya itu.

Gua mengerenyitkan kening ketika dia malah tertawa dan tersenyum sinis, kemudian kedua tangannya memegang sisi wajah gua.

"I love it.. Really love it, when you heart me, Za..", ucapnya pelan lalu mengigit bibir bagian bawahnya.


Just gonna stand there and watch me burn
But that's alright, because I like the way it hurts
Just gonna stand there and hear me cry
But that's alright, because I love the way you lie
I love the way you lie

Love the Way You Lie - Eminem feat. Rihanna
Diubah oleh glitch.7 12-07-2017 23:58
fatqurr
oktavp
gagasrahmadani
gagasrahmadani dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.