- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
jenggalasunyi dan 127 lainnya memberi reputasi
124
1.9M
8.8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#1037
PART 9
Jam pada pergelangan tangan kiri ini sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Gua berdiri dari bangku panjang berbahan besi yang berada pada sisi pintu masuk showroom mobil.
"Aku pulang dulu ya Lun... Udah siang", ucap gua kepada wanita yang masih duduk sambil menatap gua.
Franziska Luna Katrina, tidak banyak berubah dari terakhir gua bertemu dengannya saat dulu gua melepaskannya, merelakannya kepada Erick. Dia tetap terlihat menawan dan cantik, dandanannya selalu berkelas.
Luna berdiri tepat disamping gua sambil memegang tas mininya itu di depan paha. Kemudian dia sedikit menunduk lalu merapihkan helaian rambut kebelakang telinga kanannya.
"Kamu masih marah sama aku ?", tanyanya kini mendongakan kepala, menatap gua.
"Aku udah relain kamu Lun, walaupun berat awalnya, tapi.. Yaaa.. Seperti yang aku ceritakan tadi. Aku sudah menikah juga...", gua memasukan kedua tangan ini kedalam saku celana.
"Aku ikut bahagia Za akhirnya kamu menikahi dia...", Luna tersenyum tipis.
Gua mengangguk. "Okey.. Aku pulang dulu ya, sampai ketemu lagi", ucap gua.
Lalu gua mulai kembali berjalan kearah parkiran mobil. Mungkin baru sekitar lima meter gua berjalan, Luna kembali memanggil gua.
"Za..".
Gua menengok lagi kepadanya.
"Salam untuk istri kamu ya...".
Gua tersenyum lalu mengangguk. "Insya Allah, salam juga untuk Erick...".
...
Malam hari gua baru saja selesai shalat isya berjama'ah dengan istri gua, lalu kami berdua duduk di dalam gazebo untuk mengaji, lebih tepatnya istri gua mengajarkan gua untuk mengaji. Sekitar setengah jam gua kembali membaca ayat suci Al Quran yang dibimbing oleh wanita cantik nan baik hati itu, dia membenarkan setiap bacaan yang salah dengan sabar, lalu akhirnya selesai ketika hujan baru saja turun dengan perlahan.
"Mau makan malam di rumah atau keluar sayang ?", tanya gua setelah selesai menutup kitab suci tersebut.
"Mmm.. Dirumah aja ya, Bibi masak makanan favorit kamu loch", jawabnya dengan senyum yang manis.
"Okey.. Yaudah yuk kita ke meja makan", ajak gua sambil berdiri dan membawa kitab suci sebelumnya.
Gua kembali ke lantai dua untuk menaruh Al Quran di dalam kamar, sedangkan istri gua menyiapkan makan malam untuk kami berdua. Setelah itu barulah gua kembali turun ke lantai satu menuju ruang makan. Gua melihat istri gua itu sudah duduk sambil menyendok nasi ke atas piring di sampingnya.
Gua menarik kursi makan lalu duduk tepat disamping istri tercinta. "Jangan Banyak-banyak nasinya sayang", pinta gua.
"Segini cukup, Mas ?", tanyanya setelah menaruh nasi diatas piring di depan gua itu.
"Cukup cukup.. Itu ambilin teri kacang baladonya dong, sama sayur asemnya..".
Dengan telaten istri gua mengambilkan setiap menu makan untuk suami tercintanya ini, setelah beres menyiapkan makanan untuk gua, barulah dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Kami berdua makan dengan santai, sesekali kami juga membicarakan hal-hal soal keluarga gua. Pertama soal Ibu gua yang akhir-akhir ini jarang menginap di rumah kami lagi, karena saat ini, Ibunya itu sedang sakit, sedangkan adiknya, Kinanti masih di Bali. Yap, Tante gua yang baik hati itu memang sudah bekerja di sana, di sebuah hotel tentunya. Kemudian topik pun berganti ketika gua ingat pesan seorang wanita yang tidak sengaja bertemu lagi dengannya tadi siang.
"Oh ya sayang, kamu dapet salam tadi dari Luna...".
Sebuah gerakan tangan yang awalnya masih menyendok makanan diatas piring terhenti.
"Walaikumsalam... Luna ? Luna mana ?", tanyanya sambil melirik kepada gua.
"Luna ya Luna, emangnya kita kenal Luna mana lagi selain... Ehm.. Mantan aku itu...", jawab gua yang juga ikut melirik kepadanya.
"Iya iya.. Ketemu dimana, Mas ?".
Degh...Ah, jujur apa bohong ya.. Masalahnya kan gua ketemu di showroom mobil, sedangkan tadi pagi sebelum berangkat gua bilangnya hendak ke rumah Nenek. Kepalang lah... Maafin aku ya sayang, bohong kali ini untuk sureprise kok.
"Di mall, abis dari rumah Nenek aku ke Mall sebentar untuk cari celana jeans, ya liat-liat aja sih, da gitu gak sengaja ketemu sama Luna..", jawab gua sambil tersenyum.
"Ooo.. Terus gimana ? Dia lagi jalan sama suaminya ?", tanya istri gua lagi sebelum menyendok makanan kedalam mulutnya.
Gua mengambil gelas minum dan meneguk isinya hingga habis setengah gelas. "Mmm.. Enggak, dia sendirian... Erick gak ikut pulang kesini".
Istri gua selesai menyantap makan malamnya, lalu meminum teh dalam gelas yang berada di depannya itu. "Ada apa Luna pulang, Mas ? Ada keperluankah ?".
Gua mengangguk. "Papahnya ulangtahun dan lagi disini juga, Erick nyusul besok katanya ke Indonesia, gak bareng karena kerjaan yang gak bisa ditinggal...".
Ya memang kenyataannya Luna pulang karena sang Papah yang akan ulangtahun minggu depan, beda satu minggu dari ulangtahun istri gua ini. Dan pertemuan tidak sengaja antara kami berdua tadi siang hanyalah sebuah pertemuan yang tidak penting. Hanya menanyakan kabar masing-masing tanpa sedikitpun masuk kedalam obrolan tentang masa lalu kami.
Selama ini, Luna dan Erick yang sudah sah menjadi suami istri itu tinggal di Australia. Semenjak gua datang ke pernikahannya dulu, gua sama sekali tidak bertemu lagi dengan Luna. Jujur gua memang menghindar, dan mungkin sama dengan Luna yang memilih langsung pindah ke Australia bersama suaminya itu untuk tidak lagi bertemu dengan gua, ya mungkin...
"Mas...".
"Ya sayang ?".
"Kamu... Kamu ceritain semuanya tentang kita ?".
Gua tersenyum lalu merangkul bahu kirinya dari arah kanan. "Enggak semua sayang, aku cuma bilang kalo sekarang ini... Sudah ada seorang wanita yang dengan ketulusan hatinya menerima aku sebagai pasangan hidupnya. Sebatas itu, dan gak lama aku ngobrol sama dia tadi siang...".
Luna sama sekali tidak mengetahui bahwa gua memang sudah menikahi seorang wanita yang kini duduk di kursi tepat disamping gua itu. Seperti yang gua bilang sebelumnya, semenjak pernikahannya dengan Erick, gua sama sekali tidak bertemu lagi dengannya, ataupun sekedar komunikasi lewat telpon. Luna baru mengetahui status gua yang telah menjadi suami setelah kami bertemu tadi siang.
...
...
...
Selang beberapa hari, gua duduk di bangku teras depan rumah, menikmati secangkir kopi hitam dalam sore yang diguyur hujan. Istri gua saat itu berada di kamar lantai dua, sedang membaca kitab suci Al Quran setelah sebelumnya membimbing gua di gazebo halaman belakang rumah. Bukan tanpa alasan gua duduk di depan rumah, karena ada sesuatu yang memang sedang gua tunggu.
Baru saja gua membakar batang rokok kedua ketika sebuah mobil berhenti di depan gerbang luar rumah. Gua memanggil Bibi untuk membukakan gerbang, tentunya Bibi berjalan kearah luar dengan menggunakan payung. Setelah mobil masuk sampai berhenti tepat dibelakang mobil milik istri gua, seorang lelaki turun dari pintu kemudi kemudian berlari ke teras rumah ini untuk menghindari rintik hujan yang masih turun dengan cukup deras.
Gua berdiri untuk menyambutnya, lalu menjabat tangannya ketika dia mengulurkan tangan sambil tersenyum.
"Maaf ya Pak, tadi saya kelewat, malah sampe ke masjid di belakang itu...", ucapnya sambil mengeluarkan beberapa dokumen dari tas kerjanya.
"Enggak apa-apa Pak... Silahkan duduk dulu Pak...", jawab gua sambil kembali duduk yang kemudian diikuti olehnya yang duduk di samping.
"Bi, tolong buatkan minuman ya..", ucap gua kepada Bibi yang hendak masuk lagi kedalam rumah.
"Nah ini Pak dokumen serah terima kendaraannya berikut stnk dan kuncinya, kalau bpkb nya masih harus menunggu ya Pak, nanti silahkan hubungi sales marketing yang kemarin membantu Bapak di dealer...", ucapnya sambil menaruh beberapa dokumen dan kunci kendaraan roda empat itu.
Gua membaca beberapa dokumen lalu menandatangani serah terima kendaraan tersebut kemudian berdiri lagi dan berjalan kearah sebuah mobil berwarna silver, yang sedikit berbeda tentunya. Jelas terlihat ada sebuah pita berwarna pink dengan simpul berbentuk bunga. Lalu membuka pintu kemudi dan tersenyum puas ketika apa yang menjadi permintaan khusus gua kepada sales marketing sebelumnya telah dikabulkan dengan baik dan cermat.
Kurang dari setengah jam, Bapak pengantar kendaraan tersebut pamit kembali ke kantor, gua mengucapkan terimakasih kepadanya dan sedikit memberi 'tips' untuk jasanya yang sudah bersedia mengantarkan barang pembelian gua itu.
Setelah Bapak itu pulang, gua masuk kedalam rumah dan berjalan ke tangga untuk menuju kamar, baru saja gua menaiki tiga anak tangga, istri gua keluar dari kamar dan berjalan hendak menuruni tangga ini.
Gua tersenyum lebar kepadanya dari bawah sini.
"Kenapa Mas ? Kok senyum-senyum gitu ?".
"Tunggu disitu...", jawab gua sambil kembali menaiki anak tangga hingga sampai dihadapannya.
"Ada apa sih ?", tanyanya heran.
Gua tidak menjawab melainkan berjalan kearah kamar dan menuju lemari, gua mengambil sebuah selendang berwarna biru miliknya dan kembali lagi ke beranda depan kamar, dimana istri gua masih menunggu.
"Jangan banyak tanya ya sayang...", ucap gua yang sudah berdiri tepat dibelakangnya.
"Eh ? Loch loch.. Mau ngapain sih Mas ?", dia mulai kembali kebingungan dengan tingkah laku gua.
Setelah berhasil menutupi matanya dengan selendang tadi, gua menuntun tangannya untuk menuruni tangga. Kemudian gua langsung membawanya ke teras depan rumah, berdiri tepat di anak tangga yang menghubungkan teras ini dengan jalan di depan garasi mobil.
"Siap ?".
"Mas... Aku deg-degan loch... Kamu kan jail. Jangan aneh-aneh aah...", ucapnya.
Gua tertawa pelan. "Siap yaaa...", goda gua.
"Maasss.. Iiih mau ngapain siih..?!".
Gua tarik simpul selendang yang menutupi matanya itu lalu menarik selendang tersebut kebelakang.
Hening beberapa detik, gua berjalan ke sampingnya lalu menengok ke arah wajahnya sambil tersenyum lebar. Dan Voilaaa... Kedua matanya terbelalak, tapi hanya sebentar. Kemudian keningnya berkerut dan kini dia memasang wajah bertanya kepada gua.
"Sureprise!!!", teriak gua sambil tertawa pelan.
"Untuk siapa ?", tanyanya pelan sambil menahan senyum.
"Selamaaatt ulaang tahuuun...kamiii ucapkaaan..", seorang ibu paruh baya bernyanyi sambil berjalan dari dalam rumah kearah teras ini, sebuah kue ulang tahun ia pegang di depan.
Istri gua menengok kebelakang. "Yaaa ampuuunnn.. Bibiii ? Hahaha...", teriaknya terkejut kepada art kami yang ikutan memberi sureprise untuk istri gua itu.
Gua tersenyum bahagia, ketika dia memeluk Bibi dan bercipika-cipiki.
"Selamat ulangtahun ya Nyonya, semoga Nyonya selalu diberikan kesehatan, diberikan kebahagiaan, dilimpahkan rejeki dan selalu bersama Bapak sampai tua nanti...", ucap Bibi kepada istri gua.
Istri gua memeluk dari samping ibu paruh baya itu sambil mengamini ucapannya itu lalu berterimakasih. Gua berjalan mendekat dan berdiri disamping istri gua. Terlihat sedikit matanya berkaca-kaca.
"Ayo make a wish dulu, terus tiup lilinnya ya...", ucap gua.
Kemudian istri gua menutup matanya seraya berdo'a dalam hati sejenak, tidak lama dia membuka matanya dan tersenyum kepada gua, gua menganggukan kepala yang langsung membuatnya meniup lilin diatas kue yang masih dipegangi oleh Bibi.
Gua meminta Bibi untuk mengambil pisau kue ke dapur, kemudian gua mengajak istri tercinta mendekat lagi ke mobil yang sudah terhias pita itu.
"Mas... Ini.... Ini untuk aku ?", tanyanya masih tidak percaya.
Gua tersenyum dan mengangguk, lalu gua mengajaknya turun ke halaman rumah setelah membuka payung dan berjalan kearah pintu kemudi mobil itu.
"Ini kuncinya sayang, buka gih...", ucap gua.
Twiit..twiitt... autolock berbunyi, kemudian dia membuka pintu kemudi mobil.
Kali ini, gua puas dengan apa yang ditunjukkan istri gua itu. Dia kembali terkejut sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Lalu kembali menengok gua yang berdiri tepat di sisi kananya sambil memegang payung.
"Selamat ulang tahun sayang...", ucap gua tulus.
"Ii.. Ini.. berlebihan...", ucapnya sedikit terbata.
"Maafin aku yang udah buat kamu kecewa karena kejadian kemarin-kemarin...", gua memegang tangan kanannya lalu mengecup punggung tangannya itu. "Maaf aku gak bisa minta Papah dan Mamah kamu untuk berada disini, Papah sibuk karena kerjaannya...", lanjut gua.
Istri gua menggelengkan kepalanya pelan, lalu memeluk gua. Bisa gua rasakan dia mulai menangis.
"Makasih, Mas... Makasih banyak... Tapi ini berlebihan banget. Lebih dari apa yang aku bayangin...", ucapnya dengan kepala yang bersandar pada dada ini.
Kini tangan gua membelai lembut kepalanya itu. Lalu mengecup bagian atasnya.
"Sayang, baca dulu dong surat cintanya... Hehehe", ucap gua lagi.
Dia memundurkan tubuh, menyeka airmatanya sambil tersenyum. Kemudian tangan lembutnya itu mengambil surat dan sebucket bunga lily yang berada diatas bangku kemudi. Istri gua membaca pelan surat cinta yang gua tulis sendiri dan gua taruh surat itu ke dalam mobil setelah mobil itu baru saja diantarkan tadi.
Dia kembali tersenyum lebar dan lagi-lagi memeluk gua.
"Makasih banyak, Mas... Makasih banyak... Kamu berlebihan banget...", ucapnya lagi dalam pelukan ini.
'Ah, wait for the last sureprise honey'. Ucap gua dalam hati.
"Mahal banget pasti ini, sayang uangnya, Mas...", ucapnya sambil mendongkan kepalanya kearah gua.
Gua menggelengkan kepala. "Semua memang mahal, berlebihan dan buang-buang uang... Tapi itu semua gak ada artinya jika dibandingkan kebahagiaan kamu sayang. Apa yang aku lakukan semata-mata untuk kebahagiaan istriku tercinta. Kamu...", jawab gua.
Kami berdua tersenyum bahagia dibawah rintik hujan sore ini dengan payung sebagai penghalang sang air langit. Lalu tangan kanan gua memegang dagunya hingga wajahnya kembali mendongak, gua memiringkan wajah dan mencium bibirnya itu lembut.
"I love you forever...", ucap gua setelah menciumnya.
"I love you too Reza... I love you too forever...", balasnya lalu kemudian dia yang memajukan wajah dan mencium bibir ini.
"Aku pulang dulu ya Lun... Udah siang", ucap gua kepada wanita yang masih duduk sambil menatap gua.
Franziska Luna Katrina, tidak banyak berubah dari terakhir gua bertemu dengannya saat dulu gua melepaskannya, merelakannya kepada Erick. Dia tetap terlihat menawan dan cantik, dandanannya selalu berkelas.
Luna berdiri tepat disamping gua sambil memegang tas mininya itu di depan paha. Kemudian dia sedikit menunduk lalu merapihkan helaian rambut kebelakang telinga kanannya.
"Kamu masih marah sama aku ?", tanyanya kini mendongakan kepala, menatap gua.
"Aku udah relain kamu Lun, walaupun berat awalnya, tapi.. Yaaa.. Seperti yang aku ceritakan tadi. Aku sudah menikah juga...", gua memasukan kedua tangan ini kedalam saku celana.
"Aku ikut bahagia Za akhirnya kamu menikahi dia...", Luna tersenyum tipis.
Gua mengangguk. "Okey.. Aku pulang dulu ya, sampai ketemu lagi", ucap gua.
Lalu gua mulai kembali berjalan kearah parkiran mobil. Mungkin baru sekitar lima meter gua berjalan, Luna kembali memanggil gua.
"Za..".
Gua menengok lagi kepadanya.
"Salam untuk istri kamu ya...".
Gua tersenyum lalu mengangguk. "Insya Allah, salam juga untuk Erick...".
...
Malam hari gua baru saja selesai shalat isya berjama'ah dengan istri gua, lalu kami berdua duduk di dalam gazebo untuk mengaji, lebih tepatnya istri gua mengajarkan gua untuk mengaji. Sekitar setengah jam gua kembali membaca ayat suci Al Quran yang dibimbing oleh wanita cantik nan baik hati itu, dia membenarkan setiap bacaan yang salah dengan sabar, lalu akhirnya selesai ketika hujan baru saja turun dengan perlahan.
"Mau makan malam di rumah atau keluar sayang ?", tanya gua setelah selesai menutup kitab suci tersebut.
"Mmm.. Dirumah aja ya, Bibi masak makanan favorit kamu loch", jawabnya dengan senyum yang manis.
"Okey.. Yaudah yuk kita ke meja makan", ajak gua sambil berdiri dan membawa kitab suci sebelumnya.
Gua kembali ke lantai dua untuk menaruh Al Quran di dalam kamar, sedangkan istri gua menyiapkan makan malam untuk kami berdua. Setelah itu barulah gua kembali turun ke lantai satu menuju ruang makan. Gua melihat istri gua itu sudah duduk sambil menyendok nasi ke atas piring di sampingnya.
Gua menarik kursi makan lalu duduk tepat disamping istri tercinta. "Jangan Banyak-banyak nasinya sayang", pinta gua.
"Segini cukup, Mas ?", tanyanya setelah menaruh nasi diatas piring di depan gua itu.
"Cukup cukup.. Itu ambilin teri kacang baladonya dong, sama sayur asemnya..".
Dengan telaten istri gua mengambilkan setiap menu makan untuk suami tercintanya ini, setelah beres menyiapkan makanan untuk gua, barulah dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Kami berdua makan dengan santai, sesekali kami juga membicarakan hal-hal soal keluarga gua. Pertama soal Ibu gua yang akhir-akhir ini jarang menginap di rumah kami lagi, karena saat ini, Ibunya itu sedang sakit, sedangkan adiknya, Kinanti masih di Bali. Yap, Tante gua yang baik hati itu memang sudah bekerja di sana, di sebuah hotel tentunya. Kemudian topik pun berganti ketika gua ingat pesan seorang wanita yang tidak sengaja bertemu lagi dengannya tadi siang.
"Oh ya sayang, kamu dapet salam tadi dari Luna...".
Sebuah gerakan tangan yang awalnya masih menyendok makanan diatas piring terhenti.
"Walaikumsalam... Luna ? Luna mana ?", tanyanya sambil melirik kepada gua.
"Luna ya Luna, emangnya kita kenal Luna mana lagi selain... Ehm.. Mantan aku itu...", jawab gua yang juga ikut melirik kepadanya.
"Iya iya.. Ketemu dimana, Mas ?".
Degh...Ah, jujur apa bohong ya.. Masalahnya kan gua ketemu di showroom mobil, sedangkan tadi pagi sebelum berangkat gua bilangnya hendak ke rumah Nenek. Kepalang lah... Maafin aku ya sayang, bohong kali ini untuk sureprise kok.
"Di mall, abis dari rumah Nenek aku ke Mall sebentar untuk cari celana jeans, ya liat-liat aja sih, da gitu gak sengaja ketemu sama Luna..", jawab gua sambil tersenyum.
"Ooo.. Terus gimana ? Dia lagi jalan sama suaminya ?", tanya istri gua lagi sebelum menyendok makanan kedalam mulutnya.
Gua mengambil gelas minum dan meneguk isinya hingga habis setengah gelas. "Mmm.. Enggak, dia sendirian... Erick gak ikut pulang kesini".
Istri gua selesai menyantap makan malamnya, lalu meminum teh dalam gelas yang berada di depannya itu. "Ada apa Luna pulang, Mas ? Ada keperluankah ?".
Gua mengangguk. "Papahnya ulangtahun dan lagi disini juga, Erick nyusul besok katanya ke Indonesia, gak bareng karena kerjaan yang gak bisa ditinggal...".
Ya memang kenyataannya Luna pulang karena sang Papah yang akan ulangtahun minggu depan, beda satu minggu dari ulangtahun istri gua ini. Dan pertemuan tidak sengaja antara kami berdua tadi siang hanyalah sebuah pertemuan yang tidak penting. Hanya menanyakan kabar masing-masing tanpa sedikitpun masuk kedalam obrolan tentang masa lalu kami.
Selama ini, Luna dan Erick yang sudah sah menjadi suami istri itu tinggal di Australia. Semenjak gua datang ke pernikahannya dulu, gua sama sekali tidak bertemu lagi dengan Luna. Jujur gua memang menghindar, dan mungkin sama dengan Luna yang memilih langsung pindah ke Australia bersama suaminya itu untuk tidak lagi bertemu dengan gua, ya mungkin...
"Mas...".
"Ya sayang ?".
"Kamu... Kamu ceritain semuanya tentang kita ?".
Gua tersenyum lalu merangkul bahu kirinya dari arah kanan. "Enggak semua sayang, aku cuma bilang kalo sekarang ini... Sudah ada seorang wanita yang dengan ketulusan hatinya menerima aku sebagai pasangan hidupnya. Sebatas itu, dan gak lama aku ngobrol sama dia tadi siang...".
Luna sama sekali tidak mengetahui bahwa gua memang sudah menikahi seorang wanita yang kini duduk di kursi tepat disamping gua itu. Seperti yang gua bilang sebelumnya, semenjak pernikahannya dengan Erick, gua sama sekali tidak bertemu lagi dengannya, ataupun sekedar komunikasi lewat telpon. Luna baru mengetahui status gua yang telah menjadi suami setelah kami bertemu tadi siang.
...
...
...
Selang beberapa hari, gua duduk di bangku teras depan rumah, menikmati secangkir kopi hitam dalam sore yang diguyur hujan. Istri gua saat itu berada di kamar lantai dua, sedang membaca kitab suci Al Quran setelah sebelumnya membimbing gua di gazebo halaman belakang rumah. Bukan tanpa alasan gua duduk di depan rumah, karena ada sesuatu yang memang sedang gua tunggu.
Baru saja gua membakar batang rokok kedua ketika sebuah mobil berhenti di depan gerbang luar rumah. Gua memanggil Bibi untuk membukakan gerbang, tentunya Bibi berjalan kearah luar dengan menggunakan payung. Setelah mobil masuk sampai berhenti tepat dibelakang mobil milik istri gua, seorang lelaki turun dari pintu kemudi kemudian berlari ke teras rumah ini untuk menghindari rintik hujan yang masih turun dengan cukup deras.
Gua berdiri untuk menyambutnya, lalu menjabat tangannya ketika dia mengulurkan tangan sambil tersenyum.
"Maaf ya Pak, tadi saya kelewat, malah sampe ke masjid di belakang itu...", ucapnya sambil mengeluarkan beberapa dokumen dari tas kerjanya.
"Enggak apa-apa Pak... Silahkan duduk dulu Pak...", jawab gua sambil kembali duduk yang kemudian diikuti olehnya yang duduk di samping.
"Bi, tolong buatkan minuman ya..", ucap gua kepada Bibi yang hendak masuk lagi kedalam rumah.
"Nah ini Pak dokumen serah terima kendaraannya berikut stnk dan kuncinya, kalau bpkb nya masih harus menunggu ya Pak, nanti silahkan hubungi sales marketing yang kemarin membantu Bapak di dealer...", ucapnya sambil menaruh beberapa dokumen dan kunci kendaraan roda empat itu.
Gua membaca beberapa dokumen lalu menandatangani serah terima kendaraan tersebut kemudian berdiri lagi dan berjalan kearah sebuah mobil berwarna silver, yang sedikit berbeda tentunya. Jelas terlihat ada sebuah pita berwarna pink dengan simpul berbentuk bunga. Lalu membuka pintu kemudi dan tersenyum puas ketika apa yang menjadi permintaan khusus gua kepada sales marketing sebelumnya telah dikabulkan dengan baik dan cermat.
Kurang dari setengah jam, Bapak pengantar kendaraan tersebut pamit kembali ke kantor, gua mengucapkan terimakasih kepadanya dan sedikit memberi 'tips' untuk jasanya yang sudah bersedia mengantarkan barang pembelian gua itu.
Setelah Bapak itu pulang, gua masuk kedalam rumah dan berjalan ke tangga untuk menuju kamar, baru saja gua menaiki tiga anak tangga, istri gua keluar dari kamar dan berjalan hendak menuruni tangga ini.
Gua tersenyum lebar kepadanya dari bawah sini.
"Kenapa Mas ? Kok senyum-senyum gitu ?".
"Tunggu disitu...", jawab gua sambil kembali menaiki anak tangga hingga sampai dihadapannya.
"Ada apa sih ?", tanyanya heran.
Gua tidak menjawab melainkan berjalan kearah kamar dan menuju lemari, gua mengambil sebuah selendang berwarna biru miliknya dan kembali lagi ke beranda depan kamar, dimana istri gua masih menunggu.
"Jangan banyak tanya ya sayang...", ucap gua yang sudah berdiri tepat dibelakangnya.
"Eh ? Loch loch.. Mau ngapain sih Mas ?", dia mulai kembali kebingungan dengan tingkah laku gua.
Setelah berhasil menutupi matanya dengan selendang tadi, gua menuntun tangannya untuk menuruni tangga. Kemudian gua langsung membawanya ke teras depan rumah, berdiri tepat di anak tangga yang menghubungkan teras ini dengan jalan di depan garasi mobil.
"Siap ?".
"Mas... Aku deg-degan loch... Kamu kan jail. Jangan aneh-aneh aah...", ucapnya.
Gua tertawa pelan. "Siap yaaa...", goda gua.
"Maasss.. Iiih mau ngapain siih..?!".
Gua tarik simpul selendang yang menutupi matanya itu lalu menarik selendang tersebut kebelakang.
Hening beberapa detik, gua berjalan ke sampingnya lalu menengok ke arah wajahnya sambil tersenyum lebar. Dan Voilaaa... Kedua matanya terbelalak, tapi hanya sebentar. Kemudian keningnya berkerut dan kini dia memasang wajah bertanya kepada gua.
"Sureprise!!!", teriak gua sambil tertawa pelan.
"Untuk siapa ?", tanyanya pelan sambil menahan senyum.
"Selamaaatt ulaang tahuuun...kamiii ucapkaaan..", seorang ibu paruh baya bernyanyi sambil berjalan dari dalam rumah kearah teras ini, sebuah kue ulang tahun ia pegang di depan.
Istri gua menengok kebelakang. "Yaaa ampuuunnn.. Bibiii ? Hahaha...", teriaknya terkejut kepada art kami yang ikutan memberi sureprise untuk istri gua itu.
Gua tersenyum bahagia, ketika dia memeluk Bibi dan bercipika-cipiki.
"Selamat ulangtahun ya Nyonya, semoga Nyonya selalu diberikan kesehatan, diberikan kebahagiaan, dilimpahkan rejeki dan selalu bersama Bapak sampai tua nanti...", ucap Bibi kepada istri gua.
Istri gua memeluk dari samping ibu paruh baya itu sambil mengamini ucapannya itu lalu berterimakasih. Gua berjalan mendekat dan berdiri disamping istri gua. Terlihat sedikit matanya berkaca-kaca.
"Ayo make a wish dulu, terus tiup lilinnya ya...", ucap gua.
Kemudian istri gua menutup matanya seraya berdo'a dalam hati sejenak, tidak lama dia membuka matanya dan tersenyum kepada gua, gua menganggukan kepala yang langsung membuatnya meniup lilin diatas kue yang masih dipegangi oleh Bibi.
Gua meminta Bibi untuk mengambil pisau kue ke dapur, kemudian gua mengajak istri tercinta mendekat lagi ke mobil yang sudah terhias pita itu.
"Mas... Ini.... Ini untuk aku ?", tanyanya masih tidak percaya.
Gua tersenyum dan mengangguk, lalu gua mengajaknya turun ke halaman rumah setelah membuka payung dan berjalan kearah pintu kemudi mobil itu.
"Ini kuncinya sayang, buka gih...", ucap gua.
Twiit..twiitt... autolock berbunyi, kemudian dia membuka pintu kemudi mobil.
Kali ini, gua puas dengan apa yang ditunjukkan istri gua itu. Dia kembali terkejut sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Lalu kembali menengok gua yang berdiri tepat di sisi kananya sambil memegang payung.
"Selamat ulang tahun sayang...", ucap gua tulus.
"Ii.. Ini.. berlebihan...", ucapnya sedikit terbata.
"Maafin aku yang udah buat kamu kecewa karena kejadian kemarin-kemarin...", gua memegang tangan kanannya lalu mengecup punggung tangannya itu. "Maaf aku gak bisa minta Papah dan Mamah kamu untuk berada disini, Papah sibuk karena kerjaannya...", lanjut gua.
Istri gua menggelengkan kepalanya pelan, lalu memeluk gua. Bisa gua rasakan dia mulai menangis.
"Makasih, Mas... Makasih banyak... Tapi ini berlebihan banget. Lebih dari apa yang aku bayangin...", ucapnya dengan kepala yang bersandar pada dada ini.
Kini tangan gua membelai lembut kepalanya itu. Lalu mengecup bagian atasnya.
"Sayang, baca dulu dong surat cintanya... Hehehe", ucap gua lagi.
Dia memundurkan tubuh, menyeka airmatanya sambil tersenyum. Kemudian tangan lembutnya itu mengambil surat dan sebucket bunga lily yang berada diatas bangku kemudi. Istri gua membaca pelan surat cinta yang gua tulis sendiri dan gua taruh surat itu ke dalam mobil setelah mobil itu baru saja diantarkan tadi.
Dia kembali tersenyum lebar dan lagi-lagi memeluk gua.
"Makasih banyak, Mas... Makasih banyak... Kamu berlebihan banget...", ucapnya lagi dalam pelukan ini.
'Ah, wait for the last sureprise honey'. Ucap gua dalam hati.
"Mahal banget pasti ini, sayang uangnya, Mas...", ucapnya sambil mendongkan kepalanya kearah gua.
Gua menggelengkan kepala. "Semua memang mahal, berlebihan dan buang-buang uang... Tapi itu semua gak ada artinya jika dibandingkan kebahagiaan kamu sayang. Apa yang aku lakukan semata-mata untuk kebahagiaan istriku tercinta. Kamu...", jawab gua.
Kami berdua tersenyum bahagia dibawah rintik hujan sore ini dengan payung sebagai penghalang sang air langit. Lalu tangan kanan gua memegang dagunya hingga wajahnya kembali mendongak, gua memiringkan wajah dan mencium bibirnya itu lembut.
"I love you forever...", ucap gua setelah menciumnya.
"I love you too Reza... I love you too forever...", balasnya lalu kemudian dia yang memajukan wajah dan mencium bibir ini.
***
Malam hari, gua merayakan ulangtahun sang Nyonya di sebuah restoran jepang untuk memenuhi keinginannya yang ingin makan malam dengan menu favoritnya itu. Dan satu sisi kebaikan istri gua di malam ini membuat gua semakin mencintainya. Dia mengajak Bibi di rumah untuk ikut bersama kami. Kami bertiga duduk disebuah meja dalam restoran jepang dan mulai menikmati sajian menu yang sebelumnya telah dipesan.
Selesai makan malam bertiga, kami langsung pulang menuju rumah karena malam mulai larut. Gua mengemudikan mobil baru yang telah gua hadiahkan untuk istri tercinta tadi sore. Gua memacu kecepatan mobil di jalan tol dengan cukup kencang hingga membuat istri gua itu mencubit pelan lengan ini agar gua tidak kebut-kebutan. Gua hanya terkekeh pelan ketika melihatnya cemberut.
Pukul setengah sebelas malam kami semua sampai di rumah. Beres memarkirkan mobil, gua dan istri langsung menuju kamar di lantai dua, sedangkan Bibi menuju kamarnya di lantai satu.
Gua berdiri dibelakang istri gua ketika dia sedang membuka pintu kamar dan berjalan lagi memasuki kamar, dia berjalan kearah kasur, sedangkan gua menyalakan lampu kamar.
Teuk...Lampu menyala.
Gua memegang kedua bahunya dari belakang ketika dia berdiri mematung menatap kearah kasur kamar kami ini.
"For my beloved wife... It's the last sureprise tonight... Happy birthday once again Honey....", bisik gua lembut dari belakang telinganya.
Dia membalikan tubuh sambil menatap gua dengan ekspresi yang terkejut (lagi).
"Kamu ini... Bener-bener, Mas...", ucapnya sambil menggelengkan kepala.
"Cukup, gak ada lagi kejutannya kok, jadi gak usah bilang berlebihan lagi dan lagi...", gua terkekeh pelan.
Dia langsung memeluk gua dan menyandarkan kepalanya ke dada ini.
"I love you sayang...", ucap gua sambil memundurkan kedua bahunya pelan hingga kami saling menatap.
Gua kecup bibirnya lalu keningnya. Kemudian gua melepaskan kedua tangan dari bahunya dan mengambil sebuah kotak persegi yang berada diatas kasur, diantara bunga-bunga mawar merah yang juga menghiasi kasur kami itu.
"Sini aku bantu pasangin...", ucap gua setelah mengambil sebuah perhiasan yang berada dalam kotak persegi tersebut.
Istri gua kembali membelakangi, lalu gua mengenakan kalung emas putih yang memiliki bandul berinisial huruf depan namanya itu. Kemudian dia kembali berbalik menghadap gua.
"Sip, perfectooo....", gua tersenyum lebar setelah melihat hadiah itu sudah melingkari lehernya.
"Terimakasih banyak untuk semuanya... Terimakasih Mas..", ucapnya sambil memegang kedua bahu gua dengan lembut.
"Aku memberikan ini semua memang nampak berlebihan bagi kamu bahkan orang lain... Tapi apa gunanya aku bekerja selama ini kalau bukan untuk kebahagiaan kamu ? Semua lelaki akan melakukan hal yang sama sayang, untuk istri tercintanya... Semuanya normal ketika apa yang kita lakukan untuk orang yang kita cintaikan ?".
Dia tersenyum mengangguk, lalu melingkarkan kedua tangannya kebalik tengkuk gua, kemudian menariknya lembut.
Cupp.. bibirnya mencium bibir ini.
"Love you till i die, Za..", ucapnya lirih.
Gua mencium bibirnya dan kali ini... Tidak melepasnya, gua menciumnya sambil membawanya kearah kasur dan merebahkan tubuhnya diatas sana. Semakin lama kami berciuman, semakin terasa meningkatkan nafsu dalam diri ini, gua mulai membuka kancing kemejanya...
"Love you too Mistress Agathadera...", balas gua.
Selesai makan malam bertiga, kami langsung pulang menuju rumah karena malam mulai larut. Gua mengemudikan mobil baru yang telah gua hadiahkan untuk istri tercinta tadi sore. Gua memacu kecepatan mobil di jalan tol dengan cukup kencang hingga membuat istri gua itu mencubit pelan lengan ini agar gua tidak kebut-kebutan. Gua hanya terkekeh pelan ketika melihatnya cemberut.
Pukul setengah sebelas malam kami semua sampai di rumah. Beres memarkirkan mobil, gua dan istri langsung menuju kamar di lantai dua, sedangkan Bibi menuju kamarnya di lantai satu.
Gua berdiri dibelakang istri gua ketika dia sedang membuka pintu kamar dan berjalan lagi memasuki kamar, dia berjalan kearah kasur, sedangkan gua menyalakan lampu kamar.
Teuk...Lampu menyala.
Gua memegang kedua bahunya dari belakang ketika dia berdiri mematung menatap kearah kasur kamar kami ini.
"For my beloved wife... It's the last sureprise tonight... Happy birthday once again Honey....", bisik gua lembut dari belakang telinganya.
Dia membalikan tubuh sambil menatap gua dengan ekspresi yang terkejut (lagi).
"Kamu ini... Bener-bener, Mas...", ucapnya sambil menggelengkan kepala.
"Cukup, gak ada lagi kejutannya kok, jadi gak usah bilang berlebihan lagi dan lagi...", gua terkekeh pelan.
Dia langsung memeluk gua dan menyandarkan kepalanya ke dada ini.
"I love you sayang...", ucap gua sambil memundurkan kedua bahunya pelan hingga kami saling menatap.
Gua kecup bibirnya lalu keningnya. Kemudian gua melepaskan kedua tangan dari bahunya dan mengambil sebuah kotak persegi yang berada diatas kasur, diantara bunga-bunga mawar merah yang juga menghiasi kasur kami itu.
"Sini aku bantu pasangin...", ucap gua setelah mengambil sebuah perhiasan yang berada dalam kotak persegi tersebut.
Istri gua kembali membelakangi, lalu gua mengenakan kalung emas putih yang memiliki bandul berinisial huruf depan namanya itu. Kemudian dia kembali berbalik menghadap gua.
"Sip, perfectooo....", gua tersenyum lebar setelah melihat hadiah itu sudah melingkari lehernya.
"Terimakasih banyak untuk semuanya... Terimakasih Mas..", ucapnya sambil memegang kedua bahu gua dengan lembut.
"Aku memberikan ini semua memang nampak berlebihan bagi kamu bahkan orang lain... Tapi apa gunanya aku bekerja selama ini kalau bukan untuk kebahagiaan kamu ? Semua lelaki akan melakukan hal yang sama sayang, untuk istri tercintanya... Semuanya normal ketika apa yang kita lakukan untuk orang yang kita cintaikan ?".
Dia tersenyum mengangguk, lalu melingkarkan kedua tangannya kebalik tengkuk gua, kemudian menariknya lembut.
Cupp.. bibirnya mencium bibir ini.
"Love you till i die, Za..", ucapnya lirih.
Gua mencium bibirnya dan kali ini... Tidak melepasnya, gua menciumnya sambil membawanya kearah kasur dan merebahkan tubuhnya diatas sana. Semakin lama kami berciuman, semakin terasa meningkatkan nafsu dalam diri ini, gua mulai membuka kancing kemejanya...
"Love you too Mistress Agathadera...", balas gua.
Quote:
When a man loves a woman
Spend his very last dime
Trying to hold on to what he needs
He'd give up all his comfort
...
Well, this man loves a woman
I gave you everything I had
Trying to hold on to your precious love
Spend his very last dime
Trying to hold on to what he needs
He'd give up all his comfort
...
Well, this man loves a woman
I gave you everything I had
Trying to hold on to your precious love
When a Man Loves a Woman - Michael Bolton
Diubah oleh glitch.7 24-01-2018 12:14
oktavp dan 3 lainnya memberi reputasi
4

