Kaskus

Story

Kategori

Pengaturan

Mode Malambeta
Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Syarat & Ketentuan

Kebijakan Privasi

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN




Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku


Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.


Tak Lagi Sama - Noah


Spoiler for Cover Stories:


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.


Quote:


Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

Masa yang Paling Indah
Credit thanks to Agan njum26

Love in Elegy
Credit thanks to Agan redmoon97


Sonne Mond und Stern
*mulustrasi karakter dalam cerita ini


Quote:

*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
pulaukapokAvatar border
chamelemonAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
TS
glitch.7
#949
PART 8


Apa yang terjadi di ruang tamu yang megah dan mewah ini beberapa menit yang lalu telah membuat seorang gadis menangis hingga masuk ke kamarnya. Gua bersama istri masih duduk bersebelahan dihadapan kedua orangtua gadis tersebut.

"Om, Tante... Biar sedikit saya jelaskan dulu, awalnya Anna tidak tau kalo saya sudah memiliki keluarga, memiliki istri... Saya sudah menjelaskan kepada Anna bahwa saya ini bukanlah seorang lelaki single atau duda lagi...", jelas gua.

"Kapan kamu menjelaskannya ?", tanya Papahnya.

"Saat Anna mengutarakan perasaannya".

"Kapan itu Za ? Hari apa ?", tanyanya lagi.

"Malam minggu kemarin Om, di mobil saya, saat saya mengantar Anna pulang...".

"Dan Anna mengirimkan chatt bbm tersebut malam harinya, setelah kamu pulang mengantar dia Mas...", tembak istri gua. "Artinya apa ? Bapak dan Ibu mengerti maksud saya ?", tanya istri gua kepada kedua orangtua Giovanna.

"Ya ya saya paham dan mengerti, mohon maaf untuk perilaku anak gadis kami, Mba", ucap sang Papah. "Memang tidak seharusnya dia memaksakan perasaannya itu setelah mengetahui kalo Eza sudah memiliki istri, saya mohon maaf sekali lagi".

"Dan kamu Mas, untuk kesekian kalinya aku ingatkan... Jangan terlalu baik kepada orang lain, karena anggapan orang lain itu bisa berbeda, apalagi kepada perempuan...", kali ini istri gua menatap gua.

"Za, Saya ingatkan kamu, jadi lelaki itu besar tanggungjawabnya... Baik kepada setiap orang memang bagus, malah sudah seharusnya kita seperti itu. Tapi ingat satu hal... Ada batasannya Za, persis apa yang dikatakan istrimu... Terlebih kepada perempuan, akan lain ceritanya. Terbuktikan sekarang ?", kali ini Papahnya Anna yang menimpali.

Gua mengangguk paham. Memang dari dulu selalu seperti ini, dari jaman gua masih SMP dan SMA, selalu wanita yang menjadi permasalahan gua, padahal kalau mau difikir, apa gua kelewat batas kepada Giovanna ?. Gua hanya mengantarnya pulang dua atau tiga kali, mengajaknya makan satu kali, Itu pun karena harus membicarakan perihal kendaraan roda empatnya. Kelewat bataskah ? Tentu saja tidak. Yang jadi masalah cuma satu. Dan gua peringatkan kepada Lu Lu Lu Semua... Mau dibilang pencitraan juga bodo amat! Tapi ini kenyataan, dan tidakkah kalian sadar dari trit MyPI dan LiE ?. Bukan karena kebaikan gua yang berlebihan, tapi memang pembawaan dan pesona dalam diri ini yang menarik perhatian kaum hawa. Okelah tertawa saja, karena kalian gak mengerti sama sekali. Resiko orang tampan, baik hati dan tidak sombong ya begini ini, dibenci laki-laki, disayangi jutaan wanita. Catet! Tsaaahh... (udah gak usah dumel para Jones yang baca, let it flow aja...). Suatu saat gua akan jelaskan masalah ini, serius. Disalah satu part nanti.

...

Sore hari gua dan istri sudah kembali ke rumah. Saat itu gua masih ingat, tepat setelah kami baru saja memasuki ruang tamu, suara adzan ashar terdengar berkumandang dari masjid komplek perumahan ini.

"Shalat berjama'ah Mas..", pintanya.

Gua mengangguk lalu tersenyum.

Kami menaiki lantai dua rumah lalu masuk ke dalam kamar. Gua mengambil wudhu terlebih dahulu, sedangkan istri gua mempersiapkan sajadah untuk ibadah kami berdua. Beres mengambil wudhu, gantian kini istri gua yang masuk ke kamar mandi dan berwudhu. Gua sudah berdiri diatas sajadah, tidak lama kemudian istri gua keluar dari kamar mandi, mengenakan mukenanya dan gua mulai melaksanakan ibadah ini bersama istri sebagai makmum.

Selesai melaksanakan ibadah empat raka'at, seperti biasa, gua menengadahkan kedua tangan sebatas dada untuk bermunajat kepada Sang Maha Pencipta, sekaligus mengucap syukur atas segala yang telah Dia berikan kepada hidup gua. Tidak lama setelah selesai beribadah dan berdo'a, gua merapihkan sajadah, lalu istri gua mencium tangan kanan ini.

Gua berjalan ke sisi kasur dan menaruh sajadah diatas sana. Istri gua baru saja membuka mukena bagian atasnya.

"Mas..".

"Ya ?", gua melirik kepadanya.

"Kita ke halaman belakang ya..", ucapnya lagi.

"Hm ? Ngapain ?", tanya gua bingung.

"Udah kamu tunggu di dalem gazebo aja dulu, jaga wudhu kamu ya, jangan sampai batal kalo bisa", lanjutnya

Gua mengerenyitkan kening, namun gua turuti keinginannya walaupun masih tidak tau apa yang hendak ia tunjukan nanti.

...

Kini gua sudah duduk di dalem gazebo, menghadap ke arah kolam renang dan 'dua rumah'orang yang gua cintai. Istri gua keluar dari pintu belakang dan berjalan kearah gazebo. Sebuah buku dia peluk di depan dadanya.

Dia berdiri tepat dihadapan gua yang terhalang oleh meja kayu gazebo ini, lalu tersenyum.

"Kamu belum batalkan ?", tanyanya masih tersenyum.

Gua menggelengkan kepala sambil terbengong.

"Bagus... Yu kita mulai...", kali ini dia duduk.

"Mulai ? Mulai untuk....?", gua sebenarnya paham tapi...

Istri gua tetap tersenyum, bahkan lebih manis dari sebelumnya. "Mulai untuk mengaji", tandasnya.

Okey maaf. Gua meralat, bukan sebuah buku yang ia bawa, melainkan sebuah kitab suci umat muslim. Al Qur'an Al Karim.

"Kenapa ?", tanyanya menyelidik.

Gua menggelengkan kepala. "Hehehe.. Enggak apa-apa sayang...".

Dia mulai membuka kitab suci tersebut dari kiri ke kanan. Dan dibaliklah kitab suci tersebut yang kini menghadap kearah gua.

"Ayo mulai...", ucapnya dengan ramah.

Surat pertama alhamdulillah lancar dan sukses gua baca, Al Fatihah. Kemudian beralih ke surat kedua, Al Baqarah. Ayat pertama hingga sepuluh dalam surat Al Baqarah masih lancar gua baca, kemudian semakin jauh gua membaca dari ayat kesebelas hingga selanjutnya, mulut ini mulai terbata-bata.

"wa-ʾidhā qīla lahum ʾāminū ka-mā ʾāmana n-nāsu qālū ʾa-nuʾminu ka-mā ʾāmana s-sufahāʾu ʾa-lā ʾinnahum humu s-sufahāʾu wa-lākin lā yaʿlamūn...", ucap istri gua membenarkan. "Perhatikan tajwidnya, Mas... Ada ahkamul maddi wal qasr, yaitu panjang dan pendeknya dalam melafazkan ucapan dalam tiap ayat", lanjutnya.

Dan dari sinilah semua berawal... Apa yang ia tunjukkan kepada gua benar-benar membuat hati ini bergetar. Selama ini gua jujur, terakhir kali membaca Al Quran mungkin saat SMP kelas satu, kemudian berlanjut lagi saat menikah dengan almh. Echa, setelah itu.. I'm so far away from the Holy Quran.

Istri gua tercinta, dia lah kini yang membimbing gua kepada jalan dan perintah Allah SWT, mengingatkan gua akan kewajiban gua sebagai seorang muslim. Dan dari hari ini, setiap pulang kerja, entah sehabis shalat isya atau sebelum tidur, dia akan selalu mengajarkan gua kembali membaca kitab suci tersebut.

Tidak ada kata-kata dan kalimat yang bisa aku ucapkan untuk kamu, terimakasih telah mendampingi aku selama ini, kamulah wanita (Insya Allah) penghuni surga kelak.

...

Ada sedikit mmmm... Cerita lucu mungkin, ya anggaplah seperti itu. Karena saat pertama kali dia meminta gua membaca Al Quran seperti diatas, saat itu gua malah menyebutnya sebagai hukuman. Hukuman pertama akan kesalahan yang gua buat. Tapi maaf, bukan maksud untuk menganggap membaca kitab suci itu sebagai hukuman, tapi ini pemikiran gua secara pribadi, tentu saja saat kejadian itu. Tolong dipahami ya Gais.

...

Malam harinya setelah shalat isya, Gua mengajak istri ke restoran hanamasa, makan malam berdua di sana. Selama menyantap makanan, kembali gua membahas soal masalah antara gua dan Giovanna.

"Aku minta maaf, aku udah bohong sama kamu, tapi jujur demi Tuhan semesta alam, aku gak ada perasaan apapun sama dia..", ucap gua setelah menelan daging salmon mentah.

"Gak ada perasaan apapun... Sekali lagi, enggak ada... Yakin ?", tanyanya sambil tersenyum.

"Mmm... Ya ada sih, suka aja, suka biasa ya, pahamkan ?".

"Tertarik.. Itu maksud kamu ?".

Gua mengangguk cepat. "Iya cuma itu, tapi gak ada perasaan lebih".

"Aku paham, ketertarikan antara lawan jenis, yaudah kalo gitu... Tapi aku gak mau kamu bohong lagi mulai sekarang, entah didekati atau kamu yang mendekati... Jujur adalah kunci suatu hubungan Mas...", ucapnya.

"Iya, maafin aku sekali lagi...", lanjut gua.

"Iya, jangan diulang ya...", kali ini dia mengambilkan salah satu menu tempura, udang yang dibalut tepung.

Selesai makan malam, istri gua mengajak gua pergi ke sebuah mall, gua menurutinya, mungkin dia memang ingin shopping. Sekitar pukul delapan malam kami sampai di salah satu mall, lalu naik eskalator menuju lantai dua. Gua mengikuti langkahnya mengitari mall lantai dua ini, tapi ternyata bukan sebuah outlet pakaian ataupun tas wanita yang ia masuki, melainkan sebuah outlet handphone.

"Ngapain kesini sayang ?", tanya gua ketika kami baru saja disambut oleh pramuniaga.

"Beli handphone...", jawabnya santai lalu kembali berjalan ke dalam outlet.

"Mau bb yang sama atau ganti model, Mas ?", tanyanya ketika kami sudah berada di depan etalase yang di dalamnya terpajang beberapa model smartphone blackberry.

Ah, istri gua memang paling bisa, sadar dia sudah merusak handphone milik gua, langsung ngajak beli baru. Kamu tuh ya bikin gemes banget Nyonya.

"Mmm.. Sekalian ganti yang model terbaru ya, hehehe...", jangan setengah-setengah kalo udah gini sih. Hehehehe...

Istri gua tersenyum lalu mengiyakan permintaan suaminya ini. Aaah bahagianya gua memiliki wanita seperti kamu sayang. I love you so much...

Beres membeli blackberry untuk gua, ehm yang tentu saja dia yang membayarkan. Kami keluar outlet tersebut dan naik ke lantai tiga. Gua mengikutinya berjalan disampingnya, tapi gua tidak memperhatikan sekitar, gua asyik memainkan 'mainan' baru yang baru saja ia belikan tadi, sampai akhirnya gua tersadar ketika tangannya melingkar ke lengan kiri ini dan berucap...

"Mas... Ini bagus ya ? Cocok kan sama baju aku yang merah maroon di rumah ?", tanyanya.

Gua mendongakan kepala yang sebelumnya asyik memainkan blackberry sedari tadi. Gua mengerenyitkan kening menatap benda yang ia genggam di tangan kanannya itu, tepat di depan gua.

Gua tidak langsung menjawab, melainkan menyapukan pandangan di dalam outlet ini. Dan inilah strategi istri gua yang sangat teramat pintar, super duper smart. Gua baru sadar, seolah-olah bangkit dari genjutsu yang ia buat sebelumnya lewat blackberry baru di tangan gua ini. Dan inilah dia, outlet tas wanita.... Amazing!

"Mas... Kok diem sih ?", ucapnya menggoyangkan tangan yang masih melingkar ke lengan ini.

"Eh ? Dimana ini ? Loch ? Kamu siapa ? Aku siapa ?", siapa tau berhasil gituu...

Istri gua melepaskan tangannya lalu mengambil dua buah tas dengan model yang berbeda tapi warnanya sama. Merah maroon.

"Ayo ke kasir...", ajaknya seraya meninggalkan gua.

Lagi-lagi gua menelan ludah, lalu menatap layar blackberry di tangan ini. 'Gara-gara lo nih! Jebol lagi tabungan gua! Kepet dasar!", sungut gua di dalam hati sambil menatap tajam si blackberry pembawa genjutsu...

"Totalnya sekian juta rupiah, Pak...", ucap seorang gadis yang bekerja sebagai kasir sambil menyodorkan sebuah kertas berisikan total belanja sang Nyonya.

Gua mengambil kertas tersebut sambil menatap nominal jumlah di bagian bawah kertas, sekali lagi deh, gua menelan ludah. Hebat, hebat sekali, harga dua buah tas melampui sebuah blackberry yang baru saja dibelikan oleh istri ter-CINTA gua itu. I love you sayang, beneran kok, tulus dari dalam hati nih.

"Mau dibayar dengan uang tunai atau debet, Pak ?", tanya si kasir menyadarkan gua.

Gua menengok ke kanan, kepada seorang wanita yang mengenakan pakaian putih dengan ornamen biru itu. Dia membuang muka kearah lain sambil memainkan jari telunjuknya pada dagunya. Seolah-olah mengatakan, i can't hear that.. I don't know why... Let's pay that stuff... Hurry up..!!!

"Ehm.. Debet Mba...", jawab gua pada akhirnya pasrah.

Gua mengeluarkan dompet dari saku celana denim bagian belakang, lalu kembali melirik kepada istri gua ketika jemari ini mengeluarkan debet card. Dia tersenyum bahagia, sangat bahagia, sampai-sampai gua melihat jelas matanya berbinar.

Selesai sudah transaksi belanja sang Nyonya, dengan berkurangnya saldo pada tabungan gua itu, berakhir pula 'wisata malam ini'.

"Let's go home sayang...", ucapnya ketika kantung belanja sudah ia genggam erat, lalu menarik tangan gua keluar dari outlet 'bangke' tersebut.

Tepat rasanya, wisata malam diatas gua analogikan sebagai 'Besar pasak daripada Tiang'. Tiang gantungan!!!

...

Hari senin, tepat satu hari setelah kejadian di rumah Giovanna, gua mendatangi restoran di kota gua, untuk bertemu Ibu direktur, Mba Laras. Gua datang tidak sendirian, tapi bersama istri tercinta. Pukul sepuluh pagi, kami berdua sudah duduk di sofa ruang kerja Ibu gua itu.

"Ada apa kalian berdua kesini ? Tumben banget...", tanya Ibu gua dari kursi kerjanya sambil tersenyum.

"Ehm.. To the point aja, Bu... Maaf aku kayaknya mau pindah kerja aja...", jawab gua sambil menatap wajah Ibu gua itu dengan serius.

Jelaslah Beliau terkejut, lalu berdiri dari duduknya dan berjalan ke depan mejanya. "Okey, kayaknya kamu lagi gak bercanda, Za.. Ada apa sampai kamu ingin pindah ?", tanya Beliau lagi sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.

"Aku mau pindah ke kitchen aja Bu, sayang ilmu masak waktu kuliah kemarin gak terpakai...", jawab gua.

Ibu menggelengkan kepalanya. "Kamu jangan bohong sama Ibu, cerita ada apa sebenarnya ?".

Gua melirik kepada istri tercinta. Kemudian istri gua itu tersenyum. "Agar keutuhan rumah tangga kami tetap terjaga, Bu... Dan rejeki seorang karyawan juga tidak kami putus...", ucap istri gua.

Dan akhirnya, ceritalah gua dan istri kepada Ibu gua itu, tentang apa yang sudah terjadi diantara kami berdua dengan seorang gadis belia bernama Giovanna Almira. Setelah mendengar apa yang sebenarnya terjadi, jadilah kedua telinga ini merah padam, bukan karena kekerasan fisik, tapi 'Ikatteiru Haha No Jutsu'. (Angry Mom No Jutsu).

"Ibu pikirkan dulu pengganti kamu, Za... Gak gampang soalnya cari orang yang bisa dipercaya urus resto di Jakarta..", ucapnya setelah menceramahi habis-habisan gua selama satu jam lamanya.

"Iya Bu...", jawab gua lemas, kekuatan ceramahnya itu... Sumpah ini gua gak bohong, menyerap tenaga gua!

"Tapi, aku minta Giovanna tidak perlu diberhentikan ya, Bu...",
"Aku gak mau memutus rejeki seseorang... Kecuali dia yang mengundurkan diri", ucap istri gua kali ini.

"Iya, Ibu mengerti".


***


Gua sedang berdiri sambil menopang dagu dengan satu tangan, sedangkan tangan satunya menjadi tumpuan. Mungkin sudah satu jam lamanya gua mendengarkan seorang marketing mempresentasikan barang jualannya itu, dan ini terakhir kalinya gua kembali kepada sebuah alat transportasi yang menjadi pertimbangan gua.

"Saya yakin istri Mas pasti suka dengan mobil ini", ucap seorang lelaki yang menjadi marketing tersebut.

"Hmmm... Okelah, saya ambil yang ini aja", jawab gua akhirnya menjatuhkan pilihan kepada sebuah mobil model sedan dengan logo perusahaan otomotifnya yang terkenal pada empat ring yang saling terkait dibagian depan.

"Kredit kan, Mas ?", tanyanya lagi.

Gua menghela nafas, lalu memasukan kedua tangan pada saku celana.

"Okey okey saya bercanda Mas, maaf hehehe...", lanjutnya.

"Tehnik marketing ya, dasar..", jawab gua sambil menggelengkan kepala dan mengikutinya berjalan kearah lain showroom ini.

Singkat cerita gua akhirnya selesai membayar lunas sebuah kendaraan roda empat dengan seri A6 3.0 tfsi quattro bertransmisi automatic dengan warna silver. Lalu gua pun menitipkan beberapa permintaan khusus kepada sales marketing sebelumnya untuk sebuah kejutan ketika dikirim ke rumah nanti. Beres menyelesaikan pembayaran dan segala macam administrasi, gua pun beranjak dari showroom ini.

Gua berjalan menuju parkiran mobil dan hendak masuk ke dalam bangku kemudi, suara seorang wanita yang memangil nama gua membuat gua menengok kearah sumber suara tersebut.

"Ezaa..".

"Luna ?", ucap gua masih berdiri disamping pintu kemudi.
Diubah oleh glitch.7 10-07-2017 21:58
dany.agus
fatqurr
oktavp
oktavp dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.