- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#779
PART 6
Gua duduk diatas kasur sambil menundukkan kepala seraya menjambak rambut ini dengan kedua tangan. Penyesalan, ya perasaan itulah yang kini sedang memenuhi hati dan jiwa gua. Apa yang sudah diketahui seorang wanita baik hati satu jam yang lalu benar-benar membuat gua menyesal, bukan karena gua tidak ingin dia mengetahui hal yang sudah terjadi antara gua dan Giovanna, melainkan hal yang sebenarnyalah yang sangat ingin gua beritahukan kepada wanita yang sudah menjadi istri gua itu.
Gua berdiri lalu melihat jam di dinding kamar ini yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Lalu gua mulai rebahan di atas kasur, tepat di samping istri gua yang sedang tidur menyamping. Gua menatap tubuhnya dari samping, menatap tubuh yang memunggungi gua itu.
Perlahan tangan kanan ini bergerak dan mencoba untuk menyentuh bahu kanannya.
"Jangan sentuh aku, Mas...", ucapnya dengan suara yang sangat parau.
Kembali gua menarik tangan kanan, lalu merubah posisi menjadi terlentang. Gua menatap langit kamar yang agak gelap ini, hanya lampu tidur yang menyala dengan redup.
"Aku minta maaf udah gak jujur sama kamu...", ucap gua dengan nada yang pelan. "Satu hal yang harus kamu tau, aku gak ada perasaan apapun sama dia. Aku cuma anggap dia adik, dan gak lebih".
Hening dan hanya suara detik jam yang terdengar bergerak...
Gua menghela nafas lalu memejamkan mata, berharap esok hari lebih baik dari hari ini.
Gua berdiri lalu melihat jam di dinding kamar ini yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Lalu gua mulai rebahan di atas kasur, tepat di samping istri gua yang sedang tidur menyamping. Gua menatap tubuhnya dari samping, menatap tubuh yang memunggungi gua itu.
Perlahan tangan kanan ini bergerak dan mencoba untuk menyentuh bahu kanannya.
"Jangan sentuh aku, Mas...", ucapnya dengan suara yang sangat parau.
Kembali gua menarik tangan kanan, lalu merubah posisi menjadi terlentang. Gua menatap langit kamar yang agak gelap ini, hanya lampu tidur yang menyala dengan redup.
"Aku minta maaf udah gak jujur sama kamu...", ucap gua dengan nada yang pelan. "Satu hal yang harus kamu tau, aku gak ada perasaan apapun sama dia. Aku cuma anggap dia adik, dan gak lebih".
Hening dan hanya suara detik jam yang terdengar bergerak...
Gua menghela nafas lalu memejamkan mata, berharap esok hari lebih baik dari hari ini.
***
Gua terbangun ketika suara alarm dari blackberry milik istri gua itu terdengar cukup nyaring. Gua membuka mata perlahan lalu mengerjapkannya sebentar, barulah gua menyapukan pandangan dari atas kasur. Gua melihat sosok wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi dalam kamar ini, dia berjalan ke dekat lemari pakaian lalu mengambil sajadah serta mukena.
Gua bangun, lalu berdiri di sisi kasur sambil mengucek mata.
"Sayang... Shalat subuh berjama'ah ya ?", ucap gua yang sudah melihat dia merentangkan sajadahnya.
Istri gua menengok ke kiri, lalu mengangguk sambil tersenyum.
Selesai berwudhu, gua mengganti pakaian, kini gua mengenakan baju koko berwarna putih serta sarung berwarna biru, dan tentu saja tidak lupa sebuah kopiah yang menutupi bagian kepala. Gua berdiri di depan istri gua, menjadi imam dalam shalat subuh bersamanya...
Gua mengangkat kedua tangan sebatas dada, lalu berdo'a kepada Sang Maha Pemurah, agar apa yang sudah dan akan menjadi takdir gua adalah hal yang paling baik untuk gua dan keluarga. Berharap masalah yang sedang gua hadapi menjadi ujian atau cobaan yang bisa gua lalui tanpa harus kehilangan sosok wanita yang telah menjadi istri gua. Selesai shalat subuh dan berdo'a, gua berdiri lalu merapihkan sajadah, kemudian melipatnya. Gua berjalan ke arah lemari dan menaruh sajadah tersebut.
Gua terdiam berdiri di samping lemari pakaian, melihat ke arah sisi kasur, tepat disana seorang wanita yang berbalut mukena berwarna putih masih terduduk diatas sajadahnya. Matanya terpejam, lalu jemari tangan kanannya memegang tasbih, tanpa suara mulutnya bergerak melantunkan dzikir.
Gua meghela nafas, lalu mulai membuka kancing baju koko ini. Fikiran gua kembali kepada pertengkaran kami semalam, oh bukan, ralat. Kesalahan gua yang terlalu bodoh malah berdiam diri tanpa menjelaskan kejadian sebenarnya hingga membuat istri gua itu marah.
Gua kembali menuju kamar mandi dan membilas tubuh ini, karena sebentar lagi gua akan ikut ke bandara Soetta untuk mengantarkam mertua. Selesai mandi, gua sudah tidak melihat istri gua itu yang sebelumnya sedang berdizikir, tapi diatas kasur sudah disiapkannya pakaian gua, sebuah kemeja berwarna putih lengan pendek dan celana chino berwarna abu-abu cerah.
Beres mengenakan pakaian yang disiapkan sang istri tercinta tadi, gua keluar kamar dan turun ke lantai satu menuju ruang makan. Disana sudah duduk kedua mertua gua yang sedang sarapan. Gua melirik jam dinding sebelumnya di ruang Tv, sudah pukul setengah lima kurang saat ini.
"Sarapan Za...", ucap Mamah mertua gua yang duduk disamping Papah mertua.
"Iya Mah..", gua menarik kursi makan lalu duduk disebrang Papah mertua.
Istri gua berjalan dari arah dapur sambil membawakan secangkir kopi hitam dan menaruhnya di atas meja, tepat di depan gua.
"Mau roti atau bubur, Mas ?", tanyanya yang masih berdiri disamping gua.
"Oh ada bubur ? Boleh deh... Kasih lada bubuk ya...", jawab gua.
"Iya, tadi Bibi yang bikin bubur...", kemudian dia mengambil mangkuk yang berada diatas meja makan ini. "Sebentar aku ambilin dulu ke dapur...", jawabnya lalu istri gua berjalan lagi ke dapur.
"Kira-kira macet gak jalan tol Za ?", tanya Papah mertua gua sambil mengoleskan selai kacang ke roti yang dia pegang.
"Harusnya gak sih Pah... Soalnya ini hari minggu, kalo siang mungkin iya macet, yang pada pulang dari kota ini ke Jakarta biasanya siangkan...", jawab gua setelah meminum air mineral.
"Hmm.. Mudah-mudahan gak telat ya..", lanjut Beliau.
"Enggak kok, gak akan telat...", jawab gua lagi.
Lalu tidak lama istri gua duduk di kursi samping gua dengan mangkuk yang sudah berisi bubur dan menaruhnya diatas meja. "Ini Mas buburnya".
"Makasih sayang...", ucap gua sambil menarik mangkuk tersebut lalu mulai menyendok suapan perdana.
...
Pukul setengah delapan pagi kami semua sudah berada di terminal keberangkatan internasional bandara Soetta. Gua dan istri mengantar mereka sebelum check-in. Hanya sebentar gua dan istri disini, setelah mencium tangan kedua mertua gua itu, dan mereka pun memeluk anak kesayangan mereka, akhirnya kami harus memberikan salam terakhir untuk perpisahan sementara ini. Kemudian gua dan istri kembali ke parkiran bandara untuk pulang lagi ke rumah. Mobil milik mamah mertua gua dibawa oleh supir Ibu gua, sedangkan gua dan istri memakai mobil milik almh. Istri gua sebelumnya.
"Sayang... Kita jalan-jalan ke monas yu ?", ajak gua ketika mobil baru saja keluar parkiran bandara.
Dia menengok kepada gua. "Ngapain ? Males aku...".
"Mmm.. Jalan aja, main... Atau mau ke Sea-world ? Atau mungkin ancol ?".
"Sea-world aja kalo gitu...", jawabnya cepat kali ini.
Tidak lama kemudian gua tersenyum lalu menekan pedal gas, agar cepat menuju tempat wisata tersebut.
...
Empat puluh lima menit kemudian akhirnya gua dan istri sampai di Jakarta bagian utara, tempat wisata tersebut baru saja dibuka, kami berdua langsung menuju loket dan membeli tiket. Sepagi ini ternyata sudah ada beberapa pengunjung yang rata-rata pergi bersama keluarga. Ada yang membawa keluarga besar mereka, ataupun minimal anak-anak mereka. Saat itu, sepertinya hanya gua dan istri yang berpasangan berdua saja di tempat wisata ini.
Gua merangkul bahu istri gua itu ketika kami mulai berjalan di dalam SeaWorld, gua melirik kepadanya lalu tersenyum. Tapi dia tidak menoleh sama sekali, wajahnya datar memandang ke depan sana. Ah, dia masih marah sama gua rupanya...
"Sayang, itu ikan parinya besar ya..?", gua menunjuk seekor ikan pari yang berukuran raksasa sedang melintas di dalam aquarium.
"Tapi enggak sebesar kebohongan yang kamu bangun, Mas...".
Degh...Lagi-lagi, jantung gua serasa berhenti berdetak.
Gua berhenti, terdiam dan menatap istri gua yang tetap berjalan kedepan sana sambil melipat kedua tangannya.
"Kenapa diem ? Ayo jalan...", ucapnya menengok kebelakang.
...
...
...
Siang hari gua mengajak istri makan siang di sebuah restoran, tepatnya di Ancol, gua memilih meja yang pemandangannya mengarah ke laut. Beberapa menu seafood telah dipesan oleh istri gua, tentunya tanpa ikan bakar. Gua duduk berhadapan dengannya, sebuah meja kayu menjadi pemisah diantara kami. Gua menatapnya dengan tersenyum, tapi lagi-lagi wajahnya berpaling, menatap lautan di sisi kanannya.
"Sayang...", gua meraih tangan kanannya. "Aku mau ceritain dulu soal Anna. Aku mohon kamu denger dulu penjelasan aku ya...?".
Tangan yang gua genggam itu ia tarik, wajahnya tidak menoleh sama sekali kepada gua.
"Nanti... Jangan kamu buat selera makan aku ilang, Mas...", ucapnya dingin.
Gua menghela nafas sambil mengangguk. "Maaf..", ucap gua.
Selama menyantap makan siang di restoran ini, kami berdua sama sekali tidak berbicara. Bodohnya gua, tidak bisa mencari bahan obrolan yang menarik dan mencoba membuatnya nyaman. Setelah menghabiskan makanan dan membayarnya, kami berdua langsung keluar dari restoran ini dan menuju parkiran mobil.
Selama perjalanan pulang gua mencoba mengajaknya berbicara dengan segala macam topik, dari mulai hal remeh soal kemacetan, soal mobil mewah yang melintas sampai ke liburan akhir tahun nanti. Tapi apa lacur, tak ada satupun topik yang membuatnya menarik. Jurus terakhir... Semoga bisa sedikit membuatnya senang... Semoga.
"Sayang... Aku kemarin denger dari Fitri, katanya di Mall xxx ada diskon tas loch... Kamu mau liat-liat dulu gak kesana ?", tanya gua berbohong sambil melirik kepadanya.
"Enggak".
Oke nyerah. Bahas masalah aja langsung nanti di rumah kalo gini caranya...
Gua masih mengemudikan kendaraan saat baru saja mobil ini gua belokkan ke kiri, dimana letak perumahan kami berada. Tepat ketika gua sudah menyebrangi mobil ini dan mulai memasuki kawasan perumahan, blackberry pada saku kemeja gua berbunyi nyaring tanda panggilan telpon masuk.
"Siapa ?", tanya istri gua sambil melirik tajam kepada gua.
"Aku enggak tau sayang, belum juga diliat...", jawab gua masih mengemudikan mobil pelan. "Kamu ambil nih dikantong kemeja, liat aja sendiri...", lanjut gua sambil tersenyum.
Tanpa menunggu lagi, tangan kanan istri gua itu merogoh saku kemeja gua yang berada di dada kiri. Dia melihat layar blackberry tersebut lalu mengerenyitkan keningnya. Bohong kalau gua tidak was-was, bagaimanapun gua cukup takut jika Giovanna nekat menelpon gua, apalagi baru semalam dia berani-beraninya mengirim chatt bbm. Keterlaluan...
"Siapa yang nelpon sayang ?", tanya gua.
"Hallo ? Assalamualaikum... Siapa ini ?", tiba-tiba istri gua mengangkat telpon tersebut.
Gua menatap istri gua itu.
"Anna ? Ooowww.. Kamu yang menggoda suami saya ?! Berani ya kamu nelponin suami saya! Heh! Denger baik-baik ya perempuan gak tau malu! Kamu tunggu sekarang di rumah! Jangan kemana-mana! Saya sekarang juga berangkat kesitu!!".
Braakk!!! blackberry gua dilempar ke kaca depan hingga terpental dan jatuh kebawah.
Gua menghentikan mobil tepat satu rumah sebelum rumah kami.
"Puter balik sekarang! Anter aku nemuin perempuan jalang itu!!!", teriaknya sambil melotot kepada gua.
Gua bangun, lalu berdiri di sisi kasur sambil mengucek mata.
"Sayang... Shalat subuh berjama'ah ya ?", ucap gua yang sudah melihat dia merentangkan sajadahnya.
Istri gua menengok ke kiri, lalu mengangguk sambil tersenyum.
Selesai berwudhu, gua mengganti pakaian, kini gua mengenakan baju koko berwarna putih serta sarung berwarna biru, dan tentu saja tidak lupa sebuah kopiah yang menutupi bagian kepala. Gua berdiri di depan istri gua, menjadi imam dalam shalat subuh bersamanya...
Gua mengangkat kedua tangan sebatas dada, lalu berdo'a kepada Sang Maha Pemurah, agar apa yang sudah dan akan menjadi takdir gua adalah hal yang paling baik untuk gua dan keluarga. Berharap masalah yang sedang gua hadapi menjadi ujian atau cobaan yang bisa gua lalui tanpa harus kehilangan sosok wanita yang telah menjadi istri gua. Selesai shalat subuh dan berdo'a, gua berdiri lalu merapihkan sajadah, kemudian melipatnya. Gua berjalan ke arah lemari dan menaruh sajadah tersebut.
Gua terdiam berdiri di samping lemari pakaian, melihat ke arah sisi kasur, tepat disana seorang wanita yang berbalut mukena berwarna putih masih terduduk diatas sajadahnya. Matanya terpejam, lalu jemari tangan kanannya memegang tasbih, tanpa suara mulutnya bergerak melantunkan dzikir.
Gua meghela nafas, lalu mulai membuka kancing baju koko ini. Fikiran gua kembali kepada pertengkaran kami semalam, oh bukan, ralat. Kesalahan gua yang terlalu bodoh malah berdiam diri tanpa menjelaskan kejadian sebenarnya hingga membuat istri gua itu marah.
Gua kembali menuju kamar mandi dan membilas tubuh ini, karena sebentar lagi gua akan ikut ke bandara Soetta untuk mengantarkam mertua. Selesai mandi, gua sudah tidak melihat istri gua itu yang sebelumnya sedang berdizikir, tapi diatas kasur sudah disiapkannya pakaian gua, sebuah kemeja berwarna putih lengan pendek dan celana chino berwarna abu-abu cerah.
Beres mengenakan pakaian yang disiapkan sang istri tercinta tadi, gua keluar kamar dan turun ke lantai satu menuju ruang makan. Disana sudah duduk kedua mertua gua yang sedang sarapan. Gua melirik jam dinding sebelumnya di ruang Tv, sudah pukul setengah lima kurang saat ini.
"Sarapan Za...", ucap Mamah mertua gua yang duduk disamping Papah mertua.
"Iya Mah..", gua menarik kursi makan lalu duduk disebrang Papah mertua.
Istri gua berjalan dari arah dapur sambil membawakan secangkir kopi hitam dan menaruhnya di atas meja, tepat di depan gua.
"Mau roti atau bubur, Mas ?", tanyanya yang masih berdiri disamping gua.
"Oh ada bubur ? Boleh deh... Kasih lada bubuk ya...", jawab gua.
"Iya, tadi Bibi yang bikin bubur...", kemudian dia mengambil mangkuk yang berada diatas meja makan ini. "Sebentar aku ambilin dulu ke dapur...", jawabnya lalu istri gua berjalan lagi ke dapur.
"Kira-kira macet gak jalan tol Za ?", tanya Papah mertua gua sambil mengoleskan selai kacang ke roti yang dia pegang.
"Harusnya gak sih Pah... Soalnya ini hari minggu, kalo siang mungkin iya macet, yang pada pulang dari kota ini ke Jakarta biasanya siangkan...", jawab gua setelah meminum air mineral.
"Hmm.. Mudah-mudahan gak telat ya..", lanjut Beliau.
"Enggak kok, gak akan telat...", jawab gua lagi.
Lalu tidak lama istri gua duduk di kursi samping gua dengan mangkuk yang sudah berisi bubur dan menaruhnya diatas meja. "Ini Mas buburnya".
"Makasih sayang...", ucap gua sambil menarik mangkuk tersebut lalu mulai menyendok suapan perdana.
...
Pukul setengah delapan pagi kami semua sudah berada di terminal keberangkatan internasional bandara Soetta. Gua dan istri mengantar mereka sebelum check-in. Hanya sebentar gua dan istri disini, setelah mencium tangan kedua mertua gua itu, dan mereka pun memeluk anak kesayangan mereka, akhirnya kami harus memberikan salam terakhir untuk perpisahan sementara ini. Kemudian gua dan istri kembali ke parkiran bandara untuk pulang lagi ke rumah. Mobil milik mamah mertua gua dibawa oleh supir Ibu gua, sedangkan gua dan istri memakai mobil milik almh. Istri gua sebelumnya.
"Sayang... Kita jalan-jalan ke monas yu ?", ajak gua ketika mobil baru saja keluar parkiran bandara.
Dia menengok kepada gua. "Ngapain ? Males aku...".
"Mmm.. Jalan aja, main... Atau mau ke Sea-world ? Atau mungkin ancol ?".
"Sea-world aja kalo gitu...", jawabnya cepat kali ini.
Tidak lama kemudian gua tersenyum lalu menekan pedal gas, agar cepat menuju tempat wisata tersebut.
...
Empat puluh lima menit kemudian akhirnya gua dan istri sampai di Jakarta bagian utara, tempat wisata tersebut baru saja dibuka, kami berdua langsung menuju loket dan membeli tiket. Sepagi ini ternyata sudah ada beberapa pengunjung yang rata-rata pergi bersama keluarga. Ada yang membawa keluarga besar mereka, ataupun minimal anak-anak mereka. Saat itu, sepertinya hanya gua dan istri yang berpasangan berdua saja di tempat wisata ini.
Gua merangkul bahu istri gua itu ketika kami mulai berjalan di dalam SeaWorld, gua melirik kepadanya lalu tersenyum. Tapi dia tidak menoleh sama sekali, wajahnya datar memandang ke depan sana. Ah, dia masih marah sama gua rupanya...
"Sayang, itu ikan parinya besar ya..?", gua menunjuk seekor ikan pari yang berukuran raksasa sedang melintas di dalam aquarium.
"Tapi enggak sebesar kebohongan yang kamu bangun, Mas...".
Degh...Lagi-lagi, jantung gua serasa berhenti berdetak.
Gua berhenti, terdiam dan menatap istri gua yang tetap berjalan kedepan sana sambil melipat kedua tangannya.
"Kenapa diem ? Ayo jalan...", ucapnya menengok kebelakang.
...
...
...
Siang hari gua mengajak istri makan siang di sebuah restoran, tepatnya di Ancol, gua memilih meja yang pemandangannya mengarah ke laut. Beberapa menu seafood telah dipesan oleh istri gua, tentunya tanpa ikan bakar. Gua duduk berhadapan dengannya, sebuah meja kayu menjadi pemisah diantara kami. Gua menatapnya dengan tersenyum, tapi lagi-lagi wajahnya berpaling, menatap lautan di sisi kanannya.
"Sayang...", gua meraih tangan kanannya. "Aku mau ceritain dulu soal Anna. Aku mohon kamu denger dulu penjelasan aku ya...?".
Tangan yang gua genggam itu ia tarik, wajahnya tidak menoleh sama sekali kepada gua.
"Nanti... Jangan kamu buat selera makan aku ilang, Mas...", ucapnya dingin.
Gua menghela nafas sambil mengangguk. "Maaf..", ucap gua.
Selama menyantap makan siang di restoran ini, kami berdua sama sekali tidak berbicara. Bodohnya gua, tidak bisa mencari bahan obrolan yang menarik dan mencoba membuatnya nyaman. Setelah menghabiskan makanan dan membayarnya, kami berdua langsung keluar dari restoran ini dan menuju parkiran mobil.
Selama perjalanan pulang gua mencoba mengajaknya berbicara dengan segala macam topik, dari mulai hal remeh soal kemacetan, soal mobil mewah yang melintas sampai ke liburan akhir tahun nanti. Tapi apa lacur, tak ada satupun topik yang membuatnya menarik. Jurus terakhir... Semoga bisa sedikit membuatnya senang... Semoga.
"Sayang... Aku kemarin denger dari Fitri, katanya di Mall xxx ada diskon tas loch... Kamu mau liat-liat dulu gak kesana ?", tanya gua berbohong sambil melirik kepadanya.
"Enggak".
Oke nyerah. Bahas masalah aja langsung nanti di rumah kalo gini caranya...
Gua masih mengemudikan kendaraan saat baru saja mobil ini gua belokkan ke kiri, dimana letak perumahan kami berada. Tepat ketika gua sudah menyebrangi mobil ini dan mulai memasuki kawasan perumahan, blackberry pada saku kemeja gua berbunyi nyaring tanda panggilan telpon masuk.
"Siapa ?", tanya istri gua sambil melirik tajam kepada gua.
"Aku enggak tau sayang, belum juga diliat...", jawab gua masih mengemudikan mobil pelan. "Kamu ambil nih dikantong kemeja, liat aja sendiri...", lanjut gua sambil tersenyum.
Tanpa menunggu lagi, tangan kanan istri gua itu merogoh saku kemeja gua yang berada di dada kiri. Dia melihat layar blackberry tersebut lalu mengerenyitkan keningnya. Bohong kalau gua tidak was-was, bagaimanapun gua cukup takut jika Giovanna nekat menelpon gua, apalagi baru semalam dia berani-beraninya mengirim chatt bbm. Keterlaluan...
"Siapa yang nelpon sayang ?", tanya gua.
"Hallo ? Assalamualaikum... Siapa ini ?", tiba-tiba istri gua mengangkat telpon tersebut.
Gua menatap istri gua itu.
"Anna ? Ooowww.. Kamu yang menggoda suami saya ?! Berani ya kamu nelponin suami saya! Heh! Denger baik-baik ya perempuan gak tau malu! Kamu tunggu sekarang di rumah! Jangan kemana-mana! Saya sekarang juga berangkat kesitu!!".
Braakk!!! blackberry gua dilempar ke kaca depan hingga terpental dan jatuh kebawah.
Gua menghentikan mobil tepat satu rumah sebelum rumah kami.
"Puter balik sekarang! Anter aku nemuin perempuan jalang itu!!!", teriaknya sambil melotot kepada gua.
Diubah oleh glitch.7 09-07-2017 19:06
oktavp dan 4 lainnya memberi reputasi
5

