- Beranda
- Stories from the Heart
Hijau Ungu Senja di langit Jogja
...
TS
sicangkang
Hijau Ungu Senja di langit Jogja
"Yuuuuuu"
Teriakan keras seorang laki2 dari depan rumahnya sambil menggerakkan kedua tangan seperti takbir saat sholat.
Dia melihat dengan tajam sekumpulan anak2 yang sedang bermain dihalaman rumah tetangganya....
ya, beliau adalah ayahku, seorang petani sederhana di sebuah desa di jawa tengah.
dan dengan Dengan langkah gontai tak terarah Keringat bercampur debu jalanan jiahhhhh malah nyanyi sarjana muda
teman teman terdiam, penonton pun terdiam
dan aku.......
aku berhenti dari acara permainanku dengan teman2 kampungku....tanpa banyak bicara aku pulang ambil air wudlu dan melaksanakan sholat dzuhur.
dalam hati (waktu itu) keselnya bukan main. dari sekian banyak anak2 yang bermain hanya aku yang dipanggil oleh ayahnya (lebih tepatnya orang tuanya).
"gini banget ayahku, g tau lagi seru2nya malah suruh pulang"
memang begitulah ayahku dan begitulah caranya mengingatkanku saat waktunya sholat tiba
tanpa banyak bicara, tanpa banyak gerakan
cukup satu panggilan dan satu gerakan, maka aku akan pergi dari teman2ku.....
YU... BAYU.....
begitu biasanya aku dipanggil....dan perjalanan Hijau Ungu Senja di Langit Jogjaku akan dimulai dari sini....
Teriakan keras seorang laki2 dari depan rumahnya sambil menggerakkan kedua tangan seperti takbir saat sholat.
Dia melihat dengan tajam sekumpulan anak2 yang sedang bermain dihalaman rumah tetangganya....
ya, beliau adalah ayahku, seorang petani sederhana di sebuah desa di jawa tengah.
dan dengan Dengan langkah gontai tak terarah Keringat bercampur debu jalanan jiahhhhh malah nyanyi sarjana muda

teman teman terdiam, penonton pun terdiam
dan aku.......
aku berhenti dari acara permainanku dengan teman2 kampungku....tanpa banyak bicara aku pulang ambil air wudlu dan melaksanakan sholat dzuhur.
dalam hati (waktu itu) keselnya bukan main. dari sekian banyak anak2 yang bermain hanya aku yang dipanggil oleh ayahnya (lebih tepatnya orang tuanya).
"gini banget ayahku, g tau lagi seru2nya malah suruh pulang"
memang begitulah ayahku dan begitulah caranya mengingatkanku saat waktunya sholat tiba
tanpa banyak bicara, tanpa banyak gerakan
cukup satu panggilan dan satu gerakan, maka aku akan pergi dari teman2ku.....
YU... BAYU.....
begitu biasanya aku dipanggil....dan perjalanan Hijau Ungu Senja di Langit Jogjaku akan dimulai dari sini....
Spoiler for Prehistorical Age:
Diubah oleh sicangkang 02-01-2018 22:30
nona212 dan anasabila memberi reputasi
2
3.1K
31
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sicangkang
#25
Prehistorical Age 5. Sendal di Pertigaan Pocong
"Yuuu...ayo berangkat"
teriakan jamal memanggil saya sore itu seperti sore-sore sebelumnya....
sudah menjadi kewajiban bagi kami, baik anak laki2 maupun perempuan belajar membaca Al-Qur'an atau mengaji.
anak2 di kampung saya banyak yang mengaji di kampung sebelah tepatnya di pondok pesantren kyai Abdul Fadil, tidak ketinggalan saya. waktu itu jalanan di kampung saya belum di aspal,penerangan masih menggunakan lampu bohlamp kuning dan masih jarang rumah
untuk sampai di pondok pesantren kyai Abdul Fadil saya dan teman2 harus melewati jalan kampung dan sebuah pertigaan......lurus menuju Ponpes kalau ke kiri ke makam desa. Dan pertigaan itu terkenal angker di kampung kami....
saya menjadi anak yang paling kecil di rombongan ngaji anak2 kampung, dengan kondisi ini teman2 saya yang lebih dewasa sering sekali jahil kepada saya. Biasanya kami berangkat jam 5 sore dari rumah, dan dalam perjalanan berangkat tersebut mulailah teman-teman saya melancarkan aksinya. aksi mereka dimulai dengan bercerita tentang hal-hal yang berbau horor yang sering terjaid di pertigaan makam tersebut...
ada yang bilang kalau pernah melihat pocong terbang di pertigaan tersebut, ada juga yang bercerita pernah melihat hantu apai/banas pati....
dan ada juga yang aneh2 sperti meihat hantu senter yang melayang sendiri.....
tentu dengan usia saya waktu itu saya percaya 100% cerita mereka....alhasil saya menjadi penakut sewaktu saya keciil....
bahkan saat siang saya melewati pertigaan itu, saya jadi merinding sendiri.....
tibalah kami di ponpes kyai Abdul Fadil..
kami mengaji satu persatu kepada pak kyai di bantu beberapa santrinya...
ada yang mengaji iqro, ada yang mengaji juz 'ama, ada yang mengaji Al-Qur'an, ada juga ynag mengaji kitab2 kuning...
biasanya kami mulai mengaji selepas sholat maghrib berjama'ah di masjid ponpes..
dan selesai mengaji selepas 'isya.
biasanya kami juga selesai mengaji sebelum 'isya dan kalu begitu kejadiannya kami tidak menyia-nyiakan waktu untuk bermain di halaman ponpes. segala permainan kami mainkan, dan memang bermain di malam hari terasa lebih menyenangkan daripada di siang hari.
selesai mengaji tibalah saat kami pulang...
kembali melewati jalan kampung yang gelap dan sepi, dan pertigaan makam yang katanya angker....
setiap perjalanan pulang adalah perjalanan paling menyiksa untuk saya.
usia saya paling muda diantara anak2 yang lain, jangan ditanya lagi soal keberanian, saya paling penakut diantara mereka. saya juga paling ketinggalan untuk urusan lari..
lalu apa yang bisa saya lakukan?
berlari sambil menangis
Saat mengaji dan bermain di ponpes, semua cerita2 horor saat berangkat tidak ada lagi dalam benak saya...
tetapi saat perjalanan pulang, cerita horor itu seolah menjadi kode rahasia yang otomatis aktif saat saya akan pulang melewati pertigaan makam...
dan benar saja.....
seperti biasa teman2 saya mulai menyusun rencana....
awalnya saya dan teman-teman berjalan biasa sebelum melewati pertigaan namaun saat sudah dekat pertigaan saya di suruh jalan paling depan....
mereka bilang "udah yu ngga papa, kita ada di belakang kamu terus, kamu latihan biar ngga penakkut lagi"kata mereka sambil cengar-cengir.
"ah akal2an aja" dalam hati saya... tapi apa daya, saya nurut saja waktu itu karena mereka mengancam akan kabur meninggalkan saya kalau aya ngga nurut...
tapi ya gimana, nurut juga akhirnya di kerjain, ngga nurut di tinggal..
gimna coba gan.....
lanjut perjalanan, awalnya tidak ada yang aneh saat saya mulai berjalan di depan mereka. suara mereka masih ada di belakang saya....
tapi semakinn mendekati pertigaan, suara mereka semakin menghilang... dan saat saya tengok ke belakang....
WAAAAA!!!!
teman2 saya sudah lari tunggang langgang pada kabur....
sialan saya di tinggal teman2...dan saya coba mengejar mereka...
mereka langsung pada sembungi di semak2 kebun samping jalanan.
sila sial saya dikerjain teman2..... dan saat saya berjalan pelan melewati semak2 pinggir jalan kampung itu tiba tiba...
"RRRRAAAARRGGGGGG" dodi salah satu teman saya mengagetkan saya hingga saya jatuh.
spontan teman2 yang lain yang sedang ngumpet kaluar dan tertawa terbahak2 melihat saya yang kaget sampai jatuh itu...
dan itu menjadi malam yang menyebalkan untuk saya.
apakah itu berakhir?
tidak....
kami bahkan belum melewati perigaan makam. dan kali ini mereka bilang kepada saya kalu kita akan jalan bersama. saya agak lega mendengarnya, setidaknya saya tidak aan di tinggal lagi seperti tadi...tapi ternyata itu hanyalah siasat...
kami mengisi perjalanan dengan canda gurau dan ngobrol2 seru, saya pun ikut terlena mengikuti candaan dan obrolan mereka dan tanpa terasa kamu sudah memasuki pertiaan makam desa. sampai di sini tidak ada yang aneh, saya pun masih mengikuti obrolan dan candaan mereka tanpa sadar kalau saya sudah ada di pertigaan makam...
"Pocong......" teriak dodi dengan kencang...dan itu adalah kode untu semua anak segera berlari sekuatt tenaga meninggalkan saya di pertigaan makam tersebut...
saya yang tadinya asik mengokuti obrolan mereka benar2 tidak siap dengan kondisi ini. dan tentu kejadian selanjutnya adalah saya tertinggal lari dibelakang teman2...
sial sial sial... dalam hati saya... saya berlari sekuat tenaga mengejar teman2. tapi apa daya lari mereka benar2 cepat.....saya lari tanpa menghiraukan apapun..termasuk sendal yang saya kenakan...
dengan perasaan takut, marah bercampur jadi satu, sampailah saya dirumah dengan nafas yang ngos-ngosan san dan wajah pucat.
Ibu:"bayu kenapa, pulang ngaji kok ngos2an...lari2.....?"
saya:"bayu di tinggal temen2 bu katanya ada poconng dipertigaan makam"
ibu:"kamu lihat pocongnya?"
saya:"engga bu, tapi bayu takut bu di tinggal sendirian sama temen2"
ayah:"bayu -bayu kamu itu cowok, ngga boleh penakut. gimana kamu melindungi keluargamu besok,.melindungi ibu mu,kakakmu?"
saya:"ya habisnya teman2 bilang ada pocong"
ayah:"orang kamu juga ngga lihat pocongnya, masa kamu takut sama sesuatu yang belum kamu lihat. terus sekarang mana sandalmu, kok cuma satua?"
saya:"ah iya, tadi kayaknya lepas pas bayu lari
"
ayah:"y ampun,sandal sampai lupa itu gimana....ambill sana"
saya:
ibu:"orang anaknya baru sampai rumah juga, ayah sana yang ambilin"
saya:
(makasih bu)
dan tanpa ba bi bu lagi ayah pergi mencari sendal saya yang jatuh entah dimana tadi di jalan,ngga kebayang kalu ibu ngga mbelain

malam-malam penuh kesialan itu sudah sering saya alami, terutama hilangnya sendal saya, bahkan untuk mengantisipasi hilangnya sendal, saya sering melepasnya dan membawanya saat pulang, jadi saat saya berlari sendal saya tidak hilang lagi

dan kajahilan teman2 saya itu dilakukan dengan berbagai modus dan operasi.
tapi namanya juga anak kecil, malam saya marah, saat pagi bertemu kembali sudah lupa dengan marahnya....
sampai suatu ketika datang rohmat, yang usianya 1 tahun dibawah saya ikut rombongan mengaji. sejak bergabungnya rohmat, saya sudah tidak peduli lagi jika di tinggal teman2 saya......sejak saat itu pulla saya juga jadi lebi berani dan tidak penakut lagi...
sampai hari ini saya ingat kata2 ayah saya.kamu jangan takut terhadap apa yang belum kamu lihat sementara masih ada dalam pikiranmu.kalau ayah saya bilang keweden wayangan (ketakuan sama bayangan). sebagai laki2 kamu harus berani. karena kamu yang akan meindungi keluargamu......
"Yuuu...ayo berangkat"
teriakan jamal memanggil saya sore itu seperti sore-sore sebelumnya....
sudah menjadi kewajiban bagi kami, baik anak laki2 maupun perempuan belajar membaca Al-Qur'an atau mengaji.
anak2 di kampung saya banyak yang mengaji di kampung sebelah tepatnya di pondok pesantren kyai Abdul Fadil, tidak ketinggalan saya. waktu itu jalanan di kampung saya belum di aspal,penerangan masih menggunakan lampu bohlamp kuning dan masih jarang rumah
Spoiler for mulustrasi:
untuk sampai di pondok pesantren kyai Abdul Fadil saya dan teman2 harus melewati jalan kampung dan sebuah pertigaan......lurus menuju Ponpes kalau ke kiri ke makam desa. Dan pertigaan itu terkenal angker di kampung kami....
saya menjadi anak yang paling kecil di rombongan ngaji anak2 kampung, dengan kondisi ini teman2 saya yang lebih dewasa sering sekali jahil kepada saya. Biasanya kami berangkat jam 5 sore dari rumah, dan dalam perjalanan berangkat tersebut mulailah teman-teman saya melancarkan aksinya. aksi mereka dimulai dengan bercerita tentang hal-hal yang berbau horor yang sering terjaid di pertigaan makam tersebut...
ada yang bilang kalau pernah melihat pocong terbang di pertigaan tersebut, ada juga yang bercerita pernah melihat hantu apai/banas pati....
dan ada juga yang aneh2 sperti meihat hantu senter yang melayang sendiri.....
tentu dengan usia saya waktu itu saya percaya 100% cerita mereka....alhasil saya menjadi penakut sewaktu saya keciil....
bahkan saat siang saya melewati pertigaan itu, saya jadi merinding sendiri.....
tibalah kami di ponpes kyai Abdul Fadil..
kami mengaji satu persatu kepada pak kyai di bantu beberapa santrinya...
ada yang mengaji iqro, ada yang mengaji juz 'ama, ada yang mengaji Al-Qur'an, ada juga ynag mengaji kitab2 kuning...
biasanya kami mulai mengaji selepas sholat maghrib berjama'ah di masjid ponpes..
dan selesai mengaji selepas 'isya.
biasanya kami juga selesai mengaji sebelum 'isya dan kalu begitu kejadiannya kami tidak menyia-nyiakan waktu untuk bermain di halaman ponpes. segala permainan kami mainkan, dan memang bermain di malam hari terasa lebih menyenangkan daripada di siang hari.
selesai mengaji tibalah saat kami pulang...
kembali melewati jalan kampung yang gelap dan sepi, dan pertigaan makam yang katanya angker....
setiap perjalanan pulang adalah perjalanan paling menyiksa untuk saya.
usia saya paling muda diantara anak2 yang lain, jangan ditanya lagi soal keberanian, saya paling penakut diantara mereka. saya juga paling ketinggalan untuk urusan lari..
lalu apa yang bisa saya lakukan?
berlari sambil menangis
Saat mengaji dan bermain di ponpes, semua cerita2 horor saat berangkat tidak ada lagi dalam benak saya...
tetapi saat perjalanan pulang, cerita horor itu seolah menjadi kode rahasia yang otomatis aktif saat saya akan pulang melewati pertigaan makam...
dan benar saja.....
seperti biasa teman2 saya mulai menyusun rencana....
awalnya saya dan teman-teman berjalan biasa sebelum melewati pertigaan namaun saat sudah dekat pertigaan saya di suruh jalan paling depan....
mereka bilang "udah yu ngga papa, kita ada di belakang kamu terus, kamu latihan biar ngga penakkut lagi"kata mereka sambil cengar-cengir.
"ah akal2an aja" dalam hati saya... tapi apa daya, saya nurut saja waktu itu karena mereka mengancam akan kabur meninggalkan saya kalau aya ngga nurut...
tapi ya gimana, nurut juga akhirnya di kerjain, ngga nurut di tinggal..
gimna coba gan.....
lanjut perjalanan, awalnya tidak ada yang aneh saat saya mulai berjalan di depan mereka. suara mereka masih ada di belakang saya....
tapi semakinn mendekati pertigaan, suara mereka semakin menghilang... dan saat saya tengok ke belakang....
WAAAAA!!!!
teman2 saya sudah lari tunggang langgang pada kabur....
sialan saya di tinggal teman2...dan saya coba mengejar mereka...
mereka langsung pada sembungi di semak2 kebun samping jalanan.
sila sial saya dikerjain teman2..... dan saat saya berjalan pelan melewati semak2 pinggir jalan kampung itu tiba tiba...
"RRRRAAAARRGGGGGG" dodi salah satu teman saya mengagetkan saya hingga saya jatuh.
spontan teman2 yang lain yang sedang ngumpet kaluar dan tertawa terbahak2 melihat saya yang kaget sampai jatuh itu...
dan itu menjadi malam yang menyebalkan untuk saya.
apakah itu berakhir?
tidak....
kami bahkan belum melewati perigaan makam. dan kali ini mereka bilang kepada saya kalu kita akan jalan bersama. saya agak lega mendengarnya, setidaknya saya tidak aan di tinggal lagi seperti tadi...tapi ternyata itu hanyalah siasat...
kami mengisi perjalanan dengan canda gurau dan ngobrol2 seru, saya pun ikut terlena mengikuti candaan dan obrolan mereka dan tanpa terasa kamu sudah memasuki pertiaan makam desa. sampai di sini tidak ada yang aneh, saya pun masih mengikuti obrolan dan candaan mereka tanpa sadar kalau saya sudah ada di pertigaan makam...
"Pocong......" teriak dodi dengan kencang...dan itu adalah kode untu semua anak segera berlari sekuatt tenaga meninggalkan saya di pertigaan makam tersebut...
saya yang tadinya asik mengokuti obrolan mereka benar2 tidak siap dengan kondisi ini. dan tentu kejadian selanjutnya adalah saya tertinggal lari dibelakang teman2...
sial sial sial... dalam hati saya... saya berlari sekuat tenaga mengejar teman2. tapi apa daya lari mereka benar2 cepat.....saya lari tanpa menghiraukan apapun..termasuk sendal yang saya kenakan...
dengan perasaan takut, marah bercampur jadi satu, sampailah saya dirumah dengan nafas yang ngos-ngosan san dan wajah pucat.
Ibu:"bayu kenapa, pulang ngaji kok ngos2an...lari2.....?"
saya:"bayu di tinggal temen2 bu katanya ada poconng dipertigaan makam"
ibu:"kamu lihat pocongnya?"
saya:"engga bu, tapi bayu takut bu di tinggal sendirian sama temen2"
ayah:"bayu -bayu kamu itu cowok, ngga boleh penakut. gimana kamu melindungi keluargamu besok,.melindungi ibu mu,kakakmu?"
saya:"ya habisnya teman2 bilang ada pocong"
ayah:"orang kamu juga ngga lihat pocongnya, masa kamu takut sama sesuatu yang belum kamu lihat. terus sekarang mana sandalmu, kok cuma satua?"
saya:"ah iya, tadi kayaknya lepas pas bayu lari
"ayah:"y ampun,sandal sampai lupa itu gimana....ambill sana"
saya:
ibu:"orang anaknya baru sampai rumah juga, ayah sana yang ambilin"
saya:
(makasih bu)dan tanpa ba bi bu lagi ayah pergi mencari sendal saya yang jatuh entah dimana tadi di jalan,ngga kebayang kalu ibu ngga mbelain

malam-malam penuh kesialan itu sudah sering saya alami, terutama hilangnya sendal saya, bahkan untuk mengantisipasi hilangnya sendal, saya sering melepasnya dan membawanya saat pulang, jadi saat saya berlari sendal saya tidak hilang lagi

dan kajahilan teman2 saya itu dilakukan dengan berbagai modus dan operasi.
tapi namanya juga anak kecil, malam saya marah, saat pagi bertemu kembali sudah lupa dengan marahnya....
sampai suatu ketika datang rohmat, yang usianya 1 tahun dibawah saya ikut rombongan mengaji. sejak bergabungnya rohmat, saya sudah tidak peduli lagi jika di tinggal teman2 saya......sejak saat itu pulla saya juga jadi lebi berani dan tidak penakut lagi...
sampai hari ini saya ingat kata2 ayah saya.kamu jangan takut terhadap apa yang belum kamu lihat sementara masih ada dalam pikiranmu.kalau ayah saya bilang keweden wayangan (ketakuan sama bayangan). sebagai laki2 kamu harus berani. karena kamu yang akan meindungi keluargamu......
Diubah oleh sicangkang 07-03-2017 09:44
0